Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 69. Kuatkan Langkahku


__ADS_3

"Astaghfirullah Viara!!!!" Teriak Ila berlari menghampiri kedua temannya yang terbaring lemah tak sadarkan diri di tepi jalan


"Viara, bagun Viara!!! Bangun" Teriak Ila menepuk-nepuk pipi Viara yang seolah tak dialiri darah.


Bahkan guyuran hujan yang semakin deras dan terus membasahinya tak mampu untuk menyadarkan Viara. Viara seolah tak mau bangun dari tidurnya dan tak memiliki semangat untuk melihat dunia lagi


"Siapapun tolong aku!!!!" Teriak Ila dibawah guyuran hujan yang semakin deras.


Ila menghapus air matanya dan berlari menghadang truk tentara yang tengah melintas. Bang Zardan menghentikan truknya dan memerintah personilnya untuk turun membantu dua orang yang terbaring lemah disana


"Danru, tolong temanku hiks..hiks.. " lirih Ila mengatupkan kedua tangannya pada Bang Zardan


"Iyah dek, tenanglah. Kedua temanmu akan segera mendapatkan pertolongan" Ucap bang Zardan membantu Ila masuk ke dalam truk setelah kedua temannya juga telah dimasukkan kedalam truk


Dengan menambahkan sedikit kecepatan truknya, Bang Zardan melajukan truknya menuju ke puskesmas yang baru saja dibuka 1 bulan yang lalu. Bang Zardan sesekali melirik keadaan Viara dibelakang dan menenangkan Ila yang terus menangis di sampingnya


"Sudahlah dek Ila, jangan menangis lagi. Kalau adek menangis, siapa lagi yang akan menyemangati kedua teman adek untuk tetap hidup" Ucap Bang Zardan lembut sambil memperhatikan jalanan


"Saya nggak tega lihat kondisi kedua teman saya seperti itu bang hiks.. hiks." lirih Ila semakin terisak dan menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya


"Katakanlah dek, kenapa kedua temanmu bisa seperti ini? Lalu dimana Pandu? Bukannya dia selalu menjemput Viara kalau pulang sekolah?" Tanya Bang Zardan melirik sekilas pada Ila


Ila menghapus air matanya dan mulai menceritakan yang sebenarnya terjadi dan kesalahpahaman yang dialami Pandu. Setelah menceritakan semuanya, Ila kembali menangis dan membayangkan penderitaan yang dialami Viara saat ini. Bang Zardan meremas stirnya dan sesekali memukulnya setelah mendengar penjelasan Ila berusaha. Bang Zardan tak habis pikir, bagaimana Pandu bisa dikuasai amarah seperti ini hingga dia tak mau mendengarkan penjelasan yang sebenarnya terjadi. Amarahnya seolah lebih unggul setelah semua kasih sayang dan ketulusan yang diberikan Viara selama ini. Amarahnya seolah membuatnya lupa jika dia sangat mencintai Viara


"Astaghfirullah Pandu.. Pandu... Kenapa kamu bisa seperti ini" gumam Bang Zardan kesal dan geleng-geleng kepala


"Mungkin bang Pandu marah saat melihat Viara yang memeluk orang lain yang bukan dirinya" Ujar Bang Niko yang ikut mendengarkan cerita dua orang didepannya sejak tadi


"Tapi Viara kan refleks memeluknya karena saat itu Viara merasa sangat bahagia melihat cincin yang dicarinya telah ditemukan" tutur Ila


"Mungkin juga karena amarah, Bang Pandu pamit untuk kembali bertugas di Batalyon tadi" Ujar Bang Niko kembali


"Apa!! bang Pandu sudah kembali??" Tanya Ila membulatkan matanya tak percaya


"Iyah dek, hari ini adalah hari terakhir dia bertugas disini. Sekitar 25 menit yang lalu, Pandu langsung diantarkan ke kota karena kapal TNI tengah menunggunya disana. Selain Pandu, terdapat banyak prajurit yang sudah selesai menjalankan tugasnya di daerah perbatasan, sehingga mereka langsung dipulangkan kembali ke Batalyon xxxx untuk bertugas disana" kata Bang Zardan menjelaskan


