Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 67. Foto Skandal


__ADS_3

"Gimana bang, udah ketemu nggak?" Tanya Pandu pada teman-teman yang turut membantunya mencari cincin miliknya


"Nggak nemu bang, kami semua udah nyari di sekitar pos dan wilayah-wilayah desa yang sering kita kunjungi, namun cincin yang abang punya nggak nemu-nemu juga" Ucap Bang Niko mewakili semua teman-teman. Bang Zardan menghela nafasnya dan berjalan kedepan Pandu


"Lebih baik kamu beritahu Viara jika cincinmu hilang. Sudah 3 hari kita mencarinya, namun cincin itu entah tersimpan dimana hingga kita tak kunjung menemukannya" saran Bang Zardan


"Tapi bang, aku takut Viara akan kecewa padaku"


"Nggak, Viara adalah orang yang baik. Dia pasti percaya dan mengerti tentangmu, asalkan kamu tidak berbohong dan mengatakan yang sebenarnya pada Viara. Lagipula besok kamu harus segera kembali ke Batalyon, kamu tidak ingin membawa beban itu bersamamu bukan?" Pandu menghela nafasnya setelah mendengar usulan Danrunya


"Baik bang, besok akan aku katakan padanya yang sebenarnya" Jawab Pandu. Bang Zardan tersenyum dan menepuk bahu Pandu


"Kalian beristirahat lah, ini sudah malam. Dan bagi yang mendapat tugas berjaga malam ini, kerjakan segera" perintah Bang Zardan pada personilnya


"Siap laksanakan" Seru para prajurit serentak dan berlalu meninggalkan ruang tengah didalam pos jaga. Pandu merebahkan tubuh lelahnya di kasur dan tersenyum getir melihat jari manisnya yang tak lagi dihiasi cincinnya


"Semoga adek nggak marah sama abang" gumam Pandu dan perlahan-lahan menutup matanya


__________


Seperti biasanya, setiap pagi Pandu selalu menunggu Viara keluar rumah dan mengantarnya ke sekolah. Begitu juga sekarang, Pandu menyempatkan dirinya untuk mengantar kekasihnya untuk terakhir kali sebelum dia kembali dipindah tugaskan ke kotanya. Pandu merasa sedikit khawatir untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Viara tentang kehilangan cincin yang menjadi simbol cinta keduanya


"Tetap tenang dan semangat Pandu" gumam Pandu menyemangati dirinya sendiri saat melihat Viara yang sudah keluar rumah dan berjalan kearahnya


"Assalamu'alaikum abang sayang" Sapa Viara menyalami tangan Pandu


"Walaikumsalam sayang" balas Pandu tersenyum dan mengecup kening Viara dengan lembut


"Apa abang udah nemu cincinnya?" Tanya Viara sambil mengenggam tangan Pandu. Pandu mengontrol nafasnya dan mulai menceritakannya kepada Viara


"Maafkan abang yah dek, abang nggak temukan cincin itu. Abang udah cari ke mana-mana, namun cincinnya tak kunjung ditemukan. Maafkan abang yang ceroboh karena telah menghilangkan simbol cinta kita yah" kata Pandu mengenggam kedua tangan Viara


"Padahal aku ingin sekali menyematkan kembali cincin itu ditanganmu sebelum kita terpisah" batin Viara terdiam sambil menatap Pandu.


Viara mengelus pipi Pandu dengan penuh kelembutan dan tersenyum manis pada kekasihnya itu


"Iyah sayang, adek mengerti kok. Nggak apa-apa cincinnya hilang, setidaknya cinta kita tidak ikut hilang dibawa cincin itu. Walaupun tanpa simbol cinta di jari abang, adek tetap sayang kok sama abang. Cincin bisa ditemukan yang baru, tapi tidak dengan abang yang tak akan adek temukan di diri orang lain. Jangan sedih yah bang, adek sayang banget sama abang" Ucap Viara lembut dan berhambur memeluk Pandu.


