Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 90. Permainan Putar Botol


__ADS_3

Setelah memasak dan makan malam bersama, semua guru mendatangi tenda masing-masing untuk mengatur anak didik mereka agar masuk dan beristirahat di tenda


"Ayo anak-anak, langsung tidur dan beristirahat yah. Besok kita masih ada kegiatan jadi jangan sampai lelah dan ketinggalan besok" Ucap Viara pada para muridnya di tenda bagiannya


"baik bu" Jawab keenam anak perempuan itu serentak dan langsung memasuki tenda mereka.


Viara terus mengamati anak-anak didiknya yang mulai beristirahat di tenda mereka dan menyunggingkan senyumannya melihat anak-anak didiknya sudah tertidur pulas


"Pasti mereka kelelahan hari ini" gumam Viara. Viara mulai menutup tenda tersebut dan berjaga didepan tenda muridnya


"Bu Viara, semua anak-anak sudah beristirahat sekarang. Ayo kita gabung sama temen-temen guru yang lain" Ajak Bu Darma


"Baik bu, ayo" Ucap Viara berdiri dari duduknya dan melangkah bersama bu Darma.


Bu Darma dan Viara langsung bergabung dengan para guru dan tentara yang duduk melingkar dengan api ungun kecil yang menjadi penerang mereka


"Ada apa ini? Kok rame?" Tanya Viara


"Begini bu Viara dan rekan-rekan semua, berhubung anak-anak didik semua sudah tidur, mending kita memainkan permainan agar tidak mengantuk saat mendapat menjaga tenda. Bagaimana, apa kalian setuju?" Tanya Pak Yadin


"Setuju pak" jawab Ila diangguki semua orang yang duduk melingkar itu


"Tapi permainan apa yang akan dimainkan? Ini sudah malam?" Tanya Pandu yang duduk bersebrangan dengan Viara


"Kita akan memainkan permainan putar botol. Siapapun yang ditunjuk penutup botol tepat saat botol berhenti berputar, maka wajib untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh satu orang di antara kita baik pertanyaan yang bersifat pribadi atau umum. Bagaimana, setuju?" Tanya Pak Yadin


"Saya setuju, bagaimana dengan yang lain?" Tanya bu Salma


"Kami mengikut saja" Jawab Ila


"Baiklah, ayo kita mulai permainannya" seru Pak Yadin mengeluarkan botol kaca dan mulai memutarnya.


Setiap orang yang ditunjuk oleh arah mulut botol tersebut mulai menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi dan umum yang ditanyakan pada mereka. Ada yang menjelaskan tentang liburan mereka, kunjungan ke tempat-tempat terpencil, masalah asmara dan persoalan tentang cinta.


Setelah bang Rama menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya, pak Yadin kembali memutar botol itu hingga botol terhenti dan menunjuk Bu Salma


"Nah, Bu Salma yang kena. Saya yang mengajukan pertanyaan untuk anda, bagaimana sudah siap?" Tanya Pak Yadin


"Saya siap Pak" jawab Bu Salma


"Saya lihat, Anda sering mencuri pandang diantara lelaki yang ada disini. Pertanyaan saya, apakah anda menyukai salah satu dari empat guru ganteng dan 6 tentara tampan disini?" Tanya Pak Yadin membuat semua orang menatap Bu Salma


Bu Salma melirik Pandu sekilas dan menjawab pertanyaan Pak Yadin


"Iyah Pak, saya menyukai salah satu di antara kalian. Saya mulai mengaguminya saat pertama kali saya melihatnya. Saya takut mengatakan rasa ini padanya karena saya tidak mau ditolak, itu akan sangat menyakiti hatiku" Jawab Bu Salma


"Uuuuuuuu" seru semua orang yang duduk melingkar itu


"Lalu siapakan orang itu?" Tanya Pak Yadin kembali


"Rahasia Pak"


"Yahhh" Ucap semua orang bersamaan. Bu Salma menahan tawa melihat wajah kusut rekan-rekan nya


"Bikin penasaran saja" Kata Pak Dandi


"Kan jatah pertanyaannya cuman satu kali. Ayo pak diputar lagi botolnya" titah Bu


Salma sambil tersenyum.


