
Keesokan paginya di salah satu rumah berlantai dua yang terletak di dekat Batalyon, Viara yang tengah merapikan tempat tidurnya tersentak kaget mendengar suara tangisan bayi
"Bayi siapa itu?" gumam Viara menghentikan tangannya yang tengah melipat selimut. Karena tangisan bayi itu terus terdengar, Viara melangkahkan kakinya berlari mencari sumber suara.
Viara menuruni tangga dengan cepat dan berlari menghampiri ibunya yang tengah mengedong bayi yang menangis dipelukannya. Viara menyungingkan senyumnya melihat cara ibunya menenangkan bayi itu hingga terbesit ide di kepalanya untuk mengerjai ibunya
"Bunda, apakah bayi itu adeknya Viara?" Goda Viara menaik turunkan alisnya.
Seketika mata Bunda Hana melongo tak percaya mendengar pernyataan yang dilontarkan putrinya hingga pipinya terasa memanas seketika
"Nggak lah sayang, ini......" Ucapan Bunda Hana terputus karena langsung dipotong oleh ayah Vian yang tiba-tiba datang dan merangkul bahunya
"Ini adeknya Viara kok" Ucap Ayah Vian lansung mendapatkan tatapan tajam dari istrinya
"Benarkah!!!!!" Seru Viara berbinar dan memainkan matanya pada ayahnya yang memiliki niat yang sama untuk mengerjai Bunda Hana
"Ayah ini, ingat umur tahu!!! Ini putrinya Bu Kia, dia titip pada Bunda untuk menjaganya sebentar. Lagipula harusnya ayah itu bukan gendong bayi lagi, tapi gendong cucu" Ucap Bunda Hana mencubit gemas pinggang suaminya
"Aww, hahah iya-iyah sayang, Bunda memang selalu benar" Ucap Ayah Vian menahan tawa melihat wajah cemberut istrinya
"Yahhhhh, Viara pikir itu adeknya Viara" Ucap Viara lesu
"Apa Viara pengen punya adek juga?" Goda ayah Vian
"Iyah ayah, Viara bosan tahu kalau cuman sendirian. Jadi carikan adek untuk Viara yah" kata Viara murung namun dalam hatinya menahan tawa melihat wajah ibunya yang kembali merah merona
"Tuh Bunda, Viara......" Ucap ayah Vian terputus karena Bunda Hana sudah berlari masuk ke kamar dengan wajah yang merah merona.
Viara melangkah kedepan ayahnya dan melakukan tos keberhasilan sambil tertawa melihat wajah tersipu Bunda Hana tadi
"Hahah, Ayah keterlaluan tahu godain Bunda"
"Loh, kan Viara yang duluan godain Bunda, jadi ayah ikut-ikutan aja"
"Hahha Iyah deh Iyah, Viara yang salah. Sekarang mending ayah nyusul bunda ke kamar, biar Viara aja yang memasak sarapan pagi kita hari ini" titah Viara lembut.
"Baiklah nak" Balas ayah Vian menepuk lembut pipi kanan putrinya dan berlalu menyusul istrinya
"Usia mereka memang sudah tidak muda lagi, tapi cinta keduanya selalu ada dan mewarnai hari-hari bahagia di rumah ini. Semoga hubunganku nanti selalu langgeng dan bahagia, sama seperti ayah dan bunda" gumam Viara tersenyum menatap pintu kamar kedua orang tuanya.
Viara melanjutkan langkahnya menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Sesampainya di dapur, Viara mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan di kulkas dan menaruhnya diatas meja. Setelah semua bahan siap, Viara mulai bergelayut dengan pisau dan wajan untuk membuat sarapan pagi
Setelah memasak selama 20 menit, kini menu sarapan pagi sudah tersusun rapi. Viara kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar orang tuanya untuk mengajak makan bersama
Ceklek (Bunyi pintu terbuka)
Viara menyunggingkan senyumnya melihat kedua orang tuanya yang tengah duduk bersama di sisi ranjang sambil bermain dengan bayi itu. Viara terus menatap kedua orang tuanya hingga dia terlarut didalam hayalannya
"Sini, izinkan aku memeluk putri kecilku" Ucap Pandu mengambil alih bayi kecil itu dari gendongan Viara. Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah cerah Pandu yang bermain bersama putri kecilnya yang memeluk lehernya sambil tertawa senang
"Hahah, ayo terbang, kepakkan sayapmu" seru Pandu mengangkat putrinya dan mengarahkannya seperti gaya terbang.
