
Ketika matahari pagi kembali bersinar menerangi bumi, Viara perlahan-lahan membuka matanya dan menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh suaminya yang tertidur lelap di sampingnya. Wajahnya terlihat semakin tampan ketika cahaya matahari yang menembus celah-celah jendela terkena wajahnya. Viara memperbaiki posisi tidur Pandu dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh suaminya
"Mimpi yang indah sayangku" Ucap Viara mengusap kening Pandu dan mengecupnya lembut
Viara turun dari ranjangnya dan berlalu menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Ketika Viara tengah membuatkan nasi goreng udang kesukaan Pandu, Viara menyunggingkan senyumnya melihat tangan kekar yang memeluknya dari belakang.
"Abang sudah bangun hmm?" Tanya Viara lembut
"Iyah sayang, terbangun karena cinta" jawab Pandu semakin memeluk tubuh istrinya dan mengecup lehernya dengan lembut.
Viara membiarkan Pandu memeluk dan mengecup lehernya yang membuatnya geli, karena Viara merasa nikmat dengan perlakuan lembut suaminya dan tidak pernah merasa terganggu sama sekali
"Ayo Paduka sayang, sekarang duduk yang manis yah, makanannya sudah siap" Ucap Viara membimbing tangan Pandu dan mendudukkannya di kursi depan meja makan. Viara menuangkan sarapan yang dibuatnya di piring suaminya dan ikut duduk di seberang suaminya
"Ayo dimakan sayang" pinta Viara lembut. Pandu mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan kembali melahap makanan yang selalu memanjakan lidahnya. Viara yang tengah mengunyah makanannya menyunggingkan senyumnya dan geleng-geleng kepala melihat Pandu yang begitu lahap memakan makanannya
"Alhamdulillah, terimakasih ratuku sayang" Ucap Pandu senang setelah melahap habis sarapannya
"Sama-sama Paduka sayang" balas Viara tersenyum dan menuangkan segelas air hangat pada suaminya yang langsung diteguk Pandu sampai tandas
"Ohh yah dek, bagaimana dengan hari pertama adek di Batalyon kemarin. Bagaimana adek berkenalan dengan sesama persit dan anggota adek, apa ada masalah sayang?" Tanya Pandu
"Nggak ada masalah sayang, semua ibu-ibu persit dan anggota-anggota adek sangat baik dan juga ramah sama adek. Beberapa ibu-ibu sudah adek kenal sebelumnya bang, karena adek sering bermain-main di Batalyon sebelum kita nikah dulu. Ibu-ibu itu juga sering main dan mengunjungi rumah adek untuk bertemu sama bunda" seru Viara menjelaskan
"Syukurlah kalau tidak ada kendala yang kamu alami sayang" Ucap Pandu sambil tersenyum manis pada istrinya
"Iyah abang sayang. Tapi adek bingung bang, kan adek baru saja bergabung dan menjadi anggota istri prajurit yang baru, tapi kok adek udah dipanggil Bu Danki yah bang?" Tanya Viara bingung
"Hahah, kan adek istrinya komandan Kompi, jadinya adek juga dipanggil Bu Danki sama seperti abang yang juga dipanggil pak Danki. Adek siap jadi ibu Dankinya Kompi C dan Bu Danki dihati abang kan?" Tanya Pandu
"Adek selalu siap bang" jawab Viara tersenyum manis pada suaminya.
Pandu mengangukkan kepalanya sambil mengusap lembut puncak kepala Viara dan kembali bercerita tentang pengalamannya selama bertugas di Batalyon.
Drrtt..... Drrtt.... Drrtt
Pandu menghentikan ceritanya dan langsung menjawab pangilan dari Danyon
"Halo Assalamu'alaikum komandan" sapa Pandu
(........)
"Berapa pleton yang dibutuhkan di Kompi C komandan?"
(........)
"Siap, laksanakan komandan"
(..........)
