Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 89. Tentara Tampan Itu Suamiku


__ADS_3

Keesokan paginya sebelum berangkat ke sekolah, Viara terlebih dahulu menyiapkan sarapan semua keperluan suaminya untuk dua hari kedepan


"Beres" gumam Viara senang setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya yang menandakan semua keperluan Pandu sudah selesai dilakukannya.


Viara melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar mereka yang ada di lantai dua rumahnya


Ceklek...


Ketika Viara membuka pintu kamarnya, Viara menyunggingkan senyumnya melihat Pandu sudah terbangun dari tidurnya dan tengah duduk bersandar di ranjang. Viara melangkahkan kakinya mendekati Pandu dan duduk di dekat suaminya


"Abang, adek udah siapin semua keperluan abang untuk dua hari kedepan. Baju dan seragam-seragam abang sudah adek setrika, semua atribut abang udah adek rapikan, dan kalau abang mau makan, abang tinggal ambil saja bahan-bahannya di kulkas yah" Ucap Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum


Viara mengusap lembut pipi kanan suaminya dan berhambur memeluknya


"Adek akan selalu merindukanmu pangeranku" lirih Viara dalam pelukan Pandu


"Yakin adek bakalan rindu sama abang?" goda Pandu tersenyum dan mengusap lembut kepala istrinya yang bersandar di dada bidangnya


"Iyah bang, adek akan selalu rindu sama abang. Adek nggak sanggup hidup sehari pun tanpa abang, rasanya hari adek kurang kalau nggak lihat suami kesayangan adek ini" Ucap Viara mengusap pipi Pandu.


Pandu mendekatkan wajahnya dengan Viara dan kembali melahap bibir semerah buah cerita istrinya. Pandu ingin memperdalam ciumannya dengan mengigit sedikit bibir istrinya, sedangkan Viara yang merasakan itu tersenyum dalam hatinya dan membuka mulutnya agar suaminya itu leluasa untuk memperdalam ciumannya


Selang beberapa saat, merasa istrinya telah kehabisan nafas, Pandu mengakhiri ciumannya dan mengusap lembut bibir istrinya


"Terimakasih selalu ada dan mengurus abang dengan sangat baik yah dek" Kata Pandu tersenyum


"Itu sudah kewajibanku sebagai istrimu sayang. Setelah ini abang sarapan dan mandi yah. Sarapan abang udah adek siapin di bawah, begitu juga dengan air mandi abang" Titah Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum


"Kalau begitu adek pamit dulu yah bang" Pamit Viara sambil memakai ranselnya


"Mau abang anterin sampai ke sekolah dek?" Tanya Pandu


"Nggak usah bang, adek pergi bareng ila kok. Adek pergi dulu yah, assalamu'alaikum Paduka sayang" Ucap Viara meraih tangan Pandu menyalaminya sedikit lama


"Walaikumsalam cintanya abang Pandu. Hati-hati dijalan yah" Ucap Pandu diangguki Viara sambil tersenyum.


Sebelum melangkahkan keluar kamar, Viara kembali mendekati suaminya dan mengecup kedua pipinya lembut


"Aku mencintaimu Panduku" Ucap Viara tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya keluar kamar menghampiri Ila yang sudah menunggunya di depan


"Akan kupastikan kamu tidak akan merinduanku sayang, aku juga mencintaimu" gumam Pandu tersenyum menatap foto pernikahannya yang terpampang indah di dinding kamarnya.


_____________


Di halaman sekolah, kini semua siswa kelas 4 dan 5 tengah mendengarkan arahan-arahan dari kepala Sekolah. Viara dan rekan-rekan guru yang diurus untuk mengawasi anak-anak juga berbaris rapi dibelakang anak-anak. Setelah arahan kepala sekolah selesai, anak-anak diminta untuk memberikan formulir persetujuan orang tua yang dibagikan kemarin dilanjutkan dengan melangkah bersama untuk menaiki bus masing-masing.


Sebelum menaiki bus, para anak-anak diminta untuk berbaris rapi dan masuk dengan teratur agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan


"Ayo anak-anak, yang rapi yah duduknya" Titah Viara membimbing anak-anak kelas 5 untuk memasuki bus.


