Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 65. Cincin Abang Dimana?


__ADS_3

Keesokan paginya pukul 4 dini hari, Viara terbangun dari tidur lelapnya dan berjalan ke depan cermin. Viara menatap sendu pada pantulan perubahan dirinya di depan cermin, seketika bulir bening lolos dari matanya melihat darah yang kembali menetes dari hidungnya.


Dibelainya rambut panjang yang selalu tertutup hijab, dan Viara kembali menangis melihat helai rambut yang semakin lama semakin banyak ketika dibelai atau disentuh


"Apa aku bisa mendampingimu bang?" lirih Viara menutup mulutnya agar suara isak tangisnya tak membangunkan kedua temannya


Viara menghapus air matanya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi dan rapi dengan seragam dinasnya, Viara berdiri menatap pantulan wajahnya di cermin dan kembali meneteskan air mata melihat hidungnya yang kembali meneteskan darah segar.


Viara langsung membersihkan hidungnya dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Tak lupa Viara meminum berbagai jenis obatnya sebelum melangkahkan kakinya ke luar rumah


"Semoga hari ini, Rabbiku masih memberiku kekuatan dan kemudahan menjalani kewajibanku" gumam Viara tersenyum dan menutup pintu rumah dinasnya.


Ketika Viara membalikkan badannya, Viara menyunggingkan senyumnya dan melanjutkan langkahnya menghampiri Pandu yang tengah menunggunya di pinggir jalan sambil bersandar di motornya


"Assalamu'alaikum abang sayang" Sapa Viara menyalami tangan Pandu


"Walaikumsalam sayang, ayo abang anterin kamu ke sekolah" Kata Pandu memakaikan helm di kepala Viara sambil tersenyum.


Viara langsung menaiki jok belakang motor dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Pandu


"Dieratin dong peluknya dek" goda Pandu melihat Viara dari kaca spionnya


"Heheh siap bang" balas Viara semakin mempererat rangkulan tangannya di pinggang Pandu


"Nah gitu baru benar. Pegangan yah sayang" Kata Pandu senang dan mulai melajukan motornya


"Bagaimana hari ini dek, adek sehat?" Tanya Pandu sambil memperhatikan jalanan


"Alhamdulillah adek sehat bang, kalau sama abang yah adek selalu sehat. Buktinya jantung adek selalu berdebar kencang saat peluk abang seperti ini" Ucap Viara menyandarkan dagunya di bahu Pandu


"Hahha, udah makin pintar yah godanya"


"Kan abang yang ngajarin" balas Viara sambil tertawa di belakang Pandu.


Pandu tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasihnya yang juga membuatnya ikut tertawa


"Awas kamu yah dek"


Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, kini motor yang di jalankan Pandu telah berhenti sempurna tepat di depan gerbang sekolah


"Alhamdulillah, terimakasih sudah anterin adek lagi yah abang sayang" Ucap Viara menyerahkan helm pada Pandu


"Sama-sama sayangku. Semangat hari ini yah"


"Iyah siap bang" balas Viara tersenyum dan meraih tangan Pandu untuk menyalaminya.


Viara tertegun karena tidak mendapati adanya cincin yang melingkar di jari Pandu setelah Viara selesai menyalami tangannya


"Bang, cincin abang kemana?" Tanya Viara menatap Pandu


Mendengar pertanyaan Viara, Pandu refleks melihat jarinya dan terkejut melihat cincinnya tak lagi melingkar di sana


"Iyah dek, abang lupa ditaruh dimana. Tapi abang nggak pernah lepas cincin itu dari tangan abang kok" kata Pandu sedikit cemas


"Nanti abang cari di pos yah, mungkin terjatuh disana dan abang tidak menyadarinya" Ujar pandu diangguki Viara sambil tersenyum


"Iyah bang, adek percaya sama abang kok. Nanti adek bantu cariin di teras rumah. Jika abang nemu duluan cincinnya, segera hubungi adek yah bang, biar adek pasangin lagi di jari abang" pinta Viara mengusap lembut pipi Pandu


"Tentu saja sayangku. Sekarang abang kembali ke pos dulu yah sayang" pamit Pandu mengecup kening Viara


"Iyah bang, Hati-hati" Ucap Viara tersenyum dan melambaikan tangan Pada Pandu yang mulai melajukan motornya.