Pandu yang merasa beban hatinya telah diangkat seketika oleh ucapan lembut Viara menyungingkan senyum cerahnya dan membalas pelukan Viara padanya


"Terimakasih telah kembali mengerti tentang abang yah, kamu adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk abang sayangi selamanya. Terimakasih sudah percaya yah sama abang. Abang janji akan menjaga dan dan mencintaimu selalu meski tak ada cincin yang tersemat di jari ini. Abang juga sayang sama kamu dek" kata Pandu terharu di bahu Viara.


Viara mengangkat wajah Pandu dan mengusap kedua pipi Pandu dengan lembut


"Ayo kita pergi bang, adek pengen habisin waktu adek sama abang hari ini. Setelah itu adek akan selalu merindukan abang disini" Ajak Viara memakaikan helm di kepala Pandu, begitu juga Pandu yang yang membalas perlakuan Viara padanya


"Pegangan yah sayangku" Ucap Pandu lembut. Viara menganggukkan kepalanya dan semakin mengeratkan rangkulan tangannya di pinggang Pandu sambil tersenyum manis


"Sudah sayang"


Setelah memastikan semuanya aman, Pandu melajukan motornya membelah jalanan desa yang masih sangat sepi. Viara ingin menangis sejadi-jadinya mengingat hari ini adalah hari terakhir dia bersama kekasihnya, namun Viara menahan air matanya dan tetap mengukir senyuman di wajahnya karena Viara tidak mau dia menghabiskan waktu terakhir bersama Pandu dengan air mata. Viara ingin membuat kenangan indah bersama Pandu, agar ketika terpisah jarak nanti, Viara tidak akan telalu larut dalam kesedihan


"Meskipun kamu akan jauh dari pandanganku, tapi aku akan selalu merasakan kehadiranmu disini. Kenangan indah yang kita ukir bersama akan selalu kukenang dalam hatiku, selamanya" batin Viara tersenyum dan semakin memeluk Pandu erat


"Adek sayang abang"


_________


Sesampainya didepan gerbang sekolah tempat Viara mengajar


"Semangat mengajarnya yah sayang" Kata Pandu mengelus puncak kepala Viara


"Iyah bang, abang juga semangat yah hari ini" Ucap Viara mencoba tersenyum pada Pandu.


Pandu yang mengerti arti dibalik senyuman Viara meraih bahu Viara dan membawanya Viara kedalam pelukannya. Viara semakin terisak di pelukan Pandu karena tidak mau terpisah kembali dengan orang yang sangat dicintainya


"Abang tahu ini sulit untukmu sayang, begitu juga abang yang juga akan merindukanmu selalu disana. Jika hatimu tidak kuat, maka berdoalah pada-Nya agar hatimu menjadi tenang. Jangan pernah bosan meminta sayang karena takdir ada di tangan Allah, maka berdoalah agar dia yang kamu nanti, segera dipersatukan" Nasihat Pandu lembut dibalas anggukan kepala oleh Viara didalam pelukan Pandu


"Nah, sekarang tersenyumlah, masa abang dapatnya ingus terus sih" Viara langsung tersenyum dan menghapus air matanya


"Adek masuk ke sekolah dulu yah bang, assalamu'alaikum abang sayang" pamit Viara meraih tangan Pandu dan menyalaminya cukup lama


"Walaikumsalam sayang" balas Pandu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Viara yang sudah melangkahkan memasuki gerbang


"Aku juga akan selalu merindukanmu sayang" gumam Pandu tersenyum dan kembali melajukan motornya


__________


Di ruang kelas 2


"Anak-anak, kemarin ibu kasih PR di halaman 72 kan. Bagaimana sudah dikerjakan?" Tanya Viara yang tengah mengajar di kelas


"Sudah Bu!!!!" jawab Semua anak-anak serentak


"Bagus!! Sekarang kita periksa sama-sama yah, kalau masih ada yang salah dibenarkan lalu dipelajari kembali" titah Viara lembut


"Baik Bu"


"Siapa yang mau kerjakan di papan tulis?" Tanya Viara sambil mengangkat spidol di tangannya


"Saya Bu, saya Bu!!!!" seru semua anak-anak mengangkat tangan mereka. Viara tersenyum senang melihat semua muridnya mengangkat tangan dan berseru ingin maju kedepan


"Putra, ayo maju sayang" perintah Viara lembut.


