Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 52. Jebakan Kiara


__ADS_3

Setelah menjalani kemoterapi selama 3 jam, Viara merasakan mual dan muntah yang tak tertahankan. Tubuhnya sangatlah lemah dan sensasi berputar dikepalanya yang cukup hebat memaksanya untuk tetap berbaring. Viara menjatuhkan air matanya melihat tangannya yang penuh dengan rambut rontok setelah dia mengusap kepalanya


"Dokter hiks... hiks.., apa aku masih bisa hidup lebih lama lagi. Kemoterapi yang satu ini sangatlah berbeda dengan sebelumnya. Tubuhku tidak kuat lagi dokter hiks.. hiks..." lirih Viara memeluk dokter citra erat sambil menangis sesenggukan. suara tangisannya sangatlah pilu dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya


"Tentu saja kamu bisa hidup lebih lama lagi Viara, tubuhmu begitu kuat menerima kemoterapi penyembuhan yang cukup menyiksa ini. Rambut rontok dan sesak nafas ini bukanlah penghalang untuk kamu tidak bisa sembuh kembali. Bukankah aku pernah bilang jika obat yang paling ampuh disegala jenis penyakit adalah hati yang bahagia? Teruslah tersenyum dan kuat yah. Aku yakin pasti ada bahagia yang Tuhan ciptakan untukmu setelah ini. Kau wanita yang kuat dan hebat Viara, sangatlah jarang orang yang seperti dirimu yang begitu kuat dan semangat demi bisa sembuh. Untuk sekarang kamu menginap disini satu malam yah" Ucap dokter Citra mengusap punggung Viara mencoba untuk menguatkannya


"Sekarang istirahatlah. Apa kamu tidak merindukan kekasihmu yang menunggumu di desa?" Tanya Dokter Citra diangguki Viara yang mulai tersenyum.


Dokter Citra membantu Viara berbaring di brankarnya dan segera keluar ruangan membiarkan Viara istirahat setelah menjalani kemoterapi yang menguras tenaganya


Dengan berbagai alat yang terpasang di tubuh, hidung dan pergelangan tangannya, Viara berusaha untuk tetap kuat dan tersenyum mengingat wajah orang-orang yang dicintainya.


Viara ingin segera kembali ke desa dan memeluk kekasihnya erat untuk meluapkan rasa rindu yang kembali merajai hatinya


Tingg


Dengan sekuat tenaganya, Viara mengambil ponselnya yang berdering tanda adanya pesan masuk diatas nakas. Viara langsung membuka pesan tanpa nama yang baru masuk di ponselnya. Seketika air matanya kembali mengalir melihat pesan gambar yang dikirimkan seseorang tanpa nama tersebut padanya. Dadanya merasa sangat sesak hingga air mata terus mengalir membasahi pipi melihat gambar itu


"Ini.. Ini tidaklah mungkin, abang tidak akan melakukan hal ini padaku hiks.... Hiks.. Ini tidak mungkin!!"


Flashback On


Setelah kembali dari mengantar kekasihnya di halte bus desa sebelah, Pandu segera menuju ke rumah sekretaris desa dengan Kiara yang berboncengan dengannya. Kini Pandu telah duduk berhadapan dengan pak sekdes, sedangkan Kiara pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk ayah dan tamunya


"Jadi begini pak, di sawah saya, saya menemukan beberapa peluru dan juga pistol yang tersembunyi di area sudut sawah. Ada senapan bermerk xxxxxx dan pistol xxxxyy yang kutemukan lengkap dengan pelurunya di sana. Saya sudah meminta aparat keamanan untuk menyelidiki lebih lanjut dan menyerahkan bukti terkait hal tersebut. Dan ini salah satu peluru yang tidak ku berikan kepada polisi" Ucap pak Karman menyerahkan peluru ke tangan Pandu.


