
Drrttt....Drrttt....Drrttt
Viara merogoh ponselnya yang berdering didalam tas selempangnya
"Bunda" gumam Viara menghapus air matanya dan mulai menekan tombol hijau di layar ponselnya
"Halo Bunda sayang, assalamu'alaikum" sapa Viara menunjukkan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa padanya
"Walaikumsalam sayang, kamu dimana nak? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Bunda Hana cemas di seberang sana
"Alhamdulillah Viara baik-baik saja bunda, Viara sehat disini. Disini juga ada kakak yang siap jagain Viara, jadi bunda tenang saja yah" ucap Viara lembut
"Iyah nak, jaga dirimu baik-baik disitu yah, entah mengapa Bunda merasa telah terjadi sesuatu padamu" Kata Bunda Hana khawatir diseberang sana
"Enggak bunda, Viara baik-baik saja kok" Balas Viara sedikit menjatuhkan ponselnya dari telinganya dan menjatuhkan air matanya sambil menatap keatas
"Jangan berbohong sayang. Anak bunda nggak pandai sembunyikan masalah apapun pada ibunya. Jadi katakan apa beban pikiranmu sayang? Jangan kamu pendam sendirian karena kamu bisa hancur perlahan-lahan nanti" kata Bunda Hana lembut.
Tak kuat lagi membendung air matanya Viara kembali menjatuhkan bulir bening dan terisak di samping ponselnya
"Viara rindu pulang Bunda, Viara rindu sama ayah hiks...hiks.. Viara nggak mau dewasa Bunda, Viara mau jadi anak kecil saja" lirih Viara sambil menangis deras
"Kenapa kamu berpikir seperti itu sayang?"
"Viara mau jadi kecil seperti dulu Bunda. Saat Viara kecil, Viara bisa bermain dan tertawa sangat lepas tanpa adanya beban pikiran. Saat Viara terjatuh, hanya lutut dan tangan Viara saja yang terluka, tidak dengan hati Viara. Tapi saat dewasa ini, pikiran Viara semakin banyak Bunda hiks... Viara pengen seperti dulu, Viara pengen dipeluk ayah sama Bunda kalau lagi jatuh. Viara pengen diomelin Bunda kalau mandi hujan kelamaan. Viara pengen ngaji bareng ayah kalau sudah selesai shalat isya bersama Bunda, hiks.. hiks......" Kata Viara sambil berderai air mata
"Sayang, menjalani hari-hari ketika dewasa juga butuh banyak perjuangan sayang. Selain beban pikiran yang semakin bertambah, tanggung jawab yang harus dikerjakan juga semakin banyak. Tidak apa-apa jika Viara lelah, tidak apa-apa juga jika Viara ingin menangis sejadi-jadinya. Setidaknya dengan menangis, beban pikiran Viara ikut terbawa bersama buliran air mata yang mengalir di pipi. Tapi jangan sampai Larut dalam kesedihan nak, kamu memang terjatuh, tapi kamu harus berusaha untuk bangkit lagi. Jika kamu tidak bisa berlari, maka berjalanlah sayang. Hidup menang tak selalu mudah, terkadang butuh banyak perjuangan dan menguras air mata. Tapi percayalah nak, dibalik jalan berliku yang bernama kesabaran, maka akan Viara temukan bahagia yang Viara inginkan selama ini. Kalau hari ini Viara masih terjatuh, maka teruslah berjalan hingga Viara melupakan semua masalah yang pernah Viara alamai seiring berjalannya waktu. Jadikan pengalaman yang Viara alami sebelumnya sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik kedepannya. Viara ingat pesan Bunda sebelumnya kan? " Nasehat Bunda Hana lembut.
