
Hari ini, adalah hari yang paling dinanti oleh Viara. Hari dimana dia akan menikahi seorang lelaki yang sangat mencintainya. Lelaki yang selalu memberikan ketulusan hatinya sejak dulu. Lelaki yang selalu memberikannya bahagia dan senyuman setiap saat, dan lelaki yang memberikannya semangat untuk tetap maju ke depan dan menyambut kebahagiaan yang telah ditakdirkan Tuhan untuknya.
"Selamanya, aku mencintaimu Panduku" kata Viara dalam hati sambil tersenyum menatap pantulan wajahnya yang tengah dirias para MUA
Tak berselang lama, pintu kamar terbuka menampakkan Bunda Hana yang berjalan mendekati putrinya yang memutar-mutar tubuhnya senang di depan cermin setelah selesai dirias para MUA. Para MUA itu ikut bahagia melihat wajah cerah sang pengantin wanita dan berlalu keluar untuk mendengarkan prosesi ijab kabul yang sebentar lagi akan dimulai
"Wah, putri bunda cantiknya" Seru Bunda Hana
Viara tersenyum melihat ibunya dan berhambur memeluknya
"Terimakasih yah bunda. Bunda sudah menjaga dan merawat Viara dengan penuh kasih sayang sejak Viara kecil. Maafin Viara yang belum bisa membalas semua kebaikan bunda yah. Doakan Viara, agar Viara bisa menjalankan rumah tangga Viara dengan baik" lirih Viara di bahu ibunya.
Bunda Hana menetaskan air mata bahagia dan menghapus air mata di pipi putrinya dengan lembut
"Doa bunda akan selalu menyertaimu sayang. Bunda sayang banget sama Viara, tetap jadi pribadi yang lebih baik lagi dan istri yang terbaik untuk suamimu yah" Ucap Bunda Hana dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum
"Udah jangan menangis lagi yah, nanti cantiknya hilang loh. sebentar lagi ijab kabulnya akan segera dimulai, kita dengarkan sama-sama yuk" Kata Bunda Hana mengecup kening putrinya. Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan menunggu terdengarnya suara indah yang akan membuatnya sah menjadi seorang istri.
Dibawah sana, sudah banyak tamu yang berdatangan untuk turut menyaksikan dua orang yang akan mengikat janji suci dan menyatu dalam satu ikatan yaitu rumah tangga.
Di aula pernikahan, terlihat seorang pria dengan setelan jas putihnya tengah duduk berhadapan dengan pak penghulu dan ayah dari calon istrinya. Senyum bahagia tak luput dari wajahnya mengingat sebentar lagi dia akan mendapatkan hasil bahagia dari doa panjangnya selama ini.
"Bagaimana, sudah siap?" Tanya Pak penghulu
"In syaa Allah, saya siap pak" jawab Pandu sambil tersenyum.
Pak penghulu saling melempar senyum bersama ayah mempelai wanita dan memberi arahan kepada ayah mempelai wanita untuk menjabat tangan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suami untuk putrinya.
Ayah Vian mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Pandu
"Saudara Pandu Praditya Maheswara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Viara Mutya Putri Binti Viandro Aditya Putra dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat 128 gram dibayar tunai"
Pandu tersenyum menatap ayah Vian dan langsung menjawab kata-kata sakral itu dengan satu tarikan nafas
"Saya Terima nikah dan kawinnya Viara Mutya Putri Binti Viandro Aditya Putra dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat 128 gram dibayar Tunai"
"Bagaimana para saksi?" Tanya Pak penghulu
"SAH... SAH..." seru para tamu serentak
"Alhamdulillah"
"Alhamdulillah" Ucap Viara bersyukur dengan air mata bahagianya setelah mendengar kata SAH dari bawah sana. Viara terus meneteskan air mata bahagianya dan berhambur memeluk ibunya sangat erat. Hatinya sangat bahagia hingga dia tidak bisa mengungkapkan keharuan dan rasa bahagianya lewat kata-kata. Kini, hanya ada air mata bahagia yang menghiasi wajahnya
"Selamat menjadi istri sayang, semoga bahagia yah. Sekarang kamu sudah menjadi istri jadi turuti dan ikutilah suamimu. Kini surgamu sudah berada pada suamimu, teruslah mencari ridho Allah dan ridho suamimu yah" Ujar Bunda Hana menasehati putrinya sambil mengusap punggungnya dengan lembut
"Ayo kita kebawah sayang, suamimu pasti sudah menantimu" kata Bunda Hana menghapus air mata Viara yang tersenyum manis padanya. Viara menganggukkan kepalanya dan mulai mengikuti ibunya yang merangkul tangannya
"Dokter Citra!!" Kata Viara senang melihat dokter Citra yang berdiri didepan pintu kamarnya
"Hai Viara, selamat atas pernikahanmu yah, ayo kita kebawah sekarang" kata Dokter Citra ikut merangkul tangan Viara dan ketiganya melangkah turun ke bawah bersama
Viara menuruni tangga, melangkahkan kakinya menuju tempat akad nikah dimana sudah ada suaminya yang menunggunya dengan senyuman bahagia yang tak luput dari wajahnya. Para tamu tersenyum dan ikut terharu melihat kecantikan wanita yang berjalan mendekati suaminya.
