
Viara yang tengah bercengkrama bersama para prajurit dan rekan-rekannya di bawah tenda berdiri dari duduknya ketika melihat Bu Elly yang sudah datang menjemputnya di depan tenda
"Aku pergi dulu yah" pamit Viara pada semua orang yang ada di tenda tersebut
"Iyah dek, Hati-hati yah" seru Para personil serentak. Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan berlalu menemui Bu Elly
Baru saja melangkahkan kakinya, Viara seketika menghentikan langkahnya saat Andra menahan tangannya
"Hati-hati yah dek, kalau ada apa-apa cepat beritahu abang. Abang takut terjadi sesuatu padamu" kata Andra cemas sambil mengusap lembut puncak kepala Viara
"Iyah bang, pasti kok. abang nggak usah cemas yah. Adek pergi dulu, assalamu'alaikum abang sayang" balas Viara menyalami tangan Andra
"Walaikumsalam sayang, Hati-hati yah" Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan langsung berlalu pergi menaiki motor bersama Bu Elly menuju ke rumah siswa mereka
Para prajurit lanjut bercengkrama bersama para prajurit sambil bercanda dan tertawa bersama.
Drrtt.... Drrtt..... Drrtt..
"Hahah tunggu sebentar teman-teman, aku sedang menerima telepon, nanti akan kulanjutkan ceritanya" jawab Andra menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan salah satu rekannya yang merupakan polisi yang juga ikut berjaga di acara itu
"Halo Assalamu'alaikum Adam, ada apa?" Tanya Andra
"Walaikumsalam Danru, di salah satu stand terdapat laporan jika terjadi sesuatu dengan aliran listrik disana. Bisakah anda kesana bang, aku sedang dalam perjalanan menuju kesitu tapi aku sudah menyuruh personilku untuk mengecek keamanannya juga" pinta Adam sambil memperhatikan jalanan
"Baiklah bang, aku akan segera kesana" jawab Andra tegas.
Setelah mengucapkan salam, Andra memutuskan sambungan telepon dan menaruh kembali ponselnya disaku celananya
"Ada apa bang?" Tanya Bang Jaya
"ada laporan mengenai masalah aliran listrik yang ada di salah satu stand.Bang Jaya, bang Bayu dan tiga orang lainnya ikut aku kesana. sisanya tolong awasi disini jangan sampai terjadi masalah lagi dengan aliran listrik disini" perintah Andra pada semua personilnya
"Siap Komandan" jawab semuanya serentak. Andra menganggukkan kepalanya dan mulai berlari ke lokasi diikuti 5 personilnya
Boooomm
Terdengar bunyi ledakan yang terdengar kecil namun mengundang rasa penasaran semua orang. Semua orang keluar dari tenda untuk mengecek keadaan dan tertegun melihat rumah cukup mewah berlantai dua yang ada di bukit tengah dilahap api sekarang, bahkan bunyi ledakan tadi bersumber dari kebakaran rumah tersebut.
Ila yang melihat rumah itu terbakar seketika merasa lemas dengan air mata yang menetes di pipinya
"Abang hiks... Viara ada disana bang" kata Ila panik sambil menangis. Semua orang berbalik menatap Ila yang jatuh terduduk di tanah sambil menangis ketakutan
"Apa maksudmu dek, Viara ada dimana sekarang?" Tanya Pandu cemas
"Iyah dek, katakan Viara dimana? kenapa kamu menyebut Viara ada disana?" Tanya Bang Rama membantu Ila berdiri
"hiks.. Iyah Bang Viara ada di rumah itu. Rumah itu adalah rumah murid kami. Viara bersama bu Elly pamit untuk pergi kesana tadi hiks.. aku takut terjadi sesuatu padanya disana Bang" Tutur Ila menjelaskan sambil menangis ketakutan
"Astaghfirullah adek!!!" kata Pandu khawatir.
Pandu langsung berlari menaiki truk menuju keatas rumah di bukit tersebut
"Dek, tinggu disini yah, abang sama Bang Pandu kesana dulu" kata Bang Rama menyerahkan Ila kepada Syifa
"Iyah Bang, hiks.. tolong Viara disana Bang" pinta Ila dengan berderai air mata
"Iyah dek, abang pergi dulu yah" Ucap Bang Rama mengusap pipi Ila dan berlari menaiki truk bersama personil lainnya.
