
Pukul 2.45 dini hari
Booooooommmm
Terdengar bunyi dentuman yang cukup besar dan memekikkan telinga hingga Viara dan teman-temannya terbangun dari tidur mereka
"Ada apa ini? Darimana ledakkan itu?" Tanya Syifa khawatir
Booooommm
"ibu!!!!! "
Ledakkan kembali terdengar hingga ketiga gadis itu berteriak ketakutan dan saling berpelukan
"Ada apa di luar hiks.. Hiks.. Kenapa ledakkan terus terdengar sejak tadi" lirih Syifa ketakutan memeluk kedua temannya erat.
Viara memeluk kedua temannya berusaha untuk menenangkan mereka. Viara pernah berada di situasi menegangkan seperti ini dan dia juga pernah mendapatkan arahan-arahan dari ayah dan neneknya untuk tetap bersikap tenang.
"Kalian tenanglah, berdoa agar kita semua baik-baik saja" Ucap Viara menahan gejolak ketakutan dalam hatinya
Viara melepaskan pelukan dari teman-temannya dan melangkahkan kakinya mendekati jendela kamar.
Ceklek (Viara membuka jendela pelan-pelan)
Setelah jendela itu sedikit terbuka, Viara tertegun melihat langit semakin menghitam dengan banyaknya asap dan kabut hitam yang terus berterbangan. Dari arah desa sebelah, terlihat kobaran api yang cukup tinggi dengan asap yang mengepul dan melambung tinggi.
Deg..
Viara memegangi dadanya yang berdebar hebat dengan jantungnya yang berdetak sangat cepat
"Ada apa ini" batin Viara cemas memegangi dadanya yang berdebar hebat
"Apakah ada yang terjadi pada Bang Pandu? Lindungilah dia dan para prajurit yang bertugas ya Allah" gumam Viara menatap dengan linangan air mata pada langit yang semakin menghitam
Sementara di desa sebelah, para prajurit dan aparat keamanan tengah mengamankan 2 kelompok warga yang saling menyerang. Baku hantam dan ledakkan bom tak henti-hentinya terdengar dari desa yang hampir dilahap api. Para prajurit tengah mengevakuasi warga dan menyerang kelompok pemberontak yang menjadi dalang penyerangan kedua desa.
Bang Zardan beserta pasukan dari berbagai daerah tengah melawan dan menembaki para musuh yang melindungi markas mereka di tengah hutan
Dooor..
Dooor....
"Bergerak ke arah jam 2!!!" Perintah Kapten
Para prajurit membentuk formasi dan mulai menembaki satu persatu musuh yang menghadang mereka
Dooor..
Dooor..
Dooor..
Aarghhh
"Markas mereka sudah telihat" lapor Bang Zardan melalui earpeace nya
"Teruslah maju kedepan, kami yang akan memberantas musuh disini" balas kapten dan kembali memerintahkan personilnya untuk tetap maju dan melawan musuh mereka
Ribuan anak panah terus bertebrangan di udara siap menikam siapapun yang berada tepat di sasaran mereka. Beberapa prajurit yang memberantas Para kelompok pemberontak itu sudah terkena anak panah yang terus berterbangan. Para prajurit yang terkena panah langsung dievakuasi oleh helikopter penyelamatan
Pandu dan timnya tengah menaiki helikopter dan menembaki dari atas Udara.
Dooor
Dooor
Dooor
Aarghhh
__ADS_1
Salah satu teman Pandu yang ikut menembak dari atas Udara meringis kesakitan di samping Pandu karena tertembak dibagian pinggangnya
"Bertahan Bang" Ucap Pandu berusaha mengeluarkan peluru dari tubuh temannya. Sedangkan para prajurit yang satu helikopter dengan pandu mengambil alih dan terus menembaki musuh yang menyerang dibawah sana
Dooor
Dooor
Booooooommmm
Salah satu musuh menembakkan peluru sejenis xxxxxx hingga baling-baling helikopter mengalami kerusakan
"Lakukan pendaratan darurat, segera!!!!!" Tegas Pilot helikopter secepat mungkin memakai parasut.