Setelah puas bermain bersama putrinya, Pandu membawa putri kecilnya kedalam pelukannya dan mengusap lembut punggung mungilnya yang sudah tertidur pulas di bahunya
Pandu beralih mendekati Viara yang duduk di sisi ranjang dan duduk tepat di sampingnya. Pandu mengusap lembut puncak kepala Viara sambil tersenyum dan membawanya untuk bersandar di dadanya
"Terimakasih sudah memberiku satu gadis kecil yah. Terimakasih sudah menjadikanku ayah yang sangat bahagia di dunia ini. Terimakasih juga selalu terjaga di malam hari demi merawat sakitku dan menjaga putri kecil kita. Aku mencintaimu sayang" Ucap Pandu mengecup puncak kepala Viara yang tersenyum bahagia di dada bidangnya.
Pandu membaringkan putri kecilnya di keranjang bayinya dan kembali mendekati Viara
"Bolehkan abang......." Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis pada Pandu. Melihat lampu hijau yang diberikan Viara, Pandu memajukan wajahnya bersiap untuk melahap bibir merah Viara. Viara tersenyum dan menutup matanya, bersiap untuk menerima ciuman penuh kasih sayang dari Pandu
1 detik
2 detik
"Viara!!!" Panggil Bunda Hana menepuk bahu Viara yang langsung membuyarkan lamunan Viara
"Astaghfirullah Bunda, ngangetin aja" Kata Viara mengusap dadanya
"Dari tadi Bunda panggil-panggil nggak dengar-dengar, mikirin apa sih?" Tanya Bunda Hana
"Mikirin abang Pandu lagi ups...." Viara langsung menutup mulutnya menyadari jika dia salah berucap. Bunda Hana tersenyum karena mengerti ucapan putrinya dan terbesit ide untuk membalas mengerjai Viara
"Kenapa, milikin bang Pandu lagi....." Bunda Hana menggerakkan bola matanya ke samping yang tertuju pada ayah Vian yang tengah bermain bersama bayi kecil itu. Viara melongo tak percaya melihat isyarat tepat yang disampaikan ibunya hingga pipinya terasa panas seketika
"Ihh apaan sih Bunda"
"Hahah, benarkan......." Ucap Bunda Hana menaik turunkan alisnya
"Daripada berpikir yang tidak benar, mending ayah dan bunda langsung aja ke dapur, Viara udah siapin sarapan kesukaannya bunda sama ayah. Viara pergi mencuci dulu yah Bunda" Ucap Viara berlari kencang menuju ke kamarnya, sementara Bunda Hana menahan tawa melihat tingkah putrinya
"Anak itu sudah semakin dewasa sekarang" gumam Bunda Hana tersenyum
__________
Sementara di kamarnya, Viara terus saja mondar-mandir layaknya setrika karena hayalannya yang membuatnya hampir tak percaya
"Apa yang kumakan yah, kenapa sampai menghayal sampai segitunya" gumam Viara menyentuh dagunya
"Tapi...." Viara kembali tersenyum mengingat Pandu didalam hayalannya tadi
"Ahhh Viara, sadar Viara!!!" Tegas Viara menepuk-nepuk pipinya yang kembali terbayang hayalannya.
"Tapi indah juga hayalanku tadi. Coba kalau Bunda nggak kagetin aku......" Ucap Viara merasa pipinya kembali memanas
Karena terus terbayang hayalannya, Viara langsung mengambil pakaiannya di keranjang dan berlalu menuju ke ruang mencuci yang ada di dapur
"Semoga dengan mencuci, hayalan itu tidak menganggu pikiranku" gumam Viara sambil melangkah menuju ke ruang cuci
Setelah menuruni tangga, Viara berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari dapur
"Sayang, Bunda sama ayah pergi ke Batalyon dulu yah" kata Bunda Hana
"Baik Bunda, Hati-hati yah" balas Viara meraih kedua tangan orang tuanya dan menyalaminya bergantian
"Assalamu'alaikum Viara" Pamit Bunda Hana dan Ayah Vian bersamaan
"Walaikumsalam ayah, Bunda" Jawab Viara tersenyum dan melambaikan tangannya pada bayi kecil yang digendong ibunya yang juga tengah tersenyum padanya
"Walau cuma hayalan semata, tapi baru kali ini aku melihat wajah abang secerah itu. Semoga saat hidup bersamamu nanti, aku bisa mewujudkan semua keinginanmu di diriku sayang, dan semoga senyuman cerahmu yang ada di hayalanku tadi bisa aku lukiskan secara nyata di wajahmu" gumam Viara tersenyum mengingat wajah Pandu.
