
"Nek, ini obat nenek" Seru Viara menyodorkan beberapa kotak obat ditangan neneknya
"Alhamdulillah, terimakasih banyak yang sayang. Sekarang kamu minum dulu yah, pasti cucu nenek ini lelah" Kata Nenek lula senang dan menuangkan segelas air untuk cucunya
"Iyah nek" jawab Viara langsung meneguk habis segelas air yang disodorkan neneknya. Viara meletakkan gelas air minum itu diatas meja dan berlutut didepan neneknya yang duduk di kursi sofa
"Nek, Viara mau tanya sesuatu sama nenek" Kata Viara
"Iyah sayang, apa yang mau kamu tanyakan hmm?" Tanya nenek Lula lembut
"Nenek, apa nenek punya sebuah impian atau keinginan untuk Viara?" Tanya Viara
"Tentu saja nak, nenek punya banyak keinginan darimu. Nenek ingin melihat cucu nenek ini bahagia sepanjang hidupnya. Nenek juga ingin supaya bisa melihat cucu nenek menikah dan punya anak sebelum nenek tutup usia" Kata nenek Lula sambil mengusap lembut puncak kepala cucunya
"Nek, kalau misalnya Viara nggak bisa penuhin keinginan nenek bagaimana? Kalau misalnya Tuhan lebih dulu memanggil Viara sebelum nenek, lalu bagaimana dengan keinginan nenek untuk melihat Viara menikah?" Tanya Viara mencoba tetap tegar dihadapan neneknya
"Nenek tidak bisa melawan takdir nak, jika tuhan lebih dulu memanggil cucu nenek, nenek tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikhlaskanmu pergi nak. Tapi hanya satu keinginan nenek, semoga cucu nenek yang baik ini diberi umur panjang dan kesehatan hingga dia bisa merasakan semua kebahagiaan yang ada di dunia ini" mendengar penuturan neneknya, Viara mencoba tersenyum dan menghambur memeluk nenek lula
"Jika memang takdir menginginkan Viara pergi lebih dulu sebelum nenek, maafkan Viara yah nek yang tidak bisa memenuhi keinginan nenek. Maafkan Viara yang sudah merepotkan nenek sejak Viara kecil sampai sekarang" lirih Viara menangis di bahu neneknya
"Kamu ngomong apa sih Viara, kayak orang mau meninggal aja" Ucap Mbak Lena sambil memperhatikan sinetron yang di nontonnya
"Kamu nggak pernah repotin nenek sayang, bahkan nenek selalu ingin kamu bersama nenek. Nenek masih ingin bercanda dan tertawa bersamamu. Waktu berjalan sangat cepat saat nenek bersamamu, bahkan tak terasa kamu sudah dewasa sekarang. Yang dulunya menangis karena nggak mau makan, sekarang sudah bersemangat meraih masa depan yang lebih cerah" Ucap Nenek Lula membalas pelukan cucu kesayangannya
"Sekarang kamu istirahat yah sayang, pasti kamu lelah setelah perjalanan jauh dari kota" Ujar nenek Lula lembut sambil menghapus air mata Viara
"Iyah nek, selamat malam nenekku sayang" Ucap Viara mengecup kedua pipi neneknya
"Selamat malam juga sayang, mimpi yang indah yah" balas nenek Lula. Viara tersenyum pada neneknya dan kembali melangkahkan kakinya pergi ke kamarnya.