Para prajurit melakukan terjun payung darurat, begitu juga dengan prajurit yang terluka dibantu oleh salah satu temannya
"Tetap waspada!!! Masih ada anak panah yang meleset keatas" Perintah Pandu pada teman-temannya yang sudah meloncat dari atas helikopter yang oleng.
Pandu langsung melompat bersama teman-temannya, namun helikopter yang hilang kendali menabrak tubuh Pandu hingga merusak sebagian tali parasutnya
"Aaarggg" ringis Pandu menahan sakit di atas dada kirinya yang baru saja terkena tembakan peluru salah satu musuh.
"Letnan!!!" Teriak pilot bergerak kesamping dan menangkap tubuh Pandu yang akan terjatuh kebawah
"Bertahanlah, kita akan segera mendarat" Ucap pilot berusaha agar kata Pandu tetap terbuka.
Darah dibagian atas dada kirinya terus menyembur keluar dan menetes dari ketinggian. Pandu yang masih setengah sadar melihat dari atas jika ada musuh yang siap menembakkan peluru ke dada pilot yang menahan tubuhnya.
Dooor.....
Pandu mengayunkan lengannya ke atas agar peluru itu tidak mengenai dada pilot, alhasil lengan Pandu terkena timah panas hingga dia tak kuat lagi untuk membuka matanya
"Astaga, bertahan Letnan, jangan seperti ini" Ucap Pilot khawatir melihat wajah Pandu yang sangat pucat dengan matanya yang siap tertutup rapat.
Sebelum menutup matanya, Pandu terbayang wajah Viara yang tersenyum manis padanya
"Maafkan aku sayang, maafkan aku. Maafkan aku yang sering membuatmu meneteskan air mata. Maaf karena aku tidak sanggup lagi untuk melihatmu dan melihat dunia. Tubuhku sudah tidak kuat lagi sayang. Jika aku pulang dan kamu mendapatiku sudah tak bernyawa lagi, kumohon jangan menangis yah. Ketahuilah wahai kekasih hatiku, meski aku tinggal kenangan, tapi cinta di hatiku akan selalu memang untukmu. Maafkan dan ikhlaskan aku, jika aku tak kunjung pulang untuk selamanya. Nyawaku ada di senapan, tapi cintaku akan selalu ada di hatimu. Aku Lettu Pandu Praditya Maheswara akan selalu mencintaimu Viara, meski tubuh ini tidak bernyawa lagi" gumam Pandu tersenyum mengingat wajah Viara dan perlahan-lahan menutup matanya
Beruntung, setelah pilot berhasil mendarat dengan sempurna di tanah, para prajurit yang mengamankan dari bawah telah berhasil melumpuhkan semua musuh dan menghancurkan markas mereka hingga lebur tak tersisa.
Para prajurit bergerak cepat mengevakuasi teman-teman mereka yang terluka akibat baku hantam, terkena anak panah dan tertembak peluru
"Astaghfirullah Pandu, bangun Pandu bangun!!!" Tegas Bang Zardan menekan darah di bagian atas dada Pandu yang terus keluar.
"Denyut nadinya semakin melemah" Ucap pilot khawatir saat menyentuh pergelangan tangan Pandu.
Pandu langsung dibaringkan di tandu dan para prajurit mulai berlari untuk mengevakuasi rekan-rekan mereka yang terluka. Mereka mengambil jalan pintas karena tidak mungkin melewati jalanan desa yang telah dilahap api, sedangkan helikopter penyelamatan tak bisa ikut membantu karena gumpalan asap yang masih menutupi langit yang semakin gelap.
Para prajurit terus berlari agar nyawa teman-temannya masih bisa diselamatkan, mereka berlari menuju ke pos tentara terdekat dan mengantarkan teman-teman mereka yang terluka ke rumah sakit kota.
Viara yang mendengar teriakan dan arahan tegas di depan rumah segera berlari kedepan karena perasaannya yang tidak tenang sejak tadi.
