
"Bang kita sarapan bareng yuk, kebetulan banyak banget makanan yang dikasih sama warga desa ini" Ucap Viara membawa nampan makanan diikuti teman-teman dibelakangnya yang juga tengah memegang tempat makanan. Hari ini para orang tua dari siswa di sekolah mereka mengantarkan makanan sebagai bentuk rasa terimakasih mereka karena semenjak kelima guru itu datang, anak-anak mereka jadi sangat rajin dan gemar membantu. anak-anak mereka juga dengan bangga menyebut nama gurunya saat anak-anak tersebut ditanya "siapa yang mengajari kalian?"
"Yaudah silahkan masuk" Ucap Andra mempersilahkan para guru untuk masuk dan segera memanggil anggotanya untuk makanan bersama
"Wah makanan sebanyak ini? Darimana?" Tanya Bang Rama berbinar
"Ini dari warga desa Bang, orang tuanya murid-murid kami" jawab Ila menyendokan makanan di piring Bang Rama
"Ciee udah kayak suami istri aja" goda Syifa melihat perhatian Ila pada Bang Rama
"Kalau adek mau, sini biar abang sedokin juga" seketika wajah Syifa merah merona mendengar tawaran Pratu Denis
"Ehh nggak usah Bang, saya bisa sendiri kok" tolak Syifa malu-malu.
"Nggak usah nolak kali, kebetulan tuh" Goda Ila mendapatkan tawa dari semua orang. Syifa yang merasa pipinya memanas dan ditertawakan berlalih menatap Ila dengan tatapan membunuh
"Hahha sudah-sudah, ayo dimakan makanannya keburu dingin, sebelum Bang Andra yang habisin semuanya" seru Viara membuat Andra berhenti mengunyah makanannya
"Kok abang sih?" Tanya Andra memoyongkan bibirnya
"Hahaha, habis abang udah makan duluan sih. Ayo dilanjutkan makanan" Ucap Viara refleks memasukkan sesendok makanan ke mulut Andra agar Andra berhenti berbicara. Andra tersenyum manis pada Viara dan kembali melanjutkan makannya diikuti para anggotanya. Mereka makan begitu khidmat dan hanya terdengar suara dentingan sendok didalam ruangan itu.
Viara berhenti mengunyah dan berlalih menatap satu persatu prajurit di depannya
"Ngomong-ngomong dimana Bang Pandu?" Tanya Viara
"Entahlah dek, sejak pagi tadi Pandu udah nggak ada di pos" kata pratu Denis
"Mungkin lagi olahraga atau jalan-jalan didesa dek" Jawab Andra
"Begitu yah, kalian lanjutkan saja makannya yah, biar adek yang nyari Bang Pandu dulu" Ucap Viara sambil menyendokan makanan di piring yang dipegangnya
"Itu untuk siapa dek?" Tanya Bang Rama
"Ohh ini untuk Bang Pandu, jika Bang Pandu pulang lebih dulu maka berikan ini padanya yah bang" pinta Viara sambil tersenyum
"Oke dek, Hati-hati di jalan yah" Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum pada Bang Rama segera berlalu keluar untuk mencari Pandu
Sudah 15 menit melangkah menyusuri desa, namun orang yang sedang Viara cari tak terlihat dimana-mana
"Aduh bang Pandu kemana sih" gumam Viara cemas
__ADS_1
"Ehh bu, apa ibu lihat bang Pandu?" Tanya Viara pada salah satu warga desa
"Maaf bu, saya nggak lihat"
"Ohh terimakasih bu" Ucap Viara tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya
"Semoga bang Pandu baik-baik saja" harap Viara dalam hati. Viara merogoh ponselnya dan menghubungi bang Rama di pos jaga, namun karena keterbatasan sinyal membuat Viara semakin cemas akan keberadaan Pandu sekarang. Firasatnya mengatakan jika terjadi sesuatu kepada Pandu, namun Viara menipis perasaan itu dan kembali melangkahkan kakinya mencari Pandu.
Saat berjalan di persimpangan 4 yang sangat sepi, Viara melihat di persimpangan kirinya dari kejauhan ada sekelompok preman yang sedang mengelilingi seseorang yang berbaju loreng. Karena matanya yang agak buram pengaruh dari penyakitnya, Viara melangkahkan kakinya mendekati para preman itu. Ketika jarak Viara masih agak jauh dengan mereka,Viara melihat dari jauh jika para preman itu sedang mengelilingi seorang tentara dan siap mengajarnya
"Hei kau, lebih baik urus urusanmu sendiri, dan jangan ganggu kami!!" tegas salah satu preman yang berdiri sempoyongan
"Benar bro, jangan ganggu kami sebelum kau meregang nyawa disini. Apa kau tidak mencintai tubuhmu sendiri sehingga kau berani mencegah kami minum-minum?" Ucap preman itu menepuk bahu Pandu
"Ketahuilah minum minuman keras sampai mabuk begini bukan hal yang baik untuk kalian. Cobalah untuk membantu orang tua kalian di kebun, jangan malah jadi beban orang tua. Kalian masih muda, kalian bisa melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik ketimbang minum-minum seperti ini" Ucap Pandu memberi nasehat
"Heii nggak usah nasehati kami, lebih baik kau pergi dari sini dan kembalikan minuman kami"
"Aku tidak akan mengembalikannya, ini tidak baik untuk kalian" ujar pandu mengangkat sekardus minuman keras dan membanting nya di tanah sehingga botol minuman itu pecah mengeluarkan semua air yang di ditampungnya
"Heii kau!!!" geram ketua preman itu mulai menyerang Pandu diikuti teman-temannya.
