
"Bu Viara, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" Ujar Bu Yina yang baru saja memasuki ruang guru.
Viara seketika menghentikan pekerjaannya yang sedang menyusun buku-buku di atas mejanya dan beralih menatap Bu Yina
"Siapa bu?" Tanya Viara kembali menyusun buku-bukunya
"Entahlah bu, kelihatannya dia bukan penduduk desa disini. Dia ada di depan, apa saya persilahkan dia masuk bu?" Tanya Bu Yina menunggu persetujuan Viara
"Iyah bu, persilahkan dia masuk. tolong yah" pinta Viara sambil tersenyum.
Bu Yina menganggukkan kepalanya dan langsung keluar ruang guru untuk memanggil orang yang ingin menemui Viara
Tak berselang lama, terlihat seorang wanita paru baya yang menurut Viara berusia sekitar 50 tahunan di depan pintu. Wanita paru baya itu berjalan mendekati Viara sambil tersenyum manis padanya. Viara mempersilahkan tamunya untuk duduk dan mulai bertanya alasan ibu ini datang menemuinya
"Sepertinya ibu bukan warga desa disini. Apa maksud kedatangan ibu datang menemui saya disini?" Tanya Viara sopan dengan suaranya yang lembut
"Iyah nak, saya bukan warga desa ini. Perkenalkan nama saya bu Dewi, dan namamu Viara bukan?" tutur Bu Dewi menjulurkan tangannya kearah Viara.
Viara menjabat uluran tangan wanita itu dan membalas senyuman yang ditunjukkan wanita itu padanya
"Iyah bu, saya Viara" balas Viara ramah
"Gadis yang baik dan juga ramah" batin Bu Dewi tersenyum manis melihat guru cantik di depannya
"Oh yah nak, maksud ibu kesini ada yang ingin ibu katakan padamu. Kamu kekasihnya Andra bukan?" Tanya Bu Dewi tepat mengenai sasaran
"Iyah Bu, benar. Bagaimana ibu bisa tahu soal saya dan bang Andra?" Tanya Viara menatap serius wanita di depannya
"Andra itu putra saya" Jawab Bu Dewi membuat Viara terdiam di tempat.
Viara menyunggingkan senyumnya langsung meraih tangan Bu Dewi dan menyalaminya. Bu Dewi tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala gadis cantik yang menyalami tangannya
"Ibu sampai jauh-jauh kesini, ada apa bu?" Tanya Viara lembut
"Kamu memang gadis yang baik nak, putraku sudah menceritakan semuanya padaku tentangmu. Terimakasih yah sudah menolong putraku dulu, jika bukan karenamu aku mungkin akan kehilangan harta berharga ku satu-satunya" Ucap Bu Dewi mengusap puncak kepala Viara dengan penuh kasih sayang
"Bu, apa ibu merestui hubungan kami bu?" Tanya Viara penuh harap.
"Ibu merestuimu nak, sangat merestui hubunganmu berdua tapi....." Bu Dewi menjeda ucapannya
"Tapi apa bu?" Tanya Viara serius
Bu Dewi menghela nafasnya dan mengenggam erat tangan Viara
"Maafkan ibu nak, kau adalah gadis yang baik dan menantu idaman bagi setiap ibu di dunia ini, tapi maafkan ibu karena ibu tidak bisa meneruskan hubungan kalian"
Doooorrr......
Ucapan Bu Dewi bagaikan sambaran petir untuk Viara
"Tapi kenapa bu?" Tanya Viara berkaca-kaca. Tanpa sengaja setitik bulir bening berhasil lolos dari mata Viara
"Maafkan ibu nak, ibu bukannya menolakmu menjadi menantu ibu, justru ibu pengen banget jadiin kamu menantu ibu, tapi ibu harus memenuhi wasiat terakhir ayahnya Andra" Ucap Bu Dewi mengusap air mata di pipi Viara
"Wasiat?"
__ADS_1
"Iyah nak, kamu tahu gadis bernama Asya bukan?" Tanya Bu Dewi dibalas anggukkan kepala oleh Viara
"Sebelum ayahnya Andra meninggal, dia ingin menikahkan Asya dengan Andra saat mereka dewasa nanti. Kami punya banyak hutan budi kepada ayahnya Asya nak, ayahnya asya juga sahabat dekat kami. Sebelum ayahnya Andra meninggal, hidup kami sangatlah sulit dan serba kekurangan, tapi karena berkat kebaikan ayahnya asya, hidup kami serba kecukupan. Dia membelikan kami sawah di desa yang menjadi sumber kehidupan kami. Setelah ayahnya Andra meninggal, hidup kami semakin sulit. Rumah kami kebakaran dan sawah di desa kami gagal panen selama 2 tahun berturut-turut. Namun karena kebaikan dan uluran tangan ayahnya asya lagi, kami berhasil keluar dari keterpurukan. Oleh karena itu ibu ingin mewujudkan wasiat terakhir ayahnya Andra, dengan menikahkan Asya dengan Andra juga sebagai bentuk balas budi dan ucapan terimakasih kami kepada keluarganya. Keluarganya sudah banyak membantu kami, sudah sepantasnya kami membalas semua kebaikan mereka. Asya juga gadis yang baik nak, sama sepertimu. Maafkan ibu yah nak" tutur Bu Dewi refleks memeluk Viara yang kembali menangis deras
"Mengapa jalannya serumit ini ya Tuhan, kenapa banyak sekali rintangan dan halangan untuk kami bisa bersama. Mengapa harus ada hambatan lagi setelah sekian lama kami terpisah dan memendam perasaan?" batin Viara semakin menangis sesenggukan. Hatinya sangat sakit hingga suara tangisnya terdengar pilu bagi siapapun yang mendengarnya
"Maafkan ibu nak, maafkan ibu yang membawamu ke jalan yang serumit ini. Tapi ibu percaya kamu kuat nak, kamu bisa melewati semua ini" Kata Bu Dewi mengusap punggung bergetar Viara.
