
Setelah 2 hari dirawat di rumah sakit, kini kondisi Viara sudah semakin membaik, ditambah Andra yang selalu datang dan menjaganya membuat hatinya semakin bahagia.
"Apa abang nggak capek pulang balik dari desa kesini hanya demi nemanin adek?" Tanya Viara pada Andra yang tengah menyuapinya
"Kan adek juga pernah pulang balik desa demi jagain abang yang tertembak dulu. Sekarang sudah sepantasnya abang membalasnya bukan?" Jawab Andra lembut dibalas anggukkan kepala oleh Viara. Viara menyunggingkan senyumnya menyadari jika lelaki didepannya masih mengingat kisah yang dulu pernah dilewati bersama
"Abang masih ingat yah, padahal sudah lama banget loh bang" kata Viara kagum
"Tentu saja abang masih ingat dek, jika bukan karena bantuan adek, mungkin abang nggak akan duduk disampingmu seperti sekarang, terimakasih adek sayang" Ujar Andra menahan tawa melihat wajah Viara yang merah merona mendengar ucapannya barusan
"Bu dokter, bolehkan saya bawa pulang pasiennya?" Tanya Andra pada dokter Citra yang baru masuk
"Boleh, tapi obatnya jangan lupa diminum yah" tutur dokter Citra mengingatkan
"Baik dokter" Ucap Viara tersenyum dan memeluk dokter citra
"Terimakasih untuk semuanya dokter" lirih Viara bahagia di bahu dokter Citra
"Sama-sama Viara, semoga bahagia yah" Ucap dokter Citra diangguki Viara sambil tersenyum
"Ayo kita pulang dek, apa perlu abang gendong?" kata Andra sambil menaiki turunkan alisnya. Viara membulatkan matanya dan menggeleng cepat pada Andra, sedangkan dokter Citra menyunggingkan senyumnya melihat wajah kedua orang didepannya
"Hahha, yaudah kami pulang dulu yah dokter, assalamu'alaikum" pamit Andra diikuti Viara
"Walaikumsalam, hati-hati" Jawab dokter Citra membalas lambaian tangan Andra padanya
"Akhirnya keluar juga dari rumah sakit. Gimana dek, kita langsung pulang atau ke pasar sebentar?" Tanya Andra sambil mengenggam tangan Viara
"Kita ke pasar dulu yah bang, pengen makan ayam geprek" bujuk Viara memelas
"Haha yaudah yuk" Andra mengenggam tangan Viara dan berjalan bersamanya menuju ke pasar
Sesampainya di pasar, Viara berbinar banyaknya jajanan dan penjual makanan yang berderet sepanjang jalanan pasar. Viara menyunggingkan senyumnya dan langsung menghampiri warung favoritnya
"Bu, ayam geprek nya 15 porsi yah, dibungkus" pinta Viara ramah pada ibu pemilik warung
"Lahdalah dek.. Banyak amat sih belinya, nggak sekalian borong nih warung, dengan ibu-ibunya sekalian" kata Andra tak percaya dengan perkataan Viara barusan pada pemilik warung
"Boleh bang, tapi mau taruh dimana ibunya nanti, kalau di pos kan nggak mungkin" Ucap Viara sambil tertawa bersama ibu pemilik warung
"Lalu, banyak amat yang adek beli, buat kasih makan sapi yah?" Tanya Andra sekali lagi
"Ya nggak lah, ini untuk teman-teman dan abang tentara juga, kalau bagian abang entar dikasih sapi, biar sapinya bergizi juga" goda Viara tersenyum
"Waduh, kalau gitu nanti abang makan apaan?" Tanya Andra cemberut
"Makan rumput, moooo" seru Viara mengundang tawa dari para pembeli yang antri dibelakangnya
"Wah parah kamu dek" kata Andra memoyongkan bibirnya
"Abang tentaranya ngambek tuh neng, di senyumin dong" ujar ibu pemilik warung. Viara menyunggingkan senyumnya dan merangkul lengan Andra
"Jangan cemberut dong, nanti mukanya nggak ganteng lagi. Senyum dong boleh nggak?" goda Viara menatap mata Andra.
