
2 bulan telah berlalu, kemarin adalah hari terakhir Viara bersama keempat temannya bertugas di desa itu. Semua teman-temannya merasa sangat senang dan tak sabar lagi berkumpul kembali bersama keluarga mereka, begitu juga Syifa dan Ila yang terus mengoceh senang sepanjang perjalanan pulang bersama Viara
"Waktu yang ditunggu akhirnya telah tiba Viara. Aku sudah tidak sabar lagi ingin kembali ke kota dan menikah bersama Bang Rama. Aku senang sekali Viara" Seru Ila senang setelah menghadiri acara perpisahan mereka di balai desa tadi
"Iyah Ila, aku juga sangat senang. Aku tak sabar untuk bertemu keluargaku kembali" Ucap Viara tersenyum pada Ila
Drttt....Drrttt....Drrttt
Ila merogoh ponselnya yang bergetar didalam tas nya dan menjawab panggilan masuk dari seseorang tanpa nama
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ila Ramah
(........)
"Benarkah?" seru Ila berbinar
(........)
"Baiklah saya akan segera kesana. Terimakasih informasinya" Ucap Ila tersenyum dan mematikan sambungan teleponnya
"Ada apa ila?" Tanya Viara penasaran
"Suster di puskesmas baru saja memberitahuku kalau Pak Dino sudah terbangun dari komanya tadi pagi. Dia meminta kita untuk datang menjenguk Pak Dino disana" Seru Ila menjelaskan
"Benarkah?" Tanya Viara senang
"Iyah Viara, ayo kita kesana" Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan langsung menaiki becak bersama Ila menuju ke puskesmas dimana Pak Dino dirawat
__________
Setelah sampai di depan ruang rawat pak Dino, Viara membuka pintu ruangan dan berjalan mendekati Pak Dino yang tersenyum padanya
"Pak Dino, anda sudah sadar? Bagaimana kondisi bapak sekarang?" Tanya Viara menatap Pak Dino dengan sendu
"Alhamdulillah saya sudah baik-baik saja Viara" Jawab Pak Dino tersenyum pada Viara.
"Pak, kalau bapak bisa, tolong maafkan aku. Karena kesalahku, bapak sampai terbaring lemah selama 4 bulan disini. Maafkan saya yang refleks memeluk bapak 4 bulan yang lalu sehingga kekasih saya marah dan memukul bapak sampai seperti ini. Tolong maafkan saya pak" lirih Viara mengatupkan kedua tangannya Pada Pak Dino dengan matanya yang siap menumpahkan bulir bening kembali
Pak Dino menurunkan tangan Viara dan menyunggingkan senyuman padanya
"Tidak Viara, ini bukanlah kesalahnmu. Kamu tak sengaja melakukan itu karena pada saat itu, kamu sangat bahagia hingga refleks memeluk saya. Itu tentu bukan kesalahnmu Viara, dan tidak ada yang harus disalahkan dalam masalah ini. Semua ini terjadi karena kesalahpahaman semata, dan aku sudah berdamai bersama kejadian itu semalam. Jadi tidak usah khawatir yah, semuanya akan baik-baik saja" jelas Pak Dino tersenyum pada Viara.
Viara menyunggingkan senyuman mendengar ucapan Pak Dino
"Terimakasih banyak Pak, terimakasih sudah memaafkan saya" Ucap Viara senang menghapus air matanya dengan punggung tangannya
"Iyah Viara, saya juga sudah baik-baik saja kok, jadi sekarang kamu tenang yah" Kata Pak Dino dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum
"Lalu bagaimana dengan kekasihmu Viara? Hubungan kalian baik-baik saja kan?" Tanya Pak Dino membuat senyuman Viara perlahan-lahan memudar. Kepalanya kembali tertunduk ke bawah tak mau menampakkan kehancuran yang terlihat sangat jelas diwajahnya
"Tidak Pak Dino, karena kesalahpahaman itu, hubungan mereka berdua sangat renggang dan tidak ada kata baik-baik saja" Jawab Ila membuat Pak Dino terkejut tak percaya, seketika bulir bening kembali lolos di mata Viara
"Katakan padaku semuanya Ila, apa yang terjadi karena kesalahpahaman itu?" Tanya Pak Dino khawatir
"Begini Pak..." Ucap Ila terhenti karena Viara menahan tangannya
"Jangan Ila..." lirih Viara menggeleng pelan kepada Ila
"Kamu tenang saja Viara, biarlah Pak Dino tahu segalanya agar kita bisa mencari sedikit titik cerah bersama" Ucap Ila lembut membantu Viara untuk duduk
"Sebenarnya...." Ila mulai menceritakan semuanya dari awal dan tak ada satupun yang dia tutup tutupi dari Pak Dino. Ila bahkan sampai menjatuhkan air matanya sambil terus menceritakan semua yang terjadi pada Viara selama 4 bulan belakang. Pak Dino membulatkan matanya sempurna mendengar penjelasan ila, ketika pak Dino melirik Viara, Viara terus saja menundukkan kepalanya dan menangis dalam diam
"Begitulah ceritanya pak, sekarang bapak lihat sendiri kan bagaimana hancurnya Viara karena kekasihnya yang tak mau mendengarkan penjelasannya lagi" Ucap Ila berusaha tegar sambil mengelus punggung bergetar Viara.
