Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 41. Takut Melukai Hati Yang Lain


__ADS_3

Setelah berhasil menghindari Ila, Viara melangkah kakinya menuju ke tenda mereka dan menghabiskan waktunya disana.


50 menit kemudian, ketika Viara tengah mencari aplikasi buku matematika online di ponselnya, Viara mendengar keriuhan dan keseruan dari arah lapangan pertandingan yang tengah berlangsung sekarang


"Apa sudah ada yang menang yah?" guman Viara bertanya-tanya


Drrrtt... Drrrtt... Viara menekan tombol hijau di layar ponselnya untuk menjawab panggilan masuk dari Ila


"Halo Viara, kamu dimana?" Tanya Ila. Dari sambungan telepon itu Viara masih bisa mendengar keseruan di lapangan dimana Ila berada sekarang


"Aku ditenda ila. apa pemenang nya sudah ada sekarang?" Tanya Viara


"Iyah Viara, sekarang sudah ditemukan yang meraih juara satu dan dua. kemarilah dan lihatlah sendiri" kata Ila dengan suara pelan


"Baik Ila, aku akan segera kesana" seru Viara memutuskan sambungan dan melangkah cepat kearah lapangan.


Viara semakin cepat melangkahkan kakinya ketika suara keriuhan dan antusias dari lapangan semakin terdengar keras. Ketika Viara sudah berada di kerumunan itu, Viara menyunggingkan senyumnya menyadari jika Tim Serigala adalah pemenang lomba kejuaraan Voli putra tersebut


"Selamat yah bang" seru Viara senang melihat Andra yang diangkat oleh rekan-rekan setimnya karena berkat smash keras Andra, Tim Serigala berhasil menang telak dari tim Jaguar. Andra menyuruh teman-temannya untuk menurunkannya dan berjalan menghampiri Viara yang berdiri di samping lapangan


"Terimakasih sayangku. Kamulah penyemangat dihidup abang. Terimakasih atas dukunganmu untuk abang yah" Ucap Andra mengelus puncak kepala Viara dengan penuh kasih sayang. Semua orang yang melihat pemandangan itu saling melemparkan senyum dan ada juga yang terharu


"Pertahankan Danru!!" seru bang Jaya mendapatkan gelak tawa dari semua orang


"Dipersilahkan untuk ketiga juara agar segera naik ke panggung, berhubung acara penyerahan hadiah lomba voli putra akan segera dimulai" seru MC mengumumkan.


"Ayo dek, kita kesana" ajak Andra dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum.


Andra mengenggam tangan Viara erat dan berjalan beriringan bersamanya menunju panggung seolah Viara hanyalah miliknya seorang. Andra semakin mempererat gengaman tangannya dan tersenyum manis pada Viara yang tersenyum kearahnya karena merasa sangat nyaman dan aman ketika Andra menggengam tangannya


"Selama aku bersamamu, aku yakin aku akan akan baik-baik saja" kata Viara dalam hati sambil tersenyum melihat tangannya yang digenggaman erat oleh tangan Andra.


Ketiga pemenang lomba itu mulai menaiki panggung dan menerima hadiah kemenangan mereka. Setelah acara penyerahan hadiah selesai, dilanjutkan dengan acara foto bersama sebagai dokumentasi.


Karena tim guru putra SD negeri 1 yang meraih juara ketiga, Semua guru wanita juga ikut naik ke panggung dan berfoto bersama.


"Selamat yah teman-teman" seru Viara berjabat tangan dengan rekan-rekannya diikuti para guru wanita dibelakangnya. setelah juara ketiga melakukan sesi foto bersama, sekarang giliran peraih juara kedua pertama dari pertandingan voli putra tersebut. Kedua Tim (Serigala & Jaguar) melakukan sesi foto bersama-sama diatas panggung dengan mengangkat piala kemenangan. Semua orang yang menyaksikan itu tersenyum dan bertepuk tangan meriah


Prok... Prok.... Prok... (Riuh tepuk tangan)


"untuk teman-teman guru kami yang sudah kami anggap sebagai anggota keluarga kami, ayo bergabunglah bersama kami untuk berfoto bersama" seru Andra mengajak dengan Mic di tangannya


"Ayo Viara" ajak Ila menarik tangan Viara agar naik ke panggung bersamanya.