Sesampainya di depan teras, Viara tertegun melihat salah satu prajurit yang ditandu didepan sana, seketika bulir bening lolos dari matanya melihat wajah perwira yang dicintainya sangatlah pucat dan penuh darah
"Abang!!!!" Teriak Viara segera berlari menghampiri Pandu yang terbaring bersimbah darah
"Abang bangun Bang, hiks..hiks.. Abang!!" Teriak Viara menepuk-nepuk pipi Pandu yang terus menutup matanya
"Tenanglah Ara, berdoalah agar Pandu baik-baik saja dan masih bisa tertolong" Ucap Bang Zardan menarik tangan Viara agar memberi jalan pada prajurit yang mengangkat tandu Pandu untuk masuk kedalam truk
"Abang, adek ikut ke rumah sakit yah hiks... hiks...adek mohon" Pinta Viara mengatupkan kedua tangannya kepada Bang Zardan
"Baiklah, segera masuk dan temani Pandu didalam" ujar Bang Zardan membantu Viara naik ke truk.
Di dalam truk, Viara tak henti-hentinya menjatuhkan air mata melihat wajah kekasihnya yang seolah tak dialiri darah lagi. Viara menangis di belakang truk untuk memberi ruang kepada tenaga medis yang melakukan pertolongan pertama pada Pandu
"Pelurunya berhasil dikeluarkan, tapi pasien kekurangan banyak darah" Ucap salah satu tenaga medis
"Setelah tiba di rumah sakit, kita akan segera melakukan tindakan lanjutan pada pasien. Semoga pasien masih bisa bertahan setelah mendapatkan pertolongan pertama" Ucap tenaga medis segera menghubungi pihak rumah sakit.
__ADS_1
Viara berjalan mendekati brankar Pandu dan menatap Pandu dengan linangan air mata. Viara menggenggam tangan Pandu dan mengelus keningnya dengan lembut
"Cepatlah bangun, jangan tertidur lelap seperti ini. Ada hati yang rindu akan senyuman dan tawa bahagiamu. Bertahan dan teruslah bernafas. Kamu adalah lelaki terkuat yang pernah ku kenal, itu sebabnya aku bangga menjadi kekasihmu sayang. Cepatlah bangun, aku akan selalu menunggumu untuk bangun kembali" Ucap Viara mengecup kening Pandu dengan penuh cinta dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Pandu.
Viara mengusap lembut darah yang mengalir dari sudut bibir Pandu dan menyatukan keningnya dengan kening kekasih hatinya.
Para medis yang sejak tadi mendegar dan melihat tindakan Viara barusan saling bertatapan dan melemparkan senyuman. Mereka ikut terharu melihat Viara yang masih setia mengenggam tangan dan mengusap wajah Pandu yang masih setia menutup matanya.
"Terimakasih sudah berjuang menjaga kemanan negara kita. Aku mencintaimu sayang"
___________
Di dalam ambulans yang tengah melaju dijalanan berhutan
"Cepat tangani pasien!!" Teriak salah satu tenaga medis karena Pandu mengalami sesak nafas. Viara melangkah mundur dan membiarkan para tenaga medis yang akan melakukan penanganan pada Pandu.
"Bagaimana ini dokter, pasien masih mengalami sesak meskipun sudah dipasangkan alat bantu pernapasan" cemas salah satu tenaga medis
"Denyut nadinya juga semakin melemah setiap detiknya. Perjalanan ke kota masih 4 kilometer lagi"
"Sepertinya pasien tidak bisa bertahan" Ucap salah satu tenaga medis menghela nafasnya kasar
Air mata Viara kembali tumpah membasahi pipinya mendengar ucapan tenaga medis itu
"Lakukan yang terbaik untuknya dokter, hiks..LAKUKAN!!!!" Teriak Viara mencengram kerah jas dokter dengan mata berkaca-kaca
"Tenanglah nona, kami mengerti kecemasanmu. Berdoalah agar pasien baik-baik saja yah" Ucap Dokter itu membantu Viara duduk di samping brankar Pandu.
Viara mengenggam tangan pandu dan menangis sambil menyalami tangannya
"Bertahanlah bang, jangan tinggalkan adek sendiri. Abang pernah berjanji nggak akan buat adek cemas lagi kan, maka bertahanlah bang hiks..hiks.. Jangan seperti ini adek mohon" lirih Viara terus menangis mengenggam tangan Pandu.