Putra bergegas turun dari kursinya dan berjalan kedepan untuk mengerjakan satu soal di papan tulis.

__ADS_1


Viara tersenyum dan manggut-manggut melihat jawaban Putra yang sangat benar di papan tulis


"Sudah Bu" kata putra tersenyum setelah selesai mengerjakan soal nomor satu


"Terimakasih putra, silahkan duduk" Ucap Viara lembut sambil mengusap puncak kepala muridnya


"Jawaban putra sudah benar yah. Apa ada diantara kalian yang jawabannya berbeda dari jawaban putra?" Tanya Viara.


Mendengar seruan gurunya, Lili turun dari kursinya dan berjalan mendekati Viara. Viara berlutut untuk menyamakan tingginya dengan tinggi Lili


"Bu guru, jalan kerjanya Lili dengan jalan kerjanya putra berbeda, tapi hasilnya tetap sama bu. Apa Lili salah yah bu?" Tanya Lili


"Coba sini ibu lihat" Lili mengangguk dan menyerahkan bukunya kepada Viara. Viara menerima buku itu dan menyunggingkan senyumnya menatap hasil kerja anak itu


"Tidak sayang, jawabanmu sudah benar. Kalau jalan kerjanya putra, dibagi dulu baru di kali. Kalau Lili di kali dulu baru di bagi, tapi hasilnya tetap sama sayang" Ucap viara lembut


"Jadi jawaban Lili benar yah bu?" Tanya Lili senang.


Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan mengusap puncak kepala Lili dengan lembut


Setelah semua soal terjawab di papan, Viara memeriksa semua hasil pekerjaan rumah murid-muridnya. Viara tersenyum senang karena nilai terendah di kelas itu hanya 80 saja, sedangkan nilai 100 paling banyak dikoleksi anak-anak didiknya


Ting....Ting....Ting.. (bel istirahat berbunyi)


"Anak-anak, silahkan keluar main. Tapi ingat kalau beli jajan, kulitnya dibuang di tempat sampah ya" perintah Viara


"Baik Bu" seru anak-anak antusias dan berlari keluar kelas.


Viara tersenyum melihat wajah senang anak didiknya dan kembali mengemasi buku-bukunya diatas meja. Pak Dino yang kebetulan lewat di depan kelas Viara menyunggingkan senyumnya dan berjalan menghampiri Viara


"Viara, sekarang sudah waktunya istirahat. Ayo kita makan siang bareng di kantin" ajak Pak Dino


"Baiklah pak, tapi saya simpan buku-buku saya dulu di ruang guru yah"


"Tentu Viara, ayo" Viara tersenyum dan berjalan menuju ruang guru diikuti Pak Dino disampingnya


Setelah sampai di kantin sekolah, Viara dan pak Dino memesan makanan dan mulai menyantap pesanan mereka yang telah diantarkan oleh ibu penjaga kantin


Pak Dino sesekali mencuri pandang dan tersenyum pada Viara yang duduk berhadapan dengannya


"Dia cantik sekali kalau lagi serius seperti ini" batin Pak Dino menatap Viara yang tengah menyantap makanannya.


"Apa aku katakan padanya sekarang yah?" kata pak Dino dalam hati.


Pak Dino membulatkan matanya menatap cincin yang melingkar di jari tangan Viara. Pak Dino yang memang sangat penasaran dengan cincin yang melingkar di jari tangan Viara mulai angkat bicara


"Viara, kalau boleh saya tahu, cincin yang kamu sematkan di jarimu sangatlah indah. Kamu beli dimana?" Tanya Pak Dino.


