
"Entah kamu dimana sekarang. Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang? apakah kamu baik-baik saja disana?. Berhari-hari kulewati tanpa adanya kamu disini. Rasanya sunyi hingga waktu berjalan terasa sangat lama. Aku ingin sekali memelukmu, melepaskan rindu yang memenuhi rongga dada. Tapi, kamu begitu jauh dari hadapanku. Tak sanggup aku pergi menemuimu dalam jarak tempuh 17 kilometer dari sini. Aku hanya bisa terdiam, menatap pos sepi didepan sana, berharap kamu terlihat di depan pintu sehingga membuat senyuman ini merekah, namun ku hanya melihat bayanganmu disini. Tapi tak mengapa, setidaknya aku tahu jika rindu ini bertumpu pada orang yang tepat. Aku akan selalu menantimu pulang, hingga nafas terakhir terhembus. Aku hanya mencintaimu Lettu, dan akan selalu menyayangimu meski kamu jauh dari hadapanku. Dalam doaku, terlukis indah namamu" Gumam Viara menyeka air matanya sambil mengetik isi hatinya di aplikasi buku harian di ponselnya.
Viara meletakkan ponselnya di samping tubuhnya dan kembali menatap nanar pos sepi didepan sana
"Hai Viara, kok bengong sendiri di depan teras?" Tanya Ila menghampiri Viara dan duduk tepat di sampingnya
"Kenapa, rindu lagi sama Pandu yah?" Tanya Ila dibalas anggukan kepala oleh Viara dengan raut wajahnya yang murung
"Bang Pandu udah kasih kabar?" Tanya Ila kembali
"Belum Ila, sudah tujuh hari kepergiannya bertugas di desa seberang sana namun bang Pandu belum juga memberiku kabar. Aku takut terjadi sesuatu padanya disana Ila" lirih Viara bergetar menahan tangisnya
"Mungkin nggak ada sinyal disana Viara, kamu tahu sendiri kan kalau desa itu terletak didalam pedalaman hutan dan desa itu baru saja mengalami kebakaran. Di desa yang berjarak 17 kilometer dari sini, sinyal disana mungkin sangat sulit bahkan tidak ada sama sekali. Tetaplah berpikir positif Viara, diperbanyak lagi doanya agar dia tetap baik-baik saja disana. Jangan putus asa. Lagipula besok mereka akan kembali kesini kan?" tutur Ila membuat senyuman kembali terlukis di bibir Viara
"Iyah, abang pernah bilang kalau tugas disana cuma 7 hari saja. Ini kan sudah tujuh hari, jadi abang akan kembali besok" Ucap Viara berbinar senang dibalas anggukan kepala oleh Ila sambil tersenyum
"Nah begitu dong, kalau kamu tersenyum pasti bang Pandu akan tenang disana" seru Ila diangguki Viara sambil tersenyum
Drrttt.....Drrttt....Drrttt
Viara mengambil ponselnya yang bergetar di sampingnya dan tersenyum senang melihat nama yang menghubunginya
"Siapa Viara?" Tanya Ila penasaran
"Bang Pandu telepon Ila" seru Viara senang dan langsung menekan tombol hijau di ponselnya
"Assalamu'alaikum Cintanya Abang Pandu" Viara tersenyum senang mendengar sapaan seseorang di seberang sana karena untuk pertamakalinya dia mendengar suara yang dirindukannya selama 7 hari tak mendengar suara itu
"Walaikumsalam sayang. Abang gimana kabarnya, abang sehat?" Tanya Viara
"Alhamdulillah abang sehat dek" Jawab Pandu
"Abang kenapa nggak kasih kabar sama adek? Adek takut terjadi sesuatu sama abang disana" Tanya Viara pelan
"Maafkan abang yah dek, tapi percayalah abang baik-baik saja kok disini. Disini nggak ada sinyal sayang, abang bahkan manjat pohon mangga sedikit lebih tinggi demi bisa menghubungi kekasihnya abang" Ucap Pandu membuat Viara tertawa. Pandu dan Viara lanjut mengobrol lewat ponsel hingga Viara tertawa mendengar cerita dan obrolan yang dibahas Pandu.