Setelah semua rekan guru naik, para tentara itu berdiri tepat di belakang para guru yang lebih rendah dari tinggi tubuh mereka. Ila berada tepat di depan bang Rama, sementara Viara berada di posisi yang sulit dia bayangkan sebelumnya dimana dia berada tepat di depan antara Andra dan Juga Pandu. Viara berusaha menahan sensasi ketakutan dan debaran di tubuhnya karena sejak tadi jantung Viara selalu berdisko riah didalam dadanya


"Senyum!!" seru fotografer sambil menata Kameranya.


Setelah sesi foto bersama selesai, Viara menghembuskan nafas lega dan berjalan menyusul rekan gurunya yang sudah berjalan mendahuluinya. Baru saya melangkah, tangan Viara langsung ditarik kebelakang hingga Viara berbalik menatap Andra dengan kedua tangannya di bahu Andra. Viara membalas senyuman manis Andra padanya, namun Viara berusaha untuk tetap fokus pada wajah Andra saja karena Viara tidak mau melihat wajah terluka lelaki disamping Andra yang selalu berhasil membuat Viara merasa bersalah. Mengerti jika dia berada di situasi yang salah, Pandu langsung berlalu pergi tanpa sepatah katapun


"Bang Pandu" batin Viara menatap sendu punggung lelaki yang berjalan menjauh dibelakang Andra


"Ada apa bang, kok adek langsung ditarik kayak tadi?" Tanya Viara lembut


"Kita foto berdua yah dek, abang udah beritahu fotografernya biar makin banyak foto kita berdua" pinta Andra memelas


"Hahah, oke bang" Ucap Viara setuju dan mulai mencari posisi yang bagus untuk berfoto bersama Andra.


5 menit kemudian


"Terimakasih yah bang, nanti kirimkan foti-foto saya yah" pinta Andra pada fotografer setelah sesi foto bersama Viara selesai


"Iyah, Sama-sama bang. kalau begitu saya pamit yah bang, saya pengen fotoin pasangan yang lain juga" pamit fotografer itu ramah


"Baiklah bang, sekali lagi terimakasih yah" Fotografer itu mengangguk dan segera turun meninggalkan panggung


"Ayo dek, tadi bu kepala desa bersama abang udah siapin tenda untuk kita makan bersama dengan personil abang. Berhubung sekarang sudah waktunya makan siang, kita kesana yuk dek, pasti teman-teman sudah menunggu kita disana" ajak Andra sambil tersenyum dan kembali mengenggam tangan Viara


"Ayo bang" balas Viara lembut dan kembali melangkahkan kakinya beriringan bersama Andra.


Sesampainya di tenda yang dimaksud Andra, terlihat jika di bawah tenda itu hanya ada keempat rekan guru Viara dengan beberapa personil Andra yang tengah menyusun makanan diatas beberapa meja rendah yang lumayan panjang


"Dimana yang lain?" Tanya Andra

__ADS_1


"Mungkin lagi ke toilet atau ditempat lain bang, tapi mereka tahu kok kalau kita akan makan bersama 25 menit lagi disini. sambil menunggu mereka datang, kami lebih memilih menata semua makanan ini diatas meja bang" lapor Bang Rama


"ohh begitu yah, kalau begitu kalian lanjutkan yah. Aku akan kembali 25 menit lagi disini karena aku masih harus berbincang soal keamanan acara ini bersama kepala desa" pamit Andra pada personilnya


"Baik, silahkan bang" seru bang Rama setuju diikuti prajurit lainnya.


"Dek, abang pergi dulu yah, abang akan kembali 25 menit lagi, tunggu abang disini yah" pamit Andra mengecup punggung tangan Viara


"Baik bang, abang hati-hati yah" balas Viara sambil tersenyum. Andra mengusap lembut puncak kepala Viara dan berlalu meninggalkan tenda mereka. Viara menyungingkan senyumnya menatap punggung Andra yang berjalan menuju tenda kepala desa dan ikut membantu rekan-rekannya menata makan diatas meja


Selang beberapa menit, para personil Andra mulai berdatangan dan ikut membantu menata makanan diatas meja. Ketika semua personil telah berkumpul bersama, Viara mengedarkan pandangannya kearah semua prajurit tersebut dan menyadari jika Pandu tidak ada diantara mereka


