Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 73. Jangan Mencariku Lagi


__ADS_3

7 hari kemudian


"Bang, hari ini abang harus kembali ke Batalyon yah" Ucap Ila mendekati Bang Rama yang memasukkan barang-barang di truk bersama rekan-rekannya


"Iyah dek, abang harus kembali kesana. Tapi adek senang kan udah ketemu abang lagi?" Tanya Bang Rama diangguki Ila sambil tersenyum


"Iyah bang, tapi nanti adek bakalan rindu sama abang lagi" lirih Ila memeluk bang Rama


"Iyah sayang, abang juga akan merindukanmu. Kan tinggal 2 bulan lagi adek bertugas disini. Setelah tugas adek selesai, maka abang akan datang menjemputmu. Kita akan langsung pengajuan nikah di Batalyon nanti" ucap bang Rama menghapus air mata di pipi Ila


"Iyah Bang" Ila menghapus air matanya dan tersenyum manis pada kekasihnya.


Bang Rama melirik Pandu yang telah masuk kedalam truk dan tersenyum getir karena Pandu tak mau melihat Viara untuk terakhir kalinya sebelum mereka pergi. Selama ini Ila dan Viara tidak tahu jika Pandu atau yang sering dipanggil Bang Praditya ada disini, karena Pandu yang jarang muncul di hadapan keduanya dan Pandu juga sering mengenakan masker dan topinya, sehingga wajahnya sangat sulit di kenali


"Dek, Viara dimana? Kok nggak ada disini?" Tanya Rama dengan suara sedikit lebih besar agar Pandu bisa mendengarnya.


Mendengar suara bang Rama, Pandu berbalik dan menatap dua orang itu dibelakang sana


"Viara ada didalam rumah bang, sudah 7 hari dia tidak keluar karena lagi tidak enak badan katanya. Viara juga tak mengajar selama 7 hari belakangan. Semua itu karena sekolah diliburkan setelah pengumuman penaikan kelas bang" Tutur Ila menjelaskan


"Semoga dia cepat sembuh. Adek juga harus terus jagain Viara yah, kalau nggak ada adek, siapa yang akan membantunya untuk tetap kuat. Abang yakin, tidak lama lagi Viara pasti akan bahagia dan tidak akan pernah mengalami sakit lagi" Ucap bang Rama diangguki Ila sambil tersenyum


"Yaudah sayang, abang pergi dulu yah" pamit Bang Rama mengelus puncak kepala Ila


"Tunggu Bang Rama!!" Bang Rama menghentikan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Viara yang memanggilnya.


Begitu juga dengan Pandu dan Ila yang berbalik menatap Viara dibelakang sana


"Tunggu sebentar bang" Pinta Viara. Dengan langkah kakinya yang semakin lama semakin pelan, Viara sekuat tenaga berjalan mendekati Bang Rama dengan senyuman yang dia terbitkan. Bang Rama dan Ila menatap sendu Pada Viara yang tampilannya sangat kacau, bahkan dibawah matanya telah menghitam dan sembab tanda jika dia selalu menjatuhkan air matanya. Ila meneteskan air mata karena dia sangat mengerti arti dibalik senyuman yang tengah Viara pancarkan sekarang. Tubuh lemah itu terus tersenyum dan melangkah tertatih mendekati keduanya


"Bang Rama, jika abang ketemu sama bang Pandu di Batalyon, tolong berikan ini padanya yah!!" Pinta Viara menyerahkan kotak berbentuk hati ditangan bang Rama dengan wajahnya yang terus tersenyum


"Iyah dek, kalau abang ketemu bang Pandu, abang akan memberikan ini untuknya" Jawab Bang Rama tersenyum manis pada Viara


"Terimakasih bang, tolong katakan juga padanya, jika suatu saat nanti, ketika kebenaran yang sesungguhnya telah sampai di telinganya, tolong katakan padanya jangan kembali atau mencariku lagi. Aku tidak ingin melihatnya menangis karena aku lagi, karena mungkin saat itu, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini" Ucapan Viara bagaikan sambaran petir di pagi hari


