Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 60. Pandu Hanya Milikku


__ADS_3

Viara kini tengah membantu ibu-ibu warga desa yang menyiapkan makanan untuk para pekerja yang memperbaiki saluran air yang rusak parah di rumah kepala desa


"Ehh bu Viara, nggak ke sekolah yah?" Tanya Bu Yuna


"Nggak bu, hari ini nggak ada jadwal saya untuk mengajar, jadi langsung kesini karena dipanggil bu kepala desa semalam" jawab Viara ramah


"Terimakasih yah bu, karena ajaran ibu anak saya udah pandai menghitung pemasukan di warung saya" kata Bu Dara senang


"Iyah bu Viara, anak saya Lili juga senang banget sama pelajaran matematika. Anak saya bahkan menghabiskan waktu luangnya untuk mencakar di rumah, bahkan lantai pun dia coret" seru Bu Jila mendapatkan tawa dari para ibu-ibu


"Lili menang anak yang pandai bu, dia selalu menjawab setiap soal di papan tulis dengan sangat benar" kata Viara sambil tersenyum


"Iyah benar Bu, lili selalu senang menceritakan tentang ibu di rumah. Terimakasih sudah memberikan semangat untuk anak kami belajar yah Bu"


"Sudah tugas saya untuk memberikan ajaran kepada murid saya, karena itulah janji saya sebelum jadi guru. Syukur alhamdulillah jika anak-anak juga senang dengan ajaran saya" ucap Viara diserukan oleh semua ibu-ibu yang bekerja di rumah kepala desa


Setelah semuanya selesai, makanan yang telah siap santap pun dinaikkan ke pickup dan diantarkan ke lokasi pengerjaan pipa. Viara juga naik ke samping kursi kemudi untuk ikut pergi ke lokasi dimana kekasihnya juga tengah bekerja disana


Setelah 10 menit menempuh perjalanan, mereka langsung turun dari pickup dan membawa setiap hidangan ke tenda yang telah disediakan


"Letakkan disini Bu, biar saya yang akan mengaturnya" Pinta Viara sambil mengatur nampan makan diatas meja.


Viara melirik ke kiri dan melihat 4 orang perawat yang baru turun dari mobil dan langsung bergabung dengan semua orang di bawah tenda. Viara tersenyum dan langsung menyapa salah satu perawat yang dia kenali


"Hai Kak Tara" Sapa Viara ramah


"Hai Viara, kamu disini juga?" Tanya Tara berjalan kesamping Viara


"Iyah kak, aku bekerja di desa ini" jawab Viara sambil tersenyum


"Ngomong-ngomong kakak lagi ada kegiatan yang di desa ini?" Tanya Viara sambil mengatur makanan


"Iyah Viara, hari ini kakak bersama teman kakak akan bertugas di desa ini sekitar 7 hari dek" Ucap Tara tersenyum


"Wah, nanti kakak mampir yah di rumah dinas adek" seru Viara


"Iyah siap dek, kakak bantu atur makanannya di meja yah" Ucap Tara tersenyum diangguki oleh Viara.


Viara dan Tara mulai mengatur letak wadah makanan di atas meja sedangkan teman-teman Tara yang lain tengah bercengkrama bersama warga dan kepala desa


"Bu Viara, ibu nggak apa-apa? Wajah ibu pucat banget" Kata Bu Dara cemas


"Saya nggak apa-apa bu" jawab Viara menunjukkan senyumnya sambil menahan sensasi pening di kepalanya


"ibu istirahat aja dulu yah, biar kami yang lanjutkan sisahnya" Ujar Bu Yuna cemas


"Tapi bu saya nggak enak sama ibu-ibu yang lain" Tolak Viara dengan suaranya yang semakin pelan


"Nggak kok bu, mereka pasti mengerti kondisi ibu sekarang. Ibu duduk disini yah" Ucap Bu Yuna membantu Viara untuk duduk.


Karena tak kuat lagi menahan sakit di kepalanya, Viara menyandarkan tubuhnya di bahu bu Yuna dan perlahan-lahan menutup matanya hingga tak sadarkan diri


"Astaghfirullah bu Viara!!!" Teriak Bu Yuna khawatir


Para ibu-ibu yang mendengar teriakan cemas Bu Yuna segera mendekati Bu Yuna untuk membantu mengangkat tubuh lemah Viara


"Baringkan dia di sofa ini bu" perintah Tara.


Para ibu-ibu yang mengangkat Viara mengangguk dan membaringkan Viara di sofa


"Tolong jaga Viara sebentar yah bu, saya akan mengambil peralatan saya di mobil" pinta Tara mulai berlari ke mobil untuk mengambil peralatannya


Sementara di tempat perbaikan saluran air


"Bang, dek Viara ada diatas. Katanya dia pingsan" Ucap Bang Dani dengan nafas tersengal-sengal.


