
Keesokan harinya, Ila yang baru saja memasuki kamar kembali tertegun melihat Viara yang sudah rapi dengan baju batiknya
"Viara, mau ke sekolah lagi yah" tanya Ila pada Viara yang tengah merapikan buku diatas mejanya
"Iyah Ila, aku masih harus mengantikan jadwal mengajar Pak Dino lagi" balas Viara tersenyum pada ila dan memakai tasnya
"Aku pergi dulu yah, assalamu'alaikum Ila" pamit Viara
"Walaikumsalam Viara, Hati-hati yah" Ucap Ila dibalas anggukan kepala oleh Viara. Viara tersenyum dan melanjutkan langkahnya keluar rumah diikuti Ila dibelakangnya
Saat Viara membuka pintu rumah dinasnya, seketika senyum bahagianya terlukis indah di wajahnya melihat motor Pandu yang terparkir di pinggir jalan depan rumah dinasnya
"Bang Pandu!!" SeruViara senang dan berlari mendekati motor pandu
"Iyah ini motornya abang....abang..Abang dimana!!!?" panggil Viara senang mencari-cari Pandu disekitarnya.
Sementara tentara yang menjaga Viara kemarin, terus mengamati Viara dari depan barak, tentara itu terus mendengar Viara yang memanggil-manggil nama Pandu, seolah seseorang yang bernama Pandu sangat berarti bagi hidupnya
"Abang dimana!!! Abang jangan sembunyi dari adek... Abang dimana?" Panggil Viara terus mengelilingi area sekitarnya dengan senyum cerah yang tak pudar dari wajahnya. Karena tak melihat Pandu di depannya, Viara membalikkan badannya dan berlari menghampiri bang Niko yang berdiri tak jauh dari motor Pandu
"Bang Niko, ini motor Pandu kan bang. Lalu bang Pandu nya dimana? Adek udah nyari-nyari tapi tetap nggak ketemu bang Pandu. Dia kemana bang?" Tanya Viara kebingungan namun bibirnya masih tetap tersenyum pada Bang Niko
Tentara yang berdiri di depan sana masih mengamati Viara dan bisa mendengarkan ucapan Viara pada Bang Niko.
Bang Niko menghela nafasnya kasar dan beralih menatap Viara
"Dek, adek sabar yah, bang Pandu tidak ada disini" seketika bulir bening lolos dari mata Viara mendengar ucapan bang Niko
"Tapi bang, ini jelas-jelas motornya Bang Pandu, bang Pandu pasti ada disini kan bang. Jawab bang!!" Tegas Viara mengoyangkan tangan bang Niko yang hanya bisa terdiam di tempat
"Abang, abang dimana, abang pasti ada disini kan!!!" Teriak Viara masih terus memanggil-manggil Pandu namun orang yang di carinya tak kunjung dilihatnya
"Katakan dimana Pandu bang hiks.. Abang jangan bohong, bang Pandu pasti ada disini. Katakanlah bang dimana Bang Pandu!!!" Pinta Viara penuh harap menatap nanar pada bang Niko
"Tenanglah dek, bang Pandu tidak ada disini. Yang sabar yah dek" Ucap Bang Niko berlalu meninggalkan Viara. Viara mendudukkan kepalanya dan meneteskan air mata menerima kenyataan yang kembali menampar hatinya
"Abang..." lirih Viara melangkah pelan mendekati motor Pandu
"Abang kenapa tega ninggalin adek sendiri disini hiks.." lirih Viara mengusap tempat yang sering Pandu duduki diatas motornya.
Viara memegang kedua stir motor Pandu dan kembali menjatuhkan air matanya
"Abang dimana? Adek rindu" Ucap Viara terus terisak dengan tangannya yang masih memegang stir motor Pandu.
"Abang Dimana!!!!!!!" Teriak Viara histeris hingga Ila dan beberapa prajurit khawatir padanya
"Abang Dimana!!!!! Jangan sembunyi abang hiks.. Dengarkan adek dulu bang. Adek nggak salah!!!!!" Teriak Viara menangis histeris terus mencari keberadaan Pandu disekitarnya
"Viara!" panggil Ila pelan ikut meneteskan air mata melihat kondisi kacau Viara.
