Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 92. Pemilik Cinta Sang Mantan Ketua Osis


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Ketika cahaya rembulan telah digantikan oleh sinar matahari yang kembali menyinari bumi, Viara perlahan-lahan membuka matanya dan menyunggingkan senyumnya melihat lengan kekar yang melingkar diatas perutnya. Viara bangun pelan-pelan agar tidak membangunkan Pandu yang masih tertidur pulas dan memperbaiki posisi tidur suaminya.


"Mimpi yang indah sayang" Kata Viara mengecup kening Pandu lembut dan berlalu menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuknya dan juga untuk suaminya.


Sesampainya dapur, Viara menggeledah seisi kulkas dan mulai mencincang bahan-bahan makanan untuk menu sarapan paginya.


Saat tengah menunggu masakannya matang sempurna, terdengar suara deringan ponsel Viara diatas meja. Viara menyimpan sendok ditangannya dan melangkah mendekati ponselnya yang disimpannya di atas meja


Drrtt...Drrtt... Drrtt...


"Tanpa nama?" gumam Viara menatap nama yang menghubunginya.


Viara menekan tombol hijau di ponselnya dan menjawab panggilan tanpa nama tersebut


"Halo Viara!!!!!" seru orang diseberang sana hingga Viara menjauhkan sedikit ponselnya dari telinganya


"Halo, dengan siapa ini?" Tanya Viara


"Viara, kamu sudah melupakanku yah. Jahat kamu Ara!!!" Kata orang diseberang sana sedikit kesal.


Viara mulai mengingat-ingat suara itu dan menyunggingkan senyumnya menyadari jika suara penelpon itu adalah suara teman sebangkunya ketika SMA


"Vika!!!" Seru Viara


"Iyah Aku Vika, kamu sudah melupakanku yah" balas Vika sambil mengerucutkan bibirnya


"Hahha nggak lah, nggak mungkin aku melupakan temanku yang paling cerewet ini" Ucap Viara sambil tertawa


"Lalu kenapa kamu bertanya seperti tadi?" Tanya Vika


"Tadi, yang mana?" Kata Viara


"Itu tadi kau bertanya dengan siapa ini, sama saja kamu sudah melupakanku" Cemberut Vika


"Hahhah nomormu tidak memiliki nama di ponselku Vika, jadi aku nggak tahu kalau kamu yang telepon aku" tutur Viara menjelaskan


"Hmm baiklah Ara, ngomong-ngomong kamu dimana sekarang, masih tinggal di desa yah?" Tanya Vika


"Tidak Vika, aku sudah tinggal di kota kok" Jawab Viara sambil tersenyum


"Benarkah, kebetulan aku juga ada di kota B, kita ketemuan sore ini yuk, sekalian aku ajak teman-teman kita yang lain" Seru Vika


"Baiklah, tapi mau ketemuan dimana?" Tanya Viara


"Di restoran yang ada di mall xxx, bagaimana kau setuju?" Tanya Vika


"Baiklah aku setuju"


"Oke Viara, kalau begitu sudah dulu yah, aku harus kasitau teman-teman yang lain nih. Assalamu'alaikum Viara" pamit Vika


"Walaikumsalam Vika" balas Viara tersenyum dan meletakkan ponselnya diatas meja setelah sambungan berakhir.


"Hmmm nikmat" gumam Viara menghirup aroma bubur kacang hijau yang dibuatnya. Viara menuangkan bubur kacang hijau buatannya di dua mangkuk dan menatanya diatas meja


"Beres. Semoga abang suka bubur kacang hijau buatanku ini" gumam Viara senang dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar


Ceklek


Viara membuka pintu kamarnya dan menyunggingkan senyumnya melihat suaminya tengah duduk bersandar di ranjang sambil menerima telepon


"Baik bang, 1 jam lagi aku akan segera kesana"


(........)


"Siap, Walaikumsalam" balas Pandu mematikan sambungan telepon dan meletakkan ponselnya di atas nakas.


