Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 32. Calon Suami??


__ADS_3

Kini, didepan matanya sendiri, Viara melihat orang yang dicintainya tengah dipeluk oleh seorang wanita. Semua orang terdiam menatap wanita itu yang tiba-tiba datang dan berlari memeluk Andra yang akan meniup lilin ulang tahunnya


"Asya, kau ada disini?" Tanya Andra pada gadis yang memeluknya


"Iyah bang, aku disini. Aku sengaja datang disini jauh-jauh untuk menemuimu. Aku sangat merindukanmu bang, bahkan ibu sering bertanya-tanya kapan kau pulang" Ucap Asya senang dan kembali memeluk Andra


"Permisi mbak Asya, bang Andra ini siapanya mbak?" Tanya pratu Denis


"Dia calon suami saya" jawab Asya lantang.


Dooor!!!!!!!


Bagai disambar petir, air mata Viara kembali luluh mendengar ucapan asya yang begitu menyakitinya. Semua orang terkejut dan melongo tak percaya mendengar perkataan Asya


"Calon suami!!!" Kata semuanya serentak


"Calon suami?" kata Viara dalam hatinya


"Wah, ternyata Danru kita selama ini sudah memiliki calon ternyata, selamat untukmu bang" ucap pratu Denis mendapat tepukan tangan keraguan dari para guru dan semua personilnya. Viara menghapus air matanya dan melangkahkan kakinya bergabung bersama teman-temannya.


Entah cuma perasaan Ila saja, Ila merasa jika Andra kurang nyaman dengan kehadiran Asya secara tiba-tiba didekatnya. Andra seolah berpura-pura bahagia dan tersenyum paksa saat para prajurit mengucapkan selamat kepada keduanya


Semua orang mulai bertanyi, kecuali Viara yang hanya terdiam menatap kosong kedepan


"Ayo potong kuenya bang" Ucap bang Jaya memberikan pisau kue pada Andra. Andra memotong kuenya dan berlalih menatap semua orang. Andra tersenyum dan berjalan ke arah Viara yang berdiri diam sejak tadi


"Ini untuk adek" Seru Andra tersenyum lalu menyuapi Viara dengan kue ulang tahunnya. Asya tersenyum getir melihat Andra yang lebih memilih menyuapi Viara dibandingkan dirinya


"Ayo Viara, dibalas dong" perintah pratu Denis diserukan oleh para prajurit. Viara mengambil alih sisa kue ditangan Andra dan memasukannya ke mulut Andra sambil berusaha menunjukkan senyumannya


Prok... Prok.. Prok...


"Terimakasih yah dek, kuenya enak" jawab Andra sambil tersenyum


"Apalagi disuapin sama Viara, pasti lebih enak lagi kan bang" goda Syifa diangguki Andra sambil tersenyum


"Ayo dek, bantu abang potong kuenya" Ucap Andra menarik tangan Viara untuk mengikutinya. Viara hanya pasrah mengikuti langkah Andra yang mengenggam tangannya


"Ayo dek, bantu abang potong yuk" ucap Andra diangguki oleh Viara sambil tersenyum. Meskipun dengan tangannya yang gemetar hebat, Viara memegang tangan Andra dan membantunya untuk memotong kue menjadi beberapa bagian


"Ayo teman-teman, kita makan bersama" seru Andra. Semua orang mengangguk dan mulai mengambil potongan kue dan memakannya. Viara melirik sekilas kearah Asya, ternyata wanita itu hanya terdiam sambil memandangi tangan Andra yang mengenggam tangan Viara. Syifa yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan, karena Syifa lebih setuju jika Andra bersama Viara, bukan bersama wanita lain

__ADS_1


"Pertahankan bang, jangan dilepas" seloroh Syifa diserukan oleh teman-temannya


"Dek, kamu sakit yah, tanganmu dingin sekali?" Tanya Andra yang mengenggam tangan Viara


"Cieee perhatian" Syifa kembali berulah untuk memanas manasi Asya. Viara yang menyadari itu langsung menarik genggaman tangan Andra darinya


"Ahh nggak kok bang, adek baik-baik aja. Selamat ulang tahun yang bang, tetap jadi pribadi yang baik dan semoga panjang umur yah" Ucap Viara tersenyum manis pada Andra.


"Terimakasih yah dek" kata Andra meraih tangan Viara dan mengecup punggung tangannya


"Tetap jadi teman abang yah dek, jangan pernah berpaling dari abang" Ucap Andra diangguki oleh Viara sambil tersenyum.


Setelah itu, semua orang mulai memutar musik dan mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan bang Jaya. Mereka bergoyang dan tertawa bersama di bawah tenda itu bersama warga sekitar yang menonton mereka. Para warga juga ikut bergabung dan membawa makanan hasil dari kebun mereka. Para ibu-ibu mendekati Andra dan memeluknya seolah Andra adalah putra terbaik di desa tersebut


"Semoga sehat selalu yah nak, panjang umur dan tetap menjadi pribadi yang tanggung jawab menjaga kemanan negara kita"


"Siap bu" seru Andra mendapatkan senyuman kebahagiaan dari ibu-ibu tersebut.