Viara berbalik badan menatap Ila dan berlari memeluknya
"Bang Pandu Ila hiks....." lirih Viara bergetar hebat dipelukan Ila
"Iyah Viara, aku tahu. Tapi Pandu tidak ada disini Viara" Ucap Ila mengusap lembut punggung bergetar Viara yang terisak di bahunya sambil berderai air mata
Karena tak kuat lagi menahan segalanya, Viara berlari menuju ke sekolah tempatnya mengajar sambil terus menangis
"Viara!!!" Teriak Ila yang tidak dihiraukan Viara.
Viara terus berlari menjauh, bahkan Viara tak lagi memperdulikan beberapa warga yang menyapanya
"Begitu berartinya nama itu di hatimu, sampai kamu menderita seperti ini dek" gumam Tentara itu terus mengamati punggung Viara yang terus berlari menjauh
"Bang Praditya, kenapa bengong disini?" Tentara itu refleks berbalik dan menatap temannya yang berdiri di sampingnya
"Aku hanya melihat sekitar bang, ayo kita langsung ke lokasi" jawab Tentara yang didadanya tertera nama Praditya dan langsung menaiki truk bersama rekan-rekannya menuju ke lokasi mereka akan latihan selama 7 hari kedepan.
Setelah menaiki truk, tentara itu berbalik kebelakang dan menatap motor yang sering dinaikinya dulu yang berada 2 meter dibelakang truknya. Bahkan diatas jok motor itu, dua tetes air mata Viara masih menggenang disana
"Maafkan aku, aku tidak bisa kembali lagi padamu. Aku sangat terluka dengan perlakuanmu 2 bulan yang lalu dan rasa sakit itu selalu menyiksaku setiap saat. Sejak saat itu, aku membencimu Viara"
__________
"Kamu begitu marah padaku, hingga sekali saja kamu tidak mau berbalik menatapku. Katakan apa salahku hingga kamu menghukumku sekejam ini. Kau tahu, ini rasanya sangatlah sakit hiks.....aku sudah tidak sanggup lagi bertahan. Menjalani hari-hari yang semakin lama semakin menyiksa pikiran dan batinku. Kumohon dengarkanlah aku sekali saja" lirih Viara terus tertunduk di sepanjang jalan.
Matanya yang sembab tak henti-hentinya meneteskan air mata kehancuran hatinya di sepanjang langkah kakinya
Viara terus tertunduk di sepanjang jalannya hingga dia tidak menyadari, dari arah berlawanan terdapat mobil truk pengangkut pasir yang siap menabraknya
PIIIIIIIIIIIIPPP
"NONA AWAS!!!!!!!" Teriak supir truk tersebut
"Maafkan aku" gumam Viara menutup matanya disaat jarak truk itu 5 meter di depannya
"Araaaaa!!!!!!!" Teriak Bang Zardan mendorong tubuh Viara
Bruk
Bang Zardan memeluk Viara dan melindunginya agar tidak terluka saat berguling dijalanan
"Kau kenapa Ara!!!!!" Tegas Bang Zardan marah, tak habis pikir dengan Viara yang hampir saja membunuh dirinya sendiri
"Kenapa kakak mendorongku!!!!!" Teriak Viara melepaskan Bang Zardan yang memeluknya
"Apa kakak suka melihatku menderita setiap hari hiks.... Kenapa Ara masih dikasih nafas kalau setiap nafas Ara hanya ada derita saja hiks... ini menyakitiku kakak!!!" Teriak Viara menangis deras didepan Bang Zardan
Bang Zardan menangkup kedua pipi Viara dan mengusapnya lembut
"Istighfar Ara, istighfar" pinta Bang Zardan mengusap air mata di pipi Viara.
Viara kembali meneteskan air mata dan berhambur memeluk Bang Zardan
"Ya Allah hiks.... Maafkan Ara kak, maafkan Ara!!" Isak Viara menangis deras di dada Bang Zardan
"Maafkan Ara kakak hiks... Ara salah kakak" lirih Viara semakin terisak hingga suaranya terdengar pilu bagi siapapun yang mendengarnya.
