Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 77. Inilah Perjalanan Cintaku


__ADS_3

Keesokan harinya, Viara perlahan-lahan membuka matanya dan menyunggingkan senyumannya pada ayah dan neneknya yang berdiri di samping brankarnya


"Putri ayah, kamu sudah sadar nak?" Tanya Ayah Vian dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum


"Katakan nak, kenapa kamu tega menyembunyikan semua ini dari ayah sejak dulu. Apa kamu sudah tidak menyayangi ayahmu lagi hingga kamu tidak mau berbagi cerita dan masalahmu bersama ayah? Apa Viara udah nggak percaya lagi sama ayah?" Tanya ayah Vian mengenggam tangan lemah Viara dan mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Viara meneteskan air mata dan memajukan tangannya untuk mengusap pipi ayahnya


"Tidak ayah, bukannya Viara nggak percaya sama ayah, justru Viara sayang banget sama ayah. Viara tidak mau ayah sama bunda menangis karena Viara. Viara tidak mau ayah sama bunda tidak profesional dalam bekerja karena mencemaskan Viara. Viara nggak mau kalian bersedih ayah hiks.. Maafkan Viara yang sudah menyembunyikan rahasia ini hiks.. Maafkan Viara juga yang sudah banyak berbohong sama ayah" lirih Viara berhambur memeluk ayahnya dan menangis deras di dada bidangnya.


Ayah Vian mengusap lembut punggung bergetar Viara dan mengecup kening putrinya dengan sayang


"Tidak nak, Viara nggak salah kok, kenapa Viara minta maaf hmm?. Sejak dulu Viara sudah jadi kebanggaan untuk ayah dan bunda, Viara juga akan selalu menjadi kebanggaan kami selamanya. Terimakasih sudah berjuang melawan sakitmu selama ini yah. Sekarang Viara tidak sendiri lagi, ada ayah sama nenek yang akan selalu mendukung Viara untuk sembuh dan tersenyum bahagia seperti dulu lagi. Jangan menangis yah sayang, kamu putri ayah yang paling kuat" Tutur ayah Vian menghapus air mata di pipi Viara yang tersenyum manis padanya


Drttt.. Drrtt...Drrttt


Ayah Vian merogoh ponselnya dan menjawab panggilan telepon dari istrinya


"Assalamu'alaikum bunda sayang, ada apa hmm?" Tanya ayah Vian lembut


(.........)


"Tapi ayah lagi..."


(.........)


"Hmm baiklah Bunda, tapi ada imbalannya kan?" goda ayah Vian


(.........)


"Beneran 10, oke sayang, ayah akan segera kesana" Ucap Ayah Vian berbinar senang


(.........)


"Walaikumsalam Bunda" Jawab Ayah Vian


Setelah memutuskan sambungannya, ayah Vian beralih menatap putrinya yang tertawa melihatnya


"Kok ayah diketawain sih" Ucap Vian cemberut


"Haha ayah disuruh Bunda lagi yah" Goda Viara


"Iyah sayang, tapi ayah masih pengen temani putri ayah disini" jawab ayah Vian menghela nafasnya


"Nggak apa-apa kok ayah, mending ayah penuhi permintaan Bunda sekarang. Kalau Viara nanti ayah bisa jenguk besok pagi. Apa ayah sanggup menolak imbalan dari bunda?" Tanya Viara sambil menunjukkan 10 jarinya di depan ayahnya. Ayah Vian tersenyum dan mengusap puncak kepala putrinya yang tertutup hijab


"Haha kamu sudah mengerti yah sayang"


"Iyah dong ayah, kan Viara sudah dewasa sekarang, apalagi Viara sudah jadi guru, pasti Viara tahu lah" Ucap Viara tersenyum manis pada ayahnya


"Haha, kalau begitu ayah pergi dulu yah sayang, kamu ditemani nenek disini"


"Iyah ayah, tapi tolong rahasiakan semua ini dari bunda yah ayah, Viara nggak mau lihat bunda sedih" pinta Viara memelas


