Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 63. Jangan Pergi Meninggalkanku


__ADS_3

Pranggggg


Viara menjatuhkan gelas air putih yang di minumnya hingga gelas itu pecah di lantai


"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak secepat ini" Gumam Viara memegangi dadanya yang berdebar hebat


"Viara!!!" panggil Ila dan Syifa serentak berlari ke arah dapur


"Viara ada apa? kamu baik-baik saja?" Tanya Ila cemas setelah berdiri di dekat Viara dengan Syifa di sampingnya


Viara mengontrol nafasnya dan mencoba tersenyum pada teman-temannya


"Aku tidak apa-apa teman-teman. Aku tidak sengaja menyenggol gelas jadinya jatuh ke lantai dan pecah" sangkal Viara sambil tersenyum berusaha menghilangkan kecemasan kedua temannya


"Ohh yaudah, mari kubantu bersihkan pecahannya"


"Nggak usah Ila, biar aku saja yang membersihkannya. Kalian lanjutkan nonton drama kesukaan kalian. Maaf telah mengganggu kalian yah" Ucap Viara


"Nggak kok Viara. kalau begitu kami ke kamar dulu yah, mau lanjutin nonton dramanya" Pamit Ila


"Baiklah" balas Viara tersenyum pada kedua temannya.


Setelah kedua temannya meninggalkan dapur, Viara berjongkok dan mulai membersihkan pecahan gelas di lantai. Saat tengah bersiap membuang pecahan gelas diluar rumah, Viara mendengar suara sirine yang terdengar semakin dekat


Deg


Dada Viara kembali berdebar hebat hingga Viara mengusap lembut dadanya. Viara melangkahkan kakinya kedepan rumah untuk melihat darimana asal sirine ini. Saat tengah berjalan kearah depan rumah, Viara melihat kedua temannya juga sudah berada di depan teras, merasa penasaran dengan bunyi sirine tersebut


Viara berdiri di samping kedua temannya dan mencari asal sirine tersebut. Tak berselang lama, terlihat di jalan depan rumahnya dua mobil ambulans yang melaju kencang dengan 4 truk tentara yang mengikutinya


"Ya Allah hiks... lindungilah dia ya Tuhanku, semoga dia tidak ada didalam ambulans dan truk tentara itu" batin Viara penuh harap dan meneteskan air mata.


Viara memegangi dadanya yang berdebar hebat saat salah satu ambulans melewati jalan didepan rumahnya


"Ada apa? kok ambulannya diikuti truk tentara?" Tanya Syifa penasaran


"Mungkin terdapat beberapa warga desa yang harus dilarikan di rumah sakit jadinya dikawal sama tentara demi keamanan mereka" Ucap Viara tersenyum pada kedua temannya agar mereka tidak ketakutan


"Hmm baiklah, kalau begitu aku masuk dulu yah, pengen lanjutin nonton drama tadi" pamit Syifa


"Iyah Syifa, silahkan" Ucap Viara dan Ila bersamaan.


Viara kembali menatap ambulans yang masih terlihat diujung jalan


"Ada apa Viara?" Tanya Ila yang melihat wajah gelisah Viara


"Nggak ada apa-apa Ila, aku hanya memperhatikan truk tentara yang mengawal ambulans itu, jangan sampai ada Bang Pandu disana" Ucap Viara tersenyum berusaha menyembunyikan ketakutannya


"Jadi, apa Bang Pandunya ada di truk tentara tadi?" Tanya Ila kembali


"Sepertinya tidak ada Ila, kalau Bang Pandu ada pasti dia akan melambaikan tangannya padaku" Ucap Viara berusaha tersenyum pada Ila


"Baiklah Viara, kalau begitu aku masuk dulu yah. udah ngantuk nih pengen tidur" Ucap Ila diangguki Viara sambil tersenyum.