Setelah semua anak-anak kelas menaiki bus, Viara melangkahkan kakinya mendekati pak kepala sekolah bersama rekan-rekannya


"Jadi pak, setelah anak-anak ini naik bus, apa kita langsung jalan pak?" Tanya Viara


"Belum Bu Viara, kita masih menunggu kedatangan personil keamanan dan tim medis untuk ikut bersama kita. Sepertinya mereka sedikit terlambat" jawab kepala sekolah ramah


"Begitu yah, baik Pak" jawab Viara sambil tersenyum.


Viara dan ketiga rekannya yang menjaga murid kelas 5 berdiri disamping bus untuk menunggu kedatangan tim yang dimaksud pak kepala sekolah tadi. Namun Viara meminta izin untuk masuk menunggu didalam sambil mengawasi anak-anak


"Iyah Bu Viara, silahkan masuk" seru Bu Darma


"Baik Bu" jawab Viara sambil tersenyum dan langsung memasuki bus dan duduk di kursi paling belakang.


"Bu guru, masih lama yah kita berangkatnya? kami udah nggak sabar lagi" Tanya ketua kelas


"Tunggu yah anak-anak, mungkin sekitar 5 menit lagi kita akan jalan" Ucap Viara tersenyum dari kursi belakang


Agar tidak bosan menunggu, Viara mengeluarkan buku matematikanya dan mulai membaca materi-materi yang dijelaskan dalam buku tersebut. Sementara di luar bus, para tentara yang diminta untuk ikut mengawasi anak-anak telah datang bersama truk mereka. Setelah truk terparkir sempurna, mereka melompat dengan gagahnya dan berjalan menghampiri kepala sekolah


Deg..


Para guru wanita tertengun dan merasakan debaran di dada mereka menyadari jika tentara yang diminta untuk membantu mereka sangatlah tampan. Ditambah kaca mata hitam dan ransel di punggung mereka semakin menambah ketampanan mereka


"Maaf Pak, apa kami terlambat?" Tanya salah satu tentara yang merupakan pemimpin dari kelima personil dibelakangnya. Tentara itu juga termasuk komandan kompi di Batalyon yang ada di kota B


"Tidak pak, waktu berangkat masih 3 menit lagi" jawab Pak kepala sekolah ramah. Tak berselang lama tim medis juga sudah datang dan langsung menemui Pak kepala sekolah


"Berhubung semuanya sudah lengkap sekarang, ayo langsung saja kita berangkat ke lokasi" perintah Pak kepala sekolah


"Baik Pak" jawab semuanya serentak dan mulai menaiki bus meninggalkan Pak kepala sekolah dan beberapa guru di luar


"Pasukan, dibagi dua. Tiga ke bus belakang dan dua lainnya ikuti saya ke bus depan" perintah komandan


"Siap laksanakan" jawab semua personil serentak dan mulai menaiki bus sesuai arahan komandan mereka


Didalam bus anak kelas 5


"Ayo anak-anak, duduk yang rapi yah kita akan segera berangkat" seru Bu Darma duduk disamping ketua kelas diikuti Bu Salma di kursi tengah


"Baik Bu" seru anak-anak antusias.


Setelah para prajurit naik, kedua bus itu mulai berangkat menuju ke lokasi camping. Viara tidak memperhatikan seruan guru-guru didepan sana, Viara justru semakin fokus pada buku matematika yang di bacanya


"Ohh rupanya ini metode agar lebih mudah memecahkan soal Limit Trigonometri yah" gumam Viara mengangguk paham sambil memperhatikan bukunya


Para prajurit didalam bus itu mulai bergabung di kursi kosong disamping anak-anak, sementara komandan mereka masih berdiri mengamati situasi didalam bus. Seketika komandan itu menyunggingkan senyumnya menatap guru yang duduk di kursi paling belakang yang tengah fokus dengan bukunya


"Ya ampun, tentara yang ini tampan banget" batin Bu Salma berbinar menatap komandan tentara yang masih berdiri didepan sana.