Viara menghapus air matanya dan mengangukkan kepalanya disamping ponselnya
"Iyah Bunda, jangan jadi orang baik, tapi jadilah orang yang iklas. Karena orang baik belum tentu iklas, tapi orang iklas sudah pasti baik" jawab Viara sambil tersenyum
"Alhamdulillah anak Bunda masih ingat. Terus jadikan pegangan di hidupmu yah nak. Dan satu lagi, Viara tidak perlu menjadi kecil untuk mendapatkan kasih sayang ayah sama Bunda. Walaupun Viara udah dewasa sekarang, tapi Viara tetaplah anak kecil Bunda. Anak kecil yang selalu ayah dan Bunda sayangi dan doakan selalu meski anak itu jauh di depan mata. Ayah sama Bunda juga rindu banget sama Viara. Ayah bilang rumah semakin sepi tanpa ada Viara disini" Viara menyunggingkan senyumannya mendengar ucapan ibunya
"Benarkah Bunda? Lalu ayah dimana sekarang? Viara pengen ngobrol bareng sama cinta pertamanya Viara" rengek Viara layaknya anak kecil
"Haha, ayah lagi memantau para personilnya di desa desa sebelah sayang. Disana juga sinyalnya terbatas jadi ayah sulit untuk dihubungi" Jawab Bunda Hana diseberang sana
"Yahh, padahal pengen banget ngobrol bareng ayah"
"Viara tenang yah, setelah ayah pulang nanti, Bunda langsung kasitau ayah kalau putri kesayangannya juga merindukannya disana"
"Hahaha Iyah bunda, Viara sayang ayah sama bunda. Kalau begitu sudah dulu yah Bu, Viara harus kembali ke rumah dinas karena disini sudah mau magrib bunda" pamit Viara
"Baiklah sayang, Hati-hati yah. Assalamu'alaikum putriku"
"Walaikumsalam bunda sayang" balas Viara sambil tersenyum dan mematikan sambungan teleponnya
"Setidaknya, masih ada orang-orang yang membuatku untuk terus melangkah maju kedepan dan bersemangat menjalani sisa hidupku" gumam Viara menatap sekelilingnya dimana bayangan Pandu kembali terlintas dipikirannya
"Meskipun tanpa kamu disampingku, kamu juga adalah penyemangat dalam hidupku. Aku mencintaimu Pandu, akan selalu mencintaimu. Aku akan terus merindukanmu disini, walaupun mungkin, rinduku itu tak akan terbalas lagi"
__________
Keesokan paginya, Ila yang baru saja memasuki kamar setelah sarapan pagi di dapur tersentak kaget melihat Viara yang sudah rapi dengan seragam dinasnya
"Viara, mau kemana? Mau pergi ke sekolah yah. Tapi hari ini kan nggak ada jadwalmu untuk mengajar di sekolah" Tanya Ila mengerutkan alisnya
__ADS_1
"Tidak apa-apa Ila. Aku sudah memberitahu kepala sekolah kalau selama Pak Dino dirawat di rumah sakit, maka aku yang akan mengantikan tugasnya mengajar di sekolah" balas Viara tersenyum pada Ila dan kembali mengemasi tasnya
"Tapi mengapa Viara? Jika kamu mengambil alih waktu mengajar Pak Dino, maka setiap hari kamu akan selalu pergi ke sekolah" Tanya Ila kembali kebingungan dengan ucapan Viara
Viara mengontrol nafasnya dan beralih menatap Ila
"Aku mengambil keputusan ini bukan tanpa alasan Ila. Aku hanya ingin membayar kesalahanku pada Pak Dino"
"Tapi ini semua bukanlah salahmu Viara" bantah Ila membuat Viara terdiam di tempat.
Viara kembali mengingat kejadian 2 hari yang lalu, dimana saat itu Pandu begitu brutal menghajar Pak Dino hingga dia tak sadarkan diri, sementara Viara tak bisa berbuat banyak untuk mencegah Pandu yang semakin memukul Pak Dino. Tak terasa, air matanya kembali menetes mengingat semua yang telah terjadi
"Tidak Ila, ini adalah kesalahanku hiks.. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Pak Dino dari pukulan bang Pandu, padahal Pak Dino berniat baik dengan mengembalikan cincin Pandu yang hilang kepadaku" lirih Viara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Ila yang merasakan beban yang tengah dialami Viara sekarang berjalan mendekat Viara dan mengusap punggungnya lembut
"Jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri Viara...." Ucap ila terpotong oleh suara Viara
"Tidak ila, aku adalah penyebab Pak Dino terbaring di rumah sakit dan akulah penyebab bang Pandu begitu membenciku. Aku memang tidak pantas dicintai oleh siapapun" lirih Viara berlari keluar rumah dengan air mata yang kembali luluh di matanya
"Viara!!!" panggil Ila yang tak dihiraukan Viara. Viara terus berlari membawa kesedihan dan kehancuran yang tengah menguasai hati dan pikirannya sekarang
"Siapa kamu Viara? Kamu memang tak pantas dicintai. Siapa yang mau menerima wanita sepertimu, sedangkan kekasihmu sendiri telah menghinamu dengan kata-kata yang tidak pantas. Lalu bagaimana dengan orang lain?. Sejak awal kamu memang tak pantas dicintai" Batin Viara berhenti berlari dan menangis di depan taman yang sangat sepi.