"Nama Batalyon itu, Batalyon yang ada di kota B kan bang? Dan pemimpin dari Batalyon itu ayahnya Viara?" Tanya Ila memastikan


"Iyah benar dek" ucap Bang Zardan membenarkan ucapan ila


"Semoga kamu tidak menyesal setelah tahu kebenaran yang sebenarnya Pandu. Dan semoga Viara mau menerimamu kembali setelah kamu menghina dan menuduhnya sekejam itu" kata Bang Zardan dalam hati


__________


Setelah tiba di rumah sakit, Pak Dino dan Viara langsung dilarikan kedalam ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan


"Bertahanlah Ara, jangan pergi tinggalkan ibumu yang merindukanmu untuk pulang ke rumahnya" Ucap Bang Zardan mengelus puncak kepala Viara sebelum brankarnya didorong masuk kedalam ruang UGD


Didalam ruang UGD, Pak Dino dan Viara tengah mendapatkan pertolongan intensif dari dokter dan beberapa suster. Salah satu suster yang memeriksa Viara terkejut setelah selesai melakukan pemeriksaan kepada Viara


"Dokter, pasien nona ini mengalami kanker paru-paru. Sel kankernya bahkan terus menyebar dengan cepat ditubuhnya" Lapor suster itu merasa khawatir melihat Viara yang mengalami sesak nafas


"Segera lakukan penanganan pada pasien" perintah dokter


Para suster menganggukkan kepala dan langsung mengambil tindakan pada Viara. Setelah melakukan penanganan selama 10 menit, suster dan dokter yang menangani Viara bernafas lega melihat Viara yang kembali bernafas beraturan dan jantungnya yang kembali berdetak normal. Tak berselang lama, Viara membuka matanya dan menatap para dokter diatasnya


"Bagaimana kondisi anda nona? Sudah merasa baikan? " Tanya Dokter bernama Helena lembut yang dibalas anggukan pelan oleh Viara


"Syukurlah, kalau begitu aku akan memberitahu teman-temanmu di depan kalau kamu sudah sadar" Seru dokter Helena tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya.


"Tunggu dokter" kata Viara pelan


Dokter Helena berhenti melangkahkan dan berbalik menatap Viara yang menahan tangannya


"Tolong dokter, jangan katakan tentang penyakit yang kuderita kepada teman-temanku yah. Aku mohon" pinta Viara dengan mata berkaca-kaca


"Tapi kenapa nona Viara?" Tanya dokter Helena lembut

__ADS_1


"Aku tidak mau teman-temanku khawatir dengan kondisiku dokter. Selama ini aku, sudah menutupi tentang penyakit ku kepada teman-temanku karena aku tidak mau mereka sedih dan kasihan padaku. Biarlah aku berjuang sendiri untuk tetap bertahan dan sembuh seperti semula" tutur Viara menjelaskan sambil berkaca-kaca


Dokter Helena tersenyum mendengar penuturan Viara dan mengangguk kepalanya


"Terimakasih dokter" Ucap pelan Viara tersenyum pada dokter Helena dibalik alat bantu pernapasan nya


"Sama-sama nona Viara. Sekarang anda istirahat yah, semuanya akan baik-baik saja" ucap Dokter Helena pada Viara yang perlahan-lahan menutup matanya pengaruh dari obat bius yang mulai bekerja.


Dokter Helena memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Viara dan melangkah keluar keluar ruang UGD


"Bagaimana kondisi teman saya dokter?" Tanya Ila setelah dokter Helena keluar ruang UGD


"Teman wanita anda baik-baik saja. Stress, syok dan tertekan membuatnya lemah dan tak sadarkan diri tadi. Tapi dia akan baik-baik saja setelah terbangun dari tidurnya nanti" Tutur dokter Helena membuat Ila dan bang Zardan bernafas lega


"Tapi kami memiliki sedikit berita tidak menyenangkan dari teman lelaki kalian" Lanjut dokter Helena dengan wajahnya yang kurang bersahabat