Ila yang melihat Viara hanya duduk mengamati acara yang tengah berlansung berhenti bernyanyi bersama dan berjalan mendekatinya


"Viara, kenapa nggak ikutan nyanyi bareng. Bukannya kamu mau sumbang lagu yah" Tanya Ila duduk disamping Viara


"Aku hanya lelah Ila, aku sudah berkerja keras untuk menyiapkan kejutan ini dan alhamdulillah semuanya berjalan lancar" kata Viara mencoba menunjukkan senyuman pada Ila


"Kenapa jadi bawa-bawa bang Pandu, kan dia lagi di kota" kata Viara


"Apa kamu tidak merindukannya?" seketika bulir bening lolos dari kata Viara setelah mendengar ucapan Ila. Hatinya terasa sangat sakit dengan kejadian tadi hingga ia refleks memeluk Ila dan menangis di bahunya


"Ada apa Viara? Kenapa kau menangis?" Tanya Ila yang tidak dihiraukan Viara, Viara justru semakin menangis dan mengencangkan pelukannya kepada Ila. Ila mengelus punggung bergetar Viara sambil menekan nomor Pandu untuk melakukan panggilan Video. Setelah sambungan Video tersambung, Ila tersenyum pada Pandu dan mengarahkan ponselnya kepada Viara.


"Dek, ada apa? Kenapa adek menangis?" Tanya Pandu lembut. Viara mendengar suara itu melepas pelukannya pada Ila dan beralih menatap layar ponsel Ila. Pandu semakin cemas melihat mata sembab Viara yang tak kunjung menjawab pertanyaannya


"Kenapa menangis dek, siapa yang menganggumu disitu hmm?" Tanya Pandu lembut


"Abang hiks.. hiks.. " lirih Viara tak mampu melanjutkan kata-katanya


"Ada apa dek? Cerita sama abang apa yang menganggu hatimu" Ujar Pandu


"Abang dimana hiks.. hiks." Tanya Viara bergetar memegang ponsel Ila


"Abang di kota dek, baru kembali dari rapat tadi" jawab Pandu tersenyum

__ADS_1


"Abang kapan pulang?" Tanya Viara masih menangis sesenggukan


"Besok pagi dek" Viara langsung memberikan ponsel kepada Ila dan berlari menjauhi acara yang tengah berlangsung.


"Viara!!!" panggil Ila yang tidak dihiraukan Viara. Pandu merasa semakin cemas dengan keadaan Viara sekarang


"Dek, apa yang sebenarnya terjadi pada Viara? Kenapa dia lari dek?" Tanya Pandu khawatir


"Aku juga tidak tahu bang, sejak tadi dia hanya terdiam dan langsung menangis saat aku bertanya tentangmu padanya" jawab Ila yang juga mencemaskan Viara


"Apa ada yang menganggu nya disitu dek?" Tanya Pandu sekali lagi


"Tidak ada bang, semuanya sedang bergembira disini, hanya Viara saja yang menyendiri dan lari sambil menangis tadi" kata Ila cemas


"Apa yang terjadi padamu dek, mengapa kamu menangis?" batin Pandu khawatir. Setelah mengucapkan salam, Pandu langsung memutuskan sambungan Video dengan pikirannya yang selalu terbayang wajah tangis kesedihan Viara tadi.


Setelah tiba di rumah dinasnya, Viara berlari masuk ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. Dia memeluk bantal gulingnya sambil menangis histeris.


"Kenapa semua ini terjadi padaku hiks.. hiks.. Aku hanya ingin pergi dengan tenang, mengapa aku tidak mendapatkan kebahagiaanku sebelum aku pergi hiks..hiks.." lirih Viara memukul-mukul bantal. Hatinya bagai dihantam batu besar hingga nafasnya menjadi tersengal-sengal. Karena tak sanggup menerimanya kenyataan dan nafasnya yang semakin lama semakin sesak, Viara terbaring tak sadarkah diri diranjangnya dengan air mata yang terus mengalir disudut matanya


"Aku hanya ingin bahagia di sisa waktuku. Apakah itu sangat sulit untuk terwujud?"


________


Pandu yang khawatir akan Viara langsung mengetik nomor Viara secara cepat di ponselnya


Tiiittt.... Jeda yang cukup panjang namun Viara tak kunjung menjawab panggilan Pandu. Sudah 10 kali Pandu menelpon dan mengirim pesan kepada Viara, namun orang yang dikhawatirkannya sejak tadi tak kunjung membalas juga


"Aku tidak bisa hanya diam seperti ini, aku harus segera kembali" Gumam Pandu berlari ke truk namun dicegah Bang Rama


"Ehh bang, ini sudah malam. Mau kemana?" Tanya bang Rama


"Mau pulang bang, cemas aku tentang dek Viara disana" Ujar Pandu dengan raut wajahnya yang penuh kekhawatiran


"Tapi ini sudah malam bang, sedangkan perjalanan pulang memakan waktu 5 jam, apalagi kondisi sedang hujan sekarang" Cegah Bang Rama


"Tapi bang"


"Abang tenang saja, berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Besok pagi pukul 4 kita langsung balik ke desa, sekarang kita istirahat dulu bang. ini sudah malam" perintah bang Rama. Pandu menghela nafasnya kasar dan berjalan masuk ke barak bersama bang Rama


"Semoga kamu baik-baik saja dek"

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2