Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 64. Namamu Ada Di hatiku Lettu


__ADS_3

Beberapa hari kemudian pukul 4.25 dini hari, Viara yang tengah tertidur pulas terganggu dengan dadanya yang kembali terasa sesak. Viara seketika membuka matanya dan langsung mengusap lembut dadanya yang terasa sangat sesak dengan sensasi pening yang merajai kepalanya.


Dengan tangan lemahnya, Viara meraih alat bantu pernapasannya yang ada di tas kesehatannya yang diletakkannya disamping ranjangnya dan langsung menempelkan alat itu ke hidungnya


"Ya Allah, Jangan dulu hiks... Hamba Mohon Ya Rabb" batin Viara merasakan sesak yang teramat sangat didadanya hingga matanya mengalirkan air mata. Hidung Viara juga ikut mengalirkan darah segar dibarengi kepalanya yang merasakan sesasi pening yang luar biasa


Beberapa menit kemudian, nafas Viara perlahan-lahan teratur dan sensasi pening di kepalanya berangsur-angsur hilang meski keringat dingin membanjiri keningnya. Viara bangun dari posisi berbaringnya dan melepaskan alat bantu pernapasan yang masih melekat di hidungnya.


Ketika Viara sudah berhasil melepaskan alat itu, Viara meneteskan air mata melihat alatnya yang terdapat bercak darah yang keluar dari hidungnya. Viara langsung membersihkan darah di alat pernapasannya dan juga di hidungnya


"Apa memang usiaku sudah tidak lama lagi?" gumam Viara menatap telapak tangannya yang terkena darah dari hidungnya


"Jika memang usiaku sudah tidak lama lagi, semoga aku dan keluargaku ikhlas menerima kepergianku. Setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk hidup dan bernafas hari ini. Terimakasih Ya Rabb" Gumam Viara menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangannya


Viara turun dari ranjangnya dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap ke sekolah. Viara tak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim seperti biasanya karena keadannya yang baru saja mengalami datang bulan.


Setelah menyelesaikan mandinya, Viara melangkahkan kakinya keluar kamar dan langsung memakai pakaian dinasnya. Viara memakai bedak sedikit tebal untuk menutupi wajah pucatnya. Viara melanjutkan langkahnya ke depan rumah untuk memakai sepatunya


"Selesai" guman Viara senang setelah selesai memakai sepatu pantofelnya.


Viara mengangkat kepalanya dan menyunggingkan senyumnya melihat kekasihnya yang baru keluar dari pos tentara bersama rekan-rekannya didepan sana bersiap untuk mengadakan apel pagi


"Karena Danru sedang ada urusan di markas kota, maka saya sebagai wakil Danru yang akan memimpin jalannya apel di pagi yang cerah ini" Kata Pandu yang tengah memimpin apel didepan sana


Viara tersenyum manis menatap wajah serius Pandu yang tengah berpidato dan menyampaikan informasi didepan sana


"Aku mencintaimu Lettu, sangat mencintaimu. Awalnya memang sulit untuk membuka hati dan mencintai orang yang baru lagi, setelah satu nama yang sejak dulu sudah tertanam di hati ini. Tapi bersamamu, aku menemukan harapan baru dan cara untuk menyerahkan hatiku sepenuhnya untukmu Lettu. Kami begitu tulus dalam mencintaiku hingga kamu dengan mudah menggantikan nama yang dulu dengan namamu yang sekarang terlukis indah dihatiku. Aku sangat mencintaimu Lettu dan aku hanya ingin menghabiskannya sisa umurku bersamamu"


