Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 79. Bagian Dari Takdirku


__ADS_3

Setelah tertidur pulas selama 24 jam, Viara perlahan-lahan membuka matanya dan menyunggingkan senyumnya merasakan segar di tubuhnya. Viara berusaha bangun dan duduk bersandar di brankar, meski tenaganya masih sangat lemah. Ketika posisinya sudah bersandar sempurna, Viara menyunggingkan senyumnya melihat pemandangan indah di bawah sana, karena ruang Viara dirawat berada di lantai 8 rumah sakit hingga Viara bisa leluasa menatap indahnya kota yang disinari cahaya senja


"Alhamdulillah Terimakasih Ya Allah. Terimakasih engkau masih menberikan hamba nafas untuk kembali memijakkan kaki di bumi ini. Terimakasih engkau masih memberiku detak jantung untuk merasakan indahnya bahagia yang engkau berikan di kisah hidupku selanjutnya. Aku berharap semoga tidak ada lagi masalah di tubuhku agar aku bisa leluasa memberikan bahagia dan senyuman kembali untuk orang-orang disekitarku" gumam Viara meneteskan air mata bahagia menatap indahnya langit biru yang terpancar sinar matahari senja


Ceklek.....


Pintu ruang terbuka menampakkan Pandu yang baru saja datang


"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya Pandu lembut sambil melangkahkan kakinya mendekati brankar Viara dengan rantang makanan di tangannya.


Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis dan langsung memeluk Pandu saat Pandu sudah berdiri tegak di sampingnya. Pandu membalas pelukan Viara padanya dan mengecup kening Viara sangat lembut


"Ayo sayang, adek makan dulu yah, biar cepat sembuh dan kuat lagi. Abang suapin yah" Kata Pandu diangguki Viara sambil tersenyum


"Aaankk" seru Pandu membuka mulutnya agar Viara melakukan hal yang sama dengannya. Viara tersenyum melihat tingkah Pandu dan langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan lembut dari kekasihnya. Viara menatap wajah Pandu di depannya seketika bulir bening berhasil lolos dari matanya


"Kenapa menangis sayang, apa makanan ini tidak enak?" Tanya Pandu melihat air mata yang menetes di pipi Viara


"Tidak sayang, makanan ini sangat enak" jawab Viara menghapus air matanya dan tersenyum manis pada Pandu


"Lalu kenapa menangis hmm?" Tanya Pandu menghapus air mata di pipi Viara


"Adek pikir, adek nggak akan pernah lihat abang lagi. Adek pikir, adek tidak akan merasakan debaran di dada lagi saat memeluk dan melihat senyuman manis dari abang. Adek pikir, adek nggak akan pernah memiliki Pandu lagi" kata Viara kembali meneteskan air mata.


Pandu membawa kepala Viara kedalam pelukannya agar Viara merasakan ketenangan dan bentuk cintanya didalam pelukan hangat itu


"Jangan pernah berpikir seperti itu sayang. Selama ini adek sudah berjuang untuk hidup dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Saking pedulinya adek, adek sampai lupa jika adek juga butuh bahagia. Tapi Tuhan tidak pernah lupa dek, Tuhan selalu mencatat setiap bahagia dan senyuman yang berhasil adek lukiskan diwajah orang lain. Tuhan akan selalu mengingat setiap perjuangan adek selama ini. Dan semua itu pasti ada bahagia yang disiapkan Tuhan untukmu. Adek masih diberikan nafas untuk merasakan indahnya keiklasan dan kesabaran yang adek jalani sampai saat ini. Dan abang akan sangat bahagia jika abanglah satu-satunya lelaki yang ditakdirkan untuk menjadi pintu bahagia untukmu. Abang ingin membuatmu bahagia sayang, dan akan selalu berusaha membuatmu bahagia, sampai rambut kita memutih bersama" kata Pandu mengusap punggung Viara dan mengecup kening nya dengan penuh kasih sayang


