
Beberapa hari kemudian, Viara terbangun dari tidurnya dan menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 4.45 dini hari. Viara menyibakkan selimutnya dan beranjak ke kekamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah merasakan dinginnya air wudhu yang menyegarnkannya, Viara memakai mukenanya dan membentangkan sajadahnya kearah kiblat. Viara mulai berdiri di atas sajadah tersebut dan mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah shalat subuh dan sedikit tadarus Al-Quran, Viara merapikan peralatan shalatnya dan beranjak mendekati suaminya yang masih tertidur lelap
"5 menit lagi udah pukul 5 tepat. Biasanya abang akan selalu terbangun pukul 5 tepat tanpa dibangkunkan. Biarlah abang beristirahat lima menit lagi" gumam Viara mengecup kening suaminya dan berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka
Menu sarapan pagi ini adalah roti isi dan secangkir kopi panas untuk suaminya, begitu juga dengan Viara yang menyediakan secangkir coklat panas untuknya. Setelah 4 roti isi buatannya telah terhidang meja, Viara kembali membuat secangkir kopi dan coklat panas untuknya.
"Alhamdulillah selesai juga" Ucap Viara senang setelah semuanya beres. Viara kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk mengajak Pandu turun dan sarapan bersama
Sesampainya di kamar, Viara yang baru masuk melihat suaminya tengah berusaha membuka sprei
"Abang lagi ngapain?" Tanya Viara lembut sambil bersandar di pintu kamar
"Abang mau ganti spreinya dek" balas Pandu tersenyum menatap istrinya dan kembali melakukan pekerjaannya
"Pasti abang........ " batin Viara menghela nafasnya.
Viara menyunggingkan senyumnya dan berjalan mendekati suaminya
"Sini, biar adek aja yang ganti spreinya. Abang ke kamar mandi dan langsung mandi yah sayang" Titah Viara lembut
"Tapi dek...." Viara menempelkan jari telunjuknya di bibir suaminya dan melingkarkan tangannya di pinggang Pandu
"Bukannya abang pernah bilang semua yang ada di tubuh abang juga milik adek? Jadi tidak apa-apa sayang, abang kan suami adek. Sekarang abang mandi yah, nanti adek menyusul ke kamar mandi untuk mencuci spreinya" kata Viara sambil tersenyum manis pada suaminya.
"Terimakasih yah sayang, abang mencintaimu dek" Ucap Pandu mengecup kening istrinya dan berlalu ke kamar mandi
"Aku juga mencintaimu sayang" balas Viara menatap punggung suaminya yang berjalan masuk kekamar mandi. Viara pun mengganti sprei tempat tidurnya dengan sprei yang baru. Setelah itu Viara melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi untuk mencuci sprei tersebut
Ketika Viara membuka pintu kamar mandi, Viara bernafas lega karena suaminya sekarang tengah berendam di bathub dengan busa sabun yang menutupi tubuhnya
"Abang, pakaian yang abang pakai tadi dimana? Sekalian adek cucinya bareng sama sprei ini" Tanya Viara
"Di keranjang di belakang pintu dek" kata Pandu sambil tersenyum. Viara langsung mengambil pakaian itu dan merendamnya didalam larutan deterjen bersama sprei tadi. Pandu menyunggingkan senyumannya melihat wajah cerah istrinya yang tengah membersihkan sprei dan pakaiannya didepan sana.
Setelah mencuci semuanya, Viara beranjak keluar dari kamar mandi, tetapi sebelum hilang dibalik pintu, Viara tersenyum manis pada suaminya yang masih berendam dan berjalan keluar untuk menyiapkan pakaian Pandu.
Setelah menyiapkan seragam dan menjemur pakaian yang tadi dicucinya, Viara kembali melangkah ke kamarnya dan menyunggingkan senyumnya melihat suaminya yang sudah rapi dengan seragamnya dan tengah berdiri di depan cermin
"Abang" panggil Viara lembut sambil berjalan mendekati suaminya
"Iyah sayangku, ada apa hmm?" Tanya Pandu lembut.
