
Hari ini ada penyambutan Komandan regu dan personil yang baru di balai desa. Viara dan teman-temannya datang membawa makanan khas daerah itu bersama warga desa lainnya
Prok... Prok.. Prok...
Suara riuh dan tepuk tangan menggema di dalam balai desa itu setelah mendengar sambutan dari kepala desa dan juga Danru yang akan bertugas disini dalam 9 bulan kedepan. Viara melangkah mendekati Danru terbaru itu dengan kalung bunga ditangannya
"Hai Bear, lama tak jumpa, bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah melupakanku sekarang?" Tanya Viara tersenyum sambil memasangkan kalung bunga di leher Danru yang sekaligus tetangganya sewaktu tinggal di Asrama bersama orang tuanya
"Hahaha aku tidak mungkin melupakanmu Bunny, nggak kangen yah sama aku? Cuman dikasih kalung bunga doang" Ucap Bang Zardan memoyongkan bibirnya
"Hahha tenang saja, aku sudah menyiapkan makanan spesial untukmu bear, aku jamin telingamu akan berasap setelah memakannya" seru Viara tersenyum licik
"Hahah aku tunggu makanan itu bunny, tapi kamu juga harus memakannya" Ucap Bang Zardan tersenyum mengejek
"Nggak boleh, kan makanan itu disiapkan untuk Danru baru yang lebih mencintai pedas dibandingkan seorang gadis. Jadi nggak boleh dibagi dong cintanya" bantah Viara
"Eits, tadi katanya apa yang Danru mau, maka kami akan menyediakannya"
"Itu kan ucapan temanku, bukan aku" jawab Viara
"Tetap saja Bunny, satu salah kena semua hahaha, bukankah itu prinsipmu saat bermain bola voli sewaktu dulu, benarkan Iqbal?" Tanya bang Zardan pada Iqbal yang berdiri disampingnya.
Iqbal menganggukkan kepalanya dan menahan tawa bersama bang Zardan melihat wajah kesal Viara
"Ahh kalian menjebakku, tapi nggak apa-apa lah" Ketiganya tertawa bersamaan sambil melakukan tos pertemanan mereka.
"Bentar yah bang, aku ada perlu sama pak sekdes" pamit Viara
"Yaudah sana, tapi awas saja kalau lari dari sini" Ancam bang Zardan
"Kalian ini, selalunya saja mencari kesempatan untuk mengerjai ku, huh dasar" gerutu Viara kesal dan langsung menuruni mimbar untuk menemui sekretaris desa
"Hei Pandu, lama tidak jumpa. Bagaimana kabarmu sobat?" kata Bang Zardan meninju pelan bahu Pandu
"Hahah aku baik-baik saja bang, nggak nyangka kalau abang Danru baru yang ditugaskan disini loh, kenapa nggak ngomong sejak awal?" Tanya Pandu
"Hahha kejutan" Ucap bang Zardan tertawa bersama Pandu
"Ohh ya, ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu sama dek Viara?" Tanya Bang Zardan
"Alhamdulillah baik bang" Pandu mulai menceritakan semuanya kepada bang Zardan tanpa ada yang ditutup tutupi.
Pandu menjelaskan pada bang Zardan sambil tersenyum dan sesekali mencuri pandang pada Viara yang tengah bercengkrama bersama ketua adat dan sekretaris desa
"itulah Viara, dia adalah gadis yang baik. Dia selalu berusaha untuk membuat orang lain bahagia,meskipun dia harus berkorban demi kebahagiaan itu. Semoga kalian bahagia yah, aku ikut senang mendengar jika kamu berhasil mendapatkan cintamu" Ucap Bang Zardan menepuk bahu Pandu.
Pandu mengangukkan kepalanya dan beralih menatap Viara yang tengah bercengkrama didepan sama sambil tersenyum
"Baik Pak, terimakasih" Ucap Viara senang pada pak sekdes.
Viara menoleh kearah mimbar didepan sana dan tersenyum membalas senyuman manis Pandu padanya
Setelah acara penyambutan selesai, para prajurit baru bersama Danru mereka duduk berjejer rapi di warung penjual bakso.
Viara juga ikut makan siang bersama para prajurit karena Danru dan Pandu yang mengajaknya untuk makan bersama. Sebelumnya kepala desa telah menyuruh pemilik warung tersebut untuk menyediakan bakso untuk para prajurit tersebut dan pak kepala desa sendiri yang akan membayar semua tagihannya
"Mau pesan apa bapak-bapak?" Tanya bapak pemilik warung tersebut ramah
"Berhubung aku dan personilku mencintai pedas, maka kami memesan bakso spesial 30 posisil dengan level kepedasan tingkat 60. bagaimana semua, setuju?" Tanya Bang Zardan pada semua anggotanya
"Siap setuju komandan!!!" jawab para prajurit bersamaan
"Siap tidak setuju komandan!!" Jawab Viara lantang.
