Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 83. Datang Bulan


__ADS_3

Keesokan paginya pukul 4.45 dini hari, Viara terbangun dari tidurnya dan menyunggingkan senyumannya melihat wajah teduh suaminya yang memeluknya erat. Viara melepaskan pelukan Pandu pelan-pelan dan membaringkannya di posisi sempurna, tak lupa Viara memperbaiki selimut yang menutupi tubuh suaminya. Viara beranjak turun dari dapur dan berjalan mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Setelah mengaminkan do'anya dan berzikir, Viara melepas mukenanya dan menyimpannya di kemari. Viara melangkahkan kakinya mendekati suaminya dan menyunggingkan senyumannya melihat wajah teduh yang masih terlelap itu. Viara mengusap puncak kepala suaminya dengan lembut dan mengecup keningnya


"Mimpi yang indah yah sayang" kata Viara menyalami tangan suaminya. Ketika Viara melangkahkan kakinya untuk keluar kamar, langkah Viara terhenti saat tangan Pandu mencekalnya. Pandu menarik tubuh istrinya hingga tubuh Viara jatuh tepat berada diatas tubuhnya


"Abang sudah bangun?" Tanya Viara lembut


"Iyah sayang, terbangun karena cinta" Ucap Pandu membuat pipi Viara merona merah


"Kalau begitu bangunlah sayang, shalat subuh telebih dahulu yah" kata Viara lembut


"Tapi sayang, tubuh abang pegal banget, butuh sesuatu untuk mengobatinya" goda Pandu menekan pipinya. Viara menyunggingkan senyumannya dan mulai mengecup kening serta kedua pipi suaminya


Cup


Pandu merangkul pinggang istrinya dan kembali melahap bibir istrinya seperti semalam dengan penuh kelembutan. Merasa istrinya telah kehabisan nafas, Pandu mengakhiri ciumannya dan mengusap bibir istrinya dengan lembut


"Sekarang abang shalat lalu mandi yah, adek sudah siapin air mandi untuk abang didalam" titah Viara membantu Pandu untuk bangun


"Terimakasih istriku sayang" Ucap Pandu mengecup kening Viara dan melangkah masuk kekamar mandi. Viara tersenyum melihat suaminya sudah memasuki kamar mandi dan segera berlalu kedapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Setelah bergelayut dengan pisau dan alat-alat memasak selama 15 menit, makanan kesukaan Pandu kini sudah tersaji diatas meja.


"Semoga abang suka" gumam Viara senang dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk memanggil suaminya. Sesampainya di kamar, Viara mendengar gemercik air dari kamar mandi menandakan suaminya tengah mandi sekarang. Viara kemudian melangkahkan kakinya mendekati lemari dan menyiapkan seragam dan segala atribut yang akan dikenakan Pandu.


Pandu yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum senang malihat istrinya yang menyiapkan pakaian untuknya. Pandu melangkah kakinya mendekati istrinya dan memeluk Viara dari belakang


"Abang sudah mandi?" Tanya Viara sambil mempersiapkan pakaian suaminya


"Iyah sayang" Ucap pelan Pandu semakin mempererat pelukannya pada istrinya dan meletakkan kepalanya di bahu istrinya.


Viara tersenyum merasakan nafas hangat suaminya yang sangat terasa di lehernya, namun ketika Viara menoleh kebawah, mata Viara melongo melihat handuk yang telah jatuh tepat dikaki suaminya


Glek


Viara kesulitan menelan salivanya merasakan sesuatu yang tumpul di bagian bawah punggung belakang tubuhnya hingga Viara refleks menutup matanya dengan wajahnya yang merah merona


"Abang, pake baju sekarang yah, adek sudah siapin diatas ranjang, tinggal adek ambil kaos kaki abang dilemari ini" perintah Viara masih menutup matanya


"Nggak mau sayang, abang masih pengen peluk kamu" tutur Pandu tersenyum dan masih memeluk istrinya erat. Viara mengusap lembut wajah suaminya di bahunya dan membiarkan Pandu memeluknya erat, karena Viara juga merasa sangat nyaman didalam pelukan itu.