"Terimakasih yah bang" Ucap Viara tersenyum bahagia dan terharu dipelukan hangat yang selain menghangatkan tubuhnya. Bahkan pelukan itu juga berhasil membuatnya tenang dalam indahnya cinta yang terselip di dalam dekapannya


"Sama-sama calon istriku sayang" seketika wajah Viara merona mendengar ucapan Pandu barusan


"Calon istri?" batin Viara


"Iyah sayang, calon istri abang. Jadi sekarang adek makan lagi yah, biar adek cepat sehat lalu kita pengajuan nikah di kantor" Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum pada kekasihnya. Viara membuka mulutnya saat Pandu kembali menyuapinya dengan lembut. Pandu juga selalu mengusap bekas tumpahan makanan di dagu dan sudut bibir Viara tanpa rasa jijik sekali pun


"Bang, adek pengen jalan-jalan kebawah" Pinta Viara setelah mengunyah habis sesendok bubur ayam terakhirnya


"Boleh sayang, tapi airnya diminum dulu yuk. Setelah itu abang temani kebawah" kata Pandu kembali membantu Viara untuk minum sambil tersenyum manis. Setelah Viara makan dan meminum obatnya, Pandu mengangkat tubuh Viara dan mendudukkannya di kursi roda


"Ayo dek, kita jalan-jalan kebawah" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum. Pandu mengecup puncak kepala Viara dan mendorong kursi roda Viara menuju ke tempat yang ingin dilihatnya


Sesampainya di halaman depan rumah sakit, Pandu mendorong kursi roda Viara sambil menceritakan sesuatu yang membuat Viara tertawa. Viara meminta Pandu untuk menghentikan kursi rodanya di dekat kolam ikan agar dia dengan mudah menabur makanan ikan di kolam tersebut. Pandu menyunggingkan senyumnya melihat senyuman bahagia yang terpancar di wajah Viara yang semakin cantik ketika dia berbinar seperti saat ini


"Wah, abang lihat deh ikan-ikannya, cantik bukan?" kata Viara berbinar sambil mengenggam tangan Pandu


"Iyah dek, cantik" balas Pandu terus tersenyum menatap wajah cerah Viara. Seketika wajah cerah Viara berubah menjadi ketegangan yang kembali memenuhi relung hatinya. Pandu yang menyadari perubahan diwajah Viara memutar kursi roda Viara agar menyadapnya. Pandu duduk berlutut didepan kursi roda Viara dan mengusap punggung tangannya lembut


"Kenapa sayang, kok murung lagi wajahnya?" Tanya Pandu lembut. Viara mengontrol nafasnya dan memajukan tangannya untuk mengusap pipi Pandu


"Abang, bagaimana pernikahan abang dengan kak Tara?" Tanya Viara mengusap pipi kanan Pandu dengan mata berkaca-kaca


"Pernikahan abang sama Tara dibatalkan sayang, karena pernikahan ini tercipta oleh kesalahan. Sebelum menghabiskan hidup bersamanya, abang tidak mau diawali dengan kesalahan dek, karena itu tidak akan mendatangkan kebahagiaan di kehidupan berumah tangga. Jadi pernikahannya dibatalkan sayang" tutur Pandu menjelaskan sambil mengusap air mata disudut mata Viara

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kak Tara, dia pasti sedih karena batal menikah dengan orang yang dicintainya?" Tanya Viara sendu


"Cintanya benar dek, tapi cara mendapatkannya adalah cara yang salah. Abang nggak mau menikah dengan didasari oleh kesalahan, karena itu tidak akan mendatangkan kebahagiaan" Tutur Pandu kembali. Pandu meraih kedua tangan Viara dan mengecup punggung tangannya lembut