"Apa yang kamu katakan Viara? Kamu tidak boleh berkata seperti itu" lirih Ila berhambur memeluk Viara


"Kenapa kamu berkata seperti itu dek, apa maksudmu?" Gumam Pandu terus menatap Viara


"Iyah Ila, semenjak dia pergi, hidupku seolah tak memiliki semangat lagi. Aku memang berdiri kuat di hadapanmu, namun hatiku sangatlah hancur hingga aku tak kuat lagi menahan semuanya. Jangan berpikiran negatif yah, menjalani semua yang menyiksa batinku ini bukan berarti aku akan mengakhiri hidupku karena tidak kuat lagi. Aku akan tetap menjalani sisa hidupku dengan keyakinan yang masih ada di dalam hatiku. Bang Pandu memang sangat membenciku hingga dia tidak berbalik dan menemuiku, dan aku terima semua hinaannya padaku. Mungkin kebenaran yang sesungguhnya akan terungkapkan, disaat tubuh ini sudah tak memiliki nyawa lagi" Ucap Pelan Viara mencoba tersenyum dan membalas pelukan Ila padanya.


Viara menujukkan senyum tulisnya kepada kedua teman baiknya dan melangkahkan kakinya menuju ke rumah dinasnya.


Ketika tengah melangkah, Viara membalikkan badannya dan menatap seorang tentara bermasker di dalam truk yang juga tengah menatapnya

__ADS_1


"Terimaksih sudah menjagaku saat aku tak sadarkan diri 8 hari yang lalu tentara yang baik. Andai kamu adalah Panduku, pasti hatiku kembali hidup dan bahagia melihatmu telah kembali menemaniku disini" gumam Viara tersenyum manis pada tentara itu sementara tentara itu hanya diam sambil terus menatapnya


Viara membalikkan badannya dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke rumah


"Jangan tangisi aku, saat kamu tidak menemukanku lagi di dunia ini"


___________


Di warung kopi di depan Batalyon


"Ini, Viara memberikan ini untukmu" Ucap Bang Rama menyerahkan kotak pemberian Viara kepada Pandu.


Pandu hanya terdiam dan terus menatap kotak berbentuk hati pemberian Viara


"Mengapa Pandu? Mengapa kamu sangat membenci Viara? Apa kebencian itu sangat besar padanya hingga kamu melupakan perjuanganmu mendapatkan hatinya dulu? Mengapa kamu tidak melambaikan tangan dan mengucapkan sampai jumpa padanya? Mengapa kamu tidak mau mendengarkannya Pandu!! Mengapa?" Tanya Bang Rama tak habis pikir dengan temannya ini


"Aku tidak mau membahas tentangnya Rama" Ucap Pandu datar


"Ternyata, hatimu memang sudah tertutup rapat oleh kebencian sehingga kamu tidak bisa lagi memahami Viara. Coba kamu pikirkan lagi Pandu, apakah sekarang Viara tengah berbahagia karena kamu membencinya? Apakah sekarang dia tertawa riang melihatmu tak ada lagi di sampingnya? Justru sekarang dia sangatlah hancur Pandu, dia bagaikan tubuh tanpa adanya nyawa. Hari-hari yang dilaluinya selalu ditemani air mata dan kesepian setiap saat. Lalu katakan dimana kesalahannya sehingga kamu membencinya? Apa dia salah karena begitu sangat mencintaimu hingga dia terluka karena cintanya sendiri? Apa dia salah karena selalu berusaha untuk mencintaimu sepenuh hati meski sangatlah sulit bagi nya untuk membuka hati kepada orang yang baru? Katakan dimana kesalahannya sehingga kamu menghukumnya sekejam ini? Katakan dimana kesalahannya sehingga kamu berkata yang bukan-bukan tentang wanita sebaik dirinya?" Tanya Bang Rama mengoyangkan bahu Pandu.