Viara menghapus air matanya dan melangkah kakinya mendekati Pak Dino
"Sekali lagi terimakasih sudah memaafkan saya yah Pak, saya sangat berhutang budi pada bapak. Dan ini gaji bapak selama 4 bulan belakang ini. Mohon diterimah yah Pak" Ucap Viara menujukkan senyum tulusnya.
Setelah amplop itu telah diberikannya kepada Pak Dino, Viara tersenyum pada kedua rekannya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan
"Gaji, tapi saya kan tidak bekerja selama 4 bulan ini?" Kata Pak Dino bingung melihat amplop yang diberikan Viara
"Selama bapak koma, Viara lah yang menggantikan tugas mengajar bapak disekolah. Bahkan dia selalu hadir setiap hari di sekolah untuk mengajar dan menggantikan tugas bapak disana. Semua ini Viara lakukan sebagai bentuk permintaan maafnya pada bapak" Tutur Ila menjelaskan
"Tapi mbak Ila, Viara sama sekali tidak bersalah atas semua yang terjadi. Mengapa dia menanggung kesalahan yang tidak dia perbuatan sama sekali?" kata Pak Dino kebingungan
"Iyah Pak, saya juga bingung dengan Viara. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri selama ini. Dia juga menanggap dirinya bersalah pada kekasihnya. Oleh karena itu Viara selalu menunggu kekasihnya datang menemuinya agar Viara bisa meminta maaf padanya. Namun usahanya berdiri di depan pintu setiap pagi dan sore tidak berhasil Pak, Orang yang selalu dinantinya tak kunjung datang menemuinya seolah melupakan Viara dalam sekejap saja" Ucap Ila mencoba tersenyum pada Pak Dino.
Pak Dino menghela nafasnya kasar teringat sesuatu yang terjadi dulu
"Aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahpahaman yang terjadi selama ini. Aku berjanji akan mengembalikan senyuman ceria mu seperti dulu lagi Viara. Sudah cukup kamu menderita atas segala kesalahan yang tidak kamu perbuat, sudah cukup kamu menangis dan menahan beban hatimu seorang diri selama ini. Aku berjanji akan menemui kekasihmu dan menjelaskan apa yang sebenarnya tejadi, sebelum semuanya terlambat" gumam Pak Dino sambil mengingat wajah Viara
_________
Hari ini adalah hari terakhir untuk kelima guru tersebut berada di desa yang warganya sudah dianggap sebagai keluarga mereka. Tangis warga pecah mengantar kepergian guru-guru baik itu di halte bus desa sebelah. Mereka berbondong-bondong mengantarkan kepergian kelima guru itu seolah tak mau melepaskan kepergian mereka.
Setelah menempuh perjalanan darat selama 5 jam, kini mereka telah sampai di pelabuhan kota dan siap menaiki kapal yang akan mengantar kepulangan mereka
"Aku akan merindukan kalian semua teman-teman" Ucap Syifa memeluk ke empat temannya secara bergantian
"Iyah, aku juga akan merindukan kalian semua, jangan lupakan aku yah" Ucap Devan diikuti Juna
"Iyah teman-teman, semoga kita bisa bertemu lagi di kemudian hari. Jangan pernah lupakan aku yah" Ucap Viara tersenyum pada ke empat temannya
"Iyah Viara, kami akan selalu merindukanmu" kelimanya melakukan tos pertemanan dan tertawa renyah sebelum akan berpisah beberapa menit lagi
"Kapalnya sebentar lagi akan berlayar, kami pergi dulu yah, jaga diri kalian baik-baik, dan jangan lupakan satu hal, tetap kasih kabar yah" Ucap Devan diangguki semuanya sambil tersenyum.