Setelah orang tuanya pergi, Viara kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruang cuci dengan keranjang pakaian di tangannya
____________
1 Jam kemudian, Viara yang sudah selesai mencuci pakaiannya bersiap untuk menjemurnya di halaman samping rumah. Dengan keranjang pakaian di tangannya, Viara melangkah keluar lewat pintu depan.
Sesampainya di depan rumah, Viara tertegun melihat langit yang sangat hitam dan langsung menumpahkan beban yang ditampungnya
"Yahh, baru juga mau menjemur, udah hujan aja" Ucap Viara murung.
Viara meletakkan keranjang pakaiannya di lantai dan memandangi hujan deras yang mengguyur halaman rumahnya. Sudah 20 menit Viara berdiri mengamati hujan, namun hujan tersebut belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti
"lebih baik ku jemur saja pakaian ini di teras samping rumah" gumam Viara. Viara yang akan mengangkat keranjang cuciannya seketika terhenti mendengar bunyi motor yang dikenalinya tengah mendekati rumahnya
Viara membalikkan badannya dan tertegun melihat Pandu yang masuk ke halaman rumah dengan motornya menerobos derasnya hujan
"Astagfirullah abang" Ucap Viara.
Pandu memarkirkan motornya dan berlari menghampiri Viara yang menatapnya di teras rumah
"Assalamu'alaikum dek" sapa Pandu sambil tersenyum
"Walaikumsalam abang" Jawab Viara meraih tangan Pandu dan menyalaminya.
"kok abang ke rumah adek sampai menerobos hujan, ada apa sayang?" Tanya Viara lembut sambil membuka jaket basah kuyup Pandu
"Abang rindu sama kamu dek" Jawab Pandu sambil tersenyum
"Adek juga rindu sama abang. Sekarang abang duduk dulu yah, adek buatin cokelat panas untuk abang biar abang nggak masuk angin" titah Viara lembut
"Baiklah, terimakasih sayang" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum. Viara kembali masuk ke rumah menuju menuju dapur untuk menyiapkan minuman untuk Pandu
5 menit kemudian, Viara telah berdiri di depan Pandu dan meletakkan nampan berisi minuman dan camilan di meja disamping kursi yang diduduki Pandu
"Ayo bang, diminum" titah Viara lembut
"Iyah, terimakasih banyak yah sayang" Ucap Pandu dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum.
"Abang sampai datang ke rumah adek dengan menerobos lebatnya hujan. Apakah ada sesuatu yang penting yang ingin abang katakan?" Tanya Viara lembut. Pandu meletakkan gelas minumannya di meja dan beralih menatap kekasihnya yang duduk di sampingnya
"Iyah dek, ada yang ingin abang katakan padamu" kata Pandu
"Katakanlah sayang" balas Viara sambil tersenyum. Pandu mengontrol nafasnya dan mulai mengatakan maksudnya
"Abang harus pergi bertugas dek" kata Pandu membuat senyuman Viara perlahan-lahan menghilang, namun sebisa mungkin Viara tetap menampakkan senyumnya menutupi kekhawatiran yang kembali dirasakannya
"Abang tugas dimana dan berapa lama waktunya?" Tanya Viara
__ADS_1
"Abang akan bertugas di hutan pulau ini selama 7 hari dek" Kata Pandu
"Tujuh hari yah, jadi abang nggak bisa ikut bareng adek ke pesta pernikahannya bang Rama sama ila lima hari lagi?" Tanya Viara berusaha tetap tegar
"Iyah sayang, maafkan abang yah". Viara berusaha untuk tetap menapakkan senyumnya dan berhambur memeluk Pandu
