
Keesokan paginya, Viara terbangun dengan mata yang sangat sembab dan membengkak. Viara melangkahkan kakinya ke mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Setelah selesai shalat subuh, Viara merapikan peralatan shalatnya dan langsung bersiap-siap ke sekolah meski air matanya masih setia mengalir di pipinya
"Kamu harus kuat Viara, harus. Sesakit apapun perasaan ini, tugas dan kewajibanmu harus tetap dijalankan. Kamu harus bersemangat dan tetap profesional. jangan karena satu orang kamu mengabaikan semua anak-anak yang menunggumu di sekolah. Jangan menangis, jangan rapuh dan teruslah melangkah maju kedepan. Bukannya kamu ingin bahagia di sisa umur dan hari-hari terkahirmu? Maka tersenyumlah. Bahagia tidak harus bersama pendamping bukan, tapi bahagia bisa tercipta jika kita mensyukuri apa yang kita miliki. Bukankah selama ini kamu dikelilingi orang-orang yang menyayangimu? Keluargamu yang begitu sayang padamu, teman-temanmu yang begitu tulus menemanimu, dan kasih sayang anak-anak yang selalu menyambutmu dengan senyuman bahagia mereka di depan gerbang sekolah. Hapuslah air mata itu, karena kamu sudah cukup untuk menangis. Sekarang waktumu untuk tersenyum dan menghabiskan sisa umurmu bersama orang-orang yang menyayangimu sebelum kamu pergi untuk selamanya" batin Viara menatap dirinya di cermin sambil menghapus air matanya
Ila yang baru saja memasuki kamar melangkahkan kakinya mendekati Viara yang tengah menghapus air matanya di depan cermin
"Viara, apa kamu yakin untuk ke sekolah hari ini?" Tanya Ila cemas
"Aku tidak apa-apa Ila. Tugas tetaplah tugas, dan aku harus tetap profesional menjalankan kewajibanku. Sekarang aku pergi dulu yah" Ucap Viara tersenyum mencoba menyakinkan Ila
"Yaudah Hati-hati yah Viara" Viara mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya keluar rumah.
Saat membuka pintu depan rumah, Viara tertegun melihat Pandu yang bersandar di motornya sambil menatapnya
"Adek" panggil Pandu dengan tatapan sendu
Brak!!
Viara lantas membating pintu rumah sangat keras hingga teman-temannya yang tertidur pulas terperanjat kaget
"Astaghfirullah, ada apa?" Tanya teman-teman Viara memegangi dada mereka
"Dek, abang mohon dengarkan abang dulu dek" pinta Pandu menggedor-gedor pintu rumah.
"Pergi kamu, jangan ganggu aku!!" Tegas Viara dari balik pintu.
Viara menyeka air matanya yang kembali menetes dan langsung berjalan keluar rumah lewat pintu belakang
"Maafkan aku, aku tidak mau menangis lagi karena melihatmu" Gumam Viara berjalan cepat di jalanan menuju ke sekolah.
Pandu yang melihat Viara diujung jalan langsung mengendarai motornya dan menyusul Viara yang menjauh dan berjalan sangat cepat. Pandu memikirkan motornya dan berlari menyusul Viara
"Dek, dengarkan abang dulu dek, jangan seperti ini" Pinta Pandu menahan tangan Viara hingga Viara berhenti di tempat
"Pergilah, jangan ganggu aku. Aku tidak ingin melihatmu" Tegas Viara tetap menatap ke depan.
Viara menatap tangannya yang digenggaman Pandu dan langsung melepaskan tangannya kasar dari genggaman Pandu
"Dengarkan abang dulu sayang, abang tidak seperti yang kamu pikirkan" lirih Pandu memeluk Viara dari belakang.
Viara melepaskan pelukan Pandu dari tubuhnya dan kembaliberlari menjauhi Pandu
"Dek, dengarkan abang dek, abang tidak seperti yang kamu pikirkan!!!!" Teriak Pandu yang tak dihiraukan oleh Viara.