Devan, Juna dan syifa mulai melangkahkan kakinya menaiki kapal yang sebentar lagi akan berlayar, sementara Ila menghentikan langkahnya karena Viara yang tak berjalan bersama untuk menaiki kapal
"Kamu tidak ikut pulang bersama kami Viara?" pernyataan Ila sontak membuat teman-teman yang lainnya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap keduanya
"Aku ada urusan di kota ini Ila, kemungkinan aku akan kembali ke kota 2 hari lagi" jawab Viara tersenyum pada semua temannya
"Baiklah Viara, jaga dirimu baik-baik disini yah. Kalau kamu sudah sampai di kota kita, beritahu aku agar aku datang mendekat jemputmu bersama Bang Rama" Kata Ila sambil tersenyum
"Iyah siap komandan" jawab Viara membuat teman-temannya tertawa
"Hahaha, kalau begitu kami pergi dulu yah" pamit Ila mewakili semua rekannya
"Assalamu'alaikum Viara" kata keempatnya serentak
"Walaikumsalam teman-teman" jawab Viara sambil tersenyum dan membalas lambaian teman-temannya padanya
"Aku akan merindukan kalian semua teman-teman, terimakasih sudah berbagai cerita dan pengalaman baru bersamaku. Semoga kita bisa bertemu kembali" gumam Viara menatap nanar pada kapal yang mulai berlayar menbawa teman-temannya
Dokter Citra yang sejak tadi berdiri tak jauh dari belakang Viara melangkahkan kakinya mendekati Viara yang masih setia berdiri menatap kapal di depan sana
"Viara, ayo kita kembali ke rumah sakit" ajak dokter Citra sambil tersenyum
"Iyah dokter, ayo" Viara tersenyum pada dokter Citra dan mulai melangkahkan kakinya bersama dokter Citra
__________
Sesampainya di rumah sakit
"Viara, kamu langsung ke ruanganku saja yah, ada beberapa hal yang harus kuurus di meja resepsionis, aku akan menemuimu disana segera" Kata dokter Citra
"Baiklah dokter" Ucap Viara dan langsung menuju ke ruangan dokter Citra
Didalam ruangan dokter Citra, Viara mendudukkan dirinya di brankar pemeriksaan dan terus mengamati setiap sudut ruangan dokter Citra. Viara menoleh ke samping dan menyunggingkan senyumnya melihat foto dokter Citra dan Iqbal yang terpajang di dinding
"Aku senang akhirnya sebentar lagi kalian akan segera menikah. Perjuangan dokter Citra untuk mendapatkannya sangat bagus dan patut diacungi jempol" gumam Viara tersenyum mengingat perjuangan dokter Citra untuk mendapatkan orang yang dicintainya.
Viara melangkahkan kakinya kembali duduk di brankar namun matanya tak sengaja melirik sebuah undangan diatas meja dokter Citra
"Undangan siapa ini?" gumam Viara mengamati undangan ditangannya.
Ketika membaca nama yang tertera di undangan itu, bulir bening seketika lolos dari matanya, hatinya kembali dihantam batu yang sangat besar hingga suara tangisnya terdengar pilu
__ADS_1
"Ini, ini tidak mungkin hiks... Abang!!" lirih Viara menangis histeris di ruangan dokter Citra.
Kakinya seketika terasa sangat lemah hingga tubuhnya terhuyung kebelakang, beruntung dokter Citra yang baru memasuki ruangannya refleks menahan tubuh Viara yang kembali tak sadarkan diri
"Astaghfirullah Viara, bangun Viara, bangun!!" Ucap Dokter Citra menepuk-nepuk pipi pucat Viara.
