
Setelah mengantar Viara mengganti seragam hijaunya sesudah pengajuan tadi pagi, Pandu kembali menjalankan motornya menuju ke rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan 15 menit dari rumah Viara, keduanya kini telah sampai di kediaman Maheswara.
Viara turun dari jok belakang motor Pandu dan tertegun melihat rumah besar didepannya. Rumah yang memiliki 2 lantai, halaman yang luas, garasi yang cukup besar, dua gazebo disamping kiri dan kanan rumah, dan terdapat air mancur serta kolam ikan yang tampaknya masih baru
Pandu menyunggingkan senyumnya dan melangkahkan kakinya mendekati Viara yang hanya diam mematung sambil memandangi bangunan didepannya
"Ini rumah abang?" Tanya Viara sambil menganga
"Iyah sayang, ini kediaman keluarga Maheswara yang kedua dan dibangun untuk abang. Kediaman Maheswara yang pertama ada di Malaysia dek, ayah abang dan abang dulu tinggal disana karena ayah membangun perusahaannya disana" tutur Pandu menjelaskan
"Begitu yah bang, apa rumah ini pernah ditinggali bang, kelihatannya masih baru?" Tanya Viara masih mengagumi bangunan didepannya
"Rumah ini masih baru dek, bahkan rumah ini jauh lebih besar daripada kediaman kami di Malaysia. Ayah sengaja membuat kediaman ini lebih besar karena disinilah kampung halaman kami yang sesungguhnya dek" Jawab Pandu kembali
"Benarkah, lalu apa ayah ada didalam bang? Adek pengen ketemu sama ayah abang" Seru Viara berbinar senang
Pandu mengontrol nafasnya dan berusaha tersenyum pada Viara
"Ayah abang udah meninggal dek, setelah abang kembali dari desa didekat perbatasan itu, abang hanya menghabiskan waktu satu bulan bersama ayah" kata Pandu tersenyum, namun dari suaranya terdengar sangat bergetar.
Viara mengusap punggung bergetar itu dan membawanya kedalam pelukannya
"Maafkan adek yang bertanya seperti itu yah bang" kata Viara mengusap lembut punggung kekasihnya
"Tidak apa-apa sayang, kamu memang harus mengetahui tentang keluarga calon suamimu, karena keluarga itu tidak lama lagi juga akan menjadi keluargamu" jawab Pandu menangkup kedua pipi Viara. Viara menyentuh kedua tangan Pandu yang menangkup kedua pipinya dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Viara mengenggam tangan Pandu dan mendudukkan Pandu di kursi halaman
"Abang bisa nggak ceritain tentang keluarga abang dan kisah hidup abang sebelum ada adek dulu? Adek janji akan menjaganya dengan sepenuh hati" pinta Viara sambil mengusap punggung tangan Pandu
"Iyah dek" balas Pandu tersenyum dan mulai menceritakan kehidupannya saat dia kecil sampai sekarang
"Dulu abang, ibu dan ayah abang tinggal bersama di rumah yang sederhana dek. Ketika usia abang 2 tahun, ayah pergi merantau demi mencari nafkah. Saat itu ayah pergi merantau dan meninggalkan abang bersama ibu abang disini. Selama ayah pergi, ibu merasa sangat kesepian dan semakin kesal karena uang yang ayah kirimkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Ibu selalu iri dengan teman-temannya yang sangat kaya, berbanding terbalik dengan ibu yang mendapatkan suami miskin seperti ayah. Karena ayah jauh dari kami, ibu mulai jatuh cinta dengan seseorang yang jauh lebih mapan dari ayah abang dek"