Viara melangkahkan kakinya mendekati Pandu dan duduk didekatnya


"Ada apa bang?" Tanya Viara lembut


"Abang harus ke batalyon satu jam lagi dek, ada beberapa hal yang harus abang kerjakan disana" kata Pandu menjelaskan sambil mengusap pipi Viara


"Baiklah bang, sekarang bangun dan mandi yah, nanti abang telat ke kantor loh" kata Viara menarik tangan suaminya dan membawanya masuk ke kamar mandi


"Ma......." Ucap Pandu terputus karena Viara langsung mendorongnya masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu


"Silahkan mandi yang mulia, adek siapin baju dulu yah" Ucap Viara dari balik pintu.


"Adek..adekk" gumam Pandu menahan tawa mengingat kelakuan istrinya dan melangkahkan kakinya mendekati shower untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah 20 menit membersihkan tubuhnya, Pandu meraih handuk untuk menutupi tubuhnya dan melangkahkan keluar kamar mandi


Ceklek


Setelah membuka pintu, Pandu menyunggingkan senyumnya dan melanjutkan langkahnya mendekati Viara yang tengah menyiapkan seragam untuknya sambil membelakanginya. Pandu melingkarkan lengannya di perut istrinya dan memeluk istinya erat. Viara tersenyum melihat tangan kekar yang melingkar di pinggangnya dan mengusap lembut pipi Pandu yang ada disamping wajahnya


"Kalau abang udah mandi, yuk langsung pakai seragamnya" titah Viara lembut


"Nggak mau, abang masih mau peluk kamu sayang" tolak Pandu masih memeluk istrinya dari belakang


"Nanti aja peluknya bang, nanti abang telat loh ke kantor. Sekarang pake seragamnya yah, setelah abang pulang kantor nanti, abang boleh peluk adek sepuasnya" kata Viara sambil tersenyum


"Kalau makan kamu boleh nggak dek?" Tanya Pandu tersenyum menggoda. Seketika mata Viara melongo tak percaya mendengar ucapan suaminya dan kembali merasa kesulitan menelan salivanya merasakan sesuatu yang tumpul di bagian bawah punggung belakangnya


"Heheh lebih baik abang pake seragamnya sekarang yah, adek pergi dulu" kata Viara melepaskan rangkulan tangan Pandu di pinggangnya dan berlari ke kamar mandi.


Namun langkah Viara terhenti saat Pandu menarik tangannya dan membaringkannya di ranjang.


Pandu langsung menaiki ranjang dan berada tepat diatas tubuh istrinya dengan kedua tangannya yang menyangga berat badannya


"Sebentar saja sayang, boleh kan?" Pinta Pandu lembut


"Tapi na.... " Ucap Viara terputus karena Pandu langsung melahap bibirnya dengan lembut.


Viara tersenyum merasakan kembali perlakuan Pandu dan tetap membiarkan suaminya itu kembali meminta haknya. Pandu mengigit sedikit bibir istrinya agar Viara membuka mulutnya hingga dia leluasa memperdalam ciumannya. Setelah melahap bibir Viara, Pandu turun ke bawah dan mulai menciumi leher jenjang dan kedua miliknya yang ada di tubuh istrinya hingga meningalkan bekas kepemilikan di tubuh istrinya. Viara tersenyum merasakan kelembutan dan rasa geli yang menyatu menjadi satu.


Pandu menunda menelusuri area perang kesukaannya karena keterbatasan waktu yang dimilikinya. Pandu mengakhiri ciumannya di tubuh bagian atas istrinya dan memperbaiki pakaian yang menutupi tubuh istrinya


"Terimakasih yah sayang" kata Pandu tersenyum dan mengecup kening Viara lembut

__ADS_1


"Selama abang bahagia, itulah hadiah terindah untuk adek" balas Viara sambil tersenyum.


Viara mengusap lembut kedua pipi suaminya yang ada diatasnya dan beranjak bangun dari posisi berbaringnya


"Nah sekarang abang pake seragamnya yah, tinggal 30 menit lagi" titah Viara lembut


"Laksanakan komandan" Jawab Pandu tertawa bersama Viara dan langsung memakai pakaian yang disediakan istrinya.