Setelah semua pasukan memasuki truk, Pandu langsung tancap gas melaju ke arah bukit ditemani Bang Rama yang duduk disamping kursi kemudi
"Ya Allah dek, semoga kamu baik-baik saja" gumam Pandu cemas sambil memperhatikan jalanan
"berdoalah Bang, semoga Viara baik-baik saja disana" kata Bang Rama yang sangat mengerti kecemasan Pandu.
Pandu semakin menambah kecepatan truknya mengikuti dua mobil pemadam kebakaran yang melaju kearah yang sama
Booom......
kembali terdengar bunyi ledakan yang cukup keras semakin menambah kekhawatiran Pandu
Drrtt..... drrtt.... drrtt...
__ADS_1
Bang Rama merogoh ponselnya dan menjawab panggilan dari bang Jaya
"Halo bang, ada apa?"
(..........)
"Astaghfirullah, kebakaran di stand acara?" Tanya Bang Rama tak percaya. Semua orang tertegun mendengar ucapan Bang Rama dan beralih menatapnya
(...........)
"lalu bagaimana dengan para guru yang makan bersama kita tadi?" Tanya Bang Rama cemas
(........)
"Alhamdulillah, kami sedang menuju ke bukit, disana juga ada kebakaran rumah. setelah dari bukit, kami akan langsung ke stand"
(...........)
"Baik, laksanakan" jawab Bang Rama mematikan sambungan
"Ada apa Bang?" Tanya Pandu cemas
"Di salah satu stand terdapat masalah di aliran listrik sehingga stand itu terbakar dan terdengar bunyi ledakan barusan tadi" tutur Bang Rama menjelaskan
"Lalu bagaimana dengan para guru itu bang?" Tanya salah satu anggota dibelakang
"mereka sudah dievakuasi oleh bang Andra dan personil lainnya ke tempat yang aman. Setelah dari bukit kita akan langsung kembali ke tempat tadi dan membantu disana" titah Bang Rama
"Baik bang" jawab semuanya serentak.
Pandu semakin menambah kecepatan truknya dengan perasaan cemas sambil mengikuti dua mobil Damkar melaju menuju kebakaran di rumah yang ada di bukit tersebut
"Semoga kamu baik-baik saja disana dek. lindungilah dia demi aku Ya Rabb"
__________
Sesampainya di lokasi, Pandu langsung memarkir truknya dan berlari kearah Viara yang menangis melihat kebakaran di depannya
"Abang hiks...." lirih Viara ketakutan semakin mempererat pelukannya pada Pandu.
Pandu mengusap lembut punggung bergetar Viara yang menangis ketakutan di bahunya
"Adek nggak apa-apa kan dek?" Tanya Pandu menangkup kedua pipi Viara
"adek nggak apa-apa bang hiks.. adek takut abang" lirih Viara semakin ketakutan karena trauma yang dialaminya tadi.
Ketika Viara bersama bu Elly melangkah masuk kedalam rumah, terdengar ledakan cukup keras di rumah tersebut hingga seisi rumah terbakar seketika. Beruntung Viara dan rekannya berhasil keluar bersama asisten rumah tangga rumah tersebut sebelum salah satu pilar bangunan jatuh dan menimpa mereka
"Sudah dek, adek tenang yah, jangan takut selama ada aku disisimu" Ucap Pandu mengelus kening Viara yang dibanjiri keringat dengan lembut.
Pandu menghimbau agar orang yang ada di sekitarnya untuk mundur karena hawa panas dari kebakaran rumah tersebut
"Tolong... tolong nona muda saya hiks...." pinta Art rumah tersebut ketakutan mengingat jika anak kecil yang dijanganya sedang tertidur di kamarnya yang ada di lantai dua
"Tapi bu, sangat sulit menerobos api yang semakin membesar itu" ucap salah satu petugas pemadam kebakaran masih terus menyemprotkan air ke api yang sepertinya sangat sulit untuk dipadamkan, apalagi dengan adanya angin kencang membuat api semakin berkobar
"TOLONG!!!!" Terdengar teriakan anak kecil dari lantai dua
"Bang, ada anak murid adek yang terjebak dikamarnya hiks... bagaimana ini bang?" lirih Viara cemas sambil menangis ketakutan. Pandu melepaskan pelukan Viara dan berlari menghampiri salah satu petugas
"Pak, didalam ada anak yang terjebak, apa kita tidak bisa kedalam pak?" Tanya Pandu
"Maaf Pak, apinya sangat besar dan tak kunjung padam, seisi rumah juga sudah terbakar bang, tidak ada lagi jalan untuk masuk kesana" kata salah satu petugas masih menyemburkan air kearah rumah tersebut
"Jangan diam saja pak, didalam sana ada anak kecil yang terjebak, bagaimana bisa kita membiarkannya meregang nyawa" Tegas Pandu dengan suara sedikit meninggi
"Tidak ada jalan kesana pak, api sudah membakar rumah tersebut sekitar 70 persen, jika kita masuk takutnya kita juga akan terpanggang disana. Cobalah mengerti pak" tutur petugas itu menjelaskan
"Tidak pak, pasti ada jalannya" kata Pandu lantang dan mulai berlari ke depan
"Abang!!!!!" panggil Viara mengejar Pandu hingga Pandu menghentikan langkahnya dan beralih menatap Viara yang menahan tangannya
__ADS_1
"Jangan bang hiks.. didalam sangat berbahaya" pinta Viara menggelengkan kepalanya Pada Pandu
"Tapi dek, ada nyawa seorang anak yang harus ditolong didalam sana" kata Pandu mengusap pipi Viara.