Pandu menerima peluru itu dan mengamatinya dengan serius


"Ini memang benar peluru dari senapan bermerk xxxxxx, tapi siapa yang meletakkan benda berbahaya ini disawah bapak? Apa ada orang yang bapak curigai sebelumnya?" Tanya Pandu memperhatikan peluru di tangannya


"Saya curiga ini adalah salah satu jebakan orang yang memusuhi saya, tapi saya merasa tidak punya musuh diluar sana pak. Polisi juga masih menyelidiki terkait hal tersebut. Jikalau masih terdapat benda berbahaya ini di sawahku maka aparat keamanan akan mengamankan sawah dan juga rumahku. Tapi sebelum itu, saya meminta bapak dan personil abang untuk turut mengamankan rumah saya" pinta Pak Karman


"Baik Pak, akan saya bicarakan dengan Danru agar dia memberi perintah bagi kami". Pak Karman menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan mulai mengobrol bersama Pandu.


Kiara yang sejak tadi mengamati pembicaraan keduanya dari pintu dapur tersenyum dan tak henti-hentinya menatap Pandu didepan sana


"Seperti ucapanku tadi pagi jika aku akan membuatmu menjadi milikku meski kau harus dibenci oleh kekasihmu. Karena hanya Kiara saja yang berhak memilikimu, bukan Viara" gumam Kiara tersenyum licik dan berjalan mendekati temannya yang tengah menyiapkan minuman


"Kamu yakin ingin melakukan hal itu pada bang pandu?" Tanya Santi pada Kiara yang menuangkan sesuatu di salah satu cangkir kopi


"Iyah Santi, apapun akan kulakukan demi bisa memilikinya. Kamu mendukungku bukan? Tenang saja kamu tidak akan terlibat dalam hal ini, cukup jalankan apa yang kita rencanakan semalam. Kamu mengerti kan Santi?" Ujar Kiara dibalas anggukan kepala oleh Santi


"Oke, saatnya menjalankan rencana" Ujar Kiara tersenyum licik dan bergegas ke ruang tamu dengan nampan minuman ditangannya.


Kiara meletakkan secangkir kopi di hadapan ayahnya dan juga di depan Pandu


"Silahkan dinikmati minumannya pak" Ucap Pak Karman mempersilahkan tamunya menikmati jamuannya dan menyeruput kopinya.


Pandu tersenyum dan ikut menikmati kopi itu, namun matanya tak henti-hentinya menatap tajam pada Kiara yang tersenyum manis padanya


"Ohh yah pak, peluru ini......."


Kiara bergegas ke dapur membiarkan kedua orang itu melanjutkan obrolan mereka bersama


"Tunggu sebentar lagi, maka apa yang ku inginkan akan segera kudapatkan" batin Kiara tersenyum smirk dan mulai menjelaskan kembali rencana mereka semalam kepada Santi


"Benar pak, senapan seperti ini.... Ehh pak, bapak kenapa?" Tanya Pak Karman mengubah topik pembicaraan saat melihat tubuh Pandu yang merasa lemah


"Entahlah pak, saya merasa sangat lemas" Ucap Pandu berusaha menahan sensasi berputar di kepalanya


"Kalau begitu istirahatlah sebentar di kamar tamu pak, tidak baik jika bapak pulang dengan kondisi seperti ini" Ucap Pak Karman cemas


"Tidak pak, saya baik.." Pandu yang akan berjalan pulang terhuyung ke samping, beruntung pak Karman menangkapnya dan memapahnya masuk ke kamar tamu


"Lebih baik bapak istirahat dulu disini. Jika tubuhnya sudah mendingan, bapak boleh pulang" Ucap sekdes membaringkan tubuh lemah Pandu di ranjang


Drttt... Drttt...


Pak Karman langsung merogoh ponselnya yang bergetar di sakunya dan lekas menjawabnya


"Halo pak, ada yang bisa saya bantu?" sapa Pak Karman


(.........)


"Iyah pak, bapak bisa mengecek sawah saya di tempat yang lain"


(........)


"Baiklah pak, saya akan segera kesana" Pak Karman mematikan ponselnya dan bergegas keluar kamar tamu


"Ayah mau kemana?" Tanya Kiara dengan Santi di sampingnya


"Ayah mau ke sawah dulu. Jangan ribut yah, pak tentara sedang tidur di dalam. Jangan macam-macam, Jaga rumah dengan baik, kalau ada apa-apa langsung hubungi ayah" Ucap Pak Karman mengelus puncak kepala putrinya


"Baik ayah" Ucap Kiara tersenyum. Pak Karman menepuk pipi putrinya dan bergegas keluar rumahn


"Yeahh udah ada lampu hijau, bergegas menjalankan rencana" Seru Kiara menarik tangan Santi dan masuk ke dalam kamar tamu.

