
Bia menahan kesedihannya, ia merasa bingung ada apa dengan dirinya. Mengapa dadaku begitu sesak melihat Will bersama Keysa, bukankah aku membencinya. Aku tidak boleh menyukainya tuturnya dalam hati.
"Bi, mengapa diam saja" tanya Dona.
"Aku hanya mengantuk, sepertinya aku butuh minuman" jawab Bia.
Dona dan Sarah sangat mengenalnya, mereka tidak menyangka Bia yang sekarang begitu menyukai minuman alkohol. Sepertinya Bia melampiaskan semua penderitaannya dengan minuman alkohol, sungguh malang hidupnya jauh dari orangtua seperti hidup sebatang kara dan di tambah dengan masalah asmara yang menyedihkan.
"Hueeek, kenapa minuman ini begitu pahit ??? Biasanya tidak sepahit ini" ucap Bia yang ingin muntah dengan minuman yang ia minum.
"Entahlah, aku juga tidak paham dengan minuman seperti itu" jawab Sarah.
"Sepertinya ini minuman mahal, jadi kadar pahitnya lebih tinggi" jelas Dona yang hanya menduga-duga.
"Baiklah, aku akan menutup hidungku seperti ini" Bia menunjukkan ke sahabatnya cara meminumnya agar tidak merasakan pahit.
Ternyata cara itu di ikuti Sarah dan Dona. Lalu Bryan datang sudah berada di belakang Bia. Ia merebut gelas Bia, agar berhenti untuk minum.
"Hey Bryan, mengapa kau mengambil gelasku. Ini dejavu, kau pernah seperti ini mengambil gelasku namun hanya beda lokasi saja" Bia sambil menunjuk Bryan.
"Bia, jangan minum ini lagi. Aku akan pesankan jus untukmu" ucap Bryan.
"Jangan pernah melarangku minum, ini hidupku. Hidup yang tak ada artinya" Bia mulai mabuk.
Sarah dan Dona juga sudah mulai mabuk, namun mereka masih bisa mengontrol diri karena mereka hanya meminum segelas saja. Sedangkan Bia sudah hampir 3 gelas yang ia minum.
Will melihat dari kejauhan keadaan Bia, tangannya mengepal saat tahu Bryan ada di sampingnya.
"Nona Key, mengapa kau dengan tuan Will tidak menikah saja???" ucap Sandra tiba-tiba kepada Key.
"Hahahaa boleh juga ide itu, tapi sayangnya Will belum peka kepadaku" jawab Key.
"Maaf nona Key, aku takut tuan Will berpindah hati" Sandra berbisik memperingatkannya.
"Tidak mungkin, hanya aku yang bisa memuaskan nafsunya" jawabnya kembali.
"Waaah, pasti begitu jantan tuan Will di ranjang" Sandra ingin tahu.
__ADS_1
"Iyaa sangat jantan dan liar, dan hanya aku yang bisa mengimbanginya. Lihat saja berapa banyak wanita yang sudah bersamanya, namun ia selalu mencari aku untuk urusan ranjangnya" jelas Key dengan sombong, membuat Sandra penasaran dengan kejantanan Will. Ia berpikir kotor, membayangkan dirinya bisa tidur bersama Will. Dan berandai bisa menjadi nonya Willy San, terbesit di pikiran untuk bisa merebut Will dari Keysa.
Sandra menatap Will penuh gairah, mengamati tubuhnya yang begitu indah. Will hanya membalas dengan senyuman, ia paham apa yang sedang di pikirkan oleh Sandra. Lalu ia menoleh kembali ke meja Bia, ternyata Bryan sedang merangkul Bia yang sudah mabuk berat. Melihat itu semua, Will mengajak bicara Sandra di saat Key sedang menyapa temannya yang lain.
"Sandra, apakah kau menyukai Bryan ???" tanya Will langsung.
"Emmm hanya sedikit, tapi aku bisa melupakannya untukmu" Goda Sandra sambil memasang wajah liarnya.
"Oh begitu, jadi kau menyukaiku" ucap Will mencoba memancingnya.
"Apakah ada wanita yang tidak menyukaimu, aku rasa semua wanita sangat tergila-gila denganmu" Sandra mulai menempelkan tubuhnya.
"Menurutku ada 1 wanita yang tidak menyukaiku" jawabnya.
"SIAPA ???" tanya Sandra penasaran.
"Sahabatmu Bianca" Will kembali memainkan Sandra.
"Dia wanita munafik, aku yakin jika kau menidurinya pasti ia akan tergila-gila denganmu" ucapan Sandra begitu tajam, membuat Will merasa sakit namun ia harus bisa membuat Sandra membantunya untuk menjauhkan Bryan dari Bia.
"Hahaaa, aku bukan pria gampangan jika itu berhubungan di atas ranjang, harus banyak seleksi" jawab Will memutar balikkan keadaan.
"Eeemmm, kalau di lihat dari bentuk tubuhmu. Aku suka, tapi aku belum tau bentuk dalam tubuhmu" Will kembali mengetes Sandra.
"Apakah kau ingin melihatnya ???" Ternyata nafsu Sandra sudah tinggi, ia ingin melakukan itu dengan Will.
