Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 25. Dua Hati Untuk Satu Wanita


__ADS_3

30 menit setelah selesai melakukan kemoterapi pada Viara, dokter Citra berjalan menghampiri Viara yang duduk bersandar di brankarnya sambil memegangi secarik kertas hasil pemeriksaan tadi


"Bagaimana hasilnya dokter?" Tanya Viara cemas


"Tenanglah Viara, kemoterapi hari ini berhasil mencegah penyebaran sel kanker lebih lanjut di kepalamu. Tapi kamu masih akan tetap mengalami mimisan dan kerontokan di rambutmu" Kata dokter Citra


"Alhamdulillah, terimakasih dokter Citra, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup sedikit lebih lama lagi" tutur Viara sambil tersenyum


"Iyah Viara, tapi ingatlah pesanku, selama proses penyembuhanmu, jangan sering cemas atau tertekan yah, karena itu bisa sangat berpengaruh pada kondisi kesehatanmu. Tertekan juga bisa membuat sel kanker semakin menyebar di bagian-bagian tubuh dengan cepat. Oleh karena itu teruslah tersenyum dan bahagia dihari-hari kedepan, walaupun kamu mengalami banyak masalah, janganlah larut dan terus bersedih dengan masalah itu, karena obat yang paling ampuh menyembuhkan penyakit itu hanya satu, yaitu hati yang bahagia" tutur dokter Citra mengenggam kedua tangan Viara


"Baiklah terimakasih banyak dokter" Ucap Viara terharu dan memeluk dokter Citra


"Iyah Viara, semangat yah. Teruslah berusaha agar sembuh dan meraih semua yang kamu impikan selama ini" kata dokter citra membalas pelukan Viara yang menangis di bahunya


"Ohh ya Viara, kamu kan sudah sampai sini dan tinggal di daerah cinta pertamamu bertugas. Apa kamu sudah menemukannya Viara?" Tanya Dokter Citra


"Iyah dokter, aku sudah menemukannya bahkan melihatnya setiap hari" jawab Viara menghapus air matanya


"Lalu dimana dia? Apa tentara yang terkahir kali datang kesini adalah Andra?" Tanya Dokter Citra kembali


"Bukan dokter, yang itu temannya, namanya Pandu. Aku memiliki sedikit kendala dokter, karena bang Andra sama sekali tidak mengenaliku" Jawab Viara


"Kenapa bisa begitu Viara?" Tanya Dokter Citra terkejut


"Dia memang tidak mengenaliku dokter, tapi semua ini tentu bukanlah salahnya. Kami sudah terpisah sangat lama bahkan tanpa adanya komunikasi sedikitpun. Saat itu juga aku masih gadis remaja yang selalu memakai masker kesehatan. Tentu dia hanya melihat separuh dari wajahku, lalu bagaimana bisa dia mengingat wajahku dengan baik" tutur Viara menjelaskan


"Tapi kamu bisa mengatakan padanya kalau kamu adalah Viara. Viara si gadis remaja yang pernah mencintai dan dicintai olehnya. Kamu sudah berjuang dan datang jauh-jauh kesini untuk menemuinya, tapi disaat kamu menemuinya kenapa kamu memilih bersembunyi Viara?" Kata dokter Citra yang tidak percaya dengan tindakan Viara. Viara tersenyum dan mulai menjelaskan alasannya bersembunyi dari Andra selama ini


"Bukan aku ingin sembunyi dokter, dan bukan aku tidak ingin mengatakan padanya kalau aku adalah Viara, justru aku sangat ingin mengatakan padanya kalau aku adalah Viara, Viara gadis ber masker yang pernah ditemukannya di desa dulu. Setiap kali melihatnya, jantung ini selalu berdetak sangat cepat. Setiap dia dekat dan mengenggam tanganku, hati ini selalu tenang dan merasa sangat bahagia.Setiap melihatnya aku ingin berlari dan memeluknya untuk mengatakan bahwa aku masih mencintainya sampai sekarang. Tapi aku tidak bisa dokter, aku tidak bisa" lirih Viara menjatuhkan air matanya


"Hidupku sudah tidak lama lagi dokter, penyakit ini selalu datang dan menyerangku setiap saat. Bagaimana aku bisa melihat orang yang aku cintai menderita dengan hidup bersamaku. Aku lemah dokter, aku bukanlah wanita kuat dan sehat seperti anda, aku lemah dokter hiks.. hiks.." lirih Viara mengungkapkan semua beban hatinya. Dokter Citra yang kasihan melihat tangisan pilu itu regleks memeluk Viara dan mencoba untuk menguatkannya