Setelah memeluk istrinya selama 5 menit, Pandu melepaskan pelukannya ditubuh istrinya dan memakai kembali handuknya yang jatuh di lantai. Pandu menyunggingkan senyumannya melihat istrinya yang masih setia menutup matanya dengan wajah yang merah merona


"Sayang, kenapa ditutup matanya hmm?" goda Pandu tersenyum nakal


"Nggak, nggak apa-apa bang hehe" sangkal Viara berusaha tetap tenang sambil menutup matanya


"Tapi sayang, kenapa sampai tutup mata? Adek lihat hantu yah?" goda Pandu kembali


"Adek takut melihat sesuatu yang lebih menakutkan dari hantu bang" kata Viara membuat Pandu menahan tawanya


"Ayolah sayang, buka matamu. Kan abang suami adek, jadi semua yang ada di tubuh abang juga milik adek kok" tutur Pandu tersenyum


"Abang udah pake baju kan?" Tanya Viara masih menutup mata


"Lihatlah sendiri sayang" goda Pandu menahan tawa.


Viara menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan. Viara perlahan-lahan membuka matanya dan tersenyum melihat suaminya yang sudah rapi dengan seragamnya


"Nah ini baru pangerannya adek" kata Viara senang dan berjalan mendekati suaminya. Viara mengusap kedua pipi suaminya dan memakaikan baret hijau di kepalanya


"Masya Allah, suamiku semakin tampan setelah menikah" gumam Viara mengagumi ketampanan suaminya. Pandu yang masih bisa mendengar ucapan kecil istrinya menyunggingkan senyumannya dan mengusap puncak kepala Viara dengan lembut


"Iyah dong, suaminya siapa lagi"


"Hahah, ayo kita kebawah bang, adek sudah siapin sarapan untuk abang" Kata Viara merangkul lengan suaminya agar berjalan turun bersamanya menuju ke dapur


Sesampainya di dapur, Pandu mendudukkan dirinya di kursi dan berbinar melihat sarapan kesukaannya tersaji diatas meja


"Ini semua adek yang buat?" Tanya Pandu senang


"Iyah suamiku sayang, semoga abang suka yah" Ucap Viara menyendokkan makanan di piring Pandu.


"Terimakasih istriku sayang" kata Pandu senang dan mulai melahap sarapannya. Viara menyunggingkan senyumnya melihat suaminya yang makan begitu lahap sambil mengambil segelas air hangat untuk Pandu. Viara tahu jika suaminya itu tidak suka meminum air dingin setelah selesai makan, jadinya Viara selalu menyediakan air hangat untuk diminum suaminya


"Bang, jangan makan buru-buru dong, adek nggak mungkin merebut makanan abang" kata Viara mengingatkan


"Enak sayang" jawab Pandu kembali melahap makanannya


"Iyah sih bang, tapi jangan sampai makan secepat itu dong, nanti abang tersedak"


Uhuk... Uhuk... Pandu tersedak


"Tuh kan, baru juga dibilangin udah tersedak aja" Ucap Viara memijat tengkuk suaminya yang tengah meminum air hingga air itu tandas


"Hehhe, makanan adek enak sih. Kalau setiap hari begini dengan menu masakan apapun yang adek siapkan, abang jadi lebih suka makan di rumah ketimbang di restoran" Ucap Pandu setelah menghabiskan makanannya


"Kalau abang pengen makan sesuatu, kasih tau adek aja yang bang, biar adek siapin dengan penuh cinta" kata Viara tersenyum dan mengusap lembut tumpahan air di sudut bibir suaminya.


Pandu meraih tangan istrinya dan mendudukkan Viara diatas pangkuannya


"Kalau makan kamu boleh nggak dek?" goda Pandu tersenyum nakal


"Nanti yah bang, saat adek udah siap. Setelah itu terserah abang mau makan berapa lama, adek selalu siap mendampingi abang" kata Viara membuat senyuman Pandu merekah


"Baiklah sayang, abang akan selalu menunggu hari itu tiba" Ucap Pandu mendekatkan wajahnya dan kembali melahap bibir istrinya dengan lembut. Merasa istrinya sudah kehabisan nafas, Pandu melepaskan ciumannya dan mengusap bibir istrinya dengan lembut. Seketika wajahnya Viara merah merona merasakan kembali perlakuan lembut suaminya dan mengangkat tubuhnya dari pangkuan Pandu.


