Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 23. Cintanya Abang Pandu


__ADS_3

Tak terasa sudah 2 bulan Viara berada di daerah yang jauh dari keramaian kota, atau lebih tepatnya terletak di daerah pedalaman di perbatasan bagian timur Indonesia. Namun suasana hati dan hari Viara selalu ramai serta seru karena adanya teman-teman dan para penjaga keamanan negara itu. Candaan receh dari teman-temannya selalu membuat Viara tertawa dan bisa menjadi dirinya sendiri, sedangkan adanya Andra di sampingnya selalu membuat dada Viara berdebar dengan bibirnya yang terus menerbitkan senyum manisnya.


Sementara Pandu, entah apa yang terjadi pada lelaki itu. Dia selalu merasakan sesuatu yang tidak dimengertinya ketika melihat kedekatan Viara dan Andra. Hatinya selalu ingin dekat bersama Viara, tapi Pandu sadar dia hanya sebatas teman bagi Viara, bukan lebih. Terkadang Pandu selalu berusaha membuat Viara tersenyum dengan sifatnya yang perhatiannya yang kadang pas dan kadang berlebihan. Namun Viara selalu menghargai tindakan dan perhatian Pandu itu. Bagaimanapun Pandu adalah teman dekatnya yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.


Sementara Ila juga sedikit curiga dengan Pandu. Pertanyaan yang selalu muncul dibenakknya adalah apakah Pandu mencintai Viara? Dari sifat Pandu yang dilihat Ila, Pandu selalu berusaha untuk mendekati dan memberikan perhatian kepada Viara, apalagi mata Pandu yang sering mencuri pandang pada Viara saat mereka semua duduk dalam satu truk untuk membeli kebutuhan logistik di pasar kota. Pandu juga sering terlihat murung dan tersenyum getir saat melihat Viara yang begitu dekat dan akrab bersama Andra. Seperti saat ini, disaat para prajurit dan kelima guru tengah duduk sambil membakar jagung pemberian warga desa yang panen besar, justru Pandu tak menampakkan batang hidungnya disana.


"Teman-teman dan abang-abang semua, Apa kalian melihat bang Pandu?" Tanya Viara yang duduk di samping Andra


"Tidak Viara, sejak tadi kita disini, bahkan kita belum melihat bang pandu sejak tadi" jawab Devan


"Biar saya cari Pandu dulu yah" Ucap Bang Rama yang akan berdiri namun dicegah Viara


"Ehh nggak usah bang, abang duduk disni aja yah, lanjutkan bakar jagungnya, biar adek saja yang pergi mencari bang Pandu" Ucap Viara berdiri dari duduknya


"Aku ikut denganmu yah Viara" pinta Ila


"Nggak usah Ila, kasian Bang Rama kalau kamu tinggal tuh" goda Viara mendapatkan gelak tawa dari semua orang


"Hahaha, kajian lanjut saja yah, aku pergi cari bang Pandu dulu" ucap Viara tersenyum dan melangkahkan kakinya mencari Pandu.


Saat mencari di pos tentara, Viara tersenyum dari jauh ketika melihat Pandu yang tengah duduk sendirian di depan pos sambil memainkan gitarnya. Viara berjalan mendekati pos agar bisa mendengar suara Pandu yang tengah menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Inggris


I could say I never dare


(bisa dibilang aku selalu takut)


To think about you in that way


(Untuk punya perasaan terhadapmu)


But, I would be lying


(Tapi bisa saja aku berbohong)


And I pretend I'm happy for you


(Dan aku berpura-pura bahagia untukmu)


When you find some dude to take home


(Saat kau temukan seseorang yang baru)


But, I won't deny that


(Tapi aku takkan menyangkalnya)


In the midst of the crowds


(Di tengah-tengah keramaian)


In the shapes in the clouds


(Di antara barisan awan)


I don't see nobody but you


(Yang kulihat hanyalah dirimu)


In my rose-tinted dreams


(Dalam mimpi-mimpi indahku)


Wrinkled silk on my sheets


(Benang-benang kusut di sepreiku)


I don't see nobody but you


(Yang kulihat hanyalah dirimu)


Boy, you got me hooked on to something


(Sayang, kau memang membuatku terpikat)


Who could say that they saw us coming?


Tell me, do you feel the love?


(Beritahu aku, apakah kau rasakan cinta?)


Spend the summer of a lifetime with me


(Habiskanlah sisa umurmu bersamaku)


Let me take you to the place of your dreams


(Izinkanku membawamu ke tempat yang kau impikan)


Tell me, do you feel the love?


(Beritahu aku, apakah kau rasakan cinta?)