Bu Darma yang melihat mata berbinar Bu Salma disampingnya tersenyum dan mendekatkan wajahnya di telinga Bu Salma


"Kesempatan tuh Bu, untuk lepas status jomblo" Ucap Bu Darma diangguki Bu Salma sambil tersenyum.


Bu Salma bergeser sedikit untuk memberikan ruang agar tentara tampan itu duduk disampingnya


"Pak, ayo duduklah" seru bu Darma


"Baik bu" jawab tentara itu tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya.


Tentara itu melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di samping Bu Salma. Bu Salma tersenyum senang menyadari kalau tentara itu berdiri tepat di sampingnya, namun seketika senyuman itu hilang dari wajahnya karena melihat tentara itu berlalu melewatinya. Bu Salma dan Bu Darma terus menatap tentara itu yang melangkahkan kakinya ke belakang dan bediri tepat didepan Viara yang tengah fokus membaca bukunya di kursi belakang


"Permisi Bu, bolehkah saya duduk disamping anda?" Tanya komandan tentara itu berdiri sedikit menunduk didepan Viara.

__ADS_1


Viara mendongkakan kepalanya dan menyunggingkan senyumnya pada komandan tampan berkacamata hitam di depannya. Viara memajukan tangannya dan mengusap lembut pipi kanan lelaki yang dicintainya itu


"Boleh pak, dengan senang hati" Ucap Viara ramah dan sedikit bergeser. Komandan itu tersenyum dan mulai mendudukkan dirinya disamping Viara


"Kenapa tentara itu duduk di samping Bu Viara yah? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Bu Darma


"Lagi-lagi kamu Viara, apa kamu tidak bisa membuatku tidak emosi. Mengapa semua orang selalu ingin dekat denganmu? Kamu juga sudah mempermalukanku di depan anak-anak ini. Tunggu saja Viara, akan kubalas kamu nanti. Akan kubuktikan jika aku lebih hebat darimu" gerutu Bu Salma dalam hati menatap tajam pada Viara dibelakang sana


Viara meletakkan kembali bukunya didalam tas ranselnya dan beralih menatap komandan tampan disampingnya


"Pak Danki sayang, kenapa bisa ada disini?" Tanya Viara lembut


"Adek tahu sendiri kan kalau abang nggak bisa hidup tanpa kamu walau hanya sehari. Kalau jarak kita dekat, bagaimanapun caranya abang akan selalu datang untuk menemuimu sayang" kata Pandu tersenyum manis pada istrinya


"Terimakasih yah bang, adek jadi lihat abang setiap hari disini. Adek juga nggak jadi tahan rindu, karena suami adek udah ada sama adek disini. Terimakasih suamiku sayang" Ucap Viara membalas senyuman manis suaminya padanya. Keduanya saling bertatapan sangat lama dan melempar senyum satu sama lain


"Melihat itu membuatku gerah" geram Bu Salma dalam hati yang terus memperhatikan keduanya sejak tadi.


Meskipun Bu Salma tidak bisa mendengar apa yang keduanya perbincangan dibelakang sana, tapi Bu Salma berpikir jika Viara tengah menggoda tentara tampan itu


"Kesempatan" gumam Bu Salma tersenyum licik. Bu Salma menyalakan kamera ponselnya dan mulai memotret diam-diam dua orang yang tengah bertatapan sambil melempar senyum dibelakang sana


"Hihihi.. Tunggulah pembalasanku Viara"


____________


Dalam perjalanan


"Abang udah makan sarapan yang adek siapkan di rumah tadi?" Tanya Viara


"Belum dek, hehehe" cengir Pandu menujukan deretan gigi putihnya


"Tapi abang bawa sarapan yang adek siapin tadi loh" Ucap Pandu membuka resleting ranselnya dan mengeluarkan kotak makanan berisi sarapan yang disediakan Viara tadi pagi. Viara tersenyum dan mengambil alih kotak makanan itu dari tangan suaminya


"Yaudah bang, sini adek suapin, Aak..." Ucap Viara membuka mulutnya


"Dengan senang hati sayang" balas Pandu membuka mulutnya menerima suapan dari istrinya. Viara terus menyuapi Pandu sambil tersenyum dan tidak menyadari ada sepasang mata yang tengah menatapnya tajam