"Siap, Walaikumsalam"
Pandu pun memutuskan sambungannya dan meletakkan ponselnya diatas meja
"Apa yang ayah katakan bang?" Tanya Viara
"Ayah memberitahu kalau di desa G telah terjadi bencana semalam disana dek. Abang dan pasukan abang akan bersosialisasi disana dan membantu warga yang terdampak bencana" tutur Pandu menjelaskan
"Berapa lama bang?"
"Sehari saja dek. Adek nggak apa-apa kalau abang tinggal kan?" Tanya Pandu sedikit cemas. Viara menyunggingkan senyumnya dan berhambur memeluk suaminya
"Nggak apa-apa bang, kan abang melakukan tugas mulia disana. Adek nggak akan takut ditinggal abang sehari, karena adek tahu hati abang kan hanya untuk adek, dan akan selalu menjadi milik adek selamanya" seru Viara tersenyum didada suaminya
"Terimakasih sudah mengerti abang yah sayang" Ucap Pandu mengecup lembut kening Viara
"Sama-sama bang. Ayo abang harus mandi sekarang, nanti abang terlambat ke Batalyon" Ucap Viara mengenggam tangan Pandu dan berjalan beriringan bersamanya menuju kamar mereka.
Setelah Pandu hilang di balik pintu kamar mandi, Viara melangkahkan kakinya mendekati lemari dan mulai menyiapkan seragam dan semua atribut yang akan dikenakan suaminya
Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka menampakkan Pandu yang baru saja selesai mandi sambil mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Pandu tersenyum melihat wajah istrinya yang merah merona setiap kali melihat tubuhnya yang setengah telanjang itu
"Kenapa malu sayang, kan semua ini juga milik adek" goda Pandu
"Adek bahkan sudah pernah melihatnya kan?" lanjut Pandu semakin membuat pipi Viara memerah seketika
"Eh, hehhe Iyah bang. Sekarang abang pake bajunya yah" pinta Viara berlari masuk ke kamar mandi sambil menutupi wajahnya yang merah merona.
Viara menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi sambil menahan debaran jantungnya yang sepertinya baru saja lari 10 putaran mengelilingi lapangan.
Pandu menahan tawa melihat tingkah istrinya dan mulai mengenakan seragam dan semua perlengkapan yang disiapkan Viara. 5 menit kemudian, Viara keluar dari kamar mandi dan tersenyum senang melihat suaminya yang sudah rapi dengan seragamnya. Viara melangkahkan kakinya mendekati suaminya yang tengah duduk di sisi ranjang sambil memakai sepatunya
"Sini adek bantu" Ucap Viara berlutut didepan Pandu dan mulai mengikat tali sepatunya. Setelah mengikat tali sepatu suaminya, Viara berdiri dari posisinya dan memakaikan baret hijau dikepala suaminya. Pandu menyunggingkan senyumnya menatap wajah istrinya yang begitu dekat dengannya
"Tak kusangka, aku lah pemenangnya dek. Akulah yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pendamping hidupmu. Dulu aku takut, hari bahagia ini tak akan pernah menghampiri hidupku dan hanya menjadi hiasan benakku saja. Tapi semua yang dipikirkan olehku ternyata salah dek. Tuhan mengizinkanku untuk bahagia dan menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Kamulah bentuk jawaban dari setiap doaku. Kamulah wanita terindah dari besarnya cinta tuhan untukku. Cintaku untukmu tak akan pernah hilang sayang" kata Pandu dalam hati sambil merangkul pinggang istrinya. Pandu tersenyum menatap wajah istrinya yang tengah memakaikan baret hijau dikepalanya terlihat sangat cantik kalau sedang serius
"Terimakasih sayangku" Seru Pandu setelah rapi dengan seragam dan semua atributnya
"Sama-sama sayang, ayo adek antar ke depan pintu" ajak Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum
"Abang pergi dulu yah sayang, assalamu'alaikum" pamit Pandu mengecup kening istrinya