__ADS_1


And I could say I never answered


(Dan bisa dibilang aku tak menghiraukan)


Those believers inside my head


(Kepercayaan diri itu dalam benakku)


But that's far from the truth


(Tapi nyata tidak begitu)


Don't know what's come over me


(Entah apa yang terjadi denganku)


It seems like yesterday when I said


(Rasanya baru kemarin kusampaikan)


"We'll be friends forever"


(Kita akan berteman selamanya)


Constellations of stars


(Diantara gugusan bintang-bintang)


Murals on city walls


(Serta lukisan di tembok kota)


I don't see nobody but you


(Yang kulihat hanyalah dirimu)


You're my vice, you're my muse


(kaulah kelemahanku, kaulah inspirasiku)


You're a nineteenth floor view


(Kaulah sosok yang mengagumkan)


I don't see nobody but you


(Teringat selalu aku akan dirimu)


Boy, you got me hooked on to something


(Sayang, kau memang membuatku terpikat)


Who could say that they saw us coming?


Tell me, do you feel the love?


(Beritahu aku, apakah kau rasakan cinta?)


Spend the summer of a lifetime with me


(Habiskanlah sisa umurmu bersamaku)


Let me take you to the place of your dreams


(Izinkanku membawamu ke tempat yang kau impikan)


Tell me, do you feel the love?


(Beritahu aku, apakah kau rasakan cinta?)


Boy, you got me hooked on to something


(Sayang, kau memang membuatku terpikat)


Who could say that they saw us coming?


Tell me, do you feel the love?


(Beritahu aku, apakah kau rasakan cinta?)


Spend the summer of a lifetime with me


(Habiskanlah sisa umurmu bersamaku)


Let me take you to the place of your dreams


(Izinkanku membawamu ke tempat yang kau impikan)


Tell me, do you feel the love?


(Beritahu aku, apakah kau rasakan cinta?)

__ADS_1


"ini untukmu dek" gumam Pandu meletakkan gitarnya di samping kursinya. Setelah selesai bernyanyi, Pandu menyandarkan punggungnya di kursi dan menempelkan lengan bawahnya di atas wajahnya. Ketika membuka mata, Pandu menyunggingkan senyumannya melihat Viara yang berdiri tepat di depannya sambil tersenyum manis padanya


"Dek, apakah itu kamu? Atau hanya khayalanku saja. Aku selalu terbayang wajahmu dimana-mana dek" batin Pandu terus menatap gadis di depannya. Viara tersenyum manis pada Pandu dan beranjak duduk di sampingnya


"Abang kenapa nggak gabung sama teman-teman yang lain? Apa abang sakit?" Tanya Viara lembut dan refleks memegangi kening Pandu


"Astaghfirullah, keningnya panas sekali" batin Viara cemas


"Dek, apa itu kamu?" Tanya Pandu dengan tatapan sendu


"Iyah bang, ini adek. Apa abang sakit?" Tanya Viara lembut


"Iyah dek sakit" jawab Pandu


"Sakit melihatmu selalu bersama Andra" lanjutnya lagi dalam hati


"Yaudah abang istirahat yah, sini adek bantu" ucap Viara langsung memapah Pandu untuk beristirahat di kamarnya. Setelah Viara membantunya berbaring, Pandu menyunggingkan senyuman diwajah pucatnya melihat Viara yang tengah membuka sepatunya


"Adek pintar membuka sepatu seperti ini?" Tanya Pandu pelan


"Iyah bang adek pintar, karena dulu adek sering membuka sepatu ayah kalau ayah udah pulang kerja" jawab Viara lembut


"Ayah adek tentara juga yah?" pertanyaan Pandu membuat Viara terdiam ditempat


"Ehh bang, bentar yah adek ke belakang dulu" ucap Viara diangguki oleh Pandu. Sebelum Pandu bertanya hal yang lebih tentangnya, Viara segera ke dapur untuk menyiapkan bubur dan air dingin untuk mengompes kening Pandu


10 menit kemudian, Viara kembali ke kamar Pandu dengan nampan di tangannya


"Ayo bang, makan dulu" ucap Viara lembut


"Nggak berselera dek" kata Pandu pelan


"Kalau abang nggak makan, nanti abang tambah lemah. Adek bantu suapin yah, sedikit saja bang" ucap Viara lembut dan membantu Pandu bersandar di sandaran ranjang. Viara dengan telaten menyuapi Pandu dengan lembut sambil tersenyum manis padanya. Pandu merasa senang dalam hatinya melihat Viara mengelus sudut bibir dan dagunya yang terkena tumpahan makanan dari mulutnya. Setelah menyuapi Pandu, Viara memberikan obat untuk diminum Pandu dan mulai mengompres kening Pandu


"Terimakasih yah dek, andai kamu gadis remaja yang kutemui di desa itu, pasti aku sangatlah beruntung telah menemukanmu. Tapi tenang saja dek, jika Allah mengizinkanku untuk hidup bersamamu di masa depan nanti, maka aku berjanji akan menjaga dan mencintaimu dengan sepenuh hatiku" batin Pandu menatap wajah viara diatasnya. Viara mengusap puncak kepala Pandu dan meletakkan kepalanya diatas pangkuannya


"Abang pasti lelah, jadinya sakit begini" batin Viara memijat kepala Pandu dengan lembut.