"Dasar wanita licik!!!!" geram Bu Salma dalam hati


Setelah selesai menyuapi Pandu, Viara menyerahkan sebotol air mineral di tas besar miliknya pada suaminya


"Terimakasih sayang, makanannya jadi tambah enak kalau adek yang suapi" Ucap Pandu setelah meneguk air


"Sama-sama sayangku" Balas Viara tersenyum dan mengusap lembut sisa air di sudut bibir Pandu


"Cieeee!!!!!!" seru anak-anak serentak membuat Viara menghentikan tindakannya dan tersenyum kaku pada murid-muridnya


"Kenapa berhenti Bu Viara, ibuku juga sering membersihkan bibir Ayah kalau ayahku sudah selesai makan" seru ketua kelas diangguki teman-temannya


"Bu Viara sama om tentara ganteng cocok banget. Benarkan teman-teman" Seru ketua kelas mendapatkan seruan senang dari semua penghuni bus kecuali bu Salma yang sejak tadi mengepalkan tangannya menahan marah


"Hahahha terimakasih anak-anak" Ucap Pandu senang mendengar seruan anak-anak itu


"Sama-sama om tentara ganteng" jawab samua anak-anak serentak sambil tersenyum


Viara tersenyum manis pada semua anak-anak didiknya dan kembali memperhatikan jalanan yang dilewatinya bersama anak-anak tersebut


"Abang, lokasi kita camping nanti di lapangan desa N loh, abang tahu kan sama Desa N?" Tanya Viara berbinar


Viara menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan suaminya yang masih mengingat kejadian 9 tahun yang lalu


"Terimakasih sudah hadir di hidup adek yah bang, jangan pernah tinggalkan adek. Adek sayang banget sama paduka raja" ucap Viara menyandarkan kepalanya di bahu suaminya


"Terimakasih juga sudah menerima abang sepenuh hati. Abang janji tidak akan pernah meningalkanmu sayang, karena Viara hanya milik Pandu saja, dan akan selalu menjadi milik Lettu Pandu Praditya Maheswara selamanya" Ucap tulus Pandu dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum


"Tidak kusangka, kamulah yang ditakdirkan Tuhan untuk melengkapi hidupku. Maafkan aku sayang karena saat itu hatiku mencintai orang lain yang bukan dirimu. Maafkan aku sayang karena tidak memahami cinta dalam diammu untukku. Terimakasih selalu mendoakan dan menyebut namaku disetiap doamu yah. Aku janji tidak akan ada hati yang lain yang akan kucintai lagi selain kamu sayang. Memang kamu bukanlah cintaku yang pertama, tapi kamu akan selalu menjadi pendamping hidupku yang pertama dan cinta terakhir untukku. Aku mencintaimu Panduku" batin Viara tersenyum manis pada suaminya dan mengenggam tangannya erat


Sesampainya di lokasi camping yang bertepatan di lapangan desa N, semua anak-anak mulai turun dari bus dan menuju lokasi untuk mendirikan tenda. Anak-anak itu sebelumnya sudah dibekali wawasan tentang kepramukaan, jadi mereka sudah mengerti caranya memasang tenda. Para prajurit dan guru-guru juga ikut membantu memasang tenda beberapa siswa yang masih kurang mengerti.


"Mau ibu bantu?" Tanya Viara lembut pada anak didiknya yang kesusaha menancapkan pasak yang terbuat dari bbambu


"Iyah bu, mohon bantuannya yah" Pinta anak itu. Viara mengusap lembut puncak kepala anak itu dan mulai membantu menancapkan pasak dari bambu tersebut.