Semua prajurit beralih menatap Viara yang duduk di dekat Danru mereka
"Hmm kenapa Ara, kenapa tidak setuju?" Tanya Bang Zardan tersenyum, namun dari senyumnya itu Viara tahu jika Bang Zardan tengah mengejeknya.
"Aku tidak suka pedas Bang, jadi 29 pedas dan satu tidak pedas yah" pinta Viara
"Tapi Ara, bakso yang tersedia disini semuanya pedas. Sesuai perkataanmu di balai desa tadi " seru Bang Zardan
"Tapi kan Bang, itu ucapan teman-temanku, bukan aku" bantah Viara
"Tetap saja Ara, satu salah semua kena. Jadi Bang tolong buatin seperti yang saya ucapkan tadi" pinta Bang Zardan pada tukang bakso tersebut.
Viara yang kesal langsung berdiri dari duduknya dan menatap tajam pada bang Zardan
"Tapi Bang...." amarah Viara berhenti ketika Pandu menahan tangannya
"Nggak apa-apa dek, duduk yang tenang yah" Ucap Pandu mendudukkan Viara kembali di sampingnya
"Tapi Bang, adek nggak mau makan kalau kepedesan" Ucap pelan Viara
"Semuanya akan baik-baik saja dek, percaya sama Bang yah" Ucap Pandu lembut diangguki pelan oleh Viara.
Pandu tersenyum dan mengusap puncak kepala Viara dengan lembut membuat semua teman-temannya yang masih membujang itu merasa cemburu.
Bang Zardan dan Iqbal tersenyum melihat perhatian Pandu pada Viara. Bang Zardan tahu betapa hancurnya Pandu sembilan tahun yang lalu karena dikhianati kekasihnya. Tapi bang Zardan sekarang lega mengetahui teman baiknya sudah pulih dari lukanya dan kembali mencintai gadis yang jauh lebih baik dari sebelumnya
"Aku ikut bahagia untukmu Pandu" gumam bang Zardan tersenyum manis pada Pandu.
Setelah pesanan mereka datang, para prajurit itu mulai melahap bakso pedas kesukaan mereka, sementara Viara hanya terdiam menatap horor pada kuah merah bakso yang tersaji di depannya. Viara tertegun menatap satu prajurit di depannya yang begitu lahap makanan makanan mereka, Viara beralih menatap tajam pada Bang Zardan yang menikmati makanannya sambil tersenyum mengejek padanya
"Awas kamu Bang" gerutu Viara dalam hati
"Kenapa nggak makan dek?" Tanya Pandu lembut pada gadis di sampingnya
"Adek takut nggak bisa lihat abang lagi setelah adek memakan ini" Jawab Viara pelan
"Nggak kok dek, adek masih bisa lihat abang terus kok, kan abang selalu disamping adek" kata Pandu sambil tersenyum
"Tapi Bang...."
"Percaya sama abang yah, baksonya tidak sepedas yang adek bayangkan kok. Sini abang suapin biar pedasnya nggak terasa" Ucap Pandu menyendok bakso dari mangkuk Viara.
Viara membuka mulutnya membiarkan Pandu menyuapinya sambil menutup matanya takut merasakan pedas yang bisa menghantam lidah dan menganggu pernapasan nya. Ketika sesendok kuah bakso itu menyentuh lembut lidahnya, Viara tertegun menyadari jika bakso itu tidaklah pedas, bahkan rasanya sangat pas di lidah Viara. Viara membuka matanya dan menyunggingkan senyumnya pada Pandu
"Pasti ini ulah abang kan?" Tanya Viara dibalas anggukkan kepala oleh Pandu sambil tersenyum
"Tidak mungkin abang membuatmu menderita selama kamu ada di samping abang dek. Jadi percaya sama abang yah" Ucap tulus Pandu diangguki Viara sambil tersenyum.
Sebelumnya Pandu sudah memberikan isyarat pada tukang bakso langganannya itu untuk menuruti permintaan gadis di sampingnya dan tidak usah memperdulikan teman-temannya yang menganggu Viara sejak tadi
Viara menyunggingkan senyumnya dan mulai menyuapi Pandu, begitu juga dengan Pandu yang membalas menyuapi Viara. Setelah makanannya habis, Viara beranjak dari duduknya dan menyediakannya air tepat didepan para prajurit. Bang Zardan yang kepedesan menunggu Viara untuk memberikan sebotol air padanya, namun Viara justru melewatinya membuat bang Zardan tertegun dibuatnya
"Loh dek, kenapa abang nggak dibagikan?" Tanya Bang Zardan cemberut
"Kan abang suka pedas, jadi nikmati dulu pedasnya" Ucap Viara mendapatkan gelak tawa dari para prajurit
"Awas kamu yah dek"
"Hahaha Iyah deh bang, ini untuk abang. Kalau adek nggak kasih takutnya abang nangis disini" seru Viara memberikan sebotol air mineral pada Bang Zardan. Lagi-lagi ucapan Viara mendapatkan gelak tawa dari pada prajurit.