Pandu tetap terdiam mendengarkan setiap pertanyaan yang terus dilontarkan Bang Rama padanya


"Jawab Aku Pandu!!" Tegas Bang Rama


"Baiklah jika itu maumu Pandu. Kamu lebih memilih mempertahakan egomu dibandingkan rasa cintamu. Kau bilang Viara pembohong bukan? Tapi aku melihat justru kamulah yang pembohong. Mulutmu memang mengatakan jika kamu sangatlah membenci wanita itu, tapi matamu tidak bisa berbohong Pandu. Dalam matamu, masih terdapat cinta yang besar untuk gadis itu, namun pikiranmu menepis jika kamu masih mencintai Viara. Kau boleh berkata yang buruk-buruk pada gadis itu, namun hatimu masi sangatlah mengagumi dan mengharapkan kehadiran gadis itu. Aku hanya berharap, kamu tidak akan menyesal ketika hati Viara bukan lagi untukmu. Aku hanya ingin agar kamu tidak menangisi hari-hari ini dimasa depan nanti" Ujar Bang Rama berlalu meninggalkan Pandu sendirian


"Apa yang dikatakan Bang Rama itu benar? Apakah aku terlalu egois hingga melupakan cintaku pada wanita itu? Apakah aku terlalu membenci wanita itu hingga tega melukainya sekejam itu? Apa aku telah salah jalan?" gumam Pandu menatap nanar pada kotak merah ditangannya.


Tak sengaja bulir bening lolos dari matanya mengingat terkahir kali dia bertemu Viara 2 hari yang lalu. Gadis cantik itu terlihat sangat kurus dan berantakan, seolah dia dihukum atas rasa cintanya yang begitu tulus dan besar kepadanya. Pandu ingin sekali memeluk tubuh rapuh itu, namun setiap melihat wajah wanita itu Pandu kembali teringat kejadian 2 bulan lalu yang kembali menyalakan api kemarahannya.


"Aku hanya ingin kamu bersamaku Viara, bukan bersama yang lain. Aku pernah merasa hancur dulu, tapi semenjak menemukanmu, hatiku kembali terbuka untuk mencintai seseorang kembali. Tapi kenapa kamu tega memeluk orang lain tepat didepanku Viara? Apakah pelukan hangat dan kasih sayangku padamu selama ini sangatlah tidak cukup untukmu" gumam Pandu menatap kotak pemberian Viara dengan tatapan sendu


"Sayang kenapa bengong sendirian disini?" Pandu refleks menyembunyikan kotak pemberian Viara di sampingnya saat melihat Tara yang berjalan dan duduk di sampingnya


"Aku hanya istirahat saja, aku masih lelah setelah bekerja seharian tadi" Ucap Pandu tersenyum pada Tara


"Yaudah, aku antar pulang yah. Besok kan kita harus pengajuan nikah di kantor" Ucap Tara lembut dan merangkul lengan Pandu untuk berjalan bersamanya. Pandu menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya di samping Tara


"Mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk bersama Viara"


_______________


"Mungkin inilah jalan takdirku. Takdir memisahkanmu dariku agar kamu bisa bersanding dengan wanita yang jauh lebih sehat dariku. Wanita yang sangat sehat yang bisa menemanimu hingga kamu tua dan mati bersamanya. Wanita yang selalu mendampingimu setiap saat, berbeda dengan diriku yang tak lama lagi akan pergi untuk selamanya. Takdir selalu menyayangimu hingga tak mau kamu menangis karena kepergianku, ia menginginkan kamu bahagia, meski tak harus bersamaku. Tapi tak mengapa jika aku tak bisa memilikimu, karena aku akan terus mencintaimu selalu sampai aku mati, bahkan setelahnya" gumam Viara memeluk foto Pandu bersama dengannya.