"Semenjak jatuh cinta bersama lelaki itu, ibu tidak lagi memperhatikan abang, bahkan sifat ibu sangat berubah. Ibu juga sering membawa lelaki itu ke rumah abang. Setiap kali lelaki itu datang ke rumah abang, lelaki itu selalu memarahi dan membentak abang karena lelaki itu memang sangat membenci balita berumur 2 tahun itu. Karena hasutannya, ibu juga semakin membenci abang. Ibu selalu membentak dan bertindak sangat kasar seolah abang ini bukan anak kandungnya. Ibu juga menyembunyikan hubungan gelapnya dari ayah agar Ayah terus mengiriminya uang. Ayah bilang uang yang dikirimkannya itu untuk biaya makanan dan kehidupan abang, tapi ibu abang justru menghabiskannya dengan foya-foya dan tidak lagi memperdulikan abang" mata Viara berkaca-kaca mendengar cerita Pandu
"Mereka berhubungan sampai usia abang 5 tahun dek. Karena tak kuat lagi terus bersembunyi dalam hubungan itu, akhirnya mereka bedua lari dan menelantarkan abang disini. Saat itu usia abang masih sangat kecil dan masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua, namun ada orang jahat yang menculik abang dan memaksa abang mencari nafkah untuk mereka dipinggir jalan. Ibu abang bahkan tidak pernah mencari abang selama abang hilang, dia bahkan menolak mengambil abang dan mengakui abang ini anaknya saat dia melihat abang duduk sendirian di pinggir jalan. Saat itu abang menangis dan meminta ibu untuk membawa abang bersamanya, namun ibu mendorong keras tubuh abang dan kembali melaju menaiki mobilnya meninggalkan abang yang terus menangis memanggil namanya di pinggir jalan" Mata Pandu berkaca-kaca mengingat masa lalu yang begitu menyakiti hatinya
"Ibu terus menerima uang yang dikirim ayah meski dia sudah menikah kembali dengan pria itu karena saat itu ayah tidak tahu tentang pernikahan kembali ibu abang dan perlakuannya yang menelantarkan abang sendirian" Ucapan Pandu terhenti melihat setetes air mata yang terjatuh diatas punggung tangannya. Viara mengusap lembut pipi Pandu dan membawa Pandu agar bersandar di bahunya
"Seiring berjalannya waktu, ketika usia abang 9 tahun, semua itu akhirnya sampai di telinga ayah abang karena ada seorang yang melaporkan itu pada ayah. Mengetahui ibu abang tega menelantarkan abang, ayah langsung marah dan kembali ke kota ini untuk mencari abang. Ayah terus mencari abang, hingga abang ditemukan ayah tak sadarkan diri di pinggir jalan dek. Saat abang terbangun, ayah abang langsung menangis dan memeluk abang yang berhasil lolos dari kematian. Ayah senang banget saat ketemu abang, ayah juga berjanji untuk menjaga abang selalu dan menceraikan ibu abang. Setelah perceraian itu selesai, ayah membawa abang untuk tinggal bersamanya di Malaysia untuk sementara. Ayah menolak menikah kembali karena ayah hanya ingin mengurus abang dan mendirikan perusahaan miliknya yang perlahan-lahan berkembang. Karena abang juga harus sekolah, ayah abang kembali membawa abang ke Indonesia dan menyekolahkan abang disini. Ayah menyuruh paman Tian untuk menjaga dan mengurus semua keperluan abang disini. Meskipun ayah banyak pekerjaan di Malaysia, 2 kali seminggu ayah selalu menyempatkan waktunya untuk kembali ke Indonesia dan menemani abang disini. Setiap abang rindu dan menghubungi ayah, maka ayah lebih memilih memperhatikan abang dan menyerahkan urusan kantornya pada asistennya. Itulah alasan abang sayang banget sama ayah, karena hanya ayah satu-satunya keluarga abang" tutur Pandu tersenyum sambil mengingat ayahnya.