Bang Zardan mengusap lembut punggung bergetar hebat Viara yang menangis ketakutan sambil memeluknya
"Kenapa Ara, kenapa Ara membahayakan diri Ara sendiri tadi. Apa Ara udah nggak mau hidup lagi?" Tanya Bang Zardan lembut berusaha berbicara pada Viara
"Nggak kak hiks.. Ara masih pengen bahagiakan keluarga Ara sebelum Ara pergi hiks.. Tapi Ara nggak sanggup bertahan lagi kak hiks.. Luka ini selalu saja menyiksaku disetiap detiknya. Katakan kakak, Apa Ara salah karena mencintainya dengan tulus? Apa Ara memang tidak pantas dicintai kak?" lirih Viara berlinang air mata menatap Bang Zardan
Bang Zardan tersenyum dan mengusap lembut air mata dipipi Viara
"Siapa bilang Ara nggak pantas dicintai? Justru lelaki yang berhasil mendapatkan Ara adalah lelaki yang paling beruntung di dunia ini. Ara wanita yang baik dan juga tulus, sangat sulit mendapatkan wanita sepertimu dek" Ucap Bang Zardan lembut mengusap air mata di pipi Viara
"Tapi Ara wanita yang......" Ucap Viara terputus karena Bang Zardan menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Viara
"Ara bukan wanita murahan, tapi Ara adalah wanita yang hebat dan akan sangat beruntung jika berhasil memiliki Ara. Ara sudah tulus mencintai selama ini, hanya dia saja yang tidak memahaminya" Ucap Bang Zardan lembut
"Tapi kak hiks.. Ara terlalu cinta sama dia hingga luka yang ditinggalkan dari cinta itu sangatlah sakit kak hiks.. Ara nggak sanggup menahan semua ini kak hiks.. Ara nggak kuat kakak!!!" Lirih Viara kembali terisak
"Menangislah dek, berteriaklah dan keluarkan semua beban yang ada di hatimu. Jangan kamu pendam sendirian dek, itu akan semakin melukai batinmu" Ucap Bang Zardan mengusap lembut punggung bergetar Viara
"Belajarlah untuk mengikhlaskan perasaan itu dek, agar hatimu menjadi tenang. Ikhlaskan dan lupakan apa yang menyakitimu perlahan-lahan, jangan selalu menerima rasa sakit itu. Hati kita juga perlu istirahat dari banyaknya beban dek, jadi belajarlah iklas dan lupakan rasa sakit itu perlahan-lahan yah. Memang awalnya sangatlah sakit, sulit dan menguras air mata dek, tapi seiring berjalannya waktu, Ara akan terbiasa dan perlahan-lahan berhasil melupakan luka yang masih menganga sekarang. Ara pasti bahagia kok meski bukan dari orang yang Ara cintai" Ucap Bang Zardan lembut dibalas anggukan kepala oleh Viara yang masih memeluknya
__ADS_1
"Sudah yaa Ara, percayalah seiring berjalannya waktu, semuanya akan baik-baik saja" Ucap Bang Zardan dibalas anggukan kepala oleh Viara yang sudah merasa tenang dan berhenti menangis.
Viara melepaskan pelukannya dari Bang Zardan dan tersenyum manis pada kakaknya itu
"Iyah kak, Ara akan berlajar mengikhlaskannya perlahan-lahan. Terimakasih selalu ada untuk Ara yah kak" seru Viara tersenyum
"Sama-sama Ara, sudah yah jangan menangis lagi. Ara jauh lebih cantik kalau sedang tersenyum loh. Kalau Ibumu tahu jika kamu menangis saat Ara sama kakak, bagaimana nasib kakak nanti" seru Bang Zardan membuat tawa Viara kembali terlukis diwajahnya
"Ayo dek, kita jalan-jalan ke kota yuk" Ajak Bang Zardan membantu Viara berdiri
"Baiklah kak, mungkin dengan jalan-jalan bisa membuat hati Ara sedikit merasa tenang" Ucap Viara
"Iyah Ara, ayo kakak bantu" Ucap Bang Zardan diangguki Viara sambil tersenyum. Dengan bantuan Bang Zardan, Viara kini telah duduk nyaman di samping kursi kemudi. Setelah Viara naik, Bang Zardan berlari memutari truk dan duduk di kursi kemudi. Bang Zardan tersenyum pada Viara yang juga tengah tersenyum padanya dan menjalankan truknya ke jalanan menuju ke kota
"Teruslah kuat dan bertahan dek, Kakak yakin tidak lama lagi, semuanya akan baik-baik saja"
__________
Setelah kembali dari kota dan shalat berjamaah di mushala, Viara dan Bang Zardan kini telah sampai di pos pukul 19.30 malam
"Ara ayo turun" Ucap Bang Zardan lembut dan mengulurkan tangannya pada Viara. Viara mengangukkan kepalanya dan mulai menerima uluran tangan itu yang membantunya untuk turun
"Kalian, tolong turunkan kebutuhan logistik yang kubeli dipasar kota tadi" Perintah Bang Zardan pada personilnya