Viara meletakkan foto itu kembali didalam lemarinya dan bergegas untuk mandi dan besiap-siap ke sekolah

__ADS_1


"Bagaimana Viara? Masih bisa kuat hari ini kan?" Gumam Viara menatap pantulan dirinya di depan cermin. Viara segera mengemasi tasnya dan berjalan keluar rumah dinasnya bersama Ila menuju ke sekolah tempatnya mengajar


"Kamu yakin mau ke sekolah hari ini Viara? Wajahmu masih terlihat pucat" kata Ila khawatir


"Tubuhku sudah mendingan kok Ila, jadi tenang saja. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku untuk mengajar murid-muridku yang tak cukup 2 bulan lagi aku akan berpisah dengan mereka semua. Jadi aku harus semangat" Kata Viara tersenyum dan membalas sapaan para warga padanya


"Aku bersamamu Viara!!" Ucap Ila mengenggam tangan Viara dan mengangguk padanya. Viara tersenyum manis kepada Ila dan berjalan bersamanya dengan bergandengan tangan.


__________


Sementara di Batalyon, Bang Rama yang baru saja datang mengepalkan tangannya dan menatap tajam pada dua orang di depan sana. Terlihat di depan sana Tara telah memakai seragam hijau sedang menggandeng tangan Pandu bersiap untuk pengajuan nikah mereka berdua.


Dengan menahan amarahnya, Bang Rama berjalan mendekati keduanya yang juga tengah menatapnya


"Jadi, kamu memutuskan untuk menyerah dan menikahi gadis ini?" Tanya Bang Rama kesal


"Iyah Bang, aku sudah memutuskan jika aku akan menikahi Tara, hanya Tara saja yang akan menjadi pendampingku, bukan yang lainnya" Jawab Pandu mengenggam tangan Tara.


Tara tersenyum manis pada Pandu dan mengangukkan kepalanya kepada Bang Rama


"Iyah Bang, lihatlah kami akan mengajukan pernikahan kami sebentar lagi" Ucap Tara menunjukkan map berisi berkas ditangannya


"Terserah apa yang mau kalian lakukan, aku tidak peduli" Ketus Bang Rama datar dan berjalan masuk ke kantor terlebih dahulu.


Sebelum membuka pintu, Bang Rama membalikkan badannya dan menatap keduanya dengan tatapan penuh amarah


"Semoga kalian bahagia diatas penderitaan orang lain" Tegas Bang Rama menekan setiap kalimatnya dan berlalu masuk ke kantor. Tara mengontrol nafasnya mencoba menghilangkan keterkejutannnya dan kembali merangkul lengan Pandu


"Jangan dengarkan di sayang. Ayo kita harus segera masuk ke dalam" Ucap Tara lembut.


Pandu melepaskan rangkulan tangan Tara di lengannya dan berjalan masuk terlebih dahulu kedalam kantor tanpa berbalik dan mengucapkan sepatah kata apapun pada Tara


"Sepertinya Viara sampai sekarang masi menjadi ratu di hatimu. Tapi tenang saja, tidak lama lagi kamu hanya akan menjadi milikku saja" gumam Tara tersenyum smirk dan berjalan menyusul Pandu masuk kedalam kantor


_______


Beberapa hari kemudian


"Akhirnya, setelah beberapa hari mengurus berkas pengajuan kesempatan untuk memiliki Pandu semakin terbuka lebar untukku. Yah, meskipun harus melewati tahapan-tahapan yang bikin kesal dan nyebelin, setidaknya sekarang semuanya sudah beres dan aku tinggal menunggu hari selanjutnya. Sudah diputuskan jika 1 bulan lagi acara pertunangan kami berdua akan diselenggarakan. Beberapa hari setelah pertunangan, maka aku akan menikahi Pandu dan Pandu akan menjadi milikku sepenuhnya" Seru Tara senang sambil memeluk bantal gulingnya.


Tara terus membalikkan badannya dan tertawa senang mengingat sebentar lagi dia akan mendapatkan apa yang sepantasnya menjadi miliknya


"Aku harus berterimakasih kepada Viara. Kalau bukan karena kejadian hampir 3 bulan yang lalu, maka aku tidak akan pernah berjalan sebebas ini untuk memiliki Pandu. Terimakasih Viara, terimakasih telah mengembalikannya padaku"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2