"Walaikumsalam abang sayang, hati-hati yah" Ucap Viara menyalami tangan Pandu. Pandu mengangukkan kepalanya dan segera berlalu menaiki motornya
"Aku akan merindukanmu sayang" gumam Viara melambaikan tangannya pada suaminya yang sudah melaju dengan motornya
___________
Sesampainya di Batalyon, Pandu langsung menuju ke aula Kompi C untuk menemui semua anggotanya yang telah berkumpul atas perintahnya sejak 10 menit yang lalu
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ujar Pandu yang berdiri didepan bersama bang Rama di sampingnya
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab semua anggota Kompi C serentak
"Hari ini kita akan sosialisasi ke desa G. saya menerima informasi dari Danyon jika telah terjadi bencana banjir bandang di desa G semalam. Jadi diharapkan untuk semua anggota pleton 2 dan 3 untuk berpartisipasi disana membantu warga yang terdampak bencana!!" Kata Pandu lantang
"Siap Laksanakan" jawab para tentara serentak
__ADS_1
"Untuk pleton 1 dan 4 tetap melaksanakan tugas di disini. Sertu Rafa, tolong pimpin pleton 1 dan 4 selama saya bertugas di luar yah" pinta Pandu
"Siap laksanakan komandan" jawab Sertu Rafa lantang
Setelah mendengar intruksi mengenai titik-titik dimana lokasi banjir bandang terjadi dari Danki mereka, semua anggota bersiap-siap menuju ke lokasi menaiki mobil truk TNI angkatan Darat.
Setelah menempuh perjalanan selama 60 menit, 6 truk tentara utusan Batalyon xxx telah sampai di lokasi bencana. Setelah truk terparkir rapi, semua anggota melompat dari truk dan langsung berpartisipasi membantu warga yang terdampak bencana.
Beberapa diantaranya langsung memasuki air mencari korban-korban yang masih terjebak didalam rumahnya sedangkan sisanya langsung membantu memindahkan dan membersihkan beberapa pohon tumbang yang menutupi jalanan. Para prajurit itu terus melangkahkan kakinya memasuki air banjir tersebut yang ketinggiannya mencapai perut orang dewasa.
Setelah mengevakuasi korban-korban bencana yang terjebak didalam rumah dan mengevakuasi mereka selama 4 jam, Pandu dan pasukannya ikut membantu para warga yang masih berusaha membersihkan beberapa pohon tumbang besar yang masih menghalangi jalanan utama dan tertimpa atap rumah
"Minggir!!!!" Teriak Pandu pada para pasukannya yang tengah memindahkan kayu dari tertimpa atap rumah karena menyadari ada pohon lagi yang siap tumbang mengenai mereka.
Para prajurit yang sigap langsung mundur mengikuti arahan komandan mereka hingga pohon tumbang tersebut tidak mengenai mereka. Tetapi tugas mereka kembali bertambah karena bukan hanya satu pohon yang tertimpa atap rumah tersebut, tapi bertambah satu pohon lagi yang baru saja jatuh
"Ayo bapak-bapak, kita angkat bersama kayu ini" seru Pandu mengajak warga untuk memindahkan kayu yang menimpah atap rumah bersama-sama
"1.. 2..3.. Kayunya tidak bisa diangkat pak, tenaga kita tidak cukup untuk mengangkat kayu ini. Sepertinya harus ada tukang pemotongan kayu baru bisa pak" usul salah satu warga
"Baiklah pak, saya akan menghubungi tukang kayu untuk datang kesini. Untuk sementara sambil menunggu tukang kayu, kita potong kayunya sedikit-sedikit menggunakan parang yah bapak-bapak" Titah Pandu
"Baik pak, tapi tidak usah menunggu tukang kayu pak, kami punya beberapa mesin gergaji di gudang desa" usul salah satu warga
"Baik pak, saya dan beberapa pasukan saya akan ke gudang desa untuk mengambil mesin gergaji" Ucap Pandu mulai melangkah kakinya menerobos banjir menuju ke gudang desa yang letaknya lumayan jauh dari lokasi mereka diikuti beberapa personilnya.
