Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 37. Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Sudah 2 bulan, Viara menjalani hari-harinya dengan penuh senyuman dan kebahagiaan bersama Andra didekatnya. Meskipun Viara berpikir apakah dia bisa untuk mendampingi Andra dengan penyakit yang bisa kapan saja merenggut nyawanya, tapi Viara selalu berusaha untuk tetap sembuh dan semangat menjalani kemoterapi demi kelangsungan hidupnya lebih lama lagi.


Sedangkan Pandu, dia lebih memilih menendam perasaan cintanya seorang diri. Pandu juga selalu berusaha menjauhi Viara saat melihat Viara bersama Andra. Pandu tidak ingin mengalami cedera rasa yang berlebihan saat melihat keduanya bersanding bersama nanti. Namun dibalik cintanya yang tersembunyi, Pandu selalu berusaha memberikan perhatian dan tawa ketika dia bersama Viara. Pandu memantapkan hatinya untuk tetap mencintai Viara meski Pandu tahu akhinya akan sangat menyakitkan karena hati Viara sejak dulu memang bukan untuknya. Tapi Pandu sedikit bernafas lega karena dia juga sangat istimewa dihati Viara. Viara selalu menyempatkan waktunya untuk bersama Pandu dan menghabiskan hari-hari mereka bersama dengan membantu warga sekitar. Bagi Viara, Pandu memang bukan orang yang dicintainya, tapi Viara sangat menyayangi Pandu layaknya seorang adik untuk kakaknya.


Pandu terkadang merenung, apakah masih ada kesempatan untuknya memiliki Viara? Karena Andra pernah berkata sebelumnya jika dia telah menemukan gadis bermaskernya, maka dia akan langsung mendatangi orang tuanya dan melamar gadis tersebut. Andra mengatakan hal itu dengan serius dan tidak ada kata main-main didalamnya. Meskipun hatinya masih sangat mencintai Viara, namun Pandu tetap berusaha untuk mengikhlaskannya pelan-pelan.


Tapi tak semudah itu, mengikhlaskan orang yang kita cintai tentu sangat sulit bukan? Bahkan Pandu beberapa kali selalu cemburu dan galau setengah mati melihat kebersamaan keduanya.


Pandu ingin berlari sambil membawa Viara bersamanya, namun siapa dia? Apakah dia istimewa di hati Viara? apakah Viara mau menerima cintanya disaat hati Viara telah terpaut untuk orang lain? Yah, hanya Tuhan dan author yang tahu


__________


"Viara, ada yang ingin kubicarakan padamu" Kata Ila duduk berhadapan dengan Viara


"Iyah silahkan saja Ila" jawab Viara tersenyum sambil menatap layar laptopnya


"Tapi kamu janji jangan marah padaku yah" Pinta Ila sebelum mengatakan maksudnya yang sesungguhnya


"Kalau memang yang kamu sampaikan adalah kebenaran, maka aku tidak akan marah sepahit atau seburuk apapun kebenaran itu" kata Viara tersenyum manis pada Ila dan kembali menatap layar komputernya. Ila mengontrol nafasnya dan mulai mengatakan maksudnya


"Aku merasa jika bang Pandu mencintaimu Viara". Viara berhenti mengetik di laptopnya dan beralih menatap Ila di depannya


"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu ila?" Tanya Viara dengan mode serius. Ila menghela nafasnya dan mulai mengatakan kecurigaannya selama ini kepada Viara


"Apa selama kau bersama Pandu, kamu tidak membaca isyarat yang tertulis dimatanya? Setiap aku menatap matanya ketika dia melihatmu, terdapat banyak cinta yang terpendam untukmu dimata itu. Dalam hatinya seolah hanya ada kamu Viara, bukan yang lain. Tapi dia memendam perasaan itu sendirian, karena dia tahu kau tidak akan pernah menjadi miliknya. Pandu tahu kamu tidak akan pernah menjadi miliknya karena sejak dulu hatimu telah dimiliki orang lain yang bukan dirinya" Viara terdiam dan mulai mencerna ucapan ila barusan


"Jika kamu masih ragu akan cintanya padamu maka dengarkan aku" Ucap ila mengenggam kedua tangan Viara dan menatap kedua matanya lekat


"Kamu tahu Viara, disaat tubuhmu lemah ketika kita akan pergi ke kota, saat itu Pandu yang paling mencemaskanmu. Dia membawamu kedalam pelukannya dan memberikanmu kehangatan. Disaat itu semua penumpang yang dibelakang tertidur didalam perjalanan, kecuali Pandu. Dia tetap terjaga dan terus melindungimu dalam dekapannya. Kamu ingat kan dimalam ulang tahunnya bang Andra, saat itu kamu terdiam dan menangis seorang diri. Pandu yang melihatmu menangis melalui sambungan Video sangat cemas padamu, bahkan dia nekat pulang dimalam yang berhujan hanya untukmu. Keesokan paginya ketika kau terbaring demam tak berdaya di lantai, saat itu Pandu dengan sigap menjaga dan merawatmu dengan sepenuh hatinya. Dia begitu takut bahkan menangis saat melihatmu dalam kondisi seperti itu. Katakan apakah itu bukan arti dari cinta?" Viara berkaca-kaca mendengar penuturan Ila