Ila yang mengamati Viara tersenyum senang melihat wajah Viara yang kembali ceria setelah keceriaan itu hilang semenjak kekasihnya pergi bertugas. Ila tersenyum dan mengusap lembut punggung Viara yang tengah tersenyum ceria mendengar cerita orang diseberang sana
"Abang rindu kamu sayang"
"Adek juga rindu sama abang. Abang pulang besok kan?" Tanya Viara sambil tersenyum
"Maafkan abang yah dek, besok abang belum bisa pulang. Masih banyak pekerjaan disini sayang, bahkan masih ada musuh yang berkeliaran di tengah hutan" Ucap Pandu menjelaskan
Mendengar penuturan Pandu, senyuman Viara perlahan-lahan lenyap dan terdiam di tempat. Seketika bulir bening lolos dari matanya mewakili rasa rindu yang kembali menguasai hatinya
"Adek, adek masih disitu?" Tanya Pandu karena tak kunjung ada jawaban dari Viara.
Viara menatap keatas berusaha membendung air matanya dan berusaha tetap baik-baik saja
"Iyah bang, adek masih disini kok" Ucap Viara sambil tersenyum, namun air mata yang berusaha dibendungnya kembali mengalir di pipinya
"Nggak apa-apa kan dek kalau abang belum bisa pulang besok?" Tanya Pandu.
Viara kembali melihat keatas berusaha membendung air matanya dan tersenyum untuk menjawab pertanyaan orang yang dicintainya diseberang sana meski air mata tetap mengalir di pipinya
"Iyah abang, nggak apa-apa kok. Adek tahu abang punya banyak tugas disana. Soal adek abang nggak usah cemas yah, selesaikan tugasmu disana. Adek akan selalu ada disini, menunggumu pulang dan berdiri tegak di depanku. Adek akan selalu menunggumu pulang sayang, dan walaupun abang jauh dari adek, hanya abang saja yang adek cintai. Hanya Panduku saja pemilik hati ini dan hanya Panduku saja rindu ini terarah" Ucap Viara sambil tersenyum sambil berderai air mata
"Terimakasih yah dek, terimakasih selalu mengerti tentang abang. Abang sayang kamu dek, tunggu abang pulang yah" Ucap Pandu terharu diseberang sana
"Bang, akan diadakan apel 2 menit lagi. Cepatlah turun, kita harus segera kesana" perintah Bang Niko dari bawah pohon yang masih bisa didengar Viara melalui sambungan telepon
"Sama-sama abang sayang. Selesaikanlah tugasmu disana sayang. Hati-hati disetiap penugasan yah" Ucap Viara lembut
"Iyah dek, nanti kita lanjut lagi yah. Assalamu'alaikum adek sayang"
"Walaikumsalam abang sayang" Ucap Viara tersenyum dan meletakkan ponselnya di sampingnya setelah sambungan telepon berakhir
"Kenapa Viara, Bang Pandu nggak jadi pulang besok?" Tanya Ila
"Iyah Ila, bang Pandu belum jadi pulang besok. Dia masih punya banyak tugas disana, bahkan saat kami bercengkrama tadi terdengar suara anggota yang menyerukan agar bang Pandu turun dari pohon dan menghadiri apel" tutur Viara menjelaskan sambil menyeka air matanya
"Lalu bagaimana denganmu Viara?" Tanya Ila cemas
"Aku tidak apa-apa Ila. Mendengar suaranya saja sudah membuat rinduku sedikit terobati. Aku akan selalu menunggunya kembali dari tugasnya" Balas Viara tersenyum menatap pos tentara didepan sana.
Viara berdiri dari duduknya dan tersenyum pada Ila
"aku masuk dulu yah, aku harus menyelesaikan sedikit pekerjaanku untuk persiapan ulangan dua hari lagi" Ucap Viara angguki Ila sambil tersenyum. Viara mengangukkan kepalanya dan mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar
__________
Sementara di desa yang berjarak 17 kilometer dari desa Viara
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua" sapa komandan didepan dengan Bang Zardan dan Pandu di sampingnya dijawab oleh semua pasukan serentak
"2 hari yang lalu, saya mengirimkan tim pasukan khusus untuk melacak keberadaan kelompok bersenjata telah menjalankan misi dengan sangat baik. Berdasarkan informasi dari pasukan saya, pasukan khusus saya telah menemukan titik terang yang menjadi markas utama para kelompok tersebut yang berjarak 10 kilometer dari sini. Untuk itu saya meminta agar semua anggota untuk bergerak dan terjun langsung ke lokasi. Kemungkinan ada beberapa warga sipil yang disekap di markas tersebut. Tetap waspada dengan setiap serangan dan jangan lengah dengan tiap-tiap titik sedikitpun!!!"
