Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 78. Kekasih Sang Prajurit


__ADS_3

"Viara Meninggal!!" kata Pak Dino tertunduk membuat semua orang terdiam


Pandu melepaskan tangan Tara yang merangkul lengannya kasar dan berlari kencang keluar aula pernikahan


"Pandu!!! Pandu tunggu!" panggil Bang Zardan ikut menyusul Pandu yang berlari keluar sambil menangis


"Viara Bang hiks.... " lirih Ila menangis di bahu Bang Rama


"Ayo dek, kita ke rumah sakit. Kita temui Viara untuk terakhir kalinya" Ucap Bang Rama berusaha tegar sambil membantu Ila untuk jalan


Sementara Pandu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Terlihat Pandu sesekali meremas dan memukul-mukul stir sambil berderai air mata


"Adek!!!!!" Teriak Pandu didalam mobil sambil menangis.


Bang Zardan yang duduk di samping kemudi juga meneteskan air mata melihat betapa hancur dan kehilangannya teman baik disampingnya


"Sabar Pandu" kata Bang Zardan mengusap punggung bergetar Pandu


"Bang hiks.. Aku tahu semua yang bernyawa akan kembali pada-Nya, tapi aku belum siap kehilangannya Bang" lirih Pandu semakin menangis deras di bahu Bang Zardan


"Kuatkan hatimu Pandu, kita harus secepatnya tiba di rumah sakit" Ucap Bang Zardan menepuk-nepuk punggung bergetar Pandu


Ketika lampu kembali berwarna hijau, Pandu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi untuk cepat sampai di rumah sakit


Sesampainya di rumah sakit, Pandu turun dari mobil dan berlari kencang ke dalam rumah sakit. Ketika Pandu sampai di ruang rawat Viara, disana sudah terbaring seseorang yang dicintainya telah ditutupi selimut putih.


Nenek Lula menangis di pelukan Mbak Lena, sedangkan ayahnya Viara keluar untuk menjawab panggilan dari ibunya Viara.


"Assalamu'alaikum Bunda, ada apa hmm?" Tanya Ayah Vian lembut berusaha tetap tegar dan baik-baik saja


"Walaikumsalam Ayah, perasaan Bunda nggak enak nih Ayah. Ayah masih di rumah ibu kan? dimana Viara?" Tanya Bunda Hana diseberang sana. Ayah Vian menghapus air mata yang mengalir di pipinya dan mencoba tersenyum sebelum menjawab pertanyaan istrinya


"Ayah masih disitu?" Tanya Bunda Hana yang tak mendengar sahutan suaminya


"Iyah Bunda, ayah masih disini. Viara lagi tidur Bunda, jadi belum bisa di gangguin" Ucap ayah Vian lembut


"Hmm begitu yah. Kalau Viara udah bangun langsung hubungi Bunda ya Ayah, entah mengapa Bunda rasanya kangen banget sama putri kita itu. Nanti Ayah ajak Viara pulang ke rumah yah" pinta Bunda Hana


"Iyah siap komandan" Jawab Ayah Vian


"Baiklah ayah, nanti kita lanjut lagi yah, assalamu'alaikum suamiku sayang"


"Walaikumsalam Bunda" balas ayah Vian mematikan sambungan telepon dan kembali menangis menerima kepergian anak semata wayangnya


Dengan tangan gemetar hebat, Pandu membuka selimut penutup wajah tubuh itu, seketika Pandu menangis histeris melihat orang yang dicintainya sudah terbujur kaku dan tidak bernyawa lagi


"Adek!!!! Bangun adek!!" lirih Pandu mengusap kedua pipi pucat Viara. Pandu mengangkat tubuh kaku Viara dan membawanya kedalam pelukannya


"Adek, jangan tinggalkan abang dek hiks.. Bangun dek" Kata Pandu semakin memeluk tubuh tak bernyawa itu.


"Bangun sayang hiks..." lirih Pandu menangis dibahu Viara

__ADS_1


Semua orang ikut menangis melihat Pandu yang terus memeluk tubuh yang sudah tak bernafas lagi hingga Ila dan nenek lula jatuh pingsan ditempat merasa sangat syok dengan kepergian Viara


"Adek, bangun sayang, jangan tinggalkan abang hiks..maafkan abang yang menyakitimu sayang. Bangunlah dek" lirih Pandu menangkup kedua pipi Viara


"Maafkan abang yang selalu membuatmu terluka. Maafkan abang yang tidak percaya denganmu. Maafkan abang sayang hiks.. Bangunlah dek.. Jangan tinggalkan abang" lirih Pandu mengecup kening Viara dengan bulir bening yang terus menetes deras dari matanya


"Maafkan abang dek, jangan menghukum abang sekejam ini hiks..Bangunlah sayang, peluk abang sekali saja. Abang juga sayang sama adek hiks. Abang belum siap untuk kehilangan dirimu selamanya. Bukankah kamu pernah bilang jika kamu ingin menikah dan punya anak bersama abang, maka bangunlah sayang. Abang sudah ada disini, abang akan selalu memelukmu di sepanjang waktu kita bersama. Kamu pernah bilang kalau abang pergi untuk selamanya, maka kamu akan menyusul abang kan? Begitu juga dengan abang yang akan pergi menyusulmu jika kamu tak kunjung bangun sayang" lirih Pandu menyatukan keningnya dengan kening Viara hingga air mata Pandu meneteskan mengenai mata Viara yang tertutup rapat dan mengalir disudut matanya.