Pandu meneteskan air mata bahagia melihat wanita yang telah duduk di sampingnya. Air matanya menetes teringat perjuangannya mencintai wanita yang sudah sah menjadi istrinya selama ini. Air mata bahagia menikmati indahnya keterkabulan doa yang selalu dia panjatkan di sepanjang sujudnya. Ucapan syukur tak henti-hentinya terucap didalam hatinya melihat betapa sayangnya Tuhan kepadanya
Pandu meraih tangan istrinya dan menyematkan cincin di jari manisnya, begitu juga dengan Viara yang meraih tangan suaminya dan menyematkan simbol cintanya di jari tangan suaminya sambil berderai air mata bahagia. Viara meraih tangan suaminya dan menyalaminya sangat lama, Pandu mengusap lembut air mata di pipi istrinya dan mengecup kening Viara dengan penuh kasih sayang
"Kamu cantik hari ini sayang" bisik Pandu ditelinga Viara sambil tersenyum. Viara tersenyum manis pada suaminya dan mendekatkan ke telinganya seraya berbisik
"Terimakasih yah sayang, terimakasih sudah sabar menungguku. Aku tahu kamu bukanlah yang pertama di hatiku, tapi akan selalu jadi yang terindah didalam hidupku" bisik Viara lembut memberikan ketenangan dihati suaminya. Keduanya pun saling melempar senyum bahagia dan mulai menandatangani surat-surat dan buku nikah.
Pak penghulu mulai membacakan doa-doa pernikahan untuk kedua mempelai yang diaminkan oleh semua orang. Pandu membuka lembaran-lembaran kitab suci didepannya dan mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan merdu yang membuat semua orang terkagum-kagum mendengar lantunan merdu yang menyentuh lembut indra pendengaran mereka, begitu juga dengan Viara yang tak henti-hentiya menangis bahagia mendengar lantunan merdu ayat-ayat suci yang dilantunkan lelaki yang sudah sah menjadi imamnya.
Setelah Pandu selesai melantunkan indahnya ayat-ayat suci Al-Quran, keduanya kemudian melakukan sesi foto bersama.