Setelah sampai di gudang desa dan mengambil 5 gergaji mesin yang ada di gudang tersebut, Pandu dan beberapa prajurit kembali menerobos bajir yang setinggi perut mereka dengan memikul gergaji mesin tersebut. Sesampainya di lokasi semula, para anggota mulai menyalakan mesin gergaji itu dan mulai memotong batang kayu. Para warga ikut membantu memotong dahan-dahan kayu yang berukuran kecil menggunakan parang agar tidak menghalangi jalanan.
Pandu yang ikut memotong dahan tersebut tak sengaja lengannya tergores dengan parang yang digunakannya untuk memotong- memotong dahan kayu tersebut
"AWW" ringis Pandu melihat tangannya yang dipenuhi darah. Pandu langsung menutup luka goresnya dengan telapak tangannya mencegah darah yang terus keluar
"Bang Pandu, apa yang terjadi?" Tanya Bang Rama cemas melihat darah yang terus mengalir di tangan Pandu
"Astaghfirullah bang, ayo kita kesana dulu, disana ada tim medis" Ucap bang Rama memapah Pandu dan membawanya ke tempat tim medis.
"Apa yang terjadi pak?" Tanya salah satu tim medis melihat Bang Rama yang memapah seorang lelaki yang terlihat pucat didepan tenda mereka
"Ini bu, teman saya terluka, sepertinya terkena parang" turut bang Rama mereka jelaskan
"Baiklah pak, ayo baringkan dia disini" tutur tim medis membantu bang Rama untuk membaringkan Pandu diatas brankar.
Tim medis langsung melakukan pengobatan pertama dengan membersihkan darah dari luka Pandu dan memberikan obat di luka Pandu. Setelah memberikan obat merah di lukanya, tim medis langsung melilitkan perban menutupi luka di lengan Pandu
"Bagaimana perasaannya pak? Apa bapak pusing?" Tanya tim medis melihat wajah pucat Pandu yang memegangi kepalanya
"Iyah bu, agak sedikit pusing" jawab Pandu
"Ini pak, diminum yah biar nggak lemas" Ucap tenaga medis tersebut memberikan sekaleng susu steril pada Pandu. Pandu meneguk minuman itu dan mendudukkan dirinya sebentar untuk memulihkan staminanya setelah kehilangan banyak darah
____________
Di salah satu sekolah Dasar di kota B
Setelah selesai mengajar, Viara duduk sendirian di ruang guru sambil merasakan debaran jantungnya yang berdetak sangat kencang. Viara mulai merenung dengan firasat aneh yang menguasai hatinya. Viara takut terjadi sesuatu pada suaminya yang sedang bertugas di seberang sana
"Perasaan apa ini? Apa terjadi sesuatu sama abang disana?" gumam Viara cemas namun sebisa mungkin Viara menepis perasaan itu dan terus berpikir positif tentang suaminya di seberang sana
"Bentar lagi bu, masih pengen istrahat sebentar" jawab Viara berusaha menunjukkan senyumnya
"Baiklah Bu Viara, kalau begitu saya pamit pulang dulu yah" kata Bu Nilna
"Iyah bu, silahkan" bu Nilna mengangukkan kepalanya dan berlalu keluar ruang guru
"Semoga suamiku baik-baik saja disana. Lindungilah dia Ya Tuhanku"
__________
Merasa kondisi tubuhnya sudah mendingan, Pandu keluar dari tenda tim medis dan menyusul pasukannya yang tengah membantu warga
"Bang Pandu, abang udah nggak apa-apa?" Tanya Bang Rama cemas melihat Pandu yang kembali membantu membersihkan dahan pohon yang menutupi jalanan di sampingnya.
"Udah mendingan Bang, lagian aku tidak enak kalau nggak bantu warga" ucap Pandu sambil memotong dahan
"Nggak apa-apa Bang, mending abang istrahat aja, pasti warga mengerti kok"
"Iyah benar Bang, kondisi abang belum pulih sepenuhnya, apalagi abang kehilangan banyak darah setelah terluka tadi" Saran bang Rafael cemas
"Nggak apa-apa terluka dan kehilangan banyak darah, asalkan jangan kehilangan cinta karena terluka" Ucap Pandu tersenyum pada kedua rekannya
"Hahahh dasar!!" Seru kedua teman Pandu dan kembali memotong dahan bersama para warga
"Tapi kalau ada apa-apa langsung kasitau yah bang"
"Siap laksanakan" jawab Pandu lantang. Ketiganya pun kembali fokus bekerja membantu warga membersihkan pohon tersebut.