Setelah Pandu rapi dengan seragamnya, Viara melangkahkan kakinya mendekati suaminya yang tengah duduk di sisi ranjang sambil memakai sepatunya.


Viara mengusap lembut pipi Pandu dan memakaikan baret hijau dikepalanya


"Bang, sore ini adek ada ketemuan sama teman-teman SMA adek, boleh nggak bang?" Tanya Viara sambil memperbaiki baret hijau dikepala Pandu


"Boleh sayang" balas Pandu melingkarkan tangannya di pinggang Viara yang tengah memakaikan baret padanya.


"Nah, sudah selesai. Sekarang abang sarapan dulu yah, setelah itu baru ke kantor" kata Viara mengenggam tangan Pandu dan melangkah bersamanya keluar kamar


"Terimakasih yah dek" kata Pandu tersenyum pada istrinya yang menggenggam erat tangannya


"Terimakasih untuk apa hmm?" Tanya Viara lembut


"Terimakasih sudah hadir di hidup abang dan melengkapi semua kekuarangan abang" Jawab Pandu sambil tersenyum


"Sama-sama suamiku sayang. Ayo dimakan sarapannya yah, ini adek buat khusus untuk paduka raja" titah Viara lembut sambil tersenyum


"Oke sayang" balas Pandu tersenyum dan mulai melahap bubur kacang hijau buatan istrinya.


Setelah sarapan selesai, Viara melangkah bersama Pandu menuju ke pintu depan untuk mengantar kepergian suaminya


"Abang pergi cari uang dulu yah dek, tunggu abang pulang. Assalamu'alaikum adek sayang" pamit Pandu mengecup kening istrinya


"Walaikumsalam abang sayang" balas Viara tersenyum dan menyalami tangan suaminya. Pandu mengusap lembut puncak kepala Viara dan melanjutkan langkahnya mendekati motornya yang terparkir di depan bagasi.


Viara menyunggingkan senyumnya dan melambaikan tangannya pada suaminya yang sudah melaju meninggalkan rumah


"Aku mencintaimu Panduku" gumam Viara tersenyum menatap punggung suaminya.


Setelah Pandu tak terlihat lagi, Viara kembali masuk kedalam rumah untuk menyelesaikan urusannya sebelum pergi berkumpul bersama teman-temannya


__________


Setelah melaksanakan apel pagi di kompi yang dipimpinnya hingga menyelesaikan pekerjaannya di ruangan miliknya sampai tengah hari menjelang, Pandu saat ini tengah berkumpul dengan personil lainnya untuk membahas sesuatu bersama komandannya


"Kita langsung saja, berdasarkan informasi dari pasukan khusus yang saya bentuk untuk melacak keberadaan kelompok penyeludup bersenjata (Angkanali), pasukan saya berhasil menemukan jejak anggota Angkanali di kota ini. Menurut informasi, mereka akan melakukan transaksi narkoba di antara 3 pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota. Tiga pusat perbelanjaan itu diantaranya adalah mall A, Mall N Dan juga Mall D" kata Ayah Vian (Danyon)


"Ijin, apa perintah anda komandan?" Tanya Pandu


"Untuk pimpinan Kompi A, Kompi B dan juga Kompi C, kerahkan pasukan kalian untuk mencari keberadaan kelompok yang akan melakukan transaksi tersebut. Masing-masing mencari disetiap pusat perbelanjaan yang berbeda. Kalian harus bergerak dan awasi mereka tanpa terdeteksi sedikitpun. Mengerti!!!"


"Siap mengerti komandan!!" Jawab Lantang ketiga Danki tersebut


"Baiklah, langsung terjun ke lokasi sekarang!!!" Perintah Danyon


"Siap Laksanakan" Ujar semua personil serentak dan mulai berlari keluar ruang Danyon.


Para personil berserta pimpinan mereka mulai melakukan penyamaran dan langsung melaju menuju lokasi target


_____


Sesudah mengunci pintu rumahnya, Viara melangkahkan kakinya menuju ke garasi rumahnya untuk mengeluarkannya motornya.