Bu Salma beralih menatap Pandu yang tengah memerhatikan botol yang kembali diputar Pak Yadin


"Aku menyukainya" batin Bu Salma tersenyum menatap Pandu dan kembali melihat botol yang tengah terputar sekarang


"Bang Pandu!!!!" seru Pak Yadin ketika botol terhenti dan mengarah pada Pandu. Viara beralih menatap suaminya yang ditunjuk ol dan tersenyum manis padanya


"Saya lagi yah yang bertanya, sudah siap bang?" Tanya Pak Yadin pada Pandu. Pandu melirik Viara dan membalas senyuman manis Viara padanya


"Siap Pak" Jawab Pandu


"Baiklah bang. Anda adalah seorang tentara yang menilik paras yang sangat menawan, Anda tahu kan kalau banyak wanita yang mendambakan memiliki pasangan seorang tentara, tentu anda juga pasti punya perjalanan cinta. Bisa ceritakan kami sekilas?" Kata Pak Yadin


"Perjalanan cinta yah, hmm baiklah" Jawab Pandu memperbaiki posisi duduknya. Semua orang beralih menatap Pandu menunggu jawaban yang akan dikatakannya, begitu juga dengan Viara yang kembali menatap suaminya yang ada di seberangnya


"Dulu saya pernah mencintai seseorang. Saya perlakuan dia layaknya seorang ratu, saya selalu ada untuknya, mendengar semua keluh kesahnya dan memberikan bahu saya sebagai sandaran untuknya. Saya selalu setia padanya, berusaha untuk selalu ada untuknya walaupun saya sibuk, melakukan semua yang dia mau, dan semua itu saya lakukan hanya untuknya. Tapi suatu ketika dia terlihat sangat berbeda, saya melihat perubahan sikapnya yang tidak seperti biasanya. Lalu saya pun mencari sebab perubahan sikapnya, dan ternyata, dia menghianati saya" Ucap Pandu menjelaskan diakhir tawa


Bu Salman beralih menatap Viara yang duduk disamping pak Yadin


"Ternyata, dia tdk sebaik yang dikira" batin Bu Salma sinis sambil menatap Viara


"Dia menghianati anda, tentu rasanya sangat sakit, apalagi anda sangat mencintai wanita itu. Yang jadi pertanyaan saya yang mungkin mewakili kebingungan rekan-rekan yang lain, mengapa anda bisa tertawa saat anda menceritakan pada kami?" Tanya Pak Yadin


Pandu tersenyum mendengar pertanyaan Pak Yadin dan beralih menatap wanita yang duduk disamping pak Yadin yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum


"Sekarang saya memiliki seseorang yang selalu mencintai saya, dan dia jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia selalu menyayangi saya dan memperlakukan saya seperti seorang raja (Ucap Pandu sambil terbayang perlakuan dan perhatian istrinya selama ini padanya). Dari kisah itu, saya mendapatkan pelajaran berharga, yaitu Tuhan akan mengganti sesuatu yang buruk dengan yang lebih baik dan jauh lebih tepat, selama kamu sabar, iklas dan tulus. Dan sekarang, saya telah berbahagia bersamanya. Saya merasa sangat sempurna dengan adanya dia yang menjadi pendamping hidup saya. Hanya untuknya, hati dan cintaku ini terarah. Dia memang bukanlah yang pertama, tapi dia akan selalu menjadi pemilik hatiku untuk selamanya. Aku mencintaimu istriku" Ucap Pandu tersenyum manis pada Viara dan mendapatkan seruan kagum dari semua orang.