Viara tersenyum melihat senyuman diwajah Pandu dan langsung mengecup pipi Pandu yang ada disamping wajahnya
"Abang selalu berusaha untuk membuat ayah bangga dengan rajin belajar dan bercita-cita menjadi tentara. Dulu ayah juga pernah mendaftar untuk bergabung menjadi anggota TNI dek, namun ayah abang mengalami kecelakaan hingga ayah abang gagal dalam salah satu tes dan meneruskan hidupnya dengan kuliah. Ketika ayah gagal ikut tes dulu, ayah pernah bilang suatu saat nanti ketika aku memiliki anak, maka anakku yang akan mewujudkan impianku. Tak mengapa aku tak bisa bergabung, tapi jika Allah mengizinkan, aku yakin anakku pasti bisa bergabung dan mewujudkan cita-citaku. Semenjak itu abang selalu berusaha mewujudkan cita-cita ayah di diri abang dek, abang dulu juga kagum sama tentara jadi abang berniat ingin menjadi salah satu dari mereka. Dan alhamdulillah impian abang dan ayah terwujud semenjak abang dinyatakan lolos untuk berpendidikan di Akademi Militer. Saat tahu abang berhasil, ayah abang sangat senang dan langsung menghadiri pelantikan abang. Melihat wajah ayah yang begitu bahagia, abang merasa sangat senang dek, abang akhirnya bisa membahagiakan orang yang paling abang sayangi" Viara tersenyum mendengar cerita Pandu dan berhambur memeluk Pandu
"Abang memang hebat. Terimakasih selalu memberikan kebahagiaan untuk orang-orang disekitar abang yah. Terimakasih juga masih bertahan hidup ketika abang kecil dulu. Kalau abang sampai meninggal dulu, mungkin adek nggak akan pernah bahagia bersama abang. Jadi tambah sayang sama abang. Terimakasih yah bang" kata Viara menangis bahagia dipelukan Pandu. Pandu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum didalam pelukan penuh kasih sayang Viara padanya
"Nanti abang ajakin adek ke makan ayah yah bang" Pinta Viara
"Iyah dek, nanti kita pergi sama-sama" Ucap Pandu lembut sambil menghapus air mata Viara
"Kalau soal rumah ini, abang sebenarnya menolak untuk dibuatkan rumah sebesar ini. Tapi abang nggak tega menolak permintaan ayah yang sudah susah payah untuk membangun rumah ini. Ayah selalu datang dan melihat proses pembuatan rumah ini, ayah bahkan ikut membantu pembangunannya. Jadi abang harus menerima rumah sebesar ini. Ayah sengaja membuat rumah sebesar ini agar ayah bisa menghabiskan masa tuanya bersama anak dan cucu-cucunya" Tutur Pandu jelaskan
"Begitu yah bang" Tanya Viara sambil mengusap punggung tangan Pandu
"Iyah dek, tapi abang tidak akan menggunakan uang yang diberikan ayah abang untuk kita dek, karena abang ingin hidup berdua bersamamu dengan uang hasil jerih payah dan keringat abang sendiri" Ucap Pandu membuat Viara menyunggingkan senyumnya
"Adek mau kan tinggal sederhana sama abang? Meskipun kita tinggal di rumah sebesar ini, tapi semua kebutuhan adek dan perabotan rumah besar ini dibeli menggunakan uang yang abang hasilkan sendiri. Tentara tidak menjamin untuk jadi kaya dek, tapi cinta abang selalu kaya untukmu" Ucap Pandu mengenggam kedua tangan Viara sambil tersenyum.
Viara meneteskan air mata bahagia mendengar penuturan Pandu dan berhambur memeluk calon suaminya itu
"Iyah Bang, adek mau hidup sederhana sama abang karena itulah yang adek mau. Adek pengen jaga suami adek dan adek pengen kita hidup dengan hasil jerih payah kita sendiri. Bukan harta yang melimpah dan bukan pula lembaran uang yang sangat banyak, tapi yang kuinginkan hanya bimbingan dan cinta darimu wahai calon imamku" Ucap Viara menangis bahagia di dada bidang calon suaminya.
