Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 87. Menjagamu Sepenuh Hatiku


__ADS_3

Pukul 1.50 dini hari, Viara terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ringisan suaminya. Ketika Viara membuka matanya, Viara tertegun melihat wajah pucat suaminya yang terlihat sangat cemas dan gelisah dalam tidurnya. Tubuhnya bergetar hebat dan bergerak liar diatas ranjang hingga selimut dan handuk yang dikenakannya telah jatuh ke lantai. Ketika menyentuh kening Pandu, Viara terkejut merasakan suhu panas di kening Pandu


"Astaghfirullah, demamnya tinggi sekali" gumam Viara cemas


"Adek... Adek...." Kata Pandu dengan raut wajah cemas dan masih dalam keadaan tertidur. Viara mengusap lembut wajah pucat suaminya dan menghapus keringat dingin yang membanjiri keningnya


"Iyah sayang, adek disini. Abang tenang yah, tidur yang nyenyak sayang" bisik Viara lembut ditelinga suaminya


Viara turun dari ranjang dan berlalu ke dapur untuk mengambil air dingin dan kain untuk mengompres kening Pandu. Sesampainya di kamar, Viara langsung menaiki ranjang dan meletakkan kepala suaminya yang masih bergerak liar diatas pangkuannya. Viara mengompres lembut kening Pandu sambil mengusap wajah pucatnya yang masih terlihat ketakutan


"Jangan!!!!" kata Pandu gelisah dalam tidurnya


"Dia milikku, jangan ambil dia dariku!!!" Ngigau Pandu bergerak liar diatas ranjang


"Adek... Adek...." Ucap Pandu mengigau ketakutan dalam tidurnya. Viara mengusap wajah pucat itu dan mendekatkan wajahnya di telinga Pandu


"Suittt!! Abang tenang yah, adek nggak apa-apa kok. Jangan takut, tak akan pernah adek pergi meninggalkanmu sendiri sayang" bisik Viara membawa tubuh gemetar Pandu kedalam pelukannya.


Viara mengusap punggungnya lembut dan mengecup pipinya yang ada di samping wajahnya.


"Tenanglah sayangku, adek hanya milikmu kok" Ucap Viara lembut sambil mengusap punggung suaminya.


Merasa tubuh Pandu tidak lagi bergetar dan gelisah, Viara mengusap lembut kepala suaminya yang didekapnya dan membaringkannya diatas pangkuannya


"Tidur yang nyenyak yah, aku akan selalu ada disini, menjagamu dengan sepenuh hatiku saat kamu terlelap dan terbangun dari tidur lelapmu" bisik Viara lembut dan mengecup kening panas suaminya dengan penuh kasih sayang. Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah Pandu yang tidak lagi mengigau ketakutan


"Mungkin karena 7 hari belakangan ini abang selalu bekerja hingga pulang malam penyebab abang sakit begini, ditambah lagi dengan panggilan untuk menolong warga desa dari bencana banjir bandang hingga pulang sampai basah kuyup dan lemah. Peran abang sebagai komandan kompi, tentu tugas dan tanggung jawabnya juga akan semakin bertambah. Untuk semua rasa letih itu, untuk setiap tetes keringat, terimakasih sudah berjuang yah bang. Terimakasih selalu setia memenuhi panggilan ibu pertiwi hingga semua tenagamu kau kerahkan untuk memenuhi panggilan itu. Terimakasih suamiku sayang, terimakasih prajuritku. Aku bangga menjadi kekasihmu dan satu lagi....." Viara mendekatkan wajahnya ke telinga Pandu seraya berbisik


"Aku mencintaimu Lettu". Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu yang menerbitkan senyuman tipis di bibirnya


"Alhamdulillah, mimpi yang indah yah sayangku" kata Viara lembut dan kembali mengompres kening suaminya.


Viara masih tetap terjaga dan tetap setia mengompres kening Pandu yang masih agak panas sampai subuh menjelang.


Ketika Viara mendengar adzan subuh dari masjid yang ada di lingkungannya, Viara mengangkat kepala suaminya yang ada di pangkuannya dan membaringkannya dengan posisi sempurna. Viara meraih handuk disamping tubuh Pandu dan kembali memakaikan di pinggang Pandu untuk menutupi bagian bawah suaminya


"Bentar yah sayang" gumam Viara mengecup kening Pandu dan mengambil selimut yang jatuh merosot di lantai untuk kembali menutupi tubuh suaminya yang hanya mengenakan handuk saja.


