
"Astagfirullah Viara, kamu nggak tidur semalam?" Tanya Ila cemas melihat wajah Viara yang sangat kacau, apalagi kantung matanya yang terlihat hitam dan sembab
"Aku nggak bisa tidur sejak pukul 12 tadi malam" ucap Viara pelan sambil menguap
"Apa yang kau pikirkan Viara? Kenapa kau seperti ini" Tanya Ila khawatir
"Aku baik-baik saja, mungkin dengan minum obat kesehatan ku akan membaik. Lebih baik kalian pergi lah ke sekolah, sudah mau jam 7 pagi tuh" Ucap Viara berusaha untuk bangun
"Tapi bagaimana denganmu Viara, aku tidak tega membiarkanmu sendirian di rumah" kata Ila membantu Viara duduk
"Tidak apa-apa Ila, aku bisa jaga diri" jawab Viara mencoba tersenyum dengan wajah pucatnya
"Yaudah, aku siapin obat disini yah, jangan lupa diminum" Ucap Ila dibalas anggukan kepala oleh Viara. Setelah Ila pergi, Viara sekuat tenaga berjalan ke dapur untuk menyiapkan susu hangat untuknya
"Apa aku salah mencintai dan menaruh harapan selama ini padanya, kenapa hatiku sesakit ini" gumam Viara memegangi dadanya dan kembali meneteskan air mata
________
Dalam perjalanan pulang, Pandu yang mengemudikan truk terus menancap gas menyusuri jalanan desa. Bahkan terjal dan berlubangnya jalan tak mampu mengalahkan keahlian berkendara Pandu yang terus melaju. Sesekali Pandu meremas dan memukul kemudi saat jalan yang akan dilewatinya terlihat sangat terjal. Bang Rama sampai geleng-geleng kepala melihat temannya ini, bahkan sudah beberapa kali kepala bang Rama terbentur karena Pandu yang menginjak lubang dan menurunkan laju kendaraan secara tiba-tiba
"Dek, tunggu abang pulang" batin Pandu mengingat wajah sedih Viara semalam.
Setelah menempuh perjalanan dari pukul 4 dini hari dengan waktu tempuh dua jam lebih awal, Pandu langsung memarkir truknya dan berlari masuk kedalam rumah dinas para guru
"Astaghfirullah adek!!!!" Teriak Pandu terkejut melihat Viara yang terbaring lemah di lantai. Tangan Viara bahkan terluka dan terus mengeluarkan darah segar karena terkena pecahan gelas minumannya yang ikut terjatuh bersamanya
"Adek, bangun dek, kenapa adek bisa seperti ini?" lirih Pandu menepuk pipi Viara yang sangat pucat
"Bang, bawa dulu ke kamarnya, setelah itu kita obatin lukanya" saran bang Rama. Pandu mengangkat tubuh Viara dan membaringkannya dengan hati-hati di ranjangnya. Hatinya ikut teriris melihat kondisi Viara yang begitu menyedihkan seperti ini, Viara seolah tak lagi memiliki semangat untuk hidup.
Pandu dengan telaten membersihkan darah di tangan Viara dan mengoleskan obat dengan pelan di lukanya
__ADS_1
"Astaghfirullah, keningnya panas sekali bang" ujar Pandu khawatir saat menyentuh kening Viara. Pandu langsung berlari mengambil air dan mulai mengompres kening Viara yang suhunya sangat tinggi. Bahkan lelahnya tubuh Pandu saat perjalanan jauh tadi tidak lagi dia perdulikan.
"Semangat bang" ucap bang Rama diangguki Pandu sambil tersenyum. Bang Rama segera keluar dari kamar Viara karena banyak yang harus diurus setelah kembali dari kota, sedangkan Pandu masih setia mengompres kening Viara yang enggan untuk membuka matanya
"Apa yang terjadi padamu semalam dek, kenapa kamu menangis?" Tanya Pandu sambil mengelus kening Viara
"Abang..... Bang.." kata Viara mengingau dalam tidurnya dengan raut wajahnya yang begitu ketakutan.