Pandu tersenyum dan sedikit menundukkan badannya agar istrinya dengan mudah memakaikan baret hijau dikepalanya
"Abang, maafin adek yah bang" kata Viara sambil memperbaiki baret di kepala Pandu
"Minta maaf untuk apa sayang?" Tanya Pandu lembut. Viara menangkup kedua pipi suaminya dan melahap bibirnya dengan lembut. Pandu mendudukkan dirinya di kursi meja rias dan membawa tubuh istrinya yang tengah melahap bibirnya untuk duduk di pangkuannya.
Setelah melahap bibir suaminya, Viara mengakhiri ciumannya dan mengusap bibir suaminya dengan lembut
"Maafkan adek yah bang, karena adek belum siap memberikan hak abang, abang sampai......" kata Viara terputus karena Pandu yang kembali melahap bibirnya dengan lembut
"Tidak sayang, adek nggak salah kok. Kalau abang memaksa adek untuk memberikan hak abang sekarang, nanti adek tidak akan menikmatinya. Yang abang mau, kita sama-sama menikmatinya dengan kelembutan dan penuh cinta sayang" kata Pandu lembut sambil mengusap pipi Viara.
Viara meneteskan air mata dan berhambur memeluk Pandu yang selalu sabar dan mengerti dirinya
"Terimakasih yah bang, hiks... Terimakasih sudah hadir di hidup adek" lirih Viara menangis bahagia sambil memeluk Pandu erat. Pandu menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan istrinya padanya
"Sudah yah sayang, jangan menangis lagi. Abang selalu sabar menunggumu siap kok. Istri abang yang cantik ini nggak boleh nangis lagi" Ucap Pandu mengusap pipi Viara dengan lembut.
Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan menggandeng tangan Pandu untuk sarapan bersamanya di dapur. Setelah sarapan selesai, Viara kembali mengantar suaminya pergi bekerja sampai didepan pintu
"Abang pergi dulu yah, assalamu'alaikum istriku sayang" Pamit Pandu mengecup kening istrinya
"Walaikumsalam abang sayang" Ucap Viara menyalami tangan suaminya dan membalas lambaian tangan Pandu yang sudah melaju dengan motornya
"Malam ini, aku akan memberikanmu hakmu sayang. Cepat pulang yah, aku sudah tidak sabar melihat wajah bahagiamu" gumam Viara tersenyum menatap punggung suaminya yang sudah sangat jauh. Setelah punggungnya tak terlihat lagi, Viara kembali melangkah masuk ke rumahnya untuk menyiapkan kejutan untuk suaminya
Hal pertama yang Viara lakukan adalah membersihkan kamar dan menghiasnya secantik mungkin
"Aku ingin membuatmu bahagia sayang" gumam Viara mengusap foto Pandu dan kembali menggantungnya di dinding kamar. Berkat tangan lincah nya, kini kamarnya telah berubah 180 derajat. Viara menghias kamarnya begitu cantik dan kelihatan sangat romantis layaknya kamar pengantin baru
"Wajarlah kamarnya kayak kamar pengantin baru yang baru saja nikah, kan aku sama abang baru nikah 7 hari yang lalu" gumam Viara senang
__ADS_1
"Ini masih pukul 5 sore, abang pulangnya masih lama. Mending aku siapkan makan malam untuk abang" gumam Viara berlalu turun ke bawah menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan malam kesukaan suaminya.
Sesampainya di dapur, Viara mulai mengeledah seisi kulkas untuk membuat menu makan malam yang istimewa. Sambil menunggu masakannya matang dengan sempurna, Viara beralih menghias meja makan dengan cantik. Setelah itu ketika semua masakannya sudah matang sempurna, Viara menyajikannya di wadah dan menatanya rapi diatas meja
"Masih ada waktu sebelum abang pulang, lebih baik aku sekarang mandi dan bersiap-siap menyambut kepulangan abang. Semoga abang suka rencanaku kali ini" gumam Viara tersenyum membayangkan wajah bahagia suaminya dan berlalu ke ke kamarnya.
Setelah mandi dan shalat magrib, Viara bersiap-siap di meja riasnya sambil menyisir rambutnya. Viara beralih menatap suasana kamarnya dan semakin tak sabar menunggu suaminya pulang. Ketika tengah menyisir rambutnya, Viara yang mendengar bunyi motor suaminya yang berjalan mendekati pekarangan rumah menyunggingkan senyumnya dan berlari turun ke bawah menyambut kepulangan suaminya
"Assalamu'alaikum adek sayang" sapa Pandu mengecup kening istrinya.