"Siap laksanakan komandan" seru Para prajurit serentak
__ADS_1
Booooommmmm
Tedengar ledakan cukup keras dari arah hutan
"Kalian dengan ledakkan barusan? itu adalah tanda perang akan dimulai dan bentuk undangan kehancuran para musuh. Bersiap, kita akan terjun langsung ke lokasi!!!"
"Siap laksanakan" Jawab para prajurit serentak dan mulai menaiki truk dan helikopter yang akan mengantar mereka terjun ke lokasi
_____________
Di jarak markas musuh yang masih sekitar 2 kilometer lagi
"Segera lakukan pendaratan!!" perintah Pandu pada pasukannya sambil memasang parasut di tubuhnya.
Setelah semua personil siap dengan parasut mereka, para personil itu mulai terjun ke bawah dan melayang dengan parasut mereka. Setelah mendarat dengan sempurna, para personil mulai mengambil peralatan dan senjata laras panjang mereka untuk menyisir lokasi
"Tetap dalam posisi dan ikuti saya" perintah Pandu pada pasukannya sambil mengarahkan senjata di berbagai arah yang akan mereka lalui.
Sama halnya dengan para prajurit yang mengikuti Pandu, mereka berjalan menyisir jalan setapak yang langsung menuju ke lokasi markas dengan senjata yang terarahkan di setiap sudut yang siap memuntahkan peluru saat ada pergerakan musuh sedikit pun di sekitar mereka
"Berhenti!!!" perintah Pandu memberi kode pada prajurit dibelakangnya
"berpencar, ada pergerakan musuh disini"
Mendengar perintah pimpinan mereka, para personil begerak perlahan-lahan kesamping agar tidak mengundang kecurigaan para musuh.
Para prajurit merunduk dan tiarap diatas rumput dengan senjata mereka terarah pada berbagai sisi
Digelapnya malam dan dengan mata tajamnya, Pandu terus menatap semak-semak yang meskipun tak bergerak sama sekali, tapi Pandu tahu ada seseorang yang bersembunyi dibaliknya
"Lapor bos, para prajurit menyebalkan itu ada di......"
Dooor
tembakan terarah berhasil dilakukan Pandu dan langsung menembus kepala musuh tersebut
Melihat salah satu rekan mereka tumbang tertembak peluru, pasukan musuh mulai mengarahkan senjata bersiap menyerang para prajurit yang berhasil mengetahui lokasi mereka
"Serang!!!!"
Para prajurit dengan sigap mengindari setiap peluru yang terarah pada mereka dan melakukan penyerangan balik
Aargggggg
10 musuh telah tertembak dan tewas bersimbah darah di tempat, tetapi masih ada lagi beberapa musuh yang memantau di balik semak belukar dengan memperhatikan arah senjata mereka yang siap membidik
Menyadari hal itu, Pandu mengeluarkan granat dan langsung melemparkannya di semak belukar yang diketahui menjadi lokasi musuh bersembunyi
Boooom
Akibat ledakkan 2 granat yang dilemparkan Pandu secara bersamaan, 5 musuh yang tersembunyi terhempas cukup jauh dan membentur pohon yang tak jauh dari lokasi mereka hingga meregang nyawa di tempat
"Aargggggg"
"Beres" seru Pandu setelah berhasil memberantas musuh disekitar mereka.