Pandu mengusap punggung tangan istrinya dan mengecup keningnya lembut seraya membacakan doa di ubun-ubun istrinya
"Aku mencintaimu sayang"
__________
Setelah keduanya berdiri di pelaminan, satu persatu dari para tamu maju dan mengucapkan selamat atas pernikahan Pandu dan Viara
"Wah bro, udah nikah aja lu. Selamat yah, do'ain teman-temanmu ini biar cepat nyusul" kata bang Zardan memeluk Pandu diikuti rekan-rekannya
"Selamat yah Viara, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah" Ucap Ila mengusap lembut punggung Viara yang menangis bahagia di bahunya
__ADS_1
"Terimakasih Ila, terimakasih sudah mendukungku selama ini. Kau datang dan menasehatiku hingga aku tidak terlambat menyadari. Sekarang kebahagiaan itu ada disampingku dan kini menjadi pendamping hidupku. Terimakasih selalu bersamaku dan mendukungku yah" lirih Viara tersenyum dibahu Ila
"Apapun demi teman terbaikku" kata Ila mengusap air mata dipipi Viara dengan lembut. Setelah Ila berlalu, dokter Citra dan Tasya menghampiri Viara dan memeluknya erat
"Selamat Viara, semoga bahagia bersama Abang Pandunya" kata Dokter Citra diangguki Viara sambil tersenyum
"Hei Viara, suamimu ini salah satu tentara yang pernah bertugas di desa kita sembilan tahun yang lalu kan?" Tanya Tasya setengah berbisik
"Iyah Tasya, dan sekarang dia sudah menjadi suamiku. Dia tampan kan"
"Hahaha pilihamu selalu tepat sasaran Viara" kata Tasya tertawa bersama Viara dan dokter Citra
"Hei kak Citra, Viara udah nikah tuh, kakak kapan nikahi abang saya?" goda Tasya membuat wajah dokter Citra merona seketika. Bang Iqbal yang berdiri tepat dibelakang Tasya dan dokter Citra tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya
"Kami akan menikah secepatnya dek" kata bang Iqbal merangkul bahu dokter Citra. Dokter Citra tersenyum dan memeluk orang yang sangat dicintainya, sementara Tasya memoyongkan bibirnya karena hanya dia seorang yang tak memiliki pasangan di tempat itu
"Hahaha jangan cemberut gitu dong sobat, ayo semuanya peluklah sahabatku ini" seru Viara pada semua teman-temannya. Semua teman-teman Viara dan Tasya menghampiri Tasya dan berpelukan satu sama lain
"Do'ain kami yah Viara, biar bisa nyusul" seru teman-teman Viara
"Tentu saja, kalian semangat yah" Ucap Viara kembali memeluk semua teman-temannya.
Setelah para tamu pulang dan acara akad nikah selesai, acara ditutup dengan menikmati jamuan makan siang bersama. Sebentar malam akan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang akan dilangsungkan di hotel milik keluarga Maheswara yang ada di kota B. Pandu yang baru saja selesai bercengkrama dengan teman-temannya berjalan menghampiri Viara dan duduk di sampingnya. Viara meneteskan air mata bahagia dan kembali berhambur memeluk lelaki yang sudah menjadi suaminya
"Adek bahagia bang, sangat bahagia. Sekarang surga adek ada pada abang, jadi bimbinglah adek menjadi wanita yang shalihah yah bang. Terus genggam tangan ini dan tentukan kemana arahku melangkah. Aku menyayangimu Pandu, dan akan selalu menyayangimu selamanya" Ucap Viara sambil menangis bahagia di dada suaminya. Pandu mengecup kening Viara dan mengelus kepalanya dengan lembut
"Abang juga sayang sama kamu dek, terimakasih sudah sepakat untuk melangkah bersama abang ke jenjang yang jauh lebih baik yah. Terimakasih sudah menerima abang apa adanya. Abang bersyukur kamulah yang menjadi tulang rusuk yang akan mendampingi abang selamannya. Aku mencintaimu Viara" Ucap Pandu lembut sambil mengusap punggung istrinya yang menangis bahagia di dadanya
"Aku juga mencintaimu Panduku"
__________
Malam ini pernikahan Viara dilanjutkan dengan prosesi pedang pora yang sebentar lagi akan segera dimulai.
Viara yang saat ini tengah dirias merasa gugup dan cukup gemetar mendengar jika para tamu dan perwira yang akan membantu prosesi pedang pora telah berdatangan
"Sudah selesai nona, anda terlihat sangat cantik" Ucap MUA senang. Viara melirik pantulan nya di cermin dan menyakini jika ucapan MUA tersebut benar
"Alhamdulillah, terimakasih mbak" Ujar Viara senang
Pandu tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada para MUA yang bergegas keluar dari ruangan mempelai wanita
"Aku pasti bisa" batin Viara yakin sambil berdiri menatap pantulan di cermin
"Permisi, istriku ada dimana, kok dia nggak kelihatan sih?" Tanya Pandu sedikit bercanda agar mengurangi kegugupan dihati istrinya. Viara menyunggingkan senyumannya melihat pantulan suaminya dari cerminnya dan berjalan menghampirinya
"Istri abang disini sayang" kata Viara merangkul leher suaminya sambil tersenyum
"Wah istri abang sangatlah cantik, jadi nggak sabar pengen diterkam" bisik Pandu ditelinga Viara, seketika wajah Viara merona merah dan mencubit pinggang suaminya
"AWW.. Haha Iyah sayang, kalau begitu ayo kita turun" kata Pandu lembut.