Viara melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


20 menit kemudian, setelah melaksanakan shalat subuh, Viara merapikan perlatan shalatnya dan kembali naik ke ranjang untuk mengurus suaminya. Viara kembali meletakkan kepala Pandu diatas pangkuannya dan mengompres keningnya yang masih agak panas dengan lembut

__ADS_1


Viara terus mengompres kening Pandu sampai jam dinding menunjukan pukul 6.00 pagi. Viara menyentuh kening Pandu dan tersenyum senang menyadari jika kening suaminya sudah tidak panas lagi dengan suhu tubuhnya sudah normal seperti semula. Karena terjaga sejak pukul 1.50 dini hari, Viara yang kelelahan perlahan-lahan menutup mata dan tertidur pulas dengan posisi duduk bersandar di sandaran ranjang.


Lima belas menit kemudian, Pandu menggeliat diatas ranjang dan perlahan-lahan membuka matanya. Ketika Pandu sudah membuka matanya, Pandu tertegun karena dia tertidur diatas pangkuan Viara. Pandu menoleh keatas dan menyunggingkan senyumnya melihat wajah Viara yang terlelap dengan kedua tangannya mengenggam kain yang menutupi keningnya. Pandu mengangkat tubuh Viara dan membaringkannya dengan sempurna di sampingnya


"Kamu pasti baru tertidur karena menjagaku semalaman. Terimakasih masih setia terjaga di malam hari hanya untuk merawat sakitku sayang. Jika aku dihadapkan dengan putri raja dan dirimu, aku hanya akan memilihmu sayang. Akan ku lindungi kamu tetap aman di sisiku karena aku menyayangimu selalu sayang. Tidak akan kubiarkan seseorang melukai atau mengambilmu dariku karena kamulah wanitaku dan akan selalu menjadi wanitaku selamanya" Ucap Pandu memperbaiki selimut yang menutupi tubuh istrinya dan mengecup keningnya dengan lembut. Pandu memperbaiki handuk yang menutupi tubuhnya dan berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya dan untuk istrinya


Selang beberapa saat, Viara terbangun dari tidurnya merasakan sakit di bagian bawah perutnya. Viara berlalu ke kamar mandi dan memeriksa tubuhnya dan menyadari jika dirinya kembali datang bulan


"Mungkin belum yah, padahal tadi subuh nggak" gumam Viara menghela nafasnya. Viara melangkah mendekati shower dan mulai membersihkan tubuhnya. Setelah mandi, Viara langsung memakai pakaiannya dan bersiap untuk mengajar di sekolah


"Sepertinya ada yang kurang" gumam Viara mengamati kamarnya. Viara tertegun melihat seragam yang disiapkannya untuk Pandu masih terlihat rapi diatas meja setrika


"Kalau abang belum ke kantor, lalu dimana abang?" gumam Viara beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar kamar mencari keberadaan suaminya.


Ketika Viara telah menuruni tangga, Viara mendengar suara dan mencium aroma nikmat dari dapur. Viara melangkahkan kakinya ke arah dapur dan menyunggingkan senyumnya melihat suaminya tengah memasak sambil membelakanginya.


Viara melangkahkan kakinya mendekati Pandu yang tengah memasak dan memeluknya dari belakang. Pandu menyunggingkan senyumnya melihat tangan istrinya yang melingkar di pinggangnya


"Adek udah bangun?" Tanya Pandu lembut


"Kalau adek nggak bangun, siapa yang akan mengurus suamiku? Lalu siapa yang akan menjaga suamiku di saat dia butuh perhatian istrinya" balas Viara semakin memeluk Pandu


Pandu membalikkan badannya dan membawa Viara kedalam pelukannya


"Abang udah nggak sakit lagi sayang. Terimakasih sudah menjaga dan merawat abang semalam yah" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum


"Abang semalam mimpiin apa, kok abang gelisah banget dalam tidurnya?" Tanya Viara lembut


"Abang mimpiin kamu berhasil dimiliki orang lain yang bukan abang dek." Kata Pandu memeluk istrinya


"Dan orang itu temanku Andra" lanjutnya lagi dalam hati


"Nggak lah bang, adek kan hanya milik Lettu Pandu seorang dan tidak ada yang lebih berhak memiliki adek selain suami adek. Jangan pernah takut selama aku ada disisimu karena hanya kamulah pemenangan dihatiku. Hanya Panduku saja pemilik cinta dan jiwa raga ini, dan hanya untuk Panduku saja, jantung ini masih berdetak. Hanya namamu saja yang ada dihatiku sayang. Adek sayang abang" Kata Viara mengecup kedua pipi Pandu dan kembali memeluknya erat. Pandu tersenyum mendengar menuturan istrinya dan kembali mengecup keningnya lembut