Setelah makan siang selesai, para prajurit itu kembali ke pos yang akan mereka tempati. Sementara Viara dan Pandu tengah duduk bersama di depan teras rumah dinas para guru
"Dek, Sore sebentar abang akan ke kota untuk menghadiri acara nikahan teman abang. Adek mau ikut nggak?" Tanya Pandu penuh harap
"Boleh Bang, adek juga pengen jalan-jalan sama abang" Ucap Viara setuju
"Biar bisa lebih dekat dengan abang dan membuka hati untuk mencintai abang seorang" lanjut Viara dalam hati
Pandu meraih Viara dan membawanya kedalam pelukannya. Viara tertegun dengan apa yang dilakukan Pandu, seketika Viara menerbitkan senyumnya dan mengusap lembut punggung Pandu yang tengah memeluknya
"Akan abang tunggu sampai hatimu siap untuk mencintai abang dek. Selama menunggu hatimu, abang tidak akan pernah cemas karena abang tahu kamu hanya akan menjadi milik abang seorang, milik Lettu Pandu Praditya Maheswara" kata Pandu tersenyum dalam pelukan Viara.
Viara mengangukkan kepalanya dan mengusap lembut pipi Pandu yang tersenyum manis padanya
"Sekarang adek siap-siap yah, abang akan menemuimu 30 menit lagi agar kita langsung ke kota" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum.
Setelah Pandu pergi untuk ber siap-siap, Viara juga masuk kedalam rumah dinasnya dan bersiap-siap untuk pergi bersama Pandu
"Mau kemana Viara?" Tanya Ila pada Viara yang tengah merias dirinya di depan cermin
"Mau ke kota bareng Bang Pandu, katanya mau ke kondangan temannya yang nikah di kota sore sebentar" Jawab Viara sambil merapikan hijabnya
"Ohh baiklah Viara, semangat yah" ucap Ila diangguki Viara sambil tersenyum.
Selang beberapa saat terdengar mesin motor Pandu didepan rumah
"Itu pasti Bang Pandu, aku pergi dulu yah, assalamu'alaikum Ila" pamit Viara
"Walaikumsalam Viara, Hati-hati yah" balas Ila sambil tersenyum.
Viara menganguk dan kembali melangkahkan kakinya menyusul Pandu yang menunggunya di depan rumah. Pandu beralih menatap pintu rumah dinas para guru dan menyunggingkan senyumnya melihat kecantikan Viara yang hanya memakai sedikit polesan bedak, namun sudah telihat sangat sempurna
"Ayo dek, sudah siap kan?" Tanya Pandu membantu Viara naik ke jok motornya
"Selama ada abang adek selalu siap kok" Ucap Viara tersenyum manis pada Pandu. Viara memperbaiki rok panjangnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Pandu sambil tersenyum. Pandu langsung melajukan motornya menuju ke kota sambil merasakan jantungnya yang berdisko riah menatap cincin pemberiannya di jari tangan Viara yang merangkul pinggangnya
"Aku mencintaimu Viara"
__________
Sesampainya di salah satu gedung diadakannya resepsi pernikahan di tengah kota, Pandu mengenggam tangan Viara dan berjalan masuk bersamanya. Viara tersenyum melihat tangannya yang digenggam erat oleh Pandu dan langsung mensejajarkan langkahnya dengan langkah Pandu. Sesampainya di dalam, Pandu memperkenalkan Viara pada rekan-rekannya yang menghadiri resepsi pernikahan itu. Viara tersenyum dan mulai memperkenalkan dirinya pada teman-teman Pandu. ketika Viara tengah mendengarkan Pandu yang bercengkrama bersama teman-temannya, Viara melirik ke sekitarnya dan tersenyum melihat teman SMA nya ada di pesta tersebut
__ADS_1
"Abang, adek ke teman adek dulu yah" pamit Viara
"Iyah silahkan dek" balas Pandu setuju
Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan langsung berjalan mendekati temannya yang juga senang melihat kehadirannya di pesta itu
"Heii Viara!!!" seru Kayla senang dan berhambur memeluk Viara
"Hai Kayla, lama tidak bertemu" seru Viara membalas pelukan Kayla padanya
"Iyah Viara, senang bisa bertemu denganmu. Perkenalkan ini Figo, dia suamiku" Ucap Kayla memperkenalkan suaminya yang juga seorang tentara. Viara tersenyum dan memperkenalkan dirinya pada suaminya Kayla.
