Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 29. Kelapa Muda


__ADS_3

"Apa yang membuatmu berubah? apa karena sikapku yang selalu menyusahkanmu atau karena jam pemberianku tidak sesuai dengan keinginanmu" batin Viara terus tertuduk selama perjalanan pulang. Karena tak menyadari jika dia menginjak lubang yang agak dalam, Viara terhuyung ke samping dan siap tercebur ke Kali. Beruntung Andra sigap menahan tangannya hingga Viara gagal tercebur ke kali dipinggir jalan


"AAAKK..tolong, aku tidak bisa berenang!!" Teriak Viara menutup matanya


"Hahha tenang dek, adek masih di darat kok" mendengar suara bariton itu, Viara membuka matanya dan tersenyum pada Andra yang membantunya berdiri sempurna


"Hehe terimakasih bang. Untung adek nggak jadi tenggelam" ucap Viara bernafas lega dan tersenyum pada Andra


"Iyah sih dek, tapi apa tuh yang mengantikan adek tenggelam!"


"Maksud abang?" Tanya Viara bingung


"Berbaliklah dek" Seru Andra menahan tawa. Viara refleks membalikkan badannya dan tertegun melihat dompetnya yang mengapung diatas air


"Astaghfirullah abang dompetku dibawah air" ucap Viara cemas dan berusaha turun kebawah


"Ehh dek, jangan turun kebawah. Katanya nggak bisa berenang" Cegah Andra


"Iyah sih bang, tapi itu dompet adek. Ada gaji adek selama 2 bulan disana. Masa adek cuma diam lihatin jerih payah adek dibawah arus" jawab Viara nekat turun ke bawah namun Andra kembali menahan tangannya


"Biar abang aja dek, kamu tunggu diatas yah" ucap Andra segera turun kebawah dan mengambil dompet Viara yang mengapung di atas air menggunakan ranting kayu. Untung dompet Viara anti air sehingga semua uang dan barang didalamnya tidak mengalami kerusak sedikitpun. Setelah berhasil meraih dompet Viara, Andra naik ke atas dan berjalan mendekati Viara yang tersenyum senang melihat dompetnya yang masih utuh ditangan Andra


"Alhamdulillah terimakasih bang" ucap Viara kegirangan hingga ia refleks memeluk Andra.


30 detik kemudian, Viara mulai tersadar dan melepaskan pelukannya dari bang Andra, tentunya dengan wajah yang merah merona menahan malu


"Hahaha Sama-sama dek. Apa yang adek pikirkan? daritadi abang manggil tapi nggak denger-denger" Tanya Andra membuat wajah Viara kembali murung dan menundukkan kepalanya


"Yaudah kalau adek belum bisa cerita nggak apa-apa. Tetap semangat yah dek" Kata Andra menepuk bahu Viara yang diangguki Viara sambil tersenyum


"Abang bawa parang? Mau ngapain bang?" Tanya Viara melihat parang disamping kanan Andra yang berjalan pulang bersamanya


"Parang ini diminta oleh kepala desa dek, buat sunat abang-abang bandel itu" seloroh Andra


"APA!!!" Teriak Viara terkejut


"Jangan dong bang, bisa-bisa para Abang-abang itu mati, lagipula mereka sudah dewasa, kok baru disinat. Jangan yah bang, jangan berikan parangnya sama kepala desa" Pinta Viara merangkul lengan Andra

__ADS_1


"Hahhah nggak mungkin lah dek, abang-abang menyebalkan itu sudah diurus di rumah kepala desa tadi. Jadi adek tenang saja" jawab Andra menahan tawa melihat wajah Viara


"Terus parangnya buat apa?" Tanya Viara yang memoyongkan bibirnya


"Ini untuk petik kelapa muda dek, adek mau nggak?"


"Kelapa muda, dimana bang?" Tanya Viara berbinar


"Di belakang pos dek, panas-panas begini enaknya minum air kelapa muda kan" Lanjutnya lagi


"Adek ikut yah bang"


"Mau ikut, ayo". Viara tersenyum senang dan segera mengikuti Andra ke belakang pos tentara.


