
Ting....Ting.....Ting
Bel sekolah berbunyi tanda waktu istrahat telah tiba
"Ayo anak-anak, sekarang keluar istrahat dulu yah, setelah itu dilanjutkan mengerjakan soalnya" Titah Viara pada siswa kelas dua yang diajarnya
"Baik bu, horeee!!" seru anak-anak senang dan berlari keluar kelas menuju ke kantin sekolah.
Viara tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat anak didiknya yang begitu antusias setiap mendengar bel istrahat berbunyi. Viara mengambil bukunya diatas meja dan berlalu ke ruang guru untuk mengikuti rapat yang dilangsungkan saat jam istirahat
Sesampainya di ruang guru, Viara mendudukkan dirinya di meja miliknya yang bersampingan dengan meja Ila. Ila juga adalah guru di sekolah dasar itu karena sebulan yang lalu Ila melamar pekerjaan di sekolah itu dan diterima oleh pihak sekolah.
Tak berselang lama, terlihat pak kepala sekolah telah memasuki ruang guru dan mulai membuka rapat tersebut. Setelah berdiskusi dan menjelaskan pada para guru, kepala sekolah merapikan map nya dan kembali berbicara dengan para guru
"Guna untuk menambah wawasan anak-anak didik kita mengenai lingkungan alam sekitar, seperti setiap tahunnya sekolah kita akan mengadakan camping untuk anak-anak didik kita agar mereka lebih mengenal lingkungan alam sekitar. Kita akan mengadakan camping di hutan desa N dan hanya diikuti oleh anak-anak kelas 4 dan 5. Untuk delapan guru yang telah ditunjuk untuk mengawasi anak-anak, kalian siap?" Tanya kepala sekolah
"Kami siap pak" Ucap Viara bersamaan dengan ketujuh rekan gurunya
"Baiklah, untuk wali kelas 4 dan 5, tolong bagikan formulir persetujuan orang tua ini kepada anak-anak yah" pinta kepala sekolah
"Baik Pak" jawab kedua wali kelas tersebut.
Setelah rapat selesai, para guru yang menghadiri rapat berjalan keluar ruang guru untuk mengajar di kelas masing-masing karena bel masuk telah berbunyi.
Sesampainya di ruang kelas 2, Viara tersenyum pada anak-anak didiknya yang tengah mengerjakan soal yang diberikannya sebelum waktu istirahat tadi
"Ibu suka semangat belajar kalian anak-anak, semoga kalian menjadi anak-anak yang hebat dan berhasil nanti yah" Ucap Viara pada semua murid-muridnya
"Iyah bu, Aamiin" seru anak-anak itu bersamaan dan kembali mengerjakan soal mereka
Setelah jam mengajarnya selesai di ruang kelas dua, Viara melangkahkan kakinya menuju ruang guru untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Ketika Viara melewati ruang kelas 5, Viara menghentikan langkahnya dan tertegun melihat dari depan pintu jika murid-murid kelas 5 tengah beradu argumen dengan guru matematika mereka
"Bu guru, bukan begitu cara mengerjakannya. Jawaban yang kami kerjakan di papan tadi sudah benar bu, tapi ibu hapus. Kalau jawaban yang ibu tulis di papan itu salah bu" Ucap ketua kelas 5
"Kalian yang salah anak-anak, hasil yang ibu tulis di papan sudah benar dan ibu sendiri yang mengerjakannya. Kalian lah yang salah" bantah Bu Salma
"Tidak bu guru, kami sudah menghitung dengan benar persamaan X dan Y itu bu, tapi yang ibu tulis itu salah, Kamilah yang benar" bantah ketua kelas diserukan oleh teman-temannya
"Tidak, kalianlah yang salah. Kalian menjumlahkannya dengan mencakar, pasti kalian salah menjumlahkannya. Ibu mengerjakan soal ini mengunakan kalkulator dan pemahaman-pemahaman ibu, jadi jangan coba membantah jika ibu yang salah" Ucap bu Salma sedikit meninggi
"Kami memang tidak memakai mesin, tapi kami diajarkan oleh Bu Viara untuk mencakar sendiri dengan menggunakan sebuah metode khusus yang diajarkan Bu Viara" jawab Bendahara kelas lima semakin menaikkan emosi Bu Salma.