Bermacam-macam bogem mentah mereka layangkan namun satupun dari pukulan itu tidak mengenai tubuh dan wajah Pandu. Bahkan perlawanan 1 : 8 tak mampu membuat Pandu mengeluarkan keringat. Pandu yang selalu menghindari serangan beralih menyerang dan membogem satu persatu preman menyebalkan itu hingga sebagian dari mereka jatuh dan tersungkur di tanah
Bugh..
Bugh..
Aarrrgghhhhh
Salah satu preman berjalan mendekati Pandu dan langsung mengayunkan tangannya untuk menikam dada Pandu. Pandu yang sigap refleks menahan pisau itu dan memelintir tangan preman itu hingga pisau yang dipegangnya jatuh ke tanah
"Arrgghhhh" ringis preman itu memegangi pergelangan tangannya.
Pandu beralih membogem mentah preman di depannya namun Pandu tidak sadar ada seorang preman lagi dibelakangnya yang menendang pinganggnya sangat keras hingga Pandu jatuh terbairing di tanah
"Hahha lemah" Ucap Preman itu mengangkat kakinya dan siap menginjak Pandu. Pandu refleks menahan kaki preman itu agar tidak menginjaknya, namun dari arah samping ada salah satu preman yang menendang tangan dan kaki Pandu hingga pertahanan Pandu runtuh. Preman itu tersenyum smirk dan menginjakkan kakinya keras di bagian perut Pandu hingga Pandu meringis kesakitan.
"Aargghh sial!!"
Para preman itu menghajar Pandu secara brutal, namun ketua para preman itu langsung menyuruh teman-temannya untuk berhenti
__ADS_1
"Berhenti teman-teman" perintah ketua preman membuat anggotanya bertanya-tanya
"Tapi kenapa? Dia sudah kelewatan batas"
"biar aku yang akan menghabisinya" Ucap ketua preman dengan pisau ditangannya. Ketua Preman itu duduk diatas pangkuan Pandu yang terbaring lemah, ketua preman itu langsung mengangkat tangannya dan menikam dada Pandu
"RASAKAN INI!!!!!!"
"Astaghfirullah Abang!!!!" Teriak Viara ketika melihat Pandu telah terbaring dan preman yang memegang pisau di atasnya. Ketua preman yang mendengar suara teriakan wanita beralih melihat Viara. Menyadari hal itu, Pandu refleks menendang ketua preman itu hingga pisau yang dipegangnya terlempar jauh ke semak-semak.
Pandu kembali berdiri dan menghajar satu persatu para preman itu
Bugh
Bugh..
Bugh..
Aarrrggg
7 preman kini telah jatuh terbaring lemas di tanah karena pukulan dan bogem mentah Pandu yang mendarat telak di tubuh mereka
"Ku akui kekuatanmu hebat juga, tapi kau belum merasakan kekuatan yang sebenarnya" ucap ketua preman itu mulai berlari dan mengeluarkan semua kemampuannya untuk menghajar Pandu. Baku hantam terjadi diantara keduanya, 18 bogem mentah berhasil mendarat di tubuh ketua preman itu namun dia masih bisa melawan Pandu. Di tubuh Pandu telah merasakan 8 pukulan, namun Pandu masih kuat melawan preman di depannya walaupun kakinya yang sudah mulai pincang.
Bugh
Bugh
Bugh
"Ketua!!!!!" Bogem mentah berhasil dilakukan Pandu hingga ketua preman itu ambruk dan tersungkur di tanah
Pandu juga jatuh terduduk di tanah menahan sakit di perutnya karena bogem mentah keras berhasil mengenainya tadi. Viara berlari mendekati Pandu dan berhambur memeluknya erat sambil menangis ketakutan
"abang hiks.. bertahan abang" lirih Viara menangis ketakutan dibahu Pandu. Viara mengusap sudut bibir Pandu yang mengeluarkan darah segar dengan air mata yang membasahi pipinya. Pandu menyunggingkan senyumannya melihat perhatian wanita didepannya dan membalas pelukan Viara yang kembali memeluknya erat setelah membersihkan darah di sudut bibirnya
"Pasti sakit yah Bang" lirih Viara berkaca-kaca dan mengusap perut Pandu berusaha meredakan sakit yang dialaminya
"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku dek. Bolehkah abang mendapatkan hatimu? Abang sayang sama kamu dek, tapi abang takut kamu tidak akan pernah menjadi milik abang. Abang nggak mau membuka hati untuk orang lain lagi dek, bisakah abang memilikimu selamanya?" kata Pandu dalam hati sambil mengusap punggung Viara yang kembali memeluknya erat
"Aku mencintaimu Viara, dan tidak akan berhenti menyayangimu sampai tubuh ini tidak bernyawa lagi"
__ADS_1
Bersambung