Setelah Pandu tak terlihat diujung jalan, Viara tersenyum dan melangkahkan kakinya memasuki sekolah


Sementara di perjalanan pulang


"Aku jatuhin dimana yah cincin itu? Semoga jatuhnya di sekitar pos" gumam Pandu sambil memperhatikan jalanan.


Pandu menghentikan motornya dan memberikan jalan agar dilewati anak-anak sekolah yang berlari mendekati kerumunan di seberang jalan. Ditengah kerumunan anak-anak yang berseru kegirangan, Pandu melihat ada seorang wanita yang dia kenali tengah membagikan sesuatu kepada anak-anak. Pandu bergegas turun dari motornya dan bergabung dengan kerumunan


"Saya kak, saya kak!!!" seru anak-anak bersamaan


"Iyah anak-anak, tetap tenang yah, semuanya kebagian kok" ucap Tara senang dan menyerahkan sebungkus makanan di tangan setiap anak


"Terimakasih kakak baik" Ucap anak-anak itu serentak dan berjalan bersama menuju sekolah mereka dengan girang


"Sama-sama dek, belajar yang semangat yah" kata Tara tersenyum dan membalas lambaian tangan anak-anak padanya


"Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan?" Tanya Pandu.


Tara mendongkakkan kepalanya dan tersenyum melihat Pandu yang telah berdiri 3 meter di depannya


"Aku sedang membagikan sedekah pada anak-anak untuk memperingati hari kelahiranku" balas Tara tersenyum


"Ohh tanggal 15 juni yah, selamat ulang tahun Tara" Ucap Pandu diangguki Tara sambil tersenyum


"Seperti setiap tahun, jika kamu memperingati hari kelahiran, maka kamu akan membagikan makanan yang berbeda-beda tiap tahunnya. Sekarang makanan apa yang kamu bagikan lagi?" Tanya Pandu membantu menyusun isi kantung kresek yang dipegang Tara


"Ini nasi goreng, aku membelinya di ibunya Santi setelah shalat subuh dini hari tadi" jawab Tara tersenyum melihat Pandu yang membantunya


"Ini masih banyak, mau dibagiin kemana selanjutnya?" Tanya Pandu kembali


"Mau aku dibagiin ke para pekerja perbaikan jalan" balas Tara


"Ohh yaudah, sini aku antar, kebetulan satu jalan juga" Ucap Pandu berjalan menaiki motornya diikuti Tara dibelakangnya.


Tara segera naik ke jok belakang motor Pandu dengan perasaan senang. Setelah memastikan semuanya aman, Pandu mulai melajukan motornya sambil memperhatikan jalanan berlubang di depannya

__ADS_1


"Pandu, aku dengar dari bang Zardan jika kamu akan selesai tugas disini beberapa hari lagi" Ujar Tara mencoba bercengkrama dengan Pandu


"Iyah, 4 hari lagi aku akan kembali ke kota dan bertugas disana" Jawab Pandu sambil memperhatikan jalanan


"Syukurlah, dalam 4 hari lagi aku juga akan ke kota. Kota dimana kita lahir dan tumbuh besar disana. Semoga setelah kamu kembali ke sana, kamu bisa melihat kenangan kita bersama dan kembali mencintaiku seperti dulu lagi" batin Tara tersenyum senang sambil menatap Pandu dari kaca spion


Sesampainya di lokasi pengerjaan jalan


"Terimakasih yah Pandu, sudah meluangkan waktumu untuk mengantarku kesini" ucap Tara tersenyum tulus


"Sama-sama, aku pulang dulu yah assalamu'alaikum" Pamit Pandu sambil membunyikan motornya


"Walaikumsalam" balas Tara tersenyum dan terus melihat punggung Pandu yang semakin menjauh bersama motornya


"Semoga kita bisa kembali seperti dulu lagi Pandu" gumam Tara penuh harap


________


Setelah sampai di depan pos, Pandu bergegas turun dari motornya dan berlari masuk kedalam pos. Pandu mengecek kamar dan semua ruangan, namun benda yang dicarinya tak kunjung dia temukan


"Cari apaan bang? Disini nggak ada tikus untuk dibunuh" Tanya Bang Niko yang tengah memasak di dapur.