"Walaikumsalam abang sayang" Ucap Viara meraih tangan Pandu dan menyalaminya cukup lama. Viara kemudian menarik tangan suaminya agar masuk kedalam rumah dan berhambur memeluk Pandu erat
"Ehh dek, abang masih bau asem loh, kok langsung dipeluk sih" goda Pandu membalas pelukan hangat istrinya
"Biarin, biar bau minyak tanah sekalian adek akan tetap memeluk abang" Ucap Viara masih memeluk suaminya
"Loh, kalau bau minyak tanah nanti abang terbakar loh sayang, apalagi pelukan adek yang begitu hangat" goda Pandu tersenyum
"Iyah abang terbakar, terbakar karena cinta adek" Ucap Viara tersenyum dan mengecup kedua pipi suaminya
"Ayo bang, kita ke dapur, adek punya kejutan untuk abang hari ini. Kejutan istimewa untuk Tuan Pandu Praditya Maheswara" Ajak Viara
"Baiklah nyonya Pandu" balas Pandu sambil tersenyum. Viara melingkarkan tangannya di lengan suaminya dan melangkah bersamanya menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur, Pandu berbinar sempurna melihat meja makan di dapur yang dihias sangat cantik dan terlihat sangat romantis oleh Viara
"Ini adek yang nyiapin?" Tanya Pandu dengan mata berbinar
"Iyah sayang, ini khusus untuk tuanku sayang. Ayo silahkan duduk" kata Viara membimbing tangan suaminya untuk duduk didepannya. Viara mulai menyendokkan makanan di piring dan bersiap untuk menyuapi suaminya
"Ayo bang, aaaakk" kata Viara memajukan sendok di depan mulut Pandu sambil membuka mulutnya. Pandu terkekeh dan membuka mulutnya menyambut suapan makanan yang dimasukkan istrinya kedalam mulutnya
"Gimana sayang, enak kan?" Kata Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum
"Nyonya Pandu juga harus makan dong, sini abang suapin" kata Pandu meraih satu sendok lagi untuk menyuapi Viara
"Jangan pakai sendok yang itu bang, pakai yang ini aja" kata Viara menunjukkan sendok di tangannya yang digunakannya ketika menyuapi Pandu tadi
"Tapi..... " sebelum Pandu berbicara, Viara menyendokkan makanan menggunakan sendok bekas makanan Pandu dan memasukkannya kedalam mulutnya.
"Enak bang" seru Viara senang dan kembali menyuapi suaminya dengan sendok yang sama. Pandu menyunggingkan senyumnya melihat istrinya yang tak merasa jijik dengan sendok bekas makanannya, dan semakin senang melihat Viara yang meminum segelas air bekas minumannya tadi tepat di sisi Pandu minum di gelas tersebut
"Alhamdulillah, terimakasih banyak yah adek sayang. Kejutan hari ini membuat abang senang banget" seru Pandu meraih pinggang istrinya dan mendudukkannya diatas pangkuannya
Pandu mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya dan kembali melahap bibir semerah buah ceri istrinya. Setelah berciuman selama beberapa menit, Pandu melepaskan sentuhan bibirnya dan mengelus bibir merah istrinya dengan lembut
"Abang bahagia sayang" kata Pandu menenggelamkan kepalanya di bahu istrinya. Viara menyunggingkan senyumnya dan mengusap kepala suaminya dengan lembut
"Adek masih punya kejutan untukmu lagi Tuan Panduku. Ayo ikuti dinda sayang" Ajak Viara sambil tersenyum manis
"Baiklah dindaku" jawab Pandu tersenyum dan melangkahkan kakinya mengikuti langkah Viara yang mengenggam tangannya erat
"Sebelum masuk pintu, abang tutup mata dulu yah, jangan dibuka matanya sebelum adek suruh buka" titiah Viara lembut
"Oke sayang" balas Pandu mengikuti permintaan istrinya. Viara menyunggingkan senyumnya dan mulai memutar gangang pintu kamar
Ceklek...
