
Setelah Sandra di jemput Dona, Bryan dan Darren melanjutkan minum mereka. Darren bertanya tentang keberadaan Sely, mantan Bryan yang dulu di rebut oleh Will.
"Bryan, bagaimana kabar Sely ?" tanyanya.
"Aku tidak tahu kabarnya, yang aku tahu Sely masih bekerja di perusahaan Will" jawab Bryan malas.
"Apa kau tidak ingin bersamanya lagi, Dia sudah tidak berhubungan dengan Willy kan ??" ucap Darren.
"Sepertinya tidak, Sungguh kau tega denganku Darren. Sely sudah di tiduri Will dan aku mendapat ampasnya" ucap Bryan memasang wajah lesu.
"Hahahaa bukan begitu Bryan, setahu ku kau masih mencintai Sely" jawab Darren suka bercanda.
"Dulu mungkin aku tidak bisa melupakannya, tapi sekarang aku mencintai wanita lain" jelas Bryan mengingat wajah Bia.
"Sandra maksudmu ???" tanya Darren
"Jangan bercanda kau Darren, jika aku mencintainya tidak mungkin aku biarkan dia pulang bersama Dona" tuturnya.
"Lalu dengan siapa, apakah dengan sekretarismu ??" ucap Darren asal.
"Kau ini Darren, asal berbicara. Sekretarisku itu pria, yang benar saja" Bryan sedikit kesal.
"Hahahaa Bryan aku hanya bercanda" ucapnya.
Darren pria yang suka bercanda dan humoris, tapi itu hanya upayanya untuk menutupi dirinya yang kesepian. Setelah mereka selesai minum, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Bryan sampai di rumah, ia membuka kemeja hitamnya di lempar ke sembarang tempat. Lalu merebahkan tubuhnya yang kekar itu, kemudian mencari handphone. Ia membuka kontak, dan mencari nomer telepon Bia. Bryan berpikir untuk mencoba menelepon Bia, ia beranikan diri untuk menekannya. Setelah telepon itu tersambung, ia menunggu dan berharap Bia mau mengangkat telepon darinya.
"Haloo..." terdengar suara pelan
"Bia...Apa aku mengganggu tidurmu ??" tanya Bryan berharap Bia tidak marah.
"Hmmm, ada apa Bryan ? Apa kau sudah pulang ??" ucap Bia membuat hati Bryan senang.
"Aku baru saja sampai rumah, apa besok kau kerja??" tanya Bryan lagi.
"Iyaa besok aku kerja, ada pemotretan produk" jawabnya.
"Aku ingin mengajakmu makan siang, itu pun jika kau tidak sibuk" Bryan ingin bertemu Bia, ia ternyata sangat merindukkannya.
"Boleh, sepertinya tidak terlalu sibuk" jawab Bia dengan suara yang benar-benar mengantuk.
__ADS_1
"Baiklah, besok aku akan menjemputmu di kantor. Bye..." Bryan terlihat bahagia.
"Byee...." Bia langsung menutup telepon dan kembali tertidur pulas.
_______________---______________________
Keesokan harinya, Sarah datang untuk menanyakan kabar Darren kepada Bia. Ia ingin tahu cerita yang sebenarnya langsung melalui Bia, Sarah menjadi cemas. Bia ada di lingkaran pria-pria hebat, dan ia yakin akan banyak yang terluka jika Bia tidak secepatnya mengambil keputusan untuk memilih salah satu dari mereka.
TOKK.. TOOKK.. TOOOKK suara ketukan pintu yang keras.
"Bi... Biancaaa..." panggil Sarah berulang-ulang.
Tak lama kemudian bibi Wiwi membuka pintu.
"Bik, Bia mana ?? Dia belum berangkat kerjakan ??" ucapnya langsung menerobos masuk ke dalam rumah.
Betapa terkejutnya Sarah, melihat Will sedang tidur di sofa ruang tengah.
"Yaa tuhan, kenapa Bia membiarkan pria tampan seperti Will tidur di situ bik ???" ucap Sarah menelan salivanya.
"Semalam mereka habis berantem non, biasanya mereka tidut bersama" jawab Bibi yang pernah memergoki Bia dan Will tidur bersama di kamar Bia.
"APAAAAA ??? yang benar bik, Bia sudah di luar kendali" Sarah makin takut.
"Haaaiii, mengapa kau bawa wajah menyeramkan itu ke rumahku" ucap Bia spontan yang penasaran.
"Kau yang menyeramkan!!!" jawab Sarah cepat.