"abang?" kata Viara sambil memijat kepala Pandu


"hmmm" jawab Pandu pelan


"Dari lagu abang tadi, abang menyanyikannya seperti mewakilkan perasaan abang. Maaf kalau adek lancang, Apa abang jatuh cinta sama seseorang tapi orang itu mencintai orang lain?" Tanya Viara yang paham arti lagu nyanyian Pandu tadi


"Iyah dek, abang jatuh cinta sama seseorang, namun hatinya bukan untuk abang" Jawab Pandu lemah


"kenapa bang, apa karena dia mencintai orang lain yang bukan abang? lalu abang berpura-pura bahagia saat melihat orang yang abang cintai bersama orang lain itu?" Tanya Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum.


"kasian sekali, pasti rasanya sakit sekali melihat orang yang kita cintai menaruh hatinya bukan pada kita" gumam Viara pelan yang masih bisa didengar Pandu


"Kamulah wanita itu dek, abang sayang sama kamu. Tapi hati kamu bukan untuk abang, tapi untuk orang lain" batin Pandu menatap wajah wanita yang masih setia menjaganya


"Tapi abang nggak akan pernah menyerah dek, semoga kamulah wanita terakhir yang abang cintai dan menjadi pendamping hidup abang selamanya" batin Pandu tersenyum merasakan perhatian Viara dan perlahan-lahan menutup matanya.


Setelah memijat kepala Pandu yang sudah terlelap, Viara membaringkan kepala Pandu di bantal dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya


"Cepat sembuh yah bang, biar bisa main sama masak bareng lagi" Ucap Viara masih mengompres kening Pandu. Karena lelah bekerja seharian, akhirnya Viara tertidur lelap dengan dada kiri Pandu sebagai bantalnya. Viara juga mengenggam erat tangan Pandu yang ada diatas perut Pandu


Ila dan bang Rama yang mengamati keduanya sejak tadi saling pandang dan membalas senyuman


"Dek, biarkan Viara tidur disini yah, abang janji Viara akan baik-baik saja" pinta bang Rama


"Iyah bang" Ucap Ila setuju dengan ucapan bang Rama.


bang Rama menyunggingkan senyumannya menatap wajah teduh dua orang didalam sana dan perlahan-lahan menutup pintu kamar mereka


"Semoga Viara adalah wanita yang ditakdirkan untukmu bang"


______


Pukul 2 malam, Pandu terbangun dari tidurnya dan menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang tidur di dada kirinya, hatinya merasa sangat tenang apalagi Viara yang mengenggam erat tangannya


"Terimakasih sudah menjaga abang yah dek" gumam Pandu mengusap punggung Viara dan mengecup puncak kepalanya


"Abang berjanji, di masa depan nanti abang akan selalu melindungi dan mencintaimu selalu, walau nyawa abang harus menjadi taruhannya" gumam Pandu mengecup puncak kepala Viara dan perlahan-lahan menutup matanya.


Pukul 4.30 dini hari, Viara terbangun dari tidurnya dan tersenyum manis melihat wajah Pandu yang tidak terlihat pucat lagi


"Alhamdulillah, panasnya sudah turun" gumam Viara senang sambil menyentuh kening Pandu


"mimpi yang indah yah bang. Adek pulang dulu, assalamu'alaikum bang Pandu" Ucap Viara tanpa sadar mengecup kening Pandu. Viara tersenyum manis dan berjalan meninggalkan kamar Pandu untuk pulang ke rumahnya.


"Mau pulang dek?" Tanya Bang Rama yang duduk sendirian di ruang tengah


"Iyah Bang" jawab Viara sambil tersenyum


"Terimakasih sudah jagain Bang Pandu semalam yah"


"Iyah Bang, sama-sama. kalau Bang Pandu masih sakit atau kenapa-napa segera beritahu adek yah Bang" pinta Viara


"Siap dek, ayo abang antar sampai depan" Ucap Bang Rama diangguki Viara sambil tersenyum. Bang Rama pun mengantar Viara pulang ke rumah dinasnya yang terletak di depan sana. setelah Viara masuk ke rumah dinasnya, bang Rama kembali lagi ke pos sambil tersenyum senang

__ADS_1


"Semoga cintamu terbalaskan bang"


Bersambung......


__ADS_2