"Tapi Viara, jika memang dia mencintaimu, maka dia siap menerima kekuranganmu" tutur Dokter Citra sambil mengusap punggung bergetar Viara


"Benar dokter, selama ini aku sembunyi agar Bang Andra tidak terlalu berharap lagi padaku, aku tidak ingin dia menangis saat tubuhku sudah terbalut kain kafan nanti. Yang hanya kuinginkan agar hatiku bahagia di hari-hari terakhirku bersamanya. Jika memang ada wanita yang jauh lebih baik dan sehat yang datang menghampirinya, akan ku coba untuk mengikhlaskan hal itu. Akan ku relakan perasaan ini dan akan kubawa terkubur bersamaku. Setidaknya aku sudah berusaha memberikan cinta dan senyuman kepadanya sebelum aku pergi. Ketika melihatnya bahagia, maka aku akan pergi dengan tenang dokter" jawab Viara menghapus air matanya


"Kamu menang wanita yang hebat Viara, kamu merelakan perasaanmu selama ini demi orang yang kamu cintai agar dia selalu bahagia dan tidak berharap banyak lagi padamu. Tapi Viara,jika ada wanita yang datang menghampirinya,apakah kamu rela melepaskan cintamu untuk pergi bersamanya?" Tanya dokter Citra


"Akan ku usahakan dokter meskipun aku akan hancur saat tak bisa bersanding dengan orang yang aku cintai. Mungkin awalnya akan sulit dokter, tapi aku akan berusaha untuk melupakan perasaan ini. Aku akan berusaha untuk merelakan cintaku bahagia dengan orang lain. Jika melihatnya bahagia aku juga akan bahagia dokter. Itu adalah kisah cinta sejatiku dokter, kisah cinta seorang gadis bermasker yang tak akan mungkin tercapai" Ucap Viara membuat dokter citra meneteskan air mata


"Baru kali ini aku mendengar kisah cinta seperti ini Viara, kamu memang wanita yang kuat dan hebat sama seperti ibumu. Semoga kamu juga mendapatkan bahagia dan kesembuhan sehingga kamu bisa bersanding dengan lelaki yang mencintaimu nanti. Aku yakin akan ada bahagia untukmu setelah badai dan mendung yang kamu lewati selama ini" ucap dokter Citra menangis didalam pelukan Viara


"Iyah dokter, terimakasih telah mendengar dan memahamiku selama ini" ujar Viara tersenyum dan membalas pelukan dokter Citra


"Ohh ya Viara, apa kamu tidak akan memberitahu bang Andra jika kamu adalah Viaranya?" Tanya Dokter Citra menghapus air matanya


"Suatu saat nanti aku akan memberitahunya dokter, saat waktunya telah tepat" Ujar Viara


"Baiklah Viara, terus semangat yah"


"Iyah dokter, kalau begitu saya pamit yah dokter, 5 hari lagi ulang tahunnya bang Andra, kebetulan aku di disini maka aku akan mencairkan hadiah terbaikku untuknya" seru Viara turun dari brankarnya


"Tapi Viara, kamu baru saja selesai kemo, pasti kamu masih mual dan pusing bukan?" Tanya dokter Citra cemas


"Tidak apa-apa dokter, aku masih kuat dan bisa berjalan kok" jawab Viara sambil tersenyum


"Baiklah Viara, bagaimana kalau kamu berikan jam tangan saja, kebetulan di depan rumah sakit ada toko penjual jam yang baru saja buka" saran Dokter Citra


"Benarkah, baiklah dokter. Terimakasih sudah membantuku hari ini dokter. Aku pergi dulu yah assalamu'alaikum dokter" pamit Viara


"Walaikumsalam, hati-hati Viara" balas dokter Citra melambaikan tangannya pada Viara


"Kamu memang wanita yang hebat Viara, semoga kamu bisa sembuh dan bersanding dengan pria yang mencintaimu. Meskipun dia bukanlah Andra, setidaknya pria itu mencintaimu dengan tulus dan menerimamu apa adanya. Semoga bahagia Viara"


______


Setelah keluar dari gedung rumah sakit, Viara segera berjalan ke toko penjual jam yang berada tepat didepan rumah sakit. Setelah memilih jam selama 20 menit, Viara Kini telah menenteng paper bag berisi 3 kotak jam tangan

__ADS_1


"Satu untuk ayah, satu untuk bang Andra dan satunya lagi untuk bang Pandu, semoga mereka suka" ucap Viara senang sambil memasukkan paper bag kecil itu didalam tasnya. Setelah sampai di samping truk, Viara segera bergabung dengan kedua teman wanitanya yang juga tengah menunggu para prajurit untuk kembali


10 menit kemudian, para prajurit dan teman-teman guru laki-laki mereka telah keluar dari pasar dan berjalan kearah mereka sambil memegang banyak barang kebutuhan


"Semoga kamu suka benda pilihan abang ini dek" batin Pandu tersenyum kepada Viara sambil memegang boneka beruang yang ditutupi plastik hitam di tangannya.