"Viara?" Tanya Pandu terkejut


"Iyah bang"


Pandu berdiri dari duduknya dan meminta izin kepada Bang Zardan dan juga Kepala desa untuk naik keatas. Setelah mendapatkan izin dari Danru dan kepala desa, Pandu melepaskan pipa paralon yang dipegangnya dan berlari naik keatas menemui Viara


"Astaghfirullah adek!!" Ucap Pandu cemas setelah duduk disamping sofa tempat Viara berbaring


"Kenapa dia bisa begini bu?" Tanya Pandu khawatir


Tara menghentikan langkahnya saat melihat Pandu yang begitu cemas akan keadaan Viara. Tara menjatuhkan kotak peralatannya dan menatap keatas agar air matanya bisa terbendung


"Kuat Tara, jangan lemah" gumam Tara menyemangati diri sendiri.


Tara mengambil kotak peralatannya yang terjatuh dan berjalan mendekati ibu-ibu yang berdiri di dekat Viara


"Iyah bang, kami juga bingung. Bu Viara tiba-tiba pingsan, padahal tadi wajahnya cerah dan semangat banget" Ucap bu Dara


"Ini pak, obati dia dengan ini" ucap Bu Yuna menyerahkan minyak kayu putih kepada Pandu.


Pandu menerima botol kayu putih itu dan mendetkannya di depan hidung Viara.


Tak berselang lama, mata Viara perlahan-lahan terbuka meski pandangannya yang sangatlah kabur. Dalam pandangannya yang kabur, Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah pria diatasnya yang dia kenali sebagai Pandu meski sangatlah kabur


"Abang" panggil Viara pelan

__ADS_1


"Iyah dek, abang disini. Ada apa hmm?" Tanya Pandu lembut sambil mengusap kening Viara


"Haus" ucap pelan Viara


"Ini bang Pandu, dibantu adeknya minum" ujar Bu Yuna menyerahkan segelas air yang langsung diterima Pandu.


Pandu tersenyum dan dengan telaten membantu Viara untuk minum. Pandu juga mengusap tumpahan air di sudut bibir dan dagu Viara yang masih terbaring lemas. Setelah meminum air, mata Viara kembali melihat dengan jelas dan sensasi pening di kepalanya perlahan-lahan hilang


"Adek kenapa? Sakit yah?" Tanya Pandu membantu Viara untuk duduk


"Nggak bang, adek cuman lemas saja, jadinya pingsan" sangkal Viara tersenyum agar Pandu percaya padanya


"Maafkan aku yang kembali berbohong padamu bang, aku tidak mau membuatmu sedih dan khawatir dengan penyakitku ini" kata Viara dalam hati


"Yaudah abang ambilin makan dulu yah" Ucap Pandu lembut


"Ambil yang banyak yah bang, biar kita bisa makan bareng sama abang" pinta Viara diangguki Pandu sambil tersenyum.


Sebelum Pandu melangkah, para ibu-ibu telah datang dengan nampan makanan beraneka lauk di tangan mereka


"Ini bu,pak, silahkan dimakan" Ucap Bu Yuna ramah meletakkan nampan makanan di depan keduanya diikuti ibu-ibu yang lain


"Baik bu terimakasih yah" kata Pandu tersenyum


"Sama-sama, kami permisi dulu yah, pengen siapin makan untuk bapak-bapak di bawah" pamit Bu Yuna


"Iyah bu silahkan" Jawab Viara dan Pandu bersamaan


Bu Yuna tersenyum dan segera menyiapkan makanan untuk para pekerja bersama ibu-ibu yang lain. Sementara Pandu dan Viara duduk bersama beralaskan tikar dan saling menyuapi satu sama lain


"Ikan bakar bumbu rempah ini pasti adek yang masak bukan?" Tanya Pandu membuka tulang ikan


"Hehe Iyah bang, abang kok tahu sih?"


"Soalnya bumbu seperti ini hanya adek saja yang buat" Jawab Pandu memasukkan daging ikan kedalam mulutnya dan mulut Viara


"Iyah bang, tapi bukan adek kok yang bakar ikannya, tapi ibu-ibu istri para pekerja. Adek cuman buat bumbunya saja. Soalnya adek nggak bisa kalau dekat asap" ujar Viara menerima suapan dari tangan Pandu


"Kenapa adek nggak bisa dekat asap?" Tanya Pandu bingung.