Pandu menyunggingkan senyumnya mendengar penuturan Viara dan mengecup lembut keningnya dengan penuh kasih sayang
"Terimakasih yah dek. Selain rumah ini, abang sudah membangun rumah kecil untuk kita tinggali bersama dek dan rumah kecil itu abang buat dengan uang yang abang hasilkan sendiri. Adek boleh tinggal di rumah itu saat abang bertugas dan jauh dari adek yah, tapi selama ada abang disisimu, maka kita akan tinggal bersama di rumah ini sayang. Adek setuju kan?" Tanya Pandu pada Viara yang ada di pelukannya
"Iyah bang, adek setuju" Ucap Viara tersenyum didada Pandu
"Aku tidak ingin ada seseorang yang berani mengganggu ketenangan keluargaku. Aku adalah pewaris satu-satunya dari keluarga Maheswara, tentu akan banyak musuh atau saingan bisnis yang ingin main-main denganku. Tapi selama ada aku, tidak akan kubiarkan kamu terluka atau ada seorangpun yang menyakitimu. Akan kujaga dan ku lindungi kamu sepenuh hatiku karena aku menyayangimu selalu meski nyawaku harus menjadi taruhannya" batin Pandu tersenyum dan mengecup puncak kepala Viara yang masih memeluknya
"Kalau ayah sudah meninggal, lalu siapa yang mengurus perusahaan ayah abang disana?" Tanya Viara bingung
"Perusahaan ayah abang diurus oleh orang kepercayaan ayah dek. Mereka sangat baik dan tidak ada niat buruk dihati mereka pada keluarga ayah. Terkadang abang memantau perusahaan ayah abang disana dan menyadari kalau data-data perusahaan itu sangat baik dan tidak ada kejanggalan sedikitpun. Kami tidak meragukan mereka dek, karena orang kepercayaan ayah adalah adik angkat ayah yang usianya beda dua tahun dari ayah. Ayah bilang kalau adik angkat ayah itu ditemukan di samping rumah dalam keadaan sekarat dek, beruntung dengan pertolongan cepat dari ayah dan nenek yang langsung membawanya ke rumah sakit, adik angkat ayah berhasil lolos dari kematian. Dia sangat berterimakasih dan berjanji akan mengabdikan dirinya pada keluarga ayah. Dia juga yang membantu mencari abang hilang dulu. Jadi dia sangat dipercaya oleh ayah dek, itulah sebabnya ayah memintanya untuk mengurus perusahaan Maheswara yang ada disana dan hasilnya nanti dibagi dua. Setiap bulannya uang perusahaan selalu dikirimkan ke rekening abang dan selalu disampaikan dengan baik oleh orang kepercayaan itu. paman abang itu memiliki anak laki-laki yang menjadi teman masa kecil abang. Dia yang ikut membantu mengurus perusahaan Maheswara disana dek. Dia juga sangat profesional dan sangat baik sama seperti ayahnya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan " Viara menganguk paham mendengar penjelasan Pandu dan kembali memeluk Pandu erat
"Kamu memang tidak pernah merasakan indahnya kasih sayang seorang ibu. Tapi aku berjanji akan memberimu cinta layaknya seorang ibu untuk anaknya. Akan ku gantikan masa suram ketika kamu kecil dengan indahnya kasih sayang dariku yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupmu. Aku berjanji akan selalu menjaga dan menemanimu sepenuh hatiku, karena untukmu lah aku dilahirkan"
__________
"Ayo sayang, kita masuk ke rumah abang" Ucap Pandu berdiri dari duduknya.Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan berjalan masuk bersama Pandu yang selalu mengenggam tangannya.
Ketika memasuki rumah tersebut, terlihat jika rumah itu masih sangat polos dan belum banyak barang-barang yang terdapat didalamnya
"Ini rumah abang dek, masih sangat polos kan. Setelah kita menikah nanti, kita akan hidup dan tinggal bersama di rumah ini dek. Jadi terserah adek mau menghiasnya atau meledakkan rumah ini" Tutur Pandu lembut
__ADS_1
"Oke bang. Dimana barang-barang yang lainnya bang? Kalau kamar abang dimana?" Tanya Viara mengamati sekitar
"Barang-baragnya ada di gudang dek, kalau kamar abang ada di lantai dua, tapi kamar abang juga harus dibersihkan karena abang juga baru akan tinggal di rumah ini dek, karena selama ini abang tinggal di barak"
"Oke bang" jawab Viara sambil tersenyum
"Adek, abang pergi dulu ke Batalyon yah, sore nanti abang kembali lagi kesini dan mengantarmu pulang. Tidak apa-apa kan dek?" Tanya Pandu meminta izin
"Nggak apa-apa bang, pergilah dan tunaikan kewajibanmu" Ucap Viara tersenyum dan menyalami tangan Pandu.
"Iyah dek, abang pergi dulu yah. Assalamu'alaikum sayang" Pamit Pandu mengecup kening Viara
"Walaikumsalam abang sayang" balas Viara tersenyum dan melambaikan tangannya pada kekasihnya yang sudah melaju dengan motornya.