"Bisa kamu yah dek" ucap Andra mengelus kepala Viara dengan penuh kasih sayang. Viara tersenyum dan berhambur memeluk Andra
ibu pemilik warung dan beberapa pelangannya tersenyum melihat kedekatan dan keakraban diantara keduanya
"Hehe, bang adek ke warung di seberang jalan dulu yah, pengen beli jus jeruk. Abang nungguin pesanan kita disiapkan dulu yah, nggak apa-apa kan" pinta Viara sambil melepaskan pelukannya
"Iyah dek" balas Andra setuju. Viara tersenyum dan langsung menyebrang jalan untuk membeli minuman kesukaannya
__ADS_1
"Ehh bang, itu pacarnya yah?" Tanya Ibu pemilik warung sambil membungkus makanan
"Iyah bu, lebih tepatnya calon istri" kata Andra sambil tersenyum bahagia
"Ciee!! selamat yah Bang, tetap pertahanan ceweknya Bang, jangan dilepas karena cewek sebaik itu sulit didapatkan" ujar pemilik warung
"Apa ibu mengenal kekasih saya sebelumnya?" Tanya Andra
"Iyah Bang, setiap bulan saat gadis tadi datang ke pasar, dia selalu membeli jualan ibu untuk dibagikan pada anak-anak jalanan. Kalau bukan jualan ibu, gadis itu akan mengantikannya dengan es cendol pak galang. Coba abang balik badan" tutur ibu itu menjelaskan.
Andra membalikkan badannya dan menyunggingkan senyumnya karena ucapan ibu pemilik warung sangatlah benar. Andra tersenyum melihat Viara yang tengah memborong es cendol milik seorang kakek tua dan dibagikannya kepada anak-anak jalanan disekitarnya
"Ohh Viaraku" gumam Andra berbunga-bunga
"Benar ucapan saya kan Bang" ujar pemilik warung dibalas anggukkan kepala oleh Andra sambil tersenyum.
Setelah membagikan es cendol pada anak-anak, Viara langsung membeli jus jeruk kesukaannya. Ketika sudah memegang kantung jus jeruk ditangannya, Viara yang akan menyebrang jalan tidak menyadari dari arah berlawanan terlihat motor yang mati mesin tapi masih melaju kencang kearahnya
"Adek awas!!!" Teriak Andra menarik tangan Viara dan membawanya kedalam pelukannya. Andra memeluk Viara erat hingga motor tersebut tak berhasil menabrak Viara
"Kamu nggak apa-apa kan dek, nggak ada yang luka kan?" Tanya Andra khawatir sambil memegang kedua pipi Viara. Viara tersenyum dan memegangi kedua tangan Andra yang menempel di pipinya
"Adek nggak apa-apa Bang, terimakasih yah" Ucap Viara tersenyum tulus
Prok... Prok.. Prok..