Setelah sampai di rumah sakit, Pandu langsung diturunkan dari ambulan dan dilarikan ke ruang IGD. Viara terus mengenggam tangan Pandu sambil berlari bersama para tenaga medis yang mendorong brankar Pandu hingga pegangan tangannya terlepas dari tangan Pandu.
Setelah pintu ruangan tertutup, Viara melangkahkan kakinya berdiri di depan kaca untuk melihat Pandu yang tengah mendapatkan perawatan intensif di dalam sana
"Bertahanlah bang hiks.. hiks.. Adek mohon" lirih Viara menatap Pandu di dalam sana yang masih sesak nafas walau matanya tertutup rapat.
"Dokter, jantung pasien berhenti berdetak!!" Ucap salah satu perawat panik
Dokter langsung mengambil tindakan dengan menyetuh tubuh Pandu dengan alat pacu jantung di tangannya. Viara terus menangis seraya berdoa saat melihat tubuh Pandu terus terangkat oleh alat pacu jantung yang terus didaratkan di tubuhnya
"Jangan ambil dia Ya Rabb, jangan ambil dia dari hidupku hiks... Ambil saja nyawaku. Hidupku sudah tidak lama lagi, kumohon biarkanlah dia tetap hidup. Sebagai gantinya ambil saya nyawaku hiks.. hiks.." lirih Viara terus menangis mengamati dari kaca itu.
Dokter terus berusaha agar jantung Pandu kembali memompa darah, sudah 5 kali alat itu didaratkan di tubuh Pandu namun layar EKG masih tetap menunjukkan garis lurus.
Viara menghapus air matanya dan menatap wajah Pandu dari balik kaca
"Bangunlah sayang, jangan tertidur lelap seperti ini. Aku tahu kamu tidak suka jika melihatku menangis, maka kuhapus air mata ini agar kamu bisa kembali melihatku. Jangan tinggalkan aku sendiri, bukankah kamu ingin hidup dan menua bersamaku? Bukankah kamu berjanji akan menikahiku setelah tugasmu di desa selesai? Maka penuhilah janjimu itu sayang. Bangunlah, aku rindu tatapan matamu bersamaku, aku rindu senyuman dan tawa bahagiamu di dalam pelukanku. Bangunlah Panduku, cintaku hanyalah untukmu seorang. Seperti inginmu yang menginginkanku menjadi ibu untuk anak-anakmu, dengan senang hati dan penuh kebanggaan aku berkata, Aku siap sayang. Bangunlah dan sambutlah hari bahagiamu bersamaku" Ucap Viara menghapus air matanya dan tersenyum manis pada Pandu
Dokter kembali mendaratkan alat pacu jantung di tubuh Pandu yang ke tujuh kalinya. Saat alat itu telah ditarik lagi oleh dokter, dokter akhinya bernafas lega karena tubuh Pandu yang kembali bernafas dan jantungnya kembali berfungsi
"Alhamdulillah" Ucap Para dokter lega melihat layar EKG yang menunjukkan garis berbengkok
Viara meneteskan air mata bahagianya dan bersujud syukur kepada sang Pencipta yang kembali menjawab do'anya
"Terimakasih Ya Rabb, terimakasih engkau masih mengembalikannya padaku. Terimakasih engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup bersamanya lagi. Segala puji hanya Bagi-Mu" Ucap Viara senang dan segera bangkit dari posisi sujudnya
"Segera tangani pasien!!!" Ujar dokter dan mulai melakukan tindakan pada Pandu dibantu oleh rekan-rekannya.
Dokter tersenyum pada Viara dan kembali menutup dinding kaca itu dengan kain. Viara mendudukkan dirinya di kursi didepan ruang IGD sambil tersenyum melihat wallpaper ponselnya
"Terimakasih untuk semuanya sayang. Terimakasih telah berjuang demi negara dan berjuang untuk kembali kedalam pelukanku. Cepat bangun yah, aku merindukanmu Lettu"
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya😉
Terimakasih Semua
__ADS_1
Love You All😘💞