"Tapi aku merasa takut sayang. Aku takut akan ada masalah baru lagi yang akan memisahkanku denganmu. Aku takut hidupku tidak lama lagi hingga membuatmu kembali meneteskan air mata karena aku. Aku sangat mencintaimu Pandu, kamu sangatlah sempurna tapi aku bukanlah wanita yang sempurna. Jika memang usiaku tidak lama lagi, setidaknya aku pernah tertawa dan melukis indahnya cinta bersamamu. Walaupun jantung ini sudah tidak berdetak lagi, setidaknya jantung ini pernah berdebar hebat saat kamu dipelukanku. Walapun tubuh ini akan menyatu dengan tanah, tapi cintaku akan selalu menyatu dihatimu Pandu. Aku mencintaimu, tak pernah aku berhenti berdoa pada-Nya semoga kita ditakdirkan untuk bersama. Aku akan tetap berusaha untuk sembuh dan pulih seperti sedia kala. Kalaupun tubuh ini memang tidak bisa sembuh, setidaknya tubuh ini pernah menjadi sandaranmu dikala kamu terjatuh, dan didekap erah olehmu di kala suka dan dukamu. Disisa hidupku, akan kujaga hatiku dan kusayangi kamu, karena aku mencintaimu selalu meski tubuh ini semakin lama semakin terasa lemah. Aku Viara Mutya Putri, berharap kamulah Imam dunia dan akhiratku, hanya kamu Lettu Pandu Praditya Maheswara" batin Viara menyeka bulir bening disudut matanya dan tersenyum manis pada kekasihnya yang terkadang mencuri pandang padanya saat tengah memimpin apel didepan sana


Setelah selesai memimpin apel dan semua personil bubar dari barisan, Pandu melangkahkan kakinya mendekati Viara yang tengah duduk sendirian di depan rumah dinasnya


Viara menyunggingkan senyumnya sambil meraih tangan Pandu yang telah bediri tegak di depannya dan menyalaminya sangat lama. Pandu mengusap lembut kedua pipi Viara dan membawa Viara kedalam pelukannya


"Adek sakit?" Tanya Pandu sambil mengecup kening Viara


"Adek nggak sakit bang. Harusnya adek yang bertanya seperti itu sama abang. Bagaimana luka di dada abang, masih sakit nggak?" Tanya Viara cemas sambil menyandarkan telapak tangannya di dada Pandu


"Abang sudah sehat sayang, kan obatnya sudah ada disini. Jadi apapun sakitnya kalau adek ada didekat abang, maka abang tidak memerlukan perawatan dari orang lain karena abang udah punya perawat dan obat terbaik disini. Terimakasih sudah memperhatikan dan menjaga abang beberapa hari belakangan yah" Ucap Pandu sambil tersenyum manis


"Sama-sama abang sayang" Jawab Viara membalas senyuman manis Pandu padanya


"Ayo dek, abang antar ke sekolah" Ajak Pandu dibalas anggukan kepala oleh Viara.


Pandu meraih tangan Viara dan berjalan bersamanya menuju motornya terparkir di samping pos tentara.


Pandu memakaikan helm di kepala Viara dan membantunya naik ke jok belakang


"Sudah siap dek?" Tanya Pandu sambil memegang kedua stir motor. Viara melingkarkan tangannya di pinggang Pandu dan tersenyum manis pada Pandu lewat kaca spion


"Sudah siap sayang" Pandu tersenyum dan langsung melajukan motornya mengantar Viara ke sekolah


Dalam perjalanan ke sekolah tempatnya mengajar, Viara menyandarkan wajahnya di punggung Pandu dan mempererat rangkulan tangannya di pinggang Pandu


"Aku akan selalu merindukanmu Lettu. Akan selalu kukenang kebersamaan ini dan akan selalu kurindukan aroma tubuh ini" batin Viara di punggung Pandu


"Ada apa sayang?" Tanya Pandu sambil memperhatikan jalanan


"Nggak ada apa-apa bang, Adek sayang banget sama abang dan adek selalu berharap semoga abang lah suami adek nanti" Ucap Viara menyandarkan dagunya di bahu Pandu.