"Apa yang terjadi dengan teman saya dokter?" Tanya Ila cemas


"Karena hantaman cukup keras di perutnya, pasien mengalami sedikit gangguan pada kerja hati dan pencernaannya. Di bagian belakang kepalanya juga terdapat bekas terbentur yang sangat keras, hingga terdapat sedikit luka dalam di bagian kepalanya. Tapi lukanya tidak terlalu parah, namun pasien akan mengalami koma untuk sementara waktu" Tutur dokter Helena menjelaskan


Ila meneteskan air mata mendengar penuturan dokter Helena dan langsung menghapusnya kembali


"Tapi teman saya akan baik-baik saja kan dokter?" Tanya Ila


"Iyah nona, teman anda baik-baik saja. Hanya kita harus menunggu pasien untuk terbangun dari komanya agar kita bisa melihat perkembangan selanjutnya" Lanjut Dokter Helena


"Alhamdulillah, terimakasih dokter" Seru Ila tersenyum kepada dokter Helena


"Sama-sama, Teman-teman anda bisa ditemui setelah dipindahkan ke ruang rawat mereka. Kalau begitu saya permisi dulu ya" pamit Dokter Helena


"Iyah terimakasih dokter" Jawab Ila dan Bang Zardan bersamaan. Dokter Helena mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan berjalan meninggalkan pintu depan ruang UGD


"Kalau begitu abang pamit pulang dulu yah dek, masih banyak hal yang harus abang urus di pos. Kalau Viara udah sadar, segera hubungi abang yah" Ucap Bang Zardan


"Iyah Bang, terimakasih sudah anterin kami kesini yah. Mari adek temani sampai ke depan" Ujar Ila tersenyum dan mengantar Bang Zardan ke depan puskesmas.


"Cepat bangun yah Viara, pak Dino. Aku akan kesepian di sekolah nanti jika tidak ada kalian berdua disampingku" lirih Ila menatap kedua temannya dengan tatapan sendu.


Ila ikut menjatuhkan air matanya melihat kondisi Viara sekarang. Meskipun Viara masih terlelap dan belum membuka matanya, namun sudut mata Viara terus mengeluarkan air mata dalam tidur lelapnya


"Yang kuat yah Viara, kamu tidaklah salah, jadi janganlah menangis lagi. Tidurlah dengan tenang sekarang. Setelah kamu terbangun nanti, kita akan memperbaiki semua yang salah bersama-sama. Kamu tenang yah, semuanya akan baik-baik saja nanti" Ucap Ila menghapus air mata di sudut mata Viara sambil tersenyum. Ila merebahkan tubuh lelahnya di sofa dan perlahan-lahan menutup mata


"Semuanya akan baik-baik saja"


__________


Keesokan hatinya pukul 16.20 sore, ila tersenyum senang melihat Viara yang mulai menggerakkan jari-jari tangannya. Viara membuka matanya perlahan-lahan dan dalam pandangannya yang sangatlah kabur, Viara bisa melihat bayangan Ila yang duduk di samping brankarnya


"Kamu sudah sadar Viara?" Tanya Ila lembut dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum


"Sini aku bantu" seru Ila dengan telaten membantu Viara untuk duduk bersandar


"Ila, bagaimana kondisi pak Dino sekarang?" Tanya Viara cemas. Ila mengontrol nafasnya dan mencoba tersenyum pada Viara


"Karena hantaman yang sangat keras di kepalanya, pak Dino mengalami koma sekarang" kata Ila menghela nafasnya sambil melihat pak Dino disebelah brankar Viara.


Viara mengikuti arah pandang Ila, seketika bulir bening lolos dari matanya melihat tubuh pak Dino yang terpasang banyak alat-alat medis. Viara perlahan-lahan turun dari brankarnya, dan berjalan tertatih mendekati pak Dino dengan air mata yang membasahi pipinya


"Pak Dino hiks.. hiks.. Maafkan aku. Kamu jadi seperti ini karena kesalahnku. Kalau bisa maafkan aku pak Dino hiks.. Hiks.." lirih Viara mengenggam tangan lemah pak Dino.