Setelah Pandu tak terlihat lagi,Viara membalikkan badannya dan menatap suasana disekitarnya. Viara mulai mengeluarkan kemampuannya dalam mendekorasi rumah karena tangannya sudah sangat gatal untuk menghias rumah tersebut
Setelah mendekorasi seisi rumah tersebut dari ujung ke ujung, tiap-tiap ruangan selama 3 jam, Viara yang kelelahan merebahkan dirinya di ranjang yang ada di kamar kamar Pandu dan perlahan-lahan menutup matanya
__________
Pukul 16.00 sore, Pandu yang baru tiba di rumahnya membuka pintu depan dan berbinar melihat ruang tamu dan ruang keluarga telah dihias sangat rapi, bahkan foto-foto, kaligrafi dan dua lukisan pemandangan alam desa yang sebelumnya disimpan di dalam gudang kini telah terlihat indah menghiasi dinding rumahnya
"Masya Allah, rumah yang sangat polos kini indahnya bak istana" guman Pandu kagum melihat hasil dekorasi Viara
Pandu melangkahkan kakinya ke dapur dan kembali dibuat kagum dengan semua peralatan dapur yang sebelumnya tidak pernah dikeluarkan dari gudang, sekarang tersusun rapi menghiasi dapur tersebut
"Benar-benar istri idaman" Ucap Pandu tersenyum dan memuji-muji Viara.
Ketika Pandu melangkah masuk kekamarnya yang ada di lantai dua, Pandu kembali dibuat kagum melihat kamar yang awalnya polos kini telah dihias sangat cantik dan rapi oleh Viara
Pandu menoleh sedikit ke samping dan menyungingkan senyumannya melihat Viara yang tertidur pulas di ranjangnya
"Mungkin dia lelah setelah menghiasi rumah ini" gumam Pandu mengangkat tubuh Viara dan membaringkan Viara ke posisi sempurna. Pandu tersenyum melihat wajah teduh Viara dan kembali melangkahkan kakinya masuk kekamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Di kamar mandi juga, Pandu kembali dibuat menganga melihat hasil dekorasi Viara. Kamar mandi yang luas itu terlihat sangat indah dengan sentuhan tangan Viara
"Jadi makin sayang" gumam Pandu tersenyum mengingat Viara.
Pandu mulai melucuti semua pakaian yang melekat tubuhnya dan mulai membersihkan tubuhnya dibawah guyuran air shower
__________
25 menit kemudian, Viara mengeliat dan terbangun dari tidurnya
"Jam berapa ini? Sepertinya aku kelelahan sampai tidur cukup lama" gumam Viara mengerjap-ngerjapkan matanya.
Viara menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka dan dalam pandangannya yang masih agak buram, Viara melihat Pandu yang baru saja ke luar kamar mandi. Ketika pandangan matanya yang sudah kembali normal, Viara melihat Pandu sudah memakai celana panjang berwarna hitam, namun mata Viara menbulat sempurna melihat Pandu bertelanjang dada dengan handuk yang menggantung di lehernya.
Viara kesulitan menelan salivanya melihat pemandangan eksotis, kulit putih, tubuh atletis dan berotot calon suaminya itu
"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya Pandu sambil berjalan menuju ke lemarinya
"Ehh i.. Iyah bang" jawab Viara gugup. Baru kali ini Viara melihat tubuh Pandu yang bertelanjang dada seperti itu hingga pipinya terasa panas seketika.
Ketika Viara menatap punggung Pandu yang tengah mengambil pakaiannya di lemari, Viara meneteskan air mata melihat goresan sedikit panjang di punggung Pandu yang masih mengeluarkan darah segar. Viara beranjak turun dari ranjang dan menarik tangan Pandu
"Ehh ada apa sayang?" Tanya Pandu bingung melihat Viara yang menarik tangannya dan mendudukkanya disisi ranjang. Viara naik ke ranjang dan duduk tepat dibelakang Pandu
"Punggung abang berdarah. Abang luka dimana?" Tanya Viara berusaha tetap tenang
"Ohh tadi ada keributan di kota dek, abang dan teman-teman abang melerai keributannya tadi meski masa yang marah melempari kami dengan benda-benda yang ada di sekitar mereka dek. Luka ini karena salah satu masa yang melempari dengan serpihan kaca mobil" tutur Pandu tersenyum melihat wajah cemas Viara dari pantulan kaca salah satu lemari. Viara mengambil kotak obat yang disimpannya di atas meja dan membersihkan darah yang terus keluar dari luka itu.