"Bukan cari tikus bang" Jawab Pandu masih memeriksa dibawah meja


"Lalu? Nyari ular yah bang?" Tanya Bang Niko kembali


"Bukan!!! Abang lihat nggak cincin saya yang jatuh entah dimana?" Tanya Pandu


"Saya nggak lihat bang. Ngomong-ngomong abang simpan dimana cincinnya?"


"Nggak tahu bang, kalau saya tahu dimana jatuhnya tinggal diambil saja, bukan nanya lagi kayak gini lagi" Jawab Pandu sedikit frustasi


"Siap salah bang. Ayo saya bantu cari" Ucap Bang Niko ikut mencari cincin Pandu.


Sudah 25 menit mencari, namun benda yang dicari belum juga ditemukan. Mereka bahkan sudah mengelilingi area sekitar pos dan halaman rumah dinas para guru, namun hasilnya tetap nihil


"Abang nemu nggak cincin saya?" tanya Pandu pada Bang Niko


"Belum ketemu bang, ngomong-ngomong kapan terakhir kali abang mengingat saat abang memakai cincin itu?"


"Di depan teras rumah dinas para guru bang, tapi kita udah cari-cari disana tapi tetap nggak ketemu tadi" kata Pandu semakin cemas


"Tenang saja bang, nanti kita nanya rekan-rekan kita sebentar, siapa tahu mereka menemukan cincin abang. Kalau nggak ada yang nemu, kita bisa nyari bareng sama mereka" Saran Bang Niko menepuk bahu Pandu.


Pandu mengela nafasnya kasar dan berjalan kembali ke pos bersama Bang Niko


"Semoga cincinnya lekas ketemu"


__________


Didalam ruang kelas 3 Sekolah Dasar, Viara berdiri di depan sambil menjelaskan cara memecahkan soal Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) di papan tulis. Setelah selesai menjelaskan, Viara beralih menatap murid-muridnya


"Sudah mengerti bu" Ucap beberapa murid Viara serentak


"Bu Viara, kok hidung Bu Viara ada darahnya?ibu sakit yah? " Tanya salah satu murid yang duduk paling depan.


Mendengar pertanyaan anak itu, Viara refleks menyentuh hidungnya dan benar saja jika darah kembali mengalir keluar dari hidungnya hingga terkena jari tangannya


"Tidak nak, ibu nggak apa-apa kok" sangkal Viara sambil tersenyum setelah membersihkan darah dari hidungnya


"Sekarang buka buku kalian halaman 5, di bagian paling bawah halaman terdapat soal kerja berjumlah 5 soal. Kalian kerjakan yah, caranya seperti yang ibu jelaskan tadi" titah Viara lembut


"Baik Bu" jawab semua murid serentak dan langsung mengerjakan soal tersebut sesuai perintah guru mereka


Melihat semua muridnya masih fokus mengerjakan soal, Viara melangkahkan kakinya keluar sambil memakai masker yang selalu disediakannya didalam tasnya. Viara mengetik nomor dokter Citra di ponselnya dan mulai menghubunginya


Tuutt


"Halo Assalamu'alaikum Viara" sapa dokter Citra diseberang sana


"Walaikumsalam dokter. Apa dokter masih bekerja di rumah sakit kota?" Tanya Viara


"Iyah Viara, aku masih diminta untuk mengurus rumah sakit ini oleh pamanku. Ada apa?" tutur dokter Citra lembut


"Begini dokter, aku kembali mengalami masalah dengan pernapasanku. Bisakah dokter membuat jadwal pemeriksaanku besok?" Tanya Viara


"Baiklah Viara, besok kau boleh datang kesini, aku akan menyiapkan ruangannya untuk pemeriksaanmu besok"


"Terimakasih banyak dokter" seru Viara senang


"Sama-sama Viara". Viara dan dokter Citra lanjut membahas tentang obat-obatan dan kesehatan Viara.