"Ada apa Sarah, apakah kucingmu mati??" tanya Bia asal.
"Kau yang mau mati Bia..." jawab Sarah semakin kesal.
"Bik, kenapa dengan Sarah ?? kenapa dia emosi kepadaku??" Bia malah bertanya dengan bibi Wiwi karena mendengar jawaban Sarah yang menyebalkan.
"Tidak tahu non, non Sarah hanya terkejut melihat mas Will tidur di sofa itu" jawab bibi sambil menunjuk ke arah Will yang masih tertidur pulas.
Bia langsung menoleh dan melihat Will tidur di sofa tanpa selimut merasa bersalah, ia memandanginya dari kejauhan dan merasakan hati yang begitu sedih.
"Bi... Biaaancaaa" panggil Sarah membangunkan melamunnya yang sedang memandangi Will.
"hmmm, Iyaa.. Apa yang membuatmu kemari ??" tanya Bia kembali fokus ke Sarah.
__ADS_1
"Darren ?? aku mendapat kabar dari Dona, Darren sudah kembali dan orang pertama yang dia temui adalah kau. Apa benar itu Bi ?? " ucapnya.
"Iyaa, Darren adiknya Keysa. Aku bertemu di kantor saat aku menerima kontrak kerja itu" jelas Bia.
"Oh my god, aku punya firasat buruk bi. Will masih mengejarmu, lalu Bryan pun mengejarmu dan sekarang Darren kembali. bagaimana jika Joe pun tidak mau melepaskanmu ??" Sarah mulai panik.
"Entahlah Sarah, yang aku tahu sekarang aku hanya terikat perjanjian dengan pria playboy itu" ucap Bia sambil menoleh ke arah Will.
"Itu masalahnya Bi, mereka semua punya power dan yang lebih mengejutkannya lagi Darren adiknya Keysa. Aku mengkhawatirkanmu.." ucap Sarah memasang wajah cemas.
"Jika mereka benar-benar menyukaiku di waktu yang bersamaan, hanya ada 1 cara. aku akan menghilang dari semuanya" jawab Bia tegas.
"Jangan bercanda kau Bianca.. Ini serius !!!" ucapnya.
"Aku serius Sar, lagi pula kehidupanku tidak jelas. Dan mereka menyukaiku hanya karena terobsesi, mungkin karena bentuk tubuhku atau karena wajahku atau juga karena profesiku. Mereka tidak tulus" jelas Bia yang sudah lelah dengan kehidupannya.
"jangan berkata seperti itu Bi.." Sarah mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah Sarah, jangan cemaskan aku. Oke !!" Bia mengajak Sarah tersenyum dan memeluknya.
Setelah mereka selesai mengobrol, Sarah pamit untuk pulang. Karena ia harus berangkat ke kampus. Bia juga bergegas mandi untuk berangkat ke kantor. Will pun terbangun, ia mendengar semua percakapan Bia dan Sarah.
Kemudian Will naik ke kamar Bia, ia mengintipnya sedang berdandan dan memakai baju berwarna merah muda. Lalu ia mengetuk pintu kamar yang memang sudah terbuka.
Tokkk.. tookk. tokkk Bia menoleh ke arahnya
"Apa aku boleh masuk" ucap Will yang mulai lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.
"Iya..." jawab Bia singkat.
"Aku akan mengantarmu pergi bekerja" ucapnya membuat Bia berhenti berdandan.
"Apa kau tidak mempunyai pekerjaan Will, mengapa selalu membuntutiku. Kau seorang pemimpin perusahaan, coba untuk fokus dengan pekerjaanmu. Aku akan baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan ku" Jawab Bia.
Mendengar jawabannya, Will merasa Bia sudah tidak marah lagi dengannya.
"Baiklah aku akan meminta Zen untuk mengantarmu bekerja" ucap Will yang masih tidak rela jika Bia berangkat sendirian.
"Will... Coba mengertilah, aku sudah terbiasa menyetir sendiri. Aku berjanji akan meneleponmu sesampainya aku di kantor" jelasnya lagi meyakinkan Will, tanpa mereka sadari tingkah mereka seperti orang yang saling mencintai.
"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan kembali ke apartement untuk berganti pakaian lalu langsung ke kantor" tutur Will membuat Bia nyaman.
__ADS_1
Will menghampiri Bia lalu mengecup keningnya.
"Hati-hati di jalan, aku akan merindukkanmu" Mendengar Will berkata manis kepadanya, ia langsung membalasnya dengan senyuman.