"Abang juga sayang sama adek" Ujar Pandu mengusap punggung istrinya yang memeluknya erat sambil tersenyum bahagia


"Ayo ratuku sayang, sekarang duduk yang manis yah. Makanannya akan segera siap" Ucap pandu membimbing istrinya untuk duduk di kursi depan meja makan. Setelah Viara duduk, Pandu menyiapkan dua piring nasi goreng di meja dan ikut duduk disamping istrinya


"Silahkan dimakan sayangku" Ucap Pandu sambil tersenyum. Viara mengangukkan kepalanya dan mulai memasukan sesendok nasi goreng buatan Pandu kedalam mulutnya. Viara kembali tertegun merasakan nikmatnya makanan yang menyentuh lembut indera perasanya


"Gimana sayang, enak nggak?"

__ADS_1


"Enak bang, ini enak. Abang ternyata pandai memasak nasi goreng juga yah" seru Viara tersenyum pada suaminya


"Jangan meremehkan suamimu ini sayang, selain tampan dan juga pandai membidik, abang juga pandai memasak dan meracik bumbu loh" Ucap Pandu bangga


"Hahah, baiklah suamiku yang paling tampan sedunia, ayo dimakan. Adek suapin yah" Ucap Viara tersenyum dan menyuapi suaminya. Seketika bulir bening lolos dari mata Viara melihat senyuman manis Pandu yang menerima suapan darinya


"Kenapa menangis sayang?" Tanya Pandu mengusap lembut pipi istrinya


"Abang, maafkan adek yah. Sepertinya adek belum bisa kasih abang teman kecil. Hari ini adek datang bulan bang" lirih Viara tertunduk dan menangis dalam diamnya


Mendengar hal yang membuat istrinya sedih, Pandu meraih tubuh Viara dan mendudukkannya diatas pangkuannya. Pandu menghapus air mata di pipi istrinya dan mengecup kelopak matanya


"Tidak apa-apa sayang, mungkin Tuhan belum memberi kita amanah untuk menjadi orang tua. Jangan nangis yah sayang, tidak apa-apa kok. Kalau belum sekarang, mungkin nanti sayang. Walapun kita tidak juga tidak diberi amanah, berdua bersamamu sudah membuat hidup abang lengkap sayang. Kalau adek mau, kita bisa mencoba nya lagi. Jadi jangan sedih yah sayang" Ucap Pandu lembut membawa istrinya kedalam pelukannya.


Viara mengangguk didalam pelukan Pandu dan tersenyum bahagia pada suaminya. Viara menangkup kedua pipi Pandu dan melahap bibir Pandu dengan lembut. Viara merasa sangat bahagia mengetahui jika suaminya sangat mengerti tentangnya dari dulu sampai sekarang. Setelah menelusuri rongga mulut suaminya, Viara melepaskan sentuhan bibirnya dan mengusap lembut bibir Pandu sambil tersenyum manis


"Terimakasih selalu mengerti adek yah bang, adek sayang abang"


"Abang juga sayang sama adek. Jangan pernah menangis lagi yah sayang" Ucap Pandu dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum.


"Sekarang abang mandi yah, adek sudah siapin airnya di kamar. Biar adek saja yang membersihkan dan merapikan dapur" perintah Viara bergegas turun dari pangkuan suaminya


"Oke sayang" Jawab Pandu kembali mengecup kening istrinya dan berlalu ke kamar mandi di kamarnya.


Viara menyunggingkan senyumnya menatap punggung Pandu yang sudah berlalu meninggalkan dapur dan langsung membersihkan piring bekas sarapan pagi mereka.


Setelah urusan di dapur selesai, Viara melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk mengambil tasnya.


Ceklek


Viara tersenyum menatap Pandu yang sudah tapi dengan seragamnya sambil memegang tas miliknya


"Ini dek, tasnya" Ucap Pandu menyerahkan tas Viara yang langsung diambil oleh Viara sambil tersenyum


"Ayo kita pergi sama-sama dek, abang akan mengantarmu ke sekolah"


"Ayo" seru Viara senang


Pandu merangkul bahu istrinya dan berjalan bersamanya menuju ke pintu depan rumahnya


"Selamanya aku hanya milikmu Lettu"

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2