Ketika Viara meneteskan obat merah di luka itu, tubuh Pandu sedikit bergerak dan meringis pelan
"Sakit yah bang?" Tanya Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum. Sepelan dan sebaik mungkin, Viara meletakkan obat di luka tersebut dan menutupinya dengan perban
"Nah sudah selesai bang, sekarang abang pake baju yah" perintah Viara sambil menutup matanya ketika Pandu berbalik menatapnya. Viara tidak terlalu terkejut melihat Pandu yang keluar kamar mandi karena handuk yang menggantung di lehernya sangat besar dan menutupi separuh tubuhnya, sedangkan sekarang Pandu masih memakai celana panjangnya namun tidak lagi dengan handuk untuk menutupi tubuh atasnya
"Kenapa tutup mata sayang?" Tanya Pandu menggoda Viara
"A..aa." kata Viara gelagapan merasa lidahnya mejadi kaku seketika
"A.. A kenapa sayang? Memangnya adek belum pernah melihat pemandangan seperti ini?" Tanya Pandu dibalas gelengan kepala oleh Viara yang masih menutup matanya
"Polos sekali dia" batin Pandu tersenyum
"Kalau begitu adek harus membiasakannya, karena abang akan menjadi suami adek" bisik Pandu seketika membuat Viara merinding serta nafas Pandu yang bisa Viara rasakan. Viara mendorong tubuh Pandu hingga Pandu terbaring di ranjangnya
"Kalau abang udah jadi suami, tentu saja bang" jawab Viara dengan mata tertutup dan melangkah ke kamar mandi. Pandu tertawa dan geleng-geleng kepala mengingat wajah Viara yang sangat menggemaskan jika sedang merona sambil menutup mata seperti tadi
Beberapa menit kemudian, Viara perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi untuk memastikan penampilan Pandu yang masih seperti tadi atau tidak
"Ternyata abang sudah keluar dari kamar" gumam Viara bernafas lega
"Aduh laparnya" gumam Viara memegangnya perutnya yang berbunyi nyaring
Viara yang merasa lapar berjalan keluar kamar menuju ke dapur untuk memasak. Sesampainya di pintu dapur, Viara menyunggingkan senyumnya melihat Pandu yang tengah memasak sambil membelakanginya
__ADS_1
"Abang sedang apa?" Tanya Viara lembut
"Memasak makanan dek, ayo duduk sebentar lagi makanannya akan segera siap" jawab Pandu sambil mengaduk masakan
"Abang pintar memasak yah, selama ini kan kalau di pos tugas abang bukan dibagian memasak" Tanya Viara mendudukan dirinya di kursi meja makan
"Jangan meremehkannku sayang, selain aku tampan dan pandai menembak, aku juga ahli dalam memasak" kata Pandu bangga. Viara yang mendengar ucapan Pandu tersenyum dan geleng-geleng kepala sambil terus mengamatinya
Tak berselang lama, makanan yang dibuat Pandu pun jadi dan Pandu langsung menghidangkannya diatas meja
"Ayo kita makan dek" kata Pandu. Viara menganggukkan kepalanya dan mulai mencicipi makanan buatan calon suaminya itu
"Bagaimana dek, enak kan?" Tanya Pandu memperhatikan Viara
"Masakan ini sangat enak, bumbunya semuanya pas" kata Viara dalam hati dan menganggukkan kepalanya pada Pandu sambil tersenyum
"Kalau begitu habiskan dek"
"Iyah bang" Ucap Viara tersenyum dan mulai menikmati makanan yang dimasak Pandu. Viara yang begitu kelaparan memakan dengan lahap makanan enak yang dibuat Pandu hingga Viara tidak menyadari ada sisa kecap yang menempel di sisi bibirnya.
Pandu yang melihat itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Viara dan memajukan tangannya untuk membersihkan sisa kecap yang menempel di sisi bibirnya.
Viara tertegun melihat tindakan Pandu dan menikmati sentuhan lembut itu dalam diam. Wajah Viara seketika merona merah dengan jantungnya yang berdegup sangat kencang, bahkan Viara sangat takut jika Pandu bisa mendengar detak jantungnya karena wajah Pandu yang begitu dekat dengannya. Pandu menyadari jika Viara merasa gugup dengan perlakuannya hingga terbersit ide dibenaknya untuk mengerjai calon istrinya.