"Terimakasih sayang" Ucap Pandu tersenyum menatap punggung istrinya yang tengah mencuci piring


"Sama-sama sayang" jawab Viara sambil tersenyum.


Ketika akan berdiri dari duduknya, Pandu tertegun melihat noda di paha celananya yang terasa hangat. Pandu menyunggingkan senyumnya dan terbesit ide dibenakknya untuk mengerjai istrinya


"Dek, celana abang..." kata Pandu berpura-pura cemas


"Kenapa celananya, robek?" Tanya Viara membasuh tangannya dari busa sabun


"Bukan dek, coba adek lihat" kata Pandu berpura-pura cemas. Viara membalikkan badannya dan melongo melihat noda yang ditunjukkan suaminya. Ketika Viara menatap bagian belakang pakaiannya, Viara tertegun menyadari jika dia baru saja datang bulan. Seketika wajahnya Viara merah merona melihat senyuman suaminya. Viara langsung menarik tangan Pandu untuk mengikutinya kekamar

__ADS_1


"Dek, abang mau pergi ke kantor, takutnya telat dek" kata Pandu masih ditarik oleh Viara


"Belum telah bang, tinggal 30 menit lagi" kata Viara terus menarik tangan suaminya dan mendudukanya di ranjang kamarnya. Viara beranjak mengambil celana yang baru untuk suaminya di lemari dan kembali lagi ke depan suaminya dengan celana di bahunya


"Ayo bang, buka celananya" kata Viara membuat Pandu tersenyum senang


"Kenapa dek, adek sudah siap yah?" goda Pandu menaik turunkan alisnya


"Abang buka dulu celananya yah" Ucap Viara lembut berusaha tetap sabar menghadapi suaminya yang sepertinya sudah tahu masalah yang dialami Viara


"Tapi untuk apa sayang?" Tanya Pandu kembali


"Abang mau buka sendiri celananya atau adek yang akan membukanya" Viara yang sedikit kesal tak menyadari ucapannya yang keceplosan, sementara Pandu tertawa renyah dalam hatinya melihat ekspresi terkejut istrinya


"Hmm pilihan kedua sepertinya bagus dek" goda Pandu menyeringai


"Aduh, kenapa ujianku sesulit ini sih" batin Viara cemas. Viara mengontrol nafasnya dan mulai mendekati suaminya. Viara perlahan-lahan membuka resleting suaminya agar sesuatu yang ditakutinya tidak terbangun karena sentuhannya.


"Huuff" Viara bernafas lega ketika berhasil menurunkan resleting celana suaminya. Ketika tengah menurunkan celana suaminya dari pinggangnya, Viara tak sengaja menyentuh sesuatu yang ditakutinya hingga benda itu terbangun dan menonjol meski masih tertutup dalaman suaminya.


Glek


"Hahhaa adek-adek" batin Pandu tertawa dalam hatinya melihat wajah cemas istrinya. Viara langsung menurunkan celana suaminya dengan cepat dan kembali memakaikan celana yang baru


"Akhirnya beres juga" gumam Viara lega. Viara beralih menatap tajam suaminya yang Viara tahu sejak tadi suaminya itu pasti menggoda dan menertawakannya dalam diamnya


"Kenapa dek, ada sesuatu diwajah abang yah?" Tanya Pandu berusaha tenang melihat tatapan membunuh istrinya


"Abang sayang, ayo pergi kekantor sekarang, nanti abang telat loh" Ucapan Viara lembut namun sorot matanya setajam pisau menatap lekat mata suaminya


"Hahha kalau begitu abang pergi dulu yah sayang, assalamu'alaikum adek" pamit Pandu mengecup kening istrinya


"Walaikumsalam suamiku sayang" kata Viara menyalami tangan Pandu. Sebelum melangkahkan keluar, Pandu mendekatkan wajahnya ke telinga Viara dan membisikkan sesuatu


"Di lain waktu, abang akan mendapatkan yang lebih dari ini kan, mungkin dengan....." Viara melongo tak percaya melihat senyum menyeringai suaminya


"Abang!!!!" kesal Viara melemparkan bantal pada Pandu yang sudah berlari keluar kamar sambil tertawa


"Dasar suami nakal!!!" kata Viara sedikit meninggi, namun hatinya tersenyum senang melihat tawa riang suaminya barusan


"Kok aku tiba-tiba PMS yah, padahal tadi subuh nggak" gumam Viara mengambil celana yang dikenakan Pandu tadi dan mencucinya bersamaan dengan pakaian yang dikenakannya.