"Iyah bang, tidak apa-apa. Abang semangat yah kerjanya, tunaikan baktimu pada negara kita. Adek tahu abang punya banyak tugas, jadi abang tidak bisa selalu ada disamping adek. Tapi adek akan selalu ada disini, menunggumu pulang dan kembali lagi kedalam pelukanku. Jaga diri baik-baik disana yah bang, adek nggak mau abang pergi lagi" Ucap Viara tersenyum di bahu Pandu dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Iyah sayang, doakan abang selalu yah" Ucap Pandu mengusap lembut punggung Viara yang memeluknya erat. Viara menghapus air matanya dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
"Lalu, kapan abang pergi?" Tanya Viara
"Hari ini dek, bahkan abang harus segera kembali ke Batalyon sekarang karena tidak lama lagi, kami akan langsung terjun ke lokasi" Jawab Pandu menjelaskan
"Tapi bang, ini masih hujan deras" kata Viara
"Iyah dek, inilah tugas sayang. Mau hujan, badai atau apapun itu ketika ibu Pertiwi telah memanggil, maka apapun halangannya harus siap dilewati demi panggilan itu dek" kata Pandu lembut
"Iyah bang, tunggu sebentar yah" Ucap Viara berdiri dari duduknya dan berlari masuk ke kamarnya. Setelah mengambil jas hujan loreng di kamarnya, Viara kembali berlari ke teras rumah
"Ini bang, adek belikan ini khusus untuk calon suami adek. adek pakaikan yah" Ucap Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum. Pandu berdiri dari duduknya dan membiarkan Viara memakaikan jas hujan ditubuhnya
"Nah sudah selesai" seru Viara
"Terimakasih sayang, tunggu abang pulang yah. kalau begitu abang pergi dulu, assalamu'alaikum adek sayang" Ucap Pandu mengecup kening Viara. Viara meraih tangan Pandu dan menyalaminya
"Walaikumsalam abang sayang" balas Viara tersenyum dan kembali memeluk Pandu erat.
Setelah memeluk Pandu, genggaman tangan Viara terlepas dari tangan Pandu yang sudah berlari menaiki motornya. Pandu tersenyum manis pada Viara dan kembali melajukan motornya menuju ke Batalyon
"Sampai jumpa lagi sayang, aku akan selalu menunggumu pulang" gumam Viara menatap nanar punggung Pandu yang memasuki Batalyon
Viara melangkah menuju ke depan pagar dengan payung ditangannya untuk melihat truk yang akan membawa para prajurit yang akan bertugas.
Viara menyunggingkan senyumnya dan melambaikan tangannya pada kekasihnya yang ada didalam truk yang baru saja keluar dari Batalyon. Pandu membalas senyuman Viara dan membalas lambaian tangannya padanya
"Aku pergi demi negara, tapi aku akan pulang demi cintaku untukmu" gumam Pandu tersenyum menatap Viara yang masih setia berdiri dan melambaikan tangannya padanya. Setelah truk yang membawa Pandu tak terlihat lagi, Viara mengontrol nafasnya dan kembali melangkah masuk kedalam rumahnya
"Ini memang berat, tapi harus ku jalani dengan hati yang iklas"
____________
Malam hari telah menyapa, namun hujan deras yang terus menguyur bumi belum juga berhenti. Viara berdiri di balkon kamarnya sambil menatap langit gelap yang terus menumpahkan bebannya
"Semangat yah kerjanya, jangan lupa datang dalam mimpiku" Ucap Viara tersenyum sambil merasakan titik-titik air yang menetes terkena telapak tangannya.
Setelah 25 menit berdiri di balkon kamarnya, Viara menutup pintu dan kembali meminum obat kesehatannya. Setelah meminum obat, Viara merebahkan tubuh lelahnya di ranjangnya sambil menatap wallpaper ponselnya
"Adek sayang abang" gumam Viara tersenyum dan perlahan-lahan menutup mata
___________
Tiga hari kemudian
Drrtt.... Drrttt.... Drrttt
Viara yang tengah merapikan hijabnya di depan cermin menyunggingkan senyumnya mendengar dering ponselnya
"Abang" gumam Viara senang dan berlari mengambil ponselnya yang berdering diatas ranjangnya.