"abang hanya mau kamu dek, bukan yang lain. Hati ini sudah terpaut padamu sejak 9 tahun yang lalu, hati ini juga sudah kuberikan padamu sepenuhnya sayang. Kamulah masa depan abang dan kamulah sosok yang dilahirkan untuk mendampingi abang. Maukah kamu menghabiskan sisa umurmu bersamaku? Maukah kamu menjadi yang terakhir untukku? Aku hanya ingin disaat aku tertidur, wajahmu yang terakhir kulihat dan ketika aku terbangun dari tidurku, wajahmu yang pertama kali ingin kulihat. Maukah kamu menjadi bagian terindah dalam hidupku?" Viara meneteskan air mata bahagia dan berhambur memeluk Pandu


Viara memeluk Pandu erat dan menganggukkan kepalanya didalam dekapan Pandu sambil tersenyum


"Dengan izin Allah, adek siap bang. Terimakasih sudah datang dan hadir dihidup adek yah. Adek sayang sama abang" Ucap Viara tersenyum dipelukan Pandu


"Sama-sama sayangku" balas Pandu mengecup kening Viara yang menangis bahagia didalam pelukannya


"Terimakasih sudah menghadirkannya untukku Ya Rabb, Terimakasih sudah mengirim wanita sebaik ini untuk melengkapiku. Terimakasih sudah menjadikan wanita ini penjaga hati dan pemilik cintaku. Aku juga mencintaimu sayang"


__________


Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, Viara sudah diperbolehkan untuk pulang, kondisi Viara juga semakin lama semakin membaik. Tapi dokter Citra sebelumnya berpesan jika Viara harus terus melakukan kemoterapi untuk mematikan sel-sel yang masih tersisah didalam tubuhnya.


Selama dirawat di rumah sakit, Viara tidak merasa takut atau kesepian karena Pandu yang selalu menyempatkan waktunya untuk menemani Viara. Viara sebelumnya memang takut untuk berlama-lama atau menginap terlalu lama di rumah sakit, namun semenjak adanya Pandu yang selalu menyemangatinya untuk tetap dirawat akhirnya Viara pasrah dan membiarkan dirinya dirawat di rumah sakit. Namun Pandu tak akan membuat Viara tidak nyaman di rumah sakit, justru Pandu selalu datang dan mengajak Viara tertawa agar Viara tak merasa sepi atau takut di rumah sakit itu. Terkadang Pandu juga menemani Viara yang tidak bisa tidur di malam hari karena mendengar suara-suara yang cukup mengganggu suasana hatinya. Setelah melewati hari-hari di rumah sakit, Viara tersenyum lega karena hari ini dia sudah diperbolehkan pulang dang menghirup udara segar di luar


"Bagaimana sayang, kita pulang sekarang atau masih mau lama-lama di rumah sakit?" Tanya Pandu


"Mau pulang lah bang, adek nggak mau lama-lama lagi di rumah sakit" kata Viara sambil mengemas barang-barangnya


"Kenapa dek, bukannya sehat yah kalau lama-lama di rumah sakit"


"Bukan sehat bang, justru adek nambah stres kalau lama-lama disini" jawab Viara membuat Pandu menahan tawa dan geleng-geleng kepala. Pandu mendekati Viara dan memeluk Viara dari belakang sambil meletakkan dagunya diatas bahu Viara


"Sayang, ada loh rumah sakit yang jauh lebih angker dari ini. Kalau adek sakit lagi, abang akan langsung membawamu ke rumah sakit itu" Ujarnya mengerjai Viara. Viara melongo tak percaya dan menatap tajam wajah lelaki di bahunya


"Abang nggak dengar sayang, abang tetap akan membawamu kesana karena rumah sakit itu yang lebih dekat dengan rumah abang" jawab Pandu menahan tawa


"Baiklah bang, kalau begitu adek juga nggak mau pengajuan nikah sama abang"


"Yah jangan toh dek, iyah-iyah deh abang yang salah. Ayo kita pulang" kata Pandu merangkul bahu Viara dan berjalan keluar bersamanya menuju rumah sakit