Semua orang bertepuk tangan melihat aksi penyelamatan Andra barusan
"Pertahanan Bang, neng" seru Ibu melirik warung dibalas jempol oleh Andra. Andra merangkul bahu Viara dan langsung mendekati warung untuk mengambil pesanan mereka. Setelah membayar, keduanya pamit kepada ibu pemilik warung dan menaiki motor untuk pulang kembali ke desa
Sepanjang perjalanan pulang, Viara selalu tersenyum dan tertawa bahagia mendengar bualan dan candaan dari Andra
"Hahah, ternyata dibalik muka abang yang sangar, terdapat sisi humor juga yah" seru Viara dibelakang Andra
"Iyah Bang, bahkan murid-murid adek di desa kalau ngeliat abang malah lari" ucap Viara sambil tertawa
"Hahha, mereka belum kenal abang aja, kalau mereka udah kenal, pasti pada main sama abang" Ucap Andra sambil memperhatikan jalanan di depannya. Viara tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Andra
"Adek sayang sama abang" Ucap Viara merangkul pinggang Andra
"Abang juga sayang sama adek, jangan pernah berpaling dari abang yah" Viara mengangguk sambil tersenyum pada Andra yang bisa di lihat Andra melalui kaca spion motornya
_________
Sementara didepan pos tentara
"Ternyata, Viara adalah gadis yang dicintai Danru sejak dulu" Ucap pratu Denis yang nongkrong di depan pos bersama rekannya
"Iyah Bang, aku nggak nyangka cinta Danru masih sangat kuat pada dek Viara, padahal mereka terpisah sejak 8 tahun yang lalu loh"
Pandu hanya terdiam sambil mendengarkan obrolan dan cerita teman-temannya
"Ehh Bang Pandu, kenapa cuma diam aja, ayo ngobrol bareng?" Ajak Bang Jaya
"Aku hanya lelah saja, jadi nggak bisa banyak ngobrol" sangkal Pandu tersenyum tipis
"Ohh lebih baik abang istirahat saja disini yah, kami akan ke balai desa dulu, ada yang harus diurus soal keaman dan kenyamanan warga yang tinggal di sekitar danau" pamit Bang Jaya
"Yaudah biar aku sendiri aja yang jagain pos, kalian pergilah" Jawab Pandu
"Baik Bang" seru para prajurit serentak. Para prajurit yang melangkah bersamaan meninggalkan pos seketika menghentikan langkah mereka ketika melihat Danru mereka telah sampai dari menjemput Viara
__ADS_1
"Hai dek, bagaimana kabarnya?" Tanya Pratu Denis lembut
"Alhamdulillah baik Bang, ini adek beliin oleh-oleh dari kota, nanti abang-abang makan bareng yah" Kata Viara ramah
"Ohh terimakasih dek" balas pratu Denis menerima 10 kotak ayam geprek pemberian Viara diikuti prajurit lainnya
"Sama-sama Bang" jawab Viara tersenyum
"Kalian mau ke mana? kok rame banget" Tanya Andra kebingungan melihat personilnya
"Mau ke balai desa Bang, kan ada yang harus diurus disana" jawab Bang Jaya
"Ohh yaudah, aku ikut" tutur Andra memakai topinya
"Tapi Bang, abang kan masih capek setelah perjalanan jauh kesini, nanti abang sakit loh" Ucap Viara cemas
"Tenang yah dek, abang nggak apa-apa kok. Tunggu abang kembali yah" kata Andra tersenyum sambil mengecup punggung tangan Viara
Pandu langsung mengalihkan pandangannya ketika melihat kemesraan itu sebelum hatinya bertambah hancur
"Hati-hati Bang" kata Viara melambaikan tangannya pada para prajurit yang berjalan menuju balai desa.
Viara menghentikan langkah untuk kembali ke rumah karena melihat Pandu yang duduk sendirian di depan pos. Viara menyunggingkan senyumnya dan berjalan mendekati Pandu dengan sekotak makanan ditangannya
"Bang Pandu, kenapa bengong sendirian disini?" Tanya Viara duduk di samping Pandu.
Pandu tak bergeming dan hanya menatap lurus kedepan dengan pikirannya yang kosong. Tak sengaja bulir bening lolos dari matanya karena tak sanggup untuk menerima kenyataan. Viara yang melihat itu menghapus air mata di pipi Pandu dengan lembut sambil tersenyum padanya
"Apa yang abang pikirkan?" Tanya Viara mengusap punggung bergetar Pandu. Pandu langsung menyeka air matanya dan mencoba menerbitkan senyumannya pada gadis di sampingnya
"Abang nggak apa-apa, abang hanya rindu pulang" sangkal Pandu sambil menunjukkan senyuman palsunya pada Viara. Viara menatap lekat mata Pandu, terdapat banyak kesedihan dan luka yang dalam tertera disana. Bahkan mata Pandu terlihat sedikit sembab dan memerah seolah tengah menahan sesuatu seorang diri
"Abang nggak bisa berbohong sama adek" kata Viara mengusap pipi Pandu lembut
"Nggak kok dek, abang nggak bohong, beneran" Balas Pandu menyunggingkan senyumannya agar mengatakan pada Viara jika dia baik-baik saja.