Viara beralih melihat cincin ditangannya sambil tersenyum mengingat wajah Pandu


"Ohh kamu sudah punya kekasih yah?" Tanya Pak Dino berusaha tetap bersikap normal


"Iyah Pak, dia menyematkan cincin ini dijariku sebagai simbol cinta kami berdua" Ucap Viara sambil tersenyum senang


"Ohh namanya siapa Viara? Siapatau saya kenal" Tanya Pak Dino kembali


"Namanya Pandu Pak, dia seorang tentara yang bekerja di pos depan rumah dinasku" jawab Viara kembali


Ting... Ting.. Ting...


"Pak, saya kembali ke kelas dulu yah, sudah jam masuk sekarang" pamit Viara


"Iyah Viara, silahkan" balas pak Dino ramah. Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya meninggalkan kantin sekolah


"Ternyata aku terlambat yah, kamu sudah memiliki kekasih sekarang" gumam Pak Dino menatap nanar punggung Viara yang kian menjauh


"Cincin ini, akan kukatakan yang sebenarnya padanya setelah pulang sekolah nanti agar hatiku tenang"


__________


Saat ini, Pandu tengah duduk sendiri di depan pos sambil menatap rumah dinas para guru di depan sana. Pandu mulai mengingat semua kenangan yang terjadi ketika bertugas di desa ini. Desa yang kembali mempertemukan dirinya dengan gadis yang dia cari selama ini. Tempat dimana dia bisa bertugas dengan nyaman dan berbahagia dengan jawaban cinta dalam diamnya selama 8 tahun. Desa yang tak akan dilupakan Pandu, walaupun dia akan segera pergi meninggalkannya


"Tak terasa, waktu berlalu sangatlah cepat. Selama ini waktu sangatlah lama bagiku karena beratnya hatiku yang menunggunya untuk bertemu. Namun waktu sangatlah cepat berlalu saat aku telah menemukan dan berbahagia bersamanya. Akan selalu ku kenang setiap tempat dimana kita pernah melukis indahnya cinta disana, akan selalu ku kenangan bibir pantai di sore hari itu. Pantai dan cahaya senja yang menjadi awal aku memiliki dan dimiliki olehmu. Terimakasih sudah memberiku cinta dan menghapus setiap air mataku. Terimakasih sudah setia menemani dan menjagaku selama ini. Semua itu akan ku kenang dalam hatiku dan akan selalu ku ingat selamanya" gumam Pandu tersenyum mengingat setiap kenangan yang dia lakukan bersama Viara selama beberapa bulan di desa ini.


Sementara di jalan depan sana, Tara tengah berjalan kaki sambil menenteng paper bag ditangannya hingga Tara tak menyadari ada ranting kayu besar tinggi diatas kepalanya yang siap menimpahnya


"Nona awass!!" Teriak Sang penebang pohon dari atas sana


"Ibu...." Teriak Tara ketakutan melihat ranting kayu besar yang telah lepas dan siap menimpahnya.


Pandu refleks berlari dan mendorong Tara hingga dahan itu terjatuh tidak mengenai keduanya.


Brukkkk.....


Tara dan Pandu terguling-guling di tanah hingga tangan Tara sedikit tergores di batu. Tara merasa sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi hingga dia mulai menangis ketakutan


"Ibu hiks... hiks.." lirih Tara ketakutan


"Tenanglah, semua sudah aman" Ucap Pandu mengelus punggung bergetar Tara. Tara yang masih merasa takut refleks memeluk Pandu dan menagis histeris di bahu Pandu


"Ibu hiks." lirih Tara semakin terisak.


Pandu membiarkan Tara menangis sambil memeluknya karena Pandu mengerti ketakutan yang dialami Tara saat ini


"Tenanglah Tara, semuanya baik-baik aja kok. Jangan menangis lagi, bukannya ibumu tak suka jika melihatmu menangis. Kau ingat kan kalau ibumu selalu membelaku saat aku menganggumu bukan? Ibumu juga mengatakan jika kamu tidak boleh cengeng dan menangis saat bersamaku, maka tenanglah" Ucap Pandu membuat Tara menjadi tenang dan semakin memeluk Pandu erat.