Setelah mandi dan rapi dengan pakaian tidurnya, Viara membaringkan tubuh lelahnya diatas ranjangnya sambil menatap langit-langit kamar, Tak sengaja air mata kembali lolos dimatanya mengingat pertemuan di rumah sakit tadi dan pertunangan kekasihnya kemarin
"Semoga kamu bahagia di sepanjang hidupmu yah sayang, aku akan berusaha untuk mengikhlaskanmu bersanding dengannya. Semoga kamu bisa mencintai wanita itu lebih dari kamu mencintai dan mengharapkanku dulu. Aku akan selalu mencintaimu dari jauh sayang, aku juga akan selalu merindukanmu setiap saat di sepanjang hidupku. Jangan cemaskan aku yah, selalu buat orang-orang yang kamu sayangi tersenyum dan tertawa karena ulahmu. Jika kamu bahagia, aku juga ikut senang dan bahagia, namun jika kamu sedih, maka hatiku juga ikut terluka. Semoga bahagia yah sayang, aku akan selalu mencintaimu meski roh ku telah dicabut dari tubuhku" lirih Viara memeluk foto Pandu dan menciumnya dengan linangan air mata
"Sampai jumpa sayangku, semoga kita bisa bertemu lagi. Adek sayang abang" gumam Viara meletakkan foto Pandu di saku bajunya dan perlahan-lahan menutup mata
Sementara di apartemen Tara
"Sayang, kamu kenapa, sakit yah. Kok dari tadi aku ajak ngomong nggak di denger-denger" Kata tara menatap Pandu yang bersandar di sofa dengan lengan bawahnya yang menutupi wajahnya
"Nggak kenapa-napa, cuman lelah aja jadi malas berbicara" jawab Pandu datar masih menutup wajahnya
Tara menghela nafasnya kasar dan melangkahkan kakinya mendekati Pandu dan duduk di sampingnya
"Apa kamu masih memikirkan Viara?" Tanya Tara pelan
"Apa yang kamu katakan Tara? Apa pertanyaan itu berhak kamu ajukan pada calon suamimu? Apa aku berhak memikirkan wanita lain sementara 2 hari lagi kita akan menikah. Dimana pikiranmu Tara" Tegas Pandu sedikit kesal.
Mendengar ucapan Pandu, Tara menyunggingkan senyumnya dan memeluk Pandu yang duduk di sampingnya
"Maafkan aku yang bertanya seperti itu padamu yah. Aku janji tak akan pernah mengucapkan nama Viara lagi didepanmu" Ucap Tara semakin memeluk Pandu erat, sementara Pandu hanya terdiam dan tak membalas pelukan Tara padanya.
Setelah 2 menit memeluk Pandu, Tara melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Pandu yang terus diam sambil menatap kedepan. Tara memajukan tangannya dan meraba-raba bagian bawah perut Pandu dengan lembut sambil tersenyum. Sebelum Tara menyentuh sesuatu yang bisa menegang kapan saja, Pandu refleks menahan tangan Tara dan meletakkannya ke pangkuan Tara
"Maafkan aku, aku belum siap" jawab Pandu bangkit dari duduknya dan berlalu keluar apartemen meninggalkan Tara yang mematung di tempat sendirian
___________
Keesokan paginya di rumah nenek lula
"Assalamu'alaikum ibu" Sapa ayah Vian menyalami tangan ibunya
"Walaikumsalam nak, kamu kok ada disini? Dimana istrimu?" Tanya Nenek Lula menarik tangan anaknya untuk masuk ke dalam rumah
"Hana di Batalyon bu, ibu tahu sendiri kan kalau semenjak anak ibu ini jadi Danyon, tugas Vian juga semakin bertambah. Tapi Hana bilang setelah tugasnya selesai 7 hari lagi, maka dia akan datang menemui ibu disini" Ucap ayah Vian menjelaskan
"Iyah nak, ibu mengerti kok. Yang penting anak-anak ibu sehat, meski tak selalu ada di samping ibu" Ucap nenek Lula sambil tersenyum
"Iyah bu. Viara bilang jika dia menginap di rumah ibu setelah kembali dari tugasnya. Apa dia ada di rumah bu?" Tanya ayah Vian yang sejak tadi tak melihat keberadaan putrinya
"Dia ada dikamarnya nak, Lena tolong panggilkan Viara kesini, beritahu jika ayahnya telah datang untuk bertemu dengannya" titah nenek Lula
"Baiklah nek" Jawab mbak Lena berlalu ke kamar Viara
Selang beberapa menit
"Nek, Viara masih tidur, padahal ini sudah jam 9 pagi" Lapor mbak Lena setelah dari kamar Viara
"Tak seperti biasanya anak itu tidur sampai jam begini. Sebentar yah nak, ibu panggilkan Viara dulu" Ucap Bu Lula dibalas anggukan kepala oleh ayah Vian.