"KENAPA INI TERJADI PADAKU!!!!" Teriak Viara mengeluarkan beban yang ditanggung hatinya
"Apa aku memang tak pantas dicintai" lirih pelan Viara jatuh terduduk diatas rumput
"Mengapa kamu tidak mau mendengarkanku hiks.. Apa aku pernah berpura-pura padamu selama ini hiks.. Mengapa kamu menghinaku sekejam itu. Aku bukanlah wanita murahan seperti yang kamu bilang. Akun tulus dalam mencintaimu, kau tahu butuh perjuangan untuk bisa membuka hati lagi untuk orang yang baru hiks... Tapi mengapa perjuanganku kau hancurkan dalam sekejap. Mengapa hatiku kau patahkan dan lukai seperti ini, ini sangatlah sakit bagiku hiks.. hiks..." lirih Viara semakin terisak. Air matanya tak berhenti untuk mengalir hingga terus menetes terkena rumput yang menjadi alas menopang tubuh rapuhnya
"Bangkitlah Viara, kamu harus bisa berdiri diatas kakimu sendiri. Jika kamu memang tidak bisa menghabiskan sisa waktumu dengan orang yang kamu cintai, maka berdirilah dan lukislah waktumu dengan orang-orang yang menyayangimu. Kamu bukan wanita murahan, tapi wanita yang hebat. Kamu sudah tulus selama ini, hanya dia saja yang tidak bisa memahami semua itu dalam dirimu. Hapuslah air mata itu, tetap berusaha untuk kuat menahan beban dan luka hati itu. Ukirlah bahagia bersama orang-orang yang menyayangimu agar ketika waktumu telah tiba, kamu dikelilingi banyak orang-orang yang menyayangimu" Ucap Viara menghapus air matanya dan dengan tertatih, Viara bangkit dari duduknya dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke sekolah tempatnya mengajar
__________
2 bulan telah berlalu, namun waktu itu terasa sangatlah lama bagi orang yang tersiksa. Hati yang sudah mati itu terus melangkahkan kakinya mencari sedikit bahagia dalam hidupnya. Hati yang lemah itu selalu memberikan senyuman dan tawa bagi orang-orang terdekatnya hingga dia lupa kalau dirinya juga butuh bahagia. Bulir bening selalu berhasil lolos dari matanya saat dia sendirian di hari-hari yang dia lalui, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman dihadapan dunia
Bagi orang yang mengerti dirinya, arti senyuman itu sangatlah menyayat hati. Dimana kita harus tersenyum untuk menutupi luka hati yang cukup dalam. Tersenyum agar kita dianggap baik-baik saja oleh dunia, dan tersenyum agar tidak melukiskan penderitaan dan hancurnya batin yang selama ini selalu menyiksa dan menguras air mata
Setiap melihat Pak Dino, air mata Viara selalu keluar mengingat kejadian dua bulan lalu yang tak pernah terlupa di benakknya. Jika dia bisa, mungkin Pak Dino tidak terbaring seperti di depannya saat ini. Jika saat itu dia bisa, makan biarlah dirinya saja yang dihajar oleh kesalahannya, bukan orang lain yang harus menerima akibatnya.
Setiap harinya, Viara selalu pergi ke sekolah mengantikan jadwal mengajar Pak Dino. Walaupun rasa lelah, hati yang hancur, dan penyakit yang dideritanya tak mampu mematahkan semangat Viara untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi orang-orang terdekatnya.