Saat melihat nama yang menghubunginya, senyum Viara hilang dari wajahnya menyadari bukan kekasihnya yang menelponnya. Viara menekan tombol hijau di ponselnya untuk menjawab panggilan dari Ila
"Halo Assalamu'alaikum Viara" sapa ila diseberang sana
"Halo Walaikumsalam ila, ada apa?" Tanya Viara lesu
"loh, lemas amat jawabnya, kirain bang Pandu yang telepon yah" goda Ila
"Langsung saja, ada perlu apa kamu menelponku?" Tanya Viara
"Viara, temani aku ke butik yuk untuk memilih gaun pengantin"
"Nggak ah, malas keluar rumah"
"Ayolah Viara, temani aku yah sekalian jalan-jalan sore, biar nggak selalu kepikiran abang Pandu"
"Hmm baiklah, Jam berapa?" Tanya Viara
"Sekarang Viara, aku sudah ada di pinggir jalan depan rumahmu sekarang" Jawab Ila. Viara menoleh ke jendela kamarnya dan melihat mobil putih yang terparkir di pinggir jalan
"baiklah aku akan segera kesana" jawab Viara
"Oke, aku tungguin yah"
"Assalamu'alaikum Ila, bang Rama" sapa Viara pada dua orang di depannya
"Walaikumsalam Viara, kita langsung jalan yah" Ucap bang Rama dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum.
sesampainya di butik, Ila dan Viara melangkahkan beriringan kedalam butik diikuti bang Rama dibelakangnya. Setelah memilih pakaian kedua pengantin selama 1 jam lebih, bang Rama melajukan mobilnya menuju ke restoran untuk makan malam bersama. Sesampainya di restoran, ketiganya kembali melangkah masuk dan duduk di salah satu meja yang ada di restoran tersebut.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, ketiganya mulai bercengkrama bersama
"Ohh ya dek Viara, apa bang Pandunya sudah mengabari adek?" Tanya bang Rama
"Belum bang, udah tiga hari abang pergi tapi belum juga ada kabar. Abang juga terlihat aktif tiga hari yang lalu" Jawab Viara murung
"Yang sabar yah dek, bang Pandu bertugas di hutan pedalaman, jadi disana nggak ada sinyal dek. Tapi walaupun nggak ada kabar dari bang Pandu, adek tetap cinta kan sama bang Pandu?" Tanya Bang Rama
"Iyah benar bang, walapun bang Pandu jauh dari adek, adek tetap sayang kok sama abang Pandu. Adek nggak akan pernah lelah menantinya pulang" Ila dan bang Rama saling pandang dan tersenyum mendengar ucapan Viara
"Silahkan dinikmati tuan, nyonya" Ucap pelayanan setelah menyediakan pesanan ketiga orang tersebut
"Baik, terimakasih" jawab ketiganya bersamaan dan mulai menyantap makanan mereka.
Saat tengah mengunyah makanannya, Viara melihat jauh dibelakang Ila ada sepasang kekasih yang sedang menyuapi satu sama lain
"Jadi ingat abang" gumam Viara sambil tersenyum
"kenapa Viara, kok nggak dimakan makanannya? nggak enak yah?" Tanya Ila
"nggak Ila, ini sangat enak" jawab Viara tersenyum dan kembali melahap makanannya
"Sejauh apapun jarak kita, aku akan tetap mencintai sayang. semangat yah kerjanya, jaga diri baik-baik disana" kata Viara dalam hati sambil tersenyum mengingat Pandu
____________
2 hari kemudian
"Pengen ketemu abang" lirih Viara menatap wallpaper ponselnya. setetes air mata jatuh menimpa layar ponselnya menatap penuh rindu foto kekasihnya yang belum juga memberinya kabar. Pikiran buruk dan perasaan was-was akan keberadaan kekasihnya disana selalu mengganggu hatinya, namun sebisa mungkin Viara menepis perasaan itu dan tetap berpikir kalau kekasihnya baik-baik saja disana
Viara menghapus air matanya dan kembali menatap pantulannya di cermin. Setelah rapi dengan pakaiannya, Viara meraih tasnya bersiap untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabatnya
"Semoga bisa ketemu abang hari ini, walau cuma dalam mimpi" gumam Viara menatap foto Pandu bersamanya di dinding kamarnya dan berlalu keluar kamar
"Mau kemana sayang?" Tanya Bunda Hana yang tengah menatap layar laptopnya
"Viara mau ke resepsi pernikahan Ila Bunda"
"Pergi sendiri saja?" Tanya Bunda Hana
"Iyah Bunda, kan abangnya Viara lagi tugas" Jawab Viara
"Baiklah, hati-hati yah nak. Bunda akan menyusul kesana setelah urusan Bunda selesai. ini tinggal sedikit kok" kata Bunda Hana
"Iyah Bunda, kalau begitu Viara pergi dulu yah, assalamu'alaikum Bunda" kata Viara meraih tangan Bunda Hana dan menyalaminya
"Walaikumsalam, Hati-hati dijalan yah" balas Bunda Hana diangguki Viara sambil tersenyum
Setelah berpamitan, Viara melanjutkan langkahnya menaiki taksi online yang akan mengantarnya ke salah satu gedung yang ada di tengah kota
Sesampainya di gedung tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan Ila, Viara melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung dan bergabung dengan para tamu. Viara menyunggingkan senyumnya melihat prosesi pedang pora yang tengah berlangsung sekarang dan langsung merekamnya.