Sesampainya di area belakang pos tentara,terlihat disana sudah ada pratu Denis yang memanjat pohon kelapa. Viara langsung mengalihkan pandangannya menatap Pratu Denis saat tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Pandu yang tengah mencuri piring bersama bang Rama tidak jauh dari tempatnya berdiri. Pandu hanya tersenyum getir melihat Viara yang tak mau menatapnya lagi


"Bang Denis, yang itu bang yang itu. Itu masih muda bang" ucap Viara memberi intruksi kepada bang Denis


"Lahdalah bentar dulu toh dek, abang lagi nyari cara buat petiknya nih" Ucap Pratu Denis dari atas sana


"Hehhe maaf bang, ayo panjat sedikit lebih keatas lagi bang" saran Viara


"Loh bisa aja kamu yah dek" Ucap Andra mengelus puncak kepala Viara


"Heheh" cengir Viara menunjukkan deretan gigi putihnya


"Awas kamu dek, jangan dekat-dekat sama pohon kelapanya. Kalau kelapanya jatuh kan...."


"Kenapa bang? Kalau kelapanya jatuh terus jatuh di kepala adek, kasihan sama kepala adek gitu?" Kata Viara menerka


"Bukan kasihan sama kepala adek, tapi kasihan sama kelapanya yang pecah karena nggak bisa mendarat di tanah" Ucap Andra kembali mendapatkan tawa dari pada prajurit disekitarnya


Sementara Viara yang menahan malu dan ditertawakan refleks meninju bahu Andra


"Abang ini!!" kesal Viara


"Hahahha iyah-iyah dek, jangan cemberut dong, adek cantik kalau lagi senyum" ujar Andra mengelus puncak kepala Viara

__ADS_1


"Hei jangan mesraan disitu, kumpul sana kelapanya" perintah Bang Denis yang akan turun dari pohon


"Siap Bang" jawab keduanya gelagapan dan langsung memunguti kelapa muda yang sudah dijatuhkan oleh Bang Denis tadi.


"Mungkin bahagiamu bukan bersamaku dek" batin Pandu tersenyum masam melihat kedekatan dan tawa riang Viara saat bersama Andra


"Bang, ada kepala desa di depannya, katanya mau bahas sesuatu sama abang" Lapor bang Jaya


"Ohh yaudah, adek lanjut pungutin kelapanya yah, abang temui kepala desa dulu. Abang akan kembali secepatnya" Ucap Andra diangguki Viara sambil tersenyum


"Berapa jumlah kelapa yang sudah adek kumpul?" Tanya Pratu Denis


"Baru 20 bang, tapi masih sekitar 16 yang belum adek kumpulkan satu tempat" Jawab Viara sambil memegang kepala muda


"Kira-kira itu udah cukup nggak dek, kalau belum biar abang petik lagi?" Tanya Pratu Denis


"Sudah cukup kok bang, sekarang abang duduk istirahat yah, biar adek yang lanjutkan kumpul kelapanya" Ucap Viara diangguki pratu Denis dengan wajah lelahnya.


Ketika Pandu menatap ke atas pohon, Pandu terkejut melihat daun kelapa tua yang akan jatuh tepat diatas kepala Viara yang sedang memunguti kelapa.


"Dek awas!!" Teriak Pandu berlari mendekati Viara dan menariknya kedalam pelukannya agar daun itu tidak mengenai Viara. Viara yang bersandar di dada Pandu bisa mendengar detak jantung Pandu yang berdetak sangat cepat. Viara tersenyum menyentuh dada itu dan mengelus nya dengan lembut


Bugh


Akhirnya daun tersebut jatuh dan tidak mengenai keduanya


"Kamu nggak apa-apa kan dek?" Tanya Pandu cemas memegang kedua pipi Viara.


"Nggak bang, adek nggak apa-apa" Jawab Viara datar. Viara melepaskan tangan Pandu dari pipinya dan berjalan menjauhi Pandu


"Apa kamu masih marah padaku dek?" batin Pandu menghela nafasnya kasar melihat punggung Viara yang berjalan menjauhinya.


Viara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Pandu


"Terimakasih bang" ucap Viara tersenyum manis pada Pandu dan kembali melanjutkan langkahnya. Seketika Pandu menyunggingkan senyuman bahagianya melihat senyuman manis Viara padanya. Bang Rama ikut tersenyum pada Pandu dan mengacungkan jempol padanya


"Alhamdulillah, kamu tidak marah lagi padaku dek" gumam Pandu lega

__ADS_1


"Hahah aku melakukannya seperti apa yang kau lakukan padaku tadi lagi. Sekarang kita imbang kan bang" gumam Viara tersenyum senang dan melangkah ke rumahnya untuk mengambil cincau yang dibuatnya semalam


Bersambung.....


__ADS_2