Seketika air mata Viara kembali menetes dan berhambur memeluk Pandu seolah takut untuk melepaskannya pergi
"Adek takut abang kenapa-napa didalam sana hiks..rumahnya sudah terbakar dan tidak ada celah bang, abang jangan kesana" pinta Viara berkaca-kaca
"Iyah Bang, rumah itu sudah terbakar hampir 80 persen. sangat sulit untuk masuk kedalam Bang" tutur Bang Rama ikut mencegah Pandu bersama Viara
"Tidak Bang, ada nyawa yang harus ditolong disana" kata Pandu masih teguh dengan pendiriannya
"Tapi tidak mungkin bisa selamat dikobaran api itu Bang. mengertilah" Ucap Bang Rama berusaha menjelaskan
"Iyah bang hiks.. jangan kesana" pinta Viara sambil menggelengkan kepalanya. Pandu meraih tangan Viara dan membawanya kedalam pelukannya seolah mengisyaratkan jika pelukan itu tak akan pernah dia rasakan lagi
"Maafkan abang dek, abang harus masuk kesana. ada nyawa yang harus abang tolong meski nyawa abang adalah taruhannya. Kalau abang berhasil keluar dengan selamat dari rumah itu, peluklah tubuh ini dek. Namun ketika abang tak kunjung keluar, maafkan dan ikhlaskan kepergian abang yah" pinta Pandu meneteskan air mata sambil mendekap Viara erat
"Jangan berkata seperti itu bang" pinta Viara semakin menangis dipelukan Pandu
"Maafkan abang dek" jawab Pandu melepaskan pelukannya dan berlari masuk ke rumah yang terbakar itu
"Abang!!!!!! Jangan kesana Abang!!!" Teriak Viara histeris ketika Pandu terus berlari masuk kedalam kobaran api.
Pandu tidak mengindahkan teriakan Viara yang terus memanggilnya, Pandu justru terus melangkah maju demi nyawa seorang anak kecil yang butuh pertolongan didalam sana
"Maafkan aku dek, ada nyawa yang harus ku selamatkan didalam sana. Jika memang tubuhku tak lagi bernyawa setelah keluar dari bangunan ini, percayalah cintaku akan selalu hidup untukmu. Aku akan menyayangimu selalu walaupun aku tinggalah kenangan" kata Pandu meneteskan air mata sambil terus berlari masuk kedalam menahan hawa panasnya api
"Ya Allah, tolong lindungi dia hiks... lindungilah dia demi aku Ya Rabb" pinta Viara berdoa sambil menatap kebakaran di depannya
"Jangan pisahkan aku darinya Ya Rabb, sungguh aku sangat menyayanginya dan sangat takut untuk kehilangannya. Lindungilah teman terbaikku Ya Rabb" pinta Viara berdoa sambil berderai air mata
Berkat doa tulus yang selalu diucapkan Viara, Pandu berhasil memasuki kamar anak itu yang setengahnya telah terbakar.
"Tolong hiks... " lirih seorang anak perempuan kecil dari arah lemari. Pandu berjalan mendekati lemari itu, dan lekas membukanya. Pandu meraih tubuh bergetar anak kecil yang menangis ketakutan didalam lemari itu dan membawanya kedalam pelukannya
"Tenang yah dek, jangan menangis. Percaya sana om yah, kita akan keluar bersama-sama dari sini. jangan takut yah dek" Ucap Pandu mengelus punggung bergetar gadis kecil itu.