Sesudah obrolan singkat itu berakhir, Viara kembali melangkahkan kakinya masuk ke kelas tempatnya mengajar.


2 jam kemudian, setelah jam pulang tiba, Viara melangkahkan kakinya ke depan gerbang sekolah sambil menatap layar ponselnya


"Bu Viara, mau saya antar pulang, sekalian bareng" Ajak Pak Dino yang berada tepat didepan Viara dengan menaiki motornya


"Nggak usah Pak, saya lagi menunggu seseorang" tolak Viara sopan


"Baiklah kalau begitu, saya pulang duluan yah bu, Assalamu'alaikum Bu Viara" pamit Pak Dino


"Walaikumsalam Pak" Jawab Viara lembut dan kembali menekan ponselnya


"Abang... abang... abang.." Kata Viara mencari kontak Pandu di ponselnya


"Abang disini sayang" mendengar suara bariton khas itu, Viara mendongkakan kepalanya dan menyunggingkan senyumnya melihat Pandu sudah ada di depannya sambil duduk nyaman di motornya

__ADS_1


"Abang!!!" seru Viara senang langsung meraih tangan Pandu dan menyalaminya


"Naiklah sayang" ajak Pandu tersenyum dibalas anggukan kepala oleh Viara.


Viara menaiki jok belakang motor Pandu dan melingkarkan tangannya di pinggang Pandu


"Sudah siap dek?" Tanya Pandu lembut


"Sudah bang, ayo jalan" seru Viara. Pandu menganggukkan kepalanya dan mulai mengendarai motornya kearah jalan pulang mereka.


Pandu tak henti-hentinya tersenyum menatap wajah Viara yang memakai masker lewat kaca spion motornya. Menyadari jika Pandu terus menatapnya lewat kaca spion, Viara semakin mempererat rangkulan tangannya di pinggang Pandu dan menyandarkan dagunya di bahu Pandu.


"Kenapa natap adek terus hmm?" Tanya Viara lembut


"Kamu cantik dek. Melihat wajah adek kalau pake masker abang jadi ingat sama gadis remaja yang mencuri hati abang dulu. Gadis remaja ber masker yang mengejar abang untuk memasak bersama di dapur. Dan sejak saat itu, abang mulai mencintai gadis bermasker itu" tutur Pandu menjelaskan sambil tersenyum.


Viara menyunggingkan senyumnya mendengar penuturan Pandu dan semakin memeluk Pandu erat


"Iyah bang, adek masih ingat. Adek sampai nggak nyangka kalau abang tentara yang suruh adek buka masker karena panas sekarang menjadi kekasih adek. Terimakasih sudah mencintai adek dengan tulus sampai sekarang yah bang. Adek sayang abang" seru Viara senang dibahu Pandu


"Sama-sama sayangku. Abang juga sayang banget sama adek. Terimakasih sudah hadir di hidup abang yah" Ucap Pandu bahagia dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum


"Tanpamu hatiku takkan melekat di dada dan tanpamu juga hatiku tak akan bisa hidup. Tak apa jika semuanya pergi meninggalkanku, asalkan tidak denganmu duhai permata hatiku" batin Viara menyandarkan pipi kanannya di punggung Pandu sambil tersenyum


____________


Keesokan paginya, setelah selesai membersihkan tubuhnya, Viara langsung memakai pakaiannya bersiap-siap ke kota


"Viara, kamu mau kemana? Masih pagi udah rapi aja?" Tanya Ila yang baru saja terbangun dari tidurnya


"Aku mau ke kota hari ini Ila, aku ada urusan disana" Jawab Viara tersenyum sambil mengemas barang miliknya kedalam tasnya


"Semuanya baik-baik saja Viara?" Mendengar pertanyaan Ila, seketika tangan Viara terhenti memasukan barang kedalam tasnya dan terdiam cukup di tempat


"Viara kenapa bengong?" Tanya Ila menepuk bahu Viara


"ahh, aku tidak apa-apa kok. Kalau begitu aku pergi dulu yah. Assalamu'alaikum Ila" pamit Viara sambil memakai tasnya


"Walaikumsalam Viara, hati-hati dijalan yah" Ucap Ila diangguki Viara sambil tersenyum.


