Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 91. Transaksi Ilegal


__ADS_3

"Anak-anak, bagaimana kalau kita mengganti waktu senam pagi kita dengan bermain games?" Saran Viara pada anak-anak didiknya


"Yeahhhh, baik bu!!!!" Seru anak-anak itu kegirangan


"Ayo duduk melingkar" titah ila lembut diserukan anak-anak itu. Anak-anak itu langsung mengikuti perintah guru mereka untuk duduk melingkar, begitu juga dengan para guru yang ikut melingkar bersama anak-anak


"Ayo anak-anak, begini cara mainnya" Kata Ila mulai menunjukkan permainan yang akan dimainkan bersama Viara. Viara dan Ila terus memberi arahan-arahan cara bermain permainan yang dimaksud hingga anak-anak itu mengangguk paham


"Bagaimana, sudah mengerti?" Tanya Viara


"Sudah bu!!!" jawab semua anak-anak bersamaan.


Para guru-guru itu tersenyum dan mulai bermain bersama anak-anak itu hingga tawa mereka menggema memenuhi lapangan. Para tentara yang baru saja datang tersenyum melihat keseruan itu melangkah mendekati lingkaran tersebut


"Boleh kami ikutan main?" Tanya bang Rama mewakili rekan-rekan nya


"Ayo om tentara, kita main bareng!!!" Seru anak-anak


"Siap" Kata para tentara itu dan ikut duduk melingkar bersama anak-anak.


Viara yang mengamati para tentara yang baru saja bergabung itu merasa ada yang kurang


"Ohh Iyah, abang dimana yah?" batin Viara tak melihat adanya Pandu diantara para tentara itu.


Viara berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati bang Rama


"Bang Rama, bang Pandu dimana yah?" Tanya Viara


"Setelah shalat subuh tadi, bang Pandu pamit ke koramil dek, katanya ada yang perlu dibahas disana. Jadi dia meminta kami untuk langsung kesini mengawasi anak-anak" Tutur bang Rama


"Ohh baiklah, terimakasih bang" Ucap Viara dibalas anggukan kepala oleh bang Rama sambil tersenyum


"Aku nyusul abang ke Koramil aja deh, sekalian singgah ke rumah nenek" gumam Viara senang. Viara yang baru saja melangkahkan kakinya terhenti saat ila memanggilnya


"Tunggu Viara!!" Panggil Ila melangkah mendekati Viara


"Kamu mau kemana Viara?" Tanya Ila


"Aku mau nyusul bang Pandu ke koramil Ila, sekalian ke rumah nenek sama abang" Tutur Viara menjelaskan


"Tapi kamu masih ingat jalanan desa ini kan?" tanya Ila


"Iyah ila, aku masih ingat kok sama desa ini. Kan aku sering main kesini sebelum nikah dulu" Ucap Viara membuat ila bernafas lega dan tersenyum padanya


"Baiklah ila, aku pergi dulu yah, assalamu'alaikum ila" pamit Viara


"Walaikumsalam, Hati-hati Viara" Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan segera berlalu menyusul suaminya


Jauh dibelakang Koramil, Pandu tengah bersembunyi di balik pohon yang dikelilingi semakin belukar disampingnya untuk mengamati beberapa orang yang Pandu curigai tengah melakukan transaksi narkoba dan senjata ilegal. Dengan walkie talkie di tangannya, Pandu melaporkan dugaannya kepada komandannya yang juga langsung terhubung dengan koramil 04 yang ada di desa itu


"Lapor komandan, kecurigaan kita terbukti benar. Saat ini ada beberapa orang anggota Angkanali tengah melakukan transaksi ilegal dalam jarak 1 km dari koramil 04" Lapor Pandu


"Baik Danki, tetaplah awasi transaksi yang tengah berlangsung, pasukan koramil 04 akan menyusul anda kesana, sedangkan pasukan khusus yang saya bentuk untuk melacak jejak Angkanali akan tiba di lokasi satu jam lagi" Kata Danyon


"Siap, laksanakan" Jawab Pandu menaruh walkie talkie disakunya dan kembali mengamati transaksi di depan sana


Pandu yang tengah mengamati merasa ada ancaman yang mendekatinya dari arah belakang.Pandu refleks menggerakkan badannya seperti gerakan kayang kebelakang dan benar saja jika sebuah balok kayu tengah melayang diatas tubuhnya sekarang. Berkat kewaspadaan Pandu, kayu yang dipukulkan padanya tak berhasil mengenai tubuhnya dan justru hanya memukul udara diatasnya saja. Pandu meraih kayu itu dan langsung memukulkannya pada beberapa orang dibelakangnya yang sepertinya termasuk anggota dari transaksi ilegal tersebut


Prak..


