
Bryan yang sedang mengulurkan tangannya ke arah Bia di lihat oleh Sandra.
"Mau kemana???" Tanya Sandra.
"Bia ingin berjalan-jalan, jadi aku akan menemaninya" jawab Bryan.
"Kenapa terburu-buru nona Bia??" Tanya Will membuat Bia menelan ludah.
Sely yang mendengar Will berbicara langsung menoleh, ia bertanya tanya ada apa ini. Kenapa aku merasa Will tidak suka jika gadis itu bersama Bryan. Tapi kenapa semalam saat ada gadis itu terlihat biasa saja. Kata Sely dalam hati.
Bia yang mendengar suara Will langsung merespon, ia kuatkan dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh takut dengan ancaman pria playboy ini.
"Aku bosan jika melihat pria hidung belang berada di depanku" membuat semua orang terkejut.
Mereka syok bia menyebut Will dengan sebutan pria hidung belang, walau kenyataannya memang Will pria yang selalu di sukai banyak gadis. Tapi tidak ada yang berani berkata seperti itu. Ini kali pertamanya ada gadis yang tidak menyukai pesona Will, Leo langsung tertawa terbahak bahak.
"Apa aku pria hidung belang nona??" Tanya Will dengan hati-hati seakan memberi isyarat kepada Bia.
"Sudahlah sayang, biarkan dia pergi bersama Bryan" ucap Sely.
Mendengar Sely berkata seperti itu, Bia melangkah bersama Bryan jalan memutar arah karena ia duduk di dekat tembok jadi ia harus memutar melewati Will. Saat Bia berada di belakang kursi Will, tiba-tiba tangannya di pegang oleh Will. Seolah menyuruh Bia jangan pergi bersama Bryan. Bia langsung berhenti sejenak menoleh lalu berusaha melepaskan tangan yang di genggam oleh Will, lalu menggerutu dalam hati dia kenapa sih, paling suka menarik-menarik tanganku. Sudah berapa kali kejadian seperti ini. Menyebalkan!!!
Situasi menjadi panas, mereka semua bingung ada apa sebenarnya ini. Bryan yang melihat kelakuan Will menjadi marah. Darahnya seperti mendidih.
"Lepaskan" ucap Bia berusaha menarik tangannya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu. Jika ingin aku lepaskan maka kembali ke tempat dudukmu" jawab Will yang mulai mengatur.
"WILLY SAN..." ucap Bryan dengan keras sambil membantu melepaskan tangan Bia. Melihat itu semua, Os, Leo maupun Zen berdiri untuk melerai mereka.
__ADS_1
Will tidak memperdulikan gertakan Bryan ia tetap menatap ke wajah Bia.
"Aku bilang kembali ke kursimu" ucap Will dengan wajah merah, ia sadar apa yang di lakukannya tidaklah benar. Namun ia juga tidak rela jika Bia berduaan bersama Bryan.
"Lepaskan aku" kata Bia yang selalu mengulang kembali.
Karena Will menghiraukan Bryan yang sedang menahan amarah, akhirnya amarah itu pun meledak.
Bryan menonjok wajah Will, tapi tangannya masih memegang erat tangan Bia. Sely dan sahabat-sahabat Bia teriak histeris melihat pertengkaran mereka. Os memegang tubuh Bryan, dan Leo mencoba merayu Will untuk melepaskan tangan Bia. Sedangkan Zen sibuk memanggil para pengawal untuk membantu mengamankan cafe yang sedang ramai pengunjung.
"Will lepaskan tangannya, jangan terlihat konyol seperti ini. Lihat Bia, ia menangis" ucap Leo mencoba berbicara kepada Will.
Namun bukannya di lepaskan ia malah menarik Bia menjauh dari mereka. Bryan yang melihatnya makin tidak terima, ia mencoba mengejar namun di tarik oleh Os. Seketika itu Bryan langsung berteriak kepada Will.
"WILL DIA WANITAKU, BIA PACARKU. KAMI BERHUBUNGAN" ucapnya agar Will berhenti membawa Bia.