Ketika Dokter Citra menepuk pipi pucat Viara, matanya tak sengaja melirik undangan yang masih di pegang Viara, seketika dokter Citra tersenyum getir menatap wajah pucat yang tubuhnya masih ditahannya sekarang. Dokter Citra memapah tubuh lemah itu dan membantu membaringkannya di brankar pemeriksaan
"Pasti kamu syok dan tertekan setelah melihat undangan ini" gumam dokter Citra menatap nanar pada Viara sambil memasangkan alat bantu pernapasan di hidungnya
"Sampai kapan lagi tubuh yang rapuh dan lemah ini menahan semua derita dan sakit hati yang teramat ini. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku tak akan sekuat dirinya" gumam Dokter Citra meneteskan air matanya mengingat penderitaan yang dialami temannya selama ini
"Berikan dia bahagia sebelum dia pergi menghadap-Mu Ya Rabb"
__________
45 menit kemudian, Viara mulai sadarkan diri dan perlahan-lahan membuka matanya. Dalam pandangannya yang masih sangatlah kabur, Viara menatap bayangan dokter Citra yang berdiri disamping brankarnya
"Viara, kamu sudah bangun?" Tanya Dokter Citra
"Iyah dokter" jawab Viara pelan
Setelah pandangannya kembali normal, dengan tangan yang gemetar hebat, Viara mengambil undangan yang tersimpan diatas nakas
"Tidak lama lagi mereka akan bertunang dan segera menikah yah dokter" Kata Viara tersenyum getir melihat foto kedua mempelai yang tertera di undangan tersebut
"Iyah Viara, 3 hari lagi mereka akan bertunangan dan beberapa hari kemudian mereka akan melakukan acara pernikahan mereka" seketika air mata Viara kembali lolos di matanya mendengarkan ucapan dokter Citra
"Ternyata semudah itu dia melupakanku. Dia tak mau menoleh kebelakang dan menemuiku, karena dia telah memiliki seseorang yang jauh lebih baik dariku" kata Viara mencoba tersenyum pada dokter Citra meski air mata sejak tadi tak bisa lagi terbendung. Dokter Citra mengangukkan kepalanya dan mengusap lembut punggung Viara
"Dokter, apa aku masih diberi nafas tiga hari yang akan datang? Aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kalinya" lirih Viara mengenggam tangan dokter Citra.
Dokter Citra menjatuhkan air matanya dan menatap nanar pada Viara
"Aku, aku akan berusaha untuk membuatmu masih bisa bertahan Viara. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu bisa mewujudkan keinginan-keinginan terakhirmu" lirih dokter Citra mengenggam tangan Viara
"Terimakasih banyak dokter, terimakasih atas semua perjuanganmu untuk membuatku tetap bertahan selama ini. Maafkan aku yang kembali menyusahkanmu karena penyakit ku sudah mencapai stadium 3 yah. Aku akan mengenangmu selamanya dokter" Ucap Viara tersenyum tulus pada dokter Citra.
Dokter Citra mengangguk dan menghapus air matanya dengan punggung tangannya
"Iyah Viara, sekarang kita mulai kemoterapinya yah" Viara mengangguk pada dokter Citra dan membiarkan dokter Citra melakukan tugasnya.
"Mungkin benar, jika bahagiamu memang bukanlah bersamaku" gumam Viara tersenyum mengingat wajah kekasihnya dan perlahan-lahan menutup mata
__________
Setelah selesai menjalankan kemoterapi yang begitu menyiksa, Viara merasakan mual dan sakit yang hebat ditubuhnya sehingga kembali membuatnya meneteskan air mata
"Dokter hiks.. Apa aku masih bisa hidup beberapa hari lagi" lirih Viara memeluk dokter Citra dan menangis sesenggukan di bahunya. Dokter Citra ikut meneteskan air mata mendengar suara tangisan Viara yang terdengar sangat pilu dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya
"Tentu saja kamu masih bisa hidup sedikit lebih lama lagi. Tubuhmu sangat kuat menahan efek kemoterapi yang berbeda dari biasanya dan lebih menyiksa ini. Kamu adalah wanita yang kuat Viara, mampu menahan semua ini sendirian dan tak mau orang lain mengkhawatirkanmu" tutur Dokter Citra mengusap lembut punggung Viara yang menangis di bahunya berusaha untuk menenangkannya
"Inilah aku dokter. Aku tidak ingin membuat orang lain khawatir atau menangis karena aku. Cukup aku saja yang menahan semua ini sendirian, asalkan orang-orang yang aku kenal selalu tersenyum dan tidak mengkhawatirkanku lagi" Ucap Viara sambil menghapus air matanya
"Tapi sampai kapan kamu akan menahan ini semua Viara?" Tanya Dokter Citra berlinang air mata
"Sampai aku pergi untuk selamanya dokter, karena ketika itu tiba, aku tidak akan pernah merasakan sakit lagi" Ucap Viara sambil tersenyum dan menghapus air mata dokter Citra dengan lembut
"Jika saatnya telah tiba nanti, tolong katakan yang sebenarnya pada keluargaku yah dokter. Katakanlah pada mereka jangan menangisi kepergianku, karena aku tidak akan pernah beristirahat dengan tenang jika melihat mereka bersedih karena kepergianku" Pinta Viara memelas yah diangguki dokter Citra
"Baiklah Viara, sekarang kamu istirahat yah, lusa kita akan kembali ke kota untuk memenuhi semua keinginan terakhirmu selama ini" Kata dokter Citra membantu Viara untuk berbaring.