Prok... Prok.. Prok.. (Riuh semua orang bertepuk tangan dan terharu mendengar cerita Pandu)


Viara meneteskan air mata bahagia dan membalas senyuman penuh cinta Pandu untuknya


"Wah, hebat bang. Cerita perjalanan anda begitu menyentuh hati kami. Kami jadi ingin bertemu dengan wanita sebaik istri anda" Seru Pak Yadin diserukan semua orang


"Dia ada disini pak, dia ada didekatku" Ucap Pandu kembali mendapatkan tatapan berbinar para guru tersebut


"Benarkah, dimana dia pak?" Tanya pak Yadin mewakili semua rekan-rekannya.


Pandu merentangkan tangannya dan tersenyum manis pada istrinya. Viara berdiri dari duduknya dan berlari berhambur memeluk suaminya


"Adek sayang abang" lirih Viara senang dipelukan Pandu


"Abang juga sayang sama kamu dek" Ucap Pandu mengusap lembut punggung Viara dan mengecup keningnya lembut


"Cieeeeeee!!!!" seru rekan-rekan guru Viara sambil bertepuk tangan


Melihat itu, amarah bu Salma seketika memuncak dan menatap tajam pada Viara dengan tangan terkepal menahan amarah


"Jadi Bu Viara istrinya Bang Pandu yah?' Tanya Pak Yadin


"Iyah Pak, perkenalkan ini istriku Viara, istri sekaligus ratu untukku. Benarkan dek?" Tanya Pandu dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum


"Selamat yah bang Pandu, selamat bu Viara" Ucap Bu Darma berdiri dari duduknya untuk berjabat tangan bersama pasangan itu diikuti semua rekan-rekannya, sedangkan bu Salma hanya terdiam di tempat, tak mau mengikuti rekan-rekannya yang tengah berjabat tangan dan tertawa didepan sana bersama pasangan itu. Hati dan pikirannya dipenuhi amarah yang memuncak hingga ia mengumpat Viara dalam hati.


"Ayo kita lanjutkan lagi mainnya" seru Viara


"Ayo" jawab semuanya serentak dan kembali terbawa dalam permainan mereka. Semuanya tertawa dan terhanyut dalam permainan mereka, sementara Pandu tersenyum manis pada istrinya yang selalu dirangkulnya sejak tadi


"Terimakasih sudah mentakdirkannya untuk menjadi pendamping hidupku Ya Rabb, aku berjanji akan selalu menjaganya dengan sepenuh hatiku. Aku mencintaimu sayang"


____________


Setelah permainan itu selesai, para guru mulai bubar dan memasuki tenda masing-masing. Para Guru yang menjaga tenda dari pukul 9 sampai jam 12 malam masih setia duduk menjaga tenda mereka, sementara guru yang menjaga tenda dari pukul 12 sampai jam 3 dini hari sudah beristirahat terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bu Darma, saya masuk duluan yah" pamit Viara pada rekan gurunya yang satu tenda dengannya


"Iyah bu, silahkan" balas bu Darma sambil tersenyum.


Viara mengangukkan kepalanya dan mulai masuk kedalam tenda. Viara beristirahat terlebih dahulu karena Viara mendapatkan bagian untuk menjaga tenda pukul 12 malam nantinya. Viara merebahkan tubuh lelahnya disamping anak didiknya dengan tasnya sebagai bantal kepala dan perlahan-lahan menutup mata.


Beberapa jam kemudian, Viara terbangun dari tidurnya dan beranjak bangun dari posisi berbaringnya. Viara membuka sedikit pintu tenda dan melihat Bu Darma masih duduk di depan tenda dengan matanya yang sudah siap untuk tertutup


"Bu Darma, ayo masuk kedalam. Sekarang giliran saya yang akan berjaga" kata Viara lembut


"Tapi bu Viara, ini masih pukul 11.20 malam, masih ada 40 menit lagi waktu saya untuk berjaga" tolak bu Darma ramah


"Tidak apa-apa bu, ibu juga pasti lelah setelah aktivitas kita seharian tadi. Biarlah saya yang menjaga tenda bu" Ucap Viara tersenyum tulus.