Ketika tengah membersihkan dahan, hujan deras kembali mengguyur lokasi tersebut hingga para warga dan anggota lainnya berteduh di posko pengungsian yang sedikit tinggi. Hujan deras terus mengguyur sampai waktu menjelang malam dan menghentikan semua aktivitas warga. Bahkan pohon yang sebelumnya tumbang dan sudah dibersihkan, kini tersapu luapan air banjir yang kembali meluap.
"Bagaimana ini pak, lokasi desa yang tidak terdampak banjir tadi sekarang telah terkena bajir juga pak. Bahkan ketinggian air sudah mencapai dua meter lebih" lapor pak kepala desa cemas
"Kalau begitu bergerak semua, evakuasi warga yang terjebak di atap rumah dan di rumah mereka" perintah Pandu pada personilnya
"Siap laksanakan" jawab semua anggota serentak. Pandu dan anggotanya mulai menaiki 10 perahu karet yang disiapkan tim dan turun ke lokasi meski masih diguyur hujan deras
"Disebelah sana, ada warga yang terjebak di atap rumahnya" Lapor pak kepala desa yang ikut membantu
Para prajurit terus mendayung, melawan arus air dan lebatnya hujan demi menolong korban-korban terdampak bencana di atap rumah mereka
_______
Di balkon kamarnya, Viara menatap langit malam dan membiarkan tetesan hujan deras mengenai telapak tangannya
"Abang belum kasih kabar, mungkin abang lagi sibuk sekarang" gumam Viara menerawang ke depan
"Semoga abang baik-baik saja disana. Di sepanjang perjuangan dan tugas muliamu, doaku selalu menyertaimu sayang" gumam Viara menutup matanya dan menyinggung senyumnya mengingat senyuman manis Pandu yang terlintas di benaknya.
Setelah berdiri cukup lama, Viara menutup pintu balkon kamarnya dan membaringkan tubuh lelahnya diatas ranjangnya
__ADS_1
"Baik-baik disana yah bang, aku merindukanmu"
__________
Keesokan harinya, hujan deras sejak kemarin masih mengguyur desa G hingga desa tersebut kembali terendam banjir setinggi dua setengah meter. Berkat penanganan dan evakuasi cepat yang dilakukan para prajurit, semua warga kini telah dievakuasi ke tempat yang aman. Para prajurit itu sangat kelelahan karena mengevakuasi semua warga yang terjebak diatap rumah mereka, bahkan para prajurit itu belum tidur sejak semalam. Setelah hujan reda, para prajurit pasukan Pandu langsung menaiki truk dan kembali ke kota setelah pasukan prajurit pengganti yang dikirim Batalyon mereka telah sampai di desa tersebut.
Sesampainya di Batalyon, para personil itu langsung pulang ke rumah masing-masing untuk membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh lelah mereka.
Viara yang tengah memasak di dapur menyunggingkan senyumnya dan berlari ke depan pintu ketika mendengar salam dari suaminya
"Assalamu'alaikum adek" Ucap Pandu lemah sambil tersenyum pada istrinya
"Walaikumsalam abang" balas Viara mempersilahkan suaminya masuk
"Astaghfirullah, abang sampai basah kuyup begini. Lalu tangan abang ini kenapa?" Tanya Viara cemas melihat perban yang sudah berubah warna melilit lengan suaminya
"Cuma luka kecil sayang, tapi abang tidak apa-apa kok" Ucap Pandu berusaha tersenyum untuk meredakan api kecemasan Viara
"Yaudah abang masuk lalu mandi air hangat yah, adek siapin obat dulu untuk abang" perintah Viara kembali.