Setelah Ila masuk ke dalam rumah, Viara berlari ke pinggir jalan dan menatap nanar pada truk tentara dan ambulans yang hampir tak terlihat lagi


"Semoga abang baik-baik saja. Aku berharap, semoga abang nggak ada di ambulans itu. Lindungilah dia demi aku Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan cintaku lagi. Izinkan aku bahagia bersamanya Ya Rabb. Izinkan aku hidup bersamanya" Gumam Viara menatap penuh harap langit diatasnya


Viara melanjutkan langkahnya memasuki rumahnya sambil mengusap dadanya yang terus berdebar hebat


"Tenanglah Viara, percayalah. Dia pasti baik-baik saja" Gumam Viara berpegangan pada dinding merasakan sensasi berputar di kepalanya.


Viara merebahkan dirinya di ranjangnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh sampai keatas kepalanya. Di dalam selimut itu, Viara tengah terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan di hidungnya. Hatinya merasa sangat was-was dengan keberadaan Pandu diseberang sana hingga air matanya tak lagi terbendung. Hatinya tiba-tiba merasa takut dan begitu merindukan sosok yang dicintainya hingga rasa sesak semakin menyerangnya


"Tenanglah Viara, tenang agar obatmu bisa berfungsi dengan baik. Tetaplah berpikir positif dan teruslah yakin jika Pandu baik-baik saja disana" Gumam Viara berusaha menenangkan hatinya


Viara mengambil foto Pandu yang selalu disimpannya dibawah bantalnya dan mengusap foto Pandu lembut


"Baik-baik disana yah sayang. Cepatlah pulang, aku merindukanmu" Gumam Viara mengecup foto Pandu dan meletakkannya diatas dadanya.


Viara perlahan-lahan menutup mata sambil mendekap foto Pandu didadanya dengan alat bantu pernapasan yang masih setia melekat di hidungnya


___________


Keesokan harinya pukul 5.00 pagi, Viara terbangun dari tidurnya dan langsung menyembunyikan alat pernapasannya di tas khusus untuk obat-obatannya. Viara berjalan kedepan cermin dan menatap wajah pucatnya. Viara membersihkan darah yang menetes dari hidungnya karena sejak semalam kekhawatiran yang melanda nya membuat dadanya menjadi sesak.


Viara melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah mengambil air wudhu, Viara yang sudah rapi dengan mukenanya langsung membentangkan sajadah dan melakukan shalat subuh.


Saat Viara tengah shalat subuh, dua rekan guru Viara terbangun dari tidur mereka mendengar truk tentara yang berhenti didepan rumah, namun tak kunjung ada suara seseorang dari truk tersebut. Ila dan Syifa menyibakkan selimut mereka bersiap menuju ke depan rumah


Setelah shalat subuh yang dijalankannya selesai, Viara merapikan peralatan shalatnya dan bergegas ke depan rumah. Senyum manis terpancar diwajahnya menyadari jika kekasihnya sudah pulang, ia sudah tak sabar memeluknya dan meluapkan rasa rindu yang dipendamnya. Viara melangkah kegirangan kedepan rumah menyusul kedua temannya yang terlebih dahulu kedepan rumah


Ketika Viara membuka pintu rumah dinasnya, senyum Viara pudar seketika melihat bendera setengah tiang yang dikibarkan di depan pos tentara


"Apa yang terjadi?" Tanya Viara pada kedua temannya namun tak kunjung dijawab oleh kedua temannya. Mereka terus mengamati satu persatu prajurit yang turun dari truk didepan sana dalam diam

__ADS_1


Viara juga ikut melihat para prajurit yang turun dari truk mencari keberadaan orang yang dirindukannya. Rasa khawatir kembali merajai hatinya menyadari semua prajurit sudah berbaris rapi, kecuali Pandu yang tidak terlihat di barisan


Viara menatap kedalam truk dan menyadari masih ada satu orang lagi yang bersiap turun dari truk


"Itu pasti abang" Gumam Viara senang dan melangkahkan kakinya ke pinggir jalan


Ketika prajurit itu turun, senyum Viara perlahan-lahan pudar dari wajahnya melihat bukan orang yang dirindukannya yang turun dari truk, melainkan bang Zardan dengan wajahnya yang kusut dan mata sembab seolah baru saja berhenti menangis


"Abang dimana?" Gumam Viara cemas langsung berlari menghampiri bang Zardan


"Kakak, Panduku dimana?" Tanya Viara


"Kak, bang Pandu dimana??" Tanya Viara menggoyang bahu Bang Zardan yang hanya bisa diam sambil tertunduk


"Katakan dimana Panduku!!!!!" Tegas Viara pada semua prajurit yang berbasis itu, namun para prajurit itu hanya diam dan tertunduk karena beberapa teman-teman seperjuangan mereka tidak bisa lagi berdiri tegak sama seperti mereka


"Katakan dimana dia? kenapa kalian tidak menjawab ku!!!!" Tegas Viara.