Bu Darma mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan segera masuk kedalam tenda. Viara menyunggingkan senyumnya melihat bu Darma yang baru saja berbaring langsung tertidur pulas


🎶🎶🎶🎶🎶🎸🎸🎸


Viara yang tengah mengamati anak-anak yang sudah tertidur pulas mendengar melodi gitar dari luar tenda. Karena penasaran, Viara melangkah keluar tenda dan mendudukkan dirinya di depan tenda. Viara memutar pandangannya mencari sumber melodi dan menyunggingkan senyumnya melihat Pandu di depan sana yang tengah duduk berjaga di depan tenda sambil memainkan gitarnya


Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu


Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu


(Pandu bernyanyi sambil terbayang kisah indah yang pernah dilewatinya bersama Viara dulu)


Takkan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu


Kan teramat panjang puisi tuk menyuratkan cinta ini


Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu


"Suaranya bagus" gumam Bu Salma yang sejak tadi duduk di luar dan mengamati Pandu


Pandu mengangkat pandangannya dan menyunggingkan senyumnya melihat istrinya yang juga tengah menatapnya di depan sana sambil tersenyum. Pandu membalas senyuman manis istrinya dan mulai melanjutkan nyanyiannya sambil terus menatap istrinya


Aku pernah berpikir tentang hidupku tanpa ada dirimu


Dapatkah lebih indah dari yang kujalani sampai kini


Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu


Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi


Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia


Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu


Dan telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia


Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu


Untukmu hidup dan matiku


Viara melangkah mendekati suaminya sambil melanjutkan lirik lagu yang dinyanyikan suaminya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya


Viara :


Bila musim berganti sampai waktu terhenti


Bila habis sudah waktu ini, tak lagi berpijak pada dunia


Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu


Pandu menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang sudah berjarak dekat dengannya


Pandu :


Dan telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu


Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu


Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan berhambur memeluk suaminya


"Adek sayang abang" lirih Viara di dada suaminya


"iyah sayang, abang juga sayang sama adek" Balas Pandu mengusap lembut kepala istrinya yang memeluknya sambil tersenyum


"Tetap disamping abang sampai kita menua bersama nanti yah dek" Ucap tulus Pandu dibalas anggukkan kepala oleh Viara sambil tersenyum di dalam pelukannya


"Lagi-lagi wanita itu!!!" geram Bu Salma menatap penuh amarah pada Viara yang masih memeluk Pandu erat


"Selalu saja datang dan mengganggu suasana hatiku. Akan kubalas kau nanti Viara!!!" gerutu bu Salma mengepalkan tangannya


"Maafkan abang yang membuatmu terbangun dari tidurmu yah"


"Nggak lah bang, adek baru saja bangun karena adek dapat bagian untuk jaga tenda malam ini" balas Viara sambil tersenyum


"Begitu yah, mau temani abang sebentar disini?" Pinta Pandu


"Baik bang, ayo" Ucap Viara beranjak duduk di samping Pandu. Pandu membawa Viara untuk bersandar di dadanya dan memandangi indahnya langit malam yang disinari bintang-bintang sambil tersenyum


"Abang, besok setelah selesai senam pagi bersama, kita jalan-jalan ke rumah nenek yah. Adek sudah meminta izin sama rekan-rekan adek tadi" ajak Viara


"Baiklah sayang, abang juga pengen ketemu nenek adek" Ucap Pandu setuju dengan ajakan istrinya yang masih setia dirangkul nya.


Viara mengangkat tangannya dan meletakkan telapak tangannya di dada Pandu. Viara mengusap lembut dada Pandu sambil tersenyum karena bisa merasakan detak jantung suaminya di telapak tangannya


"Abang"


"Hmm" balas Pandu lembut


"Jangan pernah tinggalkan adek yah. Adek tahu adek bukanlah wanita yang sempurna, bahkan adek masih dalam tahap pemulihan dari penyakit adek. Abang juga sangatlah tampan, tentu banyak wanita diluar sana yang akan tertarik dengan abang. Satu pinta adek, tetap setia mendampingi adek meskipun adek nggak sempurna seperti wanita sehat diluar sana yah bang" Pinta Viara sambil mengusap lembut dada suaminya. Pandu tersenyum mendengar perkataan Viara dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut


"Iyah sayang, pasti kok. Abang juga tidak sempurna dek, masih banyak kekurangan yang ada di diri abang. Tapi dengan kebersamaan, kita pasti bisa menjadikan kekuarangan itu menjadi kesempurnaan dek. Apapun yang terjadi, selama kita bersama, semuanya pasti mudah untuk kita lewati. Setelah kita berumah tangga, tentu akan ada masalah yang sering menyapa kita. Kalaupun masalah itu sangatlah rumit, tetap saling mengenggam dan bertahan dalam hubungan kita yah" Ucap Pandu dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum. Keduanya menatap keatas dan kembali memandangi indahnya langit malam


Pukul 2 dini hari, Viara menyunggingkan senyumnya melihat mata Pandu yang sudah mulai kelelahan dan bersiap untuk tertutup


"Abang udah ngantuk yah?" Tanya Viara lembut. Mendengar pertanyaan istrinya, Pandu langsung membuka matanya dan tersenyum pada istrinya


"Belum dek, abang belum mengantuk kok" sangkal Pandu. Viara mengusap lembut pipi Pandu dan membimbing tubuh Pandu untuk berbaring diatas pangkuannya


"Abang nggak bisa menyangkal kalau sama adek. Tidurlah sayang, lagipula kondisi abang belum sepenuhnya sehat" Ucap Viara tersenyum pada suaminya yang dibaringkannya di pangkuannya


"Tapi dek a....."


"Suitt!! Tidurlah sayangku. Abang juga perlu istirahat setelah bekerja seharian. Adek nggak apa-apa kok, kan adek udah tidur tadi. Sekarang giliran abang yang tidur yah" Kata Viara tersenyum tulus dan mengusap lembut puncak kepala suaminya. Pandu mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan perlahan-lahan menutup matanya.

__ADS_1


Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu yang sudah tertidur lelap diatas pangkuannya. Viara mengusap lembut puncak kepala suaminya dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang


"Selamat malam sayangku, mimpi yang indah yah"


Viara tersenyum menatap wajah teduh Pandu dan beralih menatap indahnya langit diatas sana


Pukul 4.45 Pandu perlahan-lahan membuka matanya dan melihat istrinya masih setia terjaga sambil mengusap kepalanya lembut


"Kamu sudah bangun sayang?" Tanya Viara lembut. Pandu beranjak bangun dari posisi berbaring nya dan duduk berhadapan dengan istrinya


"Adek belum tidur sejak semalam?" Tanya Pandu menatap wajah Viara


"Adek udah bangun kok bang, 5 menit yang lalu. Semalam adek tidur bareng abang. Kepala abang nggak sakit kan, soalnya semalam adek tindih" cengir Viara. Pandu tersenyum mendengar penuturan istrinya dan membawa Viara kedalam pelukannya


"Nggak kok sayang. Terimakasih selalu menjadi sandaran untuk abang yah" Ucap Pandu tersenyum dibahu istrinya


"Sama-sama suamiku" Jawab Viara mengusap lembut punggung Pandu yang memeluknya erat. Viara melepaskan pelukan Pandu dan mengecup kedua pipinya


"Sekarang abang pergi shalat subuh di mushala yah, udah terdengar tuh bunyi adzan nya" titah Viara lembut


"Baik dek, abang sayang adek" pamit Pandu mengecup kening Viara


"Adek juga sayang sama abang" balas Viara menyalami tangan Pandu.


Setelah suaminya pergi ke mushala bersama rekan-rekan yang lainnya, Viara melangkah mendekati tendanya untuk membangunkan anak didiknya untuk shalat subuh bersama.