"Tapi kalau ke rumah sakit angker juga nggak apa-apa sih bang" kata Viara sambil berjalan keluar rumah sakit


"Maksud adek?" Tanya Pandu bingung


"Kan ada abang , nanti abang bisa usir semuanya dengan suara abang, jadinya adek tenang deh"


"Hahah, nanti suara abang membangunkan semua orang sayang"


"Yang penting nggak ada yang menganggu adek"


"Hhmm Yaudah deh, ayo abang antar pulang, beberapa hari lagi kita pengajuan nikah di kantor. Jadi usahakan adek sehat yah, jangan lemah atau sakit lagi" kata Pandu membantu Viara naik ke jok belakang motornya


"Oke Abang sayang" Ucap Viara tersenyum dan merangkul pinggang Pandu. Pandu tersenyum dan mulai menjalankan motornya membelah jalan kota untuk mengantar Viara pulang.


________


Berhari-hari telah dilewati, begitu juga dengan hari pertunangan yang membuat perjalanan menuju rumah tangga Viara sudah dilewati dan berhasil menorehkan bahagia di dalamnya. Saat ini, Viara tengah berdiri di depan cermin melihat pantulannya sambil tersenyum senang. Selama ini dia hanya melihat ibunya saja yang memakai seragam hijau, sekarang Viara juga akhirnya bisa menyamai ibunya dalam mengenakan seragam yang sama

__ADS_1


"Bukan seragam yang ingin kupakai, tapi bimbingan dan kasih sayang dari calon imamku itulah yang aku impikan sejak dulu" Gumam Viara dalam hati


"Alhamdulillah juga bisa mengenakan seragam yang sama dengan Bunda" lanjutnya lagi dalam hati.


Setelah rapi dengan seragam dan semua berkas-berkas pengajuan, Viara sekali lagi melihat pantulannya di cermin dan melangkahkan kakinya keluar rumahnya.


Saat membuka pintu rumah, Viara menyunggingkan senyumnya melihat Pandu yang sudah menunggunya di teras rumah sambil bersandar di pilar bangunan dengan dua tangannya dimasukkan ke kantung celananya


"Bagaimana, sudah siap sayang?" Tanya Pandu lembut


"Aku selalu siap sayang" balas Viara sambil menunjukkan map berisi berkasnya


"Yaudah ayo" Ajak Pandu melangkah mendekati Viara. Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan melingkarkan tangannya di lengan Pandu. Keduanya berjalan kaki bersamanya karena jarak rumah Viara tidak terlalu jauh atau sekitar 50 meter dari Batalyon


Sesampainya di kantor, keduanya sama-sama menghadap untuk urusan pengajuan nikah mereka. Sudah berkali-kali pertanyaan dilontarkan pada Viara dan semua itu berhasil Viara jawab dengan penuh semangat. Tapi hanya satu pertanyaan tadi yang membuat Viara sedikit sedih, memang Viara menjawab pertanyaan itu dengan lantang, tapi dalam hatinya terdapat desiran yang sedikit membuatnya ragu. Melihat sedikit kekhawatiran di wajah Viara, Pandu meraih tangannya dan mengusapnya lembut


"Bagaimana dek, masih kuat?" Tanya Pandu


"Siap, masih kuat bang" jawab Viara tersenyum


"Wah, sifat calon istri prajurit sudah keluar nih" kata Pandu senang


"Iyah dong bang, kan adek calon istrinya tentara, jadi harus kuat"


"Tapi abang udah nggak kuat dek" jawab Pandu sambil tertawa.