Viara langsung mengalihkan topik pembicaraan karena menyadari jika dia salah berucap


"Abang sendiri kenapa nggak pake seragam,padahal teman-teman abang dan babinsa yang lain pada pake seragam?" Tanya Viara yang melihat Pandu tidak mengenakan seragamnya, hanya memakai baju dalam saja


"Yah abang kan kerja di bawah, kalau pake seragam kepanasan dek"


"Kalau abang nggak pake seragam nanti orang lain yang kepanasan bang. Sini adek pakaikan" Ucap Viara berdiri mengambil seragam yang digantung Pandu di tiang dibelakangnya dan duduk kembali berhadapan dengan Pandu.


Viara mencuci tangannya dan melipat lengan seragam Pandu sebelum dikenakan Pandu


"Iyah Bang, kan adek calon istrinya tentara" Jawab Viara tersenyum pada Pandu dan kembali melipat tangan kiri seragam PDL tersebut.


Pandu mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan menguasap lembut puncak kepala Viara


"Iyah calon istrinya abang Pandu" Goda Pandu seketika membuat wajah Viara semerah udang rebus


"Ayo Bang, adek pakaian" Ucap Viara tersenyum manis pada Pandu dan membantu memakaikan seragam PDL itu di tubuh Pandu


"Nah ini baru benar" ucap Viara senang setelah berhasil memakaikan seragam pada Pandu


"Kamu selalu benar sayang" kata Pandu tersenyum sambil memasukkan bakwan di mulut Viara.


Viara tersenyum dan mulai bercerita banyak hal pada Pandu hingga Pandu tertawa dibuatnya. Tara yang sejak tadi mengamati keduanya tak jauh dari posisi mereka tersenyum getir dan berlalu meninggalkan tempatnya berdiri saat ini


"Tunggu kak!!" Tara menghentikan langkahnya mendengar panggilan Viara.


Pandu mengikuti arah pandang Viara dan terdiam melihat Tara yang ada tak jauh dari tempatnya duduk


"Iyah dek, apa apa?" Tanya Tara mencoba tersenyum


"Kita makan bareng yuk kak, kakak pasti belum makan kan? Ini ada banyak lauk disini" pinta Viara sambil tersenyum


"Tapi dek...."


"Ayolah kak, kemarilah" ajak Viara memelas.


Tara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan beranjak duduk disamping Viara


"Dek, abang lanjut kerja dulu yah" pamit Pandu berdiri dari duduknya


"Tapi bang, abang kan belum makan banyak, baru setengah piring"


"Abang udah kenyang dek. Kalau masih lapar kan ada adek, adek bisa masakin buat abang kan" kata Pandu diangguki Viara sambil tersenyum


"Yaudah bang, semangat yah kerjanya" Ucap Viara meraih tangan Pandu dan menyalaminya


"Iyah sayang, jangan pingsan lagi yah, abang nggak mau kamu kenapa-napa" kata Pandu lembut sambil mengusap kepala Viara.


Tara mengalihkan pandangannya ke samping dan menahan air matanya agar tidak tumpah didepan mantan kekasihnya itu


"Iyah sayang" Pandu tersenyum manis pada Viara dan segera berlalu turun ke bawah untuk kembali memperbaiki saluran air

__ADS_1


"Kak Tara kenapa? Kok makannya cuman dilihatin" Tanya Viara


"Kakak nggak nafsu makan dek" JawabTara mencoba tersenyum


"Apa karena makannya nggak enak yah kak?" Tanya Viara kembali


"Bukan dek, kakak hanya tidak berselera aja. Ayo kita bereskan semua ini bersama-sama" Ajak Tara menarik tangan Viara untuk membersihkan meja setelah semua orang menyantap hidangannya.


Viara tersenyum dan ikut membantu ibu-ibu, sesekali Viara tertawa mendengar candaan emak emak yang menurutnya sangatlah lucu.


Beberapa menit kemudian, Kiara dan beberapa gadis desa berjalan mendekati tenda dengan keranjang berisi jagung ditangan mereka. Ketika melihat Pandu ada di bawah sana, Kiara tersenyum senang dan memberikan keranjang yang dipegangnya kepada temannya


"Ehh mau kemana kamu kiara?" Tanya teman Kiara


"Bentar, aku mau ke bawah dulu, ketemu calon pacar" seru Kiara senang


"Cieee, semoga sukses" seru teman-teman Kiara.


Kiara menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan segera turun ke bawah untuk bergabung bersama para tentara yang bekerja di bawah sana


"Hai abang-abang semua" sapa Kiara ramah.