Bu Salma yang juga tengah memasang tenda bersama anak didiknya tersenyum melihat komandan tentara itu yang tengah mengamati proses pembuatan tenda di depannya. Bu Salma yang sebelumnya sedikit tegas pada anak-anak itu seketika melembut melihat adanya tentara itu didekatnya


"Ayo anak-anak, ditancapkan pasaknya yah, sini ibu bantu" Kata Bu Salma lembut dan mulai membantu anak-anak didiknya. Anak-anak yang membangun tenda itu tertegun dengan perubahan sikap yang ditunjukan bu Salma


"Aneh, tadi bu Salma marah-marah sampai bilang kalau kerja kita tidak becus. Tapi sekarang kenapa tiba-tiba berubah yah?" Tanya sekretaris kelas lima sedikit berbisik


"Hmm mungkin karena ada om tentara ganteng jadinya berubah" balas ketua kelas setengah berbisik


Pandu menahan tawa melihat wajah kebingungan bu Salma yang sepertinya tidak tahu caranya menancapkan pasak tenda. Bu Salma menancapkan pasak seperti memukul paku pada dinding


"Bukan begitu cara pasangnya bu" Ucap Pandu menahan tawa. Bu Salma yang baru pertama kali diajak berbicara oleh tentara yang dikaguminya tersenyum dan beralih menatapnya


"Jadi bagaimana pak, bukan seperti ini yah?" Tanya bu Salma lembut


"Bukan begitu bu, mari saya bantu" Ucap Pandu mendudukkan dirinya di samping bu Salma.


Deg...


Jangtung bu Salma berdebar hebat saat tentara di depannya menyentuh tangannya yang tengah menancapkan pasak tenda. Bu Salma menatap lelaki di depannya dan menyunggingkan senyumnya menatap wajah tentara di depannya yang sangat tampan walaupun hanya dari samping saja


"Bu, perhatikan pasaknya" perintah ketua kelas


"Ahh baik" jawab bu Salma gelagapan dan langsung fokus menancapkan pasak sesuai perintah Pandu. Bu Salma semakin berdebar menyadari Pandu tengah menatap kearah wajahnya hingga bu Salma sedikit gugup merasa pipinya telah merah merona


Setelah pasak selesai ditancapkannya, Bu Salma perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Pandu yang melihat kearahnya. Pandu menyunggingkan senyumnya menatap istrinya yang berada tidak jauh dibelakang Bu Salma yang tengah fokus membantu anak-anak sambil tersenyum


"Cantik" Ucap pelan Pandu menatap senyuman manis istrinya yang mengusap lembut puncak kepala salah satu anak didiknya.


Sementara Bu Salma yang merasa ucapan itu untuknya tersenyum senang dan merasa sangat bahagia dalam hatinya


"Terimakasih pak" Ucap Bu Salma berusaha tetap bersikap normal didepan Pandu. Pandu beralih menatap Bu Salma dan mengangukkan kepalanya


"Sama-sama" jawab Pandu berdiri dan kembali mengamati tenda disampingnya


"Yeahhhh!!!! I love you pak tentara" gumam Bu Salma senang dan tersenyum kegirangan. Bu Salma menatap kulit punggung tangannya yang disentuh oleh Pandu tadi dan mengecupnya dengan lembut


"Semoga kelak aku bisa menyalami tanganmu" batin bu Salma tersenyum menatap punggung Pandu yang tak jauh berdiri mengamati tenda disekitarnya


"Terimakasih bu Viara" seru anak-anak didik Viara setelah selesai membangun tenda mereka

__ADS_1


"Sama-sama anak-anak, ayo simpan barang-barang kalian didalam tenda" perintah Viara lembut


"Baik bu" jawab keenam anak-anak itu serentak dan mulai memasuki tenda mereka


"Ekhmmm" Pandu berdehem dibelakang Viara. Mengenali suara itu, Viara membalikkan badannya dan tersenyum manis pada suaminya itu


"Abang, bagaimana hasil kerja tenda adek sama anak-anak didik adek?" Tanya Viara


"Baik sayang, tendanya sudah bagus dan berdiri sempurna. Istriku memang hebat" Ucap Pandu mengusap puncak kepala Viara dengan penuh kasih sayang


Bu Salma kembali memotret itu sambil tersenyum licik memikirkan rencananya untuk Viara


"Terimakasih pak tentara sayang, terimakasih sudah membantuku mendirikan tenda dan mempermudah urusanku pada guru menyebalkan itu" gumam Bu Salma tersenyum smirk dan langsung berlalu bergabung bersama rekan-rekannya.