"Iyah sayang, pasti kok. Ayah pergi dulu yah, assalamu'alaikum ibu, putriku" Ucap Vian mengecup kening Viara dan menyalami tangan nenek Lula


"Walaikumsalam, semangat ayah" Ucap Viara tersenyum senang melihat punggung ayahnya yang berjalan kearah pintu


Viara beralih menatap nenek Lula di sampingnya, senyuman yang terlukis dibibirnya seketika digantikan dengan tatapan berkaca-kaca Viara


"Nenek...." nenek Lula langsung memeluk Viara yang kembali menangis


"Sudah yah sayang, nenek mengerti kok alasanmu menyembunyikan semua ini seorang diri" kata nenek Lula sambil mengusap punggung bergetar Viara


"Hiks.. Tapi nek, Viara udah banyak bohong sama nenek" lirih Viara semakin menangis memeluk neneknya


"Tidak apa-apa sayang, terkadang berbohong untuk kebaikan itu tidak apa-apa nak. Kamu hebat sayang, kamu memendam semua masalah selama ini seorang diri karena kamu tidak mau melukai hati orang lain. Cucu nenek nggak salah kok, jadi tenang yah sayang" Ucap nenek Lula sambil membaringkan Viara di brankarnya


"Cucu nenek adalah wanita yang baik, tidak mungkin dia tega melukai hati seseorang. Cucu nenek tidak mungkin membuat orang menangis karena di sisa umurnya, cucu nenek bahkan selalu memberikan senyuman bahagia bagi orang terdekatnya sampai dia lupa kalau dirinya juga perlu bahagia. Kamu sangat peduli pada semua orang sayang, sekarang giliran kami yang harus mengerti dan peduli padamu. Jangan menangis lagi yah, sekarang Viara sudah tidak sendiri lagi" tutur nenek Lula menghapus air mata di sudut mata Viara yang tersenyum padanya


"Terimakasih yah nek, nenek selalu mengerti tentang Viara sejak dulu" Ucap Viara sambil tersenyum


"Iyah sayang, kamu cucu kesayangan nenek, sudah pasti nenek mengerti tentangmu. Cepat sembuh yah, kalau tidak siapa lagi yang akan memanggil nenek dengan panggilan nenek. Siapa lagi yang akan merengek meminta bubur kacang hijau buatan nenek. Lalu siapa lagi yang akan menemani dan mengatur obat nenek di rumah" seketika Viara tertawa mendengarkan ucapan nenek Lula


"Sekarang istrahat yah sayang, biar cepat sembuh, nenek sama mbak lena akan temani kamu disini" Ucap nenek Lula diangguki Viara sambil tersenyum. Nenek Lula mengusap lembut puncak kepala Viara yang perlahan-lahan menutup matanya


"Semoga kamu bisa sembuh dan mendapatkan semua kebahagiaan di dunia ini. Kamu memang layak bahagia sayang" Ucap nenek Lula memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Viara dan mengecup kening Viara yang sudah tertidur pulas


Pukul 4 dini hari, Viara terbangun dari tidurnya dan tersenyum melihat nenek Lula yang tidur di brankar di sudut dinding ruangan dan mbak lena yang masih tertidur di sofa ruang rawat tersebut. Dengan tangan lemahnya, Viara meraih ponselnya diatas nakas, seketika bulir bening kembali lolos dari matanya melihat wallpaper ponselnya


"Hari ini abang menikah, tapi dengan wanita yang jauh lebih sehat dari pada aku. Semoga bahagia dalam hidupmu yah sayang. Maafkan aku, karena bukan aku lagi yang akan menemani suka dan duka di cerita hidupmu lagi. Maafkan aku, karena melukaimu hingga kamu tak mau lagi berbalik kearahku. Maafkan aku yah, aku memang bukan wanita yang baik untukmu" gumam Viara menutup mulutnya dengan tangan kanannya agar suara isakkannya tidak membangunkan dua orang yang menemaninya di ruangan itu.