Ila juga sering khawatir dan menangis melihat sahabatnya itu. Selalu tersenyum dan tertawa riang di hadapan anak-anak dan banyak orang, namun saat memergoki sahabatnya tengah sendirian, maka ila ikut menangis melihat temannya yang begitu rapuh seolah tak mau hidup lagi. Terkadang sahabatnya itu pulang dengan wajah pucat atau dalam keadaan dipapah warga karena ditemukan tak sadarkan diri di jalanan
"Jika aku jadi kamu, maka aku tidak bisa sekuat dirimu Viara. Kamu begitu hebat menyembunyikan luka dan memberikan senyuman kepada orang lain. Kamu begitu hebat untuk terus berusaha bangkit meski tubuh lemahmu ingin sekali pergi untuk selamanya. Kamu memang hebat Viara, kamu adalah orang terkuat yang pernah kutemui selama ini" lirih Ila mengelus puncak kepala Viara yang telah tertidur lelap, namun sudut mata Viara tidak pernah berhenti mengeluarkan bulir bening dan suara isakkan yang menyayat hati
"Semoga kamu segera mendapatkan bahagia kembali Viara" gumam Ila menghapus air matanya dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Viara
__________
Keesokan harinya
"Terimakasih sudah mengantar Ara sampai disini kakak" Ucap Viara tersenyum pada Bang Zardan yang mengantarnya sampai ke kota
"Sama-sama Ara. Lalu kapan kamu akan pulang? Biar kakak jemput kamu" Tanya Bang Zardan
"Besok kak, tapi Ara pulangnya nanti naik bus aja" Jawab Viara sambil menujukkan senyumnya
__ADS_1
"Yakin kamu tidak apa-apa pulang naik bus Ara?" Tanya Bang Zardan yang sedikit khawatir pada Viara
"Iyah kakak, Ara akan baik-baik saja. Kakak nggak usah cemas yah" Ucap Viara tersenyum berusaha menyakinkan Bang Zardan
"Baiklah Ara, kalau begitu kakak pulang dulu yah, jaga dirimu baik-baik disini. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi kakak yah" Ucap Viara dibalas anggukan Viara sambil tersenyum. Bang Zardan mengelus puncak kepala Viara dan menaiki truknya untuk kembali ke desa.
Setelah truk para tentara itu tak terlihat lagi, Viara mulai melangkahkan kakinya menuju ke rumah sakit tempatnya kembali menjalani pengobatan
"Permisi dokter Citra" sapa Viara setelah sampai di rumah sakit dan bersiap memasuki ruangan dokter Citra
"Hai Viara, lama kita tidak bertemu" seru dokter Citra memeluk Viara
"Dokter bertugas lagi di rumah sakit ini yah?" Tanya Viara
"Iyah Viara, pamanku kembali memintaku untuk mengurus rumah sakit ini selama 2 bulan kedepan" Jawab dokter Citra sambil membantu Viara berbaring di brankar pemeriksaan
"Sebelum menjalani kemoterapi hari ini, seperti biasa aku akan melakukan pemeriksaan padamu" Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan melihat dokter Citra yang melakukan berbagai pemeriksaan padanya
Setelah melakukan pemeriksaan berulang-ulang demi memastikan hasil yang akurat, dokter Citra terkejut dengan hasil pemeriksaan yang selalu sama disetiap pemeriksaan
"Katakan Viara, apa belakang ini kamu sering merasa sesak nafas, mimisan, dan rasa sakit yang hebat di kepala dan tubuhmu hingga kamu sampai tak sadarkan diri?" Tanya Dokter Citra cemas
"Iyah dokter, dua bulan belakang ini, gejala itu sering terjadi 4 kali dalam seminggu padaku" jawab Viara pelan
"Pasti dia mengalami stress dan tertekan hingga kondisinya semakin lama semakin memburuk" batin Dokter Citra menatap Viara dengan nanar. Dokter Citra mengontrol nafasnya dan berjalan mendekati Viara
"Viara, kanker yang kamu derita sudah hampir mendekati stadium 3. Sel-sel kankermu kembali menyebar di tubuhmu dibagian-bagian yang selnya pernah dimatikan sebelumnya" kata dokter Citra menjelaskan. Viara tersenyum mendengar ucapan dokter Citra dan meletakkan telapak tangan kanannya di dadanya
"Mungkin jantung ini juga tak lama lagi akan berhenti berdetak dokter" kata Viara membuat mata dokter Citra berkaca-kaca
"Mengapa kamu berkata seperti itu Viara, apa kamu sudah tak memiliki semangat hidup lagi?" Tanya Dokter Citra menahan air matanya agar tidak tumpah
"Aku masih memiliki sedikit semangat dokter, namun hati dan tubuhku sangatlah lemah dan ingin sekali mengakhiri semua ini. Tubuh ini sudah lelah untuk terus berjuang menahan sakit dokter" Ucap Viara tersenyum tipis
"Kenapa kamu berkata seperti itu Viara? Apa yang terjadi padamu sampai kamu lemah seperti ini. Katakanlah padaku" Viara meneteskan air matanya melihat mata dokter Citra yang telah berkaca-kaca.