"Maafkan aku yang sering membuatmu terluka dan meneteskan air mata. Maafkan aku yang terkadang menyakiti hatimu. Dari semua rasa sakit dan kesalahan yang telah kuperbuat padamu, maka maafkanlah aku sayang hiks.. Izinkan aku memperbaiki segalanya. Izinkan aku memberimu bahagia dan membawamu ke tempat yang kamu inginkan. Semua orang bahkan dunia boleh pergi meninggalkanku, asalkan tidak denganmu sayang. Tanpamu duniaku tak berwarna dan tanpamu hidupku tidak ada artinya. Kumohon bangunlah dan lukislah indahnya bahagia bersamaku" lirih Pandu mencium kening Viara sangat lama dan kembali membawanya kedalam pelukannya


Dokter Citra yang ada di seberang brankar Viara meneteskan air matanya mendengar ucapan Pandu yang begitu mencintai Viara


"Bangunlah Viara, belum saatnya kamu pergi. Kamu masih belum bahagia di dunia ini. Bangunlah Viara, bangun. Ada bahagia yang akan menghampirimu sekarang, jadi bangun dan tersenyumlah, jangan terbaring seperti ini" kata Dokter Citra dalam hati sambil mengenggam tangan Viara


"Abang cinta sama adek. Bangunlah sayang, abang janji tidak akan membuatmu menangis lagi" Ucap Pandu menghapus air matanya.


Pandu mendekatkan wajahnya di telinga Viara sambil tersenyum dan berbisik


"Bangunlah kekasihku, bangunlah wahai kekasih sang prajurit"


Dokter Citra terkejut merasakan kehangatan di tangan Viara yang di genggamnya


"Viara!!!"


Layar EKG berbunyi menampakkan garis yang awalnya lurus sekarang telah berubah bengkok, Viara kembali bernafas meski nafasnya masih sangat sesak


"Viara!!!" Seru semua orang yang ada di ruangan itu


Pandu menghapus air matanya dan melakukan sujud syukur diikuti semua orang yang ada di ruangan itu.


"Terimakasih telah mengembalikannya padaku Ya Rabb, terimakasih" lirih Pandu bahagia dalam sujudnya.


Pandu bangkit dari sujudnya dan melangkah mundur agar Dokter Citra dan seorang suster bisa menangani Viara dengan leluasa.


Setelah 10 menit menangani Viara, dokter Citra tersenyum senang karena kondisi Viara sudah membaik dan nafasnya yang sudah teratur meski matanya masih dalam keadaan tertutup


"Terimakasih sudah berjuang kembali" gumam dokter Citra mengusap punggung tangan Viara sambil tersenyum


"Ini keajaiban, Viara sudah tidak apa-apa sekarang. Tidak lama lagi dia akan tersadar dari tidurnya" Ucapan dokter Citra bagaikan angin sejuk yang seketika mengubah tangisan menjadi senyuman, dan berhasil mengangkat beban yang sangat menindih di hati.


Pandu meneteskan air mata bahagia dan berjalan mendekati brankar Viara. Pandu meraih kedua tangan Viara dan mengecup punggung tangannya sangat lama karena kekasih hatinya kini telah kembali lagi.


Viara perlahan-lahan membuka matanya, dan dalam pandangannya yang masih sangat kabur, Viara menyunggingkan senyumannya melihat bayangan orang yang dia cintai berada diatasnya


"Haus" kata pertama yang keluar dari mulut Viara. Pandu mengambil segelas air diatas nakas dan membantu Viara untuk minum dengan menggunakan sedotan sambil tersenyum


Semua orang tersenyum senang melihat perhatian yang kembali ditunjukkan Pandu untuk kekasih hatinya


"Panduku" panggil Viara pelan. Pandu meneteskan air mata bahagia dan kembali memeluk Viara erat


"Iyah sayang, Pandumu ada disini, dipelukanmu" kata Pandu bahagia dan mengecup kening Viara dengan penuh kasih sayang. Viara menyunggingkan senyumannya dan membalas pelukan hangat yang dia rindukan sejak dulu

