
Keesokan paginya, Dokter Citra membuka ruang rawat Viara dan menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang sudah membuka matanya dan tengah mengemasi tasnya. Dokter Citra melanjutkan langkah kakinya berjalan mendekati Viara
"Viara, kamu sudah bangun? Bagaimana kondisimu sekarang, apa sudah merasa baikan setelah menjalani kemoterapi kemarin?" Tanya dokter Citra lembut
"Alhamdulillah, aku merasa lebih baik dokter. Terimakasih sudah mendengarkan keluhanku selama ini yah dokter, dan terimakasih masih terus berusaha untuk membuatku hidup sedikit lebih lama lagi" Kata Viara tersenyum tulus dan berhambur memeluk dokter Citra
"Kamu sahabatku Viara, sudah sepantasnya aku membantu dan membalas kebaikanmu selama ini. Karena kamu, aku berhasil memiliki orang yang aku cintai dan tak lama lagi, kami akan segera menikah" Seru dokter Citra membalas pelukan Viara sambil tersenyum
"Benarkah? Jangan lupa mengundangku yah dokter" Goda Viara
"Hahha tentu saja, kamu akan jadi tamu istimewa di hari pernikahanku nanti. Karena itu, teruslah semangat untuk tetap hidup yah" ucap Dokter Citra dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum
"Apa aku sudah bisa pulang sekarang dokter?" Tanya Viara kembali
"Tentu saja. Aku sudah memberikanmu obat lagi, jangan lupa diminum yah" titah dokter Citra
"Baik dokter, kalau begitu aku pergi dulu yah, assalamu'alaikum dokter Citra" Pamit Viara
"Walaikumsalam Viara, Hati-hati" Ucap dokter Citra membalas lambaian tangan Viara padanya
"Aku yakin ada alasan Tuhan masih tetap memberikanmu hidup dan hati yang kuat selama ini, semua itu karena Tuhan ingin memberikanmu bahagia dan nikmati yang sesungguhnya. Semoga bahagia itu segera datang dan menghampirimu Viara" gumam dokter Citra menatap punggung Viara yang semakin melangkah keluar dari rumah sakit
__________
Didalam bus yang dia tumpangi, Viara hanya diam sambil mengagumi indahnya pemandangan yang dilewati sepanjang jalan. Viara menerbitkan senyumnya mengingat kenangan dijalan ini saat bersama Pandu dulu, tak terasa air matanya ikut menetes bersama senyuman yang dia tunjukkan pada suasana indah di depan sana
Drrttt..Drrttt...Drrttt..
Lamunan Viara buyar saat mendengar ponselnya yang berdering didalam tasnya. Viara langsung merogoh tas selempangnya dan menjawab panggilan dari teman terbaiknya
"Halo Viara, assalamu'alaikum" sapa Ila di seberang sana
"Walaikumsalam Ila, ada apa hmm?" Tanya Viara lembut
"Kamu tahu Viara, hari ini para tentara datang ke desa kita untuk melakukan latihan gabungan loh. Bang Rama juga sudah ada di sampingku sekarang" Seru Ila senang dan tersenyum pada bang Rama yang duduk disampingnya
"Benarkah? Apa yang Pandu ada diantara mereka?" Tanya Viara berbinar dan menghapus air matanya. Mendengar pertanyaan Viara, Ila menoleh pada bang Rama dan mengontrol nafasnya
"Sepertinya bang Pandu tidak ada disini Viara, sejak tadi aku melihat semua tentara di depan sana, namun hanya Pandu saja yang tidak aku lihat" Tutur Ila pelan karena tahu Viara pasti tengah menangis sekarang.
Seketika senyuman penuh harap hilang dari wajahnya digantikan dengan bulir bening yang kembali tumpah membasahi pipi mendengar penuturan Ila
"Rupanya, kamu masih sangat marah dan membenciku hingga kamu tidak mau melihatku lagi" batin Viara kembali menangis dan mematikan sambungan secara sepihak.
Bahkan suara tawa dan candaan para penumpang bus yang selalu menghibur sebelumnya kini tak mampu lagi menghilangkan bulir bening yang sejak tadi mengalir membasahi pipinya
Bus yang dinaiki Viara berjalan sedikit menepi karena ada beberapa truk para tentara yang akan berjalan disamping mereka.