Viara mengehela nafasnya dan mulai menceritakan awal kehancurannya pada dokter Citra.
Dokter Citra kembali meneteskan air mata dan berhambur memeluk Viara yang kembali menangis dan terisak mengingat kejadian yang menimpanya dua bulan yang lalu. Viara bahkan mengatakan pada dokter Citra jika tubuhnya ingin sekali untuk mati dan pergi untuk selamanya
"Jangan, jangan berkata seperti itu Viara. Apa kamu tega melihat kami menangis atas kepergianmu? Apa kamu tega meninggalkan ibumu yang selalu menunggumu pulang ke rumahnya?" Tanya dokter Citra berlinang air mata
"Aku tidak kuat melihat itu. Tapi aku masih memiliki keinginan sebelum aku pergi dokter. Aku masih memilki sedikit harapan untuk tetap hidup dan berkumpul bersama orang-orang yang aku sayangi sebelum tubuhku tertutup selimut putih dokter" Ucap Viara menghapus air mata di pipi dokter Citra
"Apa keinginan terakhirmu Viara? Aku akan berusaha untuk membuatmu bisa melakukan keinginanmu itu" Tanya dokter Citra penuh harap
"Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku bersama teman-teman kita di kota kelahiran kita. Aku ingin berkumpul bersama orang-orang dan keluarga yang aku sayangi disana. Dan sebelum mata ini tertutup untuk selamanya, aku hanya ingin bertemu dengan ayahku. Hanya ayahku saja semangatku untuk tetap hidup dan bertahan disaat tubuh ini ingin pergi. Aku hanya ingin menatap ayahku dan menghabiskan waktuku bersamanya. Aku ingin orang yang terakhir aku lihat sebelum mata ini tertutup adalah ayahku. Karena hanya ayahku saja lelaki yang tulus mencintaiku sejak aku kecil. Hanya ayahku saja lelaki yang tidak pernah mengangkat tangannya padaku. Aku juga memiliki cinta, yaitu ayahku. Aku hanya ingin, saat aku akan pergi nanti, orang yang terakhir aku lihat adalah ayahku, aku ingin sekali meninggal dalam pelukan ayahku" Ucap Viara tersenyum sambil mengingat ayahnya yang selalu memberikannya ketulusan dan kasih sayang
"Baiklah Viara, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membuatmu hidup lebih lama lagi agar kamu bisa mewujudkan keinginan terakhirmu. Kau ingin bertemu ayahmu bukan? Maka kamu harus semangat untuk tetap hidup dan menghabiskan sisa umurmu bersamanya" Ucap Dokter Citra diangguki Viara sambil tersenyum
"Terimakasih dokter" Ucap Viara tulus
"Sama-sama Viara, sekarang kita mulai kemoterapinya yah"
"Baik dokter" dokter Citra tersenyum dan mulai memasangkan alat-alat medis di tubuh Viara
"Berikanlah aku waktu lagi ya Tuhan, sebelum aku pergi menghadapmu, izinkanlah aku bahagia di sisa umurku ini. Jikalau aku memang tidak bisa berbahagia bersama orang yang aku cintai, maka izinkanlah aku bahagia bersama orang-orang yang menyayangiku"
__ADS_1
Bersambung....