"Abang disini dek, tenanglah" Ujar Pandu mengenggam tangan Viara
"Abang jangan pergi.... Jangan bang" kata Viara meremas jari Pandu dengan matanya yang masih tertutup rapat
"ABANG....." Teriak Viara langsung terbangun dan refleks memeluk Pandu. Viara semakin menangis di dalam pelukan eratnya,bahkan suara tangisnya terdengar sangat pilu dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya
"Ada apa dek? Apa yang terjadi padamu?" Tanya Pandu lembut sambil mengusap punggung bergetar Viara
"Jangan tinggalin adek yah bang, adek sayang banget sama abang" ucap Viara menyalami tangan Pandu cukup lama dan mengira jika pria yang duduk di depannya adalah Andra. Pandu yang mengira ungkapan itu untuknya menyunggingkan senyumnya dan membawa Viara kedalam dekapan hangatnya
"Tunggu yah dek, abang ke dapur sebentar" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum. Viara menjatuhkan air matanya menatap punggung pria yang menjauhinya, Viara berpikir dia adalah Andra, namun dugaan Viara salah karena suhu tubuhnya yang sangat tinggi, ditambah adanya sedikit gangguan pada matanya membuatnya berhalusinasi jika Pandu adalah Andra. Viara kembali menutupi wajahnya dengan telapak tangannya dan kembali menangis sesenggukan
10 menit kemudian, Pandu telah kembali ke kekamar Viara sambil memegang nampan makanan ditangannya. Pandu tersenyum pada Viara dan membantu Viara untuk bersandar di kepala ranjang dan kembali duduk didepan Viara
"Ayo buburnya dimakan yah dek" kata Pandu lembut dengan sesendok bubur ditangannya
"Adek nggak nafsu Bang" Jawab pelan Viara
"Kalau adek nggak makan, nanti adek tambah lemas. Jika adek lemas, siapa yang akan nemenin abang pergi ke kota untuk berbelanja? siapa juga yang akan mengajar anak-anak tentang pelajaran matematika. Bukannya adek ingin agar semua murid adek pandai dan suka sama pelajaran matematika?" Tanya Pandu diangguki Viara dengan wajah pucatnya
"Dimakan yah dek, walaupun hanya sedikit. Buka mulutnya, abang akan bantu siapin kamu" Viara mengangguk pelan dan membuka mulutnya membiarkan Pandu menyuapinya. Viara terus meneteskan air mata menatap sendu pada pria yang ada di depannya. Pandu selalu menghapus air mata Viara dan terus menyuapi Viara dengan lembut.
"Ayo dek, tinggal 2 sendok lagi"
__ADS_1
"Udah kenyang Bang" jawab Viara pelan
"Tinggal 2 sendok lagi dek, dimakan yah" Ucap Pandu kembali memasukkan sisa bubur kedalam mulut Viara. Setelah buburnya habis tak bersisa, Pandu membantu Viara untuk minum dan meneguk obatnya
"Terimakasih yah Bang, udah nemanin adek dari dulu" Ucap Viara mencoba tersenyum pada Pandu
"Kenapa adek menangis semalam sampai demam seperti ini. Siapa yang menganggumu dek?" Tanya Pandu menghapus air mata di pipi Viara. Viara hanya terdiam sambil terus menatap wajah Pandu yang begitu mencemaskannya
"Abang nggak berubah yah, wajah abang masih sama seperti dulu" kata Viara tersenyum tipis
"Dari dulu? Maksudnya apa dek?" Tanya Pandu lembut
"Abang ingat nggak waktu 8 tahun yang lalu di desa N, saat itu abang bertugas di desa untuk latihan gabungan dan memberantas para perusuh di desa itu. Tentu abang ingat kan dengan Viara" tutur Viara menjelaskan
"Viara si gadis ber masker itu? Viara anaknya komandan Vian?" Tanya Pandu diangguki Viara sambil tersenyum. Pandu menganggukkan kepalanya dan mengelus puncak kepala Viara dengan penuh kasih sayang
"Kamu memang benar gadis remaja yang kucari selama ini. Sejak dulu aku hanya ingin bersamamu dek, andai impianku selama ini menjadi kenyataan" batin Pandu membantu Viara untuk berbaring
"Sekarang adek istirahat yah, biar cepat sembuh"
Tak berselang lama, Viara kembali tertidur pulas dengan tangannya yang mengenggam tangan Pandu erat. Pandu melepaskan genggaman tangan Viara dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya. Ila tersenyum dari depan pintu kamar dan berjalan menhampiri keduanya
"Sekarang abang juga istirahat yah, biar aku saja yang menjaganya. Abang pasti lelah bukan setelah perjalanan jauh kesini" kata Ila
"Iyah dek, kalau ada apa-apa bilang sama abang yah" Ujar Pandu
"Iyah siap Bang" setelah mengucapkan salam, Pandu tersenyum dan beranjak meninggalkan kamar Viara. Ila melangkahkan kakinya mendekati Viara dan duduk disamping ranjangnya
"Hei Cantik, cepat sembuh yah. Aku lebih setuju jika kamu bersama dengan Pandu. Tapi itu kan hatimu, jadi aku tidak bisa memaksamu untuk mencintainya. Tapi semoga kalian ditakdirkan untuk bersama yah"
Bersambung.......
__ADS_1