Iqbal keluar dari barisan dan melangkahkan kakinya mendekati Viara. Iqbal mengusap lembut puncak kepala Viara dan memegang kedua bahunya


"Kamu adikku yang paling kuat Ara, tetaplah kuat dan tersenyum yah" Ucap Bang Iqbal membawa Viara kedalam pelukannya


"Bang, katakan dimana Panduku bang. Aku merindukannya tapi aku tak kunjung melihatnya bang" kata Viara bergetar didalam pelukan Iqbal


"Turunkan!!!!" perintah komandan


"Siap laksanakan!!" Ucap para prajurit serentak dan langsung menaiki truk


Viara melepaskan pelukannya dari Iqbal dan membalikkan badannya menatap para prajurit yang bersiap menurunkan sesuatu dari truk


Viara bergetar ketakutan melihat peti-peti yang diturunkan dari truk, berharap dan terus merapalkan berdoa agar orang yang dicintainya tidak ada di peti itu.


Terhitung ada 7 peti yang sudah diturunkan, Viara bernafas sedikit lega memandangi foto yang terpampang di peti itu bukanlah foto kekasihnya. Namun saat peti ke delapan turun, air mata Viara luluh seketika melihat foto prajurit yang sangat dicintainya dipegang oleh salah satu anggota dengan dibelakangnya ada peti terakhir yang baru saja diturunkan


"Bang....." Ucap Viara beralih menatap bang Zardan dan Iqbal.


Bang Zardan meneteskan air mata dan berlari memeluk Viara


"Maafkan kakak Ara, maafkan kakak" lirih bang Zardan dibahu Viara


"Apa yang terjadi kakak?" Tanya Viara berusaha mencerna segalanya


"Kalau bukan karena Pandu, mungkin kakaklah yang ada di peti itu"


Bagai ditembak mati, Viara meneteskan air mata dan melepaskan pelukan bang Zardan darinya. Viara mengontrol nafasnya dan beralih menatap peti terpampang foto Pandu yang baru saja di turunkan.


Seketika dunianya hancur, hatinya diremas keras dan otaknya dibanting hingga tak kuat lagi air mata untuk tetap terbendung


"Abang!!!!!!!!" Teriak Viara histeris dan berlari memeluk peti jenazah itu. Viara memeluk peti itu dan berteriak memanggil nama Pandu sambil terus meneteskan air mata


"Abang, bangun abang!!! Jangan tinggalkan adek sendiri Abang hiks..." pinta Viara memeluk erat peti jenazah itu.


Viara mengambil foto Pandu yang dipegang salah satu anggota dan dibawanya kedalam pelukannya


"Bangun abang hiks, jangan tinggalkan adek bang. Adek mohon" lirih Viara menyatukan wajahnya dengan wajah Pandu di foto tersebut


"Sudah Ara, bang Pandu sudah tenang disana" bujuk bang Zardan memeluk Viara mencoba untuk menguatkannya.


"Kakak, katakan padanya aku tidak memintanya untuk pulang hari ini, tak mengapa jika dia masih lama untuk bertugas disana. Tapi kumohon saat dia kembali nanti, dia berdiri tegak didepanku, bukan terbaring lemah didalam peti kak hiks...kumohon katakan padanya kak" Pinta Viara menangis deras sambil menggoyangkan tangan bang Zardan


Semua prajurit hanya terdiam menahan air mata melihat peti-peti teman mereka, hati mereka juga ikut hancur, sama seperti Viara sekarang


Viara tetap menangis kencang sambil memeluk foto Pandu didadanya, tak sanggup lagi kehilangan orang yang sangat dicintainya


"Abang!!!!!!!!!!!!" Teriak Viara histeris


"Astaghfirullah dek, abang kan udah bilang jangan menangis. Abang nggak suka tahu kalau pulang langsung dapat ingus"


Mendengar suara bariton itu, Viara beralih menatap kearah truk dan melihat prajurit yang sangat dicintainya tengah dipapah salah satu anggota dengan tenaga medis dibelakangnya


"Abang!!!" seru Viara berbinar senang.