"ngomong-ngomong dimana bang Pandu?" Tanya Viara pada semua personil dan rekan gurunya


"Kami juga tidak melihatnya setelah acara pemotretan tadi selesai dek" tutur bang Jaya menjelaskan diangguki rekan-rekannya


"hmm, bang Pandu kemana yah?" gumam Viara sedikit cemas


"kalau begitu aku permisi nyari bang Pandu dulu yah, kalau bang Pandu udah tiba disini sebelum aku maka hubungi aku saja yah" pinta Viara pada rekan-rekannya


"Iyah siap Viara" jawab Ila dan bang Rama serentak. Viara menyungingkan senyumnya dan berlalu meninggalkan tenda mencari keberadaan Pandu


Saat sedang mencari Pandu, Viara berhenti ditempat melihat Bi Elly yang berjalan mendekatinya


"Bu Viara, bisa temani saya ke rumahnya Raya nggak bu? sekalian mengantar titipan ibu kepala desa disana" pinta Bu Elly menujukkan isi paper bag di tangannya


"Baiklah Bu Elly, kapan aku bisa menemanimu kesana?" kata Viara setuju dengan permintaan Bu Elly


"Alhamdulillah, terimakasih Bu Viara. nanti setelah acara makan siang bersama. bagaimana Bu Viara setuju nggak?"


"Baiklah Bu Elly, nanti temui aku di tenda ku yah" kata Viara lembut


"baik Bu Viara" seru Bu Elly senang.


Sesudah mengucapkan salam pada Bu Elly, Viara kembali melangkahkan kakinya ke lokasi-lokasi sekitar untuk mencari Pandu. Ketika Viara berjalan dibelakang Panggung, Viara menyungingkan senyumnya menatap punggung Pandu yang tengah berlutut sambil bercengkrama dengan seorang gadis kecil yang berusia sekitar 6 tahun. Viara melangkahkan kakinya dan berhenti beberapa meter dibelakang Pandu untuk mendengarkan pembicaranya dengan gadis kecil itu


"sudah yah dek, anak cantik nggak boleh nangis, nanti cantiknya ilang loh" Ucap Pandu menghapus lembut air mata di pipi gadis kecil itu. Pandu merogoh saku celana lorengnya dan mengeluarkan empat buah coklat berbentuk koin


"ini coklat untuk adek. Teman om bilang kalau makan cokelat nanti bisa bikin senyuman loh dek" Seru Pandu menyodorkan coklat tersebut dan langsung diterima gadis kecil itu dengan senang hati


"nggak rusak dek, asalkan jangan terus-terusan makan coklat yah, nanti gigi adek ompong. Jadi kalau sudah makan coklatnya nanti, jangan lupa gosok gigi di rumah yah dek" titah Pandu lembut sambil mengusap puncak kepala anak itu


"iyah om tentala, telimakasih sudah kasih Nia coklat" Ucap anak itu kegirangan dan berhambur memeluk Pandu


"Nia sayang, kemarilah" panggil ibu anak itu didepan sana


"iya Bu, tunggu sebental" kata gadis kecil itu melepaskan pelukannya dan mengecup pipi Pandu


"Telimakasih yah om tentala. Nia pulang dulu, udah dipanggil sama ibu" pamit Nia diangguki Pandu sambil tersenyum. Nia menyalami tangan Pandu dan berlari menyusul ibunya yang sejak tadi menunggunya


"bidadari kecil yang manis" gumam Pandu berdiri sempurna sambil menatap punggung anak itu yang berjalan menjauh bersama ibunya.


Saat Pandu berbalik ke belakang untuk meninggalkan tempat itu, Pandu tertegun melihat Viara yang berdiri 5 meter dibelakangnya sambil tersenyum padanya.