Mereka yang mendengar itu semua spontan terkejut dan syok kecuali Os yang mengerti maksud perkataan sahabatnya itu.
Bryan terlihat sangat marah, namun di tenangkan oleh sahabat-sahabat Bia. Di jaga oleh Os dan Leo, bersama para pengawal. Zen langsung membawa Sely pergi dari cafe, karena keadaan akan memburuk jika mereka masih disana.
Di tempat yang jauh, Will mencoba mengajak Bia berbicara. Tapi ia malah mendapat tamparan keras darinya. (hmmm lagi lagi tamparan ).
PLAAAKKKK!!!!
Will menerima tamparan itu, tanpa mengeluarkan kata sedikitpun.
"Jika kau ingin membunuhku maka bunuh saja aku. Jangan mengganggu hidupku" ucap Bia keras sambil menangis.
"Acca tolong dengar penjelasanku" jawab Will dengan nada pelan, panggilan itu adalah panggilannya kepada Bianca sewaktu mereka kecil dulu.
__ADS_1
"Aku Bia bukan Acva" katanya, ia lupa dengan panggilan Acca karena sedang emosi.
"Oke Bia... Aku hanya ingin kau menjauh dari Bryan" Will posesif.
" Apa urusanmu mengatur kehidupanku" jawab Bia kesal.
" Karena aku mencintaimu" ucap Will sambil memegang kedua tangan Bia, namun Bia menolak tangannya di sentuk.
"Aku bukan wanita bodoh yang bisa kau tipu, apa kau sudah bosan dengan Sely. Lalu mulai mengejarku, setelah itu kau akan membuangku lalu mendekati wanita lain lagi. Sungguh malang nasib Sely" Bia mengomel membuat Will terdiam.
Will bingung harus berbuat apa, ketika ia melunak malah membuat Bia makin berani. Maka terpaksa Will memakai cara yang keras untuk bisa melunakkan Bia.
"Oke, jika kamu tidak percaya. Maka aku akan membuktikan seberapa besar pengorbananku kepadamu" jelas Will dengan nada tinggi.
"Oh, silahkan tapi itu bukan urusanku" jawab Bia yang ingin meninggalkan Will di tempat itu sendirian.
"Jika ini mau mu maka aku akan melakukannya" ucap Will serius.
Dia bisanya hanya mengancamku, aku tidak peduli dengannya tuturnya dalam hati.
Will tidak ingin Bia di kuasai oleh Bryan, karena makin sulit untuk bisa menjelaskan yang sebenarnya. Tapi Will juga tidak bisa spontan begitu saja membuka luka lama yang sudah terpendam.
Will berjalan berbeda arah dengan Bia, ia mencoba membuktikan kepadanya agar bisa membuat Bia percaya dan mau menjauh dari Bryan. Bia yang tetap berjalan ke depan, akhirnya menoleh ke belakang melihat apa yang akan di lakukan oleh pria playboy itu.
"Dia kira aku akan langsung percaya dengan tindakannya" Bia menggerutu sendiri sambil melihat apa yang akan di lakukan Will.
Ternyata Will berjalan sangat jauh, Bia masih membalikkan badan melihat ke arahnya. Tiba-tiba ada rasa khawatir melihat Will berjalan sangat jauh tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bia.
"Apa yang ingin dia lakukan, yaa tuhan ada apa denganku. Kenapa semua pria ini membuat jantungku ingin terlepas dari tempatnya" ucap Bia seraya mengingat Will dan Bryan yang baru ia kenal tapi selalu saja berbuat nekat kepadanya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, bagaimana jika dia mati, aku pasti akan di salahkan semua orang. Apalagi dia seorang CEO terkenal, yaa tuhan bantu aku" keluhnya sambil berdoa.
Bia berlari mengejar Will yang menghilang entah kemana, ia terus berlari mencarinya. Dan ternyata pria ini benar-benar melakukan hal konyol, Will berjalan menuju ke arah laut lepas. Bia panik, harus berbuat apa yang ada dalam pikirannya hanya ingin menariknya kembali ke pinggir pantai.