Bu Dewi melepaskan pelukan Viara dan menangkup kedua pipinya. Bu Dewi mengecup kening Viara dan menghapus air mata di pipinya dengan lembut
"Apapun keputusan mu, ibu terima semuanya karena ini semua tentang kamu dan hatimu. Ibu akan tunggu keputusanmu yah" tutur Bu Dewi lembut.
Viara menyeka air matanya dan menganggukkan kepalanya pada Bu Dewi
"Sudah yah nak, jangan menangis lagi. Ibu yakin kamu pasti akan bahagia walaupun tak bersama anak ibu" Ucap Bu Dewi menghapus air mata Viara dan mengelus punggungnya agar Viara merasa sedikit tenang
"Ibu pamit pergi dulu yah nak" pamit Bu Dewi
"Ibu mau kemana? Ibu bahkan belum menemui Andra" Tanya Viara menghapus air matanya
"Ibu harus segera pulang nak, jangan beritahu Andra kalau ibu datang jauh-jauh kesini yah, nanti dia bisa mengomeli ibu" Viara mencoba tersenyum dan meraih tangan Bu Dewi untuk menyalaminya
"Ibu pulang dulu yah nak, jaga dirimu baik-baik. Assalamu'alaikum nak" Ucap Bu Dewi memeluk Viara
"Walaikumsalam Bu, Hati-hati" Ucap Viara membalas pelukan Bu Dewi padanya. Viara melambaikan tangannya dan tersenyum pada Bu Dewi.
Setelah Bu Dewi pergi, dengan air mata yang masih setia mengalir di pipi, Viara mengemasi barang-barangnya dan berjalan keluar dari ruang guru
"Viara, kok nangis?" Tanya Ila melihat mata sembab Viara yang berjalan pulang bersamanya
"Nggak apa-apa gimana, matamu sangat merah dan sembab, pasti terjadi sesuatu padamu. Aku panggilin bang Pandu yah" ujar Ila merogoh ponsel nya namun dicegah Viara
"Aku nggak apa-apa kok, serius. Aku cuman rindu nenek aja jadinya nangis" sangkal Viara menujukkan senyumnya
"Dan kamu, masa cuma nangis gini aja harus panggilin bang Pandu sih" ucap Viara memoyongkan bibirnya
"Karena bang Pandu adalah penyejuk hatimu. Setiap kamu nangis atau sedih, bang Pandu selalu ada untukmu kan" Ucap Ila diangguki Viara sambil tersenyum. Ila ikut tersenyum bersama Viara namun senyuman diwajahnya seketika sirna hingga membuat kepalanya tertunduk
"Kenapa sekarang kamu yang cemberut?" Tanya Viara terheran-heran melihat perubahan di wajah Ila. Ila menghela nafasnya kasar dan beralih menatap Viara disampingnya
"Kamu sudah dengar kabar tadi pagi?" Tanya Ila pelan
"Kabar apa? Aku perginya lebih awal jadi nggak sempat dengar kabar. Apa yang terjadi Ila?" Tanya Viara sedikit khawatir.
Ila mengontrol nafasnya dan beralih menatap Viara di sampingnya
"1 bulan lagi masa tugas para tentara teman kita di pos akan segera berakhir" Ucap Ila menghela nafasnya kasar. Sementara Viara melongo tak percaya dengan ucapan Ila barusan
"Tahu darimana kamu?" Tanya Viara sedikit tegas
"Dari bang Rama. Bang Rama juga bakalan pindah tugas dari sini begitu juga dengan Danru dan personil lainnya" jawab Ila sambil tertunduk menahan tangis.
Viara tahu kesedihan Ila yang akan berpisah dengan bang Rama sehingga Viara mengusap punggung Ila mencoba untuk menguatkannya
"Kan kamu bisa telepon atau sambungan Video bareng bang Rama, sekarang kan sudah canggih, jadi nggak usah cemas-cemas amat sih" Ucap Viara dibalas anggukkan kepala oleh Ila
__ADS_1
"Terimakasih yah Viara, kamu memang teman terbaikku" Ucap Ila memeluk Viara
"Sama-sama Ila, ngomong-ngomong apa bang Pandu akan pindah juga?" Tanya Viara
"Kenapa tiba-tiba ngomongin bang Pandu, udah cinta yah sama dia" goda Ila sambil tersenyum
"Yeeee, bang Pandu kan temanku. Jadi wajar dong kalau aku ngomongin dia"
"Hahha, bang Pandu belum pindah Viara. Dia masih punya 3 bulan lagi untuk bertugas disini karena dia dulu menggantikan anggota yang telah gugur saat bertugas disini" Viara manggut-manggut mendengar penjelasan Ila
"Jadi masih ada kesempatan untuk main sama dia sebelum tahan rindu lagi" ucap Ila diangguki Viara sambil tersenyum.