Prak..


Prak...


Dua orang kembali maju dan bersiap untuk membeli pelajaran pada keamanan negara yang mengamati transaksi ilegal mereka


Bugh..


Bugh..


Bugh..


Adu fisik tak terelakkan antara Pandu dan pada lelaki berbadan kekar itu hingga 1 anggota mereka kembali tersungkur menerima hantaman cukup keras di wajah dan juga perutnya.


Pandu kembali mengangkat kayunya yang sempat terjatuh karena ditendang lawannya dan kembali melawan tiga orang yang kembali menghadangnya


"Kalian pergilah!!!" perintah salah satu anggota yang sudah tersungkur di tanah pada dua orang yang sedang melakukan transaksi itu.


Dua orang yang mendengar perintah itu melakukan transaksi dengan cepat dan langsung berlari meninggalkan lokasi.


Setelah semua anggota yang menghajarnya tersungkur, Pandu yang melihat dua orang yang baru saja selesai melakukan transaksi itu didepan sana melemparkan kayunya ke semak-semak dan berlari mengejar mereka.


Pandu yang baru saja akan berlari, tiba-tiba kakinya ditarik oleh salah satu anggota yang terbaring di tanah hingga Pandu jatuh ke bawah. Melihat itu, salah satu anggota refleks berdiri dari posisinya dan langsung menindih tubuh Pandu.


"Sekarang rasakan pembalasanku" Ucap anggota itu menyeringai licik dan mulai menghajar lelaki yang ditindihnya.


Meskipun anggota itu menduduki paha Pandu yang terbaring, tak membuat kemampuan bela diri Pandu menghilang. Pandu dengan lihai mengangkis serangan dan menggerakkan kepalanya saat kepalan tangan penuh tenaga anggota itu terarah padanya


Bugh..

__ADS_1


Bugh..


Bugh...


"Arghhhh" ringis anggota itu menahan sakit ditangannya saat menuju tanah berbatu disamping kepala Pandu


"Nah, sekarang rasakan pembalasanku" seru Pandu menyeringai. Pandu mengangkat kakinya dan menendang keras punggung lelaki yang duduk menindihnya hingga lelaki itu ambruk ke samping.


Pandu langsung berdiri dari posisinya dan kembali menghajar dua orang anggota berbadan kekar yang kembali menghadangnya


Bugh..


Bugh..


Bugh


Pandu yang tengah melawan dua orang didepannya itu tak menyadari adanya dua anggota lagi dibelakangnya. Salah satu anggota itu menendang keras punggung Pandu hingga tubuh Pandu maju kedepan


Bugh...


Pandu yang oleng kedepan kembali menerima bogem mentah cukup keras di perutnya hingga Pandu tersungkur di tanah


"Hahahh dasar lemah" Ujar salah satu anggota tertawa senang melihat wajah kesakitan Pandu yang memegangi perutnya.


Dua orang anggota tersenyum licik dan langsung menahan Pandu. Keduanya memegangi lengan Pandu agar Pandu tidak memberontak saat dipukuli habis-habisan oleh rekan-rekannya


"Ayo, bunuhlah tikus ini" Perintah lelaki yang menahan lengan kiri Pandu sambil menyeringai licik


Para anggota yang masih memiliki tenaga tersenyum smirk dan langsung mendaratkan bogem mentah di tubuh lelaki yang ditahan kedua temannya itu


Bugh...


Bugh..


Bugh..


Pandu menerima kembali hantaman cukup keras di tubuhnya hingga darah mulai keluar dari mulutnya. Dengan sisa tenaganya, Pandu mengangkat kakinya dan menginjak keras kaki lelaki yang menahan tangannya


"Arggghh" Teriak lelaki yang ada di samping kiri Pandu hingga pegangan tangannya terlepas dari lengan kiri Pandu. Pandu berbalik ke samping dan menendang keras perut lelaki yang menahan tangan kanannya


"Inilah hukuman kalian karena berani bermain-main dengan negara ini" Tegas Pandu melayangkan tangannya dan kembali menghajar para anggota itu


Bugh..


Bugh..


Bugh


Bugh..


Bugh..


Bugh..


"Menyebalkan!!!!" ketus Pandu membersihkan tangannya dari darah para anggota itu yang sudah terbaring di tanah


"Danki!!!" panggil 4 orang anggota Koramil 04 yang baru saja datang dan berlari mendekati Pandu


"Apa yang terjadi?"