Pandu mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan berusaha melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya sambil berpegangan pada dinding karena tubuhnya yang terasa sangat lemah
Viara berlari ke ruang TV dan membuka lemari kaca untuk mengambil kotak obat yang sudah disiapkannya di rumah. Dengan kotak pertolongan pertama ditangannya, Viara kembali melangkahkan kakinya cepat menyusul suaminya yang berada di kamar.
Sesampainya di kamar, Viara tak melihat tanda-tanda suaminya didalam kamar
"Mungkin abang lagi mandi" gumam Viara berusaha menenangkan perasaannya yang begitu cemas. Sembari menunggu suaminya yang tengah mandi, Viara melangkah mendekati lemari dan menyiapkan pakaian untuk Pandu.
15 menit kemudian, karena suaminya tak kunjung keluar dan perasaan cemas yang kembali menguasai hatinya, Viara bangkit dari duduknya dan berjalan kedepan pintu kamar mandi di
Tok..Tok..Tok...
"Abang, masih lama yah mandinya?" Tanya Viara dari luar
"Abang" panggil Viara sekali lagi namun tak kunjung ada jawaban dari suaminya.
Karena rasa cemas yang menguasai hatinya, Viara memantapkan hatinya dan perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi
Ceklek....
Viara tertegun melihat suaminya yang tertidur pulas sambil berendam didalam bathub. Viara melangkahkan kakinya mendekati suaminya dan terkeju, menyadari suaminya berendam didalam air hangat tanpa mengenakan apapun untuk menutupi tubuhnya.
Viara mengontrol nafasnya untuk meredakan keterkejutannya dan kembali melangkah mendekati Pandu. Viara mengecup kening Pandu dan mengusap lembut wajah teduh suaminya yang tertidur pulas
"Sayang, ayo bangun" Kata Viara lembut sambil mengusap pipi Pandu
"Ayo bangun sayang" kata Viara lembut.
Pandu perlahan-lahan membuka matanya dan tersenyum tipis melihat wajah Viara yang tersenyum manis padanya
"Abang kok tidur disini? Nanti abang bisa masuk angin kalau kelamaan berendam di sini" tutur Viara menangkup kedua pipi Pandu
"Abang lelah sayang, abang mau tidur" Ucap lemah Pandu dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat
"Abang mandi dulu yah, setelah itu baru istirahat di kamar" kata Viara lembut
"Mandiiin yah dek" pinta Pandu pelan.
Viara tertegun mendengar permintaan suaminya barusan, tetapi Viara merasa tak tega menolak permintaan Pandu karena melihat tubuh lemah dan wajahnya yang sangat pucat. Viara mengusap lembut kedua pipi Pandu yang ditangkupnya dan mengecup keningnya sedikit lama
"Yaudah adek mandiin yah" Ucap Viara diangguki oleh Pandu yang tersenyum dia wajah pucatnya.
Viara memperbaiki kepala Pandu agar berbaring dengan sempurna di sandaran bathub dan mulai membasuh wajah dan tubuh suaminya dengan air hangat. Viara menyungingkan senyumnya melihat wajah Pandu yang merasa nikmat dengan air yang di basuhkan istrinya di wajah dan juga tubuhnya
Viara mulai menuangkan sabun cair di tangannya dan mulai menyambuni setiap inci tubuh suaminya yang terbaring lemah. Viara dengan telaten menyabuni tubuh dan kaki Pandu dari tanah dan potongan dedaunan kering yang menempel di kulit suaminya
Deg
"Apakah aku harus menyentuh senjata itu?" Tanya Viara cemas dalam hatinya
"Ada apa sayang?" Tanya Pandu pelan masih menutup matanya yang terasa sangat berat untuk terbuka
"Jangan takut Viara, dia suamimu jadi semua yang ada di tubuhnya juga milikmu. Yang kamu lakukan hanyalah menguatkan hatimu, oke Viara? Semangat" batin Viara menyemangati dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa sayang, kita lanjut mandi lagi yah" Ucap Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum
Viara kembali menuangkan sabun cair di tangannya dan dengan sedikit ragu-ragu, Viara mulai menyentuh dan mengosongkan busa sabun cair diarea kepemilikan suaminya. Di wajahnya yang terlihat seolah tak dialiri darah, Pandu menyunggingkan senyumnya melihat wajah merona istrinya yang malu-malu menyabuni benda miliknya yang bisa terbangun kapan saja karena sentuhan lembut istrinya
"Terimakasih yah dek" Ucap pelan Pandu sambil tersenyum. Viara menghentikan tangannya yang menyabuni pusaka milik Pandu dan membalas senyuman Pandu padanya
"Sama-sama sayangku" balas Viara mengusap kening Pandu dan mengecup sekilas bibir pucatnya dengan lembut
"Maafkan adek yang masih ragu dan malu-malu yah bang, tapi adek janji setelah adek terbiasa nanti, adek tidak akan ragu atau malu-malu lagi untuk menyentuhnya. Sekarang kita lanjut mandi lagi yah" Ucap tulus Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum.
