
"Apa kamu memang benar mencintainya bang?" Tanya Rama pada Pandu yang duduk di sampingnya sambil memancing ikan di danau yang berair tenang
"Iyah bang, aku mencintainya. Dialah gadis yang selama ini aku tunggu dan ku cari selalu" Kata Pandu sambil tersenyum
"Gadis yang abang cari....Maksudnya gadis bermasker yang abang selalu ceritakan itu?" Tanya Bang Rama dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum
"Dialah wanita yang berhasil memikat hatiku untuk kedua kalinya. Abang tahu kan, semenjak aku putus dengan Tara 9 tahun yang lalu, aku sangat hancur pada saat itu, aku terlalu mencintainya sampai aku terluka, hingga aku bertekad tidak akan pernah jatuh cinta lagi dengan makhluk yang bernama wanita. Tapi, tekadku itu hilang digantikan dengan harapanku untuk memilikinya. Memiliki seorang wanita remaja yang berhasil mencuri hatiku. Berkat kebaikan dan ketulusan hatinya, aku mulai menemukan wanita yang tepat. Dia bagai malaikat yang membawaku hidup kembali Bang. Aku bahkan masih mencintanya sampai saat ini" kata Pandu menjelaskan
"Aku terus menolak perjodohanku karena aku hanya ingin menikah dengannya" Lanjutnya lagi sambil menatap tenangnya air danau dibawahnya
"Benarkah, tapi mengapa abang nggak langsung nembak aja Viaranya. Kan abang udah ketemu sama dia" Pandu menghela nafas kasar mendengar ucapan bang Rama
"Aku ingin melakukan hal itu bang, tapi semuanya sudah terlambat. aku tidak akan pernah bisa untuk memiliki Viara lagi" Kata Pandu dengan suaranya yang terdengar bergetar
"Kenapa bang? Mengapa abang menganggap semuanya sudah terlambat. Jelas-jelas Viara masih sendiri bukan, dia belum memiliki suami. Jadi ini kesempatan untuk abang" ucap Bang Rama tidak percaya dengan ucapan Pandu barusan
"Tidak Bang, aku sudah terlambat karena...."
"Ohh rupanya kalian disini" Suara Viara terdengar dan menghentikan obrolan Pandu bersama Bang Rama
"Iyah dek, hehehe" Cengir Bang Rama
"Kenapa kalian nggak minum es kelapa muda dulu sebelum kesini. Dan apa yang kalian lakukan sehingga nggak mau ngumpul bareng tadi?" Tanya Viara sedikit kesal
"Kami tiba-tiba pengen mancing dek, jadi langsung datang kesini kebetulan cuaca sore ini sangat cerah bukan" jelas Pandu membuat Viara mengangguk paham
"Ohh yaudah sekarang abang-abang minum dulu es kelapa mudanya yah" Kata Viara memberikan 2 tempat berisi es kelapa muda campur ke tangan Pandu dan Bang Rama
"Terimakasih dek" ucap keduanya diangguki Viara sambil tersenyum. Viara lalu duduk disamping Pandu dan memegangi alat pancingan milik Pandu
"Bang, bagaimana cara nangkep ikannya? Kalau bergerak begini udah dimakan yah umpannya?" Tanya Viara
"Belum mah kalau begitu dek" jawab Rama menahan tawa melihat wajah kebingungan Viara
"Yaudah sini abang ajarin" ucap Pandu meletakkan tempat minumannya dan duduk dibelakang Viara. Pandu menaruh kedua kakinya disamping kiri dan kanan Viara hingga posisi tubuhnya tepat berada di belakang Viara. Pandu meletakkan wajahnya disamping kepala Viara dan mulai mengajarkan pada Viara caranya memancing ikan sambil tersenyum.