__ADS_1


Tara seolah mendapatkan sahabat kecilnya kembali dan tak mau melepaskannya pergi lagi. Tara masih ingin bermain dan memeluk Pandu seperti ini, sama seperti ketika mereka berdua kecil dulu


"Terimakasih yah Pandu sudah menolongku tadi" Ucap Tara tersenyum


"Sama-sama Tara, sekarang tenang yah" Ucap Pandu melepaskan pelukan Tara darinya.


Pandu mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Tara sama seperti dulu, namun Pandu kembali teringat dengan Viara hingga Pandu tak jadi menghapus air mata Tara


"Sini aku bantu" kata Pandu membantu Tara berdiri dan membimbingnya duduk di depan pos. Tara menghapus air matanya dan tersenyum manis pada Pandu yang duduk berhadapan dengannya


"Rupanya kamu masih ingat kenangan saat kita kecil dulu yah"


"Iya, sebagian dari kisah saat aku kecil dulu masih kuingat sampai sekarang" jawab Pandu datar


"Apa kita bisa kembali lagi seperti dulu? Aku janji tidak akan melukaimu lagi" pinta Tara dengan mata berkaca-kaca


"Tidak Tara, kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Ini adalah masa depan, dan aku ingin membuat kisah yang tak akan menyakitiku seperti masa lalu. Ada hati yang harus kujaga sekarang, dan aku tidak bisa melukai hati itu hanya demi masa lalu. Dia sudah tulus mencintaiku, dan aku tidak bisa menghancurkan cintanya untukku karena aku tahu rasa sakit yang akan dialaminya nanti. Cukup aku saja yang patah hati dulu, tidak dengan orang yang aku cintai" jelas Pandu membuat Tara menghela nafasnya kasar


"Baiklah Pandu, aku terima jika itu adalah keinginanmu sekarang. Tapi jika nanti kamu ingin kembali lagi padaku, aku akan selalu menerimanu dengan lapang dada. Biarlah cinta ini tetap ada di hatiku, biarlah aku menangung semua resiko karena terlambat mencintaimu. Setidaknya dari rasa sakit ini aku paham, bagaimana hancurnya kamu dulu saat melihatku mencintai orang lain. Sekarang aku juga mengalami hal yang sama denganmu dulu, dan aku tahu itu sangatlah sulit untuk dimaafkan. Tapi biarlah aku pendam cintaku ini untukmu yah, jangan mencegahku untuk mencintaimu meski aku tidak bisa memilikimu" pinta Tara memohon.


Pandu menghela nafasnya dan mengangukkan kepalanya pada Tara


"Aku tidak akan mencegahmu untuk melakukan hal yang kamu inginkan, tapi jika ada seseorang yang datang melamarmu, maka terimalah dia" Ucap Pandu sambil berdiri dari duduknya dan berlalu menuju motornya


"Kamu mau kemana Pandu?" Tanya Tara


"Mau jemput Viara, beberapa menit lagi waktunya untuk dia pulang" jawab Pandu sambil memakai helm


"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang" ajak Pandu. Tara tersenyum dan segera naik ke jok belakang Pandu


"Terimakasih Pandu" kata Tara lembut. Pandu menganggukkan kepalanya dan melajukan motornya untuk menjemput Viara


"Aku akan tetap mencintaimu Pandu, meski aku tak bisa memilikimu"


__________


Di perjalanan, Tara meminta Pandu untuk berhenti sebentar di warung Mbak Iyem karena dia harus membeli makan siangnya


"Tunggu sebentar yah Pandu" pinta Tara


"Baiklah" jawab Pandu mendudukkan dirinya di kursi depan warung.