Nenek lula tersenyum dan segera berlalu ke kamar Viara. Saat membuka pintu kamar Viara, nenek Lula menyunggingkan senyumnya dan berjalan mendekati cucunya yang masih tertidur pulas
"Viara sayang, ayo bangun. Ayahmu ada di depan loh" Ucap nenek Lula mengusap puncak kepala Viara
"Viara sayang, ayo bangun" Kata nenek lula menepuk-nepuk pipi Viara namun Viara tak kunjung membuka matanya
"Astaghfirullah Viara, bangun nak, bangun..." Kata nenek Lula cemas sambil terus menggoyangkan tubuh Viara, namun cucunya itu tetap setia menutup matanya seolah tak mau melihat dunia lagi.
Saat nenek Lula menyentuh pergelangan tangan Viara, nenek lula mulai ketakutan karena merasakan denyut nadi Viara yang semakin lama semakin melemah
"Astaghfirullah, Vian!!!!" Teriak nenek lula semakin khawatir dengan kondisi cucunya.
Mendengar teriakan ibunya, ayah Vian meletakkan cangkir minumannya dan langsung berlari ke kamar Viara menyusul ibunya
"Ada apa bu?" Tanya Ayah Vian sambil berjalan mendekati nenek Lula
"Vian, lihatlah putrimu hiks..Sejak tadi dia terus terlelap dan tidak mau membuka matanya hiks.. hiks.. Ibu takut terjadi sesuatu padanya" lirih nenek Lula terus menepuk-nepuk pipi cucunya yang sangat pucat
__ADS_1
"Sayang, bangun nak. Katanya mau ketemu ayah. Sekarang ayah sudah ada disini, ayo buka matamu nak" Ucap ayah Vian lembut dan menepuk-nepuk pipi putrinya.
Karena tak kunjung ada reaksi dari Viara, ayah Vian langsung mengedong putrinya dan berlari secepat mungkin masuk kedalam mobilnya.
Setelah membaringkan putrinya di kursi tengah, ayah Vian membantu nenek lula untuk masuk dan berlari mengitari mobilnya. Ayah Vian mulai melajukan mobilnya sambil melirik nenek Lula dan Mbak Lena yang terus berusaha membangunkan Viara dikursi tengah
"Viara, ayo bangun sayang. Jangan buat nenek khawatir hiks...hiks.. Bangun sayang" lirih nenek Lula memeluk tubuh Viara yang begitu lemah
"Ibu tenang yah, semuanya akan baik-baik saja" Ucap ayah Vian berusaha menenangkan ibunya yang terus menangis di belakang sana. ayah Vian berusaha untuk tetap tenang sambil melirik keadaan putrinya dari kaca depan
"Vian hiks.. Apa rumah sakitnya masih jauh?" Tanya Nenek lula dengan linangan air mata
"Sudah dekat bu, ibu tenang yah"
"Iyah nek, nenek tenang yah. Sekarang kita harus tetap kuat dan berdoa semoga Viara baik-baik saja" Lirih Mbak lena mengusap punggung bergetar nenek lula
Sesampainya di rumah sakit, ayah Vian kembali mengendong putrinya dan berlari masuk ke rumah sakit
"Dokter, tolong anak saya dokter!!!" Teriak ayah Vian memanggil manggil dokter.