Pandu menyunggingkan senyumannya sambil melirik wajah Viara dari kaca spion


"Iyah dek, abang juga pengen jadiin kamu istri abang. Abang mau hanya kamu saja yang menjadi ibu untuk anak-anak abang nanti. Kamu bersedia sayang?" Tanya Pandu penuh harap


"Adek siap sayang" Jawab Viara tersenyum bersama Pandu dan tertawa bersamanya


"Aku siap sayang. Akan kupenuhi janjiku padamu dengan kerja keras dan usaha untuk bisa sembuh kembali. Aku menyayangimu Lettu"


__________


"Terimakasih sudah anterin adek ke sekolah lagi yah bang" Ujar Viara memberikan helm pada Pandu


"Sama-sama sayang. Kalau adek sakit saat lagi mengajar beritahu abang segera yah dek" pinta Pandu


"Siap komandan" Ucap Viara sambil tertawa bersama kekasihnya


"Adek masuk dulu yah bang, assalamu'alaikum abang sayang" pamit Viara meraih tangan Pandu dan menyalaminya


"Walaikumsalam adek sayang" balas Pandu mengecup kening Viara dan tersenyum manis padanya yang telah melangkahkan kakinya masuk ke gerbang sekolah. Setelah Viara masuk ke ruang kelas, Pandu tersenyum dan membalikkan motornya menuju ke pos tentara


____________

__ADS_1


Sesampainya di pos tentara, , Pandu bersama rekan-rekannya berjalan kaki bersama menuju ke balai desa tempat diadakannya rapat yang membahas mengenai pembangunan desa dan keluhan-keluhan masyarakat. Setelah sampai di balai desa, terlihat sudah banyak anggota-anggota desa dan para pimpinan desa yang berkumpul di balai desa. Disana juga sudah ada aparat kepolisian dan beberapa tentara yang berjaga dan sebagaian dari mereka juga mengikuti rapat


Sementara di sekolah Dasar tempat Viara mengajar pukul 1.30 siang


"Ehh Bu, belum pulang yah? Kan jam sekolah sudah selesai" Tanya Pak Dino, guru matematika yang baru saja bertugas di sekolah Dasar itu


"Belum Pak, masih ada beberapa hal yang harus saya kerjakan" Jawab Viara tersenyum dan kembali mencakar di kertas


"Tapi Bu, sekolah sudah sepi dan semua guru juga sudah ke balai desa untuk menghadiri rapat. Apa ibu nggak jadi pergi ke rapatnya?" Tanya Pak Dino kembali


"Setelah ini selesai, saya akan kesana Pak" Jawab Viara sambil memperhatikan hasil pekerjaannya


"Ohh yaudah, saya tungguin yah Bu, biar kita sama-sama ke balai desa"


"Apa bapak nggak keberatan nungguin saya selesai, nanti rapatnya keburu selesai loh" Kata Viara menatap Pak Dino


"Nggak apa-apa kok Bu, sini saya bantu kerjain soalnya" Ucap Pak Dino beranjak duduk di depan Viara dan mengeluarkan pulpen dari sakunya.


Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan mulai menyusun soal persiapan ulangan bersama Pak Dino


__________


Di balai desa, rapat telah selesai diadakan dan para pengikut rapat dipersilahkan mengambil hidangan yang telah tersedia di atas meja untuk makan siang bersama. Terlihat Kiara tengah sibuk menyediakan lauk diatas wadah yang isinya kembali kosong diatas meja.