Setelah shalat subuh selesai, acara dilanjutkan dengan senam pagi bersama. Setelah anak-anak itu rapi dengan seragam olahraga mereka, mereka mulai mengikuti gerakan senam yang ditunjukkan oleh pak Yadin yang merupakan guru olahraga sekaligus wakil kepala sekolah. Viara tertawa dalam hatinya melihat gerakan anak-anak didiknya dibarisan belakang yang gerakan senamnya berbeda jauh dengan anak-anak yang ada di depan


"Ayo semangat!!!" seru Viara dari pinggir lapangan


"Viara, daripada nonton aja mending senam bareng yuk" ajak Ila yang ikut mengamati senam anak-anak disamping Viara


"Boleh, ayo" seru Viara setuju. Ila dan Viara melangkah mendekati barisan para guru dan ikut bergerak mengikuti gerakan yang ditunjukkan pak Yadin


"Senamnya gampang" gumam Viara senang sambil bergerak seirama dengan pak Yadin.


Bu Salma yang melihat Viara ada di barisan kedua di depannya mulai melangkah maju dan bersenam disamping Viara.


Bu Salma tersenyum licik melihat wanita disampingnya dan berpikir untuk membalas dendam pada wanita itu. Bu Salma berniat untuk menginjak kaki Viara saat gerakan senam mengarah ke samping. Merasa ada peluang, bu salma mengangkat kakinya dan bersiap menginjak kaki Viara dengan sekuat tenaganya, namun gerakan kaki Viara yang bergerak maju kedepan mengikuti senam membuat peluang tersebut hilang.


Bu Salma yang tidak terlalu mengerti gerakan senam yang ditunjukkan pak Yadin kembali melangkah maju meluruskan posisinya di samping Viara.


"Kesempatan" gumam Bu Salma menyeringai licik.


Bu Salma mengangkat kakinya bersiap untuk menginjak kembali kaki Viara, namun gerakan mundur kebelakang membuat bu Salma menginjak batu hingga kakinya sedikit terkilir dan keram seketika


"Aduh" batin bu Salma kesakitan. Kesal karena rencananya membalas dendam pada Viara selalu gagal, bu Salma melangkah terseok mendekati Viara.


"Ada apa bu Salma?" Tanya Viara melihat bu Salma yang hanya diam menatapnya disampingnya. Viara masih melanjutkan gerakannya namun kebingungan karena bu Salma masih diam sambil terus memandanginya


"Kesempatan" gumam bu Salma menyeringai licik.


Bu Salma sekuat tenaga melangkah maju untuk mendorong Viara. Karena gerakan senam yang kembali melangkah mundur, Bu Salma tidak berhasil mendorong Viara, dia justru menghantam tubuh bu Rala yang bersenam disamping Viara hingga bu Rala jatuh karena ulahnya. Bu Rala yang terkenal sebagai guru killer dan pemarah itu berdiri dari posisi jatuhnya dan menatap tajam pada bu Salma


"Apa maksudmu ha!!!" Geram bu Rala membalas mendorong bu Salma hingga bu Salma terjatuh ke tanah dengan wajahnya yang menghantam rumput cukup keras.


Melihat itu, para anak-anak tertawa melihat wajah penuh rumput bu Salma.


"hahhahha" Tanya renyah anak-anak.


Bu Salma yang tidak terima dengan apa yang dilakukan bu Rala, apalagi dia di tertawa anak-anak itu berdiri dari posisinya dan kembali mendorong bu Rala


"Aku yang tanya, apa maksudmu mendorongku haaa!!!!" Tegas Bu Salma kembali mendorong keras tubuh bu Rala hingga bu Rala jatuh terduduk dengan bokongnya menghantam tanah keras.


"Kauuu!!!!" geram Bu Rala kembali bangkit dan terlibat adu fisik bersama Bu Salma. Keduanya mengeluarkan kekesalan mereka dengan memukul dan menarik rambut satu sama lain.


Melihat kegaduhan itu, guru-guru yang lain mendekati mereka dan melerai pertengkaran keduanya. Namun usaha para guru-guru itu nihil karena meskipun telah menahan tubuh dua guru pemarah itu, mereka tetap saja beradu mulut dan menghina satu sama lain. Karena kegaduhan itu, acara senam bersama seketika terhenti karena semua orang beralih melihat keributan itu, begitu juga dengan warga desa yang menonton senam para anak sekolah itu dari pinggir lapangan


"Hentikaaaannnn!!!!!!" Geram Pak Yandi membungkam dua guru itu


"Apa begini caranya berlaku sebagai tenaga pendidik di depan anak-anak? Kalian bahkan lebih cocok dipanggil anak-anak daripada pengajar anak-anak" Tegas Pak Yadin yang merupakan wakil kepala sekolah.