Dokter Citra yang mendengar teriakan ayah Vian segera berlari mendekatinya dan alangkah terkejutnya ia melihat Viara yang terbaring lemah di gendongan ayahnya
"Astaghfirullah Viara!! Apa yang terjadi padanya paman" lirih Dokter Citra membantu Viara berbaring di brankar
"Dokter Citra, tolong selamatkan putri saya" pinta ayah Vian khawatir ikut berlari mendorong brankar Viara
"Iyah paman, Citra akan berusaha untuk menolong Viara. Paman tunggu disini yah" Ucap dokter Citra menutup pintu IGD setelah brankar Viara telah dibawa masuk kedalam
"Bertahan yah nak, ayah yakin kamu pasti sembuh. Kamu adalah putri ayah yang sangat kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini" lirih pelan ayah Vian menatap nanar pintu ruangan IGD yang masih tertutup rapat.
Ayah Vian melangkahkan kakinya mendekati ibunya yang sejak tadi terduduk dan terus menangis menyebut nama Viara
"Vian hiks..hiks.. Bagaimana kondisi cucu ibu" lirih nenek lula berhambur memeluk anaknya
"Ibu tenang yah, terus berdoa agar Viara baik-baik saja di dalam. Ibu tahu kan kalau Viara adalah gadis yang kuat, dia pasti sembuh bu" kata Ayah Vian berusaha menahan air matanya sambil mengusap punggung bergetar nenek lula
"Selamatkan cucuku Ya Rabb, lindungilah dia selalu"
__________
Sementara di dalam ruang IGD, dokter Citra dan beberapa suster lainnya tengah melakukan penanganan intensif Pada Viara.
Saat dokter Citra membuka jilbab Viara, dokter Citra terkejut melihat kepala Viara yang telah kehilangan banyak rambut, bahkan rambut-rambut Viara kembali terlepas saat dokter Citra mengusap kepalanya
"Bagaimana ini dokter, sel kankernya telah menyebar ke seluruh tubuhnya" lapor salah satu dokter
"Iyah dokter, denyut nadinya juga semakin lama semakin melemah"
"Lakukan yang terbaik, kita tidak mungkin membiarkan nyawa pasien melayang begitu saja. Cepat!!" perintah dokter Citra
"Baik dokter" kedua dokter itu mengangguk dan mulai melakukan penanganan pada Viara sambil terus memperhatikan layar EKG yang berbunyi
Setelah 1 jam menangani Viara, ketiga dokter tersebut bernafas lega melihat Viara yang kembali bernafas teratur setelah beberapa kali mengalami kesulitan bernafas
"Dokter Citra, sebaiknya kita harus segera mengoperasi pasien untuk mengangkat penyebab kanker yang dialaminya. Meskipun sel kanker itu telah menyebar ke seluruh tubuhnya, setidaknya kita bisa mematikan induk kanker tersebut sebelum semuanya terlambat" Saran salah satu dokter
"Baiklah, aku akan meminta persetujuan dari keluarganya. Kalian berdua segera siapkan ruang operasi untuk pasien" perintah Dokter Citra pada kedua temannya
"Baik dokter" Jawab kedua dokter itu dan segera berlari keluar ruangan.
Dokter Citra menatap sendu dan berjalan mendekati Viara yang masih terbaring lemah dan tak kunjung membuka matanya. Dokter Citra meneteskan air matanya dan mengusap puncak kepala Viara dengan lembut
"Maafkan aku Viara, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya kepada keluargamu. Maafkan aku yah, aku tidak bisa lagi menepati janjiku untuk menjaga rahasia ini" lirih dokter Citra semakin terisak tak mau terpisah dengan teman baiknya
Dokter Citra menghapus air matanya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk menemui keluarga Viara.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya ayah Vian setelah dokter Citra keluar dari ruang IGD
"Paman Vian, ayo ikut aku ke ruangan ku. Ada yang ingin kukatakan pada paman" Ajak dokter Citra sambil tersenyum dan berlalu ke ruangannya diikuti keluarga Viara dibelakangnya.