"Anda baik-baik saja?" Tanya bang Sandi


"Iyah saya baik-baik saja. Kalian kejarlah dua target yang berlari ke timur sebelum target hilang dari jangkauan" perintah Pandu sambil memegangi perutnya


"Siap komandan" Jawab keempatnya serentak dan berlari mengikuti arah yang diberitahu Pandu tadi.


Sambil menahan sakit, Pandu melangkah kakinya menyusul keempat rekannya tadi untuk mengejar target. Namun karena nyeri di perutnya semakin hebat dan kakinya yang tersandung batu dijalanan menyebakan Pandu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah


Brukkk


"Astagfirullah, Abaaanggg!!!!!" Teriak Viara berlari menghampiri Pandu yang terduduk di tanah sambil memegangi perutnya


"Astagfirullah, abang kenapa?" lirih Viara ketakutan dan langsung memeluk suaminya. Pandu tersenyum dan mengusap lembut punggung bergetar istrinya yang memeluknya erat. Viara melepaskan pelukannya dan beralih menatap wajah suaminya


"Abang kenapa bisa gini?" lirih Viara meneteskan air mata melihat darah yang mengalir di sudut bibir Pandu


"Abang nggak apa-apa kok dek" sangkal Pandu sambil tersenyum agar meredakan api kecemasan istrinya


"Nggak kenapa-napa bagaimana, abang sampai berdarah kayak gini" lirih Viara mengusap lembut darah di sudut bibir suaminya sambil berderai air mata.


"Katakan dimana yang sakit sayang?" Tanya Viara menangkup kedua pipi Pandu. Pandu tersenyum mendengar pertanyaan Viara dan mengangkat tangannya untuk menghapus air mata di pipi istri tercintanya


"Ini yang buat abang sakit sayang. Jangan pernah menangis karena air matamu adalah kelemahan bagiku. Adek tahu kan kalau abang nggak suka kalau lihat adek menangis" kata Pandu lembut. Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan refleks menghapus air matanya. Viara mengusap lembut pipi Pandu dan kembali memeluk suaminya erat


"Adek sayang abang" Ucap Viara tersenyum di bahu suaminya


"Abang juga sayang sama adek" Jawab Pandu sambil tersenyum dan membalas pelukan Viara padanya.


Pandu yang masih dipeluk Viara mengangkat kepalanya dan melihat jauh dibelakang Viara personil koramil 04 berjalan kearahnya sambil menahan dua orang yang melakukan transaksi tadi

__ADS_1


"Dek, boleh belikan abang air mineral di warung terdekat?" Pinta Pandu. Viara melepaskan rangkulan tangannya di tubuh Pandu dan tersenyum manis pada suaminya itu


"Boleh sayang. Abang tetap disini dan jangan kemana-mana yah" pinta Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum. Sebelum pergi, Viara mengecup pipi kanan Pandu dan menyalami tangannya. Viara tersenyum manis pada suaminya dan langsung melangkah pergi ke warung terdekat


Setelah istrinya pergi, Pandu berdiri dari duduknya dan menatap tajam pada dua orang yang ditahan 4 personil anggota koramil 04


"Katakan siapa yang berani menyuruh kalian melakukan transaksi ilegal di wilayah kami?" Tanya Pandu penuh ketegasan


"Kami tidak akan memberitahu kalian meski nyawa kami menjadi taruhannya" Ucap salah satu anggota tersenyum smirk


"Beritahu siapa bos kalian, dengan itu negara kami akan mengurangi hukuman kalian!!!" Tegas bang Sandi. Mendengar ucapan Bang Sandi, kedua tahanan itu saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak


"Cepat katakan!!!!" Tegas Bang Sandi menampar keras pipi kanan dua tahanan itu


"kekuatan negaramu tidak ada apa-apanya dengan kekuatan pimpinan bos kami. Kalian bahkan tidak tahu seperti apa negara yang kalian abdi"


"Kauu!!!" Teriak Bang Sandi naik pitam


"Apa mau membunuh kami, silahkan saja!!!!"


Bang Sandi yang naik pitam langsung mengeluarkan pistolnya dari saku celananya dan menodongkan tepat pada dua orang itu


"Jangan gegabah Bang" Cegah Pandu pada bang Sandi yang sudah siap menarik pelatuk senjatanya


"Tidak Danki, perusuh negara ini berhak dimusnahkan!!!" Kata Bang Sandi


"Kau benar Bang, tapi sebelum dimusnahkan, bagaimana jika kita bermain-main dulu dengan mereka" Ucap Pandu membuat Bang Sandi terdiam dan beralih menatapnya


"Kita bisa bermain-main kedua orang ini agar mereka sendirilah yang mengatakan siapa bos mereka" kata Pandu kembali.


