
Di lain tempat Bia membisu seribu bahasa, ia malas berbicara dengan Will. Saat Bia sudah mulai percaya kepadanya, Will malah selalu meruntuhkan kepercayaan itu. Ada saja yang membuat Bia kesal dan marah kepadanya, tindakan Will di club membuat ia membenci Will.
Saat Will mencoba merayu Bia, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi di tabrak dari arah berlawanan. Karena Will membawa mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi, membuat mobil mereka terpental dan membentur trotoar jalan. Untungnya air bag (kantong udara) yang ada di mobil Will langsung mengembang dalam hitungan milidetik, jika tidak mungkin akan fatal karena benturan itu terdengar sangat keras.
Mereka langsung di tolong oleh para pengendara jalan, Bia terlihat sangat syok sedangkan Will sedang di interogasi oleh polisi patroli. Bia sama sekali tidak menatap ke arah Will, ia terpaku diam dengan pandangan yang selalu ke depan. Will yang melihat itu menjadi sangat khawatir.
"Bia..." panggil Will dengan menyentuh pundaknya, namun Bia malah menghindari sentuhan Will.
"Bia ada apa denganmu ??" tanyanya.
Bia masih tidak merespon, ia berdiri berjalan ke arah mobil lalu mencari tasnya dan menelepon Sarah. Will lagi-lagi di kacangi Bia.
"Sar, dimana ? Aku kecelakaan, bisakah kau kemari ??" ucap Bia di telepon.
"APAAAA ?? KAU DIMANA BI, AKU DI JALAN BERSAMA DONA DAN YANG LAINNYA. TUNGGU AKU, AKU KESANA" jawab Sarah cemas, sarah sedang bersama Dona, Zen dan Leo mereka di perjalanan pulang. Karena mendengar Bia dan Will kecelakaan, Leo langsung memutar balik mobilnya dan melaju dengan cepat.
15 menit kemudian, mereka sampai di lokasi dimana Bia dan Will kecelakaan.
"Biaaa, kau tidak apa-apa kan ??" tanya Dona dan Sarah yang begitu khawatir.
"Hanya ada beberapa memar saja, its Ok" jawab Bia yang terlihat murung dan mengeluarkan senyum pelitnya
"Aku mau pulang, antarkan aku pulang" ucapnya lagi. Mendengar itu Will menoleh ke arah mereka.
Lalu Leo dan Zen merasakan nyeri karena melihat siku Will yang begitu memar sampai lecet akibat menahan setir dan sikunya menyentuh pintu mobil. Jika Will tidak mengendalikan setir dengan baik mungkin saja mobil mereka akan terpelanting terbalik.
"Leo tolong kau antar mereka pulang, ada yang harus aku urus terlebih dahulu" ucap Will.
"Baiklah, secepatnya kau kabari aku" jawabnya.
Setelah mereka pulang bersama Leo, Will meminta Zen untuk membuka akses cctv jalan. Karena kecelakaan mereka jelas unsur kesengajaan dan penabraknya kabur begitu saja. Ia harus menyelesaikannya sendiri bersama orang-orang kepercayaannya.
"Zen, kita harus mencari tahu siapa dalang di balik ini semua. Sepertinya berhubungan dengan orang yang memata-matai Bia. Apa kau sudah punya buktinya" ucap Will.
"Sudah tuan, orang-orang kita sudah menemukan pria misterius itu. Dan terakhir beberapa jam yang lalu ia memotret tuan dan nona Bia" jelas Zen yang mengetahui dari salah satu pengawal Will yang selalu memantau mereka dari kejauhan.
"Bagus, kumpulkan semua bukti itu besok pagi. Aku akan menunjukkannya kepada Bia" jawab Will antusias.
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan, dimana Will mengumumkan hubungannya dengan Bia. Dan membuat Bryan maupun Darren merasakan sakit yang tak berdarah, lalu setelah itu Bia dan Will mengalami kecelakaan. Sepertinya teka-taki kehidupan mereka akan terlihat lebih jelas.
__ADS_1
Di waktu yang sama, Darren menelepon Keysa memberitahu kejadian yang baru saja terjadi. Keysa terkejut, ternyata Will menaruh hati kepada Bianca. Ia marah besar, setelah telepon itu berakhir. Keysa langsung menelepon mamanya Bianca, ia mencaci maki dan memberi ancaman kepadanya. Lalu di saat itu pula, mamanya Bianca meminta Keysa untuk menghubungi seseorang agar mengurus permasalah Bia dan Will.
Keysa pun menelepon orang itu, dan ternyata ia mengenalnya dengan baik. Pria itu memberi tahu bahwa Bia dan Will sudah berkencan cukup lama, bahkan ia memberi tahu Keysa bahwa Will selalu berada di rumah Bia. Hatinya begitu mendidih, Will mengkhianatinya. Dan wanita yang Will sukai adalah Bianca yang juga Darren sukai. Amarah Keysa semakin membesar, ia langsung mengkhawatirkan Darren.