Saat tengah menunggu Tara sambil melihat informasi di ponselnya, tiba-tiba ada anak remaja yang memberikan amplop besar pada Pandu


"Bang, ini dari seseorang untuk abang" kata remaja lelaki itu


"Dari siapa?" Tanya Pandu


"Dari eh... orang itu kemana?" Ucap anak itu kebingungan karena tak lagi melihat orang yang menyuruhnya memberikan amplop besar itu untuk Pandu


"Siapa dek?" Tanya Pandu kembali


"Tadi bang, ada seorang wanita yang memintaku untuk memberikan ini sama abang" Ucap remaja lelaki itu


"Baiklah dek, terimakasih" Ucap Pandu ramah


"Sama-sama bang" jawab anak itu dan langsung berlalu meninggalkan lokasi tersebut


"Hmm, dari siapa, kok nggak ada namanya?" gumam Pandu memperhatikan amplop besar itu.


Saat Pandu membuka isi amplop tersebut, Pandu tertegun melihat foto yang menjadi isi amplop tersebut. Pandu terperanjat kaget melihat foto itu dimana terlihat jika Viara tengah tertidur pulas tak mengenakan hijabnya hingga rambut panjangnya terurai dengan masker yang menutupi separuh wajahnya, dan seorang pria tanpa busana yang berada diatasnya dengan kedua tangannya sebagai penyangga tubuhnya


"Ini...ini nggak mungkin adek kan?" gumam Pandu tak percaya.


Pandu mengamati dengan intens wajah pria tanpa busana itu dan menyadari jika lelaki itu adalah pak Dino, orang yang tak sengaja ditabraknya ketika mencari cincinnya yang hilang di balai desa dua hari yang lalu


"nggak, ini bukan adek. nggak mungkin adek melakukan ini" gumam Pandu tak percaya.


Pandu teringat saat dia bertemu Pak Dino beberapa hari yang lalu, saat pak Dino berkata jika dia akan pergi ke kota kemarin dan dihari itu juga Viara pergi ke kota. Seketika hati Pandu kembali merasa resah dengan foto yang dilihatnya


"Nggak, ini bukan adek. Adek disini masih mengenakan pakaian, jadi adek mungkin nggak niat untuk melakukan yang tidak-tidak. Disini juga adek sedang tertidur pulas dan masih memakai maskernya, pasti adek dijebak, sama seperti yang terjadi padaku karena ulah Kiara itu hari" gumam Pandu.


Pandu membalikkan foto pertama itu dari tangannya dan membaca pesan yang tertulis di bagian belakang foto itu


Baiklah jika kamu percaya jika kekasihmu dijebak, tapi foto selanjutnya akan membuat pemahamanmu berubah tentang siapa Viara dan Dino sebenarnya


Pandu kembali membuka amplop itu untuk melihat foto selanjutnya. Ketika foto tersebut berhasil dikeluarkan Pandu, Pandu tertegun melihat foto itu dimana kepercayaannya terhadap Viara runtuh seketika. Foto yang menggambarkan jika Viara berada di dalam bus dan tertidur pulas sambil menyandarkan kepalanya di bahu Pak Dino. Pandu semakin marah melihat wajah Pak Dino yang tersenyum cerah sambil terus menatap wajah Viara yang tengah tertidur pulas di bahunya


Bruk


"Dino!!!!!!" Geram Pandu memukul meja di depannya hingga beberapa pengunjung warung tersentak kaget, begitu juga dengan Tara yang baru saja berdiri disamping disampingnya


"Ada apa Pandu?" Tanya Tara sambil mengusap dadanya


"Nggak ada apa-apa" ketus Pandu berdiri dari duduknya dan berlalu mendekati motornya


"Apa yang terjadi?" gumam Tara melanjutkan langkahnya kakinya menyusul Pandu


Dalam perjalanan, Pandu meremas kuat stir motornya sambil mengontrol amarah yang memuncak di ubun-ubunnya


"Aku tidak akan percaya semudah itu. Adek adalah wanita yang baik dan juga setia, tidak mungkin dia tega menghianatiku. Aku akan percaya jika aku melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri" kata Pandu dalam hati


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya yah😉

__ADS_1


Thank You All😘💞


__ADS_2