___________


Di sore harinya setelah mengurus pekerjaan rumahnya, Viara merasakan nyeri di perutnya karena gejala PMS yang dialaminya. Ketika Viara akan mengganti pembalutnya yang sudah terasa lembab, Viara tertegun karena stok pembalutnya sudah habis di lemarinya. Viara juga kesulitan berjalan karena nyeri di perutnya


"Aduh bagaimana ini" gumam Viara sambil memegangi perutnya


"Apa aku beritahu abang aja yah buat beliin di supermarket, tapi mungkin abang lagi sibuk di kantor. Tapi apa salahnya mencoba kan, cuman suamiku saja harapanku saat ini" gumam Viara meraih ponselnya dan menghubungi suaminya.


Drrrtt... Drrrtt....Drrrtt


Pandu yang tengah menatap layar komputernya sambil menyeruput kopinya di ruangan miliknya langsung meraih ponselnya dan menjawab panggil dari istrinya


"Assalamu'alaikum cintanya abang Pandu, ada apa hmm?" Tanya Pandu lembut


"Walaikumsalam sayang. Abang kapan pulang?" Tanya Viara di seberang sana


"Bang, kalau abang pulang adek boleh nitip sesuatu buat adek nggak?" Tanya Viara


"Boleh dek, memangnya adek mau nitip apa hmm?" Tanya Pandu kembali menyeruput kopinya


Viara mengontrol nafasnya dan mulai mengatakan keinginannya pada suaminya


"Beliin pembalut di supermarket yah bang"


Byuurrr


Pandu menyemburkan kopinya keluar mendengar permintaan istrinya


"Pembalut dek?" Tanya Pandu memastikan


"Iyah bang, pembalut dirumah udah habis, adek lupa ambil dari rumah pas kita pindah kesini. Jadi adek mohon beliin yah bang" pinta Viara memelas di seberang sana


"Abang juga bingung, pembalut itu yang bagaimana dek?" kata Pandu dalam hati


"Abang, abang masih disitu?" Tanya Viara membuyarkan lamunan Pandu


"Ehh Iyah dek, abang masih disini. Memangnya adek nggak bisa beli sendiri yah?" Tanya Pandu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Nggak bisa bang, perut adek rasanya nyeri banget" kata Viara di seberang sana.


"Memangnya kalau wanita menstruasi ada gejalanya juga yah dek?" Tanya Pandu bingung. Selama ini Pandu tidak pernah tahu tentang menstruasi, maklumlah lelaki tidak mengalaminya jadi Pandu sedikit kebingungan dengan permintaan istrinya


"Iyah bang, gejalanya berbeda-beda bagi setiap wanita. Gejala-gejala menstruasi itu seperti sakit kepala, kelelahan, perut dan punggung bagian bawah terasa kram, nyeri pay***ra, perubahan mood dan lain-lain bang. Bahkan ada beberapa kasus dimana wanita juga tidak sadarkan diri karena tak kuat menahan nyeri itu bang" tutur Viara menjelaskan


"Ohh begitu yah dek" kata Pandu mengangguk paham


"Iyah bang, jadi abang belikan buat adek yah" pinta Viara


"Iyah dek, setelah pulang kantor abang langsung belikan" Ucap Pandu membuat Viara tersenyum senang


"Yeah, terimakasih abang sayang. Beliin dua pak yang bungkusnya berwarna biru hijau yah bang" seru Viara kegirangan


"Tapi ada imbalannya kan dek?" goda Pandu


"Iyah bang, ada kok. Adek udah latihan tahan nafas nih, jadi abang tenang aja yah" seru Viara di seberang sana