Ila berjalan menghampiri Viara dan memeluk sahabatnya erat mencoba untuk menguatkannya


"Kamu tenang yah Viara, dokter bilang pak Dino sudah baik-baik saja, tinggal menunggu kapan pak Dino terbangun dari tidur lelapnya" kata Ila mengelus punggung bergetar Viara yang semakin terisak di bahunya


"Ini salahku Ila hiks..hiks.. Pak Dino jadi seperti ini karena kesalahanku. Semua ini salahku Ila hiks.. hiks...." Teriak Viara menangis kencang


"Ini bukanlah salahmu Viara, jadi janganlah menyalahkan dirimu seperti ini. Tenanglah, ada aku di sampingmu. Semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Waktu pasti akan berpihak pada kita, saat kenyataan yang sebenarnya telah terjawab nanti. Tetap kuat yah" Ucap Ila mengusap lembut punggung bergetar Viara dan menghapus lembut air mata dipipinya

__ADS_1


Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka menampakkan dokter Helena yang berjalan mendekati mereka


"Nona Viara sudah bangun? Bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Dokter Helena ramah


"Alhamdulillah saya sudah merasa baikan dokter. Apa saya boleh pulang sekarang?" Tanya Viara setelah menghapus air matanya


"Tunggu setelah saya memeriksa anda yah" Viara menganggukkan kepalanya dan membiarkan dokter Helena yang kembali memeriksa tubuhnya


"Anda bisa pulang sekarang. tapi ingat, jangan stres atau tertekan yah, itu bisa memperparah kondisi kesehatanmu. Saya sudah meresepkan obat untukmu, jangan lupa diminum yah" Ucap dokter Helena setelah selesai memeriksa Viara


"Baiklah, terimakasih dokter" Ucap Viara mencoba tersenyum kepada dokter Helena. Dokter Helena menganggukk dan beralih memeriksa pak Dino


"Ila, tolong jagain pak Dino disini yah" pinta Viara dengan mata berkaca-kaca


"Mau kemana Viara?" Tanya Ila


"Aku ingin sendirian untuk sementara waktu" ucap Viara mencoba tersenyum pada Ila dan berjalan keluar rumah rawatnya


"Aku tahu ini sangatlah berat bagimu Viara. Tetap kuat yah" gumam Ila menatap punggung Viara yang menghilang di balik pintu


___________


"Ku langkahkan kaki ini, menyusuri setiap jalanan yang pernah kita lewati bersama. Namun sekarang sangatlah berbeda, sekarang aku hanya bisa tertunduk disepanjang jalan ini. Karena setiap kali aku mengangkat wajahku dan menatap sekitar, aku kembali teringat akan kenangan kita dulu yang membuatku kembali menangis. Mengapa kamu tak mau mendengarkanku? Apakah aku begitu buruk di pikiranmu? Begitu bencinya kamu padaku hingga kamu tak menoleh kebelakang dan pergi menjauhiku. Apakah aku memang tak pantas di cintai oleh seorang manusia?" batin Viara menangis dalam diamnya dan terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan desa yang sangat sepi


Setelah berjalan kaki selama 20 menit, Viara berjalan menghampiri Bang Zardan yang tengah duduk di depan pos para tentara


"Viara? Kemarilah" Panggil Bang Zardan membawa Viara duduk di sampingnya.


Bang Zardan juga menyerahkan segelas air kepada Viara dan langsung diteguk habis tak bersisa oleh Viara


"Kakak..." lirih Viara menatap bang Zardan dengan mata berkaca-kaca


"Iyah Ara, kakak disini. Ada apa hmm?" Tanya Bang Zardan lembut


"Kakak, apa bang Pandu ada di dalam?" Tanya Viara menahan air matanya agar tidak tumpah.