Bang Rama ikut tersenyum melihat wajah Pandu yang begitu semangat dan sabar dalam mengajari Viara
"Semoga dialah takdirmu bang" kata Bang Rama dalam hati
"Abang, pancingannya tertarik" seru Viara senang
"Tandanya ikan sudah memakan umpan adek, ayo semangat tariknya dek" kata Pandu segera berdiri dan memposisikan Viara agar lebih mudah menarik ikannya
"Ayo dek,tarik" Ucap bang Rama menyemangati
"Bang, berat banget" kata Viara
__ADS_1
"Ayo semangat nariknya dek, keburu ikannya lepas" seru Bang Rama
"Mau abang bantu dek?" Tanya Pandu lembut
"Nggak usah Bang... Adek akan berusaha sendiri... Percaya sama adek" Ujar Viara masih berusaha menarik ikannya.
"Hiyyaaa" Seru Viara senang saat ikan itu berhasil ditariknya
"Wah Bang, ikannya besar banget" seru Viara senang melihat ikannya yang mengeliat di tanah
"Hahah Iyah dek, selamat yah ikan tangkapannya besar" Ucap Pandu membuka kail pemancing dari mulut ikan itu hingga ikannya berhenti mengeliat lagi
"Wah, kalau dibakar nih kita kenyang bareng-bareng, benarkan Bang" Ucap Viara senang
"abang... abang...."
"Astaghfirullah Abang!!!!" Teriak Viara panik melihat Pandu terpeleset dan jatuh ke air
Byuurrrr
"Abang!!!!! Abang bertahan abang hiks.. hiks..." lirih Viara ketakutan
"Bang Rama, tolongin bang Pandu bang hiks.. hiks.. Bang" Pinta Viara menggoyangkan kaki Bang Rama sambil menangis
"Tapi airnya dalam banget dek, abang nggak berani lompat, takutnya abang nggak bisa naik lagi" Ucap Rama berpura-pura cemas
"Jangan dek, jangan lompat, adek nggak bisa berenang kan" Ujar Bang Rama menahan tubuh Viara yang nekat melompat
"Lepaskan Bang lepaskan!!! jika abang Pandu pergi, maka adek juga akan pergi menyusulnya" perkataan Viara membuat Bang Rama terdiam ditempat
"BANG PANDU!!!!!!!" Teriak Viara lantang dengan air matanya yang terus tumpah menetes di atas air danau. Suaranya terdengar sangat keras memecah kesunyian di danau tersebut
"Jangan tinggalin adek bang hiks.. hiks.." Lirih Viara semakin terisak menatap air yang tak lagi bergelombang
"Abang hiks... hiks... "Lirih Viara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Adek" panggil Pandu lembut. Viara yang mendengar suara Pandu menengok ke samping dan tersenyum bahagia melihat Pandu yang masih hidup dan berdiri di dekatnya
"Abang!!" Seru Viara senang segera berlari menghambur memeluk Pandu erat
"Bang Pandu hiks.." lirih Viara memeluk Pandu sangat erat seolah tak mau melepaskannya. Viara bahkan tidak perduli lagi dengan bajunya yang ikut basah terkena baju basah kuyup Pandu
"Abang jahat!! Kenapa abang tega lakuin hal itu, apa abang nggak melihat betapa takutnya adek tadi" kesal Viara memukul-mukul dada Pandu sambil terus menjatuhkan air matanya
"Abang jahat!!!" Kata Viara dan kembali memeluk Pandu erat
"Kenapa adek takut, kan abang yang tenggelam bukan adek?" Tanya Pandu lembut mengusap kepala Viara yang menangis di bahunya
__ADS_1
"Adek takut kehilangan abang hiks.. Hiks." Pandu menyungingkan senyumannya mendengar ucapan Viara barusan. Hatinya menghangat melihat wajah dan tangisan Viara yang begitu mengkhawatirkannya
"Sudah cukup adek kehilangan teman terbaik adek sewaktu kecil, adek nggak mau kehilangan teman adek lagi hiks... hiks.." mendengar ucapan Viara, Pandu teringat ucapan bang Iqbal dua bulan yang lalu jika Viara pernah ditinggal mati oleh sahabat kecilnya yang juga merupakan adik dari bang Iqbal.