Setelah keluarga Viara duduk di hadapannya, Dokter Citra mengontrol nafasnya dan mulai menceritakan semua rahasia yang dia jaga bersama Viara
"Nenek, Paman Vian, ada yang ingin kukatakan pada kalian tentang Viara. Tapi aku mohon kalian tetap tenang yah" Ucap dokter Citra berusaha tetap tegar dan tersenyum pada orang-orang di depannya
"Apa yang terjadi pada Viara dokter?" Tanya ayah Vian
"Viara mengalami kanker paru-paru stadium 3 paman"
Duaaarr
Bagai disambar petir, nenek Lula kembali menangis didalam pelukan mbak lena, sementara ayah Vian meneteskan air mata mendengar penuturan dokter Citra
"Tapi dokter, bagaimana itu mungkin. Viara selama ini sehat dan baik-baik saja. Pemeriksaan mu pasti salah dokter" bantah ayah Vian
"Tidak paman, aku sudah mengobati dan melakukan kemoterapi pada Viara sejak dulu" Lanjut dokter Citra
"Lalu kenapa kamu tidak memberitahu kami dokter citra?" Tanya ayah Vian kembali dengan air mata yang terus ditahannya
"Maafkan aku paman, ini semua atas perintah Viara yang ingin agar penyakitnya dirahasiakan dari keluarganya, Viara tidak mau membuat keluarganya cemas akan dirinya" kata Dokter Citra menumpahkan air matanya
"Sejak kapan cucuku menderita penyakit ini dokter?" Tanya nenek Lula masih sesenggukan
"Sejak Viara remaja nek. Viara selalu mengenakan masker sejak dulu karena penyakit pernapasannya akan kumat jika menghirup udara yang tidak sehat. Jadi dia memakai masker untuk itu nek" tutur dokter Citra menjelaskan sambil berderai air mata di pipinya
"Ya Allah Viara, hiks... Kenapa kamu sembunyikan ini semua dari kami nak hiks.." lirih nenek Lula semakin menangis
"Tapi semenjak satu tahun yang lalu Viara sudah tidak mengenakan masker lagi dokter" tutur ayah Vian kembali
__ADS_1
"Iyah benar paman, itu semua karena penyakit Viara perlahan-lahan membaik, tapi walaupun tidak mengenakan masker, Viara selalu membawa alat bantu pernapasan kemanapun dia pergi. Tapi belakangan ini kondisi Viara drop paman, hingga sel kankernya telah menyebar di tubuhnya" Ucap Dokter Citra berusaha tegar
"Lakukan yang terbaik untuk putri saya dokter, berapapun biayanya akan saya bayar asalkan putri saya bisa kembali sehat lagi dokter"pinta Vian berkaca-kaca. Dokter Citra menghapus air matanya dan menyodorkan secarik kertas kepada Vian
" ini paman, paman tanda tangani yah. Ini adalah surat izin untuk mengoperasi Viara. Operasi ini dilakukan untuk mengangkat induk kanker tersebut, tapi sel-selnya masih ada di tubuh Viara dan akan mati seiring berjalannya waktu, tapi sel tersebut harus dimatikan dengan kemoterapi rutin" tutur Dokter Citra menjelaskan
"Baik dokter, lakukan yang terbaik untuk putri saya" Ucap Vian meraih kertas itu dan menandatanganinya
"Baik paman, kalau begitu Citra permisi dulu, Citra akan menyiapkan ruang operasi untuk Viara" Ucap dokter Citra diangguki oleh Vian dan nenek Lula.