Viara terus berlari sambil meneteskan air mata tak mau melihat kebelakang dimana Pandu terus memanggil namanya
"Maafkan aku, aku juga tersiksa terus menghindarimu seperti ini, tapi hatiku sudah sangat patah untuk berbalik kebelakang. Kumohon izinkan aku bahagia" lirih Viara terus berlari
__ADS_1
__________
Sesampainya di sekolah, Viara mengontrol nafasnya yang tersengal-sengal dan menyeka air mata di sudut matanya
"Semoga hari ini baik-baik saja dan tidak ada kendala sedikitpun saat aku mengajar" gumam Viara berdiri di depan pintu kelas yang akan diajarinya
Viara melangkah masuk kedalam kelas 2 dan menyapa anak didiknya yang begitu senang melihatnya. Viara menyunggingkan senyumnya dan melupakan semua rasa sakit hatinya saat melihat anak-anak muridnya yang begitu antusias dan menjawab pertanyaan yang dia berikan di papan tulis. Viara berpikir tak mengapa tujuan cintanya tak tercapai, yang penting cita-citanya untuk membuat anak-anak menyukai pelajaran matematika sekarang sudah mulai terwujud
"Bu, roti yang ibu gambar di papan itu bisa di makan nggak?" pertanyaan polos gadis kecil yang merupakan murid Viara
"Tidak bisa sayang, ini kan hanya gambar" semua anak-anak tertawa melihat wajah gadis kecil itu.
Viara mengelus puncak kepala gadis kecil itu dan menyerahkan sebiji roti di tangannya. Gadis kecil itu berbinar dan mengucapkan terimakasih kepada gurunya
"Terimakasih Ibu guru cantik" Ucapnya tersenyum
"Sama-sama sayang" balas Viara mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu
"Bu, kok hanya Lili aja yang dikasih roti, kami juga mau bu!" Ucap putra diserukan oleh teman-temannya
"Lili kan sudah banyak mengerjakan soal di papan dengan benar, jadi ini adalah hadiah untuknya" Ucap Viara tersenyum dan langsung menuliskan sesuatu di papan tulis
"Hayoo siapa yang mau kerjakan, nanti hadiahnya sama seperti Lili dan bisa keluar main deluan" seru Viara dengan spidol hitam ditangannya
Semua anak-anak antusias dan mengangkat tangan mereka
"Saya Bu!!"
Viara tersenyum senang dan mempersilahkan anak-anak muridnya menjawab setiap soal yang ditulisnya di papan.
Setelah semua anak didiknya dapat bagian mengerjakan soal di papan tulis, Viara segera memberikan semua roti yang dibelinya kepada anak-anak didiknya. Viara juga memberikannya pada murid-muridnya yang belum benar dalam mengerjakan soal di papan
"Yeahh!!! Terimakasih bu guru" seru anak-anak itu memeluk Viara dan memakan roti mereka dengan lahap bersama-sama
Viara tersenyum dan ikut tertawa mendegar ucapan salah satu muridnya yang sangat polos dalam bertanya
"Hahha bukan begitu sayang, ibumu sengaja melakukan hal itu agar kamu rajin belajar.......... "
__________
Pandu masih setia menunggu kepulangan Viara di depan gerbang sekolah. Hatinya tidak tenang saat Viara tidak mau mendengarnya, hatinya juga sangat sakit berada di posisi seperti ini. Ingin sekali berteriak sekenceng mungkin meluapkan rasa di hati yang begitu perih, namun hanya air mata saja yang bisa dikeluarkan untuk menerima kenyataan yang ada
"Maafkan abang dek, abang bukan seperti yang kamu pikirkan" lirih Pandu menatap nanar ruangan kelas didepan sana
Bruk.....