"Dia mencintaimu Viara, sangat mencintaimu. Hanya dia memendamnya sendirian karena tak mungkin untuk bisa memilikimu. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bimbang dengan cintamu kepada Andra. Aku hanya ingin kau menyadari jika ada hati yang sangat ingin dan teramat ingin memilikimu, meskipun dia tidak pernah mengatakannya padamu. Dia pasrah Viara, dia sangat pasrah saat kamu memilih Andra daripada dia. Dia pasrah memendam perasaannya seorang diri karena memilikimu hanya angannya saja. Aku yakin kamu pasti bisa merasakan semua kepasrahannya" tutur Ila menjelaskan semuanya


Ila lanjut menceritakan lebih lanjut tentang perhatian dan kecurigaannya selama ini terhadap Pandu. Viara yang mendengar itu meneteskan air mata membayangkan betapa hancurnya Pandu saat Viara lebih memilih Andra dari pada dia. Hatinya ikut remuk mengingat Pandu 2 bulan yang lalu, ketika Pandu menangis di dalam pelukannya. Viara juga menatap mata Pandu dan menyimpulkan jika terdapat banyak luka hati dan beban yang tertera di mata itu. Sayangnya Viara terlambat menyadari akan hal itu. Sekarang Viara mengerti semua yang di pasrahkan Pandu hingga air mata terus mengalir membasahi pipinya


"Maafkan aku Viara, aku tidak bermaksud untuk.." Ucap ila terputus karena Viara menempelkan jari telunjuknya di bibir ila


"Terimakasih telah mengatakannya padaku, terimakasih sudah menyadarkanku sebelum aku terlambat menyadarinya. Terimakasih ila" Viara berdiri dari duduknya dan menghambur memeluk ila erat


"Sama-sama Viara, satu hal yang kuingunkan. Jika kamu memang tidak bisa membuatnya memilikimu, setidaknya jangan buat dia menyesal karena pernah mencintaimu. Jangan buat dia menangis dengan menyakiti hatinya. Kau adalah teman terbaikku, kau pasti tau cara memperlakukan orang-orang terdekatmu dengan baik. Semangat yah" Ucap Ila dibalas anggukkan kepala oleh Viara


"Yaudah kita pulang bareng yuk" ajak Ila.


Viara menghapus air matanya dan meraih tasnya untuk pulang bersama ila. Selama dalam perjalanan pulang, Viara terus melamun memikirkan Pandu, bahkan sapaan warga desa yang menyapanya di jalan tidak dihiraukan oleh Viara


"Viara, aku harus singgah di rumah muridku disini, kamu pulang duluan aja yah, kan jaraknya sudah dekat" kata Ila


"Baiklah aku pulang dulu yah, assalamu'alaikum" pamit Viara


"Walaikumsalam Viara hati-hati" Viara tersenyum pada Ila dan kembali melanjutkan langkahnya pulang ke rumahnya


"Bang Pandu, maafkan aku. Aku terlambat menyadari cintamu selama ini padaku. Maafkan aku yang membuatmu pasrah karena hatiku lebih memilih Andra. Maafkan aku" lirih Viara kembali meneteskan air matanya


"Tapi aku janji aku tidak akan membuatmu menyesal karena pernah mencintaiku. Aku akan selalu ada untukmu jika kamu membutuhkanku. Kau juga orang yang sangat istimewa dihatiku, kau sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Walaupun aku belum bisa membalas rasa cintamu padaku, tapi aku sangat menyayangimu Pandu" batin Viara menghapus air matanya dan tersenyum mengingat wajah Pandu yang terbayang di benakknya.

__ADS_1


Viara yang sudah dekat dengan rumahnya menghentikan langkahnya saat melihat Pandu yang bekerja di depan pos bersama bang Rama. Viara bersembunyi di dekat pohon untuk mengamati keduanya


"Bang pianonya udah bagus nggak?" Tanya Bang Rama yang ikut memperbaiki piano didepan pos bersama Pandu


"Bentar yah, aku cek dulu" kata Pandu langsung meraih kursi dan duduk didepan piano tersebut. Pandu mulai menekan tuts piano untuk mengecek hasil pekerjaan mereka memperbaiki piano itu


"Udah bang, pianonya sudah bagus, bahkan nadanya sudah beraturan" Ucap Pandu senang


"Alhamdulillah kalau begitu bang" Ucap bang Rama tersenyum dan mulai mengemasi kotak perkakas mereka. Pratu Denis yang baru saja tiba di pos tertegun melihat adanya piano didepan Pandu