"Apa kau tidak takut dengan Key, aku bisa saja menidurimu malam ini tanpa seleksi. Tapi apakah kau bisa membantuku ???" Will mulai bernegosiasi.
"Mengapa aku harus takut dengan Key, bukankah kau akan melindungiku. Lalu apa yang harus aku bantu ???" Mendengar jawaban Sandra, Will semakin mengerti bagaimana mengendalikan Sandra untuk bisa membuat Bryan jauh dari Bia.
"Aku akan memberikan apa saja yang kau mau, asal kau mengencani Bryan malam ini. Aku akan siap memberikan kejantananku untukmu kapan saja kau mau" Will terpaksa berbicara seperti pria murahan.
"Benarkah ??? baiklah, aku akan membuat Bryan jatuh cinta kepadaku. Tapi setelah itu kau harus menjadi milikku" ucap Sandra. Sebelum Will menjawab ucapannya, Key kembali datang menghampiri mereka.
Dan Sandra memberi kode dengan mengedipkan matanya, kemudian ia berjalan menyusul Bryan yang masih bersama sahabat-sahabatnya di meja lain. Lalu Will hanya membalas senyuman miring kepadanya.
"Bryan, apa yang kau lakukan disini ???" tanya Sandra.
__ADS_1
"Bia mabuk, Sarah dan Dona juga mulai mabuk" balas Bryan.
"Aduuuh, mereka ini merepotkan saja. Biarkan saja mereka disini, lagi pula memang ini yang mereka inginkan" tutur Sandra.
"Apa kau bukan sahabat mereka lagi, aku akan membawa mereka ke hotel" Bryan kesal mendengar ucapan Sandra yang begitu jahat.
"Terserah kau saja" jawabnya.
Bryan menghubungi beberapa pengawalnya, untuk membantu memapah Sarah dan Dona. Sedangkan Bia di gendong sendiri oleh Bryan. Sandra mengikuti mereka, ia tidak ingin Bryan melakukan sesuatu dengan Bia. Karena ia harus membuat Bryan jatuh cinta kepadanya, agar ambisi untuk seranjang dengan Will bisa terlaksana.
Will masih mengamati mereka, ia menelepon Zen untuk melihat keadaan Bia. Dan misinya untuk Keysa, ia benar-benar bisa amankan karena ia harus menerima kontrak kerja sama dengannya hanya untuk menyelamatkan Bia.
Setelah Bryan membawa mereka ke hotel, Sandra dengan tegas ingin kembali ke club bersama Bryan. Karena itu adalah pesta perayaannya yang harus ia nikmati bersama Bryan.
"Sayang, ayo kita kembali ke pesta. Mereka akan baik-baik saja" ajaknya.
"Baiklah, kita harus kembali kesana" jawab bryan membuat Sandra lega.
Setelah Sandra dan Bryan meninggalkan mereka, Zen menelepon Will untuk memberi kabar tentang beradaan Bia. Kemudian Will bergegas untuk pergi dan meninggalkan Keysa begitu saja.
Sesampainya Will di hotel dimana Bia beristirahat, ia meminta Zen untuk bisa masuk ke kamar Bia yang di huni juga oleh Sarah dan Dona. Setelah Will masuk ke kamarnya, ia menggendong Bia membawanya pergi ke apartementnya. Will meminta Zen untuk menjaga Sarah dan Dona, dan ketika nanti mereka sadar menjelaskan kepada mereka bahwa Bia di bawa olehnya.
Setelah Will sampai di apartement, ia meletakkan Bia di atas ranjangnya. Menyeka rambut Bia yang menutupi wajah cantiknya. Will merasa lega, Bia ada di sampingnya. Ia hanya takut jika Bryan akan meniduri Bia, karena bagaimana pun ia tidak akan ikhlas jika Bia bersama orang lain.
"mmmm, Haus" Will langsung mengambil air minum untuknya.
Will membantu Bia bangun untuk bisa meminum air, lalu kemudian Bia tertidur kembali
"Zen, bagaimana keadaan Sarah dan Dona ???" tanyanya yang menelepon Zen.
"Mereka masih tertidur tuan, apakah aku harus memindahkan mereka ???" tanya Zen.
"Tidak usah, biarlah mereka di situ saja. Jika Bryan mengetahui Bia bersama aku, itu akan jauh lebih baik. Karena dia tidak bisa menyentuh milikku" jelas Will membuat Zen paham.
Will kembali melihat Bia di kamarnya, ia merasa gerah dan mulai membersihkan tubuhnya sebelum ia tidur. Setelah selesai mandi, ia merebahkan tubuhnya di sambing Bia dengan rambut yang masih basah. Will memandangi wajah Bia dengan tangan memopang kepalanya, karena sentuhan Will yang selalu membelai rambutnya. Bia spontan memutar badannya ke arah Will, lalu sedikit membuka matanya dan mengigau.
"Will, aku sedang tidurpun kau ada di mimpiku. Sungguh menyebalkan" ucap Bia yang kemudian tertidur lagi.
__ADS_1
Will kaget mendengar Bia mengigau namanyanya, dan tersenyum. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke arah bibir Bia, ia menciuminya. Baginya, Bia seperti vitamin yang tidak bisa di ganti dengan obat lain.