Sebelum Bu Salma memarahi anak-anak didik kelas 5, Viara langsung memasuki kelas itu untuk mencari akar permasalahan
"Ada apa ini? Kenapa kalian membantah guru kalian?" Tanya Viara lembut pada anak-anak didik yang pernah diajarinya dulu
"Bu Viara!!" seru anak-anak kelas 5 berbinar melihat guru kesayangan mereka telah kembali mengajar di sekolah mereka
"Ini Bu Viara, anak-anak ini membantah jika soal yang aku kerjakan di papan sangat salah dan merekalah yang benar. Aku jauh lebih pintar dan berpengalaman dalam matematika, ketimban anak-anak ini. Tentu yang aku kerjakan sudah sangat benar" Ucap Bu Salma sambil menujukkan hasil kerjanya di papan tulis
"Tidak bu Viara, yang dikerjakan bu Salma itu salah" bantah ketua kelas kembali
"Kau!!!!" geram Bu Salma yang sudah dilahap emosi
"Katakan kenapa Zila berpikir jika jawaban bu Salma salah?" Tanya Viara lembut sambil berjalan mendekati meja ketua kelas tersebut
"Ini Bu Viara, hasil persamaan...... " tutur Zila menjelaskan sambil menujukkan hasil pekerjaannya kepada Viara. Viara menganguk paham dan tersenyum pada Zila yang menjelaskan hasil pekerjaannya sampai selesai
"Yang lain, apa cara kerja dan hasil akhirnya sama seperti Zila?" Tanya Viara
"Iyah Bu, hasil pekerjaan kami semua sama dengan Zila" jawab Bendahara mewakili teman-teman sekelasnya
"Bagus anak-anak, cara kerja dan jawaban kalian semuanya sudah benar" tutur Viara membuat senyuman murid-murid kelas lima merekah
"Horeeee!!!"
Sementara Bu Salma terdiam mendengar ucapan Viara. Bu Salma semakin geram dengan anak-anak muridnya yang tertawa senang seolah tengah mengejeknya
"Kenapa anda berkata jika jawaban anak-anak ini benar bu Viara?" Tanya bu Salma mencoba menahan amarahnya.
Viara berjalan mendekati papan dan memperhatikan cara kerja yang ditulis Bu Salma di papan tulis. Viara tersenyum melihat jalan kerja bu Salma dan beralihnya menatap Bu Salma yang juga tengah menatapnya
"Sepertinya Anda keliru Bu Salma, hasil....... " Viara mulai menjelaskan cara pekerjaan soal di papan dan menujukkan letak kesalahan cara kerja Bu Salma. Bu Salma yang akan kembali membantah seketika terdiam mendengar murid-murid kelas lima yang mendukung Viara, bahkan mereka juga ikut mewakili Viara menjelaskan cara kerja soal tersebut di papan tulis.
Dengan penjelasan dan argumen dari ketua kelas dan rekan-rekannya, Bu Salma terdiam merasa malu karena jawaban yang di kerjakan Viara sangatlah benar di papan tulis. Ditambah argumen dan bukti pekerjaan membuat Bu Salma tak bisa berkutik untuk membela diri
"Yeahhhh!!!! Terimakasih Bu Viara!!" seru anak-anak kelas lima serentak dan maju menyalami tangan Viara satu persatu. Viara tersenyum senang melihat anak-anak didiknya yang menyalami tangannya
Prok... Prok.. Prok...