Viara menghapus air matanya dan tersenyum manis menatap wallpaper ponselnya


"Sekarang abang genggamlah tangan wanita itu, cintai dia seperti abang mencintai adek, dan dapatkan hatinya seperti abang berusaha mendapatkan adek dulu. Cinta didalam rumah tangga itu sangat penting sayang, jadi jangan lagi mengingat aku didalam hidupmu. Lupakan aku, karena setiap mengingatku,kamu akan meneteskan air mata. Jangan pernah menangis lagi sayang, sungguh aku tidak akan tertidur dengan pulas jika mendengarmu menangis. Jangan cari aku lagi yah, karena aku hanya akan membuatmu bersedih dan terluka setiap saat. Aku tidak pernah pergi sayang, aku akan selalu hidup di setiap kenangan yang pernah kita lukis bersama. Aku akan selalu menjagamu, meski aku sangat jauh dari pandanganmu. Aku akan selalu mencintaimu, walau aku tidak akan pernah ada lagi di sisimu. Aku mencintaimu Pandu, akan selalu menyayangimu walau tubuh ini tidak memiliki nyawa lagi" gumam Viara tersenyum teringat wajah kekasihnya dalam pandangan matanya yang semakin gelap


"Aku Viara Mutya Putri, dan inilah perjalanan cintaku" batin Viara perlahan-lahan menutup mata dengan wajahnya yang teduh dihiasi senyuman


__________


Kini, dekorasi indah sudah menghiasi setiap sudut ruangan, dengan para tamu yang perlahan-lahan berdatangan, untuk menyaksikan dua orang yang akan menyatu dalam satu ikatan, yaitu rumah tangga.

__ADS_1


Senyuman bahagia tak henti-hentinya dia pancarkan ke semua tamu yang datang menghadiri akad nikahnya. Dengan gaun pengantin pilihannya, Tara berjalan menuju keatas mimbar dimana sudah ada calon suami dan seseorang berjas hitam yang tampaknya adalah seorang penghulu tengah menunggunya disana


Tara terus mengembangkan senyumannya pada para tamu yang pandangan mereka semua hanya tertuju padanya. Para tamu tertegun melihat kecantikan wanita yang berjalan dan duduk tepat disamping calon suaminya berhadapan dengan pak penghulu


Tara mengenggam tangan lelaki yang akan menjadi suaminya sambil tersenyum bahagia, sementara lelaki itu juga tersenyum menatapnya


"Bagaimana, kalian sudah siap?" Tanya Pak penghulu


"Kami siap pak" Jawab keduanya bersamaan


Pak penghulu tersenyum dan mulai menjabat tangan mempelai pria


"Saudara Pandu Praditya Maheswara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Tara Adira Lusiana, dengan mas kawin berupa 60 gram emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai"


Pandu mengontrol nafasnya dan mulai mengikuti ucapan pak penghulu


"Saya Terima......"


"Tunggu!!!" Teriak seseorang lantang di mic yang di pegangannya hingga acara ijab kabul terhenti.


Semua orang terdiam dan menoleh ke sumber suara, begitu juga dengan kedua mempelai yang berbalik menatap penyebab proses ijab kabul mereka terhenti


"Aku mohon, jangan buat kesalahan dengan menikahinya" Ucap lelaki itu yang tak lain adalah Pak Dino.


Seketika keringat dingin membanjiri kening Tara melihat calon suaminya yang menatap pak Dino di depan sana


"Tunggu, apa maksudmu. Tolong usir pria itu, dia hanya akan jadi pengganggu di pestaku!!!" perintah Tara dari atas mimbar


Mendengar perintah Tara, Bang Rama dan Bang Zardan maju kesamping Pak Dino untuk melindunginya, begitu juga dengan Ila yang melangkahkan maju dan berhenti tepat disamping pak Dino


"Yang dikatakannya benar, jangan buat kesalahan dengan menikahi wanita itu" Tutur Ila lantang mendukung pak Dino


"Pandu, dengarkan penjelasanku dulu, aku datang kesini untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi" kata Pak Dino


"Bukankah sudah jelas jika kamu dan wanita itu menjalin hubungan. Dan itu tepat terjadi di depan mataku" jawab Pandu datar


"Tidak Pandu, apa yang kamu lihat, tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi" kata Pak Dino


"Apa maksudmu, apa aku yang salah karena menilai kalian disaat semua bukti mengatakan jika kalianlah yang bersalah dalam hal ini. Dihari itu, tepat di depan mataku, Viara memelukmu dan bahagia dibahumu. Apa itu bukan bukti yang sesungguhnya?" Ucap Pandu sinis tak percaya.