"Sayang, kamu ngobrol bareng Viara dulu yah, abang gabung bareng teman-teman abang dulu" Ucap Figo pada istrinya
"Iyah sayang" Ucap Kayla sambil tersenyum.
"Wah udah nikah aja kamu" seru Viara
"hahaha Iyah Viara, kalau kamu kapan nikahnya?" Tanya Kayla menaik turunkan alisnya
"Hahaha belum kepikiran buat nikah sih Kayla" jawab Viara
"hmm masa? kamu kan juara di sekolah Viara, bahkan banyak loh teman-teman bahkan ketua kelas juga suka sama kamu. jangankan ketua kelas, ketua OSIS juga tergila-gila padamu" seru Kayla
"kamu sebagai wakilnya kenapa nggak tergila-gila sama ketua OSIS yang tampan itu? padahal banyak loh yang kejar-kejar ketua OSIS itu" Tanya Kayla menyayangkan Viara yang tidak pernah membuka hati untuk orang-orang yang mengejarnya dulu
"Saat itu kan aku masih pengen meraih cita-cita. aku belum mau patah hati diusia muda seperti itu. Lalu aku tidak punya waktu untuk mencintai seseorang sama sepertimu karena saat itu aku sangat sibuk belajar untuk persiapan Olimpiade dan kejuaraan matematika" tutur Viara menjelaskan
"Hmm kamu sejak dulu selalu seperti itu Viara, padahal udah banyak loh mendali sama piala kejuaraan di rumahmu tapi kamu masih saja belajar pelajaran yang membuatku bingung"
"Hahaha, aku kan suka ditantang sama soal matematika. Lagipula cita-citaku kan pengen jadi guru matematika" lanjut Viara
"Hmm baiklah Viara. Tapi Ara, sekarang kan kita sudah dewasa, apa kamu sudah menemukan seseorang untuk dicintai?" Tanya Kayla sambil tersenyum.
Viara menoleh ke samping kanannya dan menyunggingkan senyumnya melihat Pandu yang tengah tertawa bercengkrama dengan rekan-rekannya
"Aku sudah menemukannya, bahkan aku datang kesini bersamanya" Ucap Viara sambil tersenyum
"Benarkah, lalu dimana dia?" Tanya Kayla berbinar.
Viara pun menunjuk pada Pandu yang memakai jas biru tua senada dengan pakaiannya
"itu dia" Ucap Viara sambil tersenyum.
Kayla mengikuti arah pandang Viara dan membulatkan matanya sempurna melihat orang yang ditunjuk Viara
"Ara.. Dia sangat tampan. Bahkan ketampanannya jauh lebih tinggi daripada ketua OSIS yang mengejarmu dulu" seru Kayla berbinar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Pandu
"Bukan ketampanan yang aku lihat darinya, bukan juga banyaknya uang dan harta yang kuinginkan darinya. Aku hanya menginginkan dia menjadi imamku. imam yang membimbingku menjadi wanita yang lebih baik lagi kedepannya" Ucap Viara tersenyum sambil menatap Pandu didepan sana
"Yeahh, akhirnya kamu bisa membuka hatimu untuk seorang pria. jangan lepaskan dia Viara, terus cintai dia sepenuh hatimu" saran Kayla diangguki Viara sambil tersenyum
Setelah acara pernikahan itu selesai, Pandu kembali mengenggam tangan Viara dan melangkah keluar gedung bersamanya
"kenapa senyum-senyum sendiri dek?" Tanya Pandu pada Viara yang terus tersenyum sejak tadi
"Adek senang bang bisa ketemu teman adek tadi. Terimakasih sudah ajakin adek kesini yah bang" Ucap Viara tersenyum tulus pada Pandu
"sama-sama dek, ayo kita pulang. Tapi kayaknya malam kita akan sampai di desa dek. adek nggak takut kan kalau kita lewat dijalanan tadi malam-malam?" Tanya Pandu memakaikan helm di kepala Viara dan membantunya naik di belakang nya
Viara tersenyum mendengar pertanyaan Pandu dan melingkarkan tangannya di pinggang Pandu
"selama adek sama abang, adek nggak akan takut"
Pandu menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Viara dan mulai melajukan motornya membelah jalanan kota menuju arah jalan pulang mereka.
Ketika Pandu berhenti di lampu merah, hujan deras seketika turun dari langit dan membanjiri jalanan kota. setelah lampu kembali berwarna hijau, Pandu melajukan motornya dan berhenti tepat bdi depan toko yang sudah tutup.
"Adek nggak kedinginan kan?" Tanya Pandu cemas setelah berlindung di depan toko tersebut
"nggak bang, adek belum sepenuhnya basah. Tapi abang udah basah kuyup karena melindungi adek. Terimakasih yah bang" Ucap Viara mengusap air di pipi Pandu dan diangguki Pandu sambil tersenyum.