"Ayo bang" Jawab Viara melingkarkan tangannya di lengan kekar suaminya. Keduanya melangkah bersamanya menuju resepsi pernikahannya dengan senyuman bahagia yang selalu terpancar di wajahnya
"Kamu siap sayang?" Tanya Pandu lembut
"Siap bang" Ucap Viara mantap
"Adek tenang aja yah, ada abang disini, jangan takut atau gemetar. Abang nggak akan lari kok" Viara menyunggingkan senyumannya dan mengiringi langkah suaminya menuju tempat resepsi.
Pandu dan Viara kini sudah sampai di tempat resepsi, mereka disambut dengan jajaran pedang yang berbentuk Gapura.
Prosesi pedang pora dilakukan oleh 12 prajurit yang mengenakan seragam lengkap dengan atribut dan pedang yang masih bersarung.
Para perwira berdiri berhadapan-hadapan dengan satu orang yang menjadi komandan regu. Pedang pora dimulai ketika komandan regu melaporkan kepada pasangan pengantin bahwa pasukan pedang pora telah siap untuk memulai resepsi.
Pandu mengusap lembut tangan Viara yang gemetar dan menggiringnya untuk berjalan bersama ketika pasukan pedang pora menghunuskan pedangnya keatas untuk mengiringi jalannya kedua mempelai memasuki area resepsi.
Setelah kedua pengantin melewati gerbang pora, pasukan pedang pora mengiringi dengan berjalan tegap dibelakang kedua mempelai.
Setelah melewati formasi payung yang dinamakan payung pora, kedua mempelai akan menerima pemasangan cincin, dan bagi mempelai wanita akan mendapatkan pakaian seragam Persatuan Istri Prajurit (Persit) menandakan dia telah siap menjadi istri dan pendamping hidup seorang prajurit.
Setelah prosesi pedang pora selesai, Viara bernafas lega dan tersenyum manis pada suaminya yang berdiri tegak di sampingnya.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar ya Allah" Gumam Viara bahagia. Selanjutnya Viara dan Pandu melakukan foto bersama dengan para perwira. Senyum bahagia tak luput dari wajah Viara ketika berfoto dengan para perwira tersebut.
Pandu dan Viara berdiri menyalami para tamu yang datang memberikan selamat dan doa restu, menikmati acara demi acara hingga semua acara telah terlewati. Pandu dan Viara berpegangan tangan dan menghampiri orang tua mereka. Pandu dan Viara berjongkok didepan orang tua mereka yang duduk di kursi dan menyalami tangan mereka. Ketika Pandu menyalami tangan ayah mertuanya, ayah Vian tersenyum dan meletakkan tangannya diatas kepala menantunya
__ADS_1
"Nak Pandu, ayah serahkan semua tanggungjawab putri ayah padamu nak, tolong jaga putri ayah baik-baik yah. Buatlah dia bahagia dan bimbinglah dia menjadi istri yang shalihah. Genggam terus tangannya dan bimbinglah ia kejalan yah di ridhoi Allah. Jika suatu saat nanti nak Pandu sudah bosan atau membencinya, janganlah menyakitinya nak. Kembalikan dia pada kami, kami sebagai orang tua akan selalu menerimanya kembali" Ucap Ayah Vian lembut
"In Syaa Allah ayah, Pandu janji akan selalu menjaga dan membahagiakan putri ayah dengan baik. Mungkin Pandu tidak akan bisa menyamai besarnya cinta ayah untuk putrinya, tapi Pandu janji akan selalu memberikannya cinta sama seperti seorang ayah untuk putrinya dan seorang suami untuk istrinya" jawab Pandu penuh ketulusan. Ayah Vian tersenyum mendengar penuturan menantunya dan kembali memeluknya
Kini betukar posisi dimana giliran Viara yang akan menyalami ayahnya dan Pandu yang menyalami tangan ibu mertuanya
Viara bersimpuh dikaki ayahnya dan menyalami punggung tangannya cukup lama dengan air mata yang membasahi pipinya. Ayah Vian mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut dan menghapus air mata di pipi putri kesayangannya
"Jangan pernah menangis lagi yah nak, sekarang berbahagialah. Jadilah istri yang taat pada suaminya yah, dan kamu juga harus selalu mengikuti dan taat pada suamimu. Surgamu sekarang ada pada suamimu nak, teruslah mencari ridho Allah dari suamimu yah. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah" Ucap Ayah Vian menasehati sambil menghapus air mata putrinya