"Lihat itu, banyak banget truknya" seru penumpang bus itu mengalihkan pandangan mereka ke kaca bus
"Iyah mbak, penumpang di truk itu juga ganteng-ganteng yah" Seru salah satu penumpang wanita lagi.
Sedangkan Viara, memang dia duduk di samping kaca bus, tapi mata Viara terus menatap lurus kedepan dengan pikirannya kosong. Tak terasa air matanya terus mengalir membasahi pipi dengan mewakili sedihnya hatinya saat ini
Di luar sana, seorang tentara tampan berseragam loreng tertegun menatap gadis yang terus terdiam sambil menjatuhkan air matanya di samping kaca bus tersebut. Berbeda jauh dengan semua penumpang lainnya yang berbinar senang dan melambaikan tangan mereka pada para tentara yang ada di setiap truk yang melewati bus mereka.
Tentara itu terus menatap gadis di kaca itu cukup lama, menatap sendu pada gadis itu yang terus saja menangis dan terdiam menatap lurus kedepan
Karena terganggu dengan suara kagumam para penumpang bus yang lain,Viara menghapus air matanya dan mengikuti arah pandangan semua penumpang bus yang tertuju pada truk para tentara yang berjalan di samping mereka. Tentara itu langsung mengalihkan pandangannya ke samping saat tatapan sendu gadis itu hampir bertabrakan dengan tatapannya
"Andai kamu ada di salah satu truk yang berjalan disampingku, betapa bahagianya aku jika melihatmu ada diantara mereka walau hanya sekilas saja menatapmu" gumam Viara menatap sendu pada truk para tentara yang telah melaju mendahului bus yang ditumpanginya
"Aku merindukanmu abang, aku rindu kamu"
__ADS_1
__________
Setelah sampai di desanya, Viara terus tertunduk sambil melangkahkan kakinya. Viara menatap sendu cincin yang kembali dipasangkan nya di jari manisnya
"Kamu tidak pantas berada di tanah, karena kamu adalah benda yang sangat berharga bagiku. Banyak kenangan yang terukir bersama mu dijariku. Karena itu, aku akan tetap menjaga dan memakaimu selalu, meski orang yang memberikanmu padaku telah menginjakmu sangat keras" gumam Viara mengelus inisal P ❤ V yang terukir indah di cincinnya
Di depan sana, sudah banyak sekali tentara yang mengeluarkan senjata dan barang-barang mereka dari truk untuk dipindahkan ke barak yang baru saja selesai di bangun di sebelah pos tentara. Viara mengenal sebagaian dari tentara yang ada di depan sana, namun Viara terus tertunduk dan tak mau menyapa mereka.
Ketika Viara mendongkakan kepalanya mendengar suara-suara para tentara yang bekerja di depan sana, Viara tertegun menatap punggung seorang perwira yang berdiri membelakangi nya dengan beberapa prajurit di sampingnya. Seketika senyuman Viara mengembang menatap punggung itu, punggung yang selalu ada dan sering Viara naiki sewaktu dia kecil
Dengan langkah pelan dan air mata bahagia yang mengalir di pipinya, Viara melangkahkan kakinya mendekati orang yang sangat dirindukannya itu
"Ayah" panggil Viara setelah berdiri dekat dengan perwira itu.
Orang yang dipanggil Viara itu pun membalikkan badannya, dan merentangkan tangannya pada putri kesayangannya sambil tersenyum
"Ayah!!!!" seru Viara bahagia dan berlari memeluk cinta pertamanya
"Ayah hiks...hiks.. Viara rindu ayah" lirih Viara memeluk ayahnya erat
"Iyah sayang, ayah juga merindukanmu. Kenapa Viara belum pulang di rumah ayah? Ayah kesepian kalau nggak ada Viara di rumah..." Ucap ayah Vian tersenyum membalas pelukan putri kesayangannya
"Ayah... " kata pelan Viara ambruk tak sadarkan diri di pelukan ayahnya
"Sayang, kamu kenapa nak" Tanya Vian cemas sambil menepuk-nepuk pipi Viara
"Ijin,Putri anda tidak apa-apa komandan, dia hanya kelelahan saja jadinya dia tak sadarkan diri" Ucap tentara medis yang menjadi bawahan Ayah Vian
"Baiklah" Ucap ayah Vian tersenyum dan menggendong putrinya yang tak sadarkan diri untuk beristirahat didalam ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, ayah Vian membaringkan putri kesayangannya di sofa besar yang ada di ruangan itu
"Tolong jaga putriku yah, jika dia sudah sadar, segera beritahu aku" Perintah Ayah Vian pada salah satu anggota yang berdiri di sampingnya
Ayah Vian menepuk bahu tentara itu dan berjalan keluar untuk mengamati para personilnya yang tengah bekerja di depan.