Viara tersenyum pada dokter Citra dan perlahan-lahan menutup mata sembabnya
"Kasihan sekali kamu Viara, kamu sudah melewati semua ini dan kamu belum juga mendapatkan kebahagiaan seperti yang kamu impikan. Semoga di sisa hidupmu ini, kamu diizinkan merasakan bahagia dan nikmat yang sesungguhnya, agar kamu bisa beristirahat dengan lelap dan penuh ketenangan nanti" Ucap Dokter Citra memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Viara
"Jika aku jadi kamu, aku tak akan kuat dan tangguh sama sepertimu" gumam dokter Citra mengecup lembut kening Viara yang sudah tertidur lelap
__________
Dua hari kemudian, Viara dan dokter Citra langsung kembali ke kota asal mereka dengan menaiki pesawat
"Kamu tidak apa-apa saat pesawat mengalami turbulensi tadi?" Tanya Dokter Citra pada Viara yang duduk di sampingnya
"Dokter, aku ingin tidur. Kalau kita sudah mendarat nanti, tolong bangunkan aku yah" pinta Viara pelan
"Iyah Viara, istrahatlah " balas dokter Citra lembut.
Viara tersenyum dan perlahan-lahan menutup matanya karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit dikepalanya
5 jam kemudian, pesawat telah mendarat dengan sempurna di bandara xxxxxx di kota B. Dengan dibantu dokter Citra, Viara melangkahkan kakinya keluar bandara dan tersenyum bahagia karena dia telah kembali pulang ke kota kelahirannya
"Ayo Viara, taksi pesannya sudah datang" ajak Dokter Citra menaiki taksi bersama Viara
"Akan saya antar kemana nyonya?" Tanya Pak supir setelah dua orang penumpangnya duduk nyaman di kursi belakangan
"Viara, kita langsung ke rumahmu yah" Saran Dokter Citra
"Tidak dokter, untuk sementara aku akan tinggal di rumah nenekku. Tapi aku ingin pergi menemui Pandu di acara pertunangannya dokter" Pinta Viara sambil tersenyum, namun terlihat sangat jelas di wajahnya yang menampakkan senyuman tapi air mata siap meluncur deras kembali
"Kamu yakin akan pergi kesana Viara? Aku takut kamu terluka nanti" kata dokter Citra mengelus punggung tangan Viara
"Tidak dokter, aku janji aku tidak akan kenapa-napa. Aku hanya ingin menemuinya untuk melepaskan rindu ini dokter. Aku janji tidak akan menyusahkanmu" Pinta Viara mengatupkan kedua tangannya
"Baiklah Viara" Ucap dokter Citra tersenyum pada Viara
"Pak tolong antar kami ke gedung xxx yaa" Ujar Dokter Citra
"Baik nyonya" Jawab pak supir tersebut dan mulai melajukan taksinya menuju ke tempat yang diinginkan oleh penumpangnya
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, kini Viara telah berdiri di depan gedung yang ingin dia datangi
"Kamu yakin mau tetap masuk kedalam Viara?" Tanya dokter Citra setelah membayar pada supir taksi
"Iyah dokter, ayo kita masuk" Ucap Viara mengenggam tangan dokter Citra dan berjalan masuk bersamanya
"Semoga semuanya akan baik-baik saja di dalam" gumam dokter Citra menatap sendu pada Viara yang terus melangkah di sampingnya
Viara terus melangkahkan kakinya dengan mengenggam erat tangan dokter Citra. Melangkahkan kaki lemahnya untuk bergabung bersama para tamu dan menatap nanar dua orang yang berdiri di depan sana.