Viara kembali mengenggam tangan suaminya untuk menentukan arahnya karena Pandu saat ini tengah menutup mata atas permintaannya
"Sekarang abang buka matanya" kata Viara lembut.
Pandu perlahan-lahan membuka matanya, seketika matanya kembali berbinar sempurna melihat kamarnya yang begitu dihias sangat indah oleh istrinya dalam waktu tak cukup sehari. Dengan taburan bunga mawar diatas ranjang dan dekorasinya yang indah, membuat kamar tersebut sudah seperti kamar pengantin, bukan lebih tepatnya memang kamar pengantin
"Ini... Ini...." Viara tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher suaminya dengan kaki yang sedikit di jinjit karena tubuh suaminya sangat tinggi
"Adek menyiapkan ini semua untuk abang. Maaf karena adek baru bisa memberikannya sekarang" kata Viara membuat senyuman Pandu mengembang
"Maksudnya adek.... "
"Iyah bang, adek siap memberikan jiwa dan raga ini hanya untukmu saja, untukmu wahai Sang pemilik cinta dihatiku" Pandu tersenyum bahagia dan membawa istrinya kedalam dekapan hangatnya
"Terimakasih yah dek" lirih Pandu bahagia mengecup kening Viara dengan lembut
"Sama-sama Panduku sayang. Sekarang abang mandi lalu kita shalat isya bersama yah. Setelah itu...." Viara menunjukkan isyarat sambil tersenyum manis Pada suaminya
__ADS_1
"Baik nyonyaku sayang" Ucap Pandu mengecup pipi Viara dan berlalu ke kamar mandi dengan perasaan senang.
Setelah suaminya hilang di balik Pintu, Viara menyunggingkan senyumnya dan melangkahkan kakinya ke lemari untuk menyiapkan pakaian suaminya. Viara meraih kotak yang ada di lemarinya dan memakai baju khusus yang disiapkan Pandu untuknya. Walaupun Pandu tidak mengatakannya dan menyembunyikan baju itu hingga tak terlihat di tumpukan pakaian, tapi Viara tahu jika pakaian itu disiapkan oleh suaminya untuk malam pertama mereka.
Setelah memakai pakaian tersebut, Viara menatap pantulan nya dicermin, seketika pipinya merah merona melihat lekuk tubuhnya yang terekspos mengunakan pakaian tipis tersebut.
"Demi kamu, aku sanggup menahan ketakutanku memakai pakaian ini sayang" gumam Viara menahan malu menatap pantulannya. Ketika tak lagi mendengar gemercik air dari kamar mandi, Viara merasa sangat panik langsung memakai mukenanya dengan cepat.
Ceklek
Deg..
Jantung Viara berdisko riah melihat tubuh atletis suaminya yang selalu membuatnya kagum dan tak pernah bosan mengagumi indahnya ciptaan Tuhan tersebut
"Adek udah pakai mukenanya? Udah wudhu sebelumnya dek?" kata Pandu kebingungan melihat istrinya yang sudah rapi dengan mukenanya
"Iyah bang, setelah menyiapkan pakaian abang tadi, adek langsung ke kamar mandi ruang sebelah untuk berwudhu" kata Viara lembut. Pandu mengangguk paham dan mulai memakai pakaian yang disiapkan istrinya. Setelah suaminya rapi, Viara membentangkan sajadah dan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu shalat isya bersama imamnya.
Setelah shalat selesai, Viara mulai melipat sajadahnya dan meletakkan peci suaminya ditempat semula
"Loh dek, adek masih pengen shalat isya lagi?" Tanya Pandu melihat mukena yang masih melekat di tubuh istrinya
"Ehh nggak...enggak bang" kata Viara gelagapan
"Kalu kenapa masih dipake mukenanya?" kata Pandu tersenyum
"Kalau abang tahu apa yang adek pake di dalam ini, mungkin senjata abang langsung keras" kata Viara keceplosan dan langsung menutup mulutnya dengan wajahnya yang merah padam. Pandu yang mengerti ucapan istrinya mengangguk paham dan tersenyum menggoda
"Aduh Viara, dasar payah. Begini nih kalau udah gugup, jadinya keceplosan" gerutu Viara dalam hati
"Simpanlah mukenamu dengan rapi dek" kata Pandu sambil tersenyum
"Ayo Viara, kamu ingin membuat suamimu bahagia malam ini kan? Jadinya jangan malu atau takut. Dia dia suamimu, jadi semua yang ada di dirimu adalah milik suamimu. Oke, semangat Viara" batin Viara menyemangati dirinya sendiri.