__ADS_1


Kiara tersenyum melihat wajah pucat pria yang tertidur lelap di ranjang kamar tamu itu


"Sudah kubilang, aku akan melakukan segala cara untuk memilikimu, maka izinkan aku untuk memilikimu sekarang" Ucap Kiara mengelus wajah Pandu.


Kiara tersenyum dan mulai membuka kancing baju pandu.


Santi melakukan bagiannya dengan bersembunyi dibalik gorden dan mulai merekam segala aktivitas yang dilakukan Kiara.


Karena tangan lincah nya, Pandu telah bertelanjang dada dibuatnya. Kiara turun dan melucuti celana Pandu hingga dia tertegun melihat keindahan tubuh pria di depannya


"Selain wajahnya yang tampan, dia sangatlah sempurna" gumam Kiara menyentuh benda milik Pandu sambil tersenyum.


Kiara juga ikut membuka semua pakaiannya hingga tubuhnya juga telah polos sama seperti tubuh Pandu.


"arghh, kepalaku" Ucap Kiara memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. Karena tak kuat lagi menahan sensasi berputar di kepalanya, Kiara akhinya tumbang dan tak sadarkan diri dengan wajahnya tepat berada diatas Pandu


Selang beberapa menit, Kiara perlahan-lahan sadar sambil memegangi kepalanya. Ketika Pandangan Kiara kembali normal, Kiara tersenyum menatap lelaki yang masih tertidur lelap di bawahnya


Sambil merasa sedikit pening, Kiara menindih tubuh lelaki itu dan melahap bibirnya meski lelaki itu masih tertidur karena pengaruh obat bius di tubuhnya.


Dengan tangan gemetar, Santi menghentikan rekamannya dan beralih memotret keduanya seperti yang diperintahkan Kiara padanya. Sudah berbagai pose yang dilakukan Kiara saat Santi memotretnya. Santi yang sudah tidak tahan lagi segera mendekati Kiara dan langsung menarik tangannya


"Ayo kita keluar, sudah cukup. Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan" Ucap Santi menyerahkan ponsel kepada Kiara dan menarik tangan Kiara agar menjauh dari tubuh lelaki itu


"Apaan sih Santi, aku masih belum puas tahu" kesal Kiara menarik paksa tangannya dari genggaman Santi


"Yah sudah, aku keluar" Ucap Santi segera keluar kamar dan mendudukkan dirinya di ruang tamu


Kiara tersenyum melihat hasil foto Santi dan langsung mengirimkan gambar yang paling ekstrem ke nomor Viara.


"Beres, setelah ini kamu akan dibenci oleh kekasihmu hihihi" Ucap Kiara tersenyum mengejek melihat wajah lelaki yang masih menutup matanya.


Kiara menyimpan ponselnya dan kembali menatap tubuh lelaki itu dengan tatapan yang tidak bisa author artikan.


"Aku belum puas, jadi disaat ada kesempatan, aku akan bermain-main dengannya"


Author gak kuat lanjutin adegan selanjutnya, jadi traveling sendiri yah bagaimana kelanjutannya😂


__________


"Dokter, kondisi pasien di ruang rawat nomor 3 mengalami drop dan penurunan detak jantung" Lapor salah satu perawat di ruangan dokter Citra dengan raut wajahnya yang cemas


Mendengar itu, dokter Citra langsung berlari memasuki ruang rawat Viara dengan tergesa-gesa. Dokter Citra segera melakukan pertolongan pertama pada Viara yang membuka matanya lebar dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Setelah melakukan penanganan pertama, dokter Citra menyuntikkan obat penenang di tabung infus Viara hingga Viara tak sadarkan diri akibat pengaruh obat penenang yang mulai bekerja


"Alhamdulillah, detak jantungnya kembali normal, nafasnya juga sudah mulai teratur" Ucap dokter Citra bernafas lega dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Viara


"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kamu tiba-tiba drop seperti ini. Apakah ada sesuatu lagi yang kembali menekan batinmu?" gumam dokter Citra menatap Viara yang sudah tertidur lelap. Dokter Citra mengusap lembut kening Viara dan berlalu meninggalkan ruangan itu


__________


Pandu terbangun dan mendapati dia sudah tertidur sejak siang tadi di rumah pak Karman. Pandu bernafas lega menyadari jika pakaian yang dipakainya masih melekat di tubuhnya. Pandu takut Kiara mengambil kesempatan dengan melakukan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh Pandu sendiri.