Kiara mendongkakkan kepalanya dan tersenyum melihat Pandu yang berdiri di depannya dan tengah mengambil makanan di piringnya


"Bang Pandu kok nggak diambil jus jeruknya, padahal jus jeruk ini selalu diambil oleh para tamu?" Tanya Kiara bingung


"Saya nggak bisa kalau makan langsung minum yang dingin. Apa air hangatnya ada?" Tanya Pandu


"Ada bang, nanti aku ambilkan di belakang. Abang duduk dan makan saja yah, nanti akan aku antarkan di kursi abang sekalian dengan teman-teman abang" kata Kiara sambil tersenyum


"Baiklah" jawab Pandu dan berlalu menyusul teman-temannya yang tengah makan bersama di dekat kursinya


Kiara mengamati Pandu yang tengah makan dari jauh sambil tersenyum


"Tolong atur meja yang ini yah, aku akan segera kembali" Ucap Kiara pada temannya dan mulai berjalan ke belakang untuk mengambil air hangat untuk para tentara


__________


"Wah, sepertinya kita telat Bu Viara, sekarang tengah berlangsung acara makan siang bersama" kata Pak Dino yang baru saja sampai di balai desa bersama Viara


"Nggak apa-apa pak, ayo kita temui kepala desa untuk menceritakan alasan keterlambatan kita" ajak Viara dan segera masuk ke balai desa diikuti Pak Dino dibelakangnya.


"Assalamu'alaikum Pak" sapa Viara menjabat tangan Pak kepala desa dan pak ketua adat diikuti Pak Dino


"Walaikumsalam Bu Viara, Pak Dino" Jawab keduanya bersamaan


"Maafkan kami karena telat menghadiri rapat yah pak"


"Nggak apa-apa kok Bu, kami mengerti dengan pekerjaan ibu sebagai tenaga pendidik di desa kami. Kami sama sekali tidak keberatan, justru kami senang jika tenaga pendidik di desa kami bekerja sangat baik dan profesional" seru Pak kepala desa ramah


"Terimakasih sudah mengerti kami yah pak" Ucap Viara tersenyum diikuti pak Dino dibelakangnya.


Mereka lanjut mengobrol tentang perkembangan pembangunan dan keluhan yang masih dirasakan siswa di sekolah dasar tempat kedua guru itu mengajar. Viara yang tengah mendengarkan usulan pak Dino kepada kepala desa tanpa sengaja melihat Kiara yang keluar dari satu pintu ruangan dengan gelas air di tangannya diikuti teman-temannya yang juga memegang nampan minuman dibelakangnya


Viara mengikuti arah Kiara dan tertegun melihat Kiara yang memberikan gelas air yang dipegangnya kepada Pandu


"Ini bang, air hangatnya. Abang tenang aja, ini aman kok. Teman-temanku juga tengah membagikan air hangat ini pada para tentang di belakang" tutur Kiara tersenyum


"Baiklah, terimakasih" Ucap Pandu menerima gelas yang disodorkan Kiara dan meletakkannya di sampingnya.


Kiara mengambil makanan di piringnya dan duduk di samping Pandu untuk makan bersama. Pandu tak menghiraukan Kiara di sampingnya, justru Pandu tanya diam sambil melahap makanan di piringnya


"Bang, disini abang ada" kata Kiara menujuk di bawah bibirnya.


Pandu yang mengerti itu mengelap bagian bawah bibirnya, namun Kiara kembali tersenyum karena masih ada sisa saus di bawah bibir Pandu


"Bukan disitu bang, disini" kata Kiara kembali menujuk bibirnya


"Nggak ada kok, saya udah bersihkan tapi tetap nggak ada" Ucap Pandu masih membersihkan dagunya


"Ini dia bang" Ucap Kiara tersenyum sambil membersihkan bagian bawah bibir Pandu.


Pandu terkejut dengan perlakuan Kiara tiba-tiba Kiara padanya. Saat melirik ke samping kepala Kiara, mata Pandu membulat sempurna melihat Viara yang berdiri jauh dibelakang Kiara tengah menatapnya tajam dengan wajah seperti bom yang siap meledak


"Baiklah pak Dino, kami akan memikirkan usulan kalian dan membicarakannya dengan pemerintah" Ucap kepala desa setelah mendengar usulan Pak Dino yang setuju dengan penjelasan Viara tadi


"Terimakasih pak" Ucap Viara dan pak Dino bersamaan


"Sebelum pulang, ayo dinikmati dulu hidangannya" Pinta kepala desa ramah

__ADS_1


"Baiklah pak, terimakasih" ucap Viara mencoba tersenyum dan menarik tangan Pak Dino agar mengikutinya.