Viara membuka jas Pandu yang sudah basah kuyup dan menyisakan kemeja putih yang dikenakan Pandu
"Ayo bang, kita duduk dulu" Ajak Viara mengenggam tangan Pandu dan mendudukannya di kursi yang ada di depan toko tersebut.
Sudah 2 jam menunggu hujan berhenti namun tidak tanda-tanda hujan deras itu untuk berhenti.
Drrrtt... Drrrtt...
Pandu yang mendengar ponselnya berdering langsung mengambil ponselnya di kantung jas yang dipegang Viara dan menjawab panggilan dari ayahnya
"Halo Assalamu'alaikum ayah, ada apa?" Sapa Pandu
"Iyah ayah, Pandu ada di kota S. Pandu belum kembali ke pos karena hujan deras disini" jawab Pandu
"Tapi darimana ayah tahu kalau Pandu ada di kota S?" Tanya Pandu kebingungan
(..........)
"Dasar, ayah ini!!!!"
(..........)
"Baiklah ayah, nanti Pandu cari logo yang ayah maksud"
(.........)
"Iyah ayah, Pandu masih ingat kok gambar logonya"
(........)
"Iyah Walaikumsalam ayah" Ucap Pandu tersenyum dan memutuskan sambungannya.
Pandu melihat-lihat sekitar dan menyunggingkan senyumnya melihat logo Maheswara di bangunan hotel yang dimaksud ayahnya
"Dek, ini sudah pukul 10 malam dan hujannya masih sangat deras. Bagaimana kalau kita menginap di hotel malam ini?" Tanya Pandu meminta persetujuan Viara
"Tapi bang....."
"Tidak apa-apa dek, adek akan baik-baik saja sama abang kok. percaya sama abang yah, abang akan selalu menjagamu tetap aman di sisi abang" Ucap Pandu tersenyum penuh ketulusan.
Melihat ketulusan dan kejujuran di mata Pandu, Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum pada lekaki tampan itu
"Terimakasih sudah percaya sama abang yah, ayo dek" Ucap Pandu memakaikan jas nya untuk menutupi kepala Viara dari lebatnya hujan.
Pandu kembali melajukan motornya menerobos lebatnya hujan menuju ke hotel yang ada di ujung jalan
Sesampainya di depan hotel tersebut, Pandu memarkirkan motornya dan kembali mengenggam tangan Viara berjalan memasuki lobi bersamanya
"Ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis ramah pada dua orang di depannya
"kami ingin memesan kamar, apa masih ada kamar yang tersisa?" Tanya Pandu ramah
"Masih ada pak, tapi kami hanya mengizinkan pasangan suami istri untuk menginap satu kamar di hotel ini. Apa bapak sama nona ini pasangan yang saya maksud?" Tanya resepsionis wanita tersebut.
Mendengar penuturan resepsionis itu, Pandu dan Viara saling bertatapan, merasa bingung apa yang harus dikatakan pada resepsionis itu
"Kami bukan suami istri mbak, tapi kami hanya menginap semalam untuk berteduh saja karena di luar sedang hujan deras dan tidak memungkinkan kami untuk pulang ke rumah" Ucap Pandu menjelaskan
"Tetap saja pak, pasangan yang bukan suami istri tidak boleh menginap di hotel kami. ini peraturan yang dibuat oleh pemilik hotel ini" Ucap resepsionis tersebut.
Mendengar keributan di meja resepsionis, menejer hotel tersebut berjalan mendekati meja untuk mengetahui penyebab keributan tersebut
"ada apa ini?" Tanya Pak menejer
"Ini pak, bapak yang satu ini bersikeras untuk menginap di hotel ini. Mereka berdua juga bukan pasangan suami istri" Ucap resepsionis itu menjelaskan dengan nada sedikit kesal
"Maaf Pak, resepsionis kami memang benar. pasangan yang bukan suami istri tidak diizinkan untuk menginap di hotel kami" Ucap pak menejer membuat senyuman resepsionis itu mengembang
"Tapi pak....." Pandu kembali beradu argumen dengan pak menejer tersebut.