__ADS_1


"Terimakasih sudah mendengarkan ucapan abang yah, terimakasih sudah bangun kembali" kata Pandu menangkup kedua pipi Viara sambil meneteskan air mata bahagia. Viara menyentuh kedua tangan Pandu yang menangkup pipinya dan tersenyum manis pada pemilik cintanya itu


"Bagaimana aku bisa tertidur lelap jika aku melihatmu menangis sayang? Aku sudah berjanji akan menggantikan setiap air mata yang menetes di pipi ini dengan kebahagiaan dan cinta dariku. Aku juga sudah berjanji untuk setia bersamamu selamanya. Kalau aku tidak bangun, siapa yang akan memenuhi janji yang kubuat. Lalu siapa yang akan menjadikanku ratu dan ibu dari anak-anaknya?" Pandu tersenyum bahagia mendengar ucapan Viara dan kembali membawa Viara kedalam pelukannya. Viara mengusap lembut punggung Pandu dan mengecup pipi Pandu yang ada disamping wajahnya


Semua orang tersenyum dan meneteskan air mata bahagia melihat adengan haru didepannya


"Maafkan abang yah sayang, abang.... " Ucap Pandu terhenti karena Viara menempelkan jari telunjuk tepat di bibirnya


"Kita lupakan yang terjadi dimasa lalu, dan kita sambut bersama kehidupan kita selanjutnya. Terus genggam tangan ini dan tentukan kemana arahku yang sesungguhnya, karena aku hanya ingin hidup dan bahagia bersamamu. Aku ingin menghabiskan masa bahagiaku bersamamu hanya bersamamu sayang" kata Viara pelan sambil mengenggam tangan Pandu.


Pandu mengecup kening Viara dan menghapus air matanya yang terkena pipi Viara


"Iyah sayang, terimakasih sudah berjuang untuk hidup dan tetap bersama abang yah. Mulai sekarang tidak akan ada kekuatan yang dapat memisahkan kita, karena hanya kamulah wanita yang ditakdirkan untuk melengkapi hidup abang, begitu juga sebaliknya. Abang sayang sama kamu dek, cepat sembuh yah agar kita bisa mewujudkan impian kita bersama-sama" kata Pandu lembut. Viara menyentuh pipi Pandu dan mengangukkan kepalanya sambil tersenyum.


Pandu berjalan mundur agar memberi ruang untuk keluarga Viara yang juga sangat senang melihat anak kesayangan mereka telah bernafas lagi


"Ayah, nenek" Ucap Viara senang dan memeluk kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya


"Terimakasih sudah bangun yah nak, terimakasih masih membuat ayah dipanggil dengan sebutan ayah lagi " Ucap Ayah Vian mengecup pipi putrinya diikuti nenek Lula yang memeluk Viara erat


"Viara sayang banget sama ayah dan nenek. Terimakasih selalu ada untuk Viara yah" Ucap Viara dibalas anggukan kepala oleh kedua orang yang berarti bagi hidupnya sambil tersenyum


Viara menyunggingkan senyumannya pada dokter Citra dan Tasya yang berhambur memeluknya


"Terimakasih teman-temanku, tanpa kalian aku bukanlah Viara yang bahagia seperti sekarang. Terimakasih bestie" kedua teman terbaik Viara tersenyum senang dan mengangguk didalam pelukan Viara


"Apa kamu melupakanku Viara?" Tanya Ila yang baru saja sadar setelah mendengar jika Viara sudah terbangun dari tidurnya. Viara tersenyum dan membalas pelukan Ila yang memeluknya erat


"Aku tidak mungkin melupakanmu Ila, kamu juga sahabatku yang terbaik. Terimakasih selalu mendukungku selama ini yah" Ucap Viara bahagia di bahu Ila


"Iyah sobat" jawab Ila tersenyum manis pada Viara


Ayah Vian berjalan mendekati Pandu dan menepuk bahunya


"Kapan datang ke rumah saya calon mantu?" Tanya Vian mendapatkan gelak tawa dari semua orang


"Siap, secepetnya komandan" Seru Pandu senang dan memeluk calon ayah mertuanya sekaligus komandannya


"Sebaiknya kita semua keluar dulu yah, Viara masih harus beristirahat" titah Dokter Citra lembut.


Semua orang mengangguk setuju dan mulai meninggalkan ruang rawat Viara agar Viara beristirahat dengan baik. Sebelum hilang dibalik pintu, Pandu membalikkan badannya dan tersenyum manis pada Viara


"Aku mencintaimu kekasihku"


"Aku juga mencintaimu Panduku sayang" Ucap Viara membalas senyumannya manis Pandu padanya.


Setelah semua orang pergi, Viara kembali tertidur karena obat penenang yang mulai bekerja di dalam tubuhnya


"Terimakasih masih memberiku nafas dan detak jantung untuk berbahagia bersamanya. Aku mencintaimu Lettu"


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2