Pandu meraih selimut yang ada di lemari itu dan digunakannya untuk menutupi anak itu yang bersandar di dadanya agar panasnya hawa api tidak mengenai tubuhnya
"Bismillah, bantu aku ya Rabb" gumam Pandu memantapkan hatinya dan kembali berlari keluar menembus hawa panasnya api sambil mengendong anak kecil itu
____________
Sudah 10 menit Pandu memasuki rumah yang masih setia dilahap api itu, namun tanda-tanda Pandu akan keluar tak kunjung nampak. Viara terus merapalkan doa-doa sambil menatap penuh air mata pintu rumah tersebut berharap teman terbaiknya keluar dengan keadaan selamat dari rumah tersebut. Bang Rama yang duduk disamping Viara ikut meneteskan air mata, bang Rama terharu dengan doa-doa yang terus diucapkan Viara, doa yang penuh harapan agar Pandu keluar dengan selamat dari kobaran api tersebut
"Aku yakin kamu pasti berhasil keluar bang, kamu lelaki yang kuat, kamu lelaki yang berani. kamu rela mempertaruhkan nyawamu demi menolong orang lain. belum saatnya kamu pergi bang, kamu belum merasakan bahagia yang ditakdirkan Tuhan untukmu di dunia ini. Sekarang keluarlah bang, disampingku, ada bahagiamu yang sedang berdoa dan menantimu keluar. Aku yakin, wanita ini adalah bidadari yang ditakdirkan Tuhan untukmu. Aku Yakin dialah pendamping hidupmu bang. Jika keyakinanku benar, maka aku yakin kamu pasti berhasil keluar dari kebakaran itu. Keluarlah bang, dan sambutlah kebahagiaanmu" gumam Bang Rama menyunggingkan senyumnya melihat mata penuh cinta gadis di sampingnya yang terus menatap penuh doa pintu rumah tersebut
7 detik kemudian
Bang Rama dan Viara meneteskan air mata bahagia melihat Pandu yang berhasil keluar dari rumah tersebut sambil mengendong anak kecil yang ditolongnya
"Abang!!!!!" seru Viara senang dan berlari menghambur memeluk Pandu. Tim medis ikut berlari menyusul Pandu untuk membantu Pandu yang mengalami kesulitan bernapas setelah menghirup asap dari kebakaran tersebut
"Abang hiks.. bertahan yah bang" lirih Viara tersenyum dan membaringkan Pandu diatas pangkuannya. Viara mengambil alat bantu pernapasan yang disodorkan tim medis dan dipasangkannya di hidung Pandu
"Uhuk.. Uhuk.. adek" kata Pandu berusaha berbicara sambil terbatuk-batuk
"Iyah bang, adek disini. ada apa hmm? " kata Viara lembut sambil mengusap kening penuh keringat Pandu
"Terimakasih sudah menyelamatkan anak itu yah bang. Terimakasih telah kembali dengan selamat dari kebakaran itu. Terimakasih untuk segalanya bang hiks.. Terimakasih" lirih Viara mengusap dada Pandu yang terus terbatuk-batuk
"Dek, abang mau tidur uhuk.. tetap temani abang uhuk.. disamping uhuk abang yah. uhuk" pinta Pandu meneteskan air mata menatap wajah wanita yang paling dicintainya
"Iyah bang, tidurlah dengan nyaman di pangkuan adek yah. Adek janji akan selalu menjagamu disaat kamu tertidur dan terbangun dari tidurmu" kata Viara lembut mengusap air mata di sudut mata Pandu
"Aku mencintaimu Viara" batin Pandu menyunggingkan senyumnya menatap wajah malaikatnya dan perlahan-lahan menutup matanya.
Viara menghapus air matanya dan tersenyum bahagia menatap wajah teduh Pandu yang tertidur pulas dipangkuannya. Para tenaga medis membaringkan tubuh Pandu diatas brankar dan membawanya masuk kedalam ambulans. Viara ikut masuk kedalam ambulans dan menemani tidur lelap Pandu yang terus mengenggam erat tangannya ditemani bang Rama di sampingnya
"Cepat bangun yah bang, belum saatnya kamu pergi meninggalkanku. Kamu belum merasakan bahagia di dunia ini, maka teruslah hidup dan sambut hari bahagia bersamaku"
__ADS_1
Bersambung.......