Viara merasa sedih mendengar ucapan Pandu yang menjelaskan alasan mereka menginap di hotel ini selalu ditolak oleh pak menejer tersebut. Tak mau ada seorang pun yang berbicara tegas pada Pandu, Viara yang sejak tadi terdiam mulai angkat bicara
"Tunggu dulu pak, tadi anda bilang jika hanya pasangan suami istri dan pasangan yang sudah bertunangan boleh menginap disini. Benar kan pak?" Tanya Viara
"benar sekali Nona, oleh karena itu...." sebelum menejer itu berbicara kembali, Viara meraih tangan Pandu dan menyatukannya dengan tangannya
"lihatlah, cincin yang kami kenakan sama bukan? dia ini calon suamiku dan kami akan menikah tidak lama lagi" Ucap Viara membuat Pandu dan kedua orang hotel itu tertegun
"Adek" gumam Pandu tersenyum tak menyangka dengan apa yang diucapkan Viara barusan
"Baiklah jika dia calon suamimu. Katakan siapa nama lengkap anda Pak?" Tanya pak menejer
"Pandu Praditya Maheswara" Ucap Pandu membuat kedua orang di depannya menganga tak percaya
"Kalau anda masih tidak percaya, ini kartu namaku" Ucap Pandu menunjukkan black card miliknya yang hanya dimiliki oleh anggota keluarga Maheswara
GLEK
Pak menejer itu tertegun kesulitan menelan salivanya membaca black card tersebut
"Tu.. Tuan Muda" batin Pak menejer itu berkeringat dingin takut dia akan ditendang keluar oleh Tuan Muda, pewaris satu-satunya keluarga Maheswara yang terkenal sangat kaya dan memiliki banyak cabang perusahaan dimana-mana. Bahkan hotel yang dipijak nya sekarang juga adalah properti milik keluarga Maheswara
"Hei apa yang kau lihat, cepat berikan kunci kamar VVIP di hotel ini" perintah pak menejer pada resepsionis yang masih kebingungan
__ADS_1
"baik pak" Ucap resepsionis itu menyerahkan langsung kunci itu ke tangan Pandu
"Kalian antarkan Tuan dan Nyonya ini ke kamar yang yang akan mereka tempati yah" perintah pak menejer pada pegawai hotel
"Baik pak, mari Tuan dan Nyonya silahkan ikuti saya" Ucap pegawai itu lembut sambil tersenyum
"Ayo dek" ajak Pandu diangguki Viara sambil tersenyum. Viara melangkahkan kakinya mengikuti langkah Pandu yang mengenggam erat tangannya
"Kenapa menejernya tiba-tiba berubah ketika abang menunjukkan kartunya?" batin Viara kebingungan
"Tunggu pak, siapa orang tadi? kenapa bapak mengizinkan mereka masuk? mereka bukan pasangan suami istri pak, dengan mengizinkan mereka menginap disini sangat melanggar peraturan hotel ini" Ucap resepsionis itu
"Hei, kau tidak tahu pria tadi? Dia itu anak dari Tuan Rayyan Maheswara, pemilik hotel ini" turut pak menejer membuat resepsionis itu tersentak kaget
"Astaga, jadi.. jadi itu Tuan Muda Maheswara? pewaris satu-satunya keluarga konglomerat itu?" Tanya resepsionis itu terkejut.
Seketika keringat dingin membanjiri keningnya mengingat dia berkata tegas pada pemilik hotel tempatnya bekerja itu
"Astaga, mati aku!! semoga Tuan tidak memecatku atas tindakanku tadi" gumam resepsionis itu ketakutan
___________
Sementara di lantai 20 hotel
"ini kamar anda Tuan, silahkan beristirahat" Ucap pegawai hotel itu ramah
"Baiklah, terimakasih" Ucap Viara dan Pandu bersamaan dan langsung memasuki kamar hotel VVIP itu.
Sesampainya Viara di dalam kamar tersebut, Viara tertegun melihat kemewahan dan luasnya ukuran kamar hotel yang akan mereka tempati malam ini
"Adek, tunggu sebentar yah, abang akan segera kembali" pamit Pandu
"Abang mau kemana?" Tanya Viara murung
"Jangan takut yah dek, disini aman kok. Abang akan kembali secepatnya, tunggu abang yah dek" Ucap Pandu mengelus pipi Viara.
Viara mengangukkan kepalanya dan meraih tangan Pandu untuk mengalaminya. Pandu tertegun dengan apa yang dilakukan Viara padanya, namun hatinya sangat senang jika hati Viara mulai menerimanya
"Iyah bang, Hati-hati yah" Ucap Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum.
Pandu melangkahkan kakinya keluar kamar dan tak lupa mengunci pintu demi keamanan Viara. 10 menit kemudian, Pandu telah kembali ke kamar tersebut dengan dua paper bang ditangannya. Pandu melangkahkan kakinya mendekati Viara dan duduk tepat disamping Viara yang baru saja mengabari teman-temannya di desa
"Dek, ini baju ganti untuk adek" Ucap Pandu menyerahkan paper bag warna pink ke tangan Viara
"Lalu abang bagaimana? abang juga basah kuyup loh" Tanya Viara cemas
"Abang juga punya baju ganti kok, nih" Ucap Pandu menujukkan satu paper bag berwarna biru ditangannya
"Baiklah bang" Ucap Viara bernafas lega dan langsung melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi dengan paper bag ditangannya
Setelah membersihkan tubuhnya, Viara meraih handuk dan mengusap titik-titik air di tubuhnya. Viara membuka paper bag yang disiapkan Pandu tadi dan menyunggingkan senyumnya menyadari jika Pandu menyediakan pakaian syar'i lengkap dengan hijab panjang untuknya
"Syukurlah pilihan abang tepat" Ucap Viara senang dan mulai memakai pakaian yang disiapkan Pandu tersebut. Setelah rapi dengan hijabnya, Viara menyiapkan air untuk dimandikan Pandu dan melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.