Kedua guru itu terdiam dan kembali menyalahkan satu sama lain.


"Semua ini karena dia!!!!" kesal Bu Salma


"Kau yang duluan *******"


"Hentikan, saya bilang cukup!!!!" Teriak Pak Yadin keras membuat semua orang tersentak kaget.


Para guru-guru lainnya tersentak kaget melihat perubahan sikap Pak Yadin ketika marah. Pak Yadin yang terkenal lembut dan ramah kini telah berubah menjadi singa yang siap menerkam mangsa didepannya


"Bagaimana kalau masyarakat tahu bagaimana sikap kedua guru yang mendidik anak mereka, tentu nama baik sekolah kita akan tercoreng. Dimana pikiran kalian, apakah bertengkar layaknya anak kecil sampai-sampai menghina satu sama lain merupakan contoh yang baik? Tanpa pikir panjang dan rasa malu kalian mengucapkan kata-kata tajam itu didepan anak-anak, dimana pikiran kalian Haaa!!!!" Teriak Pak Yadin kesal.


Melihat amarah Pak Yadin, kedua guru itu menundukkan pandangan mereka dan merasa malu pada warga desa yang berbisik-bisik tentang keduanya


"Pikirkan juga bagaimana pandangan warga desa, ingatlah kita hanya tamu di desa ini. Bukannya menjaga etika kalian malah membuat onar" kesal Pak Yadin


"Benar tuh, dasar pembuatan kekacauan. Pergi kalian berdua dari desa kami" geram ibu-ibu warga desa melemparkan sayuran yang dibelinya dipasar pada dua guru itu. Selain kelempar sayuran, para ibu-ibu itu mengomel sambil berkata-kata merendahkan pada kedua orang itu melupakan kekesalan mereka.


"Ayo kita kembali" Ajak salah satu ibu-ibu pada semua rekannya.


Setelah rombongan ibu-ibu warga desa itu pergi, Pak Yadin mengontrol nafasnya dan beralih menatap dua guru itu


"Akan kulaporkan kejadian ini pada kepala sekolah agar memberikan hukuman yang pantas pada kalian" Tegas pak Yadin


"Jangan pak, kami mohon jangan laporkan kami pak" Pinta dua guru itu memohon


"Tidak, aku tidak bisa mentolerir kesalahan kalian. Kalian di skor untuk tidak mengikuti acara hari ini. Masuk ke tenda dan jangan bergabung mengikuti acara setelah acara ini selesai!!!!"


"Tapi pak....."


"Cepat!!!!!" Tegas Pak Yandi. Sebelum sesuatu yang tidak dinginkan terjadi, kedua guru itu langsung berlari masuk ke tenda masing-masing.


Viara melangkah mendekati pak Yandi dan menyodorkan sebotol air mineral padanya


"Ini pak, minum dulu" Ucap Viara lembut


"Terimakasih yah bu" Ucap pak Yadin menerima botol yang diberikan Viara yang dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum.


"Untuk guru-guru yang lain, tetap awasi anak-anak untuk acara selanjutnya yah, saya masih harus menghubungi kepala sekolah" titah pak Yadin


"Baik Pak" jawab guru-guru itu serentak. Pak Yunda mengangguk dan langsung berlalu meninggal lokasi


"Apa yah penyebab Bu Salma dan Bu Rala bertengkar hebat seperti tadi?" Tanya Ila yang berdiri disamping Viara


"Entahlah, aku juga bingung. Ayo lebih baik kita main bareng anak-anak yuk" Ajak Viara


"Ayo" Jawab Ila setuju. Viara tersenyum pada Ila dan melangkah bersamanya bergabung dengan barisan anak-anak


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2