"Terimakasih ayah, terimakasih sudah menjaga dan mencintai Viara sejak Viara kecil. Viara akan selalu menyayangi ayah meskipun Viara tak tinggal seatap lagi bersama ayah. Jangan merasa kesepian di rumah tanpa Viara yah ayah, karena Viara akan sering ketemu ayah di tempat kerja Viara yang baru" Ucap Viara tersenyum dan berhambur memeluk cinta pertamanya. Viara memeluk ayah erat dan menangis bahagia di bahunya
Sementara Pandu tersenyum melihat tangan ibu mertuanya yang mengelus puncak kepalanya dengan lembut
"Viara sudah menceritakan semuanya pada bunda, sekarang kamu tidak perlu sedih atau menangis lagi yah nak. Sekarang Pandu sudah punya ibu, bunda akan selalu menyayangi Pandu sama seperti Viara. Sekarang kamu bukan menantu bunda, melainkan putra bunda. Bunda sangat bahagia hari ini, sekarang bunda sudah punya satu putra dan satu putri. Tetap tersenyum yah nak, bunda dan Viara akan selalu ada bersamamu" Ucap Bunda Hana mengelus pipi Pandu dengan lembut. Pandu menganggukkan kepalanya dan menangis bahagia sambil menyalami tangan ibu mertuanya.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua mereka yang sudah meninggalkan hotel, Pandu menggiring istrinya untuk duduk di kursi di sampingnya. Setelah memastikan istrinya duduk nyaman, Pandu mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi
"Ayo sayang, kita bangun rumah tangga kita bersama" seru Pandu mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumah yang akan mereka tinggali bersama
"Selama kamu bersamaku, aku akan selalu siap sayang" Ucap Viara tersenyum manis pada suaminya.
Setelah sampai di rumah mereka, Viara dan Pandu berjalan bersama memasuki kamar keduanya yang ada di lantai dua
"Sekarang abang mandi yah" perintah Viara lembut
"Baiklah sayang, tunggu abang yah" kata Pandu diangguki Viara sambil tersenyum.
Setelah Pandu hilang dibalik pintu, Viara mulai menyiapkan pakaian untuk suaminya. Pipi Viara merona seketika melihat peralatan pria yang ada di lemari Pandu, Viara mengontrol nafasnya dan mulai menyiapkan pakaian untuk suaminya termasuk **********.
Ceklek
Viara menoleh ke pintu kamar mandi dan kembali merasakan pipinya tengah memanas sekarang karena melihat tampilan suaminya yang hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya. Berkali-kali Viara kesulitan menelan salivanya ketika Pandu melangkah mendekatinya
"Kenapa malu sayang, semua yang ada di diri abang juga milikmu kok" kata Pandu menyunggingkan senyumannya melihat wajah merona istrinya
"Hehehe, bentar yah bang, adek mandi dulu. Setelah itu kita shalat isya bersama" kata Viara meraih pakaian beserta handuknya dan berlari masuk ke kamar mandi. Viara mengunci pintu kamar mandi dan bersandar di pintu sambil memegangi dadanya yang berdebar hebat
"Kuatkan hatimu Viara, tidak apa-apa kok. Dia sudah jadi suamimu, maka layanilah dia sepenuh hatimu" gumam Viara menyemangati dirinya sendiri.
Setelah mandi dan memakai pakaiannya di kamar mandi, Viara keluar kamar mandi dan tersenyum melihat suaminya yang sudah memakai baju kokoh beserta sarungnya.
Pandu menoleh kearah Viara dan menyunggingkan senyumnya melihat tampilan istrinya yang tidak mengenakan hijab didepannya. Walaupun rambut istrinya tidak terlalu tebal karena penyakitnya dulu, tapi dimata Pandu istrinya terlihat sangat cantik dan tidak ada satupun wanita yang bisa menandinginya. Viara melangkahkan kakinya mendekati suaminya yang duduk disisi ranjang dan memakaikan peci di kepalanya
"Kita shalat isya bareng yuk sayang" ajak Viara mengenggam tangan Pandu dan membentangkan sajadah bersamanya. Setelah memakai mukenanya, Viara dan Pandu mulai melaksanakan shalat isya bersama-sama. Setelah mengucapkan salam, Pandu dan Viara menengadahkan tangannya dan mulai berdoa kepada sang ilahi
Viara meneteskan air mata bahagia dan menyunggingkan senyumannya mendengar doa imamnya yang sangat menyentuh hatinya. Dalam doa nya, Pandu meminta agar keluarganya diberikan keselamatan dunia akhirat, dijauhkan dari bahaya, diampuni dosa-dosanya dan diberikan kebahagiaan. Pandu juga meminta agar keluarganya selalu dalam lindungan Allah SWT dan berdoa demi istri dan anak-anaknya nanti.
