
Karena tak kunjung menemukan benda yang dicarinya, Pandu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke pos tentara sambil merogoh ponselnya yang ada didalam saku celananya
Ketika Pandu menyalakan ponselnya, Pandu tertegun melihat 10 panggilan tak terjawab dari Viara
"Adek!!" gumam Pandu langsung menghubungi Viara.
Sudah berkali-kali Pandu menghubungi Viara namun terdengar suara yang menyerukan jika nomor Viara tidak aktif di ponsel Pandu. Karena rasa khawatir yang merajai hatinya, Pandu berlari agar lebih cepat sampai di rumah dinas para guru
Sesampainya di rumah dinas para guru, Pandu melangkahkan kakinya mendekati Ila yang tengah memakai sepatunya didepan teras
"Assalamu'alaikum dek. Apa dek Viaranya ada?" Tanya Pandu
"Walaikumsalam bang, Viara udah pergi ke kota sekitar 30 menit yang lalu bang" Jawab Ila ramah
"Hah, kota?" Tanya Pandu terkejut
"Iyah bang, Viara bilang dia ke kota hari ini, katanya ada urusan. Apa dia nggak kasitau sama abang?" Tanya Ila kebingungan melihat wajah terkejut Pandu
"Dek Viara akan memberitahuku dek. Tadi abang lihat ada 10 panggilan tak terjawab dari Viara di ponsel abang. Kemungkinan sinyal saat itu nggak ada jadinya Viara nggak sempat minta izin pergi sama abang" tutur Pandu menjelaskan
"Sepertinya begitu bang"
"Ngomong-ngomong mau apalagi Viara ke kota? lalu kapan dia pulang?" Tanya Pandu kembali
"Katanya ada urusan sih bang di kota, adek nggak tahu urusan apa. Adek nggak tahu kapan dia pulang bang, mungkin kalau Viara pulang dari kota seperti biasanya yaitu sore atau besok. Tapi kita tunggu saja kabar dari Viara" tutur ila menjelaskan
"Hmm baiklah, kalau begitu abang ke pos dulu yah. Assalamu'alaikum" pamit Pandu
"Iyah bang, Walaikumsalam"
"adek kenapa yah, kok sejak bertugas disini adek selalu pergi ke kota dan nggak pernah kasitau alasannya. Apa ada yang dia sembunyikan yah?" gumam Pandu berselidik
_____________
Sesampainya di rumah sakit kota, dengan sisa tenaganya, Viara melangkahkan kakinya menuju ke ruangan pemeriksaan dokter Citra
Ceklek (Bunyi pintu dibuka)
"Assalamu'alaikum dokter Citra" sapa Viara lemah
"Walaikumsalam Viara" balas dokter Citra tersenyum
Karena tak kuat lagi menahan sesak dan rasa sakit dikepalanya, Viara menjatuhkan tas yang dipegangnya dan ambruk tak sadarkan diri
Bruk
"Astaghfirullah Viara!!!" Teriak dokter Citra berlari cepat kearah pintu dan langsung menahan tubuh Viara.
Mendengar teriakan dokter Citra, perawat yang berjalan didepan ruang dokter Citra langsung masuk ke ruang pemeriksaan dokter Citra dan membantu membaringkan Viara di brankarnya.