Malam yang kelam bagi mereka semua, Sandra menelepon orang suruhannya untuk membunuh Bia. Dan Bryan masih tertidur pulas di sampingnya.
Bia yang baru saja sampai di rumah, ia langsung merebahkan tubuhnya. Ia melihat ada sedikit memar di kaki dan tangannya namun tidak begitu serius. Saat ia ingin pergi mandi, tiba-tiba lampu rumahnya mati dan ia coba memanggil bibi Wiwi namun tidak ada jawaban. Bia lalu turun dengan menggunakan lampu handphonenya.
"Bik, bibi..." panggil Bia pelan. Saat ia melihat ke kamar bibi Wiwi ternyata bibi tidak ada di kamarnya.
"Dimana bibi, apa dia pulang kampung ?? tapi mengapa tidak pamit denganku ??" ucapnya heran.
Saat itu pula Bia melihat bayangan seseorang yang berada di luar rumahnya. Bia takut lalu mengintip dari hordeng jendela, terlihat sosok pria yang sedang berdiri membelakanginya. Bia semakin takut, tiba-tiba pintu rumahnya terdengar ketukan pintu yang sangat keras. Ia tidak bisa berpikir jernih, lalu terlintas di pikirannya untuk menelepon Darren.
"Darren, kau dimana ? Aku takut Darren, ada orang yang ingin mencelakaiku" ucapnya sangat pelan.
"Aku sedang di jalan, kau dimana ?" jawab Darren cemas.
"Aku di rumah, cepatlah kemari" sahutnya.
"Aku segera kesana, jangan melakukan apa-apa" Darren langsung mematikan telepon dan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Biii... Biaaa" panggilnya keras.
Kemudian Bia membukakan pintu rumahnya, Darren langsung memeluk Bia.
"Kau tidak apa-apa, mengapa lampu rumahmu mati ??" tanyanya.
"Aku tidak tahu siapa yang mematikannya, aku takut Darren" ucap Bia ketakutan.
"Sepertinya untuk sementara waktu kau tidak bisa tinggal disini" Darren membawa Bia ke apartement miliknya. Ia tidak mungkin membiarkan Bia dalam bahaya lagi.
------------------"_"-------------''---"-----------------------
Setelah kekacauan malam yang panjang itu, keesokan harinya Will mendapat informasi bahwa Bia bersama Darren. Dengan wajah yang memerah ia langsung menghampiri Bia di apartement Darren.
30 menit kemudian, Will sampai di parkiran. Ia berjalan begitu cepat lalu menaiki lift kemudian berada di depan pintu apartement Darren.
TING TOONGGG...
__ADS_1
TIIIING TONGGG... bunyi bel
Tak lama kemudian Darren membuka pintu, lalu Will langsung menonjok wajah Darren.
BOOMMMM !!!
"Brengsek kau Darren" ucap Will langsung menerobos masuk begitu saja.
"WILL !!!" panggil Darren keras, membuat Bia terbangun.
"Bianca ayo kita pulang" Will menarik tangan Bia yang baru membuka matanya.
"Will, sakit" ucap Bia. Mendengar Bia merintih kesakitan, Darren menarik baju Will. Terjadi adu jotos di kamar Darren.
"HENTIKAAAAAN, WILL DARREN !!!" Bia menjerit. Lalu melerai mereka, ia menarik Darren dan melindunginya dari amukan Will.
"APA YANG KAU LAKUKAN WILL, APA KAU SUDAH GILA HAH !!! DARREN MENOLONGKU DIA YANG MENJAGAKU SEMALAMAN" Ucap Bia, Will masih mengatur nafas karena emosi yang luar biasa.
"Pergi kau dari sini, aku malas melihat wajahmu" ucapnya lagi.
"Biaaa" panggil Will.
"Sejak semalam aku menahan emosiku Will, tapi kau selalu membuatku muak" jawabnya.
"Tidak Bia, aku tidak akan membiarkanmu bersama Darren. Aku tidak mau kehilanganmu lagi" ucap Will.
"WILL" Bia kembali dengan nada keras.
Kemudian Will menghampiri Bia ia langsung mengangkat dan menggendong di bahunya.
"WILL TURUNKAN AKU !!!" Bia menjerit dan memukul-mukul tubuh Will.
"Sialan kau Will..." ucap Darren yang ingin menolong Bia dari kegilaan Will.
"Diam kau disitu Darren, jangan mencoba menghentikan aku. Atau perusahaanmu akan hancur" mendengar perkataan Will, Darren langsung mengalah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kemudian Will membawa Bia masuk ke dalam mobil, dan mengancam Bia dengan kata-kata yang mengejutkan.
"Aku tidak ingin berbuat kasar kepadamu, tapi jika kau tidak menurut maka aku bisa memaksamu untuk hamil anakku" Will terpaksa mengancam Bia dengan kata-kata seperti itu agar Bia bisa lebih diam walaupun sebenarnya ia ingin mempunyai anak bersama Bia.
__ADS_1