Dokter Citra beranjak dari duduknya dan berlari keluar untuk menyiapkan ruang operasi Viara
Setelah 15 menit menyiapkan ruang operasi dan beberapa dokter ahli telah bersiap di ruang tersebut, Viara dikeluarkan dari ruang IGD dan dibawa ke ruang operasi
"Putri ayah bertahan yah nak, jangan lemah. Berjuanglah sayang, doa kami selalu menyertaimu" Ucap ayah Vian mengecup punggung tangan putrinya yang perlahan-lahan dibawa masuk kedalam ruang operasi
Ayah Vian menghapus air matanya dan beranjak duduk disamping nenek Lula yang menatap kosong kedepan
"Ibu, ibu yang kuat yah. Ibu tahu kalau cucu ibu adalah gadis yang kuat kan, selama ini dia selalu memberikan kita senyuman dan doa-doa yang terbaik demi kebahagiaan keluarganya. Sekarang sudah saatnya kita mendukungnya melawan penyakitnya Bu, kita doakan bersama-sama semoga Viara baik-baik saja dan bisa sembuh dari penyakitnya" tutur ayah Vian mengusap lembut punggung rapuh ibunya. Nenek lula meneteskan air mata dan mengangguk pada putranya
"Ayo nak, kita ke mushala. Nenek ingin berdoa demi cucu nenek" pinta nenek lula dibalas anggukan kepala oleh Vian
"Nak Tasya, mbak Lena kalian tunggu disini yah, segera hubungi saya kalau ada berita terbaru mengenai Viara didalam sana" Titah ayah Vian sambil membantu nenek lula berdiri
"Baik paman" Ucap Tasya sambil tersenyum.
Setelah punggung ayah Vian dan nenek lula tak terlihat lagi, Tasya beralih menatap ruang operasi di depannya
"Semangat yah Viara, jangan tinggalkan aku. Bertahanlah dan lawan penyakitmu. Jangan pergi menyusul Risya disana, sungguh aku sangat takut kalau harus kehilangan lagi" lirih Tasya menatap sendu lampu ruang operasi yang masih berwarna merah
__________
Setelah menangani pasien yang terbaring di meja operasi selama 4 jam, para dokter bernafas lega karena operasi kali ini berjalan dengan lancar
"Alhamdulillah" ucap para dokter bersamaan
"Terimakasih sudah berjuanglah Viara, aku akan menemui keluargamu di depan" gumam Dokter Citra meneteskan air mata bahagia dan berlalu keluar ruang operasi. Di depan pintu ruang operasi juga sudah ada keluarga Viara yang sejak tadi menanti hasil operasi
"Bagaimana dokter, bagaimana kondisi putri saya?" Tanya Vian
"Alhamdulillah paman, operasi kali ini berjalan dengan lancar dan berhasil" Ucapan Dokter Citra bagai angin sejuk di telinga keluarganya Viara hingga mereka meneteskan air mata bahagia dan bersujud syukur pada sang Pencipta. Tasya tersenyum senang dan berhambur memeluk dokter Citra
"Syukurlah Viara baik-baik saja kak" Ucap Tasya senang
"Iyah dek, Viara memiliki semangat hidup yang tinggi hingga dia bisa melewati semua ini" Ucap dokter Citra terharu dan membalas pelukan Tasya padanya
"Terimakasih dokter, apa kami bisa menemui Viara?" Tanya nenek Lula dengan senyuman diwajahnya
"Bisa nek, tapi setelah Viara dipindahkan ke ruang rawatnya yah. Untuk sehari Viara belum diperbolehkan untuk dijenguk agar memantau perkembangannya. Viara juga masih dalam pengaruh obat bius. Jadi besok baru kalian bisa menemui Viara di ruang rawatnya" tutur dokter Citra sambil tersenyum
"Baik dokter tidak apa-apa. Yang penting cucu saya baik-baik saja" Ucap nenek lula diangguki semuanya sambil tersenyum
"Tadi sebelum operasi dimulai, Viara sempat mengatakan padaku jika kita harus merahasiakan penyakitnya ini dari ibunya. Karena Viara tidak mau melihat ibunya menangis karenanya" tutur dokter Citra kembali
"Baik dokter, akan saya jaga permintaan putri saya" Ucap Vian sambil tersenyum.