Pak Dino terkejut dengan Viara yang menarik tangannya dan tetap mengikuti langkah Viara yang masih mengenggam tangannya


"Pak Dino mau makan apa, nanti saya ambilkan" ucap Viara tersenyum manis pada pak Dino dan menatap tajam pada Pandu yang tengah menatapnya jauh dibelakang pak Dino


"Bagaimana kalau kita ambil bersama makanannya?" Ajak Pak Dino


"Yaudah ayo" jawab Viara tersenyum dan ikut mengambil lauk makanan bersama pak Dino


"Bu jangan sentuh sup itu, itu masih panas bu!!!" Titah Pak Dino.


Namun peringatan Pak Dino terlambat karena tangan Viara tak sengaja sudah menyentuh sup itu


"Astaghfirullah panas!!" Kata Viara mengerak-gerakkan tangannya yang kepanasan.


Pandu yang melihat itu berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati Viara, namun Pandu memberhentikan langkahnya karena melihat Pak Dino yang refleks menarik tangan Viara dan meniup-niup tangan Viara mencoba mengurangi sensasi panas di tangannya.


Viara tersenyum dan menarik tangannya dari genggaman Pak Dino setelah rasa panas di tangannya sudah mereda


"Terimakasih yah Pak" Ucap Viara tersenyum


"Sama-sama bu, lain kali kalau ambil makanan itu harus fokus. Memang tangan ibu lagi ngambilin makanan, tapi pandangannya juga harus tetap fokus ketika mengambil makanan itu, jangan di tempat lain" nasihat Pak Dino


"Hehe siap pak" cengir Viara.


Viara dan Pak Dino kembali mengambil lauk sambil bertanya-tanya tentang rasa lauk yang akan mereka ambil, Viara tersenyum manis pada pak Dino yang mengambilkanya salad buah dan tak menghiraukan Pandu yang tengah terdiam di tempat sambil terus menatapnya. Viara dan Pak Dino duduk bersama dan mulai memakan makan mereka dengan khidmat.


5 menit kemudian


Viara menghela nafasnya dan menyimpan piring makannya disamping kursinya


"Kenapa bu? Nggak enak yah makananya?" Tanya Pak Dino yang bisa mendengar helaan nafas Viara


"Makanan ini enak kok Pak, tapi saya ingat saya masih punya urusan di luar. Jadi saya pamit keluar dulu yah Pak" pamit Viara sambil tersenyum


"Ohh Iyah bu, silahkan" Ucap Pak Dino lembut


Viara menganggukan kepalanya dan langsung berjalan keluar balai desa sambil terus tertunduk. Karena jarak bukit yang begitu dekat dengan balai desa, Viara melangkahkan kakinya sekitar 10 menit menaiki bukit. Sesampainya di bukit yang agak rendah tersebut, Viara mendudukkan dirinya di tepi bukit sambil menatap indahnya pemandangan di bawah sana


"Ya Tuhanku, mengapa jalan hidupku seperti ini" batin Viara menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Entah sampai kapan, mata ini bisa melihat dan mengagumi indahnya ciptaan-Mu. Entah sampai kapan, tangan ini dapat meraih sesuatu yang ada di depan mata, entah sampai kapan tubuh yang sangat lemah ini tetap kuat menahan sakit yang selalu menguasai diri" batin Viara menjatuhkan air matanya melihat tangannya yang ditetesi darah yang keluar dari hidungnya.