Pandu menoleh ke samping dan langsung berlari menghampiri ibu penjual bakso yang terjatuh bersama gerobaknya di pinggir jalan. Ibu itu menangis karena semua jualannya tumpah dan berhamburan di tanah
__ADS_1
"Ya Tuhan hiks... hiks..." Lirih ibu itu menangis dan mengumpul semua jualannya yang berhamburan di tanah
"Jangan bu, itu sudah kotor semua" cegah Pandu membantu ibu itu untuk berdiri
"Tapi nak, jualan saya belum ada yang terjual. Saya tidak punya uang lagi untuk modal jualan dan memperbaiki gerobak ini hiks.. hiks... Biarkan ibu mengambilnya hanya untuk ganjal perut ibu dan anak ibu hari ini hiks..hiks.. " lirih ibu itu menangis di pelukan Pandu
"Astaghfirullah ibu!!! Apa yang terjadi?" Teriak Santi berlari memeluk ibunya yang menangis di dalam pelukan Pandu
"Nak, ibu baru kena musibah. Jualan kita tumpah semua nak hiks.. hiks.. Bakso kita juga belum ada yang terjual sedikitpun" lirih ibu itu menangis deras sambil memeluk putrinya. Santi ikut menangis dan membalas pelukan ibunya
Pandu langsung membersihkan kekacauan dan duduk disamping gerobak untuk memperbaiki gerobak ibunya Santi yang mengalami kerusakan dibagian bawah dan juga rodanya
"Bu, apa ibu punya perkakas?" Tanya Pandu sambil memegangi roda gerobak
"Ada Bang, sebentar saya ambilkan" Ucap Santi menghapus air matanya dan mengambilkan perkakas dari rumahnya yang tak jauh dari depan sekolah. Setelah mengambil perkakas, Santi kembali berlari kedepan sekolah dan langsung memberikan kotak perkakas yang dipegangnya kepada pandu.
Pandu menerima kotak perkakas yang diberikan Santi dan mulai memperbaiki bagian bawah gerobak. Santi juga ikut membantu Pandu untuk memperbaiki gerobak itu dan membersihkan sisa bakso yang tertumpah dijalanan.
Ketika Pandu tengah memperbaiki roda gerobak tersebut, Pandu langsung menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekati ibunya Santi yang menangis sesenggukan di pinggir jalan
"Ibu tenang yah, saya ada sedikit rezeki. Semoga dapat membantu ibu untuk berjualan kembali" Ucap Pandu menyerahkan 8 lembar uang seratus ribuan ketangan ibunya Santi
"Tapi nak, mungkin kamu juga..."
"Tidak bu, ibu jauh lebih membutuhkan dari saya. Diterimanya yah bu, Ayah saya pernah bilang jika tidak baik menolak rezeki" Ucap Pandu lembut.
ibu itu meneteskan air mata menerima uang pemberian Pandu dan berhambur memeluk Pandu
"Terimakasih nak, terimakasih banyak" lirih Ibu itu menangis bahagia di bahu Pandu.
Santi juga ikut meneteskan air mata,terharu melihat kebaikan lelaki di depannya
"Iyah bu sama-sama. Sekarang kita perbaiki gerobak ibu sama-sama yuk" Ibu itu tersenyum dan langsung membantu Pandu untuk memperbaiki gerobaknya.
Viara berdiri didepan gerbang mengamati tindakan Pandu barusan. Seketika senyuman tipis terlukis di bibirnya, namun air matanya kembali luluh mengingat kejadian yang menyakiti hatinya. Viara membuang mukanya ke samping saat tatapannya bertabrakan dengan tatapan Pandu
"Maafkan abang dek" gumam Pandu menatap sendu pada Viara yang masih bisa didengar oleh Santi.
Santi mengikuti arah pandang Pandu yang terus menatap Viara yang telah menjauh pulang bersama teman-temannya. Pandu menghela nafas kasar dan kembali memperbaiki gerobak itu setelah Viara tak lagi terlihat di ujung jalan. Santi terdiam sambil memandangi wajah lesu Pandu di sampingnya
"Maafkan aku Bang, karena aku juga terlibat dalam jebakan yang disiapkan Kiara untukmu. Maafkan aku karena ulahku juga kamu menderita dan dibenci oleh kekasihmu. Aku mengerti rasa sakit dan penderitaanmu. Dan aku berjanji akan menebus kesalahanku. Aku berjanji akan menjelaskan semuanya kepada kekasihmu terkait cerita yang sebenarnya. Terimakasih sudah menerbitkan senyuman kembali di wajah ibuku. Aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu Bang"
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya😉
Terimakasih Semua
__ADS_1
Love You All😘💞