Viara menyunggingkan senyumnya menatap Ila yang juga tengah dibantu suaminya memasang tenda didepan sana


"Kenapa dek, mau abang bantu juga pasang tenda?" Tanya Pandu yang ikut melihat arah pandang Viara


"Kan tendanya udah berdiri sempurna. Bagaimana kalau kita Jalan-jalan lihat pembuatan tenda-tenda yang lain?" Tanya Viara


"Ayo dek" Ucap Pandu langsung mengenggam tangan Viara dan berjalan bersamanya melihat tenda-tenda yang tengah dibangun


__________


Di Sore harinya kini proses pembangunan tenda sudah selesai. Terhitung ada 4 tenda anak kelas 4, 4 tenda anak kelas 5, 3 tenda para guru, 2 tenda besar untuk para prajurit dan 2 tenda besar milik tenaga medis. Semua anak-anak tengah mengemas barang-barang mereka didalam tenda sedangkan para guru tengah berkumpul didalam satu tenda kecuali Viara dan Ila yang tengah duduk melingkar bersama para prajurit. Tawa Ila dan Viara pecah mendengar candaan dan cerita-cerita lucu dari para prajurit tersebut


"Beneran bang?" Tanya Viara sambil tertawa


"Iyah dek" jawab Pandu tersenyum dan sambil merangkul bahu Viara yang duduk disampingnya


"Hahaha, aku pamit ke tenda dulu yah, ambil ponselku yang teringgal" pamit Ila berdiri dari duduknya


"Jangan lama-lama yah dek" Ucap bang Rama


"Iyah sayang. Bentar yah nggak lama kok" Ucap Ila tersenyum dan segera berlalu menuju ke tenda mereka


Ketika Ila memasuki tenda itu, Ila ikut duduk disamping Bu Darma yang tengah mendengarkan penuturan dari Bu Salma


"Teman-teman, apa kalian tidak melihat kedekatan yang berlebihan antara komandan tentara tadi bersama Bu Viara? Kelihatannya kedekatan mereka sudah melebihi hanya sekedar teman. Kalian tahu di bus tadi mereka saling menyuapi loh, bahkan mereka berpegang tangan mesra mengelilingi tenda-tenda kita tadi. Kita tahu kan kalau Bu Viara itu sudah nikah, suaminya Bu Viara juga bukan tentara" tutur Bu Salma memprovokasi


"Benar Bu Salma, aku juga sedikit curiga dengan kedekatan mereka" jawab Bu Darma


"Apa memang jika komandan itu selingkuhannya Bu Viara?" Tanya Bu Risna membuat mata Ila melongo tak percaya


"Mungkin begitu Bu. Kalau begini kita tidak bisa membiarkannya. Jangan sampai kalau Bu Viara datang ke rumah kalian, suami kalian bisa digodain lagi sama dia" turut Bu Salma tersenyum smirk melihat wajah cemas rekannya


"Tapi aku percaya sama Bu Viara. Bu Viara kan wanita yang baik, tidak mungkin dia melakukan sesuatu seperti yang kalian pikirkan" bela Bu Jihan


"Tapi mungkin itu hanya kedok Bu Viara agar tidak mudah di persalahkan. Kalau begini kita tidak boleh diam saja. Kita harus melaporkan ini sama suaminya Bu Viara biar suaminya tahu bagaimana kelakuan istrinya di belakangnya" saran Bu Salma


"Benar Bu!!" Jawab para guru itu setuju dengan saran Bu Salma.


Bu Salma tersenyum senang melihat upaya provokasinya selesai dan beralih menatap Ila


"Bu Ila, apa anda punya nomor ponselnya suaminya Bu Viara? Kan Bu Viara sahabat anda?" Tanya Bu Salma


"Kalian jangan langsung berpikir kalau Viara adalah wanita yang tidak baik. Karena dugaan kalian memang salah" Ila yang sejak tadi diam mulai angkat bicara. Kelima guru di dalam tenda itu beralih menatap Ila


"Apa maksudmu Bu ila? Sudah jelas-jelas..."