"Hahha oke dek, istirahat yang cukup yah, jangan telalu lama bekerja. Jangan lupa minum obat dan tunggu abang pulang yah"


"Iyah bang, sudah dulu yah, adek siapin makan malam dulu untuk abang. Assalamu'alaikum suamiku sayang"


"Walaikumsalam nyonyaku" jawab Pandu tersenyum dan memasukkan ponselnya ke tasnya setelah panggilan teleponnya berakhir.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruangannya, Pandu menyambar kunci motornya dan menjalankan motornya menuju ke supermarket terdekat untuk memenuhi keinginan istrinya.


Sesampainya di supermarket, Pandu turun dari motornya dan melangkahkan kakinya masuk ke supermarket. Semua orang yang tengah memilih barang di dalam supermarket itu tertegun melihat seorang pria tampan berseragam yang baru saja masuk. Selain parasnya yang menawan, gaya jalan dan badanya yang tinggi tegap semakin menambah auranya untuk diidolakan. Bahkan tatapan para gadis dan karyawan di supermarket itu hanya tertuju padanya saja. Pandu tidak mempedulikan tatapan berbinar semua orang padanya, justru tatapan Pandu hanya tertuju kearah barang-barang yang tersusun rapi untuk mencari benda yang diinginkan istrinya.


"Aduh, pembalut itu yang bagaimana sih?" gumam Pandu bingung

__ADS_1


"Permisi pak, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang karyawan wanita sambil tersenyum.


Ketika Pandu beralih menatapnya, didalam dada karyawan itu merasakan jika jantungnya tengah berdisko riah sekarang


"Iyah mbak. Saya lagi nyari pembalut, tapi saya bingung pembalut itu yang bagaimana mbak" kata Pandu membuat karyawan wanita itu tertegun


"Pembalut? Pria setampan ini mencari pembalut?" batin karyawan itu berselidik


"Mbak!!" kata Pandu berhasil membuyarkan lamunan wanita itu


"Kemari pak ikuti saya" ajak karyawan itu gelagapan dan berjalan mendahului Pandu yang mengikutinya. Karyawan wanita itu pun menujukkan satu rak besar yang berisi beraneka jenis dan ukuran pembalut yang berbeda-beda hingga Pandu dibuat kebingungan lagi


"Ngomong-ngomong pak, anda membeli pembalut untuk siapa yah?" Tanya karyawan itu ramah


"Untuk istri saya mbak" jawab Pandu tersenyum dan kembali mengamati deretan didepannya


"Ohh untuk istrinya yah pak, kalau begitu saya bantu pilihkan yah pak" ucap karyawan wanita itu membatu Pandu memilih pembalut yang sesuai dengan permintaan istrinya tadi. Setelah lima menit mencari, ditangan Pandu kini telah ada dua pak pembalut berwarna biru hijau dengan ukuran sedikit panjang


"Terimakasih yah mbak" kata Pandu pada karyawan yang membantunya


"Sama-sama Pak" Ucap karyawan tersenyum sambil tersenyum. Pandu berlalu meninggalkan karyawan itu menuju ke meja kasir dengan benda keinginan istrinya di tangannya


"Ini mbak, tolong dibungkus yah" kata Pandu menyerahkan benda yang dipegangnya. Kasir wanita itu kembali dibuat melongo dengan benda yang dibeli lelaki tampan didepannya.


"Sebentar yah mbak, saya akan segera kembali" kata Pandu berjalan kembali menuju ke rak tadi. Pandu teringat gejala yang diceritakan istrinya tadi sehingga dia membeli pembalut cukup banyak di supermarket itu agar istrinya tidak kekurangan stok di rumah. Pandu juga membeli banyak untuk berjaga-jaga agar istrinya tidak sampai keluar rumah dan jatuh pingsan di jalanan karena nyeri akibat menstruasinya.


Setelah mengambil pembalut yang sama dengan yang dipegangnya tadi, Pandu kembali lagi ke meja kasir dan menyerahkan benda yang dipegangnya. Lagi-lagi kasir wanita itu dibuat melongo tak percaya melihat 2 lusin pembalut yang dibeli pelanggan didepannya.