Semua prajurit hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka mulai melakukan pekerjaan mereka dan tak menganggap adanya Kiara di belakang mereka karena para tentara itu tahu kelakuan Kiara yang tak pantas kepada salah satu teman mereka.


"Bang Pandu lagi ngapain?" Tanya Kiara lembut


"Lagi numis makanan" jawab Pandu datar tanpa menatap Kiara di sampingnya.


Kiara mengangguk dan melingkarkan tangannya di lengan Pandu yang tengah duduk memperbaiki pipa


"Jangan marah-marah dong bang, kan aku tanyanya baik-baik" kata Kiara sambil tersenyum.


"Jangan sentuh aku" tegas Pandu melepaskan tangan Kiara kasar, namun Kiara tetap teguh dan kembali merangkul lengan Pandu.


Pandu melirik ke atas dan bernafas lega karena Viara tak melihatnya karena Viara tengah bercengkrama bersama ibu-ibu diatas. Pandu kembali menghempaskan tangan Kiara dan bergeser sedikit ke samping menjauhi Kiara.


"Ayo sayang, jawablah pertanyaannku" pinta Kiara


Pandu terus memperbaiki pipa tanpa memperdulikan Kiara yang terus mengodanya, sedangkan rekan Pandu yang lainnya ingin sekali menendang wanita ini agar tidak menganggu pekerjaan mereka


"Aku punya sesuatu untukmu bang" Ucap Kiara senang dan berlari keatas untuk mengambil sesuatu untuk Pandu. Kiara tersenyum senang dan kembali berlari ke bawah dengan dua tusuk jagung bakar di tangannya


"Ini untuk abang" kata Kiara menyodorkan setusuk jagung bakar kepada Pandu.


Viara yang melihat kejadian itu dari atas sana tersenyum licik dan melangkahkan kakinya turun kebawah menghampiri keduanya


"Sayang" sapa Viara tersenyum yang berdiri 2 meter di belakang Kiara.


Kiara membalikkan badannya dan menatap tajam kepada Viara, sementara Pandu menyunggingkan senyumnya menatap wanita yang sangat dicintainya


"Ini adek juga punya jagung bakar, masih panas lagi. Abang mau kan?" Tanya Viara lembut


"Tentu saja abang mau sayang" balas Pandu tersenyum dan berjalan melewati Kiara yang juga tengah menyodorkan jagung bakar padanya.


"Ini sayang, adek suapin yah" Ucap Viara meniup jagung bakar yang masih panas dan menyodorkannya di depan mulut Pandu.


Pandu mengelus kepala Viara dan memakan jagung bakar yang disodorkan Viara tepat di depan mulutnya


"Semangat bang, jangan kasih kendor!!" seru rekan-rekan Pandu antusias.


Mereka sangatlah senang melihat kedekatan dua kekasih itu, sedangkan wajah Kiara kini telah memerah menahan amarah yang kembali menguasainya


"Hahha adek tahu jagung bakarnya enak, tapi jangan sampai belepotan gini dong" ucap Viara lembut membersihkan bibir Pandu. Viara mengusap pipi Pandu dan tersenyum mengejek kepada Kiara yang berdiri di belakang Pandu sambil mengepalkan tangannya


"Cieeee, lanjut dek" Seru para tentara kegirangan


"Siap bang" jawab Viara tertawa bersama para prajurit, sedangkan Kiara semakin naik pitam dibuat Viara


"Haha, berhubung pembuatan saluran airnya sudah selesai, kita makan jagung bakar bareng diatas yuk. Pak kepala desa sudah menunggu diatas" ajak Viara pada semua teman-teman prajuritnya


"Siap laksanakan" Ucap semuanya dan segera naik keatas bersama-sama.


"Ayo dek" ajak Pandu tersenyum sambil mengenggam tangan Viara dan berjalan bersamanya keatas


"Dasar kau Viara!!!" Geram Kiara kesal dan menendang pipa paralon di sampingnya dengan keras.


Prankkk


Viara berbalik kebelakang dan tertawa renyah melihat Kiara yang meringis kesakitan sambil memenangi kakinya


"Aduh...nih pipa bikin nambah kesal deh" geram Kiara memegangi kakinya yang kesakitan dan menatap tajam Viara yang tertawa melihatnya


"Hahha rasain tuh" ucap Viara sedikit meninggi dan tersenyum mengejek kepada Kiara


"Ohh ya satu lagi nona, Pandu hanya akan menjadi milik Viara, bukan Kiara" Ucap Viara diangguki Pandu sambil tersenyum


"Benar sayang, abang hanya milikmu, dan akan menjadi milikmu selamanya"


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya yah😉

__ADS_1


Terimakasih Semua


Love You All😘💞


__ADS_2