Pandu tersenyum manis pada Viara dan merentangkan kedua tangannya.


Viara meneteskan air mata bahagia dan berlari berhambur memeluk kekasihnya


"Abang!!!!" lirih Viara di pelukan Pandu.


Viara terus memeluk Pandu erat tak mau melepaskan kepergiannya lagi.


Karena eratnya pelukan Viara, Pandu merasakan sakit lagi di bahu dan dadanya yang terkena tembakan semalam. Pandu membiarkan Viara menangis didadanya karena Pandu tahu betapa cemas dan takutnya hati Viara sekarang


"Lettu" Ucap tenaga medis cemas berjalan menghampiri Pandu namun langkahnya terhenti karena Pandu memberi kode kalau dia baik-baik saja


"Jangan, jangan bawa abang pergi!!!" Tegas Viara pada tenaga medis itu

__ADS_1


"Tapi Lettu"


"Jangan, abang nggak boleh pergi!!!" Tegas Viara semakin memeluk Pandu dan menggeleng ketakutan pada tenaga medis tersebut


"Nggak sayang, abang nggak akan pergi lagi kok" Ucap Pandu tersenyum dan mengusap lembut punggung Viara yang menangis ketakutan di dada bidangnya


"Biarkan dia tenang dulu" titah Pandu pada tenaga medis dibelakangnya


"Abang jangan pergi hiks.. adek nggak mau kehilangan Panduku. Adek nggak mau abang hiks..hiks.." lirih Viara ketakutan dipelukan Pandu


"Nggak sayang, abang nggak kemana-mana lagi kok. Tenanglah sayang, kan abang sudah pulang di pelukan adek sekarang" Ucap Pandu lembut sambil mengecup kening Viara


Viara tersenyum manis di dada Pandu dan perlahan-lahan menutup mata tak sadarkan diri sambil memeluk Pandu erat


"Dek, jangan seperti ini dong dek. Jangan buat hati abang hancur dengan melihatmu lemah seperti ini dek" lirih Pandu menahan tubuh Viara.


Pandu tahu kondisi Viara belakang ini tidak baik-baik saja karena wajahnya yang sering pucat dan cepat kelelahan


"Tenanglah Pandu, dia hanya syok dan tak sadarkan diri karena emosinya tak mampu menahan kenyataan yang baru dilihatnya" Ucap bang Zardan menepuk bahu Pandu


Pandu mengangukkan kepalanya pada bang Zardan dan mengecup kening pucat Viara yang masih bersandar didadanya.


Pandu menggendong tubuh lemah Viara dan membawanya masuk kedalam pos untuk mendapatkan perawatan diikuti tenaga medis dibelakangnya.


30 menit kemudian


Viara perlahan-lahan membuka matanya sambil menahan sensasi pening di kepalanya. Saat membuka matanya, Viara menyunggingkan senyumnya melihat bayangan kabur diatasnya yang meskipun terlihat sangat kabur, Viara tahu jika bayangan itu adalah bayangan kekasih hatinya


"Abang" panggil Viara pelan


"Iyah sayang, ada apa hmm?" Tanya Pandu lembut sambil mengusap lembut puncak kepala Viara yang masih terbaring lemah diatas sofa


Viara berusaha untuk bangun dibantu Pandu dan kembali berhambur memeluk Pandu


"Adek rindu sama abang hiks.. Abang jangan pergi tinggalin adek lagi yah hiks.. Adek nggak mau kehilangan Panduku lagi" lirih Viara kembali menangis di dada Pandu.