"Adek" gumam Pandu senang. Viara melangkah menhampiri Pandu dan berdiri tepat sampingnya


"Abang kok ada disini?" Tanya Viara sambil melangkahkan kakinya beriringan bersama Pandu


"iyah dek, abang kesini untuk menenangkan pikiran aja, sekalian cari hiburan dan canda tawa bersama warga disini" kata Pandu dengan suara yang terdengar sedikit bergetar. Viara mengontrol nafasnya dan mengusap lembut punggung tangan lelaki disampingnya


"Apa abang sedih karena kalah dari Tim Serigala yah?" Tanya Viara menerka


"Abang nggak sedih tidak meraih kemenangan di pertandingan tadi tapi......." Pandu menjeda ucapannya


"Tapi apa bang?" Tanya Viara masih mengusap punggung tangan Pandu


"Abang kalah dari Andra dalam memenangkan hatimu dek" kata Pandu dalam hati sambil menatap ke bawah


Deg.....


Seketika bulir bening lolos dari mata Viara menyadari sesuatu yang terlintas di hatinya


"Apa ini? mengapa aku bisa mendengar kata hatimu. Apa kita memiliki ikatan batin yang saling terhubung bang?" kata Viara dalam hati sambil menyeka air matanya dengan cepat

__ADS_1


"Ada apa dek, kok adek nangis?" Tanya Pandu lembut


"ahhh nggak bang, mata adek kemasukan debu jadinya begini" sangkal Viara mengerjab-ngerjabkan matanya


"ngomong-ngomong siapa gadis kecil tadi bang?" Tanya Viara mengalihkan pembicaraan


"Entahlah dek, abang melihatnya menangis sendirian di belakang panggung saat abang jalan-jalan santai tadi. Jadi abang berusaha menghiburnya dengan memberikannya cokelat" tutur Pandu menjelaskan sambil tersenyum mengingat anak kecil tadi.


Viara menyungingkan senyumnya melihat senyuman diwajah Pandu ketika membicarakan anak kecil tadi


"abang suka yah sama anak perempuan?" Tanya Viara lembut


"Iyah dek, abang suka sama anak perempuan. Abang berharap setelah abang menikah dan punya anak, selain anak laki-laki abang juga pengen punya anak perempuan" seru Pandu berharap


"Dan kuharap, kamulah ibu untuk anak-anakku nanti" lanjut Pandu dalam hati sambil tersenyum manis pada gadis di sampingnya


"Anak-anak memang lucu bang, itulah alasan adek mengajar di kelas satu dua dan tiga di sekolah karena dari tingkah mereka yang polos, adek bisa mendapatkan hiburan juga" kata Viara menjelaskan sambil tersenyum


"begitu yah dek?"


"Iyah bang, ayo kita ke tenda. berhubung makan siang bersama akan berlangsung" ajak Viara diangguki Pandu sambil tersenyum.


Sesampainya di tenda mereka, kebetulan masih ada waktu 10 menit sebelum makan siang bersama dimulai. Pandu dan Viara ikut bergabung dengan rekan-rekannya dan menata berbagai jenis hidangan diatas meja. Saat waktu menujukan 2 menit lagi untuk makan bersama, Viara merasa sedikit cemas karena Andra tak kunjung kembali ke tenda


"Abang dimana yah?" batin Viara sambil melirik jam tangannya


"Maaf aku terlambat" kata Andra yang baru saja kembali. Mendengar suara Andra, Viara menoleh kebelakang dan tersenyum manis melihat Andra yang berjalan masuk kebawah tenda dan duduk di sampingnya


"Abang sudah selesai urusannya sama kepala desa kan?" Tanya Viara


"Sudah selesai sayang, sekarang abang sudah ada di sampingmu jadi jangan cemas lagi dong, lihat itu ikan bakarnya udah ngambek nggak kamu perhatian" goda Andra mendapatkan gelak tawa dari personilnya. Sementara Viara yang merasa pipinya telah memanas mencubit pinggang Andra


"AW, jangan ngambek dong sayang, kamu nggak cantik kalau lagi cemberut" Ucap Andra sambil tersenyum dan merangkul bahu Viara


Selang beberapa saat, terdengar pak kepala desa menyerukan agar acara makan siang bersama dimulai


"berhubung sudah ada pemberitahuan tuh, ayo kita semua makan siang bersama-sama" seru Andra pada semua orang yang ada di bawah tenda tersebut


"Tapi jangan lupa baca doa dulu sebelum makan. Jangan karena makanan yang nikmat dan menggiurkan, kalian lupa untuk membaca doa" kata Viara mengingatkan


"Siap Bu Danru" seketika pipi Viara merah merona mendengar ucapan personil Andra serentak.