Pandu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya seolah memiliki maksud lain. Viara yang menyadari itu tidak bisa menghindar dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan Pandu padanya karena dalam pikiran Viara, Pandu akan menciumnya.
Viara menutup matanya saat wajah Pandu sudah semakin dekat dengannya, sementara Pandu yang melihat ekspresi mengharapkan Viara tertawa dalam hatinya
"Hahah kena kamu dek" kata Pandu dalam hatinya sambil tertawa
Pandu menahan tawa dan menjauhkan wajahnya disaat Viara sudah menutup matanya
4 detik
5 detik
6 detik
"Loh" batin Viara bingung masih menutup matanya
"Ada apa dek, kenapa menutup mata? Abang hanya membersihkan sisa kecap di bibirmu" kata Pandu menahan tawa dan kembali melanjutkan makannya.
Seketika Viara membuka matanya dan menjadi salah tingkah dengan wajahnya yang merah merona menahan malu
"Adek mengharapkan apa?" Tanya Pandu beralih menatap Viara
"Ti.. Tidak.. Tidak ada" jawab Viara sambil menggelengkan kepalanya
"Apa adek pernah melakukannya?" Tanya Pandu kembali
"Melakukan apa bang, adek tidak mengerti" jawab Viara bingung
"Yang adek pikirkan tadi" kata Pandu menahan tawa melihat wajah Viara yang kembali merah merona.
Viara mengangkat kepalanya untuk menatap Pandu dan menggelengkan kepalanya
"Iyah sayang, abang percaya kok sama adek" Ucap Pandu mengusap puncak kepala Viara yang tertutup hijab. Walaupun Viara tak mengatakannya, Pandu tahu kalau Viara masih sangat polos dan belum pernah melakukan seperti yang dipikirkannya tadi
"Jadi, apa adek siap melakukannya sama abang sekarang?" Tanya Pandu menaik turunkan alisnya membuat Viara melongo tak percaya
"Setelah jadi istri abang, setiap hari adek akan selalu melakukannya" jawab Viara tanpa sadar membuat Pandu tersenyum senang
"Hahha baik dek, abang tunggu hari itu tiba dan adek tidak bisa menolaknya" kata Pandu mengeluarkan tawanya melihat wajah cemas Viara
"Sabar Viara sabar. Yang kamu lakukan hanyalah kuatkan hatimu" kata Viara dalam hati menyemangati diri sendiri
Setelah menghabiskan waktu seharian dirumah yang akan ditempatinya, Viara menaiki jok belakang motor Pandu yang akan mengantarnya pulang tanpa merangkul pinggang Pandu
"Loh dek, kenapa nggak dirangkul pinggang abang, berbeda dari biasanya" goda Pandu
"Nggak, nggak kenapa-napa bang" jawab Viara datar.
"Kenapa nggak dirangkul sayang, kamu udah nggak sayang lagi sama abang yah" kata Pandu tertunduk dan berpura-pura sedih.
Viara yang melihat wajah sedih Pandu dari kaca spion motor memutar kakinya untuk duduk berboncengan pada umumnya karena Viara memakai rok yang sangat lebar dan memudahkannya. Setelah duduk dengan nyaman, Viara memasukkan tangannya dibawah lengan Pandu dan memeluk Pandu erat
"Loh dek, abang kan minta dirangkul bukan dipeluk" kata Pandu sambil tersenyum
"Sama saja bang, ayo jalan" jawab Viara
"Nggak sama dek, yang ini jauh lebih tertantang" batin Pandu menahan sensasi gairah di tubuhnya karena merasakan dua bulatan kenyal yang menempel di punggungnya
"Sabar Pandu, tahan sebentar lagi. Setelah dia jadi milikmu maka lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan" batin Pandu mengontrol nafasnya
"Kenapa belum jalan bang?" Tanya Viara bingung
"Iyah sayang, tetap peluk abang seperti ini yah" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum. Pandu menyungingkan senyumannya dan mulai melajukan motornya membelah jalanan kota untuk mengantar Viara pulang
__ADS_1
Bersambung....