"Siap Laksanakan" Ucap 4 orang prajurit dan mulai menurunkan barang-barang dari truk
"Terimakasih yah kakak" Ucap Viara menujukkan senyum tulusnya
"Sama-sama dek" jawab Bang Zardan membantunya senyuman Viara
"Kena!!!! giliran Bang Niko yang nyanyi!!!!" Seru Ila dibarengi tawa para prajurit
Bang Zardan dan Viara menoleh ke sumber suara dan melihat keseruan para prajurit yang tengah duduk melingkar dan bermain putar botol didepan mereka
"Ayo Ara, kita ikutan main yuk" Ajak bang Zardan
"Kakak aja yang main yah, adek nggak bisa" tolak Viara sopan
Mendengar penolakan Viara, Bang Zardan meghela nafasnya. Bang Zardan sangat tahu, semenjak dua bulan belakang ini, Viara selalu menjauhi keramaian. Sudah dua bulan Viara tak pernah lagi bergabung bersama keseruan yang ada disekitarnya, Viara justru lebih memilih sendirian karena disaat dia sendirian, dia bisa menumpahkan air matanya dan menangis sejadi-jadinya tanpa diketahui orang lain
"Ayolah Ara, sudah dua bulan Ara tidak pernah bergabung dengan teman-teman Ara di pos tentara. Kita main bareng mereka yuk, setidaknya dengan candaan receh dan tawa mereka bisa membuat hatimu tenang dan melupakan semua rasa sakit itu" Ajak Bang Zardan lembut
"Ucapan kakak ada benarnya juga. Biarlah kuikuti ini agar hatiku perlahan-lahan bisa melupakan sesuatu yang membuatku tertekan. Mungkin dengan tertawa dan bermain bersama teman-teman membuatku bahagia" kata Viara dalam hati.
Viara menoleh pada Bang Zardan di sampingnya dan mengangukkan kepalanya sambil tersenyum
"Ayo Ara" seru Bang Zardan senang dan mulai melangkah bergabung dengan keseruan para prajurit dihalaman depann pos tentara sambil mengenggam tangan Viara
"Danru, dek Viara mari gabung" seru Bang Niko diangguki rekan-rekannya. Mereka sedikit mundur kebelakang agar memberi ruang untuk dua orang yang baru saja bergabung
"Ayo Ara, duduk disamping kakak" Ajak Bang Zardan lembut. Viara mengangukkan kepalanya dan mulai mendudukkan dirinya disamping Bang Zardan dan Ila yang ada di samping kirinya
"Kalian sedang memainkan permainan apa?" Tanya Bang Zardan
"Ini bang, kita sedang memainkan permainan putar botol. Ketika botol itu diputar dan berhenti berputar, ujung botol ini akan terarah menunjuk seseorang. Siapapun yang ditunjuk, harus siap bernyanyi meski nggak tahu nyanyi sekalipun" Viara dan bang Zardan menganguk paham mendengar penjelasan bang Rama
"Baiklah kalau semuanya sudah mengerti, ayo kita lanjutkan permainannya" Kata bang Niko diserukan oleh rekan-rekannya. Bang Niko mulai maju ke tengah dan memutar botol tersebut.
Permainan pun berlanjut seru dimana para prajurit yang ditunjuk botol maju ketengah dan mulai bernyanyi diiringi gitar. Keseruan dan tawa terjadi ketika para prajurit yang lupa lirik lagu yang akan mereka nyanyikan dan memilih menggantinya dengn Candaan.
Namun bagi Viara, keseruan di depannya tidak berhasil membuat bibirnya menampakkan senyuman aslinya. Viara terus berpura-pura tersenyum dan selalu terdiam sejak tadi
"Viara, kamu tidak apa-apa?" Tanya Ila khawatir yang melihat Viara tidak menikmati keseruan di depannya
"Aku tidak apa-apa Ila" Jawab Viara tersenyum tipis pada Ila
"Diskusi akan kita lanjutkan besok. Sekarang kita lihat dulu keseruan didepan sana" seru salah satu tentara yang memberikan arahan latihan pada prajurit juniornya dengan 2 orang letiingnya
"Siap" jawab prajurit serentak dan mulai mengamati keseruan didepan sana
"Bang Praditya, kenapa nggak ikutan gabung saja?" Tanya Bang Rafael
"Nggak Bang, saya agak malas untuk bernyanyi sekarang. Lebih baik kita nonton saja" Jawab bang Praditya
"Baiklah bang" jawab Bang Rafael dan mulai mengamati keseruan didepan sana
"Viara!!!!!" lamunan Viara seketika buyar mendengar Ila dan para prajurit menyerukan namanya
"Saya?" Tanya Viara terkejut
"Iyah dek, lihat ujung botolnya berhenti tepat menujuk adek" seru Bang Niko. Viara beralih melihat botol itu dan terkejut menyadari jika ujung botol terarah padanya
"Tapi...."