"Banyak amat belinya" batin kasir wanita itu sambil menghitung jumlah harga barang yang dibeli Pandu. Setelah membayar, Pandu menerima kantung belanjaan dari kasir itu dan berjalan keluar supermarket dengan hati yang senang


"Abang udah dapat dek, semoga pilihan abang tepat" gumam Pandu melajukan motornya tak sabar menemui istrinya di rumah.


Ketika tengah menyusun makanan di meja makan, senyuman Viara merekah mendengar bunyi motor suaminya yang berjalan mendekat dan berhenti didepan rumah. Viara memperbaiki hijabnya dan berlari ke depan rumah untuk menyambut kepulangan suaminya. Pandu turun dari motornya dan berjalan ke depan rumahnya sambil menyembunyikan benda yang dibelinya di belakang tubuhnya


"Assalamu'alaikum sayang" kata Pandu tersenyum melihat Viara yang menyalami punggung tangannya


"Walaikumsalam abang. Abang beliin permintaan adek nggak?" Tanya Viara melingkarkan tangannya di leher Pandu


"Tentu dong sayang" seru Pandu mengeluarkan kantung yang berisi benda yang dibelinya. Viara menerima kantung itu dan melongo tak percaya melihat begitu banyak yang suaminya belikan untuknya


"Abang, kan adek cuman minta dua pak, kenapa sampai dua lusin begini?" Tanya Viara kebingungan


"Nggak apa-apa sayang, buat jaga-jaga di rumah. Abang nggak mau kamu kenapa-napa kalau pergi membelinya sendiri di luar" kata Pandu mengusap lembut puncak kepala istrinya. Viara mengangguk paham dan berhambur memeluk suaminya


"Suamiku memang perhatian"


"Iyah dong, ayo kita masuk sayang, abang udah laper nih" Ajak Pandu


"Ayo bang" kata Viara tersenyum dan mengajak suaminya masuk kedalam rumah


"Abang makan malam dulu yah, adek mau ke kamar dulu" pamit Viara setelah menyendendokkan makanan di piring suaminya


"Oke dek" Viara tersenyum dan segera berlalu masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Setelah membersihkan tubuhnya, Viara meraih handuk dan untuk menutupi tubuhnya. Tak lupa sebelum keluar kamar mandi, Viara menyiapkan air mandi untuk suaminya


Setelah memakai pakaian tidurnya, Viara duduk didepan meja riasnya dan mulai menyusir rambut yang panjangnya sampai dibawah punggungnya. Meski rambutnya terlihat sangat sedikit karena penyakit yang pernah dideritanya, tidak membuat kecantikan yang diwariskan orang tuanya padanya luntur.


Pandu yang sejak tadi mengamati istrinya dari pintu kamar melangkahkan kakinya mendekati Viara dan kembali memeluk Viara dari belakang


"Abang udah makan?" Tanya Viara menatap pantulan Pandu di cermin


"Udah sayang" kata Pandu sambil menciumi leher istrinya. Viara menyunggingkan senyumnya dan mengusap pipi suaminya yang ada di bahunya


"Sekarang abang mandi yah, udah adek siapin airnya" titah Viara lembut


"Tapi abang mau nagih imbalan yang adek janjikan" kata Pandu masih memeluk istrinya


"Setelah abang mandi, baru jatahnya adek kasih, sekarang masuk dan mandi yah sayang" kata Viara menarik tangan Pandu dan membawanya masuk kekamar mandi. Sebelum permintaan aneh yang akan diminta suaminya lewat senyuman menggoda yang kembali ditunjukkannya, Viara langsung berlari keluar kamar mandi dan menutupnya rapat-rapat


"Untung bisa lolos, sebelum aku mendapatkan ujian yang jauh lebih sulit lagi" gumam Viara bersandar di pintu kamar mandi. Pandu menahan tawa dan geleng-geleng kepala mengingat tingkat istrinya yang berlari keluar mandi dengan wajah ketakutan


"Hahahha, suatu saat nanti, abang yakin kamu tidak akan bisa menghindariku sayang" gumam Pandu tersenyum dan mulai membersihkan tubuhnya.