Pandu beralih menoleh ke arah pasukannya dan bernafas lega menyadari tidak ada satupun pasukannya yang terluka dan terkena tembakan
Pandu berdiri dari posisinya dan memberi kode maju kedepan untuk para pasukannya
Booooommm
Kembali terdengar ledakkan cukup keras dan memekikkan telinga dari arah lokasi markas musuh
"Tetap waspada dengan setiap ancaman dan serangan. Terus maju kedepan, lokasi markas sekitar 1 kilometer lagi" perintah Pandu
"Siap" jawab para prajurit serentak
Para prajurit kembali melangkah maju dengan senapan yang terarah pada setiap sudut yang mereka lewati
____________
Sementara di rumah dinas para guru. Viara menghentikan tangannya yang tengah asyik memecahkan soal matematika karena mendengar suara ledakkan yang kecil
"Hei, apa kalian mendengar bunyi semacam ledakkan kecil?" Tanya Viara pada dua temannya yang tengah membaca buku di ranjang mereka
"mungkin itu bunyi guntur Viara, lagipula kan diluar sedang mendung" Ucap Syifa sambil memperhatikan bukunya
"Iyah Viara, sepertinya itu hanya guntur" lanjut Ila kembali
"Tapi aku yakin itu bukanlah guntur, tapi ledakkan" kata Viara dalam hati.
Viara berdiri dari duduknya dan berjalan ke depan jendela kamar yang belum ditutupnya.
Viara menatap gelapnya langit malam yang sebentar lagi akan turun hujan. Viara meneteskan air mata menatap langit desa sebelah sambil bersenandung kecil
Tuhan dia sedang berjuang
Jaga dia, lindungi dia
__ADS_1
karena ada yang menunggunya
Untuk pulang
"Jagalah dia untukku Ya Rabb, lindungilah setiap langkahnya" gumam Viara penuh harap sambil menatap langit malam
__________
Di jarak yang sudah semakin dekat dengan markas, terlihat banyaknya prajurit yang tengah menyerang banyaknya musuh yang berusaha mengamankan markas mereka
Pandu dan pasukannya ikut membantu membasmi musuh yang mengawasi disekitar mereka
"Hantam!!!!"
"Arggghh"
Para prajurit ini telah memasuki zona merah dimana perlawanan dari musuh sana kuatnya dengan serangan para prajurit hingga sudah banyak musuh yang tumbang dan tewas bersimbah darah di tempat. Begitu juga dengan beberapa prajurit yang telah luka-luka tergores peluru dan 4 orang gugur dalam berperang
Pandu terus maju, mengawasi setiap serangan yang diarahkan pada rekan-rekannya yang ada di depannya sekarang. Pandu berada di sekitar Bang Zardan dan melindunginya dari beberapa musuh yang mengarahkan senjatanya padanya dengan beberapa personil disekitarnya
Pandu mendongakkan kepalanya keatas pohon lebat dan menajamkan indera penglihatannya di gelapnya malam.
Pandu tersenyum smirk dan mengarahkan senjatanya membidik keatas pohon
"Arggghh"
Tembakan yang dimuntahkan senapan Pandu berhasil menembus tubuh dan kepala beberapa sniper dan musuh yang bersembunyi di atas pohon hingga 4 anggota musuh itu jatuh kebawah dan menghantam tanah cukup keras
Saat tengah membidik keatas pohon, Pandu menoleh ke arah jam 2 dan menyadari ada musuh dibalik pohon disamping markas yang siap menarik pelatuk senjatanya kearah Bang Zardan yang tengah menembak musuh di depan sana
"Awas!!!!!!"
Pandu mendorong keras tubuh Bang Zardan hingga peluru itu menghantam dadanya
Satu tembakan kembali menghantam Pandu hingga Pandu memegangi bahunya dan ambruk ditanah
"Pandu!!!!" Teriak Bang Zardan
Bang Zardan langsung mengarahkan senjatanya pada musuh yang menyerang Pandu dan
Musuh itu tumbang terkena tembakan dari bang Zardan hingga mengundang rasa cemas pemimpin kelompok bersenjata tersebut karena pasukannya sudah banyak tergeletak bersimbah darah di tanah akibat terkena tembakan para prajurit
"Niko, ambil alih" perintah Bang Zardan diangguki Niko.
Niko dan pasukannya bergerak ke tempat dimana bang Zardan dan pasukannya menyerang, sedangkan bang Zardan dan pasukannya langsung mengevakuasi teman-teman mereka yang terluka dan gugur.
Para prajurit itu menarik tubuh lemah teman-teman mereka ke lokasi yang lebih aman karena para prajurit lainnya masih terus menyerang markas musuh di depan sana
"Pandu, bangun Pandu!!!" Tegas Bang Zardan menepuk-nepuk pipi pucat temannya yang sudah kehilangan banyak darah
"Ara......Ara... Abang sayang kamu Viara" Ucap pelan Pandu dengan matanya yang siap untuk tertutup rapat.