______
Sementara di kamarnya, Tara meloncat-loncat senang merasa sangat bahagia
"Yeahh. Akhirnya aku akan menikahi Pandu dua hari lagi" Seru Tara senang sambil meloncat-loncat kegirangan
"Nona, ehh...." Ucap Bi Sumi terputus karena Tara yang langsung menarik tangannya
"Bi Sumi!!! Tara bahagia bi" seru Tara senang dan memeluk bi Sumi
"Syukurlah jika nona bahagia" kata Bi Sumi ikut tersenyum melihat kebahagiaan nona mudanya
"Iyah bi, lihatlah Bi, gaun pengantin Tara bagus kan?" seru Tara senang sambil menunjukkan manekin yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih
"Wah Iyah nona, gaunnya sangat cantik. Sangat cocok dengan warna kulit nona" ujar Bi Sumi berbinar memandangi gaun pengantin Tara
"Iyah Bi, Tara jadi nggak sabar untuk cepat nikah sama Bang Pandu. 2 hari lagi rasanya sangat lama bi, serasa dua abad" Kata Tara merebahkan dirinya di ranjangnya sambil memegang kartu undangan pernikahannya
"Hahaha dikuatkan lagi sabarnya nona. Kalau begitu bibi keluar dulu yah nak, bibi harus melakukan banyak persiapan untuk pernikahanmu" pamit Bi Sumi
"Iyah Bi Sumi, silahkan" balas Tara sambil tersenyum
"Aku jadi tidak sabar untuk segera menikah denganmu Pandu. Ketika kata SAH terucap nanti, maka kamu akan sepenuhnya menjadi milikku, dan tidak ada lagi yang akan mengambilmu dariku sayang. Aku mencintaimu Pandu" gumam Tara mengecup kartu undangan pernikahannya
Di tepi pantai, seorang perwira duduk sendirian beralaskan pasir putih sambil menatap indahnya bulan purnama yang menerangi langit. Bang Rama berjalan mendekati perwira tersebut dan duduk tepat di sampingnya
"Bang Pandu, apa abang sudah yakin dengan keputusan abang ini?" Tanya Bang Rama
"Aku sudah yakin dengan keputusanku sejak 30 hari yang lalu. Jika aku tidak yakin maka aku tidak akan pengajuan nikah dan sebar undangan" jawab Pandu masih menatap lurus kedepan
"Tapi Bang, apa abang percaya jika Viara tega melukai abang sampai seperti itu?" Tanya Bang Rama kembali
"Sudah jelas kan Bang, bahkan itu terjadi di depan mataku. Aku sempat menolak mempercayai gambar yang dikirimkan oleh orang misterius itu padaku, namun aku semakin yakin kalau dia memang tega melukaiku, apalagi dia memeluk orang itu tepat di depan mataku" jawab Pandu tanpa menatap Bang Rama
"Baiklah Bang, jika menang Viaralah yang bersalah, apakah tidak ada kesempatan untuknya memperbaiki kesalahannya?" Tanya Bang Rama
"Kalaupun kesempatan itu masih ada, itu sudah sangat terlambat Bang" jawab Pandu beranjak dari duduknya
"Tapi Bang..." Ucap Bang Rama terputus karena Pandu sudah melangkahkan pergi dan menaiki motornya berlalu meninggalkan pantai
"Benar Bang, semua sudah sangat terlambat. Semoga abang tidak menyesal dengan keputusan yang abang ambil" gumam Bang Rama berlalu meninggalkan pantai tersebut
__ADS_1
Dalam tidur lelapnya, sudut mata Viara meneteskan bulir bening seolah masalah dan sakit hati itu masih terpendam di hatinya, meski matanya dalam keadaan tertutup
Bersambung........