Tara menyunggingkan senyumannya mendengar perkataan Pandu yang seolah mendukungnya


"Tidak Pandu, Viara tidaklah salah. Dia sangat senang hingga dia refleks memelukku. Disaat itu Ila juga ada di samping kami kan? Dia menjadi saksi bahwa Viara tidak bersalah dalam hal ini" Ucap Pak Dino


Pak Dino langsung merogoh sakunya dan menunjukkan sebuah cincin di kotak merah yang Pandu ketahui


"Ini... Ini" Ucap Pandu tertegun melihat cincin itu


Seketika hening menghiasi aula nikah itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, sampai Ila mengambil alih kotak cincin di tangan Pak Dino dan berjalan mendekati Pandu


"Yang diucapkan Pak Dino benar Pandu. Saat itu, Viara selalu mencari-cari pasangan cincin yang dipakainya, hingga Pak Dino menemukannya dan mengembalikannya pada Viara. Viara sangat senang dan bahagia waktu itu, tak ada kata-kata yang mampu menunjukkan bahagianya hatinya hingga dia refleks memeluk Pak Dino. Melihat itu, kamu datang dan langsung menamparnya kan? Kamu juga menghinanya dan menodai cintanya yang dia rasakan pada saat itu. Apakah dia pantas dihukum sekejam ini karena meluapkan rasa bahagianya pada orang yang telah menemukan cincin yang menjadi simbol cintanya. Katakan padaku!!!" Teriak Ila meneteskan air mata melihat orang di depannya yang tertegun menatap cincin yang ditunjukan Ila


_______


Sementara di rumah sakit kota


Nenek Lula dan Mbak Lena menyunggingkan senyumannya melihat wajah teduh Viara yang tertidur sangat lelap, dengan senyuman yang menghiasi wajahnya


"Ternyata dia sangat cantik saat tertidur seperti ini. Baru kali ini, aku melihatnya tertidur pulas dengan wajahnya yang sangat teduh" Ucap Mbak Lena terus menatap Viara sambil tersenyum


"Iyah nak, semoga dia cepat sembuh" balas nenek Lula tersenyum


Tiiiit....tiiiit.... Tiiiiiiiiiiiiiiiit.......


"Mbak, bunyi apa itu?" Tanya nenek Lula refleks menatap alat yang mengeluarkan suara itu. Mbak Lena mengikuti arah pandang nenek lula seketika merasa panik melihat garis yang tertera dilayar EKG tersebut


"Astaghfirullah Viara!!!!" Teriak mbak Lena panik. Mbak Lena langsung menekan tombol darurat diatas brankar Viara dan berlari keluar memanggil dokter


"Dokter..... Dokter!!!!!!"


__________


"Katakan!!! Apakah dia pantas dihukum sekejam ini karena mencintaimu. Katakan padaku!!! " Teriak Ila pada orang yang ada di depannya yang terdiam menatap kotak cincin ditangannya


"Tentu kamu belum sepenuhnya yakin jika Viara tidak bersalah kan, maka bukti yang akan berbicara. Bawa dia masuk!!!" Perintah Ila.