Bang Zardan menekan luka tembak di dada Pandu untuk menghentikan darah yang terus keluar dari tubuh temannya
"Bangun payah, jangan tidur ditengah peperangan!!!" Tegas Bang Zardan semakin cemas karena nafas Pandu telah tersegal-sengal dengan pandangannya yang mulai gelap
"Bang, tolong katakan pada Viara aku sangat mencintainya" pinta Pandu meneteskan air mata sambil menahan sakit yang hebat di dadanya
"Katakan saja sendiri, ingat aku Danrumu, bukan bawahanmu!!!" Tegas Bang Zardan menepuk pipi Pandu yang siap menutup matanya
"Baiklah jika kamu ingin tidur, jangan salahkan aku jika aku merebut Viara darimu!!!" Tegas Bang Zardan.
Mata Pandu memerah menahan amarah dan menatap tajam Pada bang Zardan. Dengan tangan dipenuhi darah, Pandu langsung meraih kerah seragam bang Zardan dengan sisa tenaganya
"Viara hanya milik Lettu Pandu Praditya Maheswara, ingat itu!!!! Jika kamu berani mengambilnya dariku, akan kubunuh kau meskipun kau teman dekatku!!!" Tegas Pandu menatap tajam pada bang Zardan seolah siap membunuhnya. Terlihat kegarangan Pandu meskipun tubuhnya telah melemah, dia menujukkan besar cintanya untuk Viara
"Viara, abang uhuk.. abang sayang kamu dek uhuk.." lirih Pandu memuntahkan darah dari mulutnya
"Pandu, tetaplah sadar dan bertahanlah. Dia sedang menunggumu pulang Pandu!!!" Tegas Bang Zardan menepuk pipi Pandu
"Maafkan aku, aku sudah uhuk..... sudah tidak kuat lagi" Ucap pelan Pandu pada bayangan bang Zardan yang terlihat sangat kabur dimatanya
Pandu mulai mengingat kenangan-kenangan yang dihabiskannya bersama pujaan hatinya
"Viara, maafkan aku. Bukan aku tidak mencintaimu, bukan pula aku tidak menyayangimu dengan membuatmu meneteskan air mata karena tak memenuhi janjiku untuk pulang padamu. Aku sangat mencintaimu sayang, bahkan tubuhku siap hancur demi menjagamu dan menjaga negaraku dimana kamu ada disana. Terimakasih sudah mencintaiku dengan tulus selama ini yah. Jangan pernah meneteskan air mata saat kamu mendapatiku tak bernyawa lagi. Jika kamu menangis, aku tidak akan pergi dengan tenang dek. Maafkan dan iklaskan aku jika aku tak kunjung pulang ke pelukanmu untuk selamanya yah. Dalam doaku aku berharap semoga kamu bahagia, meski tak ada aku disismu. Didalam rinduku terbayang Indah wajahmu dan didalam hatiku, terlukis indah namamu"
"Aku Lettu Pandu Praditya Maheswara, akan selalu mencintaimu Viara sampai detak jantung ini terhenti, bahkan setelahnya pun cinta ini hanya untukmu. Mungkin tubuhku akan menyatu dengan tanah, tapi kasih sayangku akan selalu hidup dan terarah padamu. Jangan pernah meneteskan air mata karena aku sayang, karena aku akan tetap hidup. Iyah aku hidup, hidup disetiap kenangan yang kita lukis indah bersama. Inilah cinta tulusku, untukmu wahai wanita pilihanku....." batin Pandu perlahan-lahan menutup mata dengan wajahnya yang dihiasi senyuman
"Pandu, bangun Pandu!!!!!" Tegas bang Zardan menepuk pipi pucat Pandu
"Pandu bangun Pandu!!!!!!" Teriak bang Zardan karena Pandu tak kunjung membuka mata.
Bang Zardan menekan luka yang ada di dada Pandu, namun pemilik tubuh itu sudah terlelap dengan wajah teduh dihiasi senyuman. Bang Zardan meneteskan air mata dan melepaskan tangan lemah Pandu yang digenggamnya
"PANDU!!!!!!!!!!"
Bersambung.......
Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya yah😉
__ADS_1
Terimakasih semua
Love You All😊💞