Di kamarnya, Viara tengah menyiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya. Pipi Viara merah merona ketika tangannya kembali memegang barang-barang lelaki milik suaminya yang ada di lemari


Ceklek


Viara menoleh ke arah suara dan menyunggingkan senyumnya melhat wajah segar Pandu yang baru saja selesai mandi. Viara mendekati Pandu dan menarik tangannya untuk duduk di sisi ranjang. Viara kemudian mengambil handuk kecil yang ada di bahunya dan mengusap air yang ada di kepala suaminya. Pandu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan tersenyum manis melihat perhatian istrinya untuknya.


Pandu membawa Viara untuk duduk di pangkuannya dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Viara. Viara yang mengerti apa yang akan dilakukan suaminya menutup matanya dan membiarkan suaminya kembali melahap bibirnya dengan lembut. Pandu mengigit sedikit bibir istrinya dan memperdalam ciumannya ketika bibir Viara telah terbuka karena gigitannya. Pandu menelusuri rongga mulut istrinya dengan penuh kelembutan sedangkan Viara merangkul leher Pandu dan merasakan nikmat dengan perlakuan lembut suaminya. Setelah merasa puas, Pandu mengakhiri ciumannya dan mengusap bibir istrinya dengan lembut


"Terimakasih istriku sayang" kata Pandu mengecup kening Viara sambil tersenyum


"Sama-sama sayang. Sekarang abang pakai baju yah, adek mau beresin dapur dulu" kata Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum.


Viara mengusap pipi suaminya dan berlalu turun ke tangga menuju ke dapur


25 menit kemudian


"Akhirnya selesai juga" gumam Viara senang setelah membereskan dapurnya. Viara kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya karena hari yang sudah semakin malam.


Ceklek


Ketika membuka pintu kamarnya, Viara menyunggingkan senyumannya melihat orang yang sangat dicintainya sudah tertidur lelap menjelajahi alam mimpi. Viara melangkahkan kakinya mendekati Pandu dan tertegun melihat suaminya yang tertidur pulas hanya memakai handuk saja.


Glek


Viara kesulitan menelan salivanya melihat handuk yang melingkar di pinggang suaminya telah turun menutupi perutnya hingga menampakkan keperkasaan miliknya.


Seketika keringat dingin membanjiri keningnya ditambah dengan tubuh yang bergetar hebat karena baru pertamakalinya Viara melihat sesuatu milik seorang pria dewasa yang ada di bagian bawah perut suaminya


"Tenang Viara, tenanglah" batin Viara berusaha menenangkan keterkejutannya, namun usahanya nihil karena tubuhnya tetap saja bergetar hebat. Viara menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Berulang-ulang kali Viara melatih pernapasannya hingga keterkejutan Viara perlahan-lahan mereda


"Tenanglah Viara, tidak apa-apa. Dia bukanlah orang lain tapi dia suamimu sendiri. Dia adalah suamimu maka semua yang ada di dirinya menjadi milikmu juga. Selain melihatnya, kamu sebagai istrinya juga tidak apa-apa jika menyentuhnya. Yang kamu lakukan hanyalah tetap tenang dan perbiasakan dirimu jika situasi seperti ini terulang lagi. Oke?" batin Viara menyemangati dirinya sendiri.


Viara melangkah mendekati suaminya dan duduk di sisi ranjang. Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu dan memperbaiki handuk yang dikenakannya untuk menutupi benda miliknya dengan sempurna. Tak lupa Viara memakaikan selimut untuk menutupi tubuh suaminya agar tidak kedinginan karena kondisi di luar sedang turun hujan.


"Pasti abang lelah bekerja seharian ini, jadi nggak sempat pake baju" gumam Viara mengusap lembut puncak kepala suaminya dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Viara ikut merebahkan dirinya disamping Pandu dan menyandarkan kepalanya dibahu Pandu dengan tangannya yang dilingkarkan diatas badan suaminya


"Mimpi yang indah yah sayang, adek sayang abang" gumam Viara mengecup pipi suaminya dan perlahan-lahan menutup mata

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2