__ADS_1
Beberapa guru yang mengamati debat di depan pintu ruang kelas 5 bertepuk tangan meriah mendengarkan argumen anak-anak dan penjelasan Viara yang membuat Bu Salma yang terus membantah tak berkutik. Bahkan di antara para guru tersebut terdapat wakil kepala sekolah yang juga ikut mengamati
Sementara Bu Salma semakin geram dan bertambah membenci Viara karena kemampuan matematika Viara jauh melebihi dirinya. Ditambah lagi anak-anak didiknya yang hanya menyalami tangan Viara saja semakin menambah rasa kebencian di hatinya. Anak-anak didik itu juga hanya menyalami tangan Viara namun tidak dengannya membuat kekesalan Bu Salma semakin meningkat
"Semangat belajarnya yah anak-anak" Kata Viara tersenyum pada anak-anak didiknya
"Iyah bu guru" Seru semuanya antusias
"Bu Viara, bisa nggak kalau masih ada sisa jam istirahat kami meminta diajari ibu matematika walau cuma 10 menit?" Pinta ketua kelas mewakili teman-temannya
"Boleh anak-anak, nanti temui ibu di ruang guru yah, agar ibu langsung mengajari kalian" jawab Viara
"Yeahhh, terimakasih bu guru" seru anak-anak serentak
"Sama-sama semuanya. Ibu pamit dulu yah, assalamu'alaikum" Pamit Viara
"Walaikumsalam Bu Viara" balas anak-anak itu sambil tersenyum. Viara tersenyum pada semua anak didiknya dan berjalan menuju ke ruang guru bersama rekan-rekan guru yang berdiri di depan pintu sejak tadi
"Awas saja kamu Bu Viara, kamu telah membuatku merasa malu di depan anak-anak ini. Kamu juga telah membuatku merasa rendah di hadapan anak-anak kecil ini. Suatu saat nanti aku akan membalasmu Viara!!!" gerutu Bu Salma meninggalkan ruang kelas 5 tanpa mengucapkan salam dan masih dikuasai amarah
_____________
Sesampainya di ruang guru, Viara mendudukkan dirinya di kursinya sambil tersenyum mengingat kepintaran anak-anak didiknya tadi
"Wah Viara, aku salut sama kamu. Kamu begitu pandai tentang matematika hingga semangatmu kamu turunkan pada anak-anak didikmu. Anak didikmu juga sangat pintar dan menyayangimu. Aku bangga padamu Viara!!" seru Ila memeluk Viara yang duduk di sampingnya
"Aku juga senang melihat semangat anak-anak yang pernah aku ajari tadi. Mereka masih sangat mengingatku dan ajaran-ajaran yang aku ajarkan pada mereka dulu. Ditambah lagi argumen mereka yang membantuku menjelaskan tadi membuatku semakin bangga menyadari kalau cita-citaku untuk menjadi guru matematika telah berhasil. Aku suka matematika karena matematika adalah tantangan. Aku suka mengalahkan tantangan itu dan mengajarkan anak-anak didikku agar mereka juga pandai mengalahkan tantangan. Aku rasa impianku untuk membuat anak-anak didiku menyukai pelajaran matematika telah berhasil" seru Viara berbinar diangguki Ila sambil tersenyum
Ila dan Viara lanjut bercengkrama bersama hingga mereka tidak menyadari keberadaan Bu Salma yang sejak tadi menatap tajam pada keduanya
Drrttt....Drrttt...Drrttt...
"Sebentar yah Ila" kata Viara merogoh ponselnya yang bergetar di tasnya
"Siapa Viara?" Tanya Ila
"Suamiku" jawab Viara tersenyum dan langsung menjawab panggilan dari Pandu
"Assalamu'alaikum ratuku sayang" Sapa Pandu diseberang sana
"Walaikumsalam abang sayang. Ada apa hmm?" Tanya Viara lembut
"Sayang, malam ini abang akan menghadiri kondangan teman abang. Kemungkinan abang pulangnya jam 8 malam, jadi adek nggak usah nyiapin makan malam yah"
"Nggak apa-apa gemuk sayang, yang penting ganteng" Ucap Pandu membuat Viara tertawa. Ila yang juga bisa mendengar itu ikut tertawa bersama Viara
"Hahah baiklah suamiku yang paling ganteng, hati-hati dijalan yah, adek akan tunggu abang pulang. Jangan buat adek rindu kelamaan yah" pinta Viara sambil tersenyum
"Iyah sayang, pasti kok. Sudah dulu yah nanti kita lanjut lagi di rumah. Assalamu'alaikum ratunya abang Pandu"
"Walaikumsalam rajanya Viara" Ucap Viara tersenyum dan meletakkan kembali ponselnya didalam tasnya
"Ayo Viara kita pulang bareng yuk, tapi sebelum pulang kita singgah di restoran yah. Aku juga tidak memasak makan malam karena bang Rama juga pergi ke kondangan Itu" ajak Ila senang
"Ayo" ucap Viara mengambil tasnya dan berjalan keluar bersama Ila.