Setelah membaringkan Viara dengan sempurna, Dokter Citra membuka masker yang dikenakan Viara dan terperanjat kaget melihat darah yang telah mengalir dan meninggalkan banyak jejak di hidung dan juga di masker yang dikenakannya
Dokter Citra meraih alatnya dan langsung melakukan penanganan intensif pada Viara
"Dokter, paru-paru pasien sangat lemah" lapor salah satu suster yang membantu dokter Citra
"Iyah dokter, sel kankernya semakin lama semakin bertambah dan menyebar" Ucap suster satunya lagi
"Lakukan penanganan padanya, kita harus segera mematikan sel kankernya sebelum sel itu menyebar ke area mata dan otaknya" perintah dokter Citra
"Baik dokter" Ucap kedua suster itu serentak mulai menangani Viara bersama dokter Citra
"Bertahanlah Viara, aku yakin kamu pasti bisa sembuh" lirih dokter Citra menjauhkan air matanya menatap wajah pucat Viara
Setelah 5 jam melakukan penanganan intensif, Dokter Citra dan dua Suster yang membantunya bernafas lega telah berhasil mematikan sel kanker yang hampir menyebar ke kepalanya dan nafas Viara yang sudah normal dan teratur. Sebelumnya ditengah penanganan berlangsung, Viara mengalami drop hingga membuat nafasnya tersengal-sengal, beruntung karena penanganan cepat dari dokter Citra, nyawa Viara kembali tertolong
"Alhamdulillah" gumam dokter Citra dan kedua suster itu bersamaan
"Bertahan dan tetaplah kuat yah Viara, aku dan keluargamu tak mampu jika harus kehilanganmu" gumam dokter Citra mengecup kening Viara dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya. Dokter Citra mematikan ponsel Viara dan meletakkannya diatas nakas agar tidak menganggu Viara yang tengah istirahat dan lelah setelah menjalani kemoterapi darurat tadi
__ADS_1
"Istirahatlah yang tenang yah, aku akan menunggumu bangun" gumam dokter Citra tersenyum pada Viara dan menutup pintu ruangan
____________
Di depan pos tentara, Pandu terus mondar-mandir dengan ponsel yang setia dilekatkan nya di telinganya
"Ada apa Pandu, mondar-mandir kayak setrikaan aja" Tanya Bang Zardan sambil membaca berita di ponselnya
"ini bang, dek Viara pergi ke kota sejak tadi pagi. Tapi ini sudah pukul 8 malam dan dek Viara sama sekali belum memberiku kabar. aku cemas bang" Ucap Pandu resah. Mendengar ucapan Pandu, bang Zardan berhenti membaca berita di ponselnya dan beralih menatap Pandu
"Mungkin dek Viara udah tidur sekarang, atau lagi mengerjakan tugas. Dia kan seorang guru, pasti dia juga punya banyak tugas. Yang perlu kamu lakukan hanyalah berpikir positif dan terus doakan dia selama dia tidak ada disampingmu" tutur bang Zardan.
Pandu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan-lahan
"Baiklah bang, kalau begitu aku masuk duluan. Pengen tidur udah ngantuk nih" pamit Pandu melangkahkan kakinya memasuki kamarnya
"Iyah yah, nggak biasanya Viara kalau pergi nggak minta izin dulu. Kalaupun dia tidak pamit, biasanya dia akan menelpon untuk memberitahu alasannya pergi. Apa ada sesuatu yang disembunyikannya yah?" gumam Bang Zardan berselidik
_____________
Disaat sinar bulan telah digantikan dengan cahaya matahari yang menyinari bumi, Viara perlahan-lahan membuka matanya yang baru saja terbangun dari tidurnya. Viara menyunggingkan senyumnya menyadari jika dia masih bernafas dan masih bisa merasakan hangatnya sinar mata hari pagi yang masuk melalui jendela ruang rawatnya.
Ceklek
Pintu ruang rawat terbuka menampakkan dokter Citra yang berjalan memasuki ruangan
"Dokter" sapa Viara berusaha bangun dari posisi berbaringnya
"Bagaimana perasaanmu, sudah lebih baik?" Tanya Dokter Citra lembut membantu Viara untuk bersandar sempurna
"Iyah dokter, tapi aku masih merasa sedikit pusing. Apa penyakitku sudah semakin parah dokter?" Tanya Viara berkaca-kaca.