Bang Zardan mengela nafasnya dan mengelus puncak kepala Viara dengan lembut


"Pandu sudah pergi kemarin sore Ara, tugasnya disini sudah selesai" air mata yang sejak tadi dibendung kembali luluh membasahi pipi setelah mendengar ucapan bang Zardan


"Tapi dia tidak boleh pergi dengan membawa kesalahpahaman kak hiks..hiks. Dia tidak boleh pergi dengan hati penuh kebencian padaku. Aku belum mendengar salam perpisahan darinya hiks.. Aku juga belum membalas lambaian tangannya padaku kak. Kenapa dia tega meninggalkan aku sendiri disini hiks... hiks.." Lirih Viara semakin terisak.


Bang Zardan refleks memeluk teman semasa kecilnya yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya dan mengelus punggung bergetar nya dengan lembut


"Kakak tahu ini semua pasti berat bagimu, tapi kamu harus tetap kuat Ara, jangan seperti ini. Jika kamu ingin menangis dan berteriak sekenceng mungkin, maka lakukanlah itu sekarang Ara. Keluarkan semua air mata yang kamu tampung selama ini, dan teriak lah sekencang-kencangnya mengeluarkan semua amarah dan beban yang kamu pendam sendiri. Setelah itu, bangkitlah Ara, jangan selalu terlarut dalam kesedihan" Ucap Bang Zardan mengelus punggung bergetar Viara


"Tapi Ara salah kak hiks.. Kalau Ara nggak salah, mana mungkin bang Pandu akan marah dan pergi ninggalin Ara sendiri disini hiks..hiks..Ara salah kakak!!" lirih Viara semakin terisak di bahu Bang Zardan


"Tidak Ara, kamu tidaklah salah. Pandu hanya belum menyadari dan mendengar kebenaran yang sebenarnya terjadi. Semua itu butuh waktu Ara, dan semua akan kembali seperti semula jika waktu itu telah tiba. Sudah-sudah, jangan menangis lagi yah. Ara nggak sendirian kok, kan ada kakak, ada teman-teman Ara, dan juga ada personil kakak yang sudah menjadi teman Ara kan, jadi Ara nggak sendirian disini. Jika Ara sedih, maka datang dan ceritakan semua keluhanmu pada kakak, kakak akan selalu ada dan mendengarnya" Ucap Bang Zardan menghapus air mata Viara dengan lembut


"Terimakasih sudah menjadi teman Ara sejak Ara kecil dulu yah kak, kakak selalu ada kalau Ara lagi nangis, sama seperti dulu. Walaupun kita sudah beranjak dewasa, namun sifat kakak tidak pernah berubah. Tetap jadi kakak angkat Ara yah kak" pinta Viara menghapus air matanya


"Siap Ara" balas Bang Zardan membuat Viara menerbitkan senyumnya


"Ara pergi dulu yah kak, Ara pengen sendirian untuk sementara"


"Iyah Ara, Hati-hati yah" Ucap Bang Zardan lembut.


Viara menganggukkan kepalanya dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang dia sukai.


Kini, Viara telah sampai di tempat yang dia ingin datangi kembali. Tempat dimana terdapat sebuah kenangan yang tak akan pernah dilupakan Viara. Viara duduk di tepi dan mulai melihat indahnya air danau dibawah kakinya


"Walaupun kamu membenci dan menghinaku yang bukan-bukan kemarin, namun aku tak bisa menemukan cara untuk membalas kebencianmu padaku. Kamu memang mematahkan dan menghancurkan hatiku berkeping-keping, namun dalam hati ini selalu teringat akan dirimu. Kamu memang telah mengangkat tangan dan berani menyakitiku, bahkan ayahku saja tidak pernah melakukan tindakan itu padaku,tapi aku tetap saja menyayangimu Pandu. Cinta dihati ini terlalu dalam untukmu hingga aku tenggelam didalamnya. Cinta ini begitu nyata untukmu, hingga aku lupa jika kamu telah membenciku sekarang" gumam Viara kembali berlinang hingga air matanya jatuh menetes dan menyatu dengan air danau


"Aku akan selalu merindukanmu Pandu, meski aku tahu rindu itu tak akan terbalas lagi. Aku masih mencintaimu Pandu meski kamu telah pergi meninggalkanku tanpa berbalik padaku disini"


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2