Setelah memakai helm, Viara melajukan motornya menuju lokasi tempatnya berkumpul bersama teman-temannya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, kini Viara telah sampai dan langsung memarkirkan motornya di tempat parkir pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota tersebut


Drrtt....Drrtt...Drrtt


Viara merogoh ponselnya yang berdering di tas selempangnya dan menjawab panggilan dari Vika


"Halo assalamu'alaikum Viara, kamu dimana sekarang?" Tanya Vika


"Walaikumsalam, aku sudah ada di pusat perbelanjaan yang kamu maksud" kata Viara sambil melangkah masuk


"Baiklah Viara, langsung saja ke restoran yang ada di lantai 6 yah, kami menunggumu disini" kata Vika


"Oke, aku dalam perjalanan ke lantai 6" kata Viara.


Setelah mengucapkan salam, Viara meletakkan kembali ponselnya kedalam tasnya dan menaiki lift menuju ke lantai 6


Sesampainya di lantai 6, Viara melanjutkan langkahnya menuju ke restoran yang dimaksud dan menyunggingkan senyumnya melihat rekan-rekan semasa SMA nya


"Hai Viara!!" seru semua rekan-rekan Viara berdiri dari duduk mereka dan memeluk Viara bergantian


"Hai teman-teman, senang rasanya bisa berjumpa dengan kalian lagi" seru Viara pada semua rekan-rekannya


"Iyah Viara. Bagaimana kabarmu? Kamu kelihatan semakin cantik" seru Vika


"Alhamdulillah kabarku baik-baik saja. Kalian sendiri bagimana?" kata Viara bertanya balik


"Alhamdulillah kami baik-baik saja Viara. Ngomong-ngomong....." mereka mulai mengobrol bersama hingga tawa mereka menggema di restoran itu. Mereka tertawa dan bercanda bersama sama halnya ketika mereka masih sekolah ditempat yang sama dulu


Sementara di depan pusat perbelanjaan tersebut


Para prajurit yang mendapat bagian untuk mengecek mall tersebut memarkirkan mobil mereka di tempat parkir. Pandu yang baru saja keluar dari mobil tertegun melihat salah satu motor yang terparkir di parkiran motor


"Itu motor adek nggak yah?" gumam Pandu menatap motor yang agak familiar baginya


"Hmm mungkin bukan, kan banyak motor yang seperti itu" gumam Pandu


"Baiklah kita langsung saja masuk ke lokasi. Setelah masuk kita langsung menyebar ke berbagai arah. Kalau terget terlihat atau ada sesuatu mencurigakan langsung beri info. Paham!!!"


"Siap, paham komandan!!"


"Baiklah, bergerak sekarang" perintah Pandu melangkahkan masuk kedalam mall diikuti personilnya.


Sesampainya didalam pusat perbelanjaan itu, para personil yang berpakaian layaknya masayarakat biasa mulai menyebar ke setiap lantai bangunan, begitu juga dengan Pandu dan bang Rama yang melangkahkan bersama menelusuri lantai demi lantai bangunan tersebut


Di restoran lantai enam, Viara yang tengah bercengkrama bersama rekan-rekannya seketika teralihkan saat mendengar perubahan melodi musik di restoran tersebut


"Hei, musik itu terdengar sangat indah dan terkesan romantis" seru Mika menikmati melodi tersebut

__ADS_1


"Iyah benar, Kira-kira ada apa yah?" Tanya Vika


"Kayaknya ada yang mau lamaran nih jadi musiknya diubah romantis seperti ini" kata Sindi berbinar senang


"Benar sekali Sindi" Kata seseorang diatas mimbar musik setuju dengan ucapan Sindi.


Semua orang beralih mengikuti suara itu seketika berseru kegirangan melihat lelaki tampan yang berdiri didepan sana.