"Abang, ayo mandi. Adek udah siapin air hangat untuk abang didalam biar abang nggak masuk angin" Ajak Viara sambil tersenyum
"Baiklah dek, terimakasih yah" Ucap Pandu mengusap puncak kepala Viara
"Sama-sama abang" Pandu tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi.
Setelah Pandu menghilang di balik pintu, Viara merebahkan tubuh lelahnya di ranjang dan membaca beberapa pesan dari grup WA para guru. Karena lelah yang semakin menyerangnya, Viara perlahan-lahan menutup mata dan menjatuhkan ponselnya disamping bantalnya
25 menit kemudian, Pandu yang sudah selesai mandi melangkahkan kakinya keluar kamar mandi hanya dengan memakai handuk sepinggang
Ceklek
Pandu menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang sudah tertidur lelap di atas ranjang. Pandu melangkahkan kakinya dan duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wajah teduh Viara yang sudah memasuki alam mimpi
"Pasti kamu kelelahan menjalani hari ini jadinya langsung ketiduran. Semoga kita cepat dipersatukan agar kita bisa bersama di bawah satu atap" Ucap Pandu mengecup kening Viara lembut.
Pandu meraih paper bag miliknya dan mulai mengenakan pakaiannya. Setelah rapi dengan pakaiannya, Pandu yang juga sangat kelelahan merebahkan tubuh lelahnya di sofa kamar hotel tersebut. Sebelum tertidur pulas, Pandu menyunggingkan senyumnya menatap Viara yang tertidur pulas di depan sana
"Aku mencintaimu Viara" gumam Pandu tersenyum dan perlahan-lahan menutup matanya.
__________
Dini hari pukul 2.45 pagi, Viara terbangun dari tidurnya dan meraba-raba sekitar mencari keberadaan Pandu. Setelah pandangan Viara kembali normal, Viara tertegun melihat Pandu yang tertidur di sofa dengan salah satu kakinya sudah keluar dari sofa.
Viara turun dari ranjang dan berjalan mendekati Pandu sambil tersenyum
"Pasti abang juga lelah" gumam Viara tersenyum dan mulai memperbaiki posisi kaki Pandu.
"Astaghfirullah, suhu tubuhnya mulai panas" gumam Viara cemas saat mengusap kepala Pandu.
Viara memapah Pandu dan membaringkannya dengan sempurna di ranjang. Viara menyelimuti tubuh Pandu dan berlari mengambil air dingin yang ada didalam lemari es dikamar itu. Viara kembali mendekati Pandu dan ikut naik ke ranjang. Viara meletakkan kepala Pandu diatas pangkuannya dan dengan telaten mengompres kening Pandu sebelum suhu panas di tubuhnya meningkat
"Pasti karena kehujanan dan kedinginan semalam suhu tubuhnya jadi panas seperti ini" gumam Viara tersenyum dan terus mengompres kening Pandu.
Karena lelah yang juga menyerangnya, Viara perlahan-lahan menutup mata dengan posisinya yang duduk bersandar di sandaran ranjang
Keesokan Paginya, Pandu yang terbangun terlebih dulu perlahan-lahan membuka mata dan terkejut menyadari jika dia tidur di ranjang. Ketika Pandu menaikkan pandangannya keatas, seketika senyuman manis menghiasi wajahnya melihat Viara yang tertidur pulas diatasnya dan menyadari jika dia tidur diatas paha Viara.
"Pasti dia lelah menjagaku semalam" gumam Pandu menatap tangan Viara yang masih memegang kain yang menutupi kening Pandu yang digunakannya menurunkan suhu panasnya.
Viara mulai bergerak bersiap bangun dari tidurnya, Pandu yang menyadari itu langsung menutup matanya agar Viara tak menyadari jika dia sudah terbangun. Viara perlahan-lahan membuka matanya dan menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu yang tidak pucat lagi
"Alhamdulillah, keningnya udah nggak panas lagi" gumam Viara senang saat menyentuh kening Pandu.
Pandu yang masih bisa mendengar gumaman senang Viara tersenyum dalam hatinya. Viara mengangkat bahu Pandu dan membaringkan kepalanya diatas bantal, setelah itu Viara turun dari ranjang dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh lelaki yang berusaha dicintainya itu
"Izinkan aku menjagamu sepenuh hatiku karena aku ingin agar hati ini bisa mencintaimu. Aku hanya ingin cinta tulus di hati ini hanya untuk dirimu saja Lettu" kata Viara mengecup kening Pandu dan berlalu ke kamar mandi untuk mencuci mukanya
Pandu tersenyum bahagia dalam hatinya mendengar ucapan tulus yang dikatakan Viara tadi, bahkan Pandu menyentuh keningnya karena untuk pertamakali, kening Pandu dikecup oleh wanita yang sangat dicintainya itu.