"Ayo dek, nyanyi!!" seru para prajurit serentak. Viara tersenyum getir dan kembali menundukkan kepalanya tanda jika dia tidaklah siap untuk bernyanyi
"Viara, kamu tidak apa-apa?" Tanya Ila lembut
"Aku tidak apa-apa Ila, aku hanya tidak siap untuk bernyanyi" jawab Viara melirik sekilas pada Ila
"Adek tenang aja, ada abang kok yang akan membantumu. adek tinggal nyanyi saja biar abang yang memainkan gitarnya" Ucap Bang Dani lembut. Bang Dani sejak tadi terus mengamati Viara yang berbeda dengan rekan-rekannya yang lain. Disaat semua orang bernyanyi dan tertawa bersama, justru hanya Viara saja yang terus tertunduk sejak tadi
"Ayo dek. Kalau adek mau kita bisa duet bareng kok" Jawab Bang Dani lembut dan mengambil gitar yang ada ditangan Bang Niko
Viara mengangukkan kepalanya pada Bang Dani namun pandangannya masih tetap tertuju kebawah
"Ayo, beri semangat untuk dek Viara!!!" seru Bang Niko
Ila dan para prajurit yang duduk melingkar itu tersenyum pada Viara dan memberikan dukungan semangat untuknya
"Ayo dek Viara, semangat!!!" seru para prajurit serentak.
Bang Zardan memajukan wajahnya di telinga Viara sambil tersenyum dan berbisik
"Ayo Ara, semangatlah. Tunjukkan siapa Viara yang sebenarnya" bisik Bang Zardan lembut di telinga Viara yang dibalas anggukan kepala oleh Viara
"Mau nyanyi lagu apa dek?" Tanya Bang Dani lembut
"Terserah abang aja tapi biarkan adek yang nyanyi sendirian aja, cukup abang mainkan gitarnya aja" pinta Viara tersenyum pada Bang Dani
"Baiklah dek" Ucap Bang Dani tersenyum dan mulai memainkan gitarnya
🎶🎶🎶🎶🎶
Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah
Anug'rah cinta yang pernah kupunya
Kau buatku percaya ketulusan cinta
Seakan kisah sempurna 'kan tiba
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan
__ADS_1
Tak tersisa lagi waktu bersama
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
(Viara kembali tertunduk dan menahan air matanya agar tidak tumpah, namun usahanya nihil karena matanya tak bisa diajak bekerja sama hingga bulir bening kembali mengalir deras di pipinya. Ila mengusap lembut punggung Viara yang tertunduk mencoba untuk menenangkannya, sementara para prajurit yang melihat itu ikut bernyanyi bersama-sama mengikuti Viara)
Masih jelas teringat (jelas teringat) pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang (menghilang)
Kini hanya kenangan yang t'lah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama (waktu bersama)
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja? (Begitu saja)
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Oh, masih tersimpan
Setiap kеnangan, ho-wo-wo-oh
Semua cinta yang kau beri
Kau takkan terganti
Mеngapa masih ada (masih ada)
Sisa rasa di dada (rasa di dada)
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
(Tanpa hadirmu, sayang?)
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Sampaikan rinduku untuknya
Prok.... Prok.... Prok.... (Riuh tepuk tangan para prajurit)
"Bagus banget suaranya, benarkan Bang!!" seru Bang Rafael
Karena tak kunjung menjawab, Bang Rafael menoleh pada bang Praditya yang terdiam menatap sendu gadis yang menangis didepan sana
"Adek....."