Bang Sandi yang mengerti apa maksud dari ucapan Pandu mengontrol nafasnya dan menurunkan senjata yang ditodongkannya pada dua orang itu


"Kalian bawalah perusuh ini ke markas biar pasukan khusus yang disiapkan danyonlah yang akan membuat mereka membuka mulut tanpa disentuh" Perintah Pandu menyeringai licik pada dua orang itu


"Siap Laksanakan!!!" Jawab 4 anggota koramil 04 itu dan kembali menggiring dua musuh yang di tahan tersebut.


Tak berselang lama, truk pasukan tentara lainnya juga datang dan langsung mengevakuasi tubuh tak sadarkan diri musuh yang menghadang Pandu tadi.


Setelah evakuasi selesai, salah satu tentara memberi hormat pada Pandu dan langsung berlari menaiki truk yang membawa anggota musuh tersebut ke markas besar


Pandu mengeluarkan walkie talkienya dan langsung melaporkan kejadian barusan pada Danyon


"Laporan komandan, beberapa anggota musuh telah ditahan dan dalam perjalanan menuju markas besar sekarang"


(...........)


"Siap, saya baik-baik saja komandan. Hanya saja dua orang yang berhasil kami akankan tadi menolak untuk buka mulut"


(..........)


"Siap, benar sekali komandan, kemungkinan masih ada jejak anggota Angkanali yang masih berkeliaran di desa ini"


(.........)


"Siap, laksanakan" Jawab Pandu menaruh kembali walkie talkienya setelah mendengar perintah selanjutnya dari komandannya


Viara yang baru saja datang melangkahkan kakinya mendekati suaminya yang masih berada di tempat tadi


"nih bang, air mineralnya" Kata Viara membuka penutup botol tersebut dan menyerahkan botol itu pada suaminya


"Terimakasih sayang" Jawab Pandu menerima botol itu sambil tersenyum dan langsung meminumnya


"Abang, tadi di jalan adek lihat ada truk tentara utusan Batalyon sama beberapa motor tentara yang mengawalnya. Apa ada pemberontakan lagi yah bang didesa ini?" Tanya Viara


"Iyah dek, tapi adek tenang aja yah kan anggotanya sudah ditangkap tadi. selebihnya nanti diurus oleh pihak keamanan" kata Pandu lembut.


Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan memajukan tangannya ke wajah Pandu untuk mengusap lembut sisa air di sudut bibir suaminya


"Yaudah, kita langsung ke rumah nenek yah bang" Ajak Viara


"Ayo sayang" Jawab Pandu menggenggam tangan Viara dan melangkah bersamanya. Viara tersenyum bahagia menatap tangannya yang digenggaman erat oleh Pandu


"Semoga, tidak ada panggilan atau tugas berbahaya yang berhasil melepaskan genggaman tanganmu dariku. Resiko menjadi keamanan negara sepertimu adalah antara hidup dan mati, sedangkan aku tak sanggup jika hidup tanpa adanya kamu disisiku. Semoga genggaman tangan ini akan selalu ada sampai kita menua bersama nanti" kata Viara dalam hati sambil memandangi wajah suaminya


"Kenapa wajah abang, daritadi dilihatin terus" Tanya Pandu yang sejak tadi melihat istrinya yang terus saja menatapnya


"nggak ada apa-apa bang, cuma ganteng saja" kata Viara merangkul lengan kekar Pandu sambil tersenyum


"Hahha itu bonus loh sayang, jangan...."


"Iya-iya suamiku yang paling tampan, tapi adek takut karena abang tampan, abang jadi digodain lagi sama wanita-wanita yang cuman bisa mandang fisik aja" kata Viara memoyongkan bibirnya


"Hahaha, nggak ada satupun wanita yang selalu berhasil membuat abang tergoda selain kamu sayang" Balas Pandu sambil tertawa dan mencubit hidung Viara


"Iyah deh bang. Sekarang kita sudah tiba di rumah nenek, ayo kita masuk. Nenek pasti senang bisa lihat cucu dan menantunya" Ajak Viara berbinar


"Ayo dek" Jawab Pandu tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya bersama Viara menuju ke rumah nenek Lula


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2