Viara meraba rambutnya dari dalam hijabnya dan kembali menjatuhkan air mata melihat banyaknya helai rambut di tangannya


"Apakah waktuku sudah tidak lama lagi Tuhan?" gumam Viara membersihkan hidungnya yang terus mengeluarkan darah.


Setelah membersihkan darah dari hidung dan tangannya, Viara kembali menatap indahnya langit sore dengan bulir bening yang kembali menghiasi wajahnya. Viara terus menangis menatap indahnya langit sore dan tak menyadari adanya Pandu yang telah duduk di sampingnya. Pandu menghapus air mata Viara dan membawa Viara bersandar di dadanya


"Maafkan abang yah dek, adek pasti sedih karena perlakuan Kiara tadi" kata Pandu merangkul bahu Viara


"Nggak bang, adek nggak apa-apa kok. Adek memang cemburu sama Kiara tadi, tapi adek nggak sedih soal itu kok" Ucap Viara tersenyum dan memeluk Pandu erat.


"Lalu apa yang membuat kekasihku menangis seperti ini hmm?" Tanya Pandu lembut


"Hari ini sudah mendekati akhir bulan kan bang, tinggal 5 hari lagi abang nemanin adek disini" Ucap Viara pelan didada Pandu


"Iyah sayang, setelah ini abang akan kembali ke kotamu dan bertugas di batalyon lagi"


"Adek bakalan rindu sama abang, adek nggak mau tahan rindu lagi bang, adek udah lelah dilatih rindu" lirih Viara semakin memeluk Pandu erat seolah tak mau melepaskannya pergi


"Iyah sayang, abang juga akan selalu merindukanmu. Tapi mau tidak mau abang harus siap pergi meninggalkan adek disini. Tapi percayalah sayang kita pasti akan bertemu lagi" Ucap Pandu mengusap punggung bergetar Viara yang semakin terisak di bahunya


"Kamu tenang saja yah sayang, abang hanya milikmu saja kok. Walaupun abang jauh dari hadapanmu, tapi hati abang akan selalu pergi bersamamu. Hanya Viara saja yang abang cintai, dan akan selalu abang cintai hingga kita menua bersama nanti" Kata Pandu tersenyum sambil menghapus air mata Viara.


Viara meraih kedua tangan Pandu dan mengecupnya cukup lama, begitu juga dengan Pandu yang membimbing kepala Viara kedepannya dan mengecup kening Viara dengan lembut


"Bersabarlah sayang, tinggal 4 bulan lagi adek bertugas di desa ini. Setelah 4 bulan itu terlewati, maka abang akan datang dan meminangmu di hadapan Letnan Jenderal Viandro Aditya Putra dan ibumu sayang" kata Pandu lembut kembali memeluk Viara


"Iyah bang, adek udah nggak sabar nunggu hari itu tiba. Hari dimana adek bisa dimiliki dan memiliki abang sepenuhnya" seru Viara senang di dada Pandu


"Iyah sayang, abang juga udah nggak sabar pengen hari bahagia itu datang. Tetap jaga hati abang yah sayang, ini cuman sementara saja. Begitu juga dengan abang yang menahan rindu ini untukmu sayang, hanya untukmu" kata Pandu melihat indahnya matahari senja sambil merangkul bahu Viara.


Viara terus menatap Pandu yang merangkulnya erat dan tersenyum manis pada kekasih hatinya itu


"Terimakasih sudah berbagai kisah indah bersamaku disini. Terimakasih juga karena telah mencintaiku dengan tulus dan memberiku kesempatan untuk mencintaimu. Terimakasih sudah sabar menghadapi sikapku yang kadang menyakiti hatimu. Kamu adalah cinta terakhirku Pandu. Memang kamu bukanlah yang pertama singgah di hatiku, tapi namamu akan selalu tertulis rapi di hatiku selamanya. Aku mencintaimu Pandu"


Bersambung.......


Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya yah😉

__ADS_1


Terimakasih semua


Love You All😘💞


__ADS_2