Air mata yang dibendungnya sejak tadi seketika tumpah mewakili rasa sakit hatinya saat ini. Batinnya dihajar, otaknya dibanting hingga dia kembali menundukkan pandangannya dan menangis dalam diamnya. Bagaimana tidak? Orang yang dicintainya sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Cincin yang masih indah melingkar di jari manisnya tak akan ada artinya lagi. Ditengah keriuhan dan kebahagiaan para tamu pada dua orang di depan sana, tak mampu membuatnya mengangkat kepalanya dan ikut berbahagia melihat dua orang yang sebentar lagi akan menyematkan cincin di jari masing-masing.
"Walaupun kamu tidak berarti lagi baginya, namun kamu selalu berharga untukku. Meski bukan kamu yang tersemat di jari manisnya, tapi aku bangga melihatmu tersemat indah di jariku. Kamu adalah simbol cintaku untuknya, maka akan ku jaga dan ku sematkan kamu selalu di jari manisku. Meskipun aku tidak akan bisa memilikinya lagi, tapi setidaknya cintaku akan tetap hidup untuknya" gumam Viara mengusap cincin pemberian pandu ditangannya dengan linangan air mata.
Dokter Citra yang bisa mendengar ucapan kecil Viara ikut menjatuhkan air matanya mendengar ucapan Viara yang menyentuh hatinya. Dokter Citra menghapus air matanya dan mengusap lembut punggung bergetar Viara mencoba untuk menguatkannya
"Kamu memang tidak bisa memilikinya, tapi kami akan selalu ada bersamamu" Ucap dokter Citra mengenggam kedua tangan Viara. Viara menganggukkan kepalanya dan berhambur memeluk dokter Citra
"Terimakasih karena selalu ada untukku selama ini" lirih Viara menangis di bahu dokter Citra. Dokter Citra tersenyum pada Viara dan menghapus air matanya
"Penuhilah keinginan terakhirmu". Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum pada dokter Citra dan beralih menatap kekasih hatinya di depan sana
Acara penyematan cincin pun mulai berlangsung, terdengar seruan dan rihuan dari para tamu ketika sang mempelai wanita telah menyematkan cincin di jari manis Pandu. Kini giliran Pandu yang akan menyematkan cincin di tangan Tara.
"Ayo sayang, semantkanlah di jari manisku" Ucap Tara lembut dan tersenyum manis pada Pandu.
Ketika tangannya sudah menyentuh jari Tara, Pandu melirik kearah para tamu yang salah satu dari mereka membuatnya tertegun. Gadis itu berdiri di tengah kerumunan para tamu yang ikut berbahagia, namun tidak dengan dirinya yang tersenyum getir sambil terus menatap Pandu dengan linangan air mata yang tak henti-hentinya membasahi pipi
"Adek...." gumam Pandu menatap sendu pada Viara
"Ayo sayang, tunggu apa lagi?" Ucap Tara lembut. Dengan tangan yang bergetar, Pandu perlahan-lahan menyematkan cincin di jari manis Tara
"Terimakasih sayang"
Prok...prok.. Prok.... Riuh para tamu bertepuk tangan setelah melihat cincin yang telah tersemat di jari kedua mempelai. Pandu beralih menatap gadis tadi, gadis itu masih setia berdiri disana, tertunduk dan menatap nanar pada cincin yang tersemat indah di jari manisnya.
Viara mendongkakan kepalanya, dan tersenyum manis pada kekasihnya yang juga tengah menatapnya di depan sana
"Adek sayang abang"
__ADS_1
"Abang juga sayang sama kamu dek" gumam Pandu yang seolah bisa mendengar kata hati Viara.
Keduanya terus bertatapan cukup lama hingga tatapan keduanya terhenti saat mendengarkan suara MC yang menyerukan sesuatu
"Beri tepuk tangan kepada kedua mempelai yang telah menyematkan ikatan keduanya di jari manis masing-masing" seru MC antusias
Prok.... Prok... Prok...
"Untuk menambah kecerian dan suasana acara, apa ada salah satu dari para tamu yang ingin menyumbangkan lagu?" Tanya MC mengangkat mic kepada para tamu.
Para tamu terdiam dan suasana menjadi hening seketika, namun suara lantang seorang gadis memecah keheningan
"Saya" Ucap Viara lantang.