Setelah prosesi pedang pora selesai, acara dilanjutkan dengan foto bersama para prajurit. Viara yang tengah menatap acara di depan sana terkejut saat ada yang menepuk bahunya
"Hai Viara" sapa seorang gadis seumuran dengan Viara mewakili rekan-rekannya yang lain. Viara membalikkan badannya dan tersenyum melihat teman-teman SMA nya yang juga datang menghadiri acara pernikahan itu
"Meli, Tiya, Dara, lama tidak jumpa" Seru Viara senang dan berpelukan bersama ketiga temannya
"Hahaha, kupikir kamu sudah melupakan kami Viara" kata Meli
"Nggak lah, aku tidak mungkin melupakan teman-temanku ini" seru Viara
"Benar sekali Viara. Setelah lulus kuliah, kamu kemana aja Viara, waktu kami main ke rumahmu, ibumu bilang kalau kamu lagi bertugas di Indonesia timur" Tanya Dara
"Iyah ibuku benar, aku menjadi guru di desa terpencil yang ada disana selama satu tahun. Setelah tugasku selesai, aku kembali lagi kesini dan tinggal bersama orang tuaku" tutur Viara menjelaskan
"Ohh begitu yah" seru teman Viara mengangguk paham
"Iyah teman-temanku. Ngomong-ngomong kalian datang bertiga aja yah?" Tanya Viara
__ADS_1
"Tidak Viara, kami datang bersama kekasih kami masing-masing" Jawab Tiya sambil tersenyum
"Benarkah?"
"Iyah Viara, bulan depan aku akan menikah dengannya, sementara Meli dan Dara baru saja bertunangan dua hari yang lalu" Ucap Tiya dibalas anggukan kepala oleh kedua temannya
"Benarkah, selamat yah teman-teman" seru Viara menjabat tangan teman-temannya satu persatu
"Kalau Kayla udah nikah Viara" lanjut Meli
"Iyah benar, aku pernah bertemu dengannya sewaktu aku menghadiri acara pernikahan di kota dekat tempatku bertugas dulu" Kata Viara sambil tersenyum
"Bagaimana denganmu Viara, kamu datang disini bersama siapa?" Tanya Dara
"Aku datang sendirian kesini" Ucap Viara membuat ketiga temannya membulatkan matanya
"Apa kamu belum memiliki kekasih Viara?" Tanya Meli
"Tapi masa sih kamu nggak punya kekasih. Sejak dulu kan kamu selalu dikerjar sama ketos, ketua kelas dan teman-teman SMA kita yang lain, bahkan kamu selalu dikejar mereka sampai di bangku kuliah loh. Apa kamu tidak tertarik sama salah satu dari mereka?" Tanya Dara tak percaya
"Iyah benar Viara, apa kamu tidak tertarik sama salah satu dari mereka" Lanjut Tiya
"Hahah, aku sudah punya kekasih sekarang, jadi tidak mungkin lah aku tertarik dengan mereka" kata Viara sambil tertawa melihat wajah terkejut teman-temannya
"Benarkah, lalu dimana dia? aku ingin melihat siapa lelaki beruntung yang berhasil mendapatkan idola teman-teman laki-laki kita" seru Dara
"Iyah benar, dimana kekasihmu Viara" Seru Meli diangguki oleh Tiya.
Viara tersenyum getir mengingat kekasihnya dan melihat mata berbinar teman-temannya
"Dia tidak ada disini. Aku hanya datang sendirian kesini" Ucap Viara mencoba tersenyum
"Yahhh" Ucap ketiganya dengan raut wajahnya yang murung
"Lalu dia dimana sekarang Viara?" Tanya Tiya
"Dia ada di........"