Viara tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekati Pandu, namun Viara menghentikan langkahnya saat mendengar suara Andra yang memanggilnya


"Dek, ayo kemari" panggil Andra. Viara mengangguk dan beralih mendekati Andra


"Ada apa bang?" Tanya Viara lembut. Andra tersenyum manis pada Viara dan mulai menunjukkan isi paper bag yang dipegangnya sejak tadi. Semua orang berbalik dan menatap benda yang dipegang Andra, terlihat jika benda itu adalah sepatu pantofel wanita berwarna hitam cerah, begitu juga Viara yang tertegun saat Andra berlutut didepannya


"Ini untuk adek, tadi abang tertarik dengan sepatu ini jadi abang belikan untuk adek sebagai hadiah untuk teman terbaik. Jangan ditolak yah dek" Ucap Andra dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum bahagia


Andra mulai membuka sepatu Viara dan memasangkan sepatu pilihannya di kaki Viara


"Bagaimana dek, apa kebesaran atau kesempitan? Maaf yah abang nggak tahun ukuran kaki kamu" kata Bang Andra


"Ini pas di kaki Viara bang, terimakasih yah udah belikan adek sepatu cantik seperti ini" Ucap Viara tersenyum manis pada Andra dengan wajahnya yang telah merah merona


"Pertahankan bang, pepet terus sampai dapat" ucap Pratu Denis mendapatkan gelak tawa dari para prajurit dan teman-teman Viara, sedangkan Pandu hanya terdiam ditempat melihat perlakuan Andra barusan.


Pandu melihat boneka yang dipegangnya sambil tersenyum getir


"Mungkin bukan sekarang waktunya untuk memberikanmu kepada Viara, tapi aku janji aku tidak akan menyerah" kata Pandu dalam hati. Rama yang mengerti dengan suasana hati pandu saat ini kembali menepuk bahu Pandu


"Semangat bang, jangan mudah menyerah" Ucap Bang Rama menyemangati Pandu


"Terimakasih ya bro, kamu selalu mengerti tentang ku meski aku tidak menceritakan masalahku padamu" Ucap Pandu tersenyum


"Kamu temanku sejak kita pendidikan, jadi aku mengerti sedikit tentangmu. Ayo kita harus segera pulang" ucap Rama segera berlalu menaiki truk diikuti Pandu dibelakangnya


"Bang Denis, boleh nggak kalau adek duduk di depan, adek pengen lihat pemandangan biar nggak cepat ngantuk" pinta Viara pada pratu Denis


"Oke dek, silakan" jawab pratu Denis. Viara mengangguk dan segera menaiki kursi depan truk dengan Andra di sampingnya yang menjadi pengemudi truk


"Iyah dek, kasihan pratu Denis udah nyetir saat kita datang kesini, sekarang gantian abang yang nyetir biar pratu Denis istirahat juga" jawab Andra lembut


"Ohh baiklah bang" Jawab Viara tersenyum. Setelah memastikan semuanya siap, Andra segera mengemudikan truk menuju jalan pulang mereka. Terdengar suara tawa yang menggema dibelakang, tapi berbeda dengan Viara yang tampak serius mengutak-atik radio truk di depannya


"Gimana dek, mau abang bantu?" Tanya Andra sambil memperhatikan jalanan


"Ahh nggak usah bang, ini udah selesai tinggal atur musiknya aja" Ucap Viara sambil tersenyum


"Baiklah, silahkan dipilih musik yang bagus dek" pinta Andra. Viara mengangguk dan mulai menekan lagu kesukaannya


Aku masih seperti yang dulu


Menunggumu sampai akhir hidupku


Kesetiaanku tak luntur hati pun rela berkorban


Demi keutuhan kau dan aku


Andra tersenyum mendengar lagu pilihan Viara dan ikut bernyanyi mengikuti irama lagu