____________
Dimalam harinya, Viara tengah duduk di depan TV di ruang keluarga sambil menonton kartun kesukaannya. Ketika Viara tengah menonton TV, Viara beranjak berdiri dan berlalu menuju ke depan rumah saat mendengar bunyi motor suaminya yang telah terparkir di garasi
"Assalamu'alaikum adek sayang" Sapa Pandu mengecup kening istrinya yang menyalami tangannya
"Walaikumsalam abang sayang" balas Viara tersenyum. Viara mendudukkan Pandu di kursi yang ada di depan rumah dan mulai membuka sepatu yang dikenakan suaminya.
"ayo masuk. Ada yang ingin adek katakan sama abang" Ucap Viara setelah selesai membuka sepatu suaminya
"Ayo dek" jawab Pandu sambil tersenyum. Pandu mengikuti langkah istrinya yang mengenggam erat tangannya menuju ke kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Pandu meraih tubuh mungil istrinya dan mendudukkannya diatas pangkuannya
"Apa yang ingin adek katakan sama abang hmm?" Tanya Pandu lembut
"Abang, adek ditunjuk sebagai salah satu guru untuk mengawasi anak-anak yang akan camping di hutan desa N besok" Ucap Viara
"Berapa lama sayang?" Tanya Pandu kembali
"Cuma 2 hari saja abang. Abang izinkan nggak?" Tanya Viara menatap penuh harap pada suaminya
"Boleh sayang, abang izinkan kok. Tapi ada syaratnya sayang" Ucap Pandu bernegosiasi dengan istrinya
__ADS_1
"Terimakasih abang sayang. Katakan apa syaratnya?" seru Viara senang.
Pandu tersenyum dan mendekatkan wajahnya di telinga istrinya seraya berbisik
"Mandiin yah dek"
Viara melongo tak percaya mendengar syarat yang diajukan Pandu
"Syarat macam apa itul" kata Viara dalam hati. Ketakutan kembali merajainya hingga keringat dingin mulai membasahi keningnya namun sebisa mungkin Viara bersikap normal di depan suaminya
"Abang kan udah besar, bisa mandi sendiri kan?" tolak Viara lembut.
"Tapi abang akan jadi anak kecil kalau sama kamu sayang" Jawab Pandu sambil tersenyum
"Tapi bang...."
"Yaudah kalau adek nggak mau" Ketus Pandu datar menurunkan istrinya dari pangkuannya. Pandu meraih handuk yang tergantung dan melangkah menuju ke kamar mandi dengan langkah kaki yang disentak-sentakkan. Seketika langkah Pandu menuju ke kamar mandi terhenti karena Viara mencekal tangannya
"Tunggu bang" Pandu menyunggingkan senyumnya menyadari rencananya berhasil sekarang
"Kenapa, bukannya kamu nggak mau?" ketus Pandu tanpa menoleh kebelakang.
Viara mengontrol nafasnya dan mendudukkan suaminya di sisi ranjang. Viara mendudukkan dirinya diatas pangkuan Pandu dan melingkarkan tangannya di leher suaminya
"Siapa yang bilang kalau adek nggak mau?" Tanya Viara sambil tersenyum
"Tapi adek tadi bi...." Ucap Pandu terputus karena Viara langsung mengecup bibirnya
"Maafkan adek yang selalu buat abang kesal yah. Maafkan adek yang selalu takut kalau mandiin abang. Maafkan adek yang belum sempurna menjadi istri abang" lirih Viara meneteskan air mata dan berhambur memeluk suaminya. Pandu tersenyum dan mengusap lembut punggung istrinya yang menangis di bahunya.