"Bu Viara memang selingkuh" Ucap Bu Ila membuat senyum Bu Salma merekah


"Selingkuh dengan suaminya sendiri tentunya" Lanjut Ila tertawa membuat semua orang menatapnya


"Jadi pak Pandu itu suaminya Bu Viara?" Tanya Bu Darma


"Iyah, Pandu adalah suaminya Viara" Ucap Ila membuat teman-temannya mengangguk paham dan tersenyum menatap Ila. Sementara Bu Salma menolak untuk mempercayai Ila


"Jika memang benar kalau pak Pandu itu suaminya Viara, lalu mana buktinya?" Tanya Bu Salma sinis


"Hmm baiklah, akan kutunjukkan buktinya" Ucap Ila mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kontak Pandu yang bertuliskan "bang Pandunya Viara". Sebelumnya Viara lah yang menyarankan nama itu saat dia membagikan kontak suaminya pada Ila


"Aku akan menghubunginya. Kalian perhatikanlah dua orang didepan sana" tunjuk Ila keluar tenda yang mengarah pada Pandu dan Viara yang duduk bersama dengan tangan Pandu merangkul bahu Viara


Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt


Pandu merobohkan ponselnya dan menjawab pangilan dari Ila. Ila menyalakan speaker ponselnya saat panggilan mulai terhubung


"Halo assalamu'alaikum bang Pandu" sapa Ila. Semua orang menatap Pandu didepan sana yang juga tengah menerima telepon


"Walaikumsalam dek Ila, ada apa?" Tanya Pandu


"Bang, apa Viara ada sama abang? Aku menelponnya tapi dia tidak kunjungan menjawab sambungannya" Tanya Ila


"Iyah dek, istriku ada disini. Dia masih di sampingku" Ucap Pandu di seberang sana. Semua guru itu tersenyum menyadari jika Pandu memang suaminya Viara


"Boleh aku berbicara padanya bang?" Tanya Ila


"Boleh, sebentar yah" Ucap Pandu menyerahkan ponselnya kepada Viara.


Para guru yang mengamati itu tersenyum dan semakin percaya jika Viara memang istrinya tentara tampan tersebut


"Halo Ila ada apa?" Tanya Viara


"Halo Viara, aku menghubungimu sejak tadi, kenapa kamu tidak menjawab panggilan ku?" Tanya Ila cemberut


"Haha maafkan aku Ila, aku mensenyapkan mode suara di ponselku jadi tidak kedengeran deringnya. Maafkan aku yah" Kata Viara


"Baiklah Viara. Kamu masih di lapangan kan?" Tanya Ila


"Iyah Ila, aku masih di lapangan. Suamiku dan suamimu juga ada disini. Jadi kemarilah" ajak Viara


"Baiklah, aku akan segera kesana" jawab Ila tersenyum. Setelah mengucapkan salam, Ila mematikan sambungan dan beralih menatap rekan gurunya yang tersenyum padanya


"Jadi udah pada percaya kan kalau Pandu itu suaminya Viara?" Tanya Ila


"Iyah Bu Ila, maafkan kami yang meragukan Bu Viara. Bu Viara sudah sangat baik sama kami, sedangkan kami berani-beraninya membicarakan yang tidak baik dibelakangnya" Ucap Bu Darma mewakili teman-temannya


"Minta maaflah sama Bu Viara, dia pasti mengerti kok" Kata Ila sambil tersenyum


"Baiklah, nanti kita sama-sama minta maaf sama Bu Viara yah. Ayo kita awasi anak-anak lagi" ajak Bu Darma diangguki semua rekannya sambil tersenyum.


Semua guru-guru itu keluar meninggalkan tenda bersama-sama, kecuali Bu Salma yang terdiam menahan amarah melihat dua orang didepan sana

__ADS_1


"Tidak mungkin, bang Pandu pasti bukan suaminya Viara. Aku akan percaya jika bang Pandu sendirilah yang mengatakan jika Bu Viara adalah istrinya secara langsung"


Bersambung.....


__ADS_2