Setelah semua urusan pengajuan nikah selesai dan memakan waktu yang tidak hanya sehari, akhirnya Viara bernafas lega dan berjalan keluar dari kantor dengan penuh kegembiraan


"Akhirnya pengajuan nikahnya selesai juga" Ucap Viara senang


"Iyah dek, abang udah nggak sabar pengen cepat halalin kamu" kata Pandu mengenggam tangan Viara dan melangkah beriringan bersamanya


"Dek" Panggil Pandu membuat Viara menghentikan langkahnya


"Iyah bang" jawab Viara sambil tersenyum


"Di pertanyaan yang adek jawab waktu pengajuan, apa ada pertanyaan yang sedikit mengganggu hatimu? Abang lihat wajahmu sedikit kusut saat itu" Tanya Pandu mendaratkan telapak tangannya di kedua bahu Viara


"Iyah bang, ada pertanyaan yang adek sedikit ragu didalam hati. Saat Bunda (Bu Danyon) bilang apakah kamu siap mengandung dan melahirkan tanpa ada suami disampingmu karena suamimu sedang mengemban tugas negara?. Saat itu adek jawabnya siap bang, tapi di hati adek ada sedikit keraguan. Adek berpikir apakah adek bisa atau justru sebaliknya" Ucap Viara dengan raut wajahnya yang murung


"Lalu apa kata hati adek sekarang?" Tanya Pandu lembut sambil mengusap pipi Viara. Viara mengontrol nafasnya dan menyunggingkan senyumannya pada calon suaminya itu


"Adek siap bang, karena inilah resiko adek kalau jadi istri seorang Abdi negara. Walaupun nanti abang nggak selalu ada di samping adek, berbeda dengan suami teman-teman adek yang setiap hari selalu ada bersamanya, adek tetap sayang sama abang. Adek akan menjalaninya dengan hati yang iklas bang, karena selama adek ikhlas adek percaya kalau adek bisa melewati semua itu" tutur Viara sambil tersenyum dengan ketulusannya. Pandu mengusap puncak kepala Viara dengan penuh kasih sayang dan membawanya kedalam pelukannya


"Maafkan abang karena jadi Abdi negara yah dek"


"Jangan minta maaf bang, justru adek bangga punya suami Abdi negara seperti abang, lagipula calon suami adek tugasnya sangat mulia. Jadi tidak ada yang salah dari itu bang. Satu pesan adek, disetiap penugasan nanti, abang harus tetap pulang dan kembali dengan selamat yah bang. Karena bukan uang yang melimpah, bukan juga oleh-oleh dari daerah ssberang yang adek inginkan. Hanya satu keinginan adek, yaitu abang kembali pulang ke pelukan adek dengan selamat, karena hanya abang saja sumber kebahagiaan adek didunia ini" kata Viara memeluk Pandu erat sambil meneteskan air mata bahagianya di dadanya. Pandu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan mengusap punggung Viara dengan penuh kasih sayang


"Terimakasih, terimakasih sudah hadir dihidup abang yah dek" kata Pandu bahagia


"Sama-sama calon suamiku sayang. Ayo kita pulang bang, katanya abang mau ajakin adek ke rumah abang" kata Viara mengusap pipi Pandu


"Hahah, ayo" Ucap Pandu tersenyum dan kembali mengenggam tangan Viara untuk melangkah bersamanya

__ADS_1


"Terimakasih sudah mengirimnya untuk menjadi takdirku. Aku tahu, memilihku adalah pilihan berat bagimu. Disatu sisi, aku seorang abdi negara yang tak selalu bisa ada di sampingmu, tapi disisi lainnnya kamu wanitaku yang juga perlu adanya aku disampingmu. Tapi percayalah, meskipun aku jauh dan nyawaku ada di senapan, tapi cintaku hanyalah untukmu. Aku cinta tanah airku, tapi aku juga manusia biasa yang tulus mencintaimu. Akan kujaga dan ku lindungi kamu karena aku mencintaimu selalu, walau nyawaku ada di peluru. Aku Lettu Pandu Praditya Maheswara, dan inilah cinta tulus ku untukmu wahai wanita pilihanku"


Bersambung.....


__ADS_2