"Nggak sayang abang nggak akan pergi lagi kok" Ucap Pandu mengusap lembut punggung bergetar Viara yang menagis di dadanya yang tidak terkena tembakan


Viara mengecup lembut pipi Pandu yang ada di samping wajahnya dengan posisinya yang masih memeluk Pandu erat. Tenaga medis melangkahkan kakinya memasuki ruangan untuk menghampiri Pandu yang belum sepenuhnya pulih


"Lettu, anda harus....." Ucapan tenaga medis itu terputus saat melihat Viara yang menatap tajam padanya


"Jangan membawanya pergi dariku!!!" Tegas Viara merangkul leher Pandu dan menatap tajam pada tim medis itu


"Tidak dek, abang nggak akan dibawa sama dia kok. Abang hanya akan diobati lukanya sama dia" Ucap Pandu lembut berusaha menenangkan Viara


"Abang terluka?" Tanya Viara menatap Pandu


"Iyah nona, semalam Lettu Pandu terkena tembakan di dadanya karena menyerang musuh" Ucap tenaga medis wanita itu menjelaskan


"Lukanya belum sepenuhnya pulih nona, jadi harus kembali ditangani" kata tenaga medis itu.


Viara meneteskan air mata dan menyentuh lembut dada Pandu yang tertutup seragam


"Biar saya obati yah Lettu" Ucap tenaga medis itu bergegas membuka peralatannya


"Tidak usah mbak, obat saya sudah ada disini kok" Ucap Pandu lembut dan tersenyum pada Viara


"Adek obati lukanya yah bang" pinta Viara diangguki Pandu sambil tersenyum.


Viara memajukan tangannya dan perlahan-lahan membuka seragam Pandu. Setelah membuka seragam Pandu, Viara meneteskan air mata melihat perban yang sudah berubah warna di atas dada kiri dan bahu Pandu. Ketika tangan Viara telah membuka perban itu, hati Viara kembali teriris pilu melihat dua luka bekas tembakan yang masih mengeluarkan darah segar di dada Pandu


Viara mengambil kapas dan mulai membersihkan tetesan darah yang mengalir keluar dari luka itu. Ketika Viara memberikan obat di luka tersebut, Viara meneteskan air mata mendengar ringisan kecil Pandu. Viara memajukan tangannya dan mengusap lembut pipi Pandu


"Pasti sakit yah bang" lirih Viara berkaca-kaca sambil mengusap lembut pipi Pandu


"Lebih sakit melihatmu menangisiku saat aku tak memenuhi janji ku untuk pulang ke pelukanmu" Ucap Pandu lembut sambil menyeka air mata di pipi Viara.


Viara menyentuh tangan Pandu yang menangkup kedua pipinya dan kembali memeluk Pandu


"Terimaksih sudah pulang dan kembali ke pelukan adek yah bang hiks... Terimaksih sudah memenuhi janjimu. Jangan pernah pergi lagi yah bang, adek nggak mau kehilangan Panduku lagi. Adek sayang sama abang" kata Viara menangis sesenggukan sambil mengecup pipi Pandu


"Iyah sayang, abang juga sayang sama adek. Terus genggam tangan ini selamanya yah dek" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum.


Viara tersenyum manis pada lelaki tampan yang dicintainya itu dan kembali mengobati lukanya


"Ketahuilah wahai wanita pilihanku, walaupun aku jauh dan nyawaku ada di senapan, tapi cinta dihati ini hanya untukmu. Aku cinta tanah airku, tapi aku juga manusia biasa yang tulus mencintaimu. Aku tak akan goyah dengan tikaman rindu dan tusukan cinta karena aku pejuang yang tangguh. Aku akan berusaha untuk tetap pulang disetiap penugasan meski aku tahu resiko hidup dan mati harus kuterima. Aku akan berusaha untuk tetap bernafas dan kembali kedalam pelukanmu. Akan ku lindungi wanita yang bersamaku karena aku menyayangimu selalu meski nyawaku taruhannya. Aku Lettu Pandu Praditya Maheswara, Nyawaku di senapan tapi cintaku akan selalu ada di hatimu, hanya untukmu wahai wanita pilihanku"


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya yah😉


Terimakasih semua


Love You All😘💞

__ADS_1


__ADS_2