Dua orang tentara pun masuk kedalam aula nikah sambil menahan tangan seorang wanita bermasker


"Viara!!" kata Pandu terkejut melihat Viara yang memakai masker, namun tidak mengenakan hijab


"Kamu berpikir ini Viara kan, tentu dia bukan Viara. Dia adalah wanita yang ada di foto yang dikirimkan orang tanpa nama padamu" kata Ila


"Tapi, sudah jelas-jelas wanita ini Viara bukan? Hanya saja wanita yang satu ini tidak memakai hijab" Ucap Tara membuka suara


"Tidak, dia bukan Viara" Bantah Pak Dino lantang


"Wanita ini sangat berbeda dengan Viara, lihatlah tinggi Viara hampir sama seperti Ila, tinggi Viara sampai di dagumu. Sedangkan wanita ini sangat tinggi hampir diatas telingamu, lihatlah" Ucap Pak Dino.


Pandu mengamati wanita itu, dan menyadari jika ucapan Pak Dino benar

__ADS_1


"Tidak... Sudah jelas itu Viara" Bantah Tara


"Katakan dimana perbedaannya Tara?" Tanya Ila dengan sorot matanya setajam pisau


"Ra.. Rambutnya.." jawab Tara gugup


"Tidak nona Tara, selama ini Viara selalu mengenakan hijab. Tapi walaupun Viara tidak memakai hijab, tetap terbukti jika dia bukan Viara" kata Pak Dino membuat semua tatapan tertuju padanya


"Kenapa, apa kamu pernah melihat rambutnya Viara? Jika kamu pernah melihat dan baru saya menyimpulkannya, berarti terbukti jelas jika difoto itu kalian bedua kan!!!" Tegas Pandu marah


"Di foto itu memang aku, tapi wanita itu bukanlah Viara" Lanjut Pak Dino.


Pak Dino mengontrol nafasnya dan mulai mengatakan apa yang diketahuinya


"Rambut, kalau perbedaan antara rambut wanita ini dengan rambut Viara, rambut keduanya sangat jauh berbeda. Rambut wanita ini panjang se punggung dan sangat tebal. Sedangkan Viara, rambut Viara menang panjangnya sama dengan wanita ini, tapi di kepala Viara, helai rambutnya tidak banyak lagi. Rambut Viara sangat sedikit dan apabila rambutnya hanya disentuh, akan meninggalkan banyak jejak di telapak tangan kita" Ucap Pak Dino menjelaskan


"Apa maksudmu menyimpulkan seperti itu, Viara....." Ucap Pandu terhenti


"Katakan padaku Pak Dino, apa yang terjadi pada Viara hingga kamu menyimpulkan seperti itu?" Tanya Ila berkaca-kaca


Pak Dino menghela nafasnya kasar dan menatap semua orang yang menunggu jawabannya


"Viara mengalami kanker paru-paru stadium akhir"


Dooooorrr


Bagai ditembak mati, air mata Pandu seketika tumpah dari matanya. Mendengar ucapan pak Dino, Ila menghapus air matanya dan beralih mendekati Pak Dino


"Bagaimana, bagaimana kamu bisa tahu? Tidak mungkin Viara terkena penyakit seganas itu kan?" Tanya Ila mencari kebenaran di mata pak Dino


"Inilah kenyataannya Ila. 2 hari yang lalu, aku mengunjungi rumah sakit untuk mengecek kesehatanku. Ketika aku menoleh ke ruang operasi, aku melihat Viara di bawah ke dalam salah satu ruangan. Saat itu aku bertanya pada teman sekolahku dokter Citra, dokter yang juga menangani penyakit Viara. Dokter Citra pun menjelaskan semua tentang penyakit yang diderita Viara. Itulah mengapa Viara sejak remaja selalu memakai masker kesehatan, karena Viara tidak bisa menghirup udara yang kotor karena dapat berpengaruh pada kesehatannya. Viara juga tiba-tiba lemah atau pingsan disertai mimisan, itu karena penyakitnya kambuh dan harus segera ditangani" tutur pak Dino menjelaskan


"Adek..." lirih Pandu kembali meneteskan air mata mendengar penjelasan Dino


"Jadi.. Jadi obat yang selalu diminum Viara itu bukan Vitamin seperti yang selalu dia katakan?" Tanya Ila menahan air matanya agar tidak tumpah