"Rendra!!" Seru Viara bersama rekan-rekannya


Tatapan kagum dan suara seruan tak henti-hentinya diberikan para wanita di restoran itu pada mantan ketua OSIS yang pernah menjabat di salah satu SMA yang ada di kota tersebut. Wajahnya yang tampan sejak dulu selalu di idolakan, bahkan banyak sekali wanita yang bermimpi ingin memilikinya sepenuhnya atau hanya menjadi pacarnya saja


"Hai teman-teman, lama tak jumpa" sapa pria tampan itu melangkah mendekati meja teman-teman wanitanya


"Hai Rendra, akhirnya kita ketemu juga" Jawab Vika diserukan oleh rekan-rekannya.


Vika dan keenam temannya berdiri dari duduk mereka dan menjabat tangan Rendra yang terulur pada mereka, begitu juga dengan Viara yang menjabat tangan ketua OSIS itu


"Hai wakilku, senang bisa bertemu denganmu" kata Rendra tersenyum manis pada Viara


"Iyah Rendra, senang juga bisa bertemu lagi denganmu" Jawab Viara menjabat tangan Rendra yang terulur padanya


Semua rekan-rekan Viara yang melihat itu saling pandang dan tersenyum menatap keduanya. Mereka sangat tahu kalau ketua OSIS itu sangat tergila-gila pada Viara semenjak mereka duduk di bangku SMA. Diantara semua wanita yang mengidolakannya, hanya Viara saja wanita yang berhasil memporak-porandakan hatinya dan membuat jantungnya memompa darah lebih cepat saat matanya bertatapan dengannya


"Akhirnya, aku menemukanmu" kata Rendra dalam hati menatap penuh kerinduan pada wanita didepannya


"Sampai kapan mau saling tatap dan menjabat tangan seperti itu" Goda Vika tersenyum mengamati keduanya.


Keduanya refleks melepaskan jabatan tangan mereka ketika mendengar ucapan Vika


"Hhaha biasa aja kali, kan kita teman" Ucap Vika pada dua orang itu. Viara dan Rendra hanya tersenyum kaku pada teman-temannya


"Ohh yah Rendra, apakah kamu sudah menemukan pengganti Viara?" Tanya Vika membuat mata Viara melongo.


Rendra tersenyum menatap wajah penasaran teman-temannya dan mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan Vika


"Sampai sekarang, aku bahkan belum menemukan sosok pengganti yang seperti wakilku. Sejauh apapun aku mencari, hatiku tetap terarah padanya karena hatiku menang telah dicuri olehnya sejak kita sekolah bersama dulu" kata Rendra tersenyum menatap Viara disampingnya. Viara melongo tak percaya mendengar perkataan yang diucapkan Rendra


"Cieeeeee!!!!!!" seru rekan-rekan Viara


"Tapi a... "


"Aku hanya bercanda Ara, tenang saja" Ucap Rendra tersenyum pada Viara. Viara mengangguk paham dan kembali fokus pada minumannya.


Vika yang melihat Viara hanya memperhatikan gelas minuman didepannya berbisik sesuatu di telinga Viara


"Hei Viara, apa kamu memang tidak tertarik dengan Rendra? Kelihatannya dia masih sangat mencintaimu dan mendambakanmu seperti dulu" bisik Vika yang masih bisa didengar rekan-rekannya


"Ihh apaan sih" bantah Viara tidak setuju


"Hahhaha nggak usah malu Viara, kamu sebenarnya cinta sama Rendra juga kan? Lagipula kalian selalu bersama bahkan kalianlah yang jadi pemimpin di sekolah kita dulu" kata Sindi diserukan teman-temannya.


Viara hanya tersenyum pada teman-temannya agar tidak terjadi seuatu yang tidak diinginkannya tadi.


"Ohh ya Rendra, tadi kamu bilang akan melamar seseorang di restoran ini. Lalu dimanakah wanita pengganti Viara itu?" Tanya Sindi


"Kau benar Sindi, aku akan melamarnya hari ini" kata Rendra tersenyum dan melangkah ke depan mimbar


Sesampainya di mimbar, seruan para wanita kembali menyeruak dengan tatapan berbinar penuh kekaguman melihat pria tampan di mimbar depan sana. Karena seruan itu, orang-orang bahkan memasuki restoran dan bahkan mengamati dari luar


"Para pengujung dan hadirin yang ada di restoran ini, bolehkah kalian berdiri sebentar?" Pinta Rendra dengan mic ditangannya.