Setelah komandannya pergi, tentara itu melangkahkan kakinya dan duduk di kursi di samping sofa yang ditiduri Viara.
Tentara itu menatap Viara yang tengah terlelap cukup lama dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tentara itu melihat jika mata gadis yang tertidur didepannya sangatlah sembab karena terus menangis saat tentara itu melihatnya di bus tadi. Bahkan sudut mata wanita itu terus mengeluarkan air mata meski dalam keadaan terlelap
"Abang.. Jangan...jangan tinggalin adek" Lirih Viara ketakutan mengigau dalam tidurnya.
Tentara itu semakin memajukan kursinya untuk lebih dekat dengan Viara ketika mendengar ucapan Viara dalam tidurnya
"Bang Pandu, dengarkan adek dulu....jangan tinggalin adek sendiri bang, jangan" pinta Viara yang bermimpi jika dia telah bertemu dengan Pandu, namun Pandu menolak untuk berbalik dan terus melangkah meninggalkannya
Tentara yang menemani Viara sejak tadi refleks mengusap puncak kepala Viara setelah mendengar ucapan Viara yang menyentuh hatinya
"Astaga, apa yang kulakukan" gumam tentara itu refleks menarik tangannya dari kepala Viara. Tentara itu kembali terdiam dan kembali menatap Viara yang terus mengeluarkan bulir bening disudut matanya
"Bang Pandu, adek rindu.." Ucap pelan Viara dalam tidurnya
Selang beberapa saat, Viara perlahan-lahan membuka matanya dan dalam pandangannya yang sangat buram, Viara melihat seorang tentara yang tidak asing diatasnya
"Kamu siapa..." Tanya Pelan Viara.
Tentara itu langsung berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan komandan tanpa berbalik atau berkata sekata katapun. Viara hanya tersenyum melihat punggung tentara itu meski sangatlah kabur dalam pandangannya
"Ijin, putri anda sudah sadar didalam komandan" Lapor Tentara itu
"Baiklah, terimakasih sudah menjaga putriku" jawab Ayah Vian menepuk bahu anggotanya itu dan berjalan masuk ke ruangannya
"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya Ayah Vian lembut sambil membantu Viara duduk
__ADS_1
"Iyah ayah. Ayah, siapa tentara yang jagain Viara disini tadi?" Tanya Viara bersandar di dada bidang ayahnya
"Dia personil abang sayang. Kenapa, kamu suka sama dia yah?" Goda Ayah Viara
"Hahah ayah ini, kan cuman ayah cintanya Viara" Jawab Viara memeluk Ayahnya
"Tapi ayah kan punyanya Bunda, jadi Viara punyanya siapa?" Tanya Vian kembali
"Punya ayah sama Bunda" seru Viara senang. Ayah Vian mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan mengelus puncak kepala putrinya dengan kasih sayang
"Yah, ternyata Viara belum punya kekasih yah, padahal teman-teman ayah udah punya cucu loh" Ucap ayah Vian berpura-pura sedih
"Haha ayah ini, kenapa nggak buat adek saja sama Bunda untuk Viara sih, kan Viara kesepian kalau cuman sendiri" ayah Vian tertawa mendengar ucapan putrinya
"Hahah, kamu ini. ayah sudah tua sayang, tidak muda lagi" jawab Vian mengelus puncak kepala putrinya
"Tua darimana ayah? Ayah memang sudah berusia 46 tahun sekarang, tapi wajah ayah seperti pemuda berusia 30 tahun loh ayah. Ayah masih sangat tampan, tubuh ayah juga masih tetap atletis. Beneran ayah, Viara nggak bohong" seru Viara mengagumi ayahnya
"Hahaha Iyah nak, itulah alasan bundamu selalu cemburu kalau ayah dekat sama tetangga-tetangga wanita di rumah nak" Seru Ayah Vian tertawa bersama Viara
"Hahaha benar Ayah. Bunda emang selalu cemburu sejak dulu, tapi ayah tetap sayang kan sama Bunda?"