Bang Zardan mengusap lembut air mata di pipi Viara dan membawanya kedalam pelukannya
"Sudah dek, Ara tenang yah. semuanya akan baik-baik saja" Ucap bang Zardan lembut
"Tapi Ara salah kak hiks.... Ara salah kakak!!!" lirih Viara terisak di bahu Bang Zardan
"Tidak Ara, Ara nggak salah kok" Ucap Bang Zardan mengusap punggung bergetar Viara
"Tapi kalau Ara nggak salah, kenapa dia pergi dan tidak mau berbalik menatap Ara lagi hiks.. Ara salah kakak!!" Tegas Viara berdiri dari duduknya dan berlari masuk kedalam rumah dinasnya
"Ara!!!!!!!!" Panggil Bang Zardan yang tak dihiraukan oleh Viara
Bang Praditya berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Viara, namun dia menghentikan langkah kakinya dan hanya tetap berdiri diteras pos tentara
"Kenapa bang?" Tanya Bang Rafael bingung
"Nggak ada apa-apa" Jawab bang Praditya datar
"Kenapa dek Viara bisa seperti itu? Aku mengamatinya sejak tadi dia terus saja tertunduk dan tidak ikut tertawa bersama kita. Dia ada disini, tapi pikirannya seolah ada di tempat lain. Apakah dia mengalami masalah sebelumnya?" Tanya Bang Dani bingung
"Panjang ceritanya Bang. Tapi semenjak masalah itu menimpanya, Viara yang ceria dan selalu tersenyum setiap saat sudah hilang dan pergi entah kemana" jawab bang Zardan
Setelah itu tidak ada lagi keseruan yang terdengar di halaman pos tentara itu, semuanya beranjak pamit dan bubar melaksanakan aktivitas normal masing-masing
"Dek, begitu rapuhnya Viara sekarang" Ucap Bang Rama menatap Viara yang duduk sendirian di depan rumah dinasnya dengan matanya yang menatap lurus kedepan
"Iyah benar Bang. Semenjak bang Pandu pergi, Viara bagaikan tubuh tak bernyawa. jika dia tidak menangis, maka dia akan bernyanyi untuk menghibur hatinya selama ini. Dia memang selalu tersenyum dan tegar di hadapan dunia, namun ketika melihatnya lebih dekat, maka akan terlihat jelas jika dia sangatlah rapuh dan begitu hancur . Setiap hari dia berdoa agar bisa bertemu dan menjelaskan semuanya yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya, namun kekasihnya itu tak kunjung datang untuk menemuinya, walaupun hanya sedetik saja." Jawab Ila yang duduk bersama Bang Rama di depan pos tentara. Mereka tidak menyadari jika di depan barak yang bersampingan dengan pos tentara, ada sepasang mata yang sejak tadi mendengar obrolan keduanya.
"Adek..." gumam pelan tentara itu
Viara menghapus air matanya dan mengambil gitar milik Pandu yang ada di sampingnya. Viara membawa gitar itu kedalam pelukannya dan menatap indahnya bintang-bintang yang bersinar cerah diatas sana
"Sebelum aku menjadi bintang seperti diatas sana, aku hanya ingin bertemu kembali denganmu bang. Adek sayang abang" lirih Viara terus menatap keatas dengan air mata yang kembali meluncur di pipi
Uhuk... Uhuk..
Viara refleks menutup mulutnya sambil terus terbatuk-batuk. Saat batuknya telah berhenti, Viara menatap telapak tangannya yang penuh darah dengan senyuman getirnya
"Sebentar yah bang, adek ke Viara dulu" pamit Ila pada bang Rama dan langsung berlari mendekati Viara.
Viara yang melihat Ila berlari mendekatinya refleks membersihkan darah di tangannya hingga tak bersisa
"Viara, kamu sakit lagi yah?" Tanya Ila khawatir melihat wajah Viara yang seolah tak diairi darah
"Tidak Ila, aku belum minum obat, jadinya tubhhku lemah lagi" sangkal Viara mencoba tersenyum untuk menyakinkan Ila
"Yaudah aku ambilkan obatnya yah"
"Nggak usah Ila, aku tidak apa-apa kok. Aku hanya butuh istirahat saja" Cegah Viara karena sebelumnya dia sudah meminum obatnya
"Yaudah aku bantu masuk kedalam yah" kata Ila memapah Viara masuk kedalam kamarnya.
Setelah Viara berbaring di ranjangnya, Viara yang sudah tak bertenaga lagi perlahan-lahan menutup matanya dan tak sadarkan diri diatas ranjangnya
"Selamat malam Viara, tidur yang nyenyak yah" Ucap Ila memakaikan selimut di tubuh Viara.
Ila juga merebahkan dirinya di ranjangnya dan perlahan-lahan menutup mata mengikuti kedua temannya yang sudah terlelap sangat pulas
"Aku merindukanmu" Ucap Viara mengigau dalam tidur lelapnya
Bersambung..
__ADS_1