Dokter Citra mengusap lembut pipi pucat Viara dan mengangguk pelan padanya
"Katakan dokter, apa hidupku sudah tidak lama lagi? apakah dokter bisa memprediksi berapa lama lagi usiaku untuk hidup?" Tanya Viara berusaha menahan air matanya
Viara mengangukkan kepalanya dan berhambur memeluk dokter Citra
"dokter, tetap jagalah rahasia ini yah hiks.. Jangan sampai keluargaku tahu tentang penyakitku. Aku tidak ingin membuat mereka mencemaskanku. aku sudah banyak menyusahkan mereka dan aku tidak mau kembali membuat mereka khawatir. Tolong jaga rahasia ini yah dokter hiks.." Pinta Viara menangis sesenggukan di bahu dokter Citra
"Iyah Viara, akan kujaga rahasiamu selalu. Tapi suatu saat nanti rahasia itu pasti akan terbongkar Viara" Ucap dokter Citra mengusap lembut punggung Viara
"Iyah aku tahu dokter. Aku berharap aku bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala agar rahasia ini tidak terbongkar, meski kemungkinan untuk sembuh sepenuhnya sangat jauh dari kata mungkin" Ucap Viara menyeka air matanya
"Jangan pernah putus asa Viara, percayalah keajaiban itu pasti akan terjadi. Pertolongan Allah untuk Hamba-Nya akan selalu ada. Teruslah tersenyum dan bahagia yah karena obat yang sesungguhnya adalah hati yang bahagia" tutur dokter Citra sambil tersenyum
"Iyah dokter, terimakasih banyak yah" Ucap Viara kembali memeluk dokter Citra
"Sama-sama Viara, semoga bahagia yah" kata dokter Citra diangguki Viara sambil tersenyum
Viara melepaskan pelukan dokter Citra padanya dan hendak mengganti pakaiannya
"Loh mau kemana Viara, kamu masih harus dirawat di rumah sakit satu hari lagi" Tanya Dokter Citra kebingungan
"Aku mau pulang dokter. Aku sudah merindukan bahagiaku yang pasti sedang menungguku di desa sekarang. Aku ingin bahagia bersamanya di sisa hidupku dokter. Percayalah aku baik-baik saja kok" tutur Viara sambil tersenyum
"Baiklah Viara" seru dokter Citra setuju
Viara mengangukkan kepalanya pada dokter Citra sambil tersenyum dan berlalu mengganti pakaiannya. Setelah urusannya di rumah sakit selesai, Viara melangkahkan kakinya menuju halte bus untuk pulang ke desa
Didalam perjalanan, Viara yang akan menghubungi Pandu tertegun melihat ponselnya yang kehabisan baterai
"Bagaimana ini, aku pergi tanpa izin sama abang. Semoga abang nggak marah nanti" gumam Viara harap-harap cemas.
"Hai Bu Viara" sapa seseorang yang Viara kenali suaranya. Ketika Viara menoleh ke sampingnya, Viara tersenyum melihat Pak Dino yang sudah duduk nyaman di sampingnya
"Loh, bapak cari kota juga?" Tanya Viara
"Iyah Viara, aku punya sedikit urusan di kota kemarin" Ucap Pak Dino tersenyum.
__ADS_1
Pak Dino dan Viara lanjut bercengkrama dan tertawa bersama hingga keduanya tidak menyadari ada seseorang di kursi penumpang paling depan tengah memperhatikan keduanya sambil memikirkan sesuatu untuk dua orang itu
Seketika rasa pening kembali merajai kepala Viara hingga Viara berhenti bercengkrama bersama pak Dino sambil memegangi kepalanya. Dengan sisa tenaganya, Viara meraih masker di tas miliknya dan langsung memakainya agar darah yang siap menetes di hidungnya tidak mengundang rasa khawatir seseorang
"Viara, kamu tidak apa-apa?" Tanya Pak Dino cemas melihat wajah pucat Viara
"Iyah Pak, saya nggak apa-apa" Ucap Viara pelan sambil menahan rasa sakit yang semakin menyerang kepalanya
Karena tak kuat lagi menahan sakit, Viara menyandarkan kepalanya di bahu Pak Dino dan tak sadarkan diri
Pak Dino menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang sudah terlelap di bahunya sambil merasakan debar jantungnya yang berdisko riah di dadanya
"Cantik" gumam Pak Dino
"Kesempatan" gumam seseorang didepan sana mengeluarkan kameranya dan diam-diam memotret dua orang dibelakang sana
"Kita lihat saja, bagaimana hasil akhirnya nanti. hihi"
__________
Sesampainya di halte bus desa sebelah, Viara yang sudah tersadar sejak satu jam yang lalu melangkahkan kakinya menaiki ojek untuk mengantarnya ke desanya. Sebelumnya Pak Dino mengajak Viara untuk pulang bersama, namun Viara tak mau terjadi salah paham nanti saat dia pulang bersama pak Dino apalagi Viara yang pergi tak meminta izin dari kekasihnya.