Dengan perlahan-lahan dan jantung yang berdisko ria, Viara perlahan-lahan melepas mukenanya tepat didepan suaminya yang duduk bersandar di ranjang.
Deg
Jantung Pandu berdebar hebat melihat tampilan istrinya hari ini yang mengenakan gaun tipis hingga bentuk tubuhnya terlihat sangat jelas. Pandu menyunggingkan senyumnya menyadari jika gaun yang tengah dikenakan istrinya sekarang adalah gaun pilihannya dulu.
"Kemarilah sayang" panggil Pandu lembut. Viara mengangukkan kepalanya dengan wajah yang merah merona dan berdiri tepat didepan suaminya
"Adek udah siap?" Tanya Pandu lembut. Viara mengontrol nafasnya dan menyunggingkan senyum tulusnya pada suaminya
"Iyah, adek siap" Jawab Viara mantap sambil tersenyum.
Pandu tersenyum mendengar jawaban Viara dan mulai membaringkan istrinya. Pandu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan mulai membacakan doa di ubun-ubun istrinya.
Sesudah Pandu membaca doa, Pandu mengecup lembut kening istrinya dan mulai mengeluarkan hasratnya. Pandu mendekatkan wajahnya dan mulai melahap bibir merah Viara untuk menelusuri rongga mulut istrinya.
Setelah melahap bibir istrinya beberapa menit, Pandu membuka gaun penutup tubuh Viara dan mulai memainkan benda kenyal itu, lalu memciumi setiap inci tubuh istrinya.
Viara mulai mendesah dan merasakan nikmatnya kelembutan dan rasa geli yang bercampur menjadi satu. Viara terus menekan dan meremas rambut Pandu untuk terus bermain dengan bukit miliknya.
Pandu terus memberikan kepuasan kepada istrinya dengan lembut dan semakin bergairah ketika mendengar ******* yang terus keluar dari mulut Viara. Pandu turun kebawah dan menelusuri area perang yang sangat disukainya
Viara membiarkan semua miliknya yang dijaga nya selama ini untuk suaminya karena Viara tahu sudah kewajibannya sebagai seorang istri untuk memenuhi hak suaminya
Keduannya telah melewati malam peraduan cinta yang panjang dan menggairahkan hingga percintaan itu terus berlanjut sampai subuh menjelang.
Pandu yang memimpin permainan akhirnya tumbang dan terbaring lemah disamping istrinya yang juga sudah kelelahan sama sepertinya, namun rasa lelah itu hilang digantikan rasa bahagia dan lega yang memenuhi relung hatinya.
"Sekarang, aku sudah memenuhi kewajibanku sebagai istrimu. Telah kuserahkan semua yang aku jaga selama ini hanya untuk dirimu sayang. Aku milikmu dan kamu milikku. Akan kujaga milikmu selalu karena hanya kamu yang berhak memilikinya" batin Viara mengusap lembut pipi suaminya yang terbaring lemas disampingnya
"Dek, kita mandi bareng yuk" Ajak Pandu diangguki Viara sambil tersenyum.
Pandu mulai mengangkat tubuh lemah istrinya dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah mandi dan berwudhu, keduanya pun melanjutkan dengan shalat subuh berdua.
Setelah kewajiban mereka telah dilaksanakan, Pandu kembali mengangkat tubuh istrinya untuk tidur disisinya
"Terimakasih yah sayang" Ucap Pandu mengecup kening Viara
"Sama-sama suamiku sayang" balas Viara mengusap lembut wajah bahagia suaminya dan membawanya kedalam pelukannya.
__ADS_1
Karena lelah yang menyerang keduanya, Viara dan Pandu pun tertidur pulas sambil berpelukan satu sama lain
Bersambung........