Mendengar itu, semua pengunjung restoran mulai berdiri dan mengamati pria tampan didepan sana


"Terimakasih semua" balas Rendra menunjukkan senyumnya kembali membuat luluh wanita-wanita yang mengaguminya.


Rendra pun mulai mengungkapkan isi hatinya dibarengi dengan melodi indah dari musik romantis di restoran tersebut


"Ini untukmu, wahai wanita pujaanku. Sejak dulu aku mencintaimu dan menyayangimu dengan caraku sendiri. Aku tahu, aku bukanlah lelaki yang sempurna hingga kau tak pernah tertarik denganku. Aku juga bukanlah pria kaya yang bisa membuatmu bahagia. Tapi lihatlah aku, sekali saja. Lihatlah aku yang telah berjuang untuk mencintaimu sejak dulu. Aku menang hanyalah pria sederhana, tapi cintaku tulus untukmu" Kata Rendra turun dari mimbar dan melangkah mendekati teman-teman wanitanya


"Berikan aku kesempatan untuk memilikimu. Aku berjani akan selalu menjaga dan menyayangimu sampai nafas terakhir tertebus. Izinkan aku hidup dan menua bersamamu. Izinkanlah aku menjadi ayah untuk anak-anakmu. Izinkanlah aku menjadi imammu dan pintu bahagia untukmu. Izinkan aku menjadi pelita di gelapnya malammu dan izinkanlah aku membawamu ke tempat yang kamu inginkan" kata Rendra menatap penuh harap pada Viara


Semua orang saling Pandang dan tersenyum. Mereka ikut berseru setuju dengan perkataan Rendra barusan. Semua orang termasuk teman-teman Viara mengeluarkan ponsel mereka dan mulai merekam adegan lamaran didepan mereka.


Rendra berhenti didepan Viara dan berlutut didepannya


"Aku mencintaimu Viara"


Deg..


Viara tertegun, berusaha mencerna apa yang terjadi didepannya sekarang


"CIEEEEEEEEE!!" seru semua pengunjung berseru kegirangan


Sementara seseorang diluar restoran menatap tajam penuh amarah pada adegan didepan sana. Tangannya terkepal menahan amarah dengan mata membunuhnya yang siap melenyapkan siapapun yang berani bermain-main atau mengambil sesuatu yang sudah menjadi miliknya


"Bang target sudah ditemukan, mereka ada di pusat perbelanjaan satunya" kata bang Rama menepuk bahu Pandu sambil mendengar arahan dari earpeacenya


"Bergerak ke lokasi sekarang" Kata Pandu berlari menuju keluar mall dengan tangan terkepal penuh amarah.


Rendra merogoh sakunya dan menujukkan cincin berlian kepada Viara.


Semua orang kembali berseru kegirangan menanti adegan selanjutnya


"Viara Mutya Putri, wanita yang aku cintai sekaligus wakilku, will you marry me?" Kata Rendra penuh harap sambil tersenyum manis pada Viara


"Cieeee"


"Terima.. Terima.. Terima" seru para pengunjung


"Ayo Terima nona Viara!!!!!!" seru Mc didepan sana


"Ayo Viara, Terimalah Rendra menjadi pendamping hidupmu" seru semua teman-teman Viara


Vika yang melihat reaksi terkejut dari Viara yang hanya diam menatap pria yang berlutut didepannya pun melangkah mendekatinya


"Terimalah dia Viara, cintanya tulus untukmu. Sekarang sudah saatnya melepas masa sendirimu dan sambutlah hari bahagiamu bersamanya. Jangan kau sia-siakan lagi cinta tulusnya untukmu sebelum semuanya terlambat Viara. Mungkin kamu belum mencintainya sekarang, tapi suatu saat nanti kamu pasti bisa membuka hatimu untuknya" kata Vika lembut sambil mengusap bahu Viara


"Terimalah dia Viara"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2