Viara yang bisa membaca dan melihat kebenaran ucapan dimata seseorang, apalagi suara Pandu yang terdengar sedikit bergetar, menyunggingkan senyumnya dan kembali mengelus lembut punggung Pandu
"Kalaupun luka yang ada di hati ini sangatlah sakit, ataupun beban yang dipukul pikiran dan tubuh ini sangatlah berat, abang nggak harus untuk tetap menahannya. Keluarkanlah beban yang memberatkan di hati abang. Ayah pernah bilang jika seorang lelaki yang menangis bukan berarti dia cengeng, dia juga manusia yang memiliki hati dan perasaan yang peka, tidak jauh berbeda dari wanita. Keluarkanlah apa yang mengganggumu bang, hati kita juga perlu istirahat dari banyaknya beban yang ditanggung sendirian. jangan paksa mata itu untuk terus membendung air mata yang ingin sekali keluar" tutur Viara lembut.
Seketika Pandu meneteskan air matanya dan refleks memeluk erat gadis di sampingnya
Viara mengelus punggung bergetar Pandu dan membiarkan Pandu menangis dalam diam di bahunya. Viara mengusap lembut punggungnya berusaha untuk menenangkan Pandu yang meskipun diam, tapi Viara tahu jika lelaki tampan itu tengah menangis deras di bahunya
"Kau tahu dek, abang sayang banget sama kamu. Tak ingin abang melihatmu bersamanya, hati abang selalu hancur menyaksikan itu dek. Abang sudah berusaha mengikhlaskan perasaan ini, namun abang gagal dek. Abang nggak kuat, abang nggak mampu. Cinta ini terlalu dalam untukmu sampai abang lupa cara mengikhlaskannya. Abang hanya ingin hidup bersamamu, mengapa Tuhan tak mengizinkan kita untuk bersama" batin Pandu terus menjatuhkan air matanya dan memeluk Viara erat.
Viara terus mengelus punggung Pandu hingga Pandu merasa nyaman dengan sentuhan itu. Merasa Pandu telah tenang, Viara mengangkat wajah Pandu dan menghapus air mata yang mengenang di pipi dan sudut matanya
"Sudah yah, jangan nangis lagi. Kalau abang rindu keluarga abang di kampung, kan adek ada disini. Adek juga termasuk keluarga dan adik abang bukan" Ucap Viara memegang kedua pipi Pandu dan mengusapnya dengan lembut. Viara menyeka air mata Pandu sambil tersenyum manis padanya
Viara mengambil baret hijau Pandu di atas meja dan kembali memakaikannya di kepala Pandu
"Sekarang bangkitlah. Teruslah berusaha mencapai apa yang abang inginkan. Mungkin sekarang abang belum berhasil memilikinya, tapi bagaimana dengan hari esok? Semoga abang berhasil memilikinya dengan cara yang paling indah menurut Tuhan yah" Pandu menyunggingkan senyumnya mendengar penuturan Viara barusan.
Hatinya merasa hangat dan kembali bersemangat seolah masih ada cahaya kebahagiaan untuknya.
"Nah abangku ini jauh lebih tampan kalau sedang tersenyum. Katakan apa abang tampan ini sudah makan?" Tanya Viara dibalas gelengan kepala oleh Pandu
"Yaudah sekarang abang makan yah, sini adek suapin". Viara mulai menyuapi Pandu dengan telaten dan bercerita tentang pengalamannya mengajar anak-anak hingga Pandu tersenyum dibuatnya
"Abang percaya kata-kata adek barusan. Pasti ada rencana yang disiapkan oleh-Nya untuk kebahagiaan abang. Mungkin hari ini abang belum bahagia, tapi suatu saat nanti abang akan mendapatkannya. Biarlah cinta ini tetap ada di hatiku selamanya, biarlah aku menjagamu dari jauh, menjaga tidak harus menjadi pendamping bukan? Tapi menjagamu sepenuh hatiku seperti seorang kakak untukmu. Aku akan tetap menjadi kakakmu dan kamu akan tetap menjadi adikku"
__ADS_1
Bersambung.....