Sebelum Pandu berbicara, Viara menghapus air matanya dan kembali mengucapkan sesuatu
"Tapi adek janji akan berusaha menjadi istri yang sempurna untuk abang. Maafkan adek yah bang" Pandu mengangukkan kepalanya dan mengusap air mata Viara dengan lembut
"Tak perlu diubah sayang, kamu sempurna dimata abang" Ucap Pandu tersenyum pada Viara
"Kalau adek belum....... "
"Ayo bang, adek mandiin" Ucap Viara mengenggam tangan Pandu dan membawanya ke kamar mandi
"Terimakasih istriku sayang"
"Sama-sama abang" Ucap Viara menutup pintu kamar mandi dan melangkah mendekati bathub sambil mengenggam tangan Pandu.
Sesampainya di dekat bathub, Viara membalikkan badannya dan beralih merangkul pinggang Pandu
"Kenapa abang berikan syarat seperti itu sama adek hmm?" Tanya Viara
"Abang cuma pengen habisin waktu sama kamu sayang. Setelah ini abang akan merindukanmu selama dua hari. Adek tahu kan kalau abang nggak sanggup hidup tanpa adek walaupun hanya sehari, jadi di sisa hari ini, abang pengen diperhatikan sama kamu. Abang pengen dijaga dan dirawat sama kamu, sebelum abang mengurus diri abang sendiri di rumah sebesar ini selama dua hari" tutur Pandu menjelaskan sambil mengusap kening istrinya
"Keinginanmu adalah perintah bagiku yang mulia" Ucap Viara mendapatkan gelak tawa oleh Pandu
"Hahah, yaudah adek siapin airnya dulu yah" Ujar Viara melangkah mendekati bathub dan mulai menyiapkan air untuk dimandikan suaminya.
"Tenang Viara, yang kamu lakukan hanyalah menguatkan hatimu. Dia suamimu bukan penjahat, jadi tidak apa-apa. Dia juga milikmu jadi kamu bisa menyentuhnya setiap saat. Ayo semangat Viara!!" batin Viara menyemangati dirinya
"Ayo bang, airnya sudah siap" panggil Viara tanpa menoleh kebelakang. Pandu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan langsung memasuki bathtub.
Viara tersenyum senang dan dengan telaten memandikan suaminya. Kali ini terasa sangat berbeda karena suaminya mengenakan boxer saat Viara menandikannya, jadi Viara tidak terlalu takut untuk menyentuh suaminya.
30 menit kemudian, setelah selesai memandikan suaminya, Viara kembali mengenggam tangan Pandu dan melangkah bersamanya keluar kamar mandi.
Sesampainya di kamar
"Yaudah langsung pake baju yah bang" Ucap Viara melepaskan genggaman tangannya dan memperbaiki selimut di atas ranjangnya.
Melihat itu, Pandu langsung mendorong tubuh istrinya hingga Viara terbaring diatas ranjang. Pandu langsung menaiki ranjang dan berada tepat diatas tubuh istrinya dengan kedua tangannya yang menyangga berat badannya
"Boleh nggak dek kalau...." Ucap Pandu sambil tersenyum. Viara menyunggingkan senyumnya mengerti dengan keinginan suaminya dan mengusap lembut pipi Pandu yang ada diatasnya
"Boleh sayang, tapi setelah 7 hari selesai yah. Kan adek lagi kedatangan tamu" tolak Viara lembut
"Tapi adek janji setelah waktunya selesai, adek akan menuruti semua permintaan abang" Ucap Viara membuat Pandu berbinar senang
"Benar dek?"
"Iyah sayangku, karena keinginan rajaku adalah perintah bagiku" Ucap Viara membawa tubuh Pandu diatasnya untuk berbaring di sampingnya. Viara meraih selimut di kakinya dan menutupi tubuh Pandu yang hanya memakai handuk dan juga tubuhnya
"Sekarang tidur yah bang, adek sayang abang" Ucap Viara mengusap pipi Pandu yang berbaring berhadapan dengannya dan melingkarkan tangannya di tubuh suaminya. Pandu meraih kepala istrinya kedalam dekapannya dan membalas pelukan istrinya padanya. Pandu tersenyum manis pada istrinya yang juga tengah menatapnya dan perlahan-lahan menutup mata karena rasa lelah yang telah menyerang tubuhnya. Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu dan mengecup keningnya lembut
__ADS_1
"Selamat malam Panduku sayang, aku akan merindukanmu"
Bersambung.....