
Setelah kembali dari rumah sakit, Viara membawa Pandu ke kamarnya dan membaringkan dengan telaten di ranjangnya
"Abang istrahat yah, biar cepat sehat" kata Viara sambil memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Pandu
"Iya dek, terimakasih yah" Ucapan tulus Pandu dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum. Pandu menyunggingkan senyumannya dan perlahan-lahan menutup mata pengaruh obat yang mulai bekerja
"Aku takut, senyuman tulusmu akan hilang dariku tak lama lagi. Aku takut pertemanan kita renggang karena aku memilih orang lain yang aku cintai bersama denganku. Untuk segala sakit hati, untuk segala air mata, dan untuk segala kesalahan, kumohon maafkan aku" gumam Viara meneteskan air mata menatap wajah teduh Pandu yang sudah tertidur pulas.
"Maafkan aku" lirih Viara berdiri dari duduknya dan melangkahkan pelan untuk keluar dari kamar Pandu.
"Aku menyayangimu dan sangat takut jika harus kehilanganmu" Ucap Pandu mengigau dalam tidurnya
Deg.....
Tubuh Viara membeku seketika mendengar ucapan Pandu barusan. Walaupun itu hanya mengigau semata, tapi menjadi senjata yang juga bisa membuat Viara bingung dalam mengambil keputusan
"Dilema macam apa ini hiks...... Aku bingung Ya Rabb, tolong bantu aku" gumam Viara menatap keatas sambil berderai air mata.
Viara melangkahkan kakinya cepat keluar dari pos tentara agar hatinya sedikit tenang ketika diposisikan di situasi yang Viara tak pernah bayangkan sebelumnya
Ketika Viara keluar dari pos, Viara baru menyadari jika suasana desa dan pos tentara masih sangat sepi
"Apa abang masih ada di acara yah? lebih baik aku kesana" gumam Viara menghapus air matanya dan melangkahkan kakinya menuju ke lapangan yang terletak di depan balai desa
Di langit arah lapangan tersebut, Viara melihat adanya asap hitam tebal yang mengumpal diatas langit
"Astaghfirullah, ada apa yah disana?" gumam Viara cemas sambil menambah kecepatan jalannya
"Tetap berpikir positif Viara" gumam Viara berusaha meredakan rasa takutnya melihat asap bercampur api yang naik ke udara. Ketika Jarak Viara sudah agak dekat, Viara melihat kekacauan dan banyaknya warga yang melarikan diri dari lokasi tersebut.
Teriakan kepanikan dan ketakutan menghiasi lokasi tersebut meski Viara bingung apa yang terjadi disana karena jaraknya masih sedikit jauh. Setelah Viara sampai dan lokasi acara terlihat jelas di matanya, Viara tertegun dan meneteskan air mata melihat semua tenda dan stand itu telah dilahap si jago merah tanpa kenal ampun. Para petugas pemadam kebakaran dan para prajurit terus berusaha memadamkan api itu, namun pergerakan api yang sangat cepat karena pengaruh angin membuat stand dan tenda-tenda disekitarnya ikut terbakar. Melihat Ila sudah berada di tempat yang aman bersama rekan-rekannya, Viara melangkahkan kakinya menghampiri Ila untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi
"Viara hiks... Dimana bang Rama?" lirih Ila ketakutan dibahu Viara. Viara mengusap lembut punggung bergetar Ila mencoba untuk menenangkannya
"Bang Rama ada di pos Ila, Bang Rama sama bang Pandu sedang di pos sekarang" jawaban Viara lembut
"Tapi, mereka bedua baik-baik saja kan?" Tanya Ila masih berderai air mata
"Iyah Ila, mereka baik-baik saja kok". Ila bernafas lega mendengar penuturan Viara barusan
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya Viara mengeraskan sedikit suaranya karena terganggu dengan teriakan kepanikan beberapa warga
"Salah satu stand mengalami masalah dengan aliran listrik hingga menyebabkan kebakaran seperti ini. Sejak tadi, api sulit dipadamkan karena angin kencang yang semakin memperbesar api hingga api tersebut menyebarkan dan melahap tenda-tenda disekitarnya" tutur Ila menjelaskan
Viara beralih menatap ke lapangan dan menyunggingkan senyumannya melihat Andra yang sedang memadamkan api membantu para petugas damkar bersama para personilnya. Seketika hujan rintik-rintik mulai jatuh dari langit hingga hujan rintik-rintik itu berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur bumi
"Alhamdulillah" Ucap semua orang yang ada dibawah tenda serentak, mereka bersyukur hujan datang di waktu yang tepat untuk membantu memadamkan kobaran api yang melahap tenda-tenda di lapangan
"hati-hati bang" gumam Viara tersenyum melihat Andra yang terus berusaha memadamkan api meski diguyur hujan lebat
Ketika Andra tengah menyemprotkan selang pemadam kebakaran pada kobaran api didepan ya, Andra tak menyadari dibelakangnya ada salah satu tiang dari tenda terbakar yang ada di dekatnya bersiap untuk jatuh menimpanya
"Astaghfirullah, Abang Awas!!!!!!" Teriak Viara yang menyadari hal itu.