Ceklek....
Pintu kamar mandi terbuka dan Pandu langsung menutup matanya kembali. Viara menyunggingkan senyumnya menatap wajah Pandu yang tertidur sambil tersenyum
"Mimpi yang indah yah bang. Adek keluar sebentar dulu, adek janji akan kembali secepatnya" Ucap Viara mengusap puncak kepala Pandu dan berlalu keluar kamar.
"Cepatlah kembali, aku menunggumu" gumam Pandu menatap punggung Viara yang perlahan hilang di balik pintu
__________
10 menit kemudian, pintu kamar terbuka menampakkan Viara yang berjalan masuk dengan nampan makanan di tangannya.
Viara menyunggingkan senyumnya menatap Pandu yang sudah terbangun dan tengah duduk bersandar di sandaran ranjang
"Abang sudah bangun?" Tanya Viara sambil meletakkan nampan makanan diatas meja
"Terimakasih yah dek" Ucap Pandu sambil tersenyum
"Terimakasih untuk apa abang? ayo kemari bang kita makan bersama" Ajak Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum.
Pandu turun dari ranjang, melangkahkan kakinya mendekati Viara dan duduk tepat disamping Viara
"Ayo bang, dimakan" titah Viara lembut sambil menggeser nampan makanan berisi dua roti sandwich jumbo dan dua cangkir cokelat panas didepan Pandu
"Adek beli dimana?" Tanya Pandu lembut
"Adek nggak beli bang, adek membuatnya sendiri sama pegawai hotel yang antar kita sampai ke kamar ini semalam. Dia sangat baik dan juga ramah" tutur Viara tersenyum sambil mengingat wanita pegawai hotel yang membantunya
"Tapi abang, adek jadi bingung" Ucap Viara setelah mengunyah rotinya
"Bingung kenapa dek?" Tanya Pandu kembali menyeruput minuman panasnya
"Adek tadi jalan ke lobi hotel dan semua pegawainya itu hormat dan mendudukkan badan sama adek. Di dapur juga begitu bang, mereka bahkan menunggu apa yang adek perintah pada mereka, padahal adek pengen mengerjakannya sendiri. Mereka juga menyediakan bahan-bahan adek untuk membuat sarapan pagi kita tepat didepan adek. Adek jadi bingung, padahal adek bukan putri raja" Ucap Viara menjelaskan kebingungan.
Pandu tersenyum mendengarkan penjelasan Viara dan mengangkat tangannya mengusap puncak kepala Viara dengan lembut
"Berkat ucapanmu semalam, kamu sekarang sudah dianggap sebagai Nyonya Maheswara" kata Pandu dalam hati
"Apa adek nggak ingat apa yang adek katakan sama menejernya semalam?" Tanya Pandu lembut.
Viara mulai mengingat-ingat apa yang dikatakannya semalam, seketika pipi Viara terasa hangat teringat jika dia mengatakan pada pak menejer jika Pandu adalah calon suaminya. Pandu menyunggingkan senyumnya menatap wajah merah merona Viara yang semerah udang rebus
"nggak apa-apa kan Bang kalau adek panggil abang seperti itu?" Tanya Viara takut jika Pandu akan memarahinya
"Tidak apa-apa dek, justru abang senang banget kalau adek menyebut abang seperti itu di depan banyak orang" Ucap Pandu sambil tersenyum.
Viara menyunggingkan senyumnya dan berhambur memeluk Pandu di sampingnya
"Terimakasih sudah tulus dan sabar mencintai adek sampai sekarang yah bang. Terimakasih sudah hadir di hidup adek. Izinkanlah adek mencintaimu sepenuh hati, ajarkan adek caranya menyayangi abang agar hanya ada abang saja di hati adek" Ucap Viara didalam pelukan Pandu.
Pandu membalas pelukan Viara dan mengusap lembut kepala Viara di bahunya. Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum didalam pelukan hangat itu
"Aku akan menunggu sampai hatimu menjadi milikku sepenuhnya Viara. Tak akan pernah aku lelah menunggu karena kamu akan tetap menjadi milikku. Mungkin memang benar jika sekarang nama itu (Andra) masih terlukis indah di hatimu. Tapi seiring berjalannya waktu, nama itu akan perlahan-lahan hilang digantikan digantikan nama baru yang siap mendampingimu selamanya. Aku Lettu Pandu Praditya Maheswara, memilihmu dalam hatiku Viara Mutya Putri"
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya😉
Terimakasih Semua
Love You All 😘💞
__ADS_1