"Iyah Ila, Viara sudah menyembunyikan semua ini dari kita. Viara tidak mau kita mencemaskan keadaannya, karena Viara tidak mau membuat kita sedih dan menangis karenanya" seketika air mata yang ditahan Ila tumpah membasahi pipinya


"Ya Tuhan Viara hiks.. Hiks.." lirih Ila menangis dibahu bang Rama yang memeluknya


Pak Dino menghapus air matanya dan beralih menatap gadis bermasker yang ditahan 2 tentara di sampingnya


"Dan ini, lihatlah wajah asli wanita yang kalian sangka sebagai Viara" Ucap Pak Dino menarik kasar masker wanita itu hingga wajah wanita itu terlihat jelas


"Dia... Dia bukan Viara" kata Pandu menyadari wajah wanita itu sangat berbeda dengan Viara


"Benar sekali Pandu, wanita ini bukanlah Viara, dan Viara bukanlah wanita yang ada difoto itu bersamaku. Viara dijebak" kata Pak Dino menahan amarahnya


"Katakan yang sebenarnya Dira" kata pak Dino pada wanita itu yang tertunduk malu


"Benar, akulah yang bersama Pak Dino difoto itu. Namaku Dira, bukan Viara" kata Dira sambil menangis


"Katakan kenapa kamu menjebak Viara!!!!" Teriak Pandu dengan mata penuh amarah


"Maafkan aku hiks.. Aku tidak bermaksud menjebak Viara. semua ini kulakukan karena aku mencintai pak Dino. Pak Dino sangat mencintai Viara hingga aku cemburu dengan Viara. Aku merias wajahku sama seperti Viara agar Pak Dino tertarik padaku. Namun walaupun wajahku saat memakai masker hampir menyerupai Viara, pak Dino tetap tidak melirik ku dan hanya menyukai Viara saja. Jadi aku menjebak pak Dino hiks.. Itu bukanlah Viara, tapi aku. Kumohon maafkan aku" Tutur Dira menjelaskan sambil menangis


"Jika dia bukan Viara, lalu dimana Viara, katakan padaku dimana dia!!!!" Tanya Pandu sambil menangis mendengar kebenaran yang disampaikan pak Dino tadi


"Viara saat ini di rumah sakit, dia terbaring lemah melawan penyakitnya. Terakhir kali aku melihatnya, dia tengah diperiksa di ruang rawatnya" kata Pak Dino kembali


Drrttt.. Drrttt....Drrttt


Pak Dino langsung merogoh ponselnya yang bergetar di saku celananya dan menjawab panggilan dari temannya


"Halo dokter Citra, ada apa?" Tanya Pak Dino karena mendengar suara tangisan di seberang sana


(............)


Seketika Pak Dino terdiam mendengar ucapan yang disertai tangis dokter Citra


"Katakan Padaku Pak Dino, apa yang dikatakan dokter Citra" pinta Ila mengoyang-goyangkan bahu Pak Dino yang terdiam di tempat. Ila langsung merampas ponsel dari tangan Pak Dino dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi di seberang sana


"Halo dokter Citra, saya Ila, temannya Viara. Apa yang terjadi dengan teman saya dokter?" Tanya Ila khawatir


(........)


Bulir bening kembali luluh dimatanya mendengar penuturan dokter Citra yang menangis di seberang sana


"Viara!!! Hiks... Viara!!!!" tangis Ila pecah mendengar ucapan dokter Citra hingga ponsel yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Ila jatuh terduduk di lantai dan menangis histeris mengundang rasa penasaran semua orang


"Ada apa dek, apa yang terjadi pada Viara?" Tanya Bang Rama membantu Ila yang duduk menangis histeris agar berdiri


"Ada apa dek, apa yang terjadi?" Tanya Bang Rama mewakili semua orang yang ada di aula nikah itu


"Viara hiks... Viara Bang" lirih Ila semakin menangis histeris


"Katakan dek, Viara kenapa?" Tanya Bang Rama kembali


"Viara Meninggal!!!"

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2