"Ehh bang, piano itu darimana?" Tanya Pratu Denis penasaran


"Ohh ini dikasih sama kepala desa bang, katanya daripada cuman jadi pajangan di gudang, mending dibawah kesini aja. Tapi harus diperbaiki karena mengalami sedikit kerusakan. Tapi alhamdulillah kerusakannya sudah berhasil kami perbaiki" tutur bang Rama menjelaskan


"Ohh, boleh sekalian main piano dong kalau begitu. Aku ke dalam dulu yah, masih banyak pekerjaan yang harus kuurus" pamit pratu Denis diangguki kedua temannya


"Bang, piano ini sudah lama tidak digunakan, coba abang mainkan pianonya sekalian bernyanyi" saran bang Rama


"Iyah juga yah"


"Iyah bang, bentar aku ambil mic dulu didalam" kata Bang Rama beranjak masuk kedalam pos dan mengeluarkan mic yang langsung diletakkannya didepan Pandu


"Nah coba abang nyanyi, biar aku yang mainkan gendangnya" titah Bang Rama


"Oke Bang" seru Pandu setuju. Pandu mulai memainkan piano itu dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Viara menyunggingkan senyumnya dan mulai mengamati Pandu yang akan bernyanyi dari balik pohon tersebut


Ku tak percaya kau ada disini


Menemaniku di saat dia pergi


Menghapus semua sakit yang kurasa


Mungkinkah kau merasakan


Semua yang ku pasrahkan


Kenanglah kasih


Ku suka dirinya, mungkin aku sayang


Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku


Kau pernah menjadi, menjadi miliknya


Namun salahkah aku


Bila ku pendam rasa ini


Dibalik pohon besar di dekatnya, Pandu tidak menyadari ada seseorang yang terus mengamatinya sambil meneteskan air mata


Na nana nanana nana nanana nanana


Mungkinkah kau merasakan

__ADS_1


Semua yang kupasrahkan


Kenanglah kasih


Ku suka dirinya, mungkin aku sayang


Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku


Kau pernah menjadi, menjadi miliknya


Namun salahkah aku


Bila kupendam rasa ini


"Ya Allah abang hiks..." lirih Viara menangis sesenggukan menghayati lagu itu, seolah Pandu tengah mencurahkan isi hatinya lewat lagu yang dinyanyikannya


Ku suka dirinya, mungkin aku sayang


Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku


Kau pernah menjadi, menjadi miliknya


Namun salahlah aku


Bila ku pendam rasa ini


Author sampai nangis mendegar lagu itu sambil membayangkan kisah cinta terpendam Pandu untuk Viara selama ini😢


Prok.. Prok.. Prok... riuh Bang Rama menepuk tangannya. Pandu langsung menyeka air matanya dan tersenyum manis pada Bang Rama


"Semangat yah bang, kejarlah dia dalam doamu. Jika memang Tuhan menakdirkan dia untukmu, walaupun sekarang dia sekarang tengah menjadi milik orang lain suatu saat nanti dia akan kembali untukmu. Jangan menyerah yah bang" kata Bang Rama memeluk Pandu dan menepuk-nepuk punggungnya. Bang Rama termasuk saksi dibalik perjuangan dan hancurnya Pandu dalam mencintai Viara, jadi bang Rama sangat mengerti apa yang dirasakan teman baiknya itu. Dibalik senyuman yang selalu ditunjukkan Pandu, terdapat banyak kepasrahan dan luka hati yang dia pendam sendirian.


Viara menghapus air matanya dan berjalan menghampiri Pandu


"Assalamu'alaikum bang" sapa Viara sambil tersenyum


"Walaikumsalam dek, sini duduk disamping abang" kata Pandu lembut. Viara mengangguk dan beranjak duduk disamping Pandu sambil tersenyum padanya


"Adek nangis? Adek sakit yah" tanya Pandu cemas menatap mata sembab Viara


"Iyah bang, adek sakit. Sakit melihatmu menahan beban sendirian karena mencintaiku selama ini" batin Viara meraih kedua tangan Pandu dan menciumnya cukup lama hingga Pandu dibuat tertegun olehnya.


"Maafkan aku bang, maafkan aku" batin Viara masih mencium punggung tangan Pandu sangat lama dengan air mata yang selalu meneteskan dari pelupuk matanya. Pandu merasakan titik-titik air mata yang menetes di punggung tangannya


"Ada apa dek?" Tanya Pandu lembut. Viara mengangkat wajahnya dan menatap lekat mata Pandu dan menyadari ucapan Ila benar. Dengan mata sembabnya, Viara menatap mata Pandu dan melihat terdapat banyak cinta untuknya. di matanya juga terdapat kesedihan dan luka yang masih sangat membekas di hatinya. Viara menghapus air matanya dan mengelus pipi Pandu dengan lembut dan penuh kasih sayang


"Terimakasih yah bang" kata yang terucap di bibir Viara dan melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya


"Terimakasih untuk apa dek?" Tanya Pandu membuat Viara menghentikan langkahnya.


Viara berbalik menatap Pandu sambil tersenyum manis dan mengatakan


"Terimakasih untuk lagunya"

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2