Biarkanlah aku memiliki


Semua cinta yang ada di hatimu


Apapun kan kuberikan cinta dan kerinduan


Untukmu dambaan hatiku


Malam ini tak ingin aku sendiri


Kucari damai bersama bayanganmu

__ADS_1


Hangat pelukan yang masih kurasa


Kau kasih, kau sayang


Aku masih seperti yang dulu


Menunggumu sampai akhir hidupku


Kesetiaanku tak luntur hati pun rela berkorban


Demi keutuhan kau dan aku


Malam ini tak ingin aku sendiri


Kucari damai bersama bayanganmu


Hangat pelukan yang masih kurasa


Kau kasih kau sayang


Malam ini tak ingin aku sendiri


Kucari damai bersama bayanganmu


Hangat pelukan yang masih kurasa


Kau kasih kau sayang


"Dalam dek" Ucap Andra tersenyum pada Viara, namun dari suaranya terdengar sedikit bergetar


"Apa lagu ini mencerminkan ungkapan hati abang juga?" Tanya Viara diangguki oleh Andra


"Maafkan adek yah bang, tapi bolehkan abang ceritakan alasan lagu ini begitu berkenan dihati abang?" Pinta Viara. Andra menurunkan sedikit kecepatan truknya dan mulai menjawab ucapan Viara


"Iyah dek, lagu ini mewakili perasaan abang saat ini. Kau tahu dek abang masih merindukan seseorang yang jauh disana. Seorang gadis remaja yang abang temui di desa N saat latihan gabungan 8 tahun yang lalu. Gadis yang menjadikan abang cinta monyetnya dan gadis yang abang cintai juga. Jika bukan karenanya mungkin abang sudah tidak ada sekarang" mendengar ucapan Andra, terdapat rasa bahagia di hati Viara. Ternyata orang yang dia cintai juga tengah merindukannya saat ini


"Lalu apakah abang masih mencintai gadis remaja itu? Apa kalian pernah berkomunikasi setelah terpisah 8 tahun yang lalu bang?" Tanya Viara kembali


"Iyah dek, abang masih mencintai gadis itu. Meskipun tanpa adanya komunikasi selama ini, namun gadis itu tetaplah pemenangan di hati abang. Abang selalu mencarinya dek, namun karena banyaknya tugas dan panggilan negara membuat abang belum bisa menemukannya" Ucap Andra dengan raut wajahnya yang murung


"Aku disini bang, aku gadis remaja yang mencintaimu itu sekarang tengah duduk disampingmu" kata Viara dalam hatinya sambil tersenyum manis pada Andra


"Abang ingin secepatnya bertemu dengannya dek, sebelum semuanya terlambat" kata Andra membuat Viara kebingungan


"Terlambat?"


"Iyah dek, usia abang tidak lama lagi akan memasuki usia 30 tahun, dan abang masih sendiri saat ini. Abang ingin bertemu dengan gadis yang abang cintai itu. abang akan langsung menemui kedua orang tuanya untuk menjadikannya istri abang" Jawab Andra membuat Viara menyunggingkan senyum dan meneteskan air mata bahagianya


"Semoga abang cepat ketemu gadis remaja itu yah bang"


"Iyah dek, terimakasih sudah mendengarkan abang yah" Ucap Andra diangguki Viara sambil tersenyum.


Sedangkan Pandu yang sejak tadi mendengar penjelasan jika Andra masih mencintai gadis remaja itu, gadis yang juga Pandu cintai akhinya meninju tempat duduknya cukup keras


Bugh..


"Bang Pandu ada apa?" Tanya semuanya serentak


"Ahh nggak Apa-apa, tanganku pegal jadi pengen meninju sesuatu" sangkal Pandu berusaha meredam emosinya


"Tapi jangan sekeras itu meninju nya bang, nanti tangan abang bisa luka" ucap Viara khawatir


"Nggak apa-apa dek, sudah biasa begini mah" Ucap Pandu sambil tersenyum berusaha menenangkan Viara.


Mau bagaimana pun Pandu menyangkal, ila dan Bang Rama selalu bisa melihat ada api kecemburuan yang tengah membakar Pandu saat ini. Keduanya kebingungan dengan perubahan sikap Pandu barusan. Tadinya sikap Pandu sangatlah tenang dan suka bercanda, tapi sekarang dia jadi terbawa emosi saat mendengar cerita Andra


"Apa bang Andra dan bang Pandu mencintai orang yang sama. Dilihat dari sifat dan perhatian keduanya sepertinya mereka menaruh hati kepada Viara. Tapi Siapakah gadis remaja yang yang dimaksud bang Andra tadi? Apakah gadis itu adalah Viara?" batin ila berselidik

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2