Hatinya merasakan sangat bahagia melihat istrinya yang begitu tulus merawatnya dan memberinya kasih sayang. Baru kali ini Pandu mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita. Baru kali ini, Pandu merasakan indahnya cinta tulus seorang wanita hingga air mata bahagia mengalir di pipi pucatnya.
"Aku bahagia sayang, terimakasih sudah hadir dihidupku dan melengkapi apa kurangnya aku. Terimakasih untuk semua cinta dan ketulusan yang kamu berikan untukku selama ini. Aku janji akan terus melindungimu sayang karena kamu adalah wanitaku dan akan selalu menjadi wanitaku selamanya. Aku mencintaimu Viara" kata Pandu dalam hati sambil tersenyum melihat istrinya yang masih menyabuni tubuhnya.
Setelah selesai menyabuni setiap inci tubuh suaminya, Viara kembali membasuh tubuh suaminya dengan lembut untuk menghilangkan busa sabun yang menutupi tubuhnya
"Akhirnya selesai juga" gumam Viara senang setelah membersihkan sisa sabun dan membasuh tubuh suaminya.
Viara dengan pelan-pelan membantu Pandu keluar dari bathub, lalu Viara mengambil handuk yang diletakkan di bahunya. Dengan handuk ditangannya, Viara langsung mengusap titik-titik air di tubuh suaminya dan melilitkan handuk itu di pinggang Pandu untuk menutupi bagian bawahnya. Setelah itu Viara memapah tubuh lemah Pandu dan menuntunnya menuju ke kamar dengan sabar.
Sesampainya di kamar, Viara membaringkan tubuh lemah suaminya dan memperbaiki kepalanya untuk berbaring dengan sempurna
"Bentar yah bang,adek ambil kotak obat dulu" Ucap Viara melangkahkan kakinya mengambil obat yang diletakkannya di atas meja riasnya.
Ketika Viara membalikkan badannya, Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu yang sudah tertidur lelap
"Baru di tinggal 5 detik, abang sudah tertidur pulas. Sepertinya abang lelah bekerja jadinya seperti ini" gumam Viara melangkahkan kakinya dan duduk di sisi ranjang disamping Pandu.
Viara mengusap luka gores di lengan suaminya dan kembali meneteskan obat merah di luka tersebut. Setelah memasangkan perban di lengan Pandu, Viara ikut naik ke ranjang dan merebahkan tubuh lelahnya di samping Pandu.
Viara mengambil selimut di samping bantal kepalanya dan digunakan untuk menutupi tubuhnya dan tubuh suaminya yang hanya mengenakan handuk saja. Setelah memakaikan selimut, Viara menyungingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu dan membawa Pandu kedalam dekapannya. Viara mengusap lembut punggung suaminya yang berbaring berhadapan dengannya dan mengecup penuh cinta puncak kepalanya yang ada di depan wajahnya
"Mimpi yang indah yah sayang, aku menyayangimu selalu" gumam Viara mengecup kening Pandu dan memeluknya erat. Viara perlahan-lahan menutup mata menyusul Pandu menjelajahi alam mimpi dengan wajahnya yang bersandar diatas kepala Pandu
__ADS_1
"Aku menyayangimu Panduku"
Bersambung.........