🎶🎶🎶
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Viara menoleh ke sumber suara dan menyunggingkan senyumnya melihat orang yang sangat dirindukannya ada di depan sana. Pandu membalas senyuman manis Viara padanya dan melanjutkan nyanyiannya
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
"Hei, siapa lelaki tampan yang bernyanyi di depan sana?" Tanya Meli
"Itu dia, kekasihnya Viara" seru Kayla yang baru saja bergabung bersama teman-temannya
"Benarkah!!!" Seru Ketiganya dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum
"Wah, tampannya!!" seru Tiya
"Iyah kan, bahkan yang di depan sana jauh lebih tampan dari ketua OSIS yang kalian idolakan dulu" Lanjut Kayla lagi
"Iyah benar, pilihanmu selalu tepat Viara" seru Dara membuat keempat rekannya tertawa.
Viara geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temannya dan kembali menatap Pandu yang bernyanyi di depan sana. Viara melangkah kakinya maju kedepan untuk bisa melihat lebih dekat kekasihnya yang tengah bernyanyi di depan sana. Pandu menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang berjalan maju dan kembali bernyanyi sambil terus menatap wanita pujaannya itu
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Akulah yang terbaik untukmu
Prok....Prok... Prok...
Viara meneteskan air mata bahagia dan bertepuk tangan meriah bersama para tamu lainnya
"Beri tepuk tangan sekali lagi untuk Lettu Pandu!!!!!" Seru MC kembali mendapatkan seruan tepuk tangan dari para tamu
Setelah Pandu turun dari mimbar, Viara berlari menghampirinya dan berhambur memeluknya
"Abang, adek rindu..." lirih Viara dipelukan Pandu
"Iyah sayang, abang juga rindu sama adek" balas Pandu tersenyum dan mengusap lembut punggung Viara yang memeluknya erat
"Terimakasih sudah pulang dengan sehat dan kembali lagi dipelukan adek yah bang" Ucap Viara tersenyum didada Pandu
"Iyah sayangku, terimakasih juga selalu setia menunggu abang pulang. Ayo kita ke bang Rama sama Ila dek" Ajak Pandu mengenggam tangan Viara
"Ayo bang" balas Viara tersenyum dan mengikuti langkah Pandu yang mengenggam tangannya.
keduanya saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai
"Selamat yah sahabatku, selamat menjadi istri. Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah dan warahmah yah" Ucap Viara mengusap lembut punggung Ila yang memeluknya erat
"Sudah yah, jangan menangis lagi. Semoga bahagia" Ucap Viara menghapus air mata di pipi Ila
"Iyah Viara, terimakasih yah" Ucap Ila terharu dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum
"Wah, udah nikah aja kamu bro" seru Pandu menepuk bahu bang Rama
"Iyah bang, alhamdulillah. Kalau abang kapan?" Seru bang Rama
"Secepatnya bang, do'ain yah biar lancar nanti" balas Pandu tersenyum
"Iyah siap bang, intinya ingat aja SOP yang pernah kita bicarakan itu"
"Hahah siap bang" Jawab Pandu tertawa bersama bang Rama
"Udah pulang yah bang?" Tanya Ila pada Pandu
"Iyah yah bang. Abang bilang tugas abang tujuh hari, tapi ini kan masih lima hari?" Tanya Viara bingung
"Jadi, mau abang pergi bertugas lagi? baiklah pasukan....." Ucap Pandu terhenti karena Viara yang langsung memeluknya kembali
"Jangan bang, tetaplah disini bersamaku. genggamlah tanganku selalu dan tentukan kemana arahku melangkah" lirih Viara di dada Pandu. Pandu mengusap lembut punggung Viara dan mengecup keningnya lembut
"Iyah sayang, pasti kok" Ucap Pandu sambil tersenyum. Ila dan bang Rama saling pandang dan melempar senyum melihat dua orang di depannya
__ADS_1
"Jangan pernah pergi ke tempat dimana aku tidak bisa menggapaimu kembali. Aku sangat mencintaimu dan berharap kamu selalu ada dan menemani sisa umurku. Tak mengapa kalau semua orang pergi meninggalkanku, asalkan tidak denganmu wahai kekasihku. Tanpamu, hidupku tidak ada artinya dan tanpamu, hidupku tidak akan pernah lengkap. Aku mencintaimu Lettu"
Bersambung........