Viara meneteskan air mata dan mulai berdoa kepada sang Pencipta
"Ya Allah Ya Tuhanku, terimakasih engkau sudah mengidzinkanku untuk menjadi pendampingnya. Terimakasih engkau masih memberiku kesempatan untuk meraih ridhomu dari imamku. Terimakasih sudah menghadirkannya dalam hidupku Ya Allah, sungguh tidak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaanku ketika bersamanya" Pandu menyunggingkan senyumannya mendengar doa tulus istrinya
"Kabulkan doa dan harapan kami berdua Ya Allah, sesungguhnya hanya pada-Mu kami memohon dan meminta perlindungan. Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar. Walhamdulillah hirabbil Aalamiin" kata Pandu mengaminkan do'anya diikuti Viara.
Viara meraih tangan imamnya dan menyalaminya sangat lama. Viara meneteskan air mata bahagia dan berhambur memeluk lelaki yang sudah sah menjadi pendamping hidupnya itu
"Terimakasih yah bang, terimakasih sudah hadir di hidup adek. Tetap jadi imam dan terus bimbingan adek kejalan yang di ridho-Nya yah bang" lirih Viara memeluk suaminya erat. Pandu menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan istrinya sambil tersenyum.
Setelah shalat isya selesai, Pandu mengganti pakaiannya dan duduk di ranjang sambil menerima telepon, sedangkan Viara mengemas perlengkapan dan pakaiannya untuk diletakkan satu lemari bersama suaminya. Setelah pekerjaannya beres, Viara ikut naik ke ranjang dan duduk bersandar di samping suaminya
"Abang, maafkan adek yah yang belum siap" kata Viara tertunduk. Pandu meletakkan ponselnya dan membawa Viara untuk bersandar di dadanya
"Tak mengapa sayang, abang akan selalu menunggumu siap melakukannya bersama abang" Ucap Pandu mengecup kening Viara dengan penuh kelembutan
"Tapi dimalam kita yang pertama ini, abang pengen sesuatu, boleh nggak dek?" Tanya Pandu lembut.
Viara menyunggingkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya pada suami tercintanya
Pandu tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya hingga hidung dan kening mereka saling bersentuhan. Pandu melahap bibir istrinya dan mengigit sedikit bibir Viara agar Viara membuka mulutnya. Viara tersenyum merasakan perlakuan lembut suaminya dan membuka mulutnya agar suaminya itu bisa leluasa memperdalam ciumannya. Pandu semakin memperdalam ciumannya dan memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut istrinya dengan penuh kelembutan. Viara menutup matanya dan menikmati perlakuan suaminya padanya hingga tangan Viara merangkul leher Pandu dengan manja. Setelah beberapa saat menelusuri rongga mulut istrinya, Pandu menyudahi ciumannya dan membalas senyuman manis istrinya padanya. Pandu merebahkan dirinya di ranjangnya dan membawa Viara agar tidur di lengannya
"Sayang, nanti kita lanjut lagi yah, dengan waktu yang lebih lama" Ucap Pandu sambil tersenyum puas
"Kapanpun abang mau, adek selalu siap kok. Selama melihat abang tersenyum bahagia, maka hati adek juga ikut bahagia. Teruslah tersenyum yah sayang" kata Viara sambil mengusap bibir suaminya. Karena lelah yang telah menyerang, keduanya perlahan-lahan menutup mata dan tertidur lelap sambil berpelukan
"Terimakasih sudah menakdirkannya untukku Ya Rabb. Terimakasih sudah memberiku yang terindah dan yang menerima apa adanya diriku. Satu pintaku untukmu sayang, dimalam bahagia ini izinkanlah aku menjadi pendamping hidupmu untuk selamanya"
Bersambung......
__ADS_1