"Istimewanya aku dalam hatimu sehingga kau begitu cemas dan takut saat melihatku tenggelam" Ucap Pandu bahagia dalam hatinya
"Maafin abang yah dek" Ucap Pandu mengelus punggung bergetar Viara yang menangis sesenggukan di dalam pelukannya
"Abang" kata Viara pelan jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Pandu
"Astaghfirullah dek, bangun dek" Ujar Pandu menepuk-nepuk pipi Viara yang terlihat sangat pucat seolah tak dialiri darah
"Tenanglah bang, dia hanya syok hingga tak sadarkan diri. Tidak lama setelah itu dia akan terbangun dan sadarkan diri kok. Abang tenang saja yah" kata Rama sambil tersenyum
Pandu duduk bersila dan meletakkan tubuh Viara diatas pangkuannya, sementara kepala Viara dibaringkan di lengan kirinya
"Dia begitu takut kehilangan mu bang, sampai-sampai dia syok dan jatuh pingsan seperti ini" ujar Rama sambil menyalahkan api unggun untuk menghangatkan mereka. Pandu tersenyum dan mengelus lembut air mata Viara yang begitu lelap didalam pangkuannya
"Apa abang dengar ucapannya tadi, saat dia akan nekat melompat ke danau?" Tanya Rama kembali. Pandu tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan bang Rama
"Jika dia berkata seperti itu, apakah dia juga siap untuk hidup bersamaku?" Tanya Pandu sambil menatap wajah teduh yang terbaring di lengan kirinya
"Sepertinya Iyah bang, dia bahkan siap meregang nyawanya di danau hanya demi menyusul abang disana. Seperti ucapannya tadi jika abang pergi, maka dia akan menyusul abang untuk pergi juga. Terkadang kita mengatakan isi hati kita tanpa sengaja jika sedang marah atau khawatir bang. Mungkin dia juga memiliki rasa yang sama padamu bang, hingga dia tak mau kehilanganmu" Ucap bang Rama menjelaskan sambil tersenyum
"Semoga itu semua menjadi kenyataan untukku bang" kata Pandu lembut
"Abang..... Abang..." lirih Viara pelan masih menutup matanya
"Iya dek, abang disini. Ada apa hmm?" Tanya Pandu lembut. Viara perlahan-lahan membuka matanya namun pandangannya sangat kabur ketika melihat wajah Pandu diatasnya
"Jangan pernah tinggalin adek lagi yah" Ucap pelan Viara pada bayangan kabur di atasnya
"Iyah dek, abang janji nggak akan lakuin hal konyol seperti tadi lagi. Adek juga jangan pernah berpaling dari abang yah" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum. Viara beranjak bangun dari pangkuan Pandu dan berusaha duduk disamping Pandu meski tubuhnya masih merasa lemas
"Adek masih kuat?" Tanya Pandu membawa kepala Viara agar bersandar di dadanya
"Iyah adek masih kuat, hanya adek haus saja" Jawab Viara tersenyum. Pandu terkekeh mendengar ucapan Viara langsung mengambilkan botol mineralnya dan membantu Viara untuk minum
"Terimkasih yah bang" Kata Viara lembut setelah meminum air
"Sama-sama dek, ayo dek kita bakar ikan hasil tangkapan adek tadi" ajak Pandu
"Oke bang" seru Viara antusias dan langsung membakar ikannya dibantu oleh bang Rama, sedangkan Pandu tengah mengemasi peralatan memancing mereka dan sesekali melirik kearah Viara yang sangat antusias membakar ikan hasil tangkapannya sendiri
"Aku mencintaimu dek, sangat mencintaimu. Berjodoh denganmu adalah Aamiin ku yang paling banyak di sepanjang doa dan sujudku. Semoga kamulah tulang rusukku, dan dilahirkan hanya untuk melengkapiku"
Bersambung......
__ADS_1