"Nggak sabar ketemu abang" gumam Viara senang sambil memperhatikan jalanan yang dilewatinya
Setelah membayar ojek yang mengantarnya sampai ke desa, Viara membalikkan badannya dan menyunggingkan senyumnya melihat Pandu yang tengah nongkrong sendirian di depan pos sambil memperhatikan ponselnya. Viara melangkahkan kakinya mendekati Pandu dengan jantungnya yang berdetak sangat cepat karena terlalu merindukan tatapan mata pemilik hatinya itu
"Assalamu'alaikum abang sayang" sapa Viara lembut. Pandu mendongkakkan kepalanya dan membalas senyuman manis Viara padanya
"Walaikumsalam sayang" jawab Pandu berdiri dari duduknya dan membawa Viara kedalam pelukannya
"Adek kok ke kota nggak kasitau abang sih, abang cemas tahu!! Tapi syukurlah adek baik-baik saja" Ucap Pandu senang dan mengecup lembut puncak kepala Viara
"Adek mau kasitau abang, tapi ponsel abang nggak bisa dihubungi. mungkin karena sinyal yah bang?"
"Iyah dek, abang berada di lokasi tanpa sinyal kemarin" Ucap Pandu membawa Viara untuk duduk di sampingnya
"Lalu apakah kekasihku yang tampan ini sudah makan?" Tanya Viara lembut
"Belum dek, abang baru aja balik dari rumah Pak Dullah, menolong anak sapi yang jatuh ke sumur" Ucap Pandu dengan wajahnya yang terlihat kelelahan
"Tetap semangat kerjanya yah sayangku" kata Viara mengusap lembut pipi Pandu yang tersenyum manis padanya
"Kita makan bareng yuk bang, tadi adek beli sekotak nasi ayam bakar di jalan menuju ke halte bus kota. Adek suapi yah" pinta Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum
Pandu membuka mulutnya dan mulai menerima suapan lembut dari kekasihnya, begitu juga dengan Viara yang menerima suapan dari tangan Pandu sambil tersenyum. Setelah menghabiskan makanannya bersama, Viara membersihkan meja dan membuang kotak bekas makanan mereka di tempat sampah
"Abang, adek pulang ke rumah adek dulu yah"
"Ke rumah? tapi abang belum siapin mahar untuk melamar adek loh" Goda Pandu
"Hahha,pulang di rumah dinas adek maksdunya abangku sayang, nanti setelah tugas kita berdua selesai di desa ini, maka abang boleh datang ke rumah adek dan melamar adek disana" tutur Viara
"Siap laksanakan komandan" Ucap Pandu membuat Viara tertawa
"Adek pulang dulu yah bang, Assalamu'alaikum abang sayang" pamit Viara meraih tangan Pandu dan menyalaminya
"Walaikumsalam dek, semangat yah" seru Pandu dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum.
Pandu terus menatap punggung Viara yang berjalan masuk ke rumahnya sambil tersenyum
"Yang menjadi takdirmu, akan mencari jalannya sendiri untuk menemukanmu. kupikir aku tidak akan bertemu lagi denganmu dek. Aku mencintaimu dalam diam selama 8 tahun dan selalu mendoakanmu di sepanjang malamku. Sekarang aku telah menikmati hasil dari doaku yang selalu kupanjatkan dimana ada namamu disana yang kulangitkan bersama harapan-harapan indah lainnya. Aku mencintaimu gadis bermaskerku"
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya yah😉
Terimakasih Semua
Love You All💞
__ADS_1