Andra dan para personilnya bersama keempat guru tertawa melihat wajar Viara yang merah merona. Andra tersenyum senang melihat wajar menggemaskan Viara dan kembali mengusap bahu Viara yang dirangkulnya


"Sudah-sudah, jangan godain Bu Danru ku dong. dilanjutkan makannya" seru Andra pada semua orang dibawah tenda itu.


Mereka pun makan siang bersama dengan khidmat dan hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar dibawah tenda tersebut. Viara menyungingkan senyumnya melihat bang Rama dan Ila yang saling menyuapi satu sama lain


"kenapa dek, mau abang suapi juga?" kata Andra berbisik di telinga Viara


"ng..." sebelum Viara menyelesaikan kalimatnya, Andra langsung menyuapi Viara hingga Viara tertegun dibuatnya, namun melihat senyuman tulus Andra membuat hati Viara merasa sangat bahagia. Viara membalas menyuapi Andra, begitu juga dengan Andra hingga mereka saling menyuapi satu sama lain


"ayo bang,dimakan yah" kata Viara berhenti menyuapi Andra sambil meletakkan ikan bakar kesukaan Andra di depannya.


Andra menyungingkan senyumnya dan mulai menyantap ikan bakar yang diberikan Viara dengan khidmat. Viara sengaja berhenti menyuapi Andra karena Viara tahu pasti ada yang terluka dengan tindakannya tadi meski Viara tetap fokus pada makanannya dan lelaki di sampingnya. Viara tak berani menatap lelaki tulus itu, karena tatapan sendunya bisa menjadi senjata terkuat untuk mengiris hati Viara.


Selang beberapa menit, makan siang bersama pun selesai dan semua orang ditenda memilih duduk sebentar dibawah tenda


"Hai dek, bagaimana hubungannya dengan Danru? apa kalian tidak melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi setelah berpacaran?" Tanya Bang Jaya ramah


"Iyah Bang, aku berniat mengajak Viara ke jenjang yang lebih tinggi karena kalau kelamaan pacaran takutnya jadi fitnah atau dosa. Jadi setelah kita selesai bertugas di desa ini, aku akan datangi kedua orang tuanya dan melamarnya dihadapan mereka" seru Andra menjelaskan mendapatkan tatapan kagum dari para personilnya


Viara mengangguk pelan sambil tersenyum menatap tangannya yang digenggam erat oleh Andra


"bagaimana dek, apa adek siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi bersama abang? Apa adek siap menghabiskan sisa umur adek bersama abang?" Tanya Andra lembut sambil mengenggam tangan Viara.


Viara mendongkakan kepalanya dan membalas senyuman manis Andra padanya


"selama tidak ada kendala atau halangan, adek siap Bang. Adek siap menghabiskan sisa umur adek bersama abang. Tapi adek takut akan ada hati yang terluka atau sedih karena kita melangkah ke jenjang yang lebih tinggi nanti. Adek ingin tidak ada air mata ketika kita melangkah nanti, yang adek inginkan agar semua orang sama berbahagia bersama kita dan hanya ada senyuman disana" tutur Viara menjelaskan sambil tersenyum


"In Syaa Allah tidak ada kendala dek, kita berdoa sama-sama yah agar kita berhasil meraih kebahagiaan ketika kita melangkah ke jenjang yang lebih tinggi nanti" Ucap Andra tersenyum dan mengusap puncak kepala Viara dengan lembut.


Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis pada Andra

__ADS_1


"Aku ingin berbahagia bersamamu bang, tapi aku tidak ingin ada seseorang yang terluka melihat kebersamaan kita. Aku sangat mencintaimu bang, begitu juga sebaliknya.Tapi ada hati lain yang sangat tulus mencintaiku. Aku tidak tega membuatnya terluka karena cintanya untukku, aku tidak ingin menghancurkan cinta tulusnya karena aku tahu bagaimana rasa sakitnya. Jika aku melihatmu bersama orang lain, tentu aku juga akan sangat terluka, begitu juga dengan lelaki tulus itu. Aku harap aku bisa menentukan pilihan yang tepat nanti"


Bersambung.......


__ADS_2