Semua orang berbalik menatap Viara, begitu juga dengan Tara yang terkejut melihat Viara telah berada di tengah-tengah para tamu. Tara melirik Pandu yang duduk di sampingnya dan menyadari jika Pandu juga terdiam sambil terus menatap Viara di depan sana
"Gawat, semoga gadis itu tidak membuatnya lari meninggalkanku disini" batin Tara khawatir melihat tatapan Pandu yang hanya tertuju pada Viara
"Baiklah nona cantik, segera naiklah kesini" Ajak MC lembut. Viara mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan mulai berjalan kedepan mendekati MC didepan sana
"Berikan tepuk tangan pada nona ini yang sangat berani dan memberikan nafas lega pada para tamu yang tak ingin bernyanyi" seru MC
Prok... Prok.. Prok..
Para tamu kembali bertepuk tangan meriah setelah mendengarkan seruan MC. Para tentara yang menjadi tamu di acara itu bertepuk tangan meriah menyadari siapa yang akan bernyanyi di depan sana
"Ayo dek Viara!!" Seru para tentara yang menjadi teman Viara
"Ayo nona, bernyanyilah dengan lagu yang bertema sedih yah, agar bisa memanas-manasi kedua mempelai" Ucap MC sambil menyerahkan MC kepada Viara
"Tapi saya tidak hafal satupun tentang lagu sedih mbak" kata Viara
"Kalau begitu bernyanyilah dengan lagu yang kamu ketahui saja" Ujar MC menyemangati Viara.
Viara menganggukkan kepalanya dan mulai bergabung bersama band di acara tersebut. Viara mengontrol nafasnya dan mulai menyanyikan lagu yang mengambarkan suasana hatinya
T'lah kucoba t'rus bertahan
Tentang cinta yang kurasa
Ku mencinta, kau tak cinta
Tak sanggup ku terus bertahan
Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu
Memaksamu mencintaiku sepenuh hati
Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu
Tapi terimalah permintaan terakhirku
(Viara menutup matanya menahan sakit di hatinya)
Genggam tanganku, sayang
Dekat denganku, peluk diriku
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku 'tuk yang terakhir
Ku 'kan menghilang jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu, ho-oh
"Pesan terakhir" lirih dokter Citra menjatuhkan air matanya melihat Viara yang bernyanyi di depan sana, begitu juga dengan para tamu yang mulai merekam Viara dan melambai-lambai kan tangan mereka keatas
Ku tak membencimu
Kuharap kau pun begitu
Tak ingin kau jauh
Tapi takdir menginginkan kita 'tuk berpisah
Genggam tanganku sayang
Dekat denganku, peluk diriku
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku 'tuk yang terakhir
Ku 'kan menghilang jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu
Para tamu mulai terdengar riuh dan ikut bernyanyi bersama Viara
Para tamu:
Genggam tanganku, sayang
Dekat denganku, peluk diriku
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku 'tuk yang terakhir
Viara :
Ku 'kan menghilang jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu
"Peluklah aku untuk yang terakhir kalinya" kata Viara dalam hati
Bulir bening berhasil lolos dari mata Pandu mendengar nyayian Viara yang begitu menyentuh hatinya, seolah lagu itu mengandung sebuah pesan dan isi hati Viara untuknya
"Beri tepukan tangan pada nona Viara!!" seru MC mendapatkan tepukan meriah dari para tamu
"Apa ada lagi yang ingin menyumbang lagu...."
Viara segera turun dari mimbar dan berjalan mendekati dokter Citra
"Viara" lirih dokter Citra berhambur memeluk Viara. Viara meneteskan air matanya dan membalas pelukan dokter Citra padanya
"Jangan menangis Viara, sekarang satu dari semua keinginan terakhirmu telah terpenuhi. Ayo kita kembali sekarang" Ucap dokter Citra mengelus punggung bergetar Viara yang terus memeluknya.
Viara mengangukkan kepalanya dan berjalan bersama dokter Citra yang mengenggam tangannya. Sebelum hilang di balik pintu, Viara berbalik dan tersenyum menatap Pandu di depan sana yang juga tengah menatapnya
Viara mengangkat tangannya dan melambaikan tangannya pada kekasih hatinya sebagai tanda perpisahan darinya
__ADS_1
"Selamat tinggal sayang, aku akan selalu merindukanmu. Dalam tidur lelapku, akan selalu terkenang namamu"
Bersambung.....