Viara kembali melangkahkan kakinya keluar rumah dan bersiap menuju ke halte bus, tak lupa Viara mampir sebentar ke pos tentara untuk meminta izin kepada kekasihnya


"Bang Edi, bang Pandu nya ada nggak?" Tanya Viara pada bang Edi yang baru saja keluar dari pos


"Bang Pandu keluar sejak subuh tadi dek,abang nggak tau bang Pandunya pergi kemana" tutur bang Edi menjelaskan


"Baiklah bang, terimakasih" ucap Viara tulus. Bang Edi mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan langsung berlalu meningalkan pos tentara


"Abang kemana yah?" gumam Viara merogoh ponselnya didalam tas untuk menghubungi Pandu.


Beberapa menit kemudian


"Duh,abang nggak bisa dihubungi. Abang kemana yah? Mungkin abang lagi di daerah sekitar yang tidak memiliki sinyal" gumam Viara.


Viara melirik jam tangannya dan tertegun melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6.45 pagi


"Tinggal 15 menit lagi sebelum busnya berangkat. Lebih baik aku kesana segera dan aku akan mengubungi abang setelah abang bisa dihubungi nanti" gumam Viara melangkahkan kakinya menaiki mobil angkot yang menuju ke desa sebelah.


Setelah sampai di desa sebelah menggunakan angkot yang dinaikinya, Viara berlari menaiki bus dan mencari kursi untuknya duduk


"Semoga aku bisa sembuh dan semoga hasilnya adalah yang terbaik saat aku kembali ke kota nanti" gumam Viara mengusap lembut dadanya.


Viara mengetik ponselnya berusaha untuk menghubungi Pandu, namun nomor yang dihubunginya kembali tidak aktif


"Nggak apa-apa lah, tanpa kabar dari abang pun aku tetap mencintainya. Baik-baik didesa yah bang, Aku akan selalu merindukanmu" gumam Viara tersenyum menatap wallpaper ponselnya


__________


Sementara di desa, Pandu tengah menyusuri area sekitar balai desa mencari cincinnya yang tak kunjung temu


"Haduh, Kira-kira jatuh dimana yah cincinnya?" gumam Pandu terus menatap kebawah mencari keberadaan cincinnya


Bugh


Karena fokus mencari, Pandu tak sengaja menabrak pak Dino hingga ponsel pak Dino jatuh ke tanah


"Ahh maafkan saya pak, saya nggak lihat anda lewat tadi" Ucap Pandu meminta maaf


"Tidak apa-apa bang, saja juga salah karena sibuk lihat ponsel jadinya nggak sadar kalau nabrak abang" kata Pak Dino ramah


"Anda guru yang bertugas di desa ini juga kan?" Tanya Pandu


"Iyah bang, perkenalkan nama saya Dino" Ucap pak Dino mengulurkan tangannya


"Saya Pandu. Lagi buru-buru yah pak?" Tanya Pandu sambil menjabat tangan Pak Dino


"Iyah bang, saya harus segera ke kota sekarang. Nanti kita lanjut lagi yah bang. saya pamit duluan. Assalamu'alaikum" pamit Pak Dino


"Walaikumsalam" balas Pandu ramah


Setelah Pak Dino pergi, Pandu kembali melihat kebawah dan mencari keberadaan cincinnya


"Semoga cincinnya lekas ketemu, kalau nggak ketemu juga semoga adek nggak marah" gumam Pandu kembali melangkahkan kakinya mencari keberadaan cincinnya


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya😉

__ADS_1


Terimakasih semua


Love You All😘💞


__ADS_2