Mendengar teriakan Viara, Andra berbalik kebelakang dan melompat kesamping sebelum tenda terbakar itu mengenainya, namun perhitungan Andra salah karena tenda yang ada di samping tenda terbakar itu ikut roboh dan jatuh tepat di depannya. Terpal dari tenda tersebut jatuh mengenai kaki Andra dan membakar celana di kaki Andra
"Abang!!!!" Teriak Viara ketakutan berlari menerobos lebatnya hujan menyusul Andra yang tengah berusaha memadamkan api kecil yang membakar celananya. Viara memukul kaki Andra menggunakan kain basah yang dipungutnya dijalan tadi hingga api tersebut berhasil dipadamkan. Viara refleks memeluk Andra dan menangis ketakutan di bahunya
"Abang hiks!!!" Andra menyunggingkan senyumannya dan membalas pelukan Viara padanya. Andra merasa sangat bahagia tidak terjadi sesuatu pada gadis yang sangat dicintainya
"Adek nggak apa-apa kan?" Tanya Andra lembut sambil menangkup kedua pipi Viara
"nggak bang, adek nggak apa-apa. Lalu kaki abang bagaimana?" Tanya Viara cemas. Viara membuka bagian betis celana Andra dan tersenyum menyadari jika api yang mengenai kakinya tadi tidak menimbulkan luka bakar sedikitpun di kaki Andra
"nggak apa-apa sayang, abang tidak apa-apa kok" balas Andra tersenyum menatap rintiknya hujan mengalir di pipi Viara. Ingin rasanya Andra mengecup bibir semerah buah ceri tersebut, namun Andra mengurungkan niatnya karena sekarang belum waktu yang tepat meski Viara telah menjadi kekasihnya
Selang beberapa saat, berkat bantuan warga, para pasukan gabungan TNi dan Polri, petugas damkar, dan tentunya hujan lebat akhirnya si jago merah itu berhasil dipadamkan
"Alhamdulillah, apinya sudah berhasil padam bang" seru Viara senang
"Iyah dek, ayo temani abang ke para personil abang yang ikut membantu memadamkan api" pinta Andra sambil mengenggam tangan Viara.
__ADS_1
Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya mengikuti Andra yang mengenggam erat tangannya.
Setelah melapor pada kepala desa, Andra menghimbau agar semua pasukannya pulang karena hari sudah menujukan pukul 8 malam. Mereka akhirnya pulang sambil berjalan kaki bersama-sama dengan Andra dan Viara dibelakang mereka.
Sesampainya di pos, para prajurit masuk untuk membersihkan diri, begitu juga dengan guru rekan-rekan Viara. Sedangkan Viara berhenti melangkahkan dan membalas senyuman Andra yang masih setia mengenggam tangannya
"Sekarang abang masuk lalu mandi yah, setelah itu istirahat. Nih adek punya minyak kayu putih, sebelum tidur dipake yah minyaknya di perut abang, biar abang tidak masuk angin" titah Viara lembut sambil memberikan minyak kayu putih di tangan Andra. Andra tersenyum dan meletakkan lengannya di bahu Viara
"Kalau kita sudah halal nanti, olesin yah dek" pinta Andra sambil tersenyum
"hahha, kalau adek sudah jadi istri abang, adek selalu siap memenuhi apa yang abang inginkan" Ucap Viara mengelus pipi Andra
"Baiklah adek sayang, ku tunggu kamu menjadi milikku sepenuhnya. Abang masuk dulu yah dek, Assalamu'alaikum pujaan hatiku" Ucap Andra meraih tangan Viara dan mengecup lembut punggung tangannya
"Walaikumsalam abang sayang" balas Viara melambaikan tangannya pada Andra yang sudah memasuki pos
"Aku mencintaimu bang" gumam Viara melangkahkan kakinya kembali ke rumah dinasnya dengan perasaan senang.
Setelah mandi dan rapi dengan pakaian tidurnya, Viara membaringkan tubuh lelahnya di ranjangnya sambil memikirkan rencananya untuk hari esok
"Besok aku siapin sarapan deh, biar bisa sarapan bareng sama abang" gumam Viara senang. Karena lelah yang telah menguasai tubuhnya, Viara perlahan-lahan menutup matanya memasuki alam mimpi mengikuti kedua temannya yang sudah terlelap sejak tadi
______________
Keesokan Paginya, Viara terbangun pukul 4.45 dini hari dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Sesudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, Viara merapikan alat shalatnya dan berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Andra dan untuk rekan-rekannya
Setelah sarapan buatannya siap, Viara kembali memasuki kamarnya untuk bersiap-siap menemui Andra untuk sarapan bersama. Setelah rapi dengan pakaiannya, dengan rantang di tangannya Viara melangkahkan kakinya ke seberang sana kearah pos tentara.
Sesampainya di depan pos, Viara tidak melihat tanda-tanda keberadaan Andra disana, biasanya setelah shalat subuh dan sudah rapi dengan seragamnya, Andra akan nongkrong sendirian sambil membaca berita di depan pos
"Bang Jaya, Bang Andra dimana yah?" Tanya Viara ramah pada bang Jaya yang baru saja keluar
"ohh bang Andra lagi ke warung dek, sekitar 3 menit yang lalu"
"ohh terimakasih yah bang"
"Silahkan" bang Jaya mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan pos tentara
Ketika Viara sedang menunggu kedatangan Andra didepan pos, Viara yang melihat bang Rama baru keluar dari pos tentara tersenyum dan berjalan menghampirinya
"Bang Rama, apa bang Pandu ada didalam?" Tanya Viara dengan suara lembutnya
"Ada dek, bang Pandu masih tidur didalam" Ucap bang Rama lembut
Viara menyunggingkan senyumnya dan memberikan paper bag berisi kotak makanan, sebotol air mineral, dua pak roti sobek dan Vitamin ke tangan bang Rama
"ini bang, tolong dikasih yah sama bang Pandu, biar bang Pandunya sehat" pinta Viara sambil tersenyum
"Dan ini dari Ila, katanya untuk abang" Ucap Viara memberikan paper bag satunya pada bang Rama
"Baiklah, terimakasih dek" Ucap bang Rama sambil tersenyum
"Sama-sama bang" balas Viara lembut.
Bang Rama pamit untuk masuk kedalam pada Viara dan berlalu masuk dengan dua paper bag ditangannya
"Assalamu'alaikum sayang" sapa Andra tepat dibelakangnya Viara. Viara membalikkan badannya dan tersenyum manis pada lelaki yang sangat dicintainya itu
"Walaikumsalam abang sayang, kemarilah" ajak Viara menarik tangan Andra dan mendudukkannya di kursi yang ada di depan pos. Viara juga ikut mendudukkan dirinya di seberang Andra
"nih bang, adek buatin sarapan ini dengan penuh cinta untuk abang, di makan yah" pinta Viara membuka rantang makanan dan diletakkan di depan Andra
"Tebak, ini nasi goreng apa?" Tanya Viara sambil tersenyum
"Nasi goreng cinta sayang" jawab Andra tersenyum dibalas anggukan kepala oleh Viara dengan wajahnya yang sudah merah merona
"Ayo dimakan bang, keburu dingin"
"siap Bu Danru sayang" balas Andra langsung memakan sarapan yang disiapkan Viara untuknya.
__ADS_1
Sambil mengunyah, Andra menatap wajah Viara dan tertawa dalam hatinya melihat wajah Viara yang sangat menggemaskan jika sudah merah merona
"Kenapa, ada yang salah diwajah adek?" Tanya Viara karena sejak tadi Andra selalu menatap wajahnya dan membuat jantungnya berdebar didalam sana
"Iyah dek, adek cantik" jawab Andra membuat Viara mengalihkan pandangannya karena merasa pipinya telah memanas kembali
Selang beberapa saat, Andra telah menghabiskan sarapan yang disiapkan Viara untuknya hingga makan itu habis tak bersisa
"Alhamdulillah, terimakasih yah adek sayang, makanannya enak" Ucap Andra sambil tersenyum
"Sama-sama bang" jawab Viara membalas senyuman tulus Andra untuknya
"Bang, adek ke toilet dulu yah, nggak apa-apa kan?" Tanya Viara
"nggak apa-apa dek, masuk saja kedalam. abang tunggu disini yah"
"Baik bang" jawab Viara sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi yang ada di dalam pos tersebut
Ketika Viara melewati ruang tengah, Viara menyunggingkan senyumnya melihat Pandu dan bang Rama yang tengah sarapan bersama
"Adek" batin Pandu tersenyum melihat Viara ada disana. Bang Rama menyunggingkan senyumnya melihat wajah Pandu yang selalu ceria jika Viara ada didekatnya
"Abang, dadanya masih sakit nggak?" Tanya Viara cemas
"Udah nggak sakit lagi dek, Terimakasih sarapannya yah" Ucap Pandu tersenyum tulus
"Sama-sama bang. abang-abang lanjutkan makannya yah, adek ke belakang dulu" pamit Viara
"Baik dek" jawab keduanya serentak. Viara mengangukkan kepalanya dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke toilet yang ada di dekat dapur
"Bang, apa Viara sudah tahu jika abang mencintainya dalam diam?" Tanya Bang Rama pelan
"Belum bang, dia tidak tahu. Tapi biarlah seperti ini, aku takut terjadi salah paham antara aku dan Andra nanti" balas Pandu kembali melanjutkan makanannya
"Biarlah kupendam perasaan ini, sampai waktunya tiba akan kukatakan padamu bahwa aku sangat menyayangimu, berharap kamulah pendamping hidup untukku dan anak-anakku nanti. Dalam doaku, terselip indah namamu, hanya namamu saja Viara"
___________
Setelah keluar dari toilet, Viara berlalu ke depan pos untuk menemui Andra
"Dek, kita ikut bakti sosial yuk di lapangan. Pak kepala desa tadi ajakin abang untuk ikut serta disana. Kamu mau nggak dek?" Tanya Andra
"adek mau bang" seru Viara senang
"Yaudah, ayo kita kesana dek" ajak Andra mengenggam tangan Viara dan berjalan bersamanya menghampiri motornya yang terparkir disamping pos.
Andra memakaikan helm dikepala Viara dan membantu Viara duduk nyaman dibelakangnya
"Sudah siap dek?" Tanya Andra lembut
"Sudah bang" jawab Viara
"itu mah belum siap dek" kata Andra melirik Viara lewat kaca spion motornya. Viara menyunggingkan senyumnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Andra
"nah itu baru siap, pegangan yah dek" Ucap Andra diangguki Viara sambil tersenyum. Andra tersenyum melirik Viara melalui kaca spionnya dan melajukan motornya menuju ke tempat diadakannya bakti sosial.
Sesampainya di lokasi pembagian sembako dalam rangka bakti sosial, Viara dan Andra langsung bergabung dan ikut membagikan sembako pada warga yang kurang mampu dan terdampak bencana kebakaran kemarin. Salah satu warga yang melihat Andra terus mencuri pandang pada gadis yang datang bersamanya tadi menyunggingkan senyumnya dan mulai membuka pembicaraan pada tentara tampan di depannya
"Bang, gadis itu pacarnya yah?" Tanya ibu itu.
"Lebih tepatnya calon istri Bu" jawab Andra sambil sumringah
"Wah, cocok banget. Semoga langgeng yah hubungannya sampai kalian menikah nanti " seru ibu itu
"Aamiin, terimakasih yah Bu" ibu itu mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan berlalu pulang bersama rekan-rekannya.
Andra menoleh menatap Viara dan menyunggingkan senyumnya melihat wajah cerah Viara yang sangat bersemangat melaksanakan bakti sosial tersebut
"Semoga kamulah pendamping hidupku dek. Aku tak mau yang lain, aku hanya menginginkanmu menjadi milikku seutuhnya. Semoga hari bahagia itu segera tiba menghampiri kita berdua"
Bersambung......
__ADS_1