"Iyah sayang, ayah sayang banget sama Bunda, begitu juga dengan putri ayah yang cantik ini" seru Ayah Vian tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala putri semata wayangnya yang wajah versi wanitanya sama persis dengannya
"Ayah...." lirih Viara menghambur memeluk ayahnya saat melihat beberapa perwira teman ayahnya telah berdiri di depan pintu
"Iyah sayang, kenapa nangis? Ada apa hmm?" Tanya Viara lembut mengusap punggung putrinya yang bergetar hebat sambil memeluknya
"Ayah mau pergi lagi sekarang yah?" lirih Viara semakin terisak
"Iyah nak, ayah harus segera kembali ke Batalyon sekarang, maafin ayah yang nggak bisa lama disini yah" Kata Ayah Vian mengecup kening Viara
"Tapi Viara masih pengen ngobrol sama ayah, Viara masih rindu sama ayah hiks.. Hiks..." lirih Viara berkaca-kaca menatap ayahnya
"Iyah nak, ayah sangat mengerti perasaanmu sekarang, tapi jangan menangis yah. Saat kamu pulang nanti, ayah akan menghabiskan waktu seharian denganmu. Ayah dan bunda akan selalu menatimu pulang kembali di rumah kami. Kata Bunda, tinggal 2 bulan lagi Viara bekerja disini kan? Setelah dua bulan itu berakhir, maka ayah akan menyambutmu pulang sayang" Ucap Ayah Vian menghapus air mata putrinya dengan lembut
"Iyah ayah, Viara sayang ayah" Kata Viara tersenyum dan kembali memeluk ayahnya
"Iyah sayang, ayah juga sayang banget sama Viara. Viara putri kebanggaan ayah sayang" jawab Ayah Vian membalas pelukan Viara
"Ayo ayah, Viara antar sampai di depan" ajak Viara mengenggam tangan ayahnya dan berjalan keluar bersamanya
"Hati-hati dijalan yah ayah, sampaikan salam Viara untuk Bunda di rumah" pinta Viara setelah mengantar ayahnya sampai di dekat truk
"Iyah nak, terimakasih sudah mengerti pekerjaan ayah selama ini yah nak. Ayah pulang dulu, assalamu'alaikum putriku sayang" Pamit Ayah Vian tersenyum melihat putrinya yang menyalami tangannya
"Walaikumsalam ayah sayang" kata Viara tersenyum dan mengecup kedua pipi ayahnya.
Viara menyeka air matanya dan melambaikan tangannya pada ayahnya yang ikut terbawa truk yang dinaikinya
"Alhamdulillah, terimakasih sudah mempertemukanku dengan ayah Ya Rabb, walaupun hanya sebentar, tapi aku senang bisa memeluknya kembali. Jagalah ayahku untukku Ya Rabb" Gumam Viara terus menatap truk yang semakin jauh sambil tersenyum senang
"Gimana, sudah terobati rindunya?" Kata Bang Zardan yang tiba-tiba berada di samping Viara
"Iyah kak, alhamdulillah" Seru Viara tersenyum senang
"Teruslah tersenyum Ara, kakak suka melihat senyumanmu yang ini. Senyuman yang begitu tulus dan bahagia setelah beberapa bulan senyuman itu hilang dari wajahmu. Ara tidak harus bersama orang yang Ara cintai untuk bahagia, tapi dengan keluarga dan orang-orang terdekat, Ara juga bisa merasa bahagia, benar kan Ara?" Tanya Bang Zardan merangkul bahu Viara
"Iyah kakak, terimakasih sudah jadi kakak angkat Ara. Ara memang tidak punya saudara kandung, tapi Ara punya kakak sama teman-teman yang selalu menemani Ara sejak dulu. Terimakasih sudah menjadi tetangga adek di Asrama ayah yah" kata Viara senang dan tersenyum manis pada Bang Zardan
"Hahhah Iyah Ara, sama-sama"
Bersambung......
__ADS_1