Flashback On


Setelah puas bermain-main dengan tubuh Pandu, Kiara segera memunguti pakaian Pandu yang berserakan di lantai dan memakaikannya kembali di tubuh Pandu. Kiara melakukannya dengan telaten dan sangat rapi agar Pandu tidak curiga dengannya yang telah berhasil mencapai tujuannya dengan mulus


Flashback off


"Astaghfirullah, ini sudah malam. Aku harus segera kembali ke pos dan melaporkan kepada Danru mengenai penemuan benda berbahaya di sawah pak Karman" Ucap Pandu beranjak bangun dan berjalan keluar kamar.


Setelah mengunci pintu kamar tamu, Pandu yang ingin pamit pulang kepada pak Karman tidak mendapati adanya dia disana. Pandu melangkahkan kakinya menghampiri Kiara dan temannya yang tengah menonton televisi


"Kiara, dimana ayahmu?" Tanya Pandu


"Ayah sejak siang tadi keluar ke sawah bang" Ucap Kiara tersenyum pada Pandu.


Kiara turun mengamati tubuh Pandu seketika tertegun dan gemetar ketakutan menatap ujung pusaka Pandu karena dia lupa untuk meresleting celana Pandu yang masih menampakkan benda miliknya yang agak keluar


"Yaudah abang pamit pulang dulu yah, assalamu'alaikum" ujar Pandu berjalan ke depan


"Ehh iyah..iyah bang Walaikumsalam" Jawab Kiara gugup menatap punggung Pandu yang berjalan keluar.


Kiara berdiri dari duduknya dan belari kencang ke depan rumah. Kiara mengintip dari jendela depan dan mengamati Pandu yang berdiri didekat motornya dan tengah menatap sekitar


"Aduh, bendanya masih terlihat. Kenapa kau sebodoh ini Kiara" gerutu Kiara menepuk jidatnya.


Pandu menaiki motornya dan melajukan motornya kembali ke pos tentara.


Setelah Pandu tidak terlihat lagi, Kiara langsung berlari masuk ke dalam kamar tamu dan mendapati jika dalaman Pandu masih tertinggal di bawah tempat tidur


"Aduh, bagaimana jika dia curiga padamu Kiara. Semoga dia tidak menyadarinya"


__________


Sesampainya di pos, Pandu tidak melihat adanya teman-temannya di dalam pos, hanya ada Bang Zardan yang duduk di depan pos sambil mengecek info di ponselnya


"Bang, ada yang ingin kukatakan padamu" Ujar Pandu berdiri didepan Bang Zardan.

__ADS_1


Bang Zardan mendongkan kepalanya dan tertegun, sama seperti Kiara tadi


"Katakanlah" Ucap Bang Zardan tersenyum berusaha bersikap santai karena bang Zardan sebelumnya memang pernah melihat milik teman baiknya itu.


"Sebentar yah, aku mandi dulu, gerah nih" Ucap pandu segera berjalan masuk ke kamarnya


"Aduh Pandu, untung aku bukan wanita. Untung di pos cuma ada aku saja. Untung ini sudah malam, Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang harus ku jelaskan" Gumam Bang Zardan geleng-geleng kepala, bang Zardan berusaha fokus namun konsentrasinya hilang mengingat ulah Pandu barusan


"Zardan, fokus Zardan" Ucap bang Zardan menepuk pipinya dan berusaha fokus menatap ponselnya.


Pandu yang akan mandi tak menaruh curiga pada tubuhnya yang tidak mengenakan dalaman. Dia segera melucuti semua pakaiannya dan menyiramkan air yang menyegarkan tubuhnya


"Lebih baik besok baru aku mengubungi Viara, pasti dia sudah tidur sekarang"


______


Keesokan paginya, dokter Citra tertegun melihat kondisi Viara yang sudah rapi dengan pakaiannya


"Viara? Kamu sudah bangun. Tapi siapa yang melepaskan semua alat-alat ditubuhmu?" Tanya Dokter Citra kebingungan


"Tadi subuh ada perawat yang datang kesini, karena kondisi ku yang sudah membaik, perawat itu membukakan semua alat-alat medis itu yang tertancap ditubuhku" Ucap Viara berusaha tersenyum kepada dokter Citra sambil mengemasi barang-barangnya


"Udah mau pulang Viara? Ini masih jam 6.30 pagi loh. Bus bahkan belum ada sepagi ini"


"Nggak apa-apa dokter, aku bisa menunggu Bus di halte nanti" Ucap Viara tersenyum kepada dokter Citra


"Yaudah, aku sudah membelikan sarapan untukmu. Jangan lupa dimakan saat perjalanan pulang nanti karena tubuhmu juga perlu nutrisi setelah mengalami drop semalam. Jangan lupa obatnya juga diminum yah" Ucap Dokter Citra memasukkan obat ke tas Viara


"Iyah siap dokter, kalau begitu aku pulang dulu yah. Assalamu'alaikum dokter" Ujar Viara memeluk dokter Citra


"Walaikumsalam Viara" jawab Dokter Citra tersenyum dan membalas lambaian tangan Viara.


Setelah keluar dari rumah sakit, seketika bulir bening kembali lolos dimata Viara. Hatinya begitu sakit melihat gambar yang tak sepantasnya dilihat olehnya. Kakinya bergetar hebat menaiki setiap anak tangga di pintu Bus tersenyum. Matanya menatap kosong pada setiap pemandangan yang dilihatnya dari balik kaca


"Kenapa abang tega lakuin hal ini sama adek, kenapa" gumam Viara kembali meneteskan air mata.


Viara menghapus air matanya dan merogoh ponselnya yang bergetar di dalam tasnya


📩Ila


Viara, kamu dimana? Kapan sampainya?"


📩Viara


Aku lagi dijalan ila, nanti jam 3 sore baru nyampe di desa


📩Ila


Baiklah, aku tunggu kamu di depan rumah yah. Jangan lupa sarapan yah


📩Viara


Siap laksanakan


Setelah membalas pesan ila, Viara langsung membuka kotak bekal pemerian dokter Citra dan memakannya meski dengan mata yang tergenang


"Kenapa sesakit ini, kenapa" gumam Viara memegangi dadanya sambil menangis dalam diam


"Akan kuminta penjelasan darinya, dan akan ku selidiki siapa orang tanpa nama yang mengirimkanku gambar seperti ini"


__________


Pandu saat ini tengah nongkrong di depan pos bersama teman-temannya sambil menunggu kepulangan Viara. Begitu juga dengan ila yang sejak tadi menunggu kepulangan temannya dari kota


"Bang, masih lama nggak yah dek Viara pulang?" Tanya Pandu tak sabaran


"Haha tunggulah sebentar lagi bang, yang penting adeknya pulang hari ini"


"Udah rindu aja yah bro? Padahal baru sehari ditinggal, bagaimana kalau setahun?" Tanya bang Zardan


"Hahaha kalau udah setahun kan udah jadi istri. Kalau sekarang yah belum, takutnya dia diambil orang lain" Jawab Pandu sambil tertawa


"Hahah, benar juga yah bang"


Bang Zardan yang ingin mengatakan alasan Pandu pulang kemalaman mengurungkan niatnya karena para prajurit yang memberitahu jika Viara sudah pulang


"Bang, itu dek Viaranya udah pulang" seru Bang Edi menunjukan ke arah Viara yang tengah membayar pada tukang becak yang dinaikinya


Pandu berdiri dari duduknya dan segera berjalan mendekati Viara sambil tersenyum


"Adek" Ucap Pandu tersenyum manis pada Viara yang berdiri di tepat di depannya


PLAK....


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya😉

__ADS_1


Terimakasih Semua


Love You All😘💞


__ADS_2