Viara kembali tertunduk dan melamun saat mendengar penjelasan ibunya Andra tadi, ditambah lagi Andra akan segera pergi karena masa tugasnya disini sudah hampir selesai. Hatinya kembali hancur menerima kenyataan yang selalu memeras air matanya. Viara menatap keatas agar air matanya tidak tumpah di hadapan temannya
"Ini berat, sangatlah berat. Tapi inilah kenyataannya. Aku sudah tak sanggup lagi menerima semua ini. Apakah memang tidak ada lembaran bahagia di perjalanan hidupku? apakah memang aku harus selalu menangis di sisa hidupku? Aku sudah tidak kuat lagi" batin Viara menatap keatas berusaha membendung air matanya
Setelah sampai di depan rumahnya, Viara melihat banyak tentara dengan ransel di punggung mereka. Viara yang sudah tidak kuat lagi menahan tangisnya langsung berlari memeluk Andra yang merentangkan tangan untuk menyambutnya
"Abang hiks.. hiks.. " Lirih Viara memeluk Andra sangat erat. Viara terus menangis dalam pelukan itu dan tidak lagi memperdulikan tatapan semua orang termasuk Pandu padanya
"Kenapa dek? kenapa nangis?" Tanya Andra menghapus air mata di sudut mata Viara.
Viara terus menjatuhkan air matanya dan kembali memeluk Andra erat
"Biarkan adek memeluk abang, biarlah walau hanya sebentar hiks.. hiks". Andra mengusap punggung bergetar Viara dengan lembut.
Saat ada yang ingin dikatakan rekannya padanya, Andra memberi kode agar tunggu sebentar dan kembali mengelus punggung Viara yang masih menangis tersedu-sedu di dadanya
"Apa yang terjadi padamu dek? kenapa kamu menangis seperti ini. Siapa yang berani menganggumu" Batin Pandu menatap Viara dari jauh
"Katakan apa yang terjadi dek?" Tanya Andra lembut
"Apa memang kita tidak bisa untuk bersama bang?" Tanya Viara menatap Andra dengan tatapan sendu
"Siapa yang bilang seperti itu padamu dek, abang hanya mencintaimu dan ingin bersamamu selamanya. Hanya kamu yang ada dihati abang" Ucap Andra mengusap air mata Viara sambil tersenyum.
Andra mengusap kening Viara dengan lembut dan tidak menganggap kehadiran personil disekitarnya seolah mereka semua adalah patung
"Tapi bang, tinggal 1 bulan lagi abang disini, siapa yang akan nemanin adek nanti disini. Adek nggak mau jauh lagi dari abang. Sudah cukup adek merindu selama 8 tahun, adek nggak mau tersiksa lagi bang hiks.. Hiks.. " lirih Viara semakin menangis dipelukan Andra
"Iyah dek, abang juga nggak sanggup lagi untuk berpisah denganmu. Tapi inilah kehidupan dek, abang sebagai anggota penjaga negara kita tidak bisa menolak panggilan negara. Jika adek sabar, tunggulah abang kembali. Berdoalah agar kita dipertemukan lagi. Karena hanya adek saja yang abang cintai, abang akan selalu menjagamu meski nyawa abang ada di peluru dek" Ucap Andra lembut sambil mengusap air mata Viara
Prok...prok..prok..
para prajurit bertepuk tangan mendengar ungkapan Danru mereka, seolah ucapan itu juga mewakili ungkapan hati mereka sekarang
"Saat ini abang akan pergi mengamankan wilayah yang bentrok dek, tunggu abang kembali yah. Abang sayang adek" kata Andra mengecup kedua punggung tangan Viara
"Iyah bang, adek juga sayang sama abang. Hati-hati saat bertugas yah, abang harus pulang dengan sehat dan personil lengkap saat kembali kesini" Ucap Viara melakukan hormat kepada para prajurit dan Danru mereka
"Iyah dek, abang pamit yah assalamu'alaikum" Ujar Andra mengusap puncak kepala Viara dan berlari menaiki truk
"Walaikumsalam bang" Jawab Viara melambaikan tangannya pada truk tentara yang berjalan menjauhinya
"Jika memang kita tidak bisa bersama, biarlah aku mendekapmu di hari-hari terakhir kita bersama, biarlah aku tersenyum dan bahagia bersamamu sebelum kita terpisahkan. Kalaupun kita tidak ditakdirkan bersama, setidaknya kita pernah mencintai dan melukis kenangan yang indah bersama. Semoga kita